• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisa perbandingan kinerja perbankan indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "analisa perbandingan kinerja perbankan indonesia"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

Dengan ini saya menyatakan bahwa hasil penulisan disertasi yang saya tulis ini adalah hasil karya saya sendiri dan asli keasliannya. 10. Semua pihak yang telah ikut membantu dalam penyusunan skripsi ini, yang tidak dapat penulis tulis satu persatu.

KESIMPULAN DAN SARAN

PENDAHULUAN

Identifikasi Masalah

Bank merupakan badan usaha yang menghimpun uang masyarakat dalam bentuk tabungan dan menyalurkannya kepada masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup orang banyak14. Untuk mengetahui dampak krisis keuangan global terhadap kinerja perbankan di Indonesia, penulis berencana melakukan penelitian ini.

Perumusan Masalah

Batasan Masalah

Penulis membagi waktu penelitian menjadi dua periode, yaitu Januari 2007 hingga Juni 2008 merupakan periode sebelum krisis, sedangkan Juli 2008 hingga Desember 2009 merupakan periode krisis keuangan global.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

  • Manfaat Bagi Ilmu Pengetahuan
  • Manfaat Bagi Industri Perbankan
  • Manfaat Bagi peneliti selanjutnya

Sistematika Penulisan .1 BAB I PENDAHULUAN

  • BAB II LANDASAN TEORI
  • BAB III METODE PENELITIAN
  • BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
  • BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Pada akhir bab, hasil yang diperoleh akan dibandingkan dengan hipotesis yang diajukan kemudian dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya. Menjelaskan keseluruhan isi penelitian beserta hasil yang diperoleh dari penelitian ini, dan merumuskan kesimpulan serta saran bagi penulis dan objek penelitian.

Tinjauan Pustaka

  • CAMELS

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor: 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, bank wajib melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip kehati-hatian dalam rangka menjaga atau meningkatkan tingkat kesehatan Bank.4 Untuk menilai kesehatan suatu bank dapat dilihat dari berbagai aspek. 4 Hal tersebut tertuang dalam Pasal 2 Peraturan Bank Indonesia Nomor: 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. 5 Tercantum dalam Pasal 1 dan 3 Peraturan Bank Indonesia Nomor: 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum.

Penilaian manajemen merupakan penilaian terhadap kemampuan manajerial Bank dalam menjalankan usahanya, kecukupan manajemen risiko, dan kepatuhan Bank terhadap peraturan dan kewajiban yang berlaku terhadap Bank Indonesia dan/atau pihak lain. 6 Penjelasan huruf b Pasal 3 Peraturan Bank Indonesia Nomor: 6/10/PBI/2004 tentang sistem penilaian tingkat kesehatan bank umum. Penilaian profitabilitas merupakan penilaian terhadap kondisi dan kemampuan profitabilitas bank dalam menunjang kegiatan operasional dan permodalan7.

7 Penjelasan huruf d Pasal 3 Peraturan Bank Indonesia Nomor: 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. 8 Penjelasan huruf e Pasal 3 Peraturan Bank Indonesia Nomor: 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. 9 Penjelasan huruf f Pasal 3 Peraturan Bank Indonesia Nomor: 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum.

Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (MCR) didasarkan pada rasio atau perbandingan antara modal yang dimiliki bank dengan besarnya Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Kolektabilitas kredit ditentukan berdasarkan analisis dan penilaian terhadap faktor-faktor penilaian mengenai prospek usaha, kinerja debitur, dan kemampuan membayar.

Kerangka Pemikiran

Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan yang signifikan tingkat kesehatan bank syariah dan bank umum konvensional sebelum dan pada saat krisis moneter. Deni Surya (2006) melakukan analisis perbandingan kinerja keuangan bank syariah dan bank umum konvensional sebelum dan sesudah deregulasi keuangan dan krisis moneter, dengan menggunakan studi kasus BMI dan empat bank umum konvensional. Dengan menggunakan CAREL (Capital, Asset, Rentability, Earning dan Liquidity) sebagai metode untuk menganalisis kinerja bank, penelitian ini menunjukkan bahwa hanya ada satu bank yang memberikan dampak signifikan pasca deregulasi keuangan dan krisis moneter, yaitu Bank Sumut. empat bank lainnya yaitu Bank BTPN, Bank AEB, Bank Mestika dan Bank Muamalat Indonesia tidak memberikan dampak signifikan.

Untuk mengevaluasi kinerja perbankan Indonesia, kita dapat melihat rasio keuangan perbankan dengan menganalisis rasio-rasio keuangan yang ada. Rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio kecukupan modal (CAR) dan kredit bermasalah (NPL). Penelitian ini akan membandingkan kinerja perbankan Indonesia sebelum dan saat krisis dilihat dari CAR dan NPL.

Penulis berhipotesis bahwa dampak krisis keuangan global terhadap perekonomian sebagian besar negara di dunia, khususnya negara sasaran ekspor Indonesia, akan menyebabkan penurunan kinerja ekspor Indonesia. Dalam hal ini, krisis dapat berdampak langsung terhadap pengusaha dalam negeri dan dengan demikian mengurangi efektivitas pemberian pinjaman bank. Selama krisis keuangan global Sebelum krisis keuangan global Selama krisis keuangan global Sebelum krisis keuangan global

Gambar 2.1  Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Hipotesis

Objek Penelitian

Metode Pengumpulan Data

Semakin besar CAR maka semakin besar pula ketahanan bank dalam menghadapi depresiasi nilai aset bank akibat adanya aset bermasalah. Dalam laporan keuangan bank terdapat dua jenis rasio NPL, yaitu NPL bruto (NPL Bruto) dan NPL bersih (Net NPL). NPL yang digunakan dalam penelitian ini adalah NPL gross. Untuk menghindari rasio NPL neto yang terlalu kecil akibat bertambahnya jumlah pencadangan yang dilakukan bank untuk mengantisipasi kerugian. Semakin tinggi nilai NPL (di atas 5%), semakin tidak sehat bank tersebut.

Metode Analisis Data

Jika data tidak berdistribusi normal, atau jumlah sampel sedikit dan tipe data nominal atau ordinal, maka metode yang digunakan adalah statistik nonparametrik. Dalam penelitian ini akan diuji normalitas data CAR dan NPL dengan menggunakan uji one-sample Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05. Uji ini juga digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan mean antara CAR sebelumnya dengan NPL.

Dengan menggunakan tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 maka H0 diterima jika p-value lebih besar dari 0,05. H0 diterima yang berarti tidak terdapat perbedaan rata-rata CAR dan NPL sebelum dan saat krisis atau µ1 − µ0 sama dengan nol. Sebaliknya H1 diterima jika terdapat perbedaan rata-rata CAR dan NPL sebelum dan saat krisis atau µ1 − µ0 tidak sama dengan nol. Uji Wilcoxon Signed Ranks merupakan uji non parametrik yang digunakan untuk membandingkan rata-rata CAR dan NPL sebelum dan pada saat krisis.

Uji ini digunakan untuk kondisi dua sampel yang independen dan tidak mengharuskan sampel diambil dari populasi yang berdistribusi normal. Uji Wilcoxon juga digunakan untuk menguji apakah rata-rata CAR dan NPL sebelum dan saat krisis sama atau tidak. Sebaliknya H1 diterima jika terdapat perbedaan mean CAR dan NPL sebelum dan saat krisis atau µ1 – µ0 tidak sama dengan nol.

Gambaran Umum Objek Penelitian

Profil Responden

Setelah penunjukan De Javasche Bank sebagai bank sentral pada tahun 1949, pemerintah membatasi peran Bank Negara Indonesia sebagai bank sirkulasi atau bank sentral. Penambahan modal pada tahun 1955 mengakibatkan status Bank Negara Indonesia diubah menjadi bank umum milik negara. Pada tahun 1992, BNI mengubah status hukum dan nama menjadi PT Bank Negara Indonesia (Persero), sedangkan keputusan menjadi perusahaan publik diwujudkan melalui penawaran umum perdana di pasar modal pada tahun 1996.

Bank Danamon merupakan bank swasta devisa pertama di Indonesia pada tahun 1976 dan menjadi perusahaan publik pada tahun 1989. Pada tahun 1997, akibat krisis moneter Asia, Bank Danamon mengalami kesulitan likuiditas dan diambil alih oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) . . Pada tahun 1999, pemerintah Indonesia melalui BPPN merekapitalisasi Bank Danamon dengan obligasi pemerintah senilai Rp 32 triliun.

Total aset Bank Danamon per September 2009 berjumlah Rp 104,8 triliun dan membukukan laba bersih sebesar Rp 1,532 miliar pada akhir tahun 2009, dibandingkan Rp 1,530 miliar pada tahun 2008. Panin Bank didirikan pada tahun 1971 dan mencatatkan sahamnya sebagai Go pertama. Publik- Bank. di Bursa Efek Jakarta pada tahun 1982. Citibank pertama kali muncul di Indonesia pada tahun 1918 melalui perusahaan sebelumnya yaitu The International Banking Corporation di Batavia dan Surabaya.

Analisis dan Pembahasan Hasil Penelitian

Hal ini terlihat dari nilai p-value uji Kolmogorov-Smirnov untuk CAR sebelum krisis sebesar 0,8931, kemudian untuk NPL sebelum krisis dan sebelum krisis, masing-masing sebesar 0,060 dan 0,293. Dari hasil uji normalitas data dapat disimpulkan bahwa data yang berdistribusi normal yaitu CAR sebelum, NPL sebelum dan saat krisis dapat dianalisis dengan metode statistik parametrik. Uji parametrik ini dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan mean antara CAR sebelum dan saat krisis dengan NPL sebelum dan saat krisis.

Dari hasil uji T berpasangan di atas terlihat bahwa CAR sebelum dan saat krisis mempunyai nilai p-value sebesar 0,003 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga H0 ditolak. Dengan membuktikan H0 ditolak maka dapat diartikan terdapat perbedaan antara rata-rata CAR sebelum dan saat krisis terjadi. P-value hasil uji t berpasangan di atas untuk NPL sebelum dan saat krisis menunjukkan angka 0,053 atau lebih besar dari 0,05 sehingga H0 diterima.

Penerimaan H0 menunjukkan tidak terdapat perbedaan rata-rata antara NPL sebelum dan pada saat krisis. Dari hasil uji Wilcoxon Signed Rank di atas terlihat bahwa p-value CAR sebelum dan saat krisis sebesar 0,003 maka H0 ditolak. Sedangkan p-value NPL sebelum dan saat krisis menunjukkan 0,097 atau lebih dari 0,05 sehingga menyebabkan H0 diterima.

Gambar 4.1  Diagram Plot Data CAR
Gambar 4.1 Diagram Plot Data CAR

Argumentasi Penelitian

Pada akhir semester I tahun 2009, nominal NPL perbankan Indonesia meningkat sebesar 25,7% dibandingkan akhir semester II tahun 2008 menjadi Rp 52,7 triliun1. Untuk membatasi peningkatan risiko kredit akibat peningkatan NPL, industri perbankan Indonesia memperkenalkan penyisihan kerugian aset produktif (PPAP) kredit yang cukup besar pada semester pertama tahun 2009. Pembentukan PPAP kredit yang cukup besar ini menjadi salah satu cara untuk mengantisipasi kerugian akibat peningkatan risiko kredit terlihat dari rasio NPL yang meningkat antara bulan Desember 2008 hingga Juni 2009.

Meskipun terdapat peningkatan risiko kredit, rata-rata rasio NPL perbankan di Indonesia masih tetap rendah yaitu sekitar 3%, di bawah standar NPL maksimum sebesar 5%. Rendahnya rasio NPL ini selain disebabkan oleh tingginya jumlah kredit, juga disebabkan oleh efektivitas kebijakan bank dalam memantau dan menangani kredit bermasalah. Salah satu cara perbankan Indonesia mengelola risiko kredit adalah dengan memperbanyak formasi PPAP yang juga berdampak pada penurunan modal ekuitas.

Jumlah kredit yang diberikan mengalami kenaikan tertinggi pada bulan Oktober 2008, hal ini menyebabkan penurunan nilai CAR yang terjadi pada semester II dibandingkan semester I tahun 2007-2008. Meski rata-rata CAR perbankan Indonesia masih jauh di atas ketentuan. oleh BI yaitu sekitar 17% pada semester II 2008-2009 dari minimal 8%, CAR perbankan masih berpotensi menurun seiring dengan peningkatan jumlah yang disalurkan.

Kesimpulan

Saran

Analisis perbandingan kinerja keuangan bank syariah dengan bank umum konvensional sebelum dan sesudah deregulasi keuangan dan krisis moneter. 8/2/PBI/2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum. 9/16/PBI/2007 TENTANG Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/15/Pbi/2005 Tentang Modal Inti Minimum Bank Umum.

11/2/PBI/2009 tentang perubahan ketiga atas Peraturan Bank Indonesia No. 7/2/Pbi/2005 tentang penilaian kualitas aset bank umum.

Referensi

Dokumen terkait