PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Identifikasi Masalah
Batasan Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
LANDASAN TEORETIS
Kerangka Teoretis
- Hakikat Bahasa
- Fungsi Bahasa
- Ragam Bahasa
- Pengertian Sosiolinguistik
- Masalah-Masalah Sosiolinguistik
- Alih Kode dan Campur Kode
Aslinda dan Syafyahya (2010:1) mengatakan hakikat bahasa adalah (a) substitusi, (b) individualitas, (c) kerjasama dan (d) sebagai alat komunikasi. Menurut Chaer dan Agustina (2004:62), ada dua pandangan mengenai variasi atau ragam bahasa. Oleh karena itu, variasi atau ragam bahasa muncul sebagai konsekuensi adanya keberagaman sosial dan keberagaman fungsi kebahasaan. Kedua, varian atau ragam bahasa sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam berbagai aktivitas masyarakat.
Pendapat Aslinda dan Syafyahya (2010:17) berpendapat bahwa varian atau varian suatu bahasa adalah wujud bagian-bagian atau varian suatu bahasa yang masing-masing mempunyai pola yang sama dengan pola umum bahasa induknya. Jadi dapat dipahami bahwa keanekaragaman bahasa adalah bentuk-bentuk bahasa atau varian bahasa yang timbul akibat adanya keanekaragaman fungsi kebahasaan dan fungsi sosial. Menurut Aslinda dan Syafyahya (2010:19), variasi bahasa menurut penggunaannya disebut variasi bahasa menurut fungsi/fungsinya, ragamnya atau.
Mengaitkan faktor kebahasaan, ciri-ciri dan ragam bahasa dengan situasi dan faktor sosial budaya. Akibatnya muncullah ragam bahasa Indonesia yaitu Minang-Minangan, Bahasa Indonesia hingga Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia hingga Mandailing-Mandailingan dan lain-lain.
Kerangka Konseptual
Pernyataan Penelitian
METODOLOGI PENELITIAN
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Sumber Data dan Data Penelitian
- Metode Penelitian
- Variabel Penelitan
- Instrumen Penelitian
- Teknik Analisis Data
2 Tidak terjadi campur kode dan alih kode karena hanya satu bahasa yang digunakan dalam percakapan ini. Pada percakapan no.7 tidak terjadi campur kode dan alih kode, karena dalam percakapan tersebut hanya menggunakan satu bahasa saja. Pada percakapan nomor 8 tidak terjadi campur kode dan alih kode, karena hanya satu bahasa yang digunakan dalam percakapan tersebut.
Tidak terjadi campur kode dan alih kode pada percakapan nomor 9 karena hanya satu bahasa yang digunakan dalam percakapan tersebut. Tidak terjadi campur kode dan alih kode pada percakapan nomor 21 karena hanya satu bahasa yang digunakan dalam percakapan tersebut. Pada percakapan nomor 31 tidak terjadi campur kode dan alih kode karena hanya satu bahasa yang digunakan dalam percakapan tersebut.
Pada percakapan #32 tidak terjadi campur kode dan alih kode karena hanya satu bahasa yang digunakan dalam percakapan tersebut. Pada percakapan no.37 tidak terjadi campur kode dan alih kode karena hanya satu bahasa yang digunakan dalam percakapan tersebut.
PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
DESKRIPSI DATA DANDATAPENELITIAN
A mempunyai 13 kode campuran dan 1 saklar kode, guru B mempunyai 13 kode campuran dan 3 saklar kode, dan guru C mempunyai 1 kode campuran dan 5 saklar kode. Guru B : Mungkin saya Bu, maaf saya banyak bicara sehingga tidak bisa digerakkan. mungkin itu saja haha, kita terlalu malas bertanya ke mana orang itu pindah?). Guru C: Halai pe di tarimo halai naso marsurat move nimmu da. orang itu diterima juga oleh orang itu tidak menggunakan surat pindahan.).
Guru A : Sekarang tidak bisa pindah kelas satu ke kelas enam, karena siswa harus mendaftar di DAPODIK segera setelah masuk bulan ini, karena dia sudah menjadi siswa. Dia tongkan bica kalas sada i son dope, kalas dua na morot sian on. dia akan naik ke kelas satu, dia di sini, dia pindah ke kelas dua dari sini.). Guru B : Olo inda tarpakaluakorn. mungkin dia pindah jadi dia mengurus dokumen untuk pindah kembali ke kelas satu, gurunya mungkin tidak, ini sekolah barunya.
Dihita ma kalas tolu boru nai. ya tidak dikeluarkan mungkin dia pindah ke yang lain jadi tidak mengurus surat-surat untuk pindah kembali ke kelas satu kata gurunya nanti bisa di sekolah baru katanya. Pada ma sikola sabotulna pala dan lakukan sude sikola di tanah Ison yang tidak di desa atau tidak di kota. Aku ma tong kadang, jadi nai boto halai urus surat pindahannya, lama kan? kadang begitu, jadi kamu tidak tahu orangnya mengurus surat pindahan ke sekolah lamanya?).
Surat pindahan nadong aku buat guru ning nia noni “baiklah kalau tidak mau urus surat pindahannya, kalau mau kembali ke kelas satu”, mungkin kepala sekolah ning yang pergi. karena menjadi guru peduli terhadap murid orang lain. Guru A : Olo enak banget jungada halai malapor tu nak, bia dope banget anak nai. ya, saya tidak tahu apakah orang itu pernah check-in di sini, semacam putranya.). Guru B: Olo nabisa i harana halai mesin otomatis. ya tidak bisa karena orang itu adalah mesin otomatis.).
Guru A: Itu hanya pemberitahuan, kamu bisa langsung berbicara dengan orang itu, tai anggo hita na manalepon na bisa. Sekadar pemberitahuan, bisa langsung ngomong ke orangnya, tapi kalau yang menelpon, kita tidak bisa.). Guru A : Iya nggak apa-apa, maksudnya seperti itu, mengurus surat pindahan juga tidak apa-apa kan? ya padahal, maksudku padahal kita sedang mengurus surat pindahan kita.). Jika Anda berurusan dengan kertas transfer. Secara otomatis akan terdaftar sebagai ma sude nai, tanggal masuk, transfer dan keluar. Jika Anda mengurus surat transfer, semua data pribadi akan otomatis tercatat, tanggal masuk, transfer, keluar.).
ANALISIS DATA
Berdasarkan data di atas dapat dianalisis bahwa terdapat campur kode pada data percakapan angka dimana BI bercampur menjadi B2 (Bahasa Mandailing bercampur ke dalam bahasa Indonesia), sedangkan tidak terjadi campur kode dan alih kode pada data percakapan angka. Jadi dapat disimpulkan bahwa campur kode hanya terjadi 6 kali dalam 10 percakapan. Tidak terjadi campur kode dan alih kode pada sisa percakapan. Sebab sisa percakapannya hanya menggunakan satu bahasa, yakni bahasa Mandailing. Pada percakapan no.14 tidak terjadi campur kode dan alih kode, karena dalam percakapan ini hanya digunakan satu bahasa.
Tidak terjadi campur kode dan alih kode pada percakapan #15 karena hanya satu bahasa yang digunakan dalam percakapan tersebut. Tidak terjadi campur kode dan alih kode pada percakapan #16 karena hanya satu bahasa yang digunakan dalam percakapan tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa campur kode hanya terjadi 6 kali dalam 10 percakapan, dan alih kode hanya terjadi satu kali dalam 10 percakapan.
Pada sisa percakapannya tidak terjadi campur kode maupun alih kode, karena sisa percakapan tersebut hanya menggunakan satu bahasa yaitu bahasa Mandailing. Pada percakapan no.28 tidak terjadi campur kode dan alih kode, karena dalam percakapan tersebut hanya menggunakan satu bahasa saja. Pada percakapan no.29 tidak terjadi campur kode dan alih kode, karena dalam percakapan tersebut hanya menggunakan satu bahasa saja.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa campur kode hanya terjadi 5 kali dalam 10 percakapan, dan alih kode hanya terjadi 1 kali dalam 10 percakapan. Pada percakapan no.33 tidak terjadi campur kode dan alih kode, karena dalam percakapan tersebut hanya menggunakan satu bahasa saja. Pada percakapan no.38 tidak terjadi campur kode dan alih kode, karena dalam percakapan tersebut hanya menggunakan satu bahasa saja.
Pada percakapan no.39 tidak terjadi campur kode dan peralihan kode, karena dalam percakapan ini hanya digunakan satu bahasa. Jadi dapat disimpulkan bahwa campur kode hanya terjadi 3 kali dalam 10 percakapan, dan alih kode hanya terjadi 1 kali dalam 10 percakapan. Pada percakapan no.42 tidak terjadi campur kode dan alih kode, karena dalam percakapan ini hanya digunakan satu bahasa.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa campur kode hanya terjadi 5 kali dalam 15 percakapan, dan alih kode terjadi 8 kali dalam 15 percakapan. Tidak terjadi campur kode atau alih kode pada sisa percakapan karena sisa percakapan hanya digunakan dalam satu bahasa yaitu bahasa Mandailing.
DISKUSI HASIL PENELITIAN
KETERBATASAN PENELITIAN
Pendekatan Metode Penelitian Pendidikan : Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian dan Pengembangan. Hasil Teks Percakapan Formal Guru 1. Guru A : Wonek, si Anjani adong dope goar nia i soni. oh nek, adakah nama lain disini Anjani?). Di ma ison obat bius ia marmayam. itu saja, seperti yang iwan lemparkan, sekolah pun tidak menyukainya. Guru C: Halai pe di tarimo halai naso marchurat bergerak nimmu da. orang itu juga diterima oleh orang itu yang tidak menggunakan surat pindahan.).
Dia tongkan bica kalas sada i son dope, kalas dua na morot sian on. dia akan menjadi nenek di kelas satu, dia di sini lagi, kelas dua memindahkannya dari sini.). Olo, saya tidak ada kontak, mungkin dia pindah, jadi saya sedang mempersiapkan surat-surat untuk kembali ke kelas satu. Mungkin bukan gurunya.
KESIMPULN DAN SARAN
KESIMPULAN
SARAN