• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis efektivitas dan kontribusi penerimaan pajak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "analisis efektivitas dan kontribusi penerimaan pajak"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS EFEKTIVITAS DAN KONTRIBUSI PENERIMAAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH JAWA

TIMUR DI UNIT PELAKSANA TEKNIS PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH GRESIK

Nurul Khoiriyah

Ayu Fury Puspita, SE., MSA., Ak., CA.

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono 165, Malang 65145, Indonesia

Email: [email protected]

ABSTRAK

Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) merupakan salah satu pajak provinsi yang memberikan kontribusi yang besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) terutama di Gresik. Penelitian ini memiliki dua tujuan utama: (i) untuk mengetahui efektivitas atas penerimaan PKB pada tahun 2017, 2018, dan 2019; dan (ii) untuk mengetahui kontribusi yang diberikan oleh PKB terhadap PAD Jawa Timur pada tahun 2017, 2018, dan 2019. Penelitian ini dilakukan di UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik dengan data penerimaan PKB periode tahun 2017, 2018, dan 2019. Penelitian ini menggunakan analisis rasio efektivitas pajak daerah dan analisis kontribusi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, peneliti menyimpulkan bahwa efektivitas atas penerimaan PKB sudah sangat efektif karena melebihi 100% yaitu sebesar 114,51% pada tahun 2017, 125,64% pada tahun 2018, dan 108,04% pada tahun 2019. Selain itu, peneliti menyimpulkan bahwa kontribusi yang diberikan oleh PKB terhadap PAD sudah sangat bagus karena melebihi 50% yaitu 59,62% pada tahun 2017, 59,17% pada tahun 2018, dan 59,40% pada tahun 2019.

Kata Kunci: Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor, Pendapatan Asli Daerah, Efektivitas, Kontribusi.

ABSTRACT

One of the provincial taxes, motor vehicle tax significantly contributes to the regional original revenue, including that of Gresik. This study has two main objectives: (i) to find out the effectiveness of motor vehicle tax revenue in 2017, 2018, and 2019; and (ii) to find out the contribution of motor vehicle tax to the regional original revenue of East Java in 2017, 2018, and 2019. This study examines the data of the motor vehicle tax revenues in 2017, 2018 and 2019 in the Technical Executing Unit of Local Revenue Management Office of Gresik. The ratio analysis of the effectiveness of local taxes from that of motor vehicle reveals a great effectiveness as the revenue exceeds 100%, recording 114.51%, 125.64%, and 108.04% in 2017, 2018, and 2019 respectively. The contribution analysis results in great contribution of motor vehicle tax to the regional original revenue as it exceeds 50%, recording 59.62%, 59.17%, and 59.40% in 2017, 2018, and 2019 respectively.

Keywords: Motor Vehicle Tax Revenue, Regional Original Revenue, Effectiveness, Contribution.

(2)

PENDAHULUAN

Salah satu hal yang menunjukkan suatu daerah otonom mampu berotonomi terletak pada kemampuan keuangan daerahnya sehingga harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan sendiri, sedangkan ketergantungan pada bantuan pemerintah pusat harus seminimal mungkin. Konsekuensi dari penerapan otonomi daerah yaitu setiap daerah dituntut untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pemerintahan dan pembangunan di daerahnya masing- masing. Peningkatan ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik sehingga dapat menciptakan tata pemerintahan yang lebih baik (good governance). Upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah dapat dilakukan dengan cara terus berusaha mencari dan menggali sumber-sumber baru, pendapatan baru, dan terus meningkatkan efektivitas dan kontribusi suatu sumber daya.

Seperti yang tertera dalam Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dikatakan bahwa sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) terdiri dari hasil retribusi daerah, hasil pajak daerah, hasil dari perusahaan daerah, penerimaan dari dinas-dinas, hasil pengelolaan kekayaan daerah, dana perimbangan dan hasil lain-lain yang sah.

Semakin tinggi kewenangan keuangan yang dimiliki daerah, maka semakin tinggi peranan Pendapatan Asli Daerah dalam struktur keuangan daerah, begitu pula sebaliknya. Dari berbagai sumber Pendapatan Asli Daerah, sektor pajak merupakan penyumbang terbesar. Jumlah penerimaan komponen pajak daerah sangat dipengaruhi oleh banyaknya jenis pajak daerah yang diterapkan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Oleh karena itu, daerah berlomba-lomba untuk meningkatkan sumber pendapatannya dengan mengenakan berbagai pajak yang memang menjadi kewenangannya.

Pemerintah daerah diberi kewenangan untuk memungut 16 jenis pajak, yaitu 5 jenis pajak provinsi dan 11 jenis pajak kabupaten/kota, diantaranya pajak yang dipungut oleh provinsi yaitu Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Pajak Air Permukaan, dan Pajak Rokok. Dari kelima pajak yang dipungut oleh provinsi tersebut, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) merupakan salah satu pajak yang memiliki potensi yang paling besar dalam memberikan kontribusi pada Pendapatan Asli Daerah yang dipungut oleh pemerintah provinsi. Akan tetapi tidak semua hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor menjadi hak oleh pemerintah provinsi, sebagian merupakan hak dari pemerintah kotamadya/kabupaten dengan pembagian 30% untuk kotamadya/kabupaten dan 70%

untuk provinsi (Undang-Undang Republik Indonesia No. 34 Tahun 2000).

Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) sebagaimana yang didefinisikan dalam Pasal 1 angka 12 dan 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 adalah pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. Pajak ini merupakan jenis pajak yang dipungut oleh provinsi namun setiap kabupaten diberikan kewenangan untuk memungut Pajak Kendaraan Bermotor sendiri yang bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam membayar Pajak Kendaraan Bermotor di setiap kabupaten yang ada di provinsi Jawa Timur. Begitu pula halnya di kabupaten Gresik yang merupakan salah satu kabupaten di provinsi Jawa Timur yang diberi kewenangan untuk memungut Pajak Kendaraan Bermotor sendiri. Oleh karena itu dalam pelaksanaan pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor, pemerintah provinsi dibantu oleh beberapa kantor cabang wilayah yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Timur, salah satunya adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik.

(3)

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik adalah unsur pelaksana teknis operasional dinas daerah di lapangan, dengan dipimpin oleh seorang Kepala yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Timur. UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Badan Pendapatan Daerah di bidang teknis operasional pemungutan pendapatan daerah, ketatausahaan serta pelayanan masyarakat. Dalam hal penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor, di UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik termasuk dalam 10 besar pendapatan daerah Jawa Timur.

Pernyataan tersebut disampaikan kepada penulis oleh salah satu staf analis perencanaan di UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik, Alfian Rendra Palefi. Beliau menjelaskan, dalam 3 (tiga) tahun terakhir yakni tahun 2017, 2018, dan 2019 total penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dari kabupaten Gresik sendiri telah melebihi 200 miliar rupiah. Fenomena ini menempatkan kabupaten Gresik masuk menjadi 10 besar daerah yang memberikan kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terbanyak di provinsi Jawa Timur.

Selain itu beliau juga menyampaikan kepada penulis bahwa penggunaan kendaraan bermotor dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, tak terkecuali di kabupaten Gresik. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya dealer kendaraan bermotor dari berbagai perusahaan. Dengan semakin banyaknya merk dan jenis kendaraan bermotor, maka produsen kendaraan bermotor saling bersaing dengan mengeluarkan berbagai kebijakan yang mempermudah dan menarik minat masyarakat untuk membeli kendaraan bermotor seperti banyak dealer yang memberikan kemudahan kredit dan pemberian diskon yang menguntungkan bagi konsumen. Dengan munculnya berbagai kebijakan terebut, maka semakin banyak masyarakat yang membeli kendaraan bermotor dan bertambahnya

jumlah pemakai kendaraan bermotor akan menjadi keuntungan bagi pemerintah daerah dalam penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor. Fenomena ini mendorong UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik untuk mencapai target penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor yang ditetapkan.

Berdasarkan pada fenomena- fenomena tersebut, maka penulis tertarik ingin mengetahui efektivitas dan kontribusi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik. Saya sebagai penulis melihat hal ini sangatlah penting untuk diteliti karena berkaitan dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah di Jawa Timur yang pada akhirnya dapat menunjang otonomi daerah. Penelitian ini memfokuskan untuk menganalisis target Pajak Kendaraan Bermotor pada tahun 2017, 2018, dan 2019 serta realisasi Pajak Kendaraan Bermotor Jawa Timur pada tahun 2017, 2018, dan 2019. Oleh karena itu penulis melakukan penelitian dengan judul “Analisis Efektivitas dan Kontribusi Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Pendapatan Asli Daerah Jawa Timur di Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik”.

TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk mengetahui efektivitas atas penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik pada tahun 2017, 2018, dan 2019.

2. Untuk mengetahui kontribusi yang diberikan oleh Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah Jawa Timur di UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik pada tahun 2017, 2018, dan 2019.

LANDASAN TEORI Pajak

Definisi perpajakan berbeda-beda berdasarkan pandangan masing-masing orang, namun pada prinsipnya mempunyai inti atau tujuan yang sama. Menurut Mangkoesoebroto (dikutip oleh Utami, 2014), pajak adalah suatu pungutan yang merupakan hak preogratif pemerintah,

(4)

pungutan tersebut didasarkan pada undang- undang, pemungutannya dapat dipaksakan kepada subyek pajak untuk mana tidak ada balas jasa yang langsung dapat ditunjukkan penggunaannya. Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang berhak memungut pajak adalah negara (pemerintah). Pajak dipungut berdasarkan undang-undang dan aturan pelaksanaannya yang dapat dipaksakan kepada subyek pajak. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual dari pemerintah.

Senada dengan itu Resmi (2018, hal. 2) dalam bukunya mengatakan pajak dipungut oleh negara baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya, dimana diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang bila dari pemasukannya masih terdapat surplus, dipergunakan untuk membiayai publict investment.

Sedangkan menurut ahli ekonomi N.J Fieldmann (dikutip oleh Utami, 2014) dalam bukunya yang berjudul De overheidsmiddelen van Indonesia (1949) memberikan batasan bahwa pajak adalah prestasi yang dipaksakan sepihak dan terutang kepada penguasa (menurut norma- norma yang ditetapkannya secara umum), tanpa adanya kontra-prestasi, dan semata- mata digunakan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran umum.

Selain itu definisi pajak menurut UU Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang- undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pendapatan Asli Daerah

Menurut Warsito (dikutip oleh Utami, 2014) Pendapatan Asli Daerah adalah pendapatan yang bersumber dan dipungut sendiri oleh pemerintah daerah. Sedangkan

menurut Herlina Rahman (dikutip oleh Utami, 2014) Pendapatan Asli Daerah merupakan pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah, hasil distribusi hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah dalam menggali pendanaan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas desentralisasi.

Dari berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan suatu pendapatan yang menunjukkan kemampuan suatu daerah dalam menghimpun sumber-sumber dana untuk membiayai pengeluaran rutin. Dapat dikatakan pula bahwa Pendapatan Asli Daerah sebagai pendapatan rutin dari usaha-usaha pemerintah daerah dalam memanfaatkan potensi-potensi sumber keuangan daerahnya sehingga dapat mendukung pembiayaan penyelenggaraan dan pembangunan daerah. Dalam upaya memperbesar peran pemerintah daerah dalam pembangunan, pemerintah daerah dituntut untuk lebih mandiri dalam membiayai kegiatan operasional rumah tangganya. Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa pendapatan daerah tidak dapat dipisahkan dengan belanja daerah, karena adanya keterkaitan dan merupakan satu alokasi anggaran yang disusun dan dibuat untuk melancarkan roda pemerintahan daerah.

Pajak Daerah

Jika membahas tentang pajak daerah erat kaitannya dengan Pendapatan Asli Daerah dimana pajak dan retribusi daerah memang merupakan sumber PAD yang memberikan kontribusi paling besar dalam proses pembangunan dan pembiayaan rumah tangga suatu daerah. Pengertian pajak daerah menurut UU Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menjelaskan bahwa Pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang,

(5)

yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah. Secara administratif pajak daerah digolongkan menjadi dua yaitu pajak provinsi dan pajak kota/kabupaten.

Pajak Kendaraan Bermotor

Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan beroda dua atau lebih beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang bergerak. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) adalah pajak yang dipungut atas pemilikan dan atau penguasaan kendaraan bermotor.

Objek dan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor

Objek Pajak Kendaraan Bermotor adalah kepemilikan atau penguasaa kendaraan bermotor yang digunakan di semua jenis jalan darat. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang memiliki kendaraan bermotor, jika wajib pajak merupakan badan maka kewajiban perpajakannya diwakili oleh pengurus atau kuasa hukum badan tersebut. Dengan demikian, pada PKB subjek pajak sama dengan wajib pajak, yaitu orang pribadi atau badan yang memiliki atau menguasai kendaraan bermotor.

Objek dan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor

Besarnya pokok PKB yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak. Dasar pengenaan pajak dihitung dengan cara mengalikan NJKB dengan bobot. Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) diperoleh berdasarkan harga pasaran umum.

Sedangkan bobot mencerminkan secara relatif kadar kerusakan jalan dan

pencemaran lingkungan akibat penggunaan kendaraan bermotor.

Tarif Pajak Kendaraan Bermotor berlaku sama pada setiap provinsi yang memungut PKB. Tarif PKB ditetapkan dengan peraturan daerah provinsi. Sesuai peraturan pemerintah Nomor 65 tahun 2001 Pasal 5 tarif PKB dibagi menjadi 3 kelompok sesuai dengan jenis penguasaan kendaraan bermotor, yaitu:

a. 1,5% untuk kendaraan bermotor bukan umum.

b. 1% untuk kendaraan bermotor umum.

Yaitu kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran.

c. 0,5% untuk kendaraan bermotor alat- alat berat dan alat-alat besar.

Efektivitas

Menurut Mardiasmo (dikutip oleh Astanto, 2006) efektivitas adalah tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan. Selain itu efektivitas dalam pemerintah daerah dapat diartikan kegiatan tepat pada waktunya dan di dalam batas anggaran/target yang tersedia, dapat berarti juga mencapai suatu tujuan dan sasaran seperti apa yang telah direncanakan. Namun demikian, menurut Halim (dikutip oleh Astanto, 2006) walaupun ada yang dilaksanakan menyimpang dari rencana semula, tetapi mempunyai dampak yang menguntungkan pada kelompok penerima sasaran manfaat, maka dapat dikatakan efektif.

Secara sederhana efektivitas merupakan perbandingan outcome dengan output. Pengukuran efektivitas bertujuan untuk mengetahui keberhasilan suatu organisasi mencapai tujuannya. Apabila suatu organisasi berhasil mencapai tujuan, maka organisasi tersebut dapat dikatakan efektif. Apabila konsep efektivitas dikaitkan dengan penerimaan PKB maka efektivitas yang dimaksud adalah seberapa besar realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor mencapai target yang seharusnya dicapai pada suatu periode tertentu.

(6)

Efektivitas

Menurut Mahmudi (dikutip oleh Fitriya & Suparno, 2019) kontribusi adalah sesuatu yang bersama-sama dengan pihak lain untuk tujuan biaya atau kerugian tertentu atau bersama. Apabila konsep kontribusi dikaitkan dengan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor maka kontribusi yang dimaksud dapat diartikan sebagai sumbangan yang diberikan oleh pendapatan pajak atas kendaraan bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah. Jika potensi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor semakin besar dan pemerintah daerah dapat mengoptimalkan sumber penerimaannya, maka akan memberikan peluang kepada peningkatan Pendapatan Asli Daerah.

Studi Terdahulu

Studi terdahulu yang membahas tentang efektivitas Pajak Kendaraan Bermotor menggunakan analisis rasio efektivitas pajak daerah. Dengan menggunakan analisis rasio efektivitas pajak daerah, penelitian yang dilakukan oleh Astanto (2006) menyimpulkan bahwa efektivitas penerimaannya sangat efektif. Penelitian yang dilakukan oleh Fristylia (n.d.), menunjukkan bahwa efektivitas atas penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di UPT Dinas Pendapatan Provinsi Jawa Timur Malang Utara dan Batu Kota sudah sangat efektif karena melebihi 100% yaitu 102,83% pada tahun 2014 dan 102,95%

pada tahun 2015. Hal ini juga dikemukakan oleh Akbari dan Ekasari (2017) yang melakukan penelitian di tempat yang sama, menyimpulkan bahwa tingkat efektivitas penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor pada tahun 2016 sudah sangat efektif karena melebihi 100% yaitu sebesar 108,18%.

Studi terdahulu yang membahas tentang kontribusi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor menggunakan analisis kontribusi.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Rosalina (2008), peneliti ingin mengetahui seberapa besar kontribusi yang diberikan oleh Pajak Kendaraan Bermotor dan Pajak

Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah dengan analisis kontribusi yang membandingkan realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor serta Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dengan realisasi Pendapatan Asli Daerah.

METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian

Penelitian ini didesain menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Menurut Sekaran (dikutip oleh Fitriya & Suparno, 2019) penelitian deskriptif kuantitatif merupakan penelitian empiris dimana data adalah dalam bentuk sesuatu yang dapat dihitung atau angka. Dengan kata lain penelitian deskriptif kuantitatif memerhatikan pada pengumpulan dan analisis data dalam bentuk numerik.

Penelitian ini hanya terbatas pada presentase yang didapat dari data kuantitatif yang berkaitan dengan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor.

Selanjutnya dari hasil perhitungan presentase tersebut, penulis menggunakan pemikiran logis untuk menggambarkan dan menjelaskan tentang keadaan yang sebenarnya. Kemudian ditarik suatu kesimpulan sehingga dapat diperoleh suatu penyelesaian atas permasalahan yang penulis teliti.

Subjek dan Objek Penelitian

Pada penelitian ini, subjek penelitian adalah Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik. Sedangkan objek penelitian ini adalah Pendapatan Asli Daerah periode 2017 sampai dengan 2019, data target penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor periode 2017 sampai dengan 2019, data realisasi Pajak Kendaraan Bermotor periode 2017 sampai dengan 2019.

Jenis dan Sumber Data

Pada penelitian ini, jenis data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder ini diperoleh melalui media perantara, dalam hal ini bersumber dari

(7)

UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik, diantaranya sebagai berikut:

1. Gambaran umum Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik.

2. Pendapatan Asli Daerah periode tahun 2017 sampai dengan 2019.

3. Data target penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor periode 2017 sampai dengan 2019.

4. Data realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor periode 2017 sampai dengan 2019.

Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dan wawancara. Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan data dari laporan-laporan terseleksi yang relevan dan akurat dengan topik yang akan diteliti. Teknik ini digunakan untuk memperoleh Pendapatan Asli Daerah periode tahun 2017 sampai dengan 2019, data target penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor periode tahun 2017 sampai dengan 2019, dan data realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor periode tahun 2017 sampai dengan 2019.

Sedangkan wawancara yaitu teknik pengumpulan data untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan tujuan penelitian dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung kepada subjek penelitian. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data mengenai gambaran umum Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik.

Metode Analisis Data

Analisis Rasio Efektivitas Pajak Daerah Metode yang digunakan untuk mengukur efektivitas atas penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor menurut Machfud Sidik (dikutip oleh Astanto, 2006) adalah Charge Performance Index (CPI), bila diformulasikan dengan rumus adalah sebagai berikut:

Efektivitas PKB = Realisasi PKB x 100%

Target PKB

Kriteria penilaian tingkat efektivitas penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor didasarkan pada Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 690.900-327 tahun 1994 tentang Kriteria Penilaian Kinerja dan Keuangan Daerah yaitu sebagai berikut (Astanto, 2006):

1. Tingkat pencapaian diatas 100% berarti sangat efektif.

2. Tingkat pencapaian antara 90%-100%

berarti efektif.

3. Tingkat pencapaian antara 80%-90%

berarti cukup efektif.

4. Tingkat pencapaian antara 60%-80%

berarti kurang efektif.

5. Tingkat pencapaian di bawah 60%

berarti tidak efektif.

Analisis Kontribusi

Menurut Suprapto (dikutip oleh Utami, 2014) analisis kontribusi merupakan suatu analisis yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi yang diberikan dari penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah, maka dibandingkan antara realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dengan penerimaan Pendapatan Asli Daerah pada tahun tersebut. Semakin besar nilai kontribusinya menunjukkan semakin besar peranan Pajak Kendaraan Bermotor dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah.

Adapun alat analisis yang digunakan untuk mengetahui kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor diformulasikan sebagai berikut:

Kontribusi PKB = Realisasi PKB x 100%

Target PAD

Kriteria penilaian kinerja rasio kontribusi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah didasarkan pada Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 690.900-327 tahun 1994 tentang Kriteria Penilaian Kinerja dan Keuangan Daerah yaitu sebagai berikut (Astanto, 2006):

1. Klasifikasi rasio kontribusi 0,00%-10%

berarti sangat kurang.

(8)

2. Klasifikasi rasio kontribusi 10,10%-20%

berarti kurang.

3. Klasifikasi rasio kontribusi 20,10%-30%

berarti sedang.

4. Klasifikasi rasio kontribusi 30,10%-40%

berarti cukup baik.

5. Klasifikasi rasio kontribusi 40,10%-50%

berarti baik.

6. Klasifikasi rasio kontribusi diatas 50%

berarti sangat baik.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik adalah unsur pelaksana teknis operasional dinas daerah di lapangan, dengan dipimpin oleh seorang Kepala yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan Pendapatan Daerah Jawa Timur.

UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Badan Pendapatan Daerah Jawa Timur di bidang teknis operasional pemungutan pendapatan daerah, ketatausahaan serta pelayanan masyarakat.

Sesuai dengan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 47 Tahun 2018 tentang Nomenklatur, Susunan Organisasi, Uraian Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Badan Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Timur, Badan Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Timur memiliki 35 (tiga puluh lima) Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Timur di seluruh Jawa Timur, salah satunya UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik.

Dalam hal penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor, di Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik termasuk dalam 10 besar pendapatan daerah Jawa Timur. Dalam 3 (tiga) tahun terakhir yakni tahun 2017, 2018, dan 2019 total penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dari kabupaten Gresik sendiri telah melebihi 200 miliar rupiah.

Fenomena ini menempatkan kabupaten Gresik masuk menjadi 10 besar daerah

yang memberikan kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terbanyak di provinsi Jawa Timur.

Hasil Penelitian

Analisis Rasio Efektivitas Pajak Daerah Dari hasil olah data menggunakan program Microsoft excel, hasil presentase tingkat efektivitas penerimaan PKB secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1

Tabel Analisis Efektivitas Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor tahun 2017,

2018, dan 2019

Th. Realisasi PKB

(Rp) Target PKB

(Rp) (%)

2017 227.964.103.434 199.081.300.000 114,51 2018 252.694.126.785 201.126.161.000 125,64 2019 268.472.968.225 248.500.000.000 108,04

Sumber: Data diolah, 2020 Analisis Kontribusi

Dari hasil olah data menggunakan program Microsoft excel, hasil presentase rasio kontribusi PKB terhadap PAD secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2

Tabel Analisis Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan

Asli Daerah tahun 2017, 2018, dan 2019

Th. Realisasi PKB (Rp)

Realisasi PAD (Rp)

(%)

2017 227.964.103.434 382.343.900.476 59,62 2018 252.694.126.785 427.048.197.529 59,17 2019 268.472.968.225 451.980.578.830 59,40

Sumber: Data diolah, 2020 Pembahasan

Efektivitas atas Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik pada Tahun 2017, 2018, dan 2019

Dari data yang terdapat pada tabel 4.1, terlihat bahwa pada tahun 2017 dengan

(9)

target penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor yang ditetapkan sebesar Rp 199.081.300.000, Pajak Kendaraan Bermotor yang terealisasi sebesar Rp 227.964.103.434 telah mencapai tingkat efektivitas sebesar 114,51%. Pada tahun 2018 dengan target penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor yang ditetapkan sebesar Rp 201.126.161.000, Pajak Kendaraan Bermotor yang terealisasi sebesar Rp 252.694.126.785 telah mencapai tingkat efektivitas sebesar 125,64%. Pada tahun 2019 dengan target penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor yang ditetapkan sebesar Rp 248.500.000.000, Pajak Kendaraan Bermotor yang terealisasi sebesar Rp 268.472.968.225 telah mencapai tingkat efektivitas sebesar 108,04%.

Dari penjabaran data di atas, dapat dilihat bahwa realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor telah melampaui target penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor yang telah ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Daerah Gresik telah berhasil dalam menjalankan fungsi dan tugasnya.

Beberapa fungsi dan tugas yang terkait dengan terlampauinya realisasi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor terhadap target penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor yakni Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik telah dengan sangat baik menjalankan pelaksanaan pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), melaksanakan pengelolaan penyusunan program, anggaran dan perundang-undangan yang berlaku mengenai Pajak Kendaraan Bermotor, serta menyiapkan bahan pelaksanaan pendataan dan penetapan objek dan subjek Pajak Kendaraan Bermotor di wilayah kerjanya yang terdiri dari 18 kecamatan.

Untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini, maka dalam menentukan kriteria penilaian efektivitas penulis menggunakan Peraturan Pemerintah yakni Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 690.900-327 tahun 1994 tentang Kriteria Penilaian Kinerja dan Keuangan Daerah.

Dengan adanya kriteria penilaian efektivitas tersebut maka dapat diketahui efektivitas penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Unit Pelaksaana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik pada tahun 2017, 2018, dan 2019 sudah efektif atau tidak.

Berdasarkan pada peraturan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik pada tahun 2017 sebesar 114,51% dikategorikan “sangat efektif” karena telah melebihi 100%, pada tahun 2018 sebesar 125,64% dikategorikan

“sangat efektif” karena telah melebihi 100%, dan pada tahun 2019 sebesar 108,04% dikategorikan “sangat efektif”

karena telah melebihi 100%. Secara keseluruhan, rata-rata efektivitas penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik selama periode tahun 2017, 2018, dan 2019 melebihi 100%, yaitu mencapai rata-rata sebesar 116,06% yang berarti dikategorikan

“sangat efektif”.

Menurut Mardiasmo (dikutip oleh Astanto, 2006) efektivitas adalah tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan. Dengan kata lain, efektivitas dalam pemerintah daerah dapat diartikan kegiatan tepat pada waktunya dan di dalam batas anggaran/target yang tersedia, dapat berarti juga mencapai suatu tujuan dan sasaran seperti apa yang telah direncanakan. Sehingga untuk mengukur efektivitas Pajak Kendaraan Bermotor yaitu dengan cara menggunakan rasio efektivitas pajak daerah.

Hal ini menunjukkan bahwa Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Daerah Gresik telah berhasil secara efektif dalam pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan dalam kaitannya dengan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor pada tahun 2017, 2018, dan 2019. Selain itu, dapat dikatakan pula bahwa pencapaian tersebut menunjukkan kemampuan Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Daerah

(10)

Gresik dalam mengumpulkan pajak daerah yakni Pajak Kendaraan Bermotor sesuai dengan jumlah penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor yang ditargetkan sudah sangat efektif.

Pencapaian tersebut dapat diraih dikarenakan Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik telah melakukan berbagai macam program yang tentunya sejalan dengan nilai-nilai organisasi yang dianut oleh Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik yakni efektif dan efisien. Selain itu, pencapaian tersebut tidak terlepas dari usaha yang dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik dalam meningkatkan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor sesuai dengan target yang ditetapkan. Usaha yang dilakukan tersebut dijalankan sebagai wujud upaya dengan memberikan lebih banyak alternatif jenis pelayanan untuk masyarakat Gresik.

Adapun upaya yang dilakukan seperti menyediakan pelayanan Samsat Drive Thru, Samsat Payment Point, Samsat Corner, Samsat Keliling, dan layanan PPOB (Payment Point Online Bank) hasil kerjasama dengan PT Pos Indonesia, layanan SMS Info PKB dan SMS Komplain Samsat bagi masyarakat Gresik, pemberitahuan jatuh tempo bayar kepada wajib pajak melalui SMS atau online, serta melaksanakan Operasi Gabungan (Opgab) antar Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik, Dinas Perhubungan Kabupaten Gresik, dan Kepolisian Resort Gresik yang biasa dilakukan di Terminal Bunder.

Selain itu juga menambah jenis layanan baru yaitu pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor melalui Gerai Indomaret serta sosialisasi tentang Pajak Kendaraan Bermotor juga dilakukan melalui woro-woro stasiun radio lokal yaitu Elbayu Gresik. Penyediaan layanan pun bukan hanya outlet layanan berbasis lokasi, akan tetapi juga disediakan layanan self service dengan cara melakukan akses pada alamat web www.samsat.jatimprov.go.id

dengan keuntungan dapat dilakukan setiap saat dan dari mana saja.

Dengan beberapa upaya yang dilakukan tersebut tentunya dapat memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam melakukan pembayaran dan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melakukan pembayaran PKB serta meningkatkan efektivitas atas penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik pada setiap tahunnya.

Kontribusi yang diberikan oleh Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah Jawa Timur di UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik pada Tahun 2017, 2018, dan 2019 Dari data yang terdapat pada tabel 4.2, terlihat bahwa pada tahun 2017 dengan Pendapatan Asli Daerah yang terealisasi sebesar Rp 382.343.900.476 dan Pajak Kendaraan Bermotor yang terealisasi sebesar Rp 227.964.103.434, maka rasio kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah sebesar 59,62%. Pada tahun 2018 dengan Pendapatan Asli Daerah yang terealisasi sebesar Rp 427.048.197.529 dan Pajak Kendaraan Bermotor yang terealisasi sebesar Rp 252.694.126.785, maka rasio kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah sebesar 59,17%. Pada tahun 2019 dengan Pendapatan Asli Daerah yang terealisasi sebesar Rp 451.980.578.830 dan Pajak Kendaraan Bermotor yang terealisasi sebesar Rp 268.472.968.225, maka rasio kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah sebesar 59,40%.

Untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini, maka dalam menentukan kriteria penilaian kinerja rasio kontribusi penulis menggunakan Peraturan Pemerintah yakni Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 690.900-327 tahun 1994 tentang Kriteria Penilaian Kinerja dan Keuangan Daerah. Dengan adanya kriteria penilaian kinerja rasio kontribusi tersebut maka dapat diketahui kontribusi yang diberikan oleh penerimaan Pajak

(11)

Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah Jawa Timur di Unit Pelaksaana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik pada tahun 2017, 2018, dan 2019 sudah baik atau tidak.

Berdasarkan pada peraturan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kontribusi yang diberikan oleh penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah Jawa Timur di Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik pada tahun 2017 sebesar 59,62%

dikategorikan “sangat baik” karena telah melebihi 50%, pada tahun 2018 sebesar 59,17% dikategorikan “sangat baik” karena telah melebihi 50%, dan pada tahun 2019 sebesar 59,40% dikategorikan “sangat baik” karena telah melebihi 50%. Secara keseluruhan, rata-rata efektivitas penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik selama periode tahun 2017, 2018, dan 2019 melebihi 50%, yaitu mencapai rata-rata sebesar 59,40%

yang berarti dikategorikan “sangat baik”.

Menurut Mahmudi (dikutip oleh Fitriya & Suparno, 2019) kontribusi adalah sesuatu yang bersama-sama dengan pihak lain untuk tujuan biaya atau kerugian tertentu atau bersama. Apabila konsep kontribusi dikaitkan dengan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor maka kontribusi yang dimaksud dapat diartikan sebagai sumbangan yang diberikan oleh pendapatan pajak atas kendaraan bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah. Jika potensi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor besar dan pemerintah daerah dapat mengoptimalkan sumber penerimaannya, maka akan memberikan peluang kepada peningkatan Pendapatan Asli Daerah.

Hal ini menunjukkan bahwa Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Daerah Gresik telah dengan sangat baik mengidentifikasi dan mengoptimalkan sumber-sumber penerimaan yang tergolong dalam objek Pajak Kendaraan Bermotor sehingga kontribusinya terhadap

Pendapatan Asli Daerah cukup besar dan dapat dikatakan sangat memuaskan.

Pencapaian tersebut dapat diraih dikarenakan Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik telah berhasil dalam menjalankan fungsi dan tugasnya. Beberapa fungsi dan tugas yang terkait yakni Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik telah dengan sangat baik menjalankan pelaksanaan pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor, melaksanakan kegiatan teknis operasional pemungutan Pendapatan Asli Daerah, melaksanakan koordinasi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik terkait dengan pemungutan Pendapatan Asli Daerah, serta menyiapkan bahan pelaksanaan perhitungan atau proyeksi penerimaan Pendapatan Asli Daerah pada wilayah kerjanya yang terdiri dari 18 kecamatan.

Oleh karena itu, penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik masuk dalam 10 besar pendapatan daerah Jawa Timur yang memberikan kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terbanyak di provinsi Jawa Timur.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Efektivitas atas penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik pada tahun 2017, 2018, dan 2019 sudah sangat efektif karena melebihi 100% yaitu sebesar 114,51% pada tahun 2017, sebesar 125,64% pada tahun 2018, dan sebesar 108,04% pada tahun 2019.

2. Kontribusi yang diberikan oleh Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah Jawa Timur di Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik pada tahun 2017, 2018, dan 2019 sudah sangat baik karena melebihi 50% yaitu sebesar 59,62% pada tahun 2017, sebesar 59,17% pada tahun 2018, dan sebesar 59,40% pada tahun 2019.

(12)

Saran

Dalam penelitian ini penulis memiliki keterbatasan penelitian berupa data analisis faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pendapatan Daerah Gresik pada tahun 2017, 2018, dan 2019, maka penulis memberikan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya supaya dapat lebih mengembangkan penelitiannya yang terkait dengan efektivitas dan kontribusi penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dengan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor.

DAFTAR PUSTAKA

Astanto, A. V. (2006). Analisis Efektivitas Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Balik Nama Kendaraan Bermotor Sebelum dan Sesudah Diberlakukan Surat Keputusan Gubernur DIY Nomor 175 Tahun 2004 (Studi Kasus pada Pemerintah Kabupaten Bantul) [Universitas Sanata Darma].

http://repository.usd.ac.id/id/eprint/14 207

Ekasari, L. D., & Akbari, F. (2017). Tingkat Efektivitas Penerapan Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Peningktan Penerimaan Pajak Daerah (Studi pada Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendapatan Provinsi Jawa Timur Malang Utara dan Batu

Kota). 1, no 2.

https://jurnal.unitri.ac.id/index.php/O ptima/article/view/622

Fitriya, R., & Suparno, S. (2019). Analisis Efektivitas Dan Kontribusi Pajak Kenderaan Bermotor Terhadap Pencapaian Target Pendapatan Asli Daerah Provinsi Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi, 4(3), 405–411.

https://doi.org/10.24815/jimeka.v4i3.

12567

Fristylia, T. (n.d.). Analisis Hubungan Kebijakan Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Peningkatan Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (Studi pada Unit Pelaksanaan Teknis Dinas Pendapatan Provinsi Jawa Timur Malang Utara dan Batu Kota). In Journal of Chemical Information and Modeling.

https://jimfeb.ub.ac.id/index.php/jimf eb/article/view/2988

Pangloli, A. (2015). Analisis Potensi Pajak Penerangan Jalan Terhadap Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Tana Toraja [Universitas Hasanudin].

https://core.ac.uk/download/pdf/7762 3349.pdf

Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 47 Tahun 2018 Tentang Nomenklatur, Susunan Organisasi, Uraian Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Badan Pendapatan Daerah

Provinsi Jawa Timur.

http://arsipjdih.jatimprov.go.id/upload /8516/PerGub_No._47_Tahun_2018_

ttg_UPT_Badan_Pendapatan.pdf Peraturan Pemerintah Nomor 65 tahun

2001 Tentang Pajak Daerah.

http://www.bphn.go.id/data/document s/01pp065.pdf

Resmi, S. (2018). Perpajakan: Teori dan Kasus (A. Sustiwi (ed.); 10 ed.).

Salemba Empat.

Rosalina, F. A. (2008). Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor dan Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Terhadap Pendapatan Asli Daerah Setelah Otonomi Daerah (Studi Kasus pada Pemerintah Kepulauan Riau) [Universitas Sanata Dharma].

http://repository.usd.ac.id/id/eprint/18 94

(13)

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata

Cara Perpajakan.

https://www.pajak.go.id/id/undang- undang-nomor-28-tahun-2007

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah.

https://peraturan.bpk.go.id/Home/Det ails/40768/uu-no-32-tahun-2004 Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

http://www.djpk.kemenkeu.go.id/?p=

369

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

https://peraturan.bpk.go.id/Home/Det ails/45238/uu-no-34-tahun-2000 Utami, A. T. (2014). Analisis Pajak

Kendaraan Bermotor dan Faktor- Faktor yang Mempengaruhinya Serta Kontribusinya Terhadap Pendapatan Asli Daerah di Propinsi Jawa Tengah [Universitas Diponegoro].

http://eprints.undip.ac.id/43779/

Referensi

Dokumen terkait