Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk mengetahui penularan penyakit TBC paru pada pasien TBC BTA positif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tampa. Informan penelitian ini diperoleh dengan cara total sampling yaitu dengan mengambil seluruh pasien TB paru positif noda yang terdaftar pada registrasi pasien TB. Partisipan dikategorikan sebagai perokok aktif/pernah merokok karena mempunyai kebiasaan merokok sebelum tertular TBC paru. a) Jumlah batang rokok (batang/hari).
Tema kedua yang diperoleh adalah pengetahuan informan tentang kebiasaan merokok dengan kejadian TBC paru dengan subtema mempengaruhi kesehatan dan pengobatan. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan informan mengenai kebiasaan merokok dengan kejadian TBC paru cukup baik. Tema ketiga yang didapat adalah riwayat paparan dengan subtema interaksi dengan pasien TB paru BTA positif.
Resiko Penularan Berdasarkan Ketidak Patuhan Terhadap Pencegahan TB Paru
Cara batuk dan pembuangan dahak a). Batuk tidak ditutup
P8: maanyan di luar Daya, tahunya itu infeksi, na umpe hang wuang lewu (gaul maanyan: pergi ke luar, karena bisa tertular jika dibuang ke suatu tempat di dalam rumah. P9: na umpe ma tane ae amun baran umpe hang wuang lewu tahu hampit (bahasa maanyan: membuang) Kalau dibuang ke tanah, bisa ditebarkan sembarangan. Pertanyaan 10: Lebih praktis menyembunyikan lubang ane di jendela atau pintu, di jendela atau pintu, di mana orang masuk rumah tidak terinfeksi).
P13 : ngumpe ma luar lewu ae ngampan ada wuah disini sa hang wuang lewu na (Bahasa Manyan: buang saja ke luar rumah supaya tidak menulari mereka di rumah). Q16 : Mahi la tempat khusus, Dami batuk sampai ma di luar, dimana ada infeksi ma disini hang lewu (Bahasa Maanyan: tidak ada tempat khusus, kalau batuk buang dahaknya supaya tidak menulari orang lain) . 2) Cara berkomunikasi a). P11: puang jaga jarak aman menggendong anak lembek (bahasa maanyan: jangan jaga jarak karena mempunyai anak kecil). B).
P3: kadang pakai, kadang tidak, kadang pakai, kadang tidak. P4: Cara menggunakan pembangkit listrik ini sangat mudah. P15: Masker Puang Makai (Bahasa Maanyan: Jangan pakai masker P16: Pasuah Makai Masker Saya (Bahasa Maanyan: Jangan pernah pakai masker). P7: Tapi kumannya masih sasameh, apalagi amun kamalem (kita masih sama makan terutama di malam hari).
P10: tapi panggilannya masih sasameh (bahasa Maanyan: kita masih makan bersama) P13: panggilan kita masih sasameh (bahasa Maanyan: kita masih makan bersama). P14: masih sasameh hantek panggilan, ini yang paling kamalem (bahasa Maanyan: kita tetap makan bersama, apalagi makan malam).
Kebiasaan mandi
P2: Andri masih mempunyai kapasitas kamar sedang (Bahasa Maanyan: Masih tidur sekamar dengan istrinya karena kamarnya sedang). P9 : Saya masih belum punya kamar, kamar ini hanya kecil (Bahasa Maanyan : Saya masih tidur sekamar karena kamarnya kecil). P13: Masih mandre sasameh di kamar pas-pasan (gaul maanyan: Masih tidur bareng karena kamar pas-pasan).
P16 : tapi mandre masih di sini andri amah, dagana naan kamar 3 ballalu berbagi anak teman andri (bahasa maanyan: kalau tidur sama suami, soalnya kamar ada tiga dan dua punya anak, satu kamar untuk kami dua ayah ). 6) Kebiasaan menjemur perlengkapan tidur a) Jarang menjemur.
Kebiasaan menjemur peralatan tidur a) Jarang menjemur
Proses penularannya dapat kita lihat melalui riwayat kontak melalui kebiasaan pasien dan anggota keluarga dalam pencegahan dan penularan TBC paru, seperti memisahkan alat makan, minuman dan perlengkapan mandi dari pasien kemudian tidak tidur satu kamar dengan pasien, menyediakan tempat khusus untuk pembuangan dahak, menutup mulut dan hidung bila batuk dan bersin dan sebagainya. Dalam penelitian Didin (2015) disebutkan bahwa penting bagi pasien TBC paru untuk mengetahui etika batuk, bersin dan membuang dahak yang benar ketika berada di rumah atau di luar rumah. Kebiasaan membuang lendir dimana saja atau di tempat terbuka mempunyai peranan terhadap kejadian TBC paru.
Kebiasaan makan dan minum penderita TBC paru adalah tetap makan bersama anggota keluarga lainnya selama sakit. Kebiasaan makan bersama berisiko menularkan jika tidak menjaga jarak dengan penderita TBC paru saat makan dan berbagi alat makan dengan penderita TBC paru yang terinfeksi bakteri TBC. Dalam penelitian Didin tahun 2015, pasien tuberkulosis paru tidak disarankan makan bersama anggota keluarga lainnya; alat makan seperti piring, gelas dan barang lain yang digunakan pasien harus direbus terlebih dahulu sebelum dapat digunakan oleh orang lain.
Kebiasaan mandi seperti menggunakan perlengkapan mandi masih dilakukan oleh 4 orang informan bersama dengan penderita tuberkulosis paru. Meski penularan tuberkulosis paru terjadi dari udara yang terkontaminasi droplet, namun penggunaan alat mandi bersama dengan penderita tuberkulosis paru juga dapat terjadi. Oleh karena itu, penderita tuberkulosis paru disarankan untuk menjaga jarak dan tidur di kamar terpisah untuk menghindari kontak langsung dengan anggota keluarga lainnya.
Dalam penelitian Meithyra tahun 2019 diketahui bahwa jika penderita TBC paru mempunyai kebiasaan tidur bersama anggota keluarga lain, akibatnya frekuensi dan lama kontak dengan penderita menjadi lebih sering dan lama. Frekuensi batuk semalaman dapat meningkatkan penularan karena penderita tidak menutup mulut saat batuk dan bersin serta tidak menggunakan masker, sehingga orang yang sekamar dengan penderita TBC paru dapat terpapar bakteri TBC sepanjang malam, sehingga risiko tertular semakin besar.
Tingkat Pendidikan
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa kejadian TBC paru juga ada hubungannya dengan perilaku tidur penderita TBC paru dimana penularan penyakit TBC paru terjadi ketika seseorang menghirup udara yang terkontaminasi bakteri karena pada saat tidur penderita dapat batuk dan mengeluarkan cairan. tetesan ke udara. Kebiasaan jarang menjemur perlengkapan tidur masih dilakukan oleh 5 orang informan yang dilakukan setiap 2 minggu sekali atau lebih. Penting untuk rutin mengeringkan peralatan tidur penderita TBC, karena pada saat tidur penderita TBC bisa saja tidak sadar akan batuknya, sehingga droplet menempel pada peralatan tidur tersebut.
Menjemur alas tidur di bawah sinar matahari langsung dapat membunuh bakteri TBC, sedangkan sinar matahari sendiri mengandung sinar ultraviolet (Didin, 2015). Uraian di atas sesuai dengan penelitian Rusnoto tahun 2007, dimana risiko penularan pada anggota keluarga jika seseorang mengidap TBC paru dapat tertular 79.781 kali pada keluarga yang tidak mengidap TBC paru apabila tidak dilakukan pencegahan penularan TBC paru. Hasil wawancara mendalam pada penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan peserta dapat dibedakan menjadi Pendidikan Dasar (SD/SMP), Pendidikan Menengah (SMA), Pendidikan Tinggi (D3/S1). A).
Hasil wawancara mendalam menunjukkan bahwa pendidikan yang mereka peroleh terdiri dari 9 orang informan mengenyam pendidikan dasar, 6 orang peserta mengenyam pendidikan menengah, dan 1 orang peserta mengenyam pendidikan tinggi. Karena tingkat pendidikan informan didominasi oleh pendidikan dasar, maka dapat dikatakan bahwa latar belakang pendidikan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang dalam mencari pengobatan, pencegahan penyakit, dan pola hidup sehat. Pendidikan sendiri merupakan landasan dalam pembentukan perilaku seseorang, sehingga pendidikan merupakan faktor sosial ekonomi terbesar kedua yang mempengaruhi status kesehatan (Azhar, 2013).
Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor pemicu yang mempengaruhi keputusan seseorang untuk melakukan perilaku sehat. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin baik pula pengetahuannya tentang tuberkulosis paru, sehingga pengendalian agar tidak tertular dan juga upaya pengobatan jika terjadi infeksi semakin tinggi (Nurjana, 2015).
Status Pekerjaan
Luas Ventilasi
Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan, terlihat luas ventilasi rumah responden bervariasi antara 2,28-7,27 m2 dan luas lantai rumah bervariasi antara 35-72 m2. Berdasarkan hasil tersebut, terlihat terdapat beberapa rumah informan yang ventilasi luasnya tidak memenuhi syarat. Hasil observasi menunjukkan bahwa 7 informan mempunyai ruangan ventilasi yang memenuhi syarat dengan luas ventilasi ≥ 10% dari luas lantai rumah.
Hal ini disebabkan karena ventilasi pada rumah informan tidak digunakan dengan baik, misalnya jendela dibiarkan tertutup, dan tidak digunakan untuk membuka jendela setiap pagi, sehingga beberapa penilaian ventilasi rumah dilakukan dengan cara membandingkan luas ventilasi dengan lantai. luas rumah menggunakan meteran. Jenis ventilasi yang diukur adalah ventilasi alami, yaitu berasal dari sinar matahari yang dapat masuk melalui jendela, pintu, ventilasi dan lubang pada dinding.
Hasil pengukuran yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan standar yang dianjurkan Kepmenkes No.829/menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan, bahwa syarat luas lubang ventilasi alami yang berperan minimal 10% dari luas lantai. Selain itu, ventilasi ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan menghambat proses pertukaran udara dan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah, akibatnya bakteri tuberkulosis yang ada di dalam rumah tidak dapat keluar dan ikut terhirup bersama udara yang dihembuskan. Ventilasi mempengaruhi pengenceran atau pertukaran udara dan juga dapat mengencerkan konsentrasi bakteri TBC, artinya ventilasi yang baik akan meningkatkan udara luar yang masuk dan memudahkan udara dari dalam rumah untuk keluar.
Teori ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zuriya Yufa (2016) yang menemukan adanya hubungan antara ventilasi dalam rumah dengan kejadian TBC paru. Penelitian ini menemukan risiko tertular TBC pari-TB 1.314 kali pada warga yang ventilasinya tidak memadai. dibandingkan dengan responden yang berventilasi yang memenuhi persyaratan kesehatan. Sehingga sangat diperlukan adanya ventilasi yang memenuhi syarat, agar pencahayaan ruangan juga dapat memenuhi syarat.
Jenis Lantai
Jenis Dinding
Karena tingkat pendidikan informan didominasi oleh pendidikan dasar, maka dapat dikatakan bahwa latar belakang pendidikan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang terhadap kejadian tuberkulosis paru. Secara umum jenis pekerjaan menentukan tingkat pendapatan yang dapat mempengaruhi kejadian tuberkulosis paru. Petugas puskesmas dapat meningkatkan program skrining deteksi kasus terutama pada tetangga penderita TBC paru, dan lebih aktif melakukan pemantauan terhadap pasien TBC paru agar tidak terjadi penularan penyakit.
Hubungan faktor tuan rumah dan lingkungan dengan kejadian tuberkulosis paru di tempat kerja Puskesmas Pemulung Tahun 2016. Tesis. Azhar... Tentang keberhasilan pengobatan pasien tuberkulosis paru (menggunakan strategi pengobatan jangka pendek dengan observasi langsung), Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Irma., 2016. Penelitian kualitatif tentang pengalaman anggota keluarga merawat pasien TBC paru di wilayah kerja Puskesmas Moncobalang Kecamatan Brombong Kabupaten Gowa. Kumalasari, R., 2018. Pengalaman klien TB paru menjalani pengobatan fase intensif di wilayah kerja Puskesmas Taji Kabupaten Magenta. Puri, P., 2018. Peran keluarga dalam pencegahan penularan TB paru dalam keluarga di wilayah kerja Puskesmas Geger Kabupaten Madiun.
Rukmini... (Studi kasus di Pusat Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Paru).