• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Drama Balon (Bakal Calon) karya Suyadi San dengan Pendekatan Ekspresif

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Analisis Drama Balon (Bakal Calon) karya Suyadi San dengan Pendekatan Ekspresif"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Identifikasi Masalah

Batasan Masalah

Rumusan Masalah

Tujuan Masalah

Manfaat Penelitian

LANDASAN TEORETIS

Kerangka Teoretis

  • Analisis
  • Hakikat Pendekatan Ekspresif
  • Drama
  • Drama Balon (Bakal Calon) dan pengarangnya

Menurut Nyoman Kutha Ratna, pendekatan ekspresif memiliki beberapa kesamaan dengan pendekatan biografi dalam hal fungsi dan kedudukan karya sastra sebagai manifestasi subjek pencipta. Pada abad ke-18, pada masa Romantik, perhatian terhadap sastrawan sebagai pencipta karya sastra menjadi dominan. Menurut Junus (dalam Wahyudi Siswanto, 1985: 2), karya sastra tidak akan ada jika tidak ada yang menciptakannya.

Pendekatan ekspresif tidak hanya memperhatikan bagaimana karya sastra itu diciptakan, seperti telaah proses kreatif dalam kajian bigrafik, tetapi bentuk apa yang muncul dalam karya sastra yang dihasilkan. Pendekatan ekspresif berkembang pada abad ke-18 dengan munculnya sekolah romantisme yang dikembangkan oleh Jean Jacques Rousseau. Aliran di Prancis ini mendominasi kajian karya sastra hingga tahun 1950-an, meskipun strukturalisme di Eropa telah berkembang sejak awal abad ke-20. Roussea berpendapat bahwa seseorang itu otonom dan hanya tunduk pada bangsanya sendiri. Sikap kemandirian dan individualitas masyarakat yang menonjol serta pemikiran Rousseau menjadi dasar estetika sastra di barat. Melalui aliran romantisme, konsep individualitas, orisinalitas, kreativitas, dan kejeniusan berkembang dalam penelitian sastra. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan dan pandangan pengarang dalam karya sastra.

Hubungan antara niat pengarang dan isi semantik lakon berfungsi untuk mengkonkretkan dunia abstrak lakon tersebut. Pengkajian karya sastra merupakan cerminan utuh kehidupan pengarang, sehingga otonomi drama sebagai sesuatu yang mandiri dari pengarang tidak lagi ada, atau setidaknya dibatasi. Meskipun hubungan antara karya dramatik dan pengarang hanya tampak dalam karya sastra, namun tidak mutlak penggambaran kehidupan fisik dan psikis pengarang tidak bersifat mutlak.

Karena kesamaan penggunaan bahasa untuk semua tokoh akan melemahkan unsur penokohan dalam drama yang membutuhkan penokohan yang berbeda satu sama lain. Makna drama yang selama ini dikenal, misalnya mengatakan bahwa drama adalah cerita atau tiruan dari tingkah laku manusia yang dipentaskan tidaklah salah. Meskipun lakon ditulis dengan maksud untuk dipentaskan, bukan berarti semua bagian yang ditulis oleh pengarang harus dipentaskan.

Definisi drama yang selama ini dikenal yang hanya menitikberatkan pada dimensi seni pertunjukan atau seni pertunjukan ternyata membuat drama menjadi cerita yang buruk, khususnya bagi masyarakat Indonesia. Drama ini mengikuti struktur plot yang teratur yang akan membantu penonton menikmati drama yang dimainkan. Dengan kata lain, suatu babak adalah bagian dari naskah dramatik yang merangkum suatu peristiwa yang terjadi di suatu tempat dalam urutan waktu tertentu.

Dialog merupakan bagian dari naskah drama berupa percakapan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya. Drama Balon (Kandidat Penerus) adalah sebuah drama karya Suyadi San, S.Pd., M.Si yang diterbitkan pada bulan November 2007.

Kerangka Konseptual

Pernyataan Penelitian

METODE PENELITIAN

  • Lokasi dan Waktu Penelitian
  • Sumber Data
  • Metode Penelitian
  • Variabel Penelitian
  • Instrumen Penelitian
  • Teknik Analisis Data

Data penelitian ini adalah keseluruhan isi drama Balon (Calon Calon) karya Suyadi San dengan gambaran perasaan dan pemikiran dari pemain drama Balon (Calon). Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah analisis drama Balon (Calon Calon) karya Suyadi San. Studi dokumentasi dan literatur dilakukan sebagai kajian untuk membuktikan pendekatan ekspresif pengarang terhadap drama Balon karya Suyadi San dengan terlebih dahulu membacanya.

Bacalah berulang-ulang hingga benar-benar memahami materi yang ingin diteliti oleh peneliti yaitu drama Balon karya Suyadi San. Peneliti menyampaikan hasil analisis berdasarkan pendekatan ekspresif penulis yang memuat drama Balon karya Suyadi San yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan langkah-langkah kerja penelitian. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, terlebih dahulu peneliti membaca secara detail drama Balon karya Suyadi San.

Perubahan ekspresi dalam drama Balon karya Suyadi San ditinjau dari pendekatan ekspresif yang terdapat dalam naskah drama. Selanjutnya peneliti akan mendeskripsikan tema dalam drama Balon karya Suyadi San. Dari lakon Suyadi Sani Balon (Kandidat Kemungkinan) tergambar bahwa Haxhi Anu (sang suami) selalu bahagia dan memiliki sikap ceria terhadap semua yang telah terjadi.

Dari drama Balon karya Suyadi San tergambar bahwa pikiran Haji Anu (suami) selalu tidak sadar akibat sifat Haji Anu yang terlalu sombong. Permasalahan ekspresi penulis dalam drama Balon karya Suyadi San terkait dengan perasaan senang, marah, bangga, haru, cemas dan sombong. Perasaan yang dialami Haji Anu saat hendak mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumut.

Sadar Haji Anu tak terdaftar sebagai pemilih dan calon gubernur Sumut. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai aspek-aspek lain dari drama Balon (Calon Calon) Suyadi San untuk digunakan sebagai sumbangsih pemikiran bagi mahasiswa khususnya dalam bidang sastra. Selain itu, peneliti berharap penelitian ini dapat menjadi inspirasi awal bagi peneliti selanjutnya yang meneliti drama Balon (Calon Calon) karya Suyadi San.

PEMBAHASAN PENELITIAN

Deskripsi Hasil Penelitian

Drama ini menceritakan tentang seorang Haji Anu yang sangat ingin mencalonkan diri sebagai calon (balon) Gubernur Sumatera Utara. Banyak yang bisa dipetik dari drama ini, sikap optimis yang ingin mencalonkan diri sebagai gubernur dan sikap gembira karena menerima kegagalan menjadi calon (balon) dan hanya menjadi penjual balon.

Analisis Data

  • Perasaan
  • Pikiran

Hal: 3) - Suami dan Ani berasa gembira kerana membuat pasangan mereka cemburu, tetapi Wak juga berasa gembira. Baru bertukar jadi belon, belum jadi calon dan berangan-angan nak kahwin main perempuan, nak jadi gundik. Selagi anda tidak menyebut nama anjing itu di telefon (menggulung lengannya), nama bapanya, alamat rumahnya, anda tidak akan keluar dari rumah ini.

LELAKI: (Sambil bangun dan berjalan sambil tersenyum) kenapa nak cemburu sangat, makan kenyang, baju cantik, kereta, rumah besar, tak kurang rupenya. Jika anda benar-benar ingin mencari barang, cubalah madu. menekan suaranya dengan lebih kuat dan menepuk dada) Hei, ini darah Deli, keturunan Tuk Jebat, lanun lima beradik Selat Melaka...”. Artikel: 3) - Wanita itu marah lagi kerana diganggu oleh Wak dan Ani yang lebih menyebelahi lelaki itu.

Wak mengucapkan selamat tinggal untuk pergi ke bank, tetapi Haxhi Anu tidak faham bank apa yang dibuka pada waktu malam.

Jawaban Pernyataan Peneliti

Namun pada akhirnya ia menyadari bahwa dirinya belum mendaftarkan dirinya sebagai pemilih dan calon gubernur Sumut. Dari peristiwa-peristiwa dalam lakon tersebut, dapat diartikan bahwa pengarang lakon tersebut memiliki perasaan dan pemikiran yang saya tulis di atas.

Diskusi Hasil Penelitian

Keterbatasan Penelitian

Pada suatu ketika ia sedang bertelepon dengan seorang wanita yang membuat istrinya cemburu membabi buta sehingga terjadilah pertengkaran antara keduanya namun Haji tidak benar-benar marah pada istrinya tetapi ia sangat senang membuatnya cemburu. Pemikiran yang dialami Haji Anu tampak disadari dan tidak disadari saat Amir menjelaskan sesuatu kepada ayahnya tentang pemilihan gubernur. Haji Anu tidak tahu bank mana yang buka pada malam hari, namun ternyata bank yang dimaksud Wak adalah kamar mandi untuk buang air besar.

Dalam keadaan apapun, Haji Anu tetap merasa bahagia meski bukan mencalonkan diri sebagai gubernur melainkan hanya balon (calon). Memperdalam pengetahuan kedua pembaca dalam bidang karya sastra sehingga pembaca dapat memahami dan mengungkapkan karya sastra untuk mengambil manfaat dari nilai-nilai yang dikandung oleh karya sastra tersebut. Peningkatan kualitas pengajaran sastra, khususnya apresiasi sastra, merupakan saat yang tepat untuk mempelajari sastra agar kita dapat terus menggali kekayaan yang terkandung dalam karya sastra.

Bagi guru khususnya guru sastra hendaknya mampu menjadikan karya sastra sebagai sumber pengajaran, baik di tingkat dasar maupun menengah, terutama karya sastra yang berkaitan dengan pendekatan ekspresif, sehingga pengajaran bahasa dan sastra Indonesia dapat berkembang. dengan baik. Bagi para pembaca, penulis berharap penelitian ini dapat meningkatkan apresiasi pembaca terhadap karya sastra, karena penelitian yang dilakukan dengan menggunakan objek sastra, beberapa penelitian seringkali dapat bermanfaat bagi pembaca.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

Referensi

Dokumen terkait

Simpulan Sehubungan dengan hasil penelitian tersebut, adapun kesimpulan dalam penelitian ini yaitu: Klausa verbal adalah tataran satuan sintaksis yang terdiri dua kata atau lebih yang