Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan tenaga kepada saya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsinya yang berjudul “Strategi Pengolahan Informasi Situs Voa Islam September 2012 hingga Maret 2013 tentang Terorisme”. Tesis yang berjudul “Strategi Pengolahan Informasi Situs Voa Islam September 2012 hingga Maret 2013 Tentang Terorisme” dimaksudkan sebagai langkah kritis dalam memahami berbagai berita yang masuk ke kepala kita sehingga membentuk persepsi tertentu terhadap suatu hal. Analisis Kerangka Ulfan Askhabi Pengolahan Informasi di Situs Voa Islam Terkait Isu Terorisme (Edisi September 2012 s/d Maret 2013).
Penelitian ini mengkaji kerangka media massa Islam online Voa Islam dalam pemberitaan terorisme pada periode September 2012 hingga 2013. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan sejauh mana media tersebut mempengaruhi kasus teroris dan bagaimana kinerja media massa Islam online Voa Islam. pembingkaian. Kedua model ini digunakan untuk menganalisis bagaimana media Islam online Voa-Islam memainkan framing.
Latar Belakang
3 http://www.arrahmah.com/news ini-tiga-kelahan-fatal-war-melawan-terorisme-menurut-din-syamsuddin.html. Media massa telah menjadi ruang hiburan publik untuk dinikmati, baik berupa tayangan infotainment maupun berita. Ada sebuah tragedi yang menimpa seorang aktivis dakwah dari salah satu gerakan Islam yang ada di Indonesia.
7 http://www.voa-islam.com/news/indonesiana penyidik-full-tekanan-physic-saksi-sidang-abdullah-sunata-cabut-bap/. Saat itu, Herman hanya mengirimkan pesan kepada salah satu temannya di kawasan Ciracas yakni Ustad Ilham bahwa dirinya telah ditangkap Densus 88. 8 http://www.arrahmah.com/read jasa-operation-intelijen- black-dalam -isu -terorisme-aktis- dakwah-di-fitnah.html.
Rumusan Masalah
Media yang digunakan aktivis Islam selain majalah sirkulasi seperti Sabili juga menggunakan media berbasis online.
Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah; Tujuan penelitian ini adalah;
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Sumber Data
Deskripsi : yaitu gambaran tentang objek penelitian yang diperoleh dari membaca sumber data, sehingga diperoleh gambaran yang jelas tentang objek penelitian.13. Misalnya, seorang jurnalis memandang terorisme sebagai suatu peristiwa yang disebabkan oleh pemahaman terhadap ajaran agama Islam, atau menganggapnya sebagai suatu keanehan. Apakah karena adanya ajaran Islam yang menjadi penyebab kejadian tersebut, ataukah karena sebab-sebab lain yang mungkin berasal dari luar.
Tinjauan Pustaka
Definisi Terorisme
Terorisme berarti penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan politik, termasuk penggunaan kekerasan yang menimbulkan ketakutan pada masyarakat atau kelompok masyarakat).15. Berdasarkan definisi di atas, maka terorisme tidak hanya berlaku atau menyasar sebagian umat Islam saja, namun seluruh umat manusia yang berkepentingan dengan politik dengan menggunakan kekerasan. Hal ini tidak hanya terkait dengan politik kelompok agama, tetapi juga kelompok politik bersenjata atau kelompok politik yang sering menggunakan kekerasan (di luar sistem hukum yang berlaku).
Definisi terorisme berbeda-beda di setiap negara karena situasi sosial, politik, dan hanya sekedar tuntutan emosional.16 Sementara itu, definisi terorisme di Indonesia dijelaskan dalam Undang-Undang No. Penggunaan kekerasan yang disengaja atau ancaman kekerasan untuk menciptakan suasana teror atau ketakutan yang meluas terhadap masyarakat atau menimbulkan korban jiwa secara massal, dengan cara merampas kemerdekaan seseorang atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas umum atau fasilitas internasional. Penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan yang disengaja dengan maksud untuk menciptakan suasana teror atau ketakutan yang meluas di kalangan masyarakat atau menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, dengan cara merampas kemerdekaan orang tersebut atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran pada tempat-tempat strategis yang vital. benda atau lingkungan hidup atau fasilitas umum atau fasilitas internasional18.
Terlepas dari definisi di atas, dan banyaknya istilah yang digunakan oleh para politisi, pejabat dan pejabat, definisi tersebut belum pernah dicapai di tingkat global.Alex Schmid mengutip 250 definisi terorisme yang berbeda satu sama lain. Misalnya kelompok pemberontak di Papua (OPM), mereka bersenjata, mengintimidasi warga sipil yang tidak mau menuruti keinginan mereka, bagi sebagian pihak (seperti LSM asing), mereka dipandang sebagai orang yang melawan penindasan atau yang melawan. untuk hak-hak mereka. Sedangkan bagi pemerintah Indonesia, mereka bisa dianggap pemberontak, jika melakukan penyerangan terhadap warga sipil tidak bersenjata maka mereka bisa dianggap teroris, karena dalam beberapa penyerangan OPM tidak hanya menyasar TNI atau Polri saja, tapi juga warga sipil.
Di sisi lain, Ansyaad Mbaai, saat menjabat Ketua BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), mengaku tidak akan pernah ada kesepakatan bersama mengenai definisi tunggal terorisme.19 Tanpa kesepakatan yang jelas, siapa pun yang dituduh melakukan suatu perbuatan terorisme bergantung pada negara. Beberapa ayat dalam Alkitab, secara tekstual, dapat diartikan secara ekstrim dengan melegalkan cara-cara kekerasan untuk mencapai kekuasaan, sehingga segala sesuatu yang ada di bumi dimusnahkan, baik laki-laki atau perempuan, tua atau muda, bahkan semua ternak, domba dan keledai, bahkan dengan pedang.
Bunuhlah mereka semua, lelaki dan perempuan, kanak-kanak dan kanak-kanak yang menyusu, lembu dan biri-biri, unta dan keldai.”
Terorisme di Indonesia
Yang lainnya adalah peristiwa teror terhadap warga sipil pada tahun 1984 yang disebut Tragedi Tanjung Priok. 28 Demonstrasi akhirnya dapat dipadamkan dengan pembunuhan massal yang mengakibatkan puluhan orang tewas. Meskipun peristiwa ini tidak termasuk dalam peristiwa teroris (karena teror merupakan tindakan yang menimbulkan keresahan masyarakat untuk mencapai tujuan politik tertentu), namun tetap memenuhi unsur-unsur terorisme seperti adanya pelaku, cara melakukan terorisme, dan adanya korban. , dan dampak yang ditimbulkannya. Peristiwa ini erat kaitannya dengan keinginan pemerintah Orde Baru untuk menerapkan Asas Keunikan Pancasila yang berlaku bagi seluruh ormas dan partai politik.
Pengeboman Kedutaan Besar Filipina terjadi pada tanggal 1 Agustus 2000, tahun kedua pemerintahan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), meledakkan sebuah mobil yang terparkir di depan Rumah Duta Besar Filipina di Indonesia (Di Jakarta). Pada tanggal 13 September 2000, terjadi serangan bom di area parkir gedung BEJ (Bursa Efek Jakarta). Pada tanggal 24 Desember 2000, terjadi serangan serentak di beberapa kota di Indonesia dengan sasaran utama gereja, yang menewaskan puluhan orang dan melukai puluhan lainnya.
Menurut beberapa catatan, jumlah warga negara Australia yang meninggal tersebut “diabadikan” dalam satuan yang dibentuk oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk memberantas terorisme, yang disebut Densus 88. 32. Peristiwa ini disusul dengan sejumlah peristiwa teroris lainnya, seperti menyasar bom di restoran McDonald's Makassar pada 5 Desember 2002 yang menewaskan 3 orang. Pengeboman terbesar tahun ini adalah pengeboman JW Marriot pada tanggal 5 Agustus 2003 yang menewaskan 11 orang, termasuk seorang pelaku bom bunuh diri. Sebuah bom yang menargetkan kedutaan Australia pada tanggal 9 September 2004 menewaskan 5 orang dan menyebabkan puluhan orang luka-luka.33.
Pada tahun 2005, terjadi serangan Bom Bali II pada tanggal 1 Oktober 2005 yang mengakibatkan 22 orang meninggal dunia dan 102 orang lainnya luka-luka akibat ledakan di Kuta Square. Pada tahun 2005 saja tercatat beberapa peristiwa bom, seperti bom di Tentena yang menewaskan 22 orang, Bom Pasar Palu (Sulawesi Tengah) yang menewaskan 8 orang. Aksi bom dahsyat terjadi hampir bersamaan di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, yakni sekitar pukul 08.00 tanggal 17 Juli 2009. Menyusul kejadian tersebut, terjadi serangkaian aksi bom yang umumnya tidak menimbulkan korban jiwa, kecuali pelaku bom bunuh diri. Seperti bom di Mapolres Cirebon saat salat Jumat yang menewaskan pelaku dan melukai 25 orang lainnya.
Pada tahun yang sama, terjadi serangan bom di Gereja Kepunton, Solo, yang juga hanya menewaskan pelaku bom bunuh diri dan melukai beberapa anggota gereja.34.
Terorisme dalam Sudut Pandang Agama Islam
Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian, hal ini terlihat dari kata-kata dasar Islam yaitu perdamaian, kesejahteraan, ketaatan, dll. Menurut mufassir, orang yang suka membuat kerusakan di muka bumi adalah orang yang sering durhaka kepada Allah. Namun hukuman bagi orang yang tidak menaati hukum Allah (hukum Islam) harus diputuskan oleh Negara (Ulil Amri).
Penaklukan Yerusalem oleh Tentara Salib pada awal abad ke-11 memberikan dampak yang luar biasa terhadap kehidupan kota tersebut.40 Pada masa penaklukan tersebut, kota tersebut dibanjiri darah umat Islam, dan seluruh peninggalan Nabi Dawud dijarah. oleh sekelompok pasukan Templar. Umat Islam adalah ummat wasatho, atau ummat yang harus menganggap dirinya sebagai ummat abad pertengahan. Cara-cara berperang juga harus menghindari jatuhnya korban jiwa pada warga sipil atau pihak-pihak yang terlibat dalam perang, bahkan Nabi sendiri menganjurkan untuk tidak merusak tanaman dan tidak membunuh hewan ternak.
Fatwa tersebut juga memuat undang-undang bagi pelaku bunuh diri, atau sering kali menyebut namanya; bom isytisyhad atau bom syahid. Orang yang melakukan bunuh diri adalah bunuh diri demi kepentingan pribadinya, sedangkan pelaku amaliyah al-istishhad mengorbankan dirinya sebagai kurban demi agamanya dan umatnya. Orang yang melakukan bunuh diri adalah orang yang pesimis terhadap dirinya dan terhadap ketentuan Tuhan, sedangkan pelakunya.
Bom bunuh diri haram karena merupakan bentuk keputusasaan (al-ya'su) dan menyakiti diri sendiri (ihlak an-nafs), baik dilakukan di tempat yang damai (dar al-shulh/dar al-salam/dar al-da’wah) atau di daerah perang (dar al-harb. Amaliyah al-Istisyhad (perbuatan mencari syahid) diperbolehkan karena merupakan bagian dari jihad binnafsi yang dilakukan di daerah perang (dar al-harb) atau di suatu negara. peperangan yang bertujuan untuk menimbulkan rasa takut (irhab) dan kerugian yang lebih besar di pihak musuh-musuh Islam, termasuk melakukan tindakan yang dapat berujung pada bunuh diri.Keduanya sangat berbeda karena orang yang berjihad tidak harus menyerah. jangan sampai mengorbankan nyawa sendiri, apalagi dengan sasaran yang tidak boleh dibunuh atau diserang. Serangan Bom bunuh diri seperti yang dilakukan oleh teroris merupakan serangan yang bersifat putus asa.
Ishtisyhad dalam Islam adalah orang yang ingin berjihad di jalan Allah, termasuk maju di medan perang untuk melemahkan musuh sehingga jika mati maka mencapai derajat syahid.
PENUTUP
Kesimpulan
Namun kebenaran adalah presentasi dari bagian-bagian realitas yang berbeda dan terkendali, yang ditekankan dan yang disembunyikan. Begitu pula dengan kerangka yang dibuat oleh media massa Voa Islam dalam mengolah berita mengenai terorisme. Pembingkaian mengenai berita terorisme Islam pun sama, sejak pertama kali didirikan hingga saat ini.
Termasuk pemberitaan Voa Islam selama kurun waktu 6 bulan yang diteliti, yaitu antara September 2012 hingga Maret 2013. Voa Islam memberitakan hal tersebut pada bulan September dan menyatakan bahwa hal tersebut berbeda dengan cara terorisme yang dilakukan selama ini, yaitu sangat mungkin hal ini dilakukan oleh pihak berwenang dan intelijen mereka sendiri. Semuanya mengarah pada fakta bahwa apa yang dilakukan Metro TV dengan mengundang Bambang Pranowo adalah tuduhan yang tidak relevan, dan data yang diperoleh dari variabel penelitian sangat lemah.
Saran-Saran