Kl. 4
“ Al
- ’ URF
”
•
Kata ‘Urf secara etimologi berarti “ sesuatu yang di pandang baik dan diterima oleh akal sehat”•
sedangkan secara terminology, seperti yang dikemukakan oleh Abdul - karim Zaidah, istilah ‘Urf berarti : Sesuatu yang tidak asing lagi bagi suatu masyarakat karena telah menjadi kebiasaan dan menyatu dengan kehidupan mereka baik berupa perbuatan atau perkataan.pengertian
Para ulama sepakat bahwa 'urf shahih dapat dijadikan dasar hujjah selama tidak bertentangan dengan syara'. Ulama Malikiyah terkenal dengan
pernyataan mereka bahwa amal ulama Madinah dapat dijadikan hujjah, demikian pula ulama Hanafiyah menyatakan bahwa pendapat ulama Kufah dapat dijadikan dasar hujjah. Imam Syafi'i terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya. Ada suatu kejadian tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau masih berada di Mekkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul jadid). Hal ini menunjukkan bahwa ketiga madzhab itu berhujjah dengan 'urf.
Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (Q.S. Al-a’raf 7 : 199)
َسَحٌرْمَا اللهَدنعَوُهَفاًنَسَحَ نوُملسملاُ هاَراَم ٌن
.
Apa-apa yang menurut pendapat kaum muslimin baik, maka baik(pula) di sisi Allah (H.R. Ahmad)
Dasar Hukum
1. Fiqh Hanafi
a. Dalam akad jual beli. Seperti standar harga, jual beli rumah yang meliputi : bangunanya meskipun tidak disebutkan.
b. Bolehnya jual beli buah yang masih dipohon karena’urf.
c. Bolehnya mengolah lahan pertanian orang lain tanpa izin jika di daerah tersebut ada kebiasaan bahwa lahan pertanian digarap oleh orang lain, maka pemiliknya bisa meminta bagian
d. Bolehnya mudharib mengelola harta shahibul maal dalam segala hal menjadi kebiasaan para pedagang.
e. Menyewa rumah meskipun tidak dijelaskan tujuan penggunaaannya 2.Fiqh Syafi’i
a.Batasan penyimpanan barang yang dianggap pencurian yang wajib potong tangan b.Akad sewa atas alat transportasi
c.Akad sewa atas ternak d.Akad istishna
3. Fiqh Maliki
a. Bolehnya jual beli barang dengan menunjukkan sample
b. Pembagian nisbah antara mudharib dan sahibul maal berdasarkan ’urf jika terjadi perselisihan
4. Fiqh Hanbali
a. Jual beli mu’thah
Berikut adalah akad-akad saat ini yang dapat diterima dengan’Urf, yaitu 1. Konsep Aqilah dalam asuransi
2. Jual beli barang elektronik dengan akad garansi 3. Dalam sewa menyewa rumah.
Biaya kerusakan yang kecil-kecil yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemilik rumah, menjadi tanggung jawab penyewa
Contoh praktek ‘urf
dalam masing-masing mahzab
Jika ditinjau dari segi baik dan buruknya ‘urf (diterima atau tidaknya) :
1) ‘Urf shahih yaitu yang baik dan dapat diterima karena tidak bertentangan denga nash syara’,seperi membiasakan wakaf barang atau tanah.
2) ‘Urf fasid,yaitu yang bertentangan denga nash
syara,dan ‘urf ini tidak bisa diterima,seperti membiasakan perjanjian yang bersifat riba.
Jika ditinjau dari segi macamnya :
1) ‘urf qauly yaitu kebiasaan yang berupa perkataan, seperti: kalimat “lahmun” (محل
artinya daging tetapi dalam perkataan ini daging ikan tidak termasuk,walaupun sudah dimaklumi bahwa ikan itu ada dagingnya. Lagi pula tidak ada perkataan mau membeli
daging ikan itu.
2) ‘urf amaly yaitu kebiasaan yang berupa perbuatan,seperti kebiasaan jual beli tanpa mengadakan sighat jual beli tapi cukup
dengan menyerahkan uang dan menerima barang, jual belinya sudah dianggap sah.
Jika dilihat dari segi berlakunya :
1) ‘urf ‘aam,yaitu urf yang dapat berlaku untuk seluruh tempat dan waktu, seperti
menitipkan barang dengan memberi uang jagaan kepada yang dititipi.
2) ‘Urf khas,yaitu adat yang berlaku hanya untuk sesuatu tempat, seperti penyerahan
uang mahar,ada yang sebelum dilaksanakan aqad,bersama-sama dengan penyerahan
barang (uang),ada pula secara tersendiri bersama-sama dengan waktu mengadakan aqad nikah,atau juga seperti yang berlaku dikalangan pedagang,mereka memberi hadiah
sebagai balas jasa kepada langganan.
Macam-macam ‘urf
Para ulama ushul fiqh sepakat bahwa ‘urf al-shahih, yaitu ‘urf yang tidak bertentangan dengan syara’. Baik yang menyangkut dengan ‘urf al-‘am dan
‘urf al-khas, maupun yang berkaitan dengan ‘urf al-lafzhi dan ‘urf al-‘amali, dapat dijkadikan hujjah dalam menetapkan hukum syara’
Kedudukan
‘urf
Abdul-Karim Zaidan Menyebutkan beberapa persyaratan bagi Urf yang bisa dijadikan landasan hokum yaitu:
1. Urf itu harus termasuk ‘urf yang shahih dalam arti tidak bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan As-Sunnah.
2. Urf itu harus bersifat umum, dalam arti minimal telah menjadi kebiasaan mayoritas penduduk negeri itu.
3. ‘Urf itu harus sudah ada ketika terjadinya suatu peristiwa yang akan dilandaskan kepada urf itu.
4. Tidak ada ketegasan dari pihak-pihak terkait yang berlainan dengan kehendak
‘Urf tersebut, sebab jika kedua belah pihak yang berakad telah sepakat untuk tidak terikat dengan kebiasaan yang berlaku umum, maka yang dipegang adalah ketegasan itu,
bukan’Urf.
Syarat-syarat ‘urf
SUMBER
• https://ibelboyz.wordpress.com/2011/10/13/%E2%80%98urf-pengertian-dasar-hukum- macam-macam-kedudukan-dan-permasalahannya/
• https://al-badar.net/pengertian-macam-dan-kedudukan-hukum-urf/
• http://www.rumahpintarr.com/2016/11/makalah-pengertian-syarat-macam-hujjah.html
• https://www.tongkronganislami.net/kaedah-al-urf-adat-istiadat-dalam-kajian-ushul-fikih/
• http://kacangturki.blogspot.co.id/2013/03/al-urf.html
• http://erickyonanda.blogspot.co.id/2010/10/erick-yonanda-ushul-fiqh-tentang.html