Analisa Usaha Pembesaran Sidat Muda (Anguilla
marmorata) Pada Bak Fiber
ON 6 JULI 2013 BY NIPUTUDKDALAM KELAUTAN DAN PERIKANAN
Ikan sidat telah dikenal sebagai salah satu jenis ikan yang sangat digemari di beberapa negara seperti Jepang, Italia, Denmark, Spanyol dan Prancis karena ikan daging ikan sidat banyak mengandung lemak dan vitamin E yang tidak terdapat pada ikan lain sehingga rasanya gurih). Budidaya ikan sidat ini telah dimulai di Jepang sejak tahun 1894 dengan spesies Anguilla japonicus (Usui, 1974).
Budidaya ikan sidat di Indonesia baru dimulai sekitar tahun 1992 (Rovara, 2002).
Negara-negara Eropa, Taiwan, terutama Jepang merupakan negara konsumen terbesar ikan sidat ini. Tingkat konsumsi ikan sidat di Jepang mencapai 150.000- 200.000 ton per tahun (Setiawan et al., 2002). Jepang baru mampu memproduksi ikan sidat sekitar 22,836 metrik ton (Budiawan, 2002). Rendahnya tingkat produksi dibandingkan dengan tingkat konsumsi ikan sidat di Jepang membuktikan bahwa peluang untuk ekspor sidat ke Jepang masih sangat besar. Affandi dan Suhenda (2002), mengemukakan bahwa harga jual benih ikan sidat ukuran 1-2 gr (benih) dapat mencapai Rp. 320.000-Rp. 600.000/kg dan harga untuk ukuran konsumsi mencapai Rp. 20.000-Rp. 40.000/kg (Affandi dan Suhenda, 2002).
Potensi Indonesia untuk pemeliharaan ikan sidat cukup baik karena memiliki potensi benih yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan benih ikan sidat. Kondisi tanah yang luas dan memenuhi syarat, kualitas dan kuantitas air yang cocok untuk
pemeliharaan ikan sidat dan kondisi lingkungan yang cukup mendukung serta bahan baku pakan yang dapat tersedia dalam jumlah yang besar dengan harga yang relatif murah. Pertimbangan ini membuat budidaya ikan sidat telah mulai digalakkan (Purwanto dan Bastian, 2006).
Taksonomi
Nelson (1984) dalam Hidayah dan Makmur (2002), mengemukakan bahwa klasifikasi ikan sidat adalah sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Super Class : Gnathostomata
Classis : Teleostei
Sub Class : Actynopterigii
Order : Anguilliformes
Sub Order : Anguillidaei
Famili : Anguillidae
Genus : Anguilla
Spesies : Anguilla sp
Morfologi
Ikan sidat memiliki sirip dada, sirip punggung sirip perut, dan sirip dubur yang sempurna. Tubuh bersisik kecil-kecil membujur yang berkumpul dalam kumpulan- kumpulan kecil, masing-masing kumpulan terletak miring pada sudut siku terhadap kumpulan di sampingnya dan bentuk tubuhnya menyerupai ular (Sarwono, 2006).
Menurut Beafourt (1916) dalam Pratiwi (1998), bentuk badan menyerupai ular yang panjangnya dapat mencapai 50-125 cm, sirip punggung dan sirip perut menyatu dengan sirip ekor, ukuran sisik sangat kecil yang terletak dalam kulit serta ukuran kepala lebih panjang dibandingkan dengan jarak antara sirip punggung dengan sirip ekor.
Liviawaty dan Afrianto (1998), memaparkan bahwa secara morfologis ciri utama dari ikan sidat dewasa adalah bentuk tubuh menyerupai belut, tetapi terdapat perbedaan yaitu ikan sidat memiliki sirip ekor, sirip punggung dan sirip perut yang sempurna sedangkan belut tidak memiliki sirip. Ketiga sirip ikan sidat tersebut saling berhubungan, mulai dari punggung ke ekor dan berakhir di bagian ventral tubuhnya. Ciri lain yang membedakan antara ikan sidat dengan belut adalah ikan sidat memiliki sirip dada yang terletak tepat di bagian kepala yang berukuran relatif kecil sehingga menyerupai daun telinga.
Habitat dan Penyebaran
Menurut Wouthuyzen et al. (2002), di dunia terdapat 18 spesies atau sub-spesies ikan sidat (Famili Anguillidae/Anguillid eels). Tujuh spesies diantaranya berada di sekitar samudra Pasifik barat, yakni di sekitar perairan Indonesia. Tujuh spesies tersebut adalah A. celebesensis dan A. borneensis, yang merupakan jenis endemik yang hanya dapat dijumpai di sekitar pulau Kalimantan dan Sulawesi. A. interioris dan A. obscura berada di sekitar perairan sebelah utara pulau Irian (Papua) dan A.
bicolor pasifica dijumpai di perairan Indonesia bagian utara (samudra Pasifik). A.
bicolor pasifica berada di sekitar Samudra Hindia (di sebelah barat pulau Sumatra dan selatan pulau Jawa), sedangkan A. marmorata, merupakan jenis ikan sidat kosmopolitan atau yang memiliki sebaran yang sangat luas di seluruh perairan tropis.
Ndobe (1997), mengemukakan pendapat yang berbeda. Penyebaran ikan sidat di dunia terdapat 19 spesies dan enam spesies diantaranya terdapat di Indonesia.
Keenam spesies tersebut diantaranya yaitu A. mauritania A. ancertralis, A.
pasifecta, A. borneosnsis, A. bicolor-bicolor dan A. celebesensis. Pendapat ini diperkuat oleh pendapat Liviawaty dan Afrianto (1998), di dunia tersebar sekitar 19 spesies ikan sidat dan hanya dua spesies yang tersebar di lautan Atlantik. Kedua spesies tersebut adalah A. anguilla (ikan sidat Eropa) dan A. rostrata (ikan sidat Amerika) yang menyebar di benua Eropa dan Amerika. 17 spesies lainnya tersebar di lautan Pasifik dan samudra Indonesia yakni tujuh spesies tersebar di Indonesia.
Tujuh spesies tersebut yaitu A. ancertralis, A. Bicolor-bicolor, A. pasifecta, A.
borneosnsis, A. celebesensis, A. mauritania dan A. marmorata. Speisies ikan sidat ini tersebar terutama di pulau Sumatera bagian Utara, Barat dan Barat Daya; pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya.
Daur Hidup
Ikan sidat memiliki sifat katadromus yaitu masa menjelang dewasa ikan sidat hidup di air tawar kemudian bermigrasi untuk bertelur atau berkembang biak di air laut (Hoar & Randal, 1988 dalam Hidayah & Makmur, 2002). Stadia perkembangan ikan sidat menurut Setiawan et al. (2002), umumnya sama baik yang berada di daerah
tropik maupun yang berada di daerah yang memiliki empat musim. Stadia perkembangan tersebut dimulai dari stadia larva (leptochepalus), stadi glass eel, stadia sidat kecil (elver), stadia sidat dewasa (yellow eel) dan sidat matang gonad (silver eel ).
Ikan sidat berpijah dan bertelur di laut dalam pada kedalaman 400-500 m di bawah permukaan air. Telur yang dibuahi akan menetas setelah satu hari dan berkembang menjadi larva (leptochepalus) setelah 10 hari. Pada stadia ini betuk tubuh seperti daun, tipis seperti pita dan tembus cahaya dengan ukuran tubuh mencapai 6-60 mm. Larva akan terbawa mengikuti arus menuju ke muara sungai dan hidup beberapa saat di muara sungai. Selama perjalanan menuju ke muara sungai, larva mengalami perkembangan menjadi ikan sidat kecil (elver), sehingga sesampainya di muara sungai larva telah menjadi ikan sidat kecil (elver). Waktu yang dibutuhkan larva untuk mencapai pantai sekitar satu tahun (Liviawaty dan Afrianto, 1998).
Elver akan hidup di perairan tawar hingga mencapai ukuran dewasa (yellow eel) dan matang kelamin (silver eel). Proses pematangan gonad terjadi di perairan tawar dan selama perjalanan migrasi menuju ke laut dalam. Ikan sidat akan memijah dan bertelur di laut dalam (Liviawaty dan Afrianto, 1998; Muchsin et al., 2003).
Kebiasaan Makan
Menurut Setiyanto et al. (2002), ikan sidat merupakan hewan nokturnal, karena dari hasil penelitian yang dilakukan, kebanyakan ikan sidat muncul pada malam hari sehingga dapat diindikasikan bahwa ikan sidat makan pada malam hari. Menurut Haryani et al. (2002), Berdasarkan analisis isi lambung ikan sidat dewasa
didapatkan jenis makanannya adalah kepiting, udang dan keong.
Pada elver dan glass eel, makanannya tidak teridentifikasi
Persyaratan Lokasi Budidaya
Menurut Liviawaty dan Afrianto (1998), pemilihan lokasi adalah jaminan suatu keberhasilan dalam budidaya ikan sidat. Kesalahan dalam memilih lokasi merupakan langkah awal menuju kegagalan. Pada saat menentukan lokasi untuk pembuatan kolam pemeliharaan ikan sidat harus memperhatikan hal-hal berikut : 1. Lokasi yang dipilih dekat dengan sumber air, baik dari sungai maupun sumur.
2. Sumber air yang digunakan tidak tercemar, baik dari sampah rumah tangga maupun dari pabrik.
3. Lokasi yang dipilih bukan merupakan daerah banjir.
4. Letak lahan memungkinkan dapat dilakukan pengeringan dengan mengandalkan tenaga gravitasi.
5. Jenis tanah bukan merupakan jenis tanah yang porous.
6. Lokasi yang dipilih terletak di areal terbuka, sehingga memungkinkan mendapatkan sinar matahari yang cukup dan hembusan angin di permukaan air tidak terhalang yang dapat menperbesar terjadinya oksigenasi oleh angin.
7. Lokasi yang dipilih mudah dijangkau, tersedia sarana transportasi dan tersedia sumber listrik.
Sarana dan Prasarana
Sarana budidaya adalah semua sarana untuk menunjang kegiatan dalam melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan budidaya, sehingga akan diperoleh hasil sesuai yang diinginkan. Sarana yang digunakan untuk budidaya ikan sidat meliputi :
a. Sarana Pokok
1) Kolam Pemeliharaan
Menurut Liviawaty dan Afrianto (1998), kolam untuk pemeliharaan benih ikan sidat dapat disesuaikan menurut tahap pemeliharaannya. Tahap pendederan I, kolam pemeliharaan umumnya berupa kolam beton yang berbentuk lingkaran berdiameter 2-5 m. Kolam ini biasanya berada dalam ruangan yang memakai sistem resirkulasi.
Tahap pendederan II, kolam umumnya berbentuk persegi panjang yang luasnya dapat mencapai 300 m2. Dinding kolam terbuat dari bahan semen yang tingginya mencapai 1,5-2 m. Pada tahap ini, biasanya kolam yang digunakan berupa kolam resirkulasi atau kolam air tenang yang dilengkapi dengan kincir yang dipasang disetiap sudut kolam sehingga tercipta sirkulasi air dan dapat membantu meningkatkan konsentrasi oksigen di dalam kolam. Tahapan selanjutnya yaitu pada tahap pembesaran, kolam yang digunakan umumnya sama dengan kolam pendederan II, yang membedakan hanya ukurannya yang lebih luas. Luas kolam untuk kegiatan pembesaran dapat mencapai 1000-20.000 m2.
Affandi dan Suhenda (2002), mengatakan bahwa kontruksi kolam harus diatur sehingga memudahkan untuk mengeringkan kolam, melakukan penyiponan dan pembuangan sisa pakan dan feces ikan. Kolam pemeliharaan harus dilengkapi tempat berlindung ikan sidat (shelter) dan tempat pemberian pakan yang dipasang pada tempat gelap di tepian kolam.
2) Aerator
Konsentrasi oksigen terlarut dalam kolam jika kurang dari 7 mg/l dapat menyebabkan ikan sidat mengalami stres dan hilang nafsu makan. Konsentrasi oksigen terlarut dalam air untuk pemeliharaan ikan sidat harus benar-benar tinggi, berkisar 7-10 mg/l (Sarwono, 2006). Liviawaty dan Afrianto (1998), menjelaskan
bahwa aerator diperlukan dalam pemeliharaan benih terutama untuk membantu meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut dalam kolam.
3) Tempat Pemberian Pakan
Sarwono (2006), menjelaskan bahwa dalam pemeliharaan ikan sidat perlu dibangun tempat pemberian pakan yang permanen. Tempat pemberian pakan biasanya diletakkan di bagian kolam yang mendapat hembusan angin dan dipasang menghadap ke arah angin. Hembusan angin akan menggerakan air dan membentur ke diding pematang kolam sehingga terjadi reaerasi air yang dapat membantu menambah nafsu makan larva. Affandi dan Suhenda (2002), menambahkan bahwa kolam pemeliharaan perlu dilengkapi dengan tempat pemberian pakan yang mengapung yang diletakkan di tempat gelap, biasanya dibangun di tepian kolam.
b. Sarana Penunjang
Perlengkapan yang harus disiapkan untuk memudahkan mengoperasikan selama pemeliharan seperti : alat transportasi, penyimpan pakan, obat-obatan, bahan aditif seperti vitamin, obat-obatan untuk menanggulangi penyakit, terpal untuk menutup kolam untuk mengurangi sinar matahari masuk dalam kolam, serokan, timbangan, ember dan alat untuk grading (Ditjenkan, 2004).
c. Prasarana
Budidaya ikan sidat lebih mempunyai nilai ekonomis jika didukung dengan prasarana seperti : jalan, pasar, listrik dan telepon. Prasarana jalan akan
memperlancar pengiriman hasil panen ke pasar ataupun untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari pekerja, baik yang sifatnya konsumtif ataupun peralatan- peralatan kerja untuk budidaya (Rahardjo, 1999).
Tahap Pemeliharaan
Menurut Affandi dan Suhenda (2002), budidaya ikan sidat dari benih hingga mencapai ukuran konsumsi dapat dikelompokan menjadi tiga tahapan, yaitu:
1. Tahap Pendederan I
Tahap ini adalah tahap pemeliharaan benih yang masih berukuran 0,1-1,2 gr. Panen dilakukan setelah ukuran benih yang dipelihara mencapai ukuran 1,0-2,0 gr. Waktu yang diperlukan untuk mencapai ukuran tersebut sekitar 1,5-2 bulan (Affandi dan Suhenda, 2003).
2. Tahap Pendederan II
Tahap ini benih dipelihara dari ukuran 1,0-2,0 g, yang merupakan benih hasil panen dari kolam pendederan I. Panen pada tahap ini dilakukan setelah ukuran benih yang dipelihara mencapai ukuran 10-20 g. Waktu yang diperlukan untuk mencapai ukuran tersebut biasanya sekitar 2-3 bulan (Affandi dan Suhenda, 2003).
3. Tahap Pembesaran
Benih yang ditebar pada kolam ini merupakan hasil panen dari kolam pendederan II. Pada Tahap ini, ikan sidat yang berukuran 20-30 g dipelihara hingga mencapai ukuran ikan sidat konsumsi (120-200 g). Waktu yang diperlukan pada tahap antara 7-9 bulan (Affandi dan Suhenda, 2003).
Penyediaan Benih
Liviawaty dan Afrianto (1998), menjelaskan bahwa sampai saat ini ikan sidat belum bisa dipijahkan di kolam baik secara alami maupun buatan. Benih yang digunakan untuk usaha pembesaran sepenuhnya masih merupakan hasil penangkapan dari alam. Benih dari alam umumnya memiliki ukuran yang beragam, sehingga perlu dilakukan grading untuk mendapatkan ukuran yang seragam. Salah satu faktor yang dapat menentukan keberhasilan budidaya ikan sidat adalah kulitas benih itu sendiri.
Benih yang baik untuk dipelihara adalah benih hasil tangkapan di daerah muara sungai. Penangkapan benih sebaiknya dilakukan pada malam hari saat air laut pasang naik. Benih yang baru ditangkap dari alam perlu diakalimatisasi dan dikarantina untuk menghilangkan stres pada saat di perjalanan sekaligus membunuh kuman penyakit yang kemungkinan terbawa.
Penebaran dan Padat Tebar
Suyanto dan Mudjiman (2002), menyarankan sebaiknya penebaran benih dilakukan pada pagi hari atau sore hari. Hal ini dilakukan berhubungan dengan suhu perairan dan suhu lingkungan. Padat penebaran untuk benih tergantung pada ukuran dari benih. Padat penebaran untuk benih ukuran 0,1-0,2 g adalah 150-300 g/m2 dan benih yang berukuran 1,0-2,0 g padat penebarannya dapat mencapai 3-6 kg/m2. Berbeda dengan benih yang sudah mencapai ukuran 10-20 g, padat penebarannya dapat mencapai 9-21 kg/m2 (Liviawaty dan Afrianto, 1998).
Jenis Pakan
Menurut Liviawaty dan Afrianto (1998), pada minggu pertama dan kedua pakan yang digunakan untuk pakan benih berupa cincangan daging kerang dan cincangan daging cacing. Minggu ketiga dan keempat benih sudah dapat diberi pakan berupa
cincangan daging ikan, cacing tubifex atau jenis cacing lainnya dan baru bisa diberi pakan buatan setelah umur benih mencapai lima minggu. Pakan buatan untuk ikan sidat biasanya berupa pasta dengan komposisi tertentu yang ditambah dengan mineral dan minyak nabati dan hewani yang banyak mengandung vitamin A, D dan E. Penambahan mineral ke dalam pakan biasanya mendekati 8 % karena kalau < 8
% dapat menyebabkan pertumbuhan ikan sidat terhenti bahkan terjadi susut bobot selanjutnya ikan sidat akan mati. Rasio konversi antara pakan buatan dengan ikan mentah cukup tinggi. Pakan buatan mempunyai ratio 1,4 : 1 sedangkan ikan mentah 7 : 1.
Menurut Affandi dan Suhenda (2002), ikan sidat merupakan ikan karnivora sehingga membutuhkan protein tinggi. Kebutuhan nutrisi untuk pakan ikan sidat adalah protein 45 %, vitamin 2 %, mineral 2 % dan lemak 20-21 %. Berdasarkan hasil penelitian Djajasewaka dan Tahapari (1999), kebutuhan protein yang optimal untuk pakan ikan sidat adalah 55 %, yang mampu menaikan bobot ikan sebesar 20,54 g selama 15 minggu.
Sarwono (2006), menjelaskan kandungan protein pakan buatan yang diberikan untuk ikan sidat disesuaikan menurut fase dari ikan sidat tersebut. Jumlah protein yang dibutuhkan dalam pakan ikan sidat dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jenis dan Jumlah kebutuhan nutrisi pakan untuk ikan sidat
Fase Ikan Sidat Bentuk Diameter (mm) Kadar Protein (o/o) Kadar Lemak (o/o)
Glass eel Serbuk 0,3 55-59 7-20
Fingerling Fingerling Fingerling Fingerling Fingerling Fingerling
Serbuk Serbuk Serbuk Pellet Pellet Pellet
0,3-0,5 0,5-0,8 0,8-1,2 1,2-1,5 2 3
55 52 50 50 48 48
12-20 15-20 18-23 18-23 18-23 18-23
Sumber : PT AquaPlan Asia/Trubus, Agustus 1993
Frekuensi dan Jumlah Pemberian Pakan
Frekuensi pemberian pakan benih pada minggu pertama dan kedua sebanyak dua kali pemberian yaitu pada pagi hari dan sore hari yang berupa pakan alami.
Frekuensi pemberiannya ditambah menjadi tiga kali pada pemberian minggu ketiga dan keempat. Pakan diberikan yakni pada pagi, siang dan sore hari. Pemberian pakan dikombinasikan antara pakan alami dan pakan buatan (Liviawaty dan Afrianto, 1998).
Menurut Sarwono (2006), frekuensi pemberian pakan untuk ikan sidat disesuaikan dengan umur dari benih ikan sidat itu sendiri. Umur benih belum mencapai 21 hari, pakan diberikan sebanyak empat kali yaitu pukul 10.00, 13.00, 16.00 dan 19.00.
Pakan yang diberikan berupa pakan pelet dan pakan alami yang diberikan secara
berselang-seling dengan persentase pemberian perhari sekitar 10 % dari total berat badan. Menginjak umur 21-30 hari pakan yang diberikan berupa pakan bentuk pelet kering, diberikan dua kali sehari dengan persentase pemberiannya sekitar 1-3
% dari total berat badan.
Pertumbuhan
Pertumbuhan merupakan salah satu faktor penting di dalam budidaya untuk mengetahui perubahan ukuran ikan baik bobot, panjang maupun volume dalam laju perubahan waktu (Weatherey, 1927 dalam Purwanto dan Bastian, 2006). Purwanto dan Bastian (2006), menjelaskan bahwa dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukan, pertumbuhan ikan sidat yang dipelihara dalam wadah kolam beton lebih baik dibandingkan dengan pemeliharaan dalam wadah bak fiberglass.
Sintasan pada wadah kolam beton mencapai 55 %, sedangkan pada bak fiberglass hanya mencapai 26,5 %. Hasil ini menunjukan bahwa pemeliharaan ikan sidat pada kolam beton dapat memberikan hasil yang cukup tinggi dibandingkan dengan pemeliharaan pada wadah bak fiberglass.
Parameter Kualitas Air a. Derajat keasaman (pH)
Menurut Liviawaty dan Afrianto (1998), derajat keasaman adalah suatu logaritma negatif dari kepekatan konsentrasi ion-ion hidrogen yang terdapat dalam suatu medium cair, yang merupakan suatu ukuran konsentrasi ion hidrogen terlarut di
dalam air yang menunjukkan perairan tersebut bersifat asam, basa atau netral. Ikan sidat mampu hidup dalam perairan yang mempunyai derajat keasaman antara 4- 11. Konsentrasi derajat keasaman optimum untuk budidaya ikan sidat adalah pada tingkat 8-9. Nilai derajat keasaman (pH) diatas 9,5 sering menyebabkan penurunan nafsu makan.
b. Suhu Air
Ikan sidat mampu beradaptasi pada kisaran suhu 12-31 oC, ikan sidat mengalami peurunan nafsu makan pada suhu lebih rendah dari 12 oC dan suhu yang optimal berkisar 24-27 oC (Liviawaty dan Afrianto, 1998). Berbeda dengan pendapat Affandi dan Suhenda (2002), suhu air yang cocok untuk pemeliharaan ikan sidat adalah berkisar antara 29-30 oC.
c. Oksigen Terlarut
Affandi dan Suhenda (2002), menjelaskan bahwa konsentrasi oksigen terlarut dalam air yang optimal untuk pemeliharaan ikan sidat berada dalam kisaran 5-6 mg/l.
Pendapat ini diperkuat oleh pendapat Liviawaty dan Afrianto (1998), konsentrasi oksigen terlarut yang cocok dalam pemeliharaan ikan sidat sebaiknya >5 mg/l.
d. Salinitas
Ikan sidat merupakan ikan yang memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap salinitas. Salinitas yang bisa ditoleransi berkisar 0-35 ppt. Pada saat dewasa ikan sidat hidup pada perairan yang bersalinitas 35ppt dan pada saat elver hidup di perairan tawar yang bersalinitas 0 ppt (Liviawaty dan Afrianto, 1998). Berdasarkan hasil penelitian Affandi dan Suhenda (2002), dalam memacu pertumbuhan benih ikan sidat diperlukan air pemeliharaan yang bersalinitas 7 ppt.
e. Amoniak (NH3)
Zat beracun di dalam air yang berbahaya bagi kehidupan ikan sidat salah satunya adalah amoniak. Gas yang berbau sangat menusuk dapat berasal dari proses metabolisme atau dari proses pembusukan bahan organik yang dilakukan oleh bakteri. Batas konsentrasi kandungan amoniak yang dapat ditoleransi ikan sidat adalah antara < 0,1 mg/l (Affandi dan Suhenda, 2002).
f. Nitrit (NO2)
Nitrit terbentuk sebagai hasil penguraian dari amoniak oleh bakteri Nitosomonas.
Walaupun nitrit memiliki kadar racunnya rendah tetapi dapat juga membuat ikan stres bahkan mati. Kadar nitrit dikatakan aman bila di bawah 0,1 mg/l. Nitrit lebih besar dari 0,1 mg/l dapat diantisipasi dengan pergantian air sebanyak 25-50%.
Pada kandungan nitrit 4 mg/l, ikan sidat masih mampu untuk hidup, akan tetapi nafsu makannya sangat menurun. Nilai nitrit yang baik untuk pertumbuhan ikan sidat adalah di bawah 0.1 mg/l (Sarwono, 2006).
g. Alkalinitas
Alkalinitas adalah konsentrasi basa total yang terkandung dalam air dan dinyatakan mg/l. Secara alamiah bentuk basa utama di perairan adalah berupa ion karbonat (CO3) dan bikarbonat (HCO3). Tinggi rendahnya nilai alkalinitas dapat mempengaruhi pH air. Secara umum pada waktu pagi hari pH air akan lebih tinggi di perairan yang total alkalinitasnya sedang atau tinggi dari pada perairan yang rendah total alkalinitasnya. Nilai alkalinitas yang optimal untuk pertumbuhan ikan sidat adalah 50-80 mg/l (Affandi dan Suhenda, 2002).
Hama dan Penyakit
1. Hama
Menurut Liviawaty dan Afrianto (1998), Hama ikan sidat yaitu organisme yang berukuran besar yang mampu menimbulkan gangguan atau memakan ikan sidat.
Hama dapat berperan sebagai predator yang bersifat memangsa terutama pada larva. Ada juga hama yang sifatnya sebagai kompetitor yang bisa menimbulkan persaingan dalam mendapatkan oksigen, pakan dan ruang gerak.
2. Penyakit
Penyakit ikan sidat dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang secara langsung maupun tidak langsung menimbulkan gangguan suatu fungsi atau struktur dari alat tubuh atau sebagian alat tubuh ikan sidat. Pada prinsipnya penyakit yang menyerang ikan sidat tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses hubungan antara tiga faktor yaitu kondisi lingkungan (kualitas air), kondisi inang dan jasad pathogen (jasad penyakit), Timbulnya penyakit merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara lingkungan, ikan dan jasad/organisme penyakit. Penyakit ikan sidat dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu penyakit infektif dan non infektif.
Menurut Yuasa et al., (2003), penyakit non infeksi meliputi, penyakit lingkungan yaitu kualitas air dan penyakit nutrisi yaitu keracunan bahan pakan dan kekurangan nutrisi. Kualitas air yang optimal akan mempengaruhi pertumbuhan ikan.
Terciptanya kualitas air yang optimal bagi ikan, maka hal tersebut akan mendukung kondisi lingkungan ikan yang baik. Nutrisi juga mempengaruhi proses pertumbuhan ikan, karena dengan tercukupinya kandungan nutrisi, maka akan meningkat pula daya tahan tubuh. Penyakit merupakan salah satu kendala yang sering dihadapi dalam budidaya ikan sidat, baik pada tahap pendederan maupun pada tahap
pembesaran. Timbulnya penyakit tersebut akibat interaksi tidak seimbang antara ikan, pathogen dan lingkungan.
Teknik Pembesaran
Kegiatan penyediaan benih ikan sidat adalah kegiatan pemeliharaan benih sidat (glass eel) yang meliputi persiapan wadah budidaya, penebaran benih, pemberian pakan, perawatan wadah budidaya selama pemeliharaan dan pemanenan.
Wadah yang digunakan untuk kegiatan penyediaan benih sidat adalah bak fiber bundar kapasitas 1000 liter air dengan kuntruksi sebagai berikut ; tinggi bak 70-80 cm, diameter 1500 cm, bagian dasar bak berbentuk kerucut, dengan bagian tengah berlobang dengan diameter 2 inch, bagian dalam bak licin sedangkan bagian luarnya agak kasar. Pada bagian atas bak fiber dibentuk kanopi atau melengkung ke dalam kurang lebih 7 – 10 cm. Benih sidat yang digunakan berasal dari tangkapan di alam yang ditangkap di daerah Sungai amurang, sungai poigar dan sungai inobonto.
Wadah pembesaran sidat muda
Penebaran benih Tahap I memiliki masa pemeliharaan 30-45 hari dengan padat tebar 5000-10000 ekor/bak fiber. Ukuran benih 0,16 gr dengan pertumbuhan 0,3 gr dan sintasan hidup 90%. Penebaran benih tahap II memiliki masa pemeliharaan 45- 75 hari dengan padat tebar 3000-5000 ekor/bak fiber. Pakan berua pellet bentuk pasta (150-200 gr). Ukuran benih yang dicapai 1 gr/ekor. Pergantian air 2 kali sehari (100%). Pada penebaran ke III, padat tebar 3000 ekor. Pakan bentuk pasta yang diperkaya dengan vitamin dan diberikan secara adlibitum. Pemeliharaan selama 4
bulan (120 hari). Ukuran yang dicapai 5 gr/ekor. Pergantian air dilakukan setiap hari sebanyak 1 kali (100%) dan sintasan hidup benih 60%.
Kegiatan pemeliharaan benih sidat (glass eel) dalam bak fiber glass bundar kapasitas 1000 liter air dilakukan setiap siklus kegiatan berkisar antara 5 – 6 bulan, sehingga dalam satu tahun dapat dilaksanakan minimal 2 siklus kegiatan pembesaran. Ukuran benih sidat/elver yang dipanen rata-rata 5 gr/ekor. Harga pakan rata-rata Rp. 16.000/kg, harga jual benih sidat muda Rp.3000/ekor.
Pemberian pakan dilakukan secara adlibithum, yaitu ikan diberi makan hingga benar-benar kenyang. Artinya, jika elver masih mau makan, pemberian pakan tetap dilakukan. Pengontrolan kualitas air juga dilakukan untuk mencegah kemungkinan kualitas air pemeliharaan menjadi buruk.
Kegiatan pembesaran berlangsung selama lima bulan (Maret-Agustus 2012) dengan berat mencapai 5 gram/ekor. Pemanenan dilakukan menggunakan scopnet.
Jumlah elver yang dihasilkan sangat tergantung dari beberapa faktor, antara lain kualitas benih, teknik pemeliharaan, kuantitas dan kualitas pakan yang diberikan dan serangan hama dan penyakit. Pemanenan dilakukan dengan cara mengurangi volume air kolam pelan-pelan. Debit air pada pipa pengeluaran ditambah, sementara pada pipa pemasukan dikurangi.
Analisa Usaha
Usaha pembesaran sidat ini dilakukan pada bak fiber bundar kapasitas 1000 liter air. Analisa ini berdasarkan pemeliharaan dalam 1 tahun (2 siklus produksi).
Investasi pembesaran sidat muda ini meliputi pembuatan hatchery, pembelian bak fiber bundar, heater, Hiblow, Genset, dan pembelian peralatan perikanan.
No Uraian Volume Harga Satuan
(Rp) Total (Rp)
A BIAYA INVESTASI
1 Unit Hatchery (15 Tahun)
– Pembuatan Hatchery (25×15)m
1 Unit 100.000.000 100.000.000
– Bak Fiber bundar
10 buah 5.000.000 50.000.000
Jumlah Rp.150.000.000
2 Peralatan (5 Tahun)
– Genset 1500 watt 1 buah 6.000.000 6.000.000
– Hiblow 200 watt 1 buah 5.000.000 4.000.000
Jumlah Rp. 10.000.000
3 Sarana Pendukung (1 tahun)
– Heater 250 watt 40 buah
300.000 12.000.000
– Alat bantu perikanan 1 unit
2.000.000 2.000.000
Jumlah Rp. 14.000.000
B ANALISIS USAHA
1 Biaya Tetap
– Penyusutan Hatchery 2/180 x Rp. 150.000.000
1.660.000
– Penyusutan peralatan 2/60 x Rp. 10.000.000
330.000
– Penyusutan sarana pendukung 2/24 x Rp. 14.000.000
1.160.000
Jumlah Rp. 3.150.000
2 Biaya Variabel
– Benih 0,16 gr 50.000
200 10.000.000
– Pakan KRA 750 kg
20.000 15.000.000
– Cacing darah (Bloodwom) 150 kg
70.000 10.500.000
– Garam kristal 600 kg
2000 1.200.000
– Obat-obatan 1 paket
500.000 500.000
– Tenaga kerja x 10 bulan 2 orang
500.000 10.000.000
Jumlah 47.200.000 x 2 Siklus Produksi Rp. 94.400.000
Total Biaya = Biaya Tetap + Biaya Variabel = Rp. 97.550.000
3 Pendapatan
– SR 60%, Sidat muda 3-5gr/ekor = 0,6 x 3000 x 10 bakx 2 siklus
60.000
ekor 3000 180.000.000
Jumlah Rp. 180.000.000
C. ANALISIS BIAYA MANFAAT 1. Keuntungan
= Pendapatan – Total Biaya
= Rp. 180.000.000 – Rp. 97.550.000
= Rp. 82.450.000 per tahun (Rp. 6.870.000/bulan)
2. Analisa Cash Flow (Arus Tunai)
= Keuntungan + Penyusutan
= Rp. 82.450.000 + Rp. 3.150.000
= Rp. 85.600.000
3. Analisa B/C Ratio (Kelayakan Usaha)
= Pendapatan : Total Biaya
= Rp. 180.000.000 : Rp. 97.550.000
= 1,84
Artinya, usaha ini layak karena pendapatan yang diperoleh dari pembesaran sidat muda di bak fiber lebih dari 1,84 kali biaya total.
4. Analisa Break Event Point (BEP)
a. BEP Produksi = Total Biaya : Harga Satuan
= 97.550.000 : 3.000
= 32.516 ekor
Artinya, titik impas pembesaran sidat muda di bak fiber dicapai pada produksi 32.516 ekor.
b. BEP Harga Produksi = Total Biaya : Total Produksi
= 97.550.000 : 30.000
= 3,250
Artinya, titik impas pembesaran sidat muda di bak fiber dicapai pada harga produksi Rp. 3,250 per ekor.
5. Analisa Pay Back Period (Waktu Pengembalian Modal)
= Total Biaya : Keuntungan
= 97.550.000 : 82.450.000
= 1,18
Artinya, modal yang dikeluarkan untuk usaha pembesaran sidat muda di bak fiber ini akan kembali dalam waktu 1,18 kali periode pembesaran (2,3 tahun = 27 bulan)
6. Analisa Return Of Investment (Efisiensi Penggunaan Modal)
= Keuntungan : Total Biaya x 100%
= 82.450.000 : 97.550.000 x 100%
= 84,52 %
Artinya, keuntungan yang diperoleh dalam usaha pembesaran sidat muda di bak fiber mencapai 84,52 % dari total biaya yang dikeluarkan.