• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alur Penegakkan Diagnosis Mioma uteri

N/A
N/A
Gares Willem

Academic year: 2025

Membagikan "Alur Penegakkan Diagnosis Mioma uteri"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Alur Penegakkan Diagnosis

Penegakkan diagnosis harus dilakukan secara sistemati, mulai dari anamnesis mendalam, pemeriksaan fisik, serta ditunjang oleh pemeriksaan labolatorium dan imaging.

A. Anamnesis

Tahapan awal dalam penegakkan diagnosis yakni anamnesis terpimpin secara menyeluruh.

Hal ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi terkait dengan keluhan yang dialami oleh pasien guna menyimpulkan diagnosis dan terapi yang dapat diberikan nantinya.1,2

Pada kasus ini, pasien perempuan usia 25 tahun datang dengan keluhan utama berupa perdarahan menstruasi yang berlangsung lebih lama dan lebih banyak dari biasanya. Dalam satu siklus menstruasi, pasien mengalami haid selama 10–12 hari dengan frekuensi penggantian pembalut sekitar 10 kali per hari. Selain itu, pasien juga mengeluhkan nyeri perut bagian bawah terutama pada hari kedua dan ketiga haid, serta perut terasa membesar. Riwayat seksual dan obstetri belum dapat dinilai secara penuh karena pasien belum menikah dan belum aktif secara seksual.1,2

Gejala tersebut mencerminkan kemungkinan adanya perdarahan uterus abnormal (PUA), khususnya tipe AUB-L (Abnormal Uterine Bleeding - Leiomyoma) sesuai klasifikasi PALM- COEIN, yakni struktur anatomi berupa mioma uteri sebagai penyebab utama gangguan menstruasi pada usia reproduktif.3

B. Pemeriksaan Fisik

Setelah anamnesis, pemeriksaan fisik dilakukan untuk mencari tanda-tanda yang mendukung keberadaan mioma.2,4

Pada pemeriksaan tanda vital, didapatkan tekanan darah 100/70 mmHg, denyut nadi 121 x/menit (takikardi), suhu tubuh 36,8°C, dan laju napas 20 x/menit. Tanda-tanda vital menunjukkan kemungkinan anemia akibat perdarahan kronis. Konjungtiva palpebra tampak anemis, yang mendukung dugaan adanya anemia.2,4

Pemeriksaan abdomen menunjukkan uterus yang membesar hingga dua jari di bawah pusat, berkonstistensi padat, dapat digerakkan (mobile), dan tidak nyeri tekan. Pemeriksaan genitalia eksterna tidak menunjukkan kelainan anatomi, namun terdapat fluksus darah aktif dari vagina.

Pemeriksaan dalam belum dilakukan karena pertimbangan status perawan pasien.2,3

Pembesaran uterus dengan karakteristik padat, mobile, dan tidak nyeri sangat sesuai dengan deskripsi klasik mioma uteri pada pemeriksaan fisik.2,4

C. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang digunakan untuk mengkonfirmasi temuan klinis dan memperjelas karakteristik dari mioma.1,2

Pemeriksaan hematologi menunjukkan kadar hemoglobin sebesar 7,5 g/dL yang menandakan anemia berat, kemungkinan sekunder akibat menoragia kronis. Jumlah leukosit 14.000/uL menunjukkan leukositosis, meskipun perlu dievaluasi lebih lanjut apakah berkaitan dengan inflamasi atau respons non-spesifik. Trombosit dalam batas normal.1,2

USG adalah modalitas utama untuk menilai ukuran, jumlah, dan lokasi mioma serta menentukan jenisnya apakah submukosa, intramural, atau subserosa. USG yang dapat dilakukan dalam membantu dalam menentukan diagnosis pasti yakni USG Transvaginal dan USG Transabdominal, namun untuk kasus ini, karena dari hasil anamnesis didapatkan bahwa

(2)

pasien belum menikah sehingga pemeriksaan USG yang disarankan yakni pemeriksaan USG Transabdominal yang menggunakan transduser di permukaan abdomen bawah serta non- invasif.1,2

Apabila hasil USG mengindikasikan kelainan struktural uterus, seperti massa padat dengan batas tegas pada miometrium, maka diagnosis mioma uteri sangat mungkin ditegakkan. MRI pelvis dapat dipertimbangkan apabila hasil USG tidak jelas atau jika dicurigai multiple fibroid atau submukosa yang kompleks.1

D. Diagnosis dan Diagnosis Banding

Diagnosis dan diagnosis banding ditegakkan berdasarkan pada hasil anamnesis dan pengumpulan data yang dilakukan serta pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjagg yang telah dilakukan.

1. Diagnosis

Berdasarkan data klinis, pemeriksaan fisik, dan laboratorium, diagnosis sementara adalah: Perdarahan abnormal uterus et causa Mioma uteri disertai anemia e. c menoragia kronis.

Mioma uteri, yang juga dikenal sebagai leiomioma uteri atau fibroid, merupakan tumor jinak yang berasal dari jaringan otot polos uterus. Neoplasma ini termasuk dalam kelompok tumor ginekologis yang paling sering dijumpai pada wanita usia reproduktif. Mioma berkembang secara perlahan dan pertumbuhannya sangat bergantung pada kadar hormon, khususnya estrogen, sehingga kondisi ini umumnya tidak ditemukan sebelum pubertas, dan cenderung mengecil atau menghilang setelah menopause.5

Faktor-faktor yang mendukung dan memperkuat diagnosis ini termasuk:

1) Menoragia dan dismenore yang berlangsung lama.

2) Usia produktif 25 tahun.

3) Pembesaran uterus teraba secara fisik 2 jari dibawah pusat.

4) Anemia berat berdasarkan hasil darah.

5) Fluktus darah yang aktif dari vagina tanpa kelainan eksternal.

Diagnosis ini sejalan dengan definisi leiomioma sebagai tumor jinak yang berasal dari otot polos uterus, berkembang akibat stimulasi hormon estrogen dan progesteron serta faktor genetik.1,2

2. Diagnosis banding

Beberapa penyakit juga memiliki gejala klinis utama yang mirip dengan diagnosis sementara yang ada pada kasus. Beberapa diagnosis banding yang dapat dipikirkan dalam penetapan diagnosis pasien yakni:

1) Adenomiosis

Adenomiosis merupakan kondisi jinak di mana jaringan endometrium (lapisan dalam rahim) tumbuh ke dalam miometrium (dinding otot rahim). Gejala utamanya adalah menoragia (perdarahan menstruasi berlebihan) dan dismenore hebat yang progresif.

Adenomiosis umumnya terjadi pada wanita usia reproduktif akhir dan multipara.2,4 Perbedaan klinis dengan mioma uteri:2

a) Adenomiosis cenderung menyebabkan nyeri haid yang lebih berat dibandingkan mioma.

(3)

b) Uterus membesar secara difus dan lunak pada adenomiosis, berbeda dengan mioma yang membesar terbatas, padat, dan terlokalisasi.

c) Pemeriksaan USG atau MRI menunjukkan gambaran dinding rahim yang menebal, tidak beraturan, serta adanya kista kecil di miometrium (jaringan "bintik-bintik").

2) Kista Ovarium

Kista ovarium adalah kantung berisi cairan yang tumbuh di ovarium. Gejala yang ditimbulkan dapat berupa pembesaran perut, nyeri panggul, siklus haid tidak teratur, dan nyeri saat ovulasi atau berhubungan seksual.2

Perbedaan klinis dengan mioma uteri:2

a) Lokasi massa: Kista ovarium biasanya teraba di regio adneksa, bukan di korpus uteri.

b) Konsistensi massa kista biasanya lunak dan mobilitasnya tinggi.

c) Pada pemeriksaan USG akan menunjukkan massa anekoik atau kistik, berbeda dengan mioma yang tampak padat, hiperekoik atau heteroechoic dengan bayangan akustik posterior.

3) Kehamilan

Pada wanita usia reproduktif, kehamilan terutama kehamilan awal atau ektopik perlu disingkirkan. Gejala yang mirip adalah pembesaran perut, perdarahan pervaginam, dan nyeri perut bawah.3

Perbedaan klinis dengan mioma uteri:3

a) Pasien dengan mioma uteri biasanya memiliki riwayat menstruasi yang masih berlangsung, sedangkan kehamilan disertai amenore.

b) Pemeriksaan β-hCG menjadi penentu utama, serta USG transvaginal menunjukkan adanya kantong gestasi atau massa adneksa.

4) Polip Endometrium

Polip endometrium merupakan pertumbuhan jinak dari lapisan dalam rahim yang dapat menyebabkan perdarahan tidak teratur, terutama perdarahan antarsiklus atau pascahaid.1 Perbedaan klinis dengan mioma uteri:1

a) Perdarahan akibat polip umumnya tidak disertai pembesaran uterus.

b) USG atau histerosonografi menunjukkan lesi terlokalisasi dalam rongga endometrium, kadang terlihat sebagai massa yang bergantung ("sessile" atau "pedunculated").

5) Karsinoma Endometrium

Merupakan keganasan pada lapisan endometrium. Sering terjadi pada wanita usia >45 tahun dengan faktor risiko seperti obesitas, diabetes, dan terapi estrogen tanpa progestin.

Gejalanya berupa perdarahan pervaginam yang tidak normal.4 Perbedaan klinis dengan mioma uteri:4

a) Uterus pada kanker endometrium tidak selalu membesar seperti pada mioma.

b) Pemeriksaan histeroskopi dengan biopsi diperlukan untuk menegakkan diagnosis.

c) Pasien usia muda dengan menoragia jarang mengalami kanker endometrium kecuali terdapat faktor risiko hormonal yang signifikan.

6) Molahidatidosa

Merupakan bentuk kehamilan abnormal akibat proliferasi trofoblas. Ditandai dengan perdarahan uterus abnormal, uterus lebih besar dari usia kehamilan, dan kadar β-hCG yang sangat tinggi.4

(4)

Perbedaan klinis dengan mioma uteri:4

a) Gejala sistemik lebih menonjol seperti hiperemesis dan preeklampsia dini.

b) USG menunjukkan "gambaran sarang lebah" atau "snowstorm appearance", khas mola .

c) Dapat disertai tidak adanya janin yang hidup.

7) Endometriosis

Kondisi kronis di mana jaringan endometrium tumbuh di luar rongga rahim (seperti ovarium, ligamen uterosakral). Gejala khas adalah dismenore berat, nyeri saat hubungan seksual, dan infertilitas.2

Perbedaan klinis dengan mioma uteri:2

a) Tidak menyebabkan pembesaran uterus secara bermakna.

b) Nyeri lebih dominan dibanding perdarahan.

c) Diagnosis definitif melalui laparoskopi

(5)

Referensi

1. Lubis PN. Diagnosis dan Tatalaksana Mioma Uteri. CDK-284. 2023;47(3):196–200.

Tersedia dari: https://www.researchgate.net/publication/366977619

2. Sirait BI. Ginekologi Jilid 1. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia;

2021.

3. Committee on Gynecologic Practice. Management of Acute Abnormal Uterine Bleeding in Nonpregnant Reproductive-Aged Women. ACOG Committee Opinion No. 557. Obstet Gynecol. 2013;121(4):891–6. Reaffirmed 2019.

4. Wiyati PS, Iskandar TM, Pramono MBA. Buku Ajar Masalah Ginekologi Umum.

Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro; 2022.

5. Pattinasarany CG, Riyanti N, Rahawarin H, Resnawaldi A, Sinanu J, Maelissa MM.

Karakteristik Status Obstetri pada Pasien Mioma Uteri di RSUD Dr. M. Haulussy Ambon Tahun 2018–2021. Pameri. 2023;5(1):31–3.

Referensi

Dokumen terkait