ALIRAN AHMADIYAH DI INDONESIA: SEJARAH DAN AJARAN Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah ASWAJA
Dosen Pengampu: Ade Supriyadi, M.A.
Disusun Oleh:
Faiz Firdaus (23011459) M. Ihsanudin (23011463)
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR INSTITUT STUDI AL-QUR’AN DAN ILMU KEISLAMAN
SUNAN PANDANARAN YOGYAKARTA 2024
Pendahuluan
Berbagai corak pemikiran teologi Islam bermunculan dengan metode dan teori yang berbeda, sesuai dengan kebutuhan masyarakat untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi. Kemunculan aliran-aliran ini dapat dipandang sebagai respons dari para penganutnya terhadap ajaran agama, dan menjadi dasar bagi solusi terhadap gejala sosial keagamaan. Dalam hal ini, tingkat keilmuan seseorang dapat memengaruhi hasil pembacaan. Pemilihan teori dan metode membantu membentuk interpretasi, sebagaimana terlihat dalam kemunculan aliran-aliran seperti Syiah, Sunni, Qadiriyah, dan Ahmadiyah.
Interaksi antara pembacaan dan ajaran agama membentuk perilaku, dan menjadi legitimasi argumen saat menghadapi masalah sosial keagamaan. Seperti aliran-aliran lain dalam khazanah pemikiran teologis Islam yang muncul sebagai respons terhadap problematika sosial-agama, Ahmadiyah juga lahir dari konteks pergulatan sosial, politik, dan agama. Munculnya Ahmadiyah di India, yang diprakarsai oleh Mirza Ghulam Ahmad (selanjutnya disebut Ghulam Ahmad), tidak dapat dipisahkan dari peran pentingnya sebagai inovator pemikiran Islam di India.
Sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang panjang dan kompleks telah melahirkan berbagai macam aliran dan tarekat. Salah satunya adalah Ahmadiyah, yang masuk ke Indonesia pada awal abad ke-20. Dalam lanskap keagamaan Indonesia, Ahmadiyah hadir sebagai salah satu aliran Islam yang memiliki ciri khas dalam hal akidah dan ibadah. Ajaran-ajaran Ahmadiyah seringkali dianggap berbeda dengan pemahaman Islam mayoritas. Makalah ini akan melakukan perbandingan antara ajaran-ajaran pokok Ahmadiyah dengan ajaran Islam mainstream. Selain itu, makalah ini juga akan menganalisis bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut berdampak pada interaksi Ahmadiyah dengan kelompok Islam lainnya.
Awal Muncul Ahmadiyyah
Berdirinya Ahmadiyah tidak bisa terlepas dari Mirza Ghulam Ahmad. Ghulam Ahmad kecil lahir di Qadian India pada Jumat 13 Februari 1835 dari pasangan Mirza Ghulam Murtadza dan Charagh Bibi. Sebagai keturunan darah biru dari Dinasti Mughal, Ghulam Ahmad sudah diajarkan ilmu Alquran dan beberapa buku-buku agama berbahasa Persi dari seorang guru Fazal Ilahi, dan dilanjutkan untuk belajar ilmu bahasa dari Fazal Ahmad.1
1 Zulkarnaen, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia, h. 80.
Menginjak dewasa, ketertarikan Ghulam Ahmad terhadap ilmu-ilmu agama membuat dirinya mendalami Alquran dan beberapa kitab suci lainnya, seperti Injil dan Weda. serta banyak menghabiskan waktu luangnya di perpustakaan ayahnya untuk memperdalam ilmu agama Islam. Munculnya aliran Ahmadiyah di India adalah bagian dari rentetan sejarah Islam di India. Sejarah mencatat bahwa India dikenal dengan anak Benua Asia setidaknya pernah dikuasai sebelas dinasti Islam, tetapi kejayaan Islam di India pada masa Mughal tidak menyadarkan umat Islam untuk berpikiran terbuka.
Kemunduran umat Islam disebabkan adanya peperangan dalam merebut kekuasaan.
Hal tersebut diperparah dengan perdebatan dan perselisihan keras masalah khilafiah yang terjadi dalam beberapa aliran Islam, yaitu antar aliran, madzah dan golongan. Peristiwa tersebut mengingatkan kembali pada sejarah panjang pertumbuhan sekte pada masa Islam awal, seperti Syi’ah, Khawarij, Sunni, Mu’tazilah dan lainnya.2 Perselisihan dan perbedaan antar kelompok keagamaan yang terjadi adalah bagian dari sejarah Islam dan pada akhirnya melahirkan sekte baru. Lahirnya aliran baru dalam Islam adalah respon atas problem sosial-agama yang terjadi di tengah umat Islam, sebagai solusi supaya tidak terjebak dalam lingkaran konflik dalam internal umat Islam, dibutuhkan inovasi dalam menafsiran ajaran Islam.3
Beberapa faktor yang menyebabkan lahirnya sekte dalam Islam ialah adanya perebutan kekuasaan, perbedaan interpretasi dan perbedaan interpretasi dan fanatisme. Beberapa hal di atas menyebabkan kemunduran umat Islam, seperti yang terjadi di India pada masa terakhir kerajaan Mughal. Di mana umat Islam cenderung statis, eksklusif, rigit dan berperilaku konservatif, sehingga tidak peduli atas realitas sosial. Realitas demikian menyebabkan perselisihan antar umat Islam dan jemaat Ahmadiyah bahwa Ghulam Ahmad adalah reinkarnasi dari masing-masing tokoh dalam agama tersebut seperti Nabi Muhammad, Isa dan Krishna.4 Oleh sebab itu, ajaran Ahmadiyah lebih mudah diterima oleh beberapa kelompok keagamaan India.
2 Raden Muhammad Tarhan, Abdullah, Ahmadiyah: Analisis terhadap Teologi dan Perkembangan, Jurnal Alwatzikhoebillah: Kajian Islam, Pendidikan, Ekonomi, Humaniora, Vol. 10 No. 1, Januari 2024, h. 235
3 Moh Muhtador, AHMADIYAH DALAM LINGKAR TEOLOGI ISLAM (Analisis Sosial atas Sejarah Munculnya Ahmadiyah), JURNAL AQLAM: Journal of Islam and Plurality, Vol 3, No 1, Juni 2018, h.36
4 Zulkarnaen, Gerakan Ahmadiyah di Indonesia, h. 59
Pada paruh kedua abad ke-19 M, misi Kristen sangat aktif di India bagian Utara. Salah satu aktivitasnya adalah menyebarkan tulisan yang menyerang Islam. Karena itu, sejak umur 16-an tahun Ahmad sudah banyak membaca literatur kekristenan untuk kemudian sebagian isinya dibantahnya dalam berbagai tulisan. Selain misi Kristen, terdapat gerakan Hindu Arya Samaj yang juga melancarkan serangan terhadap Islam. Ahmad sejak usia muda melakukan pembelaan terhadap serangan kedua gerakan keagamaan. Pembelaan itu antara lain dengan menulis buku Barāhīn-e-Ahmadiyya (Bukti-bukti Kebenaran Islam) yang terdiri dari 4 jilid, lebih dari 500 halaman. Mirza Ghulam Ahmad memang seorang penulis yang menghasilkan banyak tulisan.
Pada tahun 1882, ia mengaku menerima wahyu dari Allah sebagai Utusan-Nya. Enam tahun kemudian (1888) Mirza Ghulam Ahmad menyeru orang untuk berbaiat. tidak lama kemudian pada 12 Januari 1889 Sepuluh poin baiat diumumkannya dan pada 23 Maret 1889 ia menerima baiat untuk pertama kali di Ludhiana. Karena itu tanggal ini dianggap sebagai tanggal berdirinya Ahmadiyah. Adapun sepuluh poin baat ialah bahwa seorang yang masuk Ahmadiyah:
• Bahwa ia akan menjauhkan diri dari perbuatan syirik sampai hari kematiannya
• Bahwa dia harus menjauhkan diri dari kebohongan, kemesuman, perzinahan, kemaksiatan mata, pesta pora, pemborosan, kekejaman, ketidakjujuran, kerusakan dan pemberontakan; dan tidak akan membiarkan dirinya terbawa terbawa oleh hawa nafsu, sekuat apapun hawa nafsu itu
• Bahwa ia harus secara teratur melakukan shalat lima waktu sehari lima waktu sesuai dengan perintah Allah dan Rasulullah saw; dan akan berusaha sebaik mungkin untuk secara teratur melaksanakan shalat Tahajud (shalat sunnah fajar) dan bershalawat kepada Nabi saw; bahwa ia akan menjadikannya sebagai rutinitas hariannya untuk meminta pengampunan atas dosa-dosanya, mengingat karunia Allah dan memuji serta bertasbih kepada-Nya
• Bahwa di bawah dorongan nafsu apapun, ia tidak akan menyakiti makhluk Allah pada umumnya, dan umat Islam pada khususnya baik dengan lidahnya maupun dengan tangannya atau dengan cara lain
• Bahwa ia akan tetap setia kepada Tuhan dalam segala keadaan , baik dalam penderitaan maupun kebahagiaan, kondisi apapun tetap berserah diri kepada ketetapan Allah dan tetap siap untuk menghadapi segala macam cobaan dan penderitaan di jalan-Nya dan tidak akan pernah berpaling dari-Nya.
• Bahwa ia akan menahan diri dari mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang tidak Islami dan hawa nafsu, dan akan sepenuhnya menundukkan dirinya pada otoritas Al-Qur'an; dan akan menjadikan Firman Allah dan Sabda Rasulullah saw. sebagai pedoman dalam setiap perjalanan hidupnya.
• Bahwa ia akan sepenuhnya meninggalkan kesombongan dan kesia-siaan dan akan menjalani seluruh hidupnya dengan rendah hati, sukacita, kesabaran dan kelemahlembutan
• Bahwa ia harus memegang teguh iman, kehormatan iman, dan kehormatan iman, dan perjuangan Islam lebih berharga baginya daripada nyawa, harta, kehormatan, anak- anak, dan semua orang yang disayanginya
• Bahwa ia harus menjaga dirinya sendiri dalam melayani makhluk-makhluk Tuhan hanya untuk dan akan berusaha untuk memberi manfaat bagi umat manusia dengan sebaik-baiknya kemampuan dan kekuatan yang diberikan Tuhan
• Bahwa ia akan masuk ke dalam ikatan persaudaraan dengan hamba Allah yang rendah hati ini(Imam Mahdi dan Al-Masih al-Mau’ud), berjanji untuk taat kepadaku dalam segala sesuatu yang baik, demi Allah, dan tetap setia kepadanya sampai hari kematiannya; bahwa dia akan mengerahkan pengabdian yang begitu tinggi pengabdian yang tinggi dalam ketaatan pada ikatan ini yang tidak akan ditemukan dalam hubungan dan koneksi duniawi lainnya yang menuntut pengabdian yang setia
Dari kesepuluh poin baiat tersebut, sembilan poin pertama merupakan ajaran islam yang diajarkan dikebanyakan aliran Islam. Akan tetapi, pada poin kesepuluh pada ptaktiknya menimbulkan sikap ekslusifitas (menolak keberagaman dan memaksa menjadi satu-satunya bentuk kebenaran) antar sesama muslim.
Pada tahun 1890, dalam pengakuannya menerima wahyu dari Allah yang menyatakan nabi Isa telah wafat. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam.
Berdasarkan wahyu tersebut, ia menyatakan diri sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih yang dijanjikan pada tahun 1891. Ia mengaku sebagai nabi dalam syari’at nabi Muhammad, bukan nabi yang membawa syari’at sendiri.
Aliran Ahmadiyah ini merupakan aliran yang sangat besar, maka dari itu aliran ini tidak akan luput dari tokoh-tokoh yang berkontribusi dalam penyebaran ajaran- ajaran Ahmadiyah ini. Adapun tokoh-tokoh Ahmadiyah yang meneruskan jejak Mirza Ghulam yang disebut Khilafat antara lain,5 Khalifatul Masih I Hakim Nuruddin (1908- 1914), Khalifatul Masih II Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad (1914-1965), Khalifatul Masih III Mirza Nasir Ahmad (1965-1982), Khalifatul Masih IV Mirza Tahir Ahmad (1982-2003), dan Khalifatul Masih V Mirza Masroor Ahmad (2003 sampai sekarang).
Perkembangan Ahmadiyah di Indonesia
Proses penyebaran Ahmadiyah di berbagai daerah
Aliran Ahmadiyah mulai masuk ke Indonesia pada awal abad ke-20, khususnya pada tahun 1925 di Aceh, melaliu pengaruh jaringan internasional yang dimiliki oleh komunitas Ahmadiyah. Ahmadiyah pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh minoritas asal India, yakni Maulana Muhammad Ali. Meskipun penentang Ahmadiyah ditemukan di sana sini, Maulana Muhammad Ali terus menjalankan dakwahnya serta berpindah ke tempat-tempat lain di Sumatera.
Pada tahun 1930 Maulana Ahmad Ali meninggalkan Sumatera yang kemudian ia pergi ke Batavia dan menyebarkan Ahmadiyah di pulau Jawa bagian barat (Jawa Barat, DKI dan Banten). Dalam menjalankan tugasnya ia oleh dibantu oleh orang- orang yang sudah menganut aliran Ahamdiyah yang belajar di Indonesia. Sejak saat itu Jawa Barat menjadi tempat dengan penganut Ahmadiyah terbesar di Indonesia.
Pusat kegiatan jemaat Ahmadiyah berada di Bogor, tepatnya di Sawangan, Parung dari tahun 1989 sampai sekarang.6 Menurut perkiraan pada tahun 2005 jumlah Anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah 1.100.386 orang, dari jumlah tersebut 770.270 orang tinggal di Jawa Barat.7 Penyebaran Ahmadiyah tidak hanya terbatas di pulau Jawa dan Sumatera, namun juga merambah ke daerah-daerah lainnya, seperti Kalimantan dan Sulawesi. Ahmadiyah membentuk cabang-cabang dan tempat ibadah di berbagai tempat yang memiliki potensi untuk berkembang.
5 Dr. Achmad Muhibbin Zuhri, M. Ag. Akidah Ilmu Kalam. Universitas Negri Sunan Ampel. Surabaya, 2013.
Hlm. 128
6 Kunto Sofianto, Tinjauan Kritis Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Bandung: Nerajta Press, 2014. Hlm, 183
7 Kunto Sofianto. Tinjauan Kritis, hlm. 163
Pembentukan organisasi dan lembaga-lembaga Ahmadiyah.
Organisasi pertama aliran Ahmadiyah adalah Ahmadiyah Qadian Departemen Indonesia (AQDI) yang muncul setelah diadakannya konferensi pengurus besar Ahmadiyah Qadian pada tanggal 15 dan 16 Desember 1935. Dalam rangka penyempurnaan, Pengurus Besar berusaha menyesuaikan organisasi AQDI dengan organisasi Pusat Ahmadiyah di Qadian. Anggaran dasar dan rumah tangga Ahmadiyah Qadian Departemen Indonesia disesuaikan dengan organisasi Pusat Ahmadiyah di Qadian. Nama Ahmadiyah telah diganti dari Ahmadiyah Qadian Departemen Indonesia (AQDI) menjadi Anjuman Ahmadiyah Departemen Indonesia (AADI).
Pada bulan Desember 1949 di Jakarta Anjuman Ahmadiyah Departemen Indonesia diganti menjadi Jema’at Ahmadiyah Indonesia (JAI). Dalam perkembangan selanjutnya, organisasi ini telah memperoleh pengesahan dari Pemerintah Republik Indonesia sebagai badan hukum dengan Surat Keputusan Menteri Kehakiman No.J.A/5/23/13 tanggal 13 Maret 1953 dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Nomor 26 Tanggal 31 Maret 1953.8 Organisasi ini bertujuan untuk menyebarkan ajaran Ahmadiyah yang berfokus pada pemahaman bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang nabi terakhir dalam konteks Islam.9
Selain organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), terdapat juga organisasi lainyang diberi nama Indonesische Ahmadiyah Beweging atau Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) yang didirikan pada tanggal 10 Desember 1928 oleh Djoyosugito dan Muhammad Husni di Yogyakarta sebagai wadah baru di luar Muhammadiyah.
Kemudian pada tahun 1973 wadah ini berubah nama menjadi Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia dengan singkatan yang sama. Gerakan ini diakui sebagai badan hukum pada tanggal 28 September 1929.
8 Iskandar Zulkarnain, Gerakan Ahmadiyah Di Indonesia. Yogyakarta: LKiS, 2005, hlm. 172.
9 Suryadi, D. Ahmadiah di Indonesia: Analisis Krisis terhadap Pemikiran Islam Modern dan Peranannya dalam Dinamika Keagamaan di Indonesia. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, Vol 1, No 2, Tahun 2010, Hlm 85
Meskipun gerakan ini secara resmi lahir pada tanggal 10 Desember 1928, tetapi karena permohonan pengakuan sebagai Badan Hukum baru diajukan pada tanggal 28 September 1929 maka tahun inilah yang dijadikan tonggak permulaan sejarah berdirinya Gerakan Ahmadiyah Indonesia.10 Akan tetapi, sejak tahun 1955 berdasarkan keputusan Muktamar Ahmadiyah di Purwokerto, Pedoman Besar Gerakan Ahmadiyah pindah ke Jakarta, dan tidak lagi berpusat di Yogyakarta.11
Selain mendirikan organisai-organisasi, Ahmadiyah juga mendirikan lembaga sosial yang membantu dalam berbagai bidang seperti kesehatan, pendidikan, dan kemanusiaan. Dalam lembaga kesehatan, Ahmadiyah memiliki rumah sakit dan klinik untuk melayani masyarakat. Ahmadityah juga terlibat dalam kegiatan kemanusiaan dan bantuan bencana. Selain itu, Ahmadiah juga mendirikan Institut Perguruan Tinggi Ahmadiyah (IPT-A) yang didirikan pada tahun 2000 di Parung, Bogor. Perguruan tinggi ini memiliki tujuan untuk melahirkan intelektual-intelektual yang dapat mendalami dan mengembangkan ajaran mereka.12
Meskipun memiliki struktur organisasi yang baik, Ahmadiah sering kali mendapat penolakan dari kelopok Islam lain di Indonesia yang menganggap ajaran mereka sesat karena keyakinan terhadap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Pada tahun 2008 Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa aliran Ahmadiyah adalah aliran sesat. Pemerintah Indonesia juga Peraturan Bersama Menteri (PBM) yang melarang kegiatan Ahmadiyah di Indonesia pada tahun 2008.13
10 Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia (GAI), Anggaran Dasar (Qanun Asasi). Yogyakarta: Darkuti, t.t., Hlm.
105
11 Risalah Ahmadiyah Aliran Lahore, No. 1 Tahun. 1957, Hlm. 17
12 Azra, A. Tantangan Sosial-Politik Ahmadiah di Indonesia. Jurnal Ilmu Politik, Vol 18, No 3, Tahun 2013, Hlm 154
13 Nursahid, H. Kontroversi Ahmadiyah di Indonesia: Tinjauan dari Persepektif Hukum Islam. Jurnal Hukum dan Pembangunan, Vol 41, No 5, Tahun 2011, Hlm 395
Ajaran-Ajaran Pokok Ahmadiyah
• Nabi Isa dan Imam Mahdi.
Dalam hal ini, Ahmadiyah menganut pemikiran rasionalis-liberal dalam memahami Imam Mahdi dan Nabi Isa. Meskipun epistemologinya bersumber dari Alquran dan hadis, interpretasi yang dihasilkan oleh Ahmadiyah berbeda dengan mayoritas umat Islam. Menurut pandangan Ahmadiyah, Nabi Isa (Jesus) putra Maryam telah wafat secara alamiah seperti manusia biasa. Pandangan ini berbeda dengan mayoritas umat Islam yang meyakini bahwa Nabi Isa masih hidup dan akan kembali pada akhir zaman.
Sedangkan Al-Masih diartikan sebagai salah satu individu dari umat Nabi Muhammad yang memperlihatkan sifat dan perangai yang mirip dengan Nabi Isa.
Dalam konteks ini, tokoh ini juga dikenal sebagai al-Mahdi. Oleh karena itu, dalam teologi Ahmadiyah, al-Masih dan al-Mahdi dianggap sebagai satu pribadi yang sama.
Dalam konteks ini, Ghulam Ahmad dianggap sebagai figur yang mewakili kedua peran ini. Kehadiran Ghulam Ahmad sebagai al-Masih dan al-Mahdi, yang mengaku menerima wahyu dan berperan sebagai penyelamat, harus dipahami dalam konteks sosial dan keagamaan masyarakat India pada masanya
• wahyu
Allah telah menurunkan firman-Nya kepada para Wali-Nya. Akan tetapi, bagi Ahmadiyah Qadiyan dilanjutkan bahwa Mirza ghulam Ahmad mendapatkan wahyu yang kemudian dikumpulkan da disebur Tadzkiran. Hal ini berimplikasi pada ajaran berikutnya yang membuat hubungan mereka dengan umat muslim lain menjadi sulit, yaitu denhan pernyataan bahwa barang siapa yidak percaya kepada wahyu yang diterima Mirza Ghulam Ahmad bukan mulim yanh sebenarnya, karena ia termasuk Kafir bi-ma’mur atau muslim yang tidak patuh pada aturan. Sedsngkan bagi Ahmadiyah Lahore, muslim non-Ahmadi tidak dianggap kafir.
Masalah kenabian di dalam Ahmadiyah merupakan isu yang kompleks dan memunculkan perbedaan pandangan, terutama jika dilihat dari perspektif kelompok Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qadian. Meskipun keduanya memiliki persamaan dalam pemahaman bahwa Nabi Muhammad adalah nabi tasyri'i atau nabi terakhir, namun perbedaan muncul dalam interpretasi mengenai status kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Secara umum, baik Ahmadiyah Lahore maupun Ahmadiyah Qadian memiliki kesamaan pandangan mengenai kedudukan Nabi Muhammad sebagai nabi tasyri'i atau nabi mustaqil yang terakhir.
Namun, perbedaan muncul dalam penafsiran status kenabian Ghulam Ahmad.
Kelompok Ahmadiyah Lahore, sebagai contoh, memandang Ghulam Ahmad sebagai seorang pembaharu (muhaddats). Pandangan ini muncul dari pernyataan Ghulam Ahmad yang menyatakan dirinya sebagai pembaru. Dalam pandangan Ahmadiyah Lahore, gelar nabi yang disematkan pada Ghulam Ahmad dianggap sebagai majazi atau simbolis, dan lebih merujuk pada status pembaruan yang diusungnya. Perbedaan interpretasi ini mencerminkan kerumitan dalam memahami status kenabian Ghulam Ahmad di dalam komunitas Ahmadiyah, dan menciptakan dinamika internal yang membutuhkan pemahaman mendalam terhadap konteks sejarah dan pemikiran di balik perbedaan ini.
• Pandangan tentang jihad
Jihad merupakan salah satu ajaran dari agama Islam walaupun sebenarnya jihad tidak berarti berperang, jetapi juga usaha keras untuk mengendalikan diri dari hawa nafsu. Mirza Ghulam Ahmad mengembangkan konsepsi jihad ini dengan jihad akbar, yakni memperbaiki diri umat dan menyiarkan kebenaran Islam dengan menggunakan sarana-sarana selain perang.
Dalam konsep GAI, keduanya dipahami dengan jihad akbar atau jihad kabir.
Sedangkan jihad berupa perang menggunakan senjata adalah jihad saghir.konsep jihad seperti ini, yang dalam situasi penjajahan di India dipahami sebagai tidak mau mengangkat senjata terhadap penjajah Inggris.
Pandangan MUI terhadap Aliran Ahmadiyah
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan beberapa fatwa yang menyatakan bahwa aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat, dan menyesatkan. Fatwa pertama dikeluarkan pada Musyawarah Nasional (Munas) II MUI tahun 1980, yang menetapkan bahwa pengikut Ahmadiyah dianggap keluar dari Islam. Penegasan kembali fatwa tersebut dilakukan pada Munas VII MUI tahun 2005. Dalam fatwa ini, MUI menegaskan kembali bahwa aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat, dan menyesatkan, serta orang Islam yang mengikutinya dianggap keluar dari Islam. MUI juga menyerukan agar mereka-mereka yang telah mengikuti aliran Ahmadiyah segera kembali kepada ajaran Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis. Selain itu, MUI juga meminta kepada pemerintah untuk melarang penyebaran paham Ahmadiyah di seluruh Indonesia, membekukan organisasi Ahmadiyah, dan menutup semua tempat kegiatan Ahmadiyah.
Pandangan MUI terhadap aliran Ahmadiyah ini sesat didasarkan pada keyakinan bahwa klaim Mirza Ghulam Ahmad pendiri Ahmadiyah sebagai nabi setelah Nabi Muhammad SAW, bertentangan dengan ajaran Islam yang menetapkan bahwa Muhammad SAW adalah nabi dan rasul terakhir. Oleh karena itu, MUI menganggap ajaran Ahmadiyah sebagai penyimpangan dari akidah Islam yang benar.14
Kesimpulan
Ahmadiyah didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di India pada akhir abad ke-19, merupakan aliran Islam yang memiliki perbedaan teologis dengan mayoritas umat Islam, terutama terkait status kenabian Mirza Ghulam Ahmad dan konsep Imam Mahdi serta Nabi Isa.
Aliran ini terbagi menjadi dua kelompok utama, Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore.
Di Indonesia, Ahmadiyah mulai menyebar pada awal abad ke-20 melalui jaringan internasional dan tokoh-tokoh dari India. Organisasi seperti Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia (GAI) memainkan peran penting dalam penyebaran ajaran mereka. Namun, ajaran Ahmadiyah sering kali dianggap kontroversial oleh kelompok Islam mayoritas, yang menganggapnya menyimpang dari akidah Islam. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan Ahmadiyah sebagai aliran sesat.
14 Deden Matin Dayyin, Ahmad Zuhdi Ismail. Analisis atas Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Pelanggaran dan Penyesatan kepada Kelompok Ahmadiyah di Indonesia. Jurnal Iman dan Spiritualitas, Vol 2, No 4, Thn 2022, Hlm 479
Daftar pustaka
Tarhah M Raden, Abdullah. “Ahmadiyah: Analisis terhadap Teologi dan Perkembangan.”
Jurnal Alwatzikhoebillah: Kajian Islam, Pendidikan, Ekonomi, Humaniora. Vol.
10 No. 1 (2024)
Lathifah Zuhro, Arifin Syamsul, yusuf Mundzirin, Riswinarno, Badrun, A Dudung, Maimunah Siti, Hak Nurul, Musa, Machasin, Sujadi, Adnani Soraya, Wildan M, Maharsi, Fatiyah. “Buku Seri Sejarah Islam Indonesia Modern: Gerakan-Gerakan Islam Indonesia Kontenporer.” Yogyakarta (2020). Adab Pres. isbn: 978-979-8548-12-3 Sari Permita Gita. “Perkembangan Organisasi Ahmadiyah di Indonesia pada Tahun 1928-
1968.” Yogyakarta
Muhtadhor, Moh. “Ahmadiyah dalam Lingkar Teologi Islam (Analisis Sosial atas Sejarah Munculnya Ahmadiyah)”. Jurnal Aqlam:journal of Islam and Plurality. Vol. 3 No.
1(2018)
Dr. Zuhri Muhibbin Achmad, M. Ag. Akidah Ilmu Kalam. Universitas Negri Sunan Ampel.
Surabaya, (2013).
Sofianto Kunto. “Tinjauan Kritis Jemaat Ahmadiyah Indonesia”. Bandung: Nerajta Press, (2014).
Suryadi D. “Ahmadiah di Indonesia: Analisis Krisis terhadap Pemikiran Islam Modern dan Peranannya dalam Dinamika Keagamaan di Indonesia”. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat, Vol 1, No 2, Tahun (2010).
Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia (GAI), “Anggaran Dasar (Qanun Asasi)”. Yogyakarta:
Darkuti, t.t.,
Azra, A. “Tantangan Sosial-Politik Ahmadiah di Indonesia”. Jurnal Ilmu Politik, Vol 18, No 3, (2013),
Nursahid, H. “Kontroversi Ahmadiyah di Indonesia: Tinjauan dari Persepektif Hukum Islam”.
Jurnal Hukum dan Pembangunan, Vol 41, No 5, (2011)
Deden Matin Dayyin, Ahmad Zuhdi Ismail. “Analisis atas Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Pelanggaran dan Penyesatan kepada Kelompok Ahmadiyah di Indonesia”.
Jurnal Iman dan Spiritualitas, Vol 2, No 4, (2022)