• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS ETIKA BISNIS ISLAM TERHADAP USAHA BUDIDAYA CACING TANAH (STUDI KASUS RUMAH CACING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "ANALISIS ETIKA BISNIS ISLAM TERHADAP USAHA BUDIDAYA CACING TANAH (STUDI KASUS RUMAH CACING "

Copied!
82
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Kegunaan Penelitian

TINJAUN PUSTAKA

Tinjauan Teoritis

  • Teori Etika Bisnis Islam
  • Teori Usaha dalam Islam

Etika bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma, dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan atau mitra kerja. Menurut Steade, etika bisnis adalah standar etika yang berkaitan dengan dan bagaimana mengambil keputusan bisnis, menurut Hill dan Jones (1998), etika bisnis adalah ajaran untuk itu. Etika Bisnis Islam adalah cara-cara yang digunakan dalam menjalankan kegiatan bisnis yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri, dan masyarakat.

Undang-undang harus dijadikan sarana untuk mencegah agar pelaku usaha tidak membahayakan masyarakat dalam produksi barang dan jasa, dengan tetap memperhatikan norma hukum yang berlaku agar masyarakat umum tidak dirugikan, dan peran pemerintah juga sangat diperlukan untuk memajukan kepentingan masyarakat. pelaku usaha di Indonesia agar memiliki moral dan etika bisnis yang baik. 15. Namun kegiatan pemasaran hendaknya selalu mengedepankan prinsip Islam yang mengharapkan rahmat dan keridhaan Allah SWT. Oleh karena itu, segala aktivitas manusia yang berkaitan dengan alam dan sumber daya manusia (muamalah) dibingkai dalam kerangka hubungan dengan Allah SWT.

Mungkin terpaksa bertindak tidak etis karena takut dan hanya mencintai Allah SWT. Berbeda dengan ciptaan Allah SWT lainnya di alam semesta, ia dapat memilih perilaku etis atau tidak etis yang akan ia lakukan. Namun perlu ditegaskan kembali bahwa kebebasan yang ada dalam diri manusia itu terbatas, sedangkan kebebasan yang tidak terbatas hanya milik Allah SWT.

Namun etika bisnis tidak hanya sekedar mengejar keuntungan saja, namun juga menganjurkan pemahaman tentang bisnis sekaligus menjalankan bisnis sebagai media bisnis atau perusahaan yang beretika. Tujuan dari etika bisnis adalah mengubah kesadaran masyarakat tentang bisnis dengan memberikan pemahaman atau cara pandang. Dan cara yang biasa dilakukan adalah dengan memberikan pemahaman dan cara pandang baru terhadap makna bisnis dengan menggunakan landasan nilai-nilai moral dan spiritual, yang kemudian dirangkum dalam suatu bentuk yang disebut etika bisnis.

Jika seseorang dapat memahami hal yang benar dan bertaqwa kepada Allah, maka seorang muslim akan selalu mengingat Allah SWT dalam setiap aktivitasnya. Termasuk dalam berbisnis, hendaknya seseorang selalu mengingat Allah SWT agar setiap perilakunya sejalan dengan apa yang digariskan Allah dalam Al-Quran dan Hadits, sehingga dapat menjalani kehidupan yang jauh lebih baik dan mulia. Islam membolehkan berbisnis, namun perlu diingat bahwa segala kegiatan berbisnis tidak boleh menghalangi seseorang untuk beribadah dan mengingat Allah SWT.

Manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan aktivitas dengan menggunakan kekuatan yang dimilikinya. Keempat kekuatan tersebut dianugerahkan Allah SWT pada kemampuan manusia, kekuatan pikiran, kekuatan jasmani, kekuatan hati, dan kekuatan hidup. Seseorang harus menunaikan ibadahnya sendiri untuk melakukan hal-hal yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah SWT.

Tinjauan Konseptual

Memakmurkan Bumi sebagaimana tertulis dalam Q.S Hud/11:61 "Dia menciptakan kamu dari tanah (tana) dan menjadikan kamu memakmurkan". Beribadah kepada Allah, menurut Allah dalam Q.S al-adz dzyariat/51:56: “dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu”. Khalifah Allah, sesuai dengan firman Allah dalam Q.S al-A'raf/7:129 "dan menjadikan kamu Khalifah di muka bumi", maka Allah akan melihat bagaimana kamu bertindak.

Menurut Muhammad, etika bisnis Islam adalah norma-norma yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits yang dijadikan pedoman dalam bertindak, bertingkah laku, berperilaku dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dalam menjalankan kegiatan bisnis.39 . Cacing tanah merupakan hewan reptil yang termasuk dalam kelompok invertebrata atau invertebrata dan mempunyai banyak jenis dengan ciri, kandungan dan sifat yang berbeda-beda. Berdasarkan pengertian di atas, maka arti operasionalnya adalah penyelidikan terhadap usaha cacing tanah di kalangan pengusaha di Kecamatan Suppa.

Apabila cacing tanah merupakan hewan yang akan dipelihara dan dijual untuk diolah kembali guna memperoleh keuntungan, maka semua itu akan ditinjau berdasarkan prinsip dan tujuan etika bisnis Islam.

Kerangka Pikir

Budidaya cacing tanah di Suppa dimulai pada tahun 2016 dan mulai berkembang pada tahun 2017 hingga saat ini. Bisnis cacing tanah merupakan bisnis yang sangat menjanjikan karena banyak sekali produk yang menggunakan bahan baku cacing tanah. Pemilik usaha tidak membudidayakan cacing tanah yang diambil langsung dari tanah karena mempunyai kualitas yang berbeda dengan cacing tanah yang dibudidayakan secara khusus.

Mitra kedua kini adalah perusahaan yang membeli cacing tanah untuk diolah langsung menjadi obat. Berdasarkan wawancara diatas terlihat bahwa pemilik perusahaan cacing tanah memberikan kebebasan kepada pembeli untuk menelusuri dan memilih cacing yang ingin dibeli terlebih dahulu, kemudian pembeli dapat membatalkan atau melanjutkan pembelian. Berdasarkan hal tersebut dapat dipastikan pemilik usaha dapat mengelola usaha cacing tanah dengan optimal dan mengatasi permasalahan yang timbul ketika terjadi hama seperti tikus, ayam dan lain-lain.

Pengelolaan suatu usaha termasuk usaha cacing tanah juga harus memperhatikan kualitas makanannya agar kualitas cacingnya juga dapat tetap terjaga. Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menerapkan prinsip kebenaran, kebajikan dan kejujuran, pemilik usaha cacing tanah di Kecamatan Suppa.

Bagan Kerangka Pikir

Jenis Penelitian

Lokasi dan Waktu Penelitian

Dalam melakukan penelitian terkait dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, maka lokasi yang akan dijadikan lokasi dilakukannya penelitian ini adalah Lamajjakka, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang. Kabupaten Pinrang merupakan salah satu kabupaten terluas di Provinsi Sulawesi Selatan dengan jumlah penduduk 421.350 jiwa dengan luas wilayah 1.961,77 km², terdiri dari 12 kecamatan, 39 kelurahan, dan 65 desa. Batas wilayah kabupaten ini di sebelah utara dengan Kabupaten Tana Toraja, di sebelah timur dengan Kabupaten Sidenreng Rappang dan Enrekang, di sebelah barat dengan Kabupaten Polmas Provinsi Sulawesi Barat dan Selat Makassar, di sebelah selatan dengan Kota Parepare.

Versi pertama menyebutkan bahwa Pinrang berasal dari bahasa Bugis yaitu kata “benrang” yang bisa juga berarti “genangan air”. Kedatangannya disambut dengan gembira, namun mereka terkejut karena wajah raja telah berubah dan mereka berkata “Pinra bayangi tappana puatta pole Gowa”, yang artinya wajah Tuan Kita dari Gowa telah berubah. Setelah itu masyarakat menamakan daerah itu Pinra yang artinya perubahan, kemudian lama kelamaan menjadi Pinrang.

Pinrang terdiri dari 12 kecamatan yaitu Kecamatan Batu Lappa, Cempa, Duampanua, Lanrisang, Lembang, Mattiro Bulu, Mattiro Sompe, Paleteang, Patampanua, Tiroang, Watang Sawitta, Suppa. Suppa, Kecamatan Pinran berjarak sekitar 200 meter dari Jordan Bakery dan 2,9 km dari Kantor Desa Polewali.

Jenis dan Sumber Data yang digunakan

Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dari buku) yang mendukung atau memperkuat data primer yang sudah ada.

Fokus Penelitian

Metode Pengumpulan Data

Dari hasil wawancara terlihat bahwa pemilik usaha cacing tanah mempunyai tempat khusus untuk pengumpulan bahan baku, namun karena letaknya yang cukup jauh maka pemilik usaha cacing tanah menerima bibit dalam jumlah yang banyak. secara berurutan.cacing. Melalui wawancara ini terlihat bahwa kualitas cacing tanah juga bergantung pada cara budidayanya, oleh karena itu cara budidaya cacing tanah sangat penting untuk diperhatikan. Pinrang menjual cacing tanah tersebut ke berbagai pelaku usaha, seperti usaha yang memproduksi kosmetik, obat-obatan dan lain sebagainya, dalam hal ini pemilik usaha membeli dan menjual cacing tanah tersebut untuk dimanfaatkan.

Teknik Analisis Data

PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

Analisis Etika Bisnis Islam terhadap Cara Memperoleh Bibit, Cara

PENUTUP

Saran

Pinrang diharapkan dapat menjalankan usahanya sesuai dengan etika bisnis Islam yang berarti kewajiban setiap umat Islam untuk berbuat sesuai dengan aturan syariat Islam. Johan Arifin 2009, Etika Bisnis Islam, Semarang: Walisongo Press, Azis, Abdul 2013, Etika Bisnis Islam Perspektif Bandung: Alpa Beta. Kasmir 2007, kewirausahaan, Jakarta; PT Raja Grafindo Persada Yafi, Ali 1994, Menggagas Fiqih Sosial, cet ke-2; Bandung; Misan.

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta bekerjasama dengan Bank Indonesia. Hendrah, “Tinjauan Hukum Islam Jual Beli Cacing Lumbricus Rubellus Di Desa Lebung Gajah Kecamatan Tulung Salapan Kabupaten Ongan Komering Ilir”. Skripsi (UIN Raden Fatah Palembang, 2016). Jannah, Nurul Hidayatullah “Tinjauan Hukum Islam tentang Budidaya dan Jual Beli Cacing (Studi Kasus di Kelurahan Wonolopo Kecamatan Mijen Kota Semarang). Skripsi Semarang; UIN Walisongo Semarang.

Yaqin, Sitti Nurani 2018, Sekilas Masalah Jual Beli Sari Cacing Sebagai Obat di Kabupaten Ponorogo.” Agustian, Bembi Pengertian Etika, Etika Bisnis dan Jenis-Jenis Etika (http//bembyagus.blogshop.co.id /2012/04 Pengertian-etika-bisnis-etika-dan-jenisnya, HTML), diakses pada 11 Juli 2019.

Referensi

Dokumen terkait