• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis kekerasan terhadap perang di suriah dalam perspektif

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "analisis kekerasan terhadap perang di suriah dalam perspektif"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEKERASAN TERHADAP PERANG DI SURIAH DALAM PERSPEKTIF KONFLIK JOHAN GALTUNG (2011-2017)

ANALYSIS OF VIOLENCE IN SYRIAN WAR: CONFLICT PERSPECTIVE OF JOHAN GALTUNG (2011-2017)

Jovita Pontoh1, I Gede Sumertha K Y2, Makmur Supriyatno3

Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Fakultas Keamanan Nasional, Universitas Pertahanan

([email protected])

Abstrak -- Konflik di Suriah telah terjadi selama 7 tahun semenjak fenomena Musim Semi Arab yang menjatuhkan rezim-rezim otoriter di Timur Tengah. Perlawanan Bashar al-Assad melawan oposisi mendapatkan sorotan utama bagi aktor-aktor internasional yang berusaha untuk meresolusi konflik tersebut. Konflik yang semula terbatas pada polarisasi berkembang menjadi perang hanya dalam waktu kurang dari satu tahun, dari konflik intra negara menjadi konflik internasional, dengan keterlibatan berbagai negara dalam upaya intervervensi dan proksi. Perang semakin diperkeruh dengan kehadiran kelompok-kelompok teror, terutama ISIS dan Jabhat al-Nusra. Berdasarkan hal tersebut maka analisis tiga jenis kekerasan dalam perspektif Galtung: struktural, kultural, dan langsung perlu dilakukan untuk mengetahui kekerasan dalam konflik Suriah agar konflik tersebut dapat dilihat secara holistik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara dan studi literatur. Data diperoleh dari informan dan literatur yang selanjutnya dianalisis menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Suriah memiliki tingkat kekerasan langsung, struktural dan kultural yang besar, dan dalam perang kekerasan langsung mendominasi kekerasan lainnya.

Kekerasan yang terjadi diakibatkan oleh faktor internal dan politik internasional yang mempengaruhi.

Kata kunci: konflik Suriah, musim semi Arab, Johan Galtung

Abstract -- Syrian conflict has been occurred for more than 7 years since Arab Spring phenomenon overthrew many authoritarian regimes in Middle East. Civilian fights against Bashar al-Assad came under the spotlight in international world for its escalation that shifted rapidly over the years until it became a civil war fused with terrorism and international interventions. It became more complicated with the existence of many rebel groups and state sponsors behind their activities, which increased the destruction capacity of those groups and terrorists. Identification among actors are blurry since one actor has more than one role, and also those groups separated and fused because of the differences in goals. Based on that background, analyze three types of violence according to Galtung: structural, cultural, and direct violence is needed to discover violence in Syria therefore the conflict would be perceived holistically. This research is uses qualitative method of interview and literature research. The result of this research shows

1 Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Fakultas Keamanan Nasional, Universitas Pertahanan.

2 Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Fakultas Keamanan Nasional, Universitas Pertahanan.

3 Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Fakultas Keamanan Nasional, Universitas Pertahanan.

(2)

that Syria has a high level of direct violence, structural violence and cultural violence, in this case direct violence dominated the others during the civil war. The domination of direct violence triggered the growth of structural and cultural violence, therefore the loop of violence must be ended. Those violence are the result of the accumulative of internal factors such as the failure of the government to settle mass protests, separatist movements inside Syrian Army, tentions between sects and international politics that are related.

Key words: Syrian Conflict, Arab Spring, Johan Galtung

Pendahuluan

ada tahun 2011, dimana terjadi fenomena Arab Spring yang menjatuhkan rezim-rezim otoriter di kawasan negara-negara Arab, Suriah juga turut terkena imbasnya dengan terancamnya eksistensi pemerintahan Presiden Bashar al-Assad dikarenakan tuntutan rakyatnya yang menginginkan demokrasi, perang sipil pecah terjadi antara pihak pro pemerintahan dan oposisi.

Melihat keberhasilan rakyat dalam menjatuhkan presiden Tunisia, Mesir, dan Libya, rakyat pro-demokrasi di Syria optimis dalam melakukan protes atas dinasti kepresidenan al-Assad yang telah terjadi sejak Hafiz al-Assad berkuasa pada tahun 1971 agar terjadi proses demokrasi, melihat melemahnya perkembangan ekonomi dan minimnya kebebasan yang terjadi di Syria merupakan bagian dari penyimpangan kekuasaan dari Bashar al-Assad. Namun respon pemerintah dalam menangkal aksi – aksi protes tersebut sangat keras, sehingga

aksi protes berubah menjadi konflik antara anti-pemerintah melawan pasukan nasional Suriah yang kemudian bertransformasi menjadi perang sipil.

Konflik bergerak sangat dinamis hingga memunculkan aktor-aktor baru pemicu eskalasi konflik. Keterlibatan kelompok-kelompok teroris dan pemberontak telah mengubah peta perang konflik yang semula hanya dua polar menjadi jauh lebih kompleks. Kubu oposisi tidak hanya sebuah kelompok yang ingin menjatuhkan Assad, hubungan diantaranya berkembang sangat kompleks. Kelompok- kelompok pemberontak terbagi menjadi beberapa kubu dengan tujuan yang berbeda-beda, terdiri atas kelompok- kelompok kecil yang beroperasi di tingkat lokal dan kelompok-kelompok yang memiliki kekuatan yang lebih besar dengan afiliasi antar negara dan antar kelompok.

Koalisi dari pemberontakan utama terdiri dari Free Syrian Army sebagai yang terbesar, Martyrs of Syria Brigades,

P

(3)

Northern Storm Brigade dan Ahrar Souriya Brigade.

Kelompok jihadis menjadi salah satu ancaman utama dengan kehadiran Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan Al-Nusra Front yang memiliki ribuan pejuang dari negara luar dengan afiliasi Al-Qaeda.

Kelompok lainnya yang menjadi aktor konflik adalah pemberontak Kurdish yang merupakan gabungan partai-partai Kurdish, dan kelompok-kelompok independen seperti Ahfad al-Rasoul Brigades dan Asala wa al-Tanmiya Front dengan jumlah kekuatan besar, Durou al- Tharawa Commision, Tajammu Ansar al- Islam, Yarmouk Martyrs’ Brigade dan National Unity Brigades. Perubahan bentuk konflik bersenjata menjadi International Armed Conflict ketika negara-negara yang merasa memiliki keprihatinan atas konflik ini turut melibatkan diri. Negara-negara ini pun terbagi atas pro dan kontra pemerintah. Yang terbesar dari kedua polar tersebut adalah pihak Rusia didukung oleh Iran untuk mendukung presiden al-Assad dan koalisi Amerika di pihak oposisi. 4

4 Anonim, “Guide to the Syrian rebels”, dalam https://www.bbc.com/news/world-middle-east- 24403003, diakses pada 12 Agustus 2018.

5 Tareq A. Hawari, “Syria’s Civil War and the Secterian Violence Dilemma: a Study on the

Penelitian-penelitian mengenai konflik Suriah sudah diangkat sebelumya baik di dalam jurnal maupuntesis. Seperti tesis karya Hawari (2016) yang mengangkat tentang konflik antar sekte Sunni dan Alawi di Suriah dengan hasil penelitian bahwa kondisi sebelum konflik meliputi mitos- mitos antar grup, ketakutan etnis, dan kesempatan mobilisasi menjadi dasar untuk konflik bergerak dinamis, yakni mengkatifkan mobilisasi aktif.5 Penelitian lainnya adalah oleh Kraus (2015) mengenai ISIS sebagai salah satu aktor konflik di Suriah, membahas mengenai motif, tujuan dan cara operasinyanya. Penelitian ini akan membahas hal-hal tersebut namun dalam ketiga kategori besar yang telah disususn oleh Johan Galtung. Melalui latar belakang tersebut, perumusan masalah yang akan diteliti adalah “bagaimana kekerasan struktural, kultural, dan langsung dari konflik di Suriah? (2011-2017)?”.

Dengan perkembangan yang begitu cepat disertai dengan banyaknya faktor yang mempengaruhi konflik maka penulis mengangkat konflik Suriah untuk diteliti

Development of the Sunni-Alawite Struggle”, Tesis Magister, Illiniois: Department of Political Science, 2016), Abstrak.

(4)

agar pengetahuan mengenai konflik tersebut semakin menyeluruh.

Metode Penelitian

Tempat atau lokasi penelitian dilaksanakan di Jakarta secara spesifik bertempat di Kementerian Luar Negeri, khususnya pada Subdirektorat Timur Tengah, Kementerian Pertahanan khususnya pada Direktorat Jenderal Kerjasama Internasional, serta badan intelijen yakni Deputi 1 BIN untuk secara lebih dalam menggali data terkait pertanyaan penelitian. Peneliti memperoleh data primer dengan cara wawancara kualitatif, yaitu dengan face-to- face interview, melalui telepon ataupun surat elektronik, ataupun terlibat dalam group interview. Sebagai data yang membantu untuk memperoleh informasi diperoleh dari studi pustaka, literatur terkait, jurnal, internet berkaitan dengan pertanyaan penelitian. Peneliti melakukan triangulasi sumber, teknik, dan waktu untuk memverivikasi data-data yang diperoleh, serta menggunakan model analisis Miles dan Huberman dalam data collection, data display, data reduction.

6 Johan Galtung, Peace by Peaceful Means. (London:

SAGE, 1996).

Hasil Penelitian dan Pembahasan Segitiga Kekerasan Johan Galtung6

Kekerasan berada pada tingkatan terlihat dan tidak terlihat. Keterkaitan pada setiap sudut segitiga mengakibatkan Direct violence yang berbentuk perang, pembunuhan, dan tindakan kekerasan fisik lainnya merupakan bentuk dari behavior juga memperkuat kekerasan lainnya, dan sebaliknya. Cultural violence merupakan sikap dan kepercayaan yang membenarkan dan melegitimasi kekekerasan struktural sehingga rasional kekerasan dianggap yang paling benar dalam menghadapi situasi, dan cultural violence merupakan ketidakadilan dan eksploitasi di sistem sosial, sehingga menghambat kemampuan seseorang untuk mengembangkan kemanusiaannya secara utuh.

(5)

A. Kekerasan Langsung Kerusuhan sipil (Maret – Juli 2011)

Musim Semi Arab melanda Suriah, masyarakat sipil di kota Damaskus dan Aleppo menuntut reformasi demokratis dan pembebasan tahanan politis. Protes tersebut diresponi dengan penahanan enam orang demonstran. Kerusuhan semakin berlanjut dengan pembakaran kantor pusat partai Ba’ath dan gedung lainnya pada 20 Maret 2011 menyebabkan korban jiwa 7 orang polisi dan 15 demonstran. Pada bulan-bulan berikutnya protes semakin membesar dengan menuntut pergantian rezim di 20 kota mengakibatkan 1000 warga sipil serta 150 tentara dan polisi meninggal dunia serta penahanan mahasiswa dan aktifis.7

Awal Pemberontakan Senjata (Juli 2011 – April 2012)

Terbentuknya kelompok-kelompok pemberontak bersenjata melawan rezim otoritarian diawali dengan terbentuknya Free Syrian Army (FSA) yang bertujuan untuk mengganti Bashar al-Assad dari kursi kepresidenan Suriah beserta dengan jajarannya. Didirikan oleh para

7 Anonim, “Armed residents put up resistance to

Syrian army”, dalam

https://www.khaleejtimes.com/article/20110531/AR

pemberontak dari angkatan militer Suriah, organisasi ini semakin terstruktur dan serangan-serangan yang dilakukan semakin efektif. Kelompok-kelompok lainnya juga terbetuk secara cepat, pada Juli 2011 pasukan pemerintah melakukan

“Pembantaian Ramadhan” mengakibatkan korban jiwa setidaknya 142 orang dan ratusan luka-luka di kota Hama. Akibatnya koalisi anti pemerintahan berbasis di Turki Syrian National Council terbentuk dengan tujuan untuk mengorganisir oposisi.

Sejak awal bulan Agustus 2011 pemerintah Suriah melancarkan operasi untuk menekan para demonstran di seluruh negeri. Puncaknya di pesisir pelabuhan kota Latakia pada 14 Agustus, pasukan Suriah memerangi para demonstran dengan menggunakan senjata-senjata berat seperti tank dan kapal angkatan laut. Peristiwa tersebut menyebabkan tewasnya 26 masyarakat sipil, dimana menurut Syrian Observatory for Human Rights korban jiwa dan luka-luka disebabkan sebagian besar oleh serangan dengan senapan mesin. Menurut Deputi Politik PBB, sejak Maret hingga Agustus

TICLE/305319890/1016, diakses pada 28 November 2018.

(6)

2011 pemerintahan Assad telah membunuh sekiranya 2000 masyarakat sipil.8 Pada September dan Oktober 2011, terjadi pertempuran Pertempuran Rastan, yakni pertempuran antara tentara Suriah dan FSA terjadi di Rastan, bagian utara dari kota Homs. Kemenangan diperoleh militer Suriah dengan tahanan politik sebanyak kurang lebih 2000 orang dan korban jiwa sebanyak 7 orang polisi dan tentara, dan 120 pemberontak dan masyarakat sipil.

Kekalahan FSA menyebabkan Kolonel Riad Asaad, pimpinan FSA, melarikan diri ke Turki dan diterima dengan tangan terbuka.

Pertempuran oposisi dan pemerintah terjadi secara terus menerus pada masa ini.

Perang Sipil

Pada tahap ini konflik berkembang menjadi perang sipil seutuhnya, hal ini ditandai dengan peristiwa Pembantaian Houla.

Menurut kelompok pemberontaak Syrian National Council terdapat korban jiwa sebanyak 110 orang termasuk diantaranya adalah anak-anak di dalam peristiwa

8 Khaled Y. Oweis, “Tank, navy attack on Syria’s Latakia kills 26: witness”, dalam https://www.reuters.com/article/us-syria/tank- navy-attack-on-syrias-latakia-kills-26-witnesses- idUSTRE77D0LP20110814, diakses pada 29 November 2018.

tersebut. Di duga dilakukan oleh militer Suriah sebagai upaya memberantas gerakan anti pemerintah, Pasukan Shabiha sebagai loyalis Assad juga dianggap terlibat dalam pembantaian.9 Bertantangan dengan hal tersebut, pihak Suriah menyatakan bahwa kelompok terorislah yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut dan pasukan pemerintah bertindak untuk melindungi masyarakat dari serangan tersebut. Menteri Luar Negeri Suriah menyatakan bahwa massa berkumpul di lokasi pembentaian dengan membawa persenjataan berat termasuk misil anti tank dan menciptakan kerusuhan dengan membakar ladang-ladang pertanian dan rumah-rumah serta merusak rumah sakit nasional di Taldao.

Dalam suratnya kepada Sekretariat PBB, Menteri Luar Negeri Suriah menyatakan, “The terrorists started the offensive at 2.00 pm on Friday, attacking the area from al-Rastan, Talbiseh and al- Qseir, savagely killing several families, including children, women and elders,”

9 Anonim, “Syrian activists condemn Houla

‘massacre’”, dalam

https://www.aljazeera.com/news/middleeast/2012/

05/20125265258397885.html, diakses pada 29 November 2018.

(7)

selanjutnya juga dikatakan bahwa tidak ada tank memasuki area kejadian dan pasukan militer Suriah beroperasi dalam keadaan self defense. Dalam laporannya juga disertakan bahwa media menyebarkan kampanye yang tidak dapat dipercaya, bahwa wanita dan anak-anak dikumpulkan dalam suatu area dan dibunuh dalam serangan jarak dekat, tidak dibunuh menggunakan meriam militer seperti yang diberitakan, dengan bukti tidak ada debu yang menyelimuti jenazah sebagaimana seharusnya jika dieksekusi sedemikian rupa. Pemerintah menduga bahwa kelompok afiliasi al-Qaeda bertanggung jawab atas kejadian tersebut dan serangan- serangan lainnnya.

Presiden Assad menyatakan bahwa (hingga Maret 2012) jumlah korban jiwa mencapai 7000 jiwa yang disebabkan oleh pemberontakan. Dalam kesempatan yang sama, ia mengatakan bahwa pemerintah melakukan pemberantasan terhadap teroris, bukan melakukan penyiksaan terhadap masyarakatnya sendiri. Namun begitu, presiden menolak permintaan

10 Alex Spillius dan David Blair, “Syria: Bashar al- Assad vows to crush ‘foreign-backed terrorism’ as army targets new cities”, dalam https://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/m

International Committtee of the Red Cross (ICRC) untuk menjalankan gencata senjata setiap hari selama dua jam mengirimkan bantuan kemanusiaan.10

Pada tanggal 12 Juni 2012, PBB menyatakan bahwa negara Suriah berada dalam keadaan perang sipil. Hal tersebut beriringan dengan berkembangnya perang di negara tersebut dan kegagalan upaya gencatan senjata. Pada Desember 2012 menurut pemerintah Amerika, Suriah menembaki pemberontak dengan misil balistik. Pada saat yang hampir bersamaan, kelompok pemberontak Jabhat al-Nusra berhasil menguasai pangkalan udara, amunisi, dan perlengkapan militer di Taftanaz provinsi Idlib. Meskipun dinyatakan sebagai kelompok teroris, Amerika mendukung aktifitas Nusra baik dalam persenjataan maupun pelatihan.

Angkatan bersenjata dibawah Partai Persatuan Demokratis (PYD), Kurdish Protection Unit (YPG), beradu tempur dengan kelompok pemberontak FSA yang menyerang wilayah etnis minoritas tersebut. Pernyataan FSA bahwa PYD

iddleeast/syria/9127057/Syria-Bashar-al-Assad- vows-to-crush-foreign-backed-terrorism-as-army- targets-new-cities.html, diakses pada 29 November 2018.

(8)

merupakan angkatan bersenjata yang memihak pada status quo pemerintahan Suriah dan mengabaikan upaya pendekatan tanpa kekerasan FSA.

Sedangkan pernyataan dari Kurdish Youth Movement (TCK) bahwa keberhasilan FSA dalam mengambil alih pangkalan militer Taftanaz menambah kekuatan mereka dan berkeinginan untuk memperluas wilayah mereka hingga ke permukiman Kurdistan.

Pada Maret 2013, pemberontak berhasil merebut kota Raqqa, pasukan YPG yang semula diafiliasikan dengan pemerintah berhasil mengambil alih area kaya minyak di provinsi Hasakah. Pada awal April Negara Islam Iraq berhasil melebarkan pengaruhnya ke dalam negara Suriah dan mengubah namanya menjadi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Organisasi ini merupakan merger dari al-Qaedah di Iraq dan kelompok al-Nusra di Suriah dimana keduanya memiliki satu tujuan, yakni mendirikan negara Islam di Iraq dan Suriah.

ISIS kemudian menjadi target sasaran kelompok-kelompok pemberontak lainnya karena aksi terornya yang tidak hanya menyerang loyalis Assad, tetapi juga para pemberontak.

Pasukan pro pemerintah bersama- sama dengan Hebollah kemudian menyerang kembali kota-kota yang sudah direbut pemberontak dan mengambil alih kota Qusayr di dekat perbatasan dengan Lebanon pada April 2013. Menargetkan pangkalan militer Suriah, para kelompok pemberontak dan ISIS berkonfrontasi dengan FSA serta pemerintah untuk menaklukan pangkalan udara di Menagh.

Pengepungan di pangkalan tersebut terjadi selama 10 bulan, dimana pada akhirnya pasukan pemerintah kalah melawan pemberontak dengan korban jiwa pada pertempuran akhir sebanyak 32 tentara dan 19 pemberontak. Pada Agustus 2013 terdapat serangan kimia melanda daerah Ghouta di daerah Damascus diikuti oleh serangan militer Suriah di area tersebut.

Dari kejadian tersebut diduga pemerintah menggunakan senjata kimia untuk merebut kembali daerah tersebut hingga mendapat kecaman PBB.

Namun organisasi kemanusiaan White Helmets yang mengevakuasi korban akibat serangan kimia diduga memainkan peran untuk membuat video palsu mengenai penyerangan senjata kimia.

Organisasi tersebut bukanlah organisasi

(9)

netral, yang dapat dibayar untuk framing berita sebagaimana dibentuk oleh James Le Mesurier, mantan intelijen Inggris. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Jim Jatras, mantan diplomat dan politisi Amerika bahwa pemerintah Suriah tidak menggunakan senjata kimia pada serangan-serangannya. Meskipun begitu, diluar propaganda AS, pemerintah Suriah tetap diduga memiliki dan menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya.11

Pada akhir 2013, pasukan Suriah bersama dengan Hezbolah dan brigade al- Abas melancarkan serangan ke kota Damaskus dan Aleppo untuk mengambil alih kawasan yang sudah dikuasai pemberontak. Pada masa ini, kepala intelijen militer Suriah Mayor Jendral Jameh Jameh tewas ditangan pemberontak dalam operasinya di provinsi Deir Ezzor. Serangkaian pertempuran antara pasukan pemerintah Suriah dan pemberontak untuk mengambil alih kota- kota terus terjadi hingga akhir 2013.

11 Wawancara dengan Atase Pertahanan Rusia untuk RI Kolonel Nikolay Nikolayuk di Kuningan City pada 22 Agustus 2018.

Pertempuran antar kelompok ekstrimis Islam

Ketegangan antar kelompok pemberontak sudah terjadi sejak tahun 2012, seperti pada Juli 2012 terjadi pertempuran antara FSA dengan al-Qaeda dan pada tahun 2013 antara FSA dan al- Nusra yang terjadi selama beberapa kali, diantaranya pada Tell Abyad, Abu Azzam di Suriah dan Sanliurfa di Turki. Pertempuran antara ISIS dan kelompok oposisi bersenjata lainnya juga telah terjadi pada tahun 2013, diantaranya antara ISIS dan FSA pada kota al-Dana dan Jarabus, serta penyerangan dan penangkapan ISIS kepada Nothern Storm Brigade (anak Kelompok FSA) di kota Azaz. Namun intensitas tertinggi dalam pentempuran antar kelompik pemberontak terjadi pada tahun 2014.

Pada bagian selatan Suriah, khususnya di provinsi Daraa terjadi pengecaman oleh al-Nusra untuk melarang adanya kelompok yang bergabung dengan koalisi pemberontak baru “Front Selatan”

dan menculik pimpinan FSA al-Nameh sebagai peringatan. Pada saat yang

(10)

bersamaan, kepala organisasi Koalisi Nasional Suriah mengunjungi Amerika menyepakati “misi luar negeri” Amerika untuk memberantas al-Qaeda. Organisasi tersebut tidak mengakui al-Nusra sebagai koalisinya.12

Pada Oktober 2015, Front Selatan menyatakan bahwa kelompoknya berhasil menguasai “Bukit PBB” di provinsi Quneitra yang sebelumnya di klaim oleh al- Nusra sebagai kemenangannya. Kemudian dalam tweet-nya Front Selatan menegaskan penolakan terhadap koalisi dengan al-Nusra dengan alasan tidak memiliki visi yang sama terhadap kebebasan Suriah.

FSA kemudian membentuk koalisi baru dengan kelompok Jaysh al Fateh untuk menandingi Front Selatan untuk menguasai bagian selatan Suriah. Namun dengan kekuatan yang lebih besar, Front Selatan berhasil menguasai pangkalan militer Brigade 52 dari tangan tentara Suriah. Al-Nusra berkonflik di daerah lainnya, salah satunya adalah Idlib dengan FSA dan kelompok-kelompok lainnya.

12 Abdulrahman al-Masri, “Tensions over Al-Qaeda efforts for influence in south Syria, dalam https://www.middleeastmonitor.com/20140512-

Pertarungan antar kelompok juga terjadi di daerah Aleppo, dimana koalisi Jaysh al-Thuwar (dominasi FSA) bertempur dengan al-Nusra dan koalisi Marea Operations Room (dominasi FSA dan YPG lainnya). Pertempuran yang tidak diakui oleh YPG dan al-Nusra tersebut terjadi ditengah-tengah aksi militer udara Rusia di kawasan. Hal serupa terjadi di kawasan Aleppo antara koalisi Syrian Demokratic Forces (dominasi YPG), koalisi Army of Revolutionaries (dominasi YPG), dan Mare’

Operations Room (dominasi FSA). Pada bulan April – Mei 2016 terjadi pertempuran di Ghouta Timur antara al-Nusra, Jaysh al- Fustat dan al-Rahman Legion (afiliasi FSA) melawan penguasa wilayah Jayash al-Islam.

Dalam kurun waktu tersebut lebih dari 500 pemberontak dan puluhan warga sipil menjadi korban jiwa. Pertarungan yang hampir sama terjadi setahun kemudian pada 2017, pertarungan antar pemberontak dihentikan pasukan Suriah untuk menguasai wilayah tersebut dengan bantuan serangan udara oleh Rusia.

Pertarungan tidak hanya terjadi antar kelompok, tetapi juga intra struktural

tensions-over-al-qaeda-efforts-for-influence-in- south-syria/, diakses pada 5 Desember 2015.

(11)

seperti yang terjadi di perbatasan Turki antara FSA Turki dan Suriah.13

Pertempuran antara koalisi oposisi melawan ISIS

Terjadi pertempuran besar selama bulan Januari – Maret 2014 antara ISIS dan kelompok-kelompok pemberontak lainnya.

Selama bulan Januari, pertempuran dalam perebutan wilayah kekuasaan terjadi sangat intens dengan pergantian penguasa atas distrik dan pedesaan di Idlib, Aleppo, dan Raqqa. Kelompok-kelompok pemberontak mampu melakukan perlawanan dengan ISIS dengan membentuk koalisi pemberontak. Namun penguasaan tersebut tidak bertahan lama karena intensitas perang yang tinggi dan terjadi secara terus-menerus.

ISIS pada mulanya diterima baik oleh kolompok-kelompok pemberontak di daerah-daerah kekuasaannya. Namun dengan melakukan penyerangan terhadap oposisi tersebut, ISIS menjadi target sasaran yang harus dimusnahkan. Salah satu faktor terbesar yang menyebabkan perlawanan terhadap ISIS menjadi

13 Chris Tomson, “Rebels storm Misraba village as insurgent fighting engulf East Ghouta”, dalam https://www.almasdarnews.com/article/rebels- storm-misraba-village-insurgent-infighting-

menguat adalah eksekusi Dr. Hussein Suleiman (Abu Rayyan) seorang pimpinan kelompok Ahrar al-Sham yang juga dihormati di kalangan oposisi. Dalam pernyataan persnya, kelompok pemberontak Koalisi Nasional Suriah cenderung mencurigai tindakan tersebut sebagai agenda ISIS dalam mendukung pemerintahan Assad.

Selanjutnya selama Januari 2014 pertarungan antara ISIS melawan koalisi pemberontak terjadi secara setiap harinya di berbagai daerah. Penyerangan terhadap markas ISIS maupun pemberontak dilakukan oleh kedua belah pihak, diikuti dengan perebutan pangkalan udara, penculikan dan eksekusi anggota, serta penguasaan daerah yang mengakibatkan ribuan korban jiwa selama satu bulan tersebut. ISIS mencapai kejayaannya dengan menguasai provinsi Raqqa dan beberapa daerah di Aleppo secara utuh setelah pertarungan berat melawan koalisi.

Pada bulan Februari 2014 Al-Qaeda memutuskan afiliasinya terhadap ISIS dikarenakan tindakannya melawan sesama

engulfs-damascus/, diakses pada 8 Desember 2018.

(12)

oposisi. Penyerangan dan benturan antara ISIS dan koalisi pemberontak tetap berlanjut, serta adanya ultimatum di kota Aleppo untuk ISIS agar bergabung dengan koalisi atau angkat kaki dan kembali ke Iraq.

Pada pertengahan Februari terjadi pertarungan perebutan daerah kekuasaan antara ISIS dan koalisi serta Kurdis di Aleppo utara. ISIS sempat berhasil menguasai ladang minyak di Raqqa, namun hanya bertahan selama 3 hari.

Pada pertengahan bulan Maret ISIS mundur seutuhnya dari provinsi Idlib dan Latakia, serta menguasai ladang minyak dan gas di Deir Izzor selama tiga hari setelah bertempur melawan al-Nusra. Pada bulan-bulan selanjutnya pada tahun 2014, serangan ISIS semakin mengeskalasi dengan kekuatannya yang semakin besar hingga mampu menguasai hampir keseluruhan provinsi Deir Ez-Zor pada bulan Juni 2014. ISIS juga terus bertarung melawan kelompok pemberontak, salah satunya Jasyah al-Islam di Ghouta, Damaskus dan menyerbu beberapa kota serta desa yang dikuasai koalisi pemberontak di Aleppo. AS dan Turki membantu para pemberontak untuk melawan ISIS pada perbatasan Suriah

dengan Turki, dimana keterlibatan Turki meliputi serangan udara dan darat oleh tentara nasionalnya serta bantuan terhadap kelompok-kelompok pemberontak sedangkan AS cenderung tidak melibatkan diri secara fisik.

Serangan Pemerintah

Pada bulan Maret dan April 2014 pemerintah melakukan serangan balik dan berhasil merebut kembali kota-kota diperbatasan dengan Lebanon. Pemerintah berhasil merebut kota tersebut dengan bantuan pasukan Hebollah. Wilayah tersebut penting untuk menghentikan pasokan sejata para pemberontak.

Pemerintah mengungkapkan bahwa penyerangan tersebut adalah upaya untuk memberantas terorisme. Pemerintah juga merebut beberapa wilayah kunci di Damaskus, yang merupakan jalur internasional yang menghubungkan Damaskus dengan provinsi-provinsi lainnya, serta tempat persebunyian utama para pemberontak.

Selain pemberontak, pemerintah juga bertarung melawan pasukan Israel.

Hal tersebut terjadi beberapa kali, termasuk pada bulan Maret 2014 Israel melancarkan bom kepada tentara Suriah

(13)

dan menguasai daerah Golan.14 Pada pertenghan 2014 pemerintah menyerang basis-basis ISIS di kota Raqqa, Hasakah, dan Latakia bersama dengan pasukan Iraq. Di provinsi Homs, ISIS berhasil menguasai ladang gas Shaar dengan korban 115 orang pasukan pemerintah dan warga sipil serta 21 anggota pemberontak yang kemudian diserang dan dikuasai kembali oleh pemerintah. Kekuatan FSA dalam melawan pasukan pemerintah didukung oleh Israel dan Amerika, hal ini terlihat pada pasokan senjata-senjata buatan kedua negara tersebut dan pengakuan komandan FSA.

Sepanjang bulan Agustus 2014 terjadi pertempuran antara ISIS dan pasukan pemerintah dalam menguasai pangkalan udara, wilayah dan kota, serta penyerbuan pangkalan oleh kedua belah pihak, seperti penguasaan ISIS terhadap pangkalan brigade 93 di Raqqa disertai dengan pengeboman bunuh diri, penyerbuan pangkalan udara Tabqa oleh ISIS di kota yang sama yang kemudian direbut kembali oleh tentara Suriah sepekan kemudian, serta perebutan kembali kota-kota di Raqqa. Pemerintah juga merebut kota dari

14 Anonim, “Israel bombs Syria’s Golan after blast”, dalam

https://www.aljazeera.com/news/middleeast/2014/

kelompok pemberontak lainnya, seperti kota Mleiha yang sebelumnya dikuasai oleh Islamic Front.

Intervensi Internasional

Intervensi internasional secara umum terbagi menjadi dua kubu, yakni kubu pendukung pemerintah dan kubu oposisi.

Pada pihak oposisi kubu yang dominan adalah AS, Turki dan Israel, sedangkan pada kubu pendukung terdapat Iran dan Rusia.

AS sudah terlibat di dalam perang Suriah sejak penyerangan dengan senjata kimia yang dituduhkan kepada pemerintah dengan memberikan pasokan senjata, pelatihan, namun intervensi secara langsung dilakukan pada misinya melawan ISIS bersama dengan koalisi Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Jordan menargetkan pusat-pusat komando dan logistik ISIS.

Sejak tahun 2015 AS membentuk koalisi internasional yang terdiri dari Canada, Australia, New Zealand, NATO, negara-negara Arab, dan Turki untuk melawan ISIS. Serangan-serangan yang dilancarkan untuk melumpuhkan ISIS juga dilaksanakan pada tentara Suriah dan

03/israel-deploys-artillery-after-golan-blast- 2014318173434341989.html, diakses pada 3 Desember 2018.

(14)

kelompok pro pemerintah di berbagai kota.

Ketegangan dan benturan antara koalisi dengan Rusia juga kerap terjadi dalam operasi militer keduanya, seperti saling tuduh terhadap penyerangan yang memakan korban jiwa militer Suriah dan sipil, maupun yang merusak fasilitas umum, serta penyerangan yang menyebabkan korban jiwa militer AS maupun Rusia.

Turki dengan kepentingan keamanan nasionalnya dimana secara langsung berbatasan dengan Suriah berupaya agar pasukan Kurdistan di bagian utara Suriah tidak membahayakan negaranya. Turki berpihak pada oposisi pemerintah, namun menolak penguatan YPG yang dilakukan oleh koalisi Amerika, sehingga ketegangan politik sering kali terjadi diantara kedua negara tersebut.

Sebagai negara dengan perbatasan terbesar dengan Suriah, konfrontasi tidak terhindarkan di perbatasan tersebut.

Terjadi bertarungan antara ISIS dengan tentara nasional Turki serta pelaksanann operasi koalisi gabungan dengan AS untuk memberantas kelompok tersebut.

15 Wawancara dengan perwakilan Subdirektorat Rusia Kementerian Luar Negeri RI Bp. Darmawan

Pertarungan juga terjadi antara pasukan Turki melawan YPG di kawasan.

Negara-negara perbatasan lainnya juga terlibat dalam perang ini, seperti konfrontasi di daerah Golan Heights antara tentara Israel dengan Hezbollah dan pasukan Suriah. Israel menolak tuduhan dengan sengaja melakukan penyerangan- penyerangan terhadap pasukan Ba’ath dan Hezbollah. Lebanon juga terlibat dalam perang melalui pasukan Hezbollah yang mendukung pemerintah. Melalui bantuan oleh pasukan Hezbollah, Suriah berhasil merebut daerah-daerah dekat perbatasan Lebanon dengan kepentingan mengamankan rute utama jalur pengiriman senjata Iran ke Lebanon sehingga Hizbullah mengirimkan ribuan pasukannya dan Iran mengirimkan milyaran dolar untuk mendukung pemerintah Suriah. Dalam pihak oposisi, Saudi mengambil posisi untuk sepihak dengan AS sebagai salah satu sekutu terdekat dan mengirimkan bantuan militer kepada pemberontak, termasuk kelompok-kelompok radikal.15 Kekerasan juga terjadi di Iraq dengan konfrontasi antara kelompok pemberontak

di Kementerian Luar Negeri RI, pada 25 September 2018.

(15)

dan tentara Iraq. Kedua negara berusaha untuk mengalahkan dominasi ISIS, yang sering kali bertanggung jawab atas serangan-serangan di perbatasan. Upaya infiltrasi terjadi di perbatasan dengan Jordan berupaya untuk menyelundupkan narkoba.

Perancis sebagai bagian dari NATO juga terlibat di dalam konflik Suriah sebagai oposisi Assad, namun pada praktiknya Perancis juga bekerjasama dengan Rusia di dalam berbagai penyerangan. Keterlibatan Perancis yang ambigu disebabkan oleh hubungan eks-koloni dengan Suriah, kepentingan keamanan Perancis terhadap serangan terorisme yang terjadi di negaranya, serta kepentingan untuk menciptakan citra sebagai pemimpin kemanusiaan dan sebagai alternatif dari kekuatan global yang di dominasi oleh AS.

Dalam perspektif Kementerian Luar Negeri RI, bahwa kepentingan negara- negara lain cenderung mempersulit konflik yang sudah sangat rumit di dalam internal Suriah. Hal-hal pendukung eskalasi seperti identitas sekte yang beragam dengan kepentingannya masing-masing,

16 Wawancara dengan perwakilan Badan Intelijen Negara, pada 21 Januari 2019.

lingkungan strategis persaingan antara Sunni dan Syiah di dunia Arab, serta pemerintahan otoriter dan tidak ada kebebasan beropini semakin diperumit dengan persaingan antara kekuatan global AS dan Rusia, serta kekuatan regional Saudi dan Iran. Menurut perspektif pribadi narasumber, aktor-aktor internasional pendukung opsisi merupakan salah satu eskalator terbesar di dalam konflik ini.

Dalam Perspektif Badan Intelijen Negara RI, koalisi Barat beserta dengan sekutu Arab dan Turki memiliki kepentingan untuk mengeksploitasi cadangan minyak dan gas alam yang ada di Suriah. Hal tersebut karena pada umumnya di wilayah negara-negara lain ketebalan tanah yang mengandung minyak dan gas alam hanya sekitar 10-20 meter, sementara di Suriah ketebalannya mencapai hingga 350 meter. Hal tersebut menandakan kandungan minyak dan gas yang mencapai miliaran barel, menjadikan negara-negara manapun berkeinginan untuk menguasainya.16

Situasi yang tidak stabil menyebabkan masyarakat dengan mudah

(16)

membentuk militan bersenjata.

Demonstrasi berubah menjadi konflik bersenjata, diantaranya antara tentara Suriah melawan FSA, al-Nusra, YPG, serta kelompok-kelompok lainnya yang bermusuhan maupun yang berkoalisi.

Korban jiwa pada setiap pertempuran menjadi semakin besar, termasuk korban sipil. Kelompok-kelompok terus berkembang maupun terpecah secara dinamis dikarenakan persamaan maupun perbedaan ideologi dan kepentingan diantarannya. Selanjutnya kekerasan langsung berkembang menjadi perang sipil dengan semakin aktifnya angkatan bersenjata lainnya melakukan penyerangan untuk mengambil alih wilayah-wilayah di Suriah. Dengan semakin besarnya kekuatan oposisi maka pertempuran antar pemberontak terjadi dan tidak jarang menyebabkan korban sipil. Kekuatan ISIS semakin tidak terbendung sehingga menyebabkan ketidakseimbangan kekuatan oposisi dengan kekuatan negara.

Kekerasan langsung juga terjadi di dalam tubuh organisasi pemberontah.

Pertarungan tidak hanya terjadi antar kelompok, tetapi juga intra kelompok seperti pertaringan antara FSA berbasis di

Turki dan FSA berbasis di Suriah yang terjadi di perbatasan Turki. Hal ini menunjukan bahwa intervensi internasional juga turut berkontribusi dalam kekerasan langsung di Suriah.

Kepentingan nasional negara-negara tersebut menjadikan situasi di Suriah menjadi semakin tidak stabil, terutama dengan penguatan kelompok oposisi yang dilakukan oleh koalisi AS serta pertarungan-pertarungan yang terjadi di wilayah perbatasan.

AS dalam intervensinya mengundang Koalisi Nasional Suriah untuk menyepakati misi luar negeri dalam memberantas al-Qaeda. Hal ini dilakukan dengan melakukan pendanaan, pemasokan senjata, dan pelatihan kepada kelompok-kelompok tersebut. Dengan alat-alat tempur FSA merupakan senjata buatan AS dan Israel, diduga kedua negara tersebut memasok senjata kepada organisasi tersebut dan organisasi- organisasi oposisi lainnya. Gerakan AS untuk membentuk koalisi internasional untuk melawan ISIS menyebabkan adanya ketegangan keduanya di Suriah, dimana memperluas cakupan kekerasan langsung di negara Suriah.

(17)

Intervensi secara langsung dilakukan oleh Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Jordan yang bekerjasama dengan koalisi Internasional AS untuk melumpuhkan ISIS. Lebanon terlibat dengan keterlibatan pasukan Hezbollah dalam upaya mendukung pemerintah.

Turki berada pada posisi tengah-tengah secara aktif mendukung FSA dengan memberikan tempat perlindungan di negaranya serta menginginkan pergantian kepala negara, namun selanjutnya Turki merapat kepada koalisi Rusia khususnya pada tahapan peacemaking dan peacebuilding. Keterlibatan asing dengan kepentingannya masing-masing memperparah kekerasan di Suriah dengan tingginya intensitas penyerangan seiring dengan peningkatan kapasitas.

Galtung menyatakan bahwa kekerasan langsung adalah kekerasan yang paling tidak stabil. Hal ini dapat terlihat dari kecepatan eskalasi dan de-eskalasi dalam konflik di Suriah. Pembahasan sebelum intervensi Rusia, kekerasan sangat cepat berkembang dari kekerasan fisik individu, kelompok masyarakat, kelompok bersenjata, hingga terorisme yang memakan ratusan ribu korban jiwa.

Segitiga ini merupakan mata rantai yang jika tidak terputus akan semakin besar konfliknya, karena kekerasan langsung bergantung pada kekerasan kultural dan struktural pada saat yang bersamaan kekerasan langsung juga memperkuat kekerasan kultural dan struktural.

B. Kekerasan Kultural

Pergantian kekuasaan dari Havez kepada anaknya Bashar memberikan harapan kepada masyarakat Suriah akan kepemimpinan yang modern dan terbuka.

Pada awal pemerintahannya, Bashar memberikan toleransi terhadap kebebasan berpendapat dengan membebaskan tawanan politik ayahnya, memperkenalkan internet pada masyarakat, serta memberi kebebasan pada media untuk memberikan kritik yang membangun. Peristiwa tersebut dikenal dengan Musim Semi Damaskus.

Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, karena aktivis dan pergerakannya ditangkap dan dihentikan aktifitasnya, diikuti dengan sensor media yang ketat dan penutupan lembaga- lembaga media yang tidak diperkenankan oleh pemerintah dan blok website serta penargetan jurnalis dan penulis blog yang

(18)

mengkritisi pemerintahan. Kedudukan wanita yang pada awalnya dijanjikan akan menjadi setara kemudian tidak menemui titik terang dengan hukum syariat yang tidak memberikan kesetaraan pada wanita dan tidak dikembangkannya organisasi pemberdayaan wanita.

Pada masa jabatannya, Assad juga mampu untuk merevolusi ekonomi melalui kebijakan-kebijakan barunya, yakni dengan meliberalkan perekonomian dan menurunkan subsidi, namun tingginya korupsi dan nepotisme menyebabkan hanya segelintir orang yang dapat menikmati kemajuan ekonomi. Angka pengangguran yang tinggi, kesenjangan ekonomi, serta kebebasan menjadi pendorong adanya revolusi. Peningkatkan taraf hidup masyarakat Suriah akibat peningkatan ekonomi juga berdampak pada meledaknya jumlah penduduk, sehingga pada tahun 2010 55% masyarakat berumur dibawah 24 tahun. Assad melakukan pertumbuhan dalam pendidikan untuk mengimbangi jumlah penduduk muda, namun permasalahan sesuangguhnya adalah ketidaktersediaan

17 Christpher Phillips, The Battle for Syria:

International Rivalry in the New Middle East, (New

lapangan kerja bagi masyarakat.

Menyebabkan angka pengangguran mencapai 10% pada tahun 2003-2011.17

Keputusan Assad untuk mendukung Iraq dalam perang tahun 2003 menimbulkan permusuhan dengan AS dan menjadikan Suriah salah satu dari “poros setan” oleh presiden Bush. Invasi atas Lebanon semakin menegangkan situasi, hal tersebut menyebabkan putusnya hubungan dagang dengan AS serta mengajak komunitas internasional untuk memboikot hubungan diplomatik dengan Suriah. Suriah semakin mendekat pada Iran, Hebollah, Hamas, dan Rusia. Hal ini menjadikan Assad semakin sulit untuk mengembangkan ekonominya.

Konsekuensi dari perang Iraq adalah kebangkitan paham sekterian Sunni jihadist di seluruh dunia, terlebih di negara tetangga Suriah. Kehadiran Al-Qaedah Iraq (AQI) berperan besar dalam perang sipil Suriah sebagai organisasi yang mengatasi pasukan jihadis Suriah: Jabhat al-Nusra dan ISIS. Terinspirasi dari semangat jihadis, pasukan Kurdis juga memperkuat nasionalisme dan angkatan bersenjata.

Heaven and London: Yale University Press), pp.

45-46.

(19)

Tekanan baik dari dalam negeri maupun internasional terhadap reformasi rezim klan Assad yang telah berkuasa selama 40 tahun dengan segala kekerasan struktural yang ditimbulkan menjadikan baik masyarakat oposisi maupun pemimpin Israel, AS, NATO dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah seperti Saudi dan Qatar semakin berkeinginan yntuk menjatuhkan rezim Assad. Hal ini yang tadinya hanya menjadi kekerasan struktural setelah terjadi Arab Spring menjadi kekerasan kultural, dimana kontradiksi terjadi di level laten, mengakibatkan kekerasan kultural. 18

Pidato Assad pada tahun 2012 dimana masyarakat masih menantikan perubahan dalam kepemimpinannya serta permintaan maaf atas tindakan kekerasan yang dilakukan kepada rakyatnya diakhiri dengan kebencian yang lebih karena Assad menolak untuk berkompromi dan menerima kenyataan bahwa revolusi benar berasal dari rakyat. Popularitas Assad masih terlihat terhadap besarnya dukungan terhadap dirinya, namun gelombang protes juga semakin meningkat di berbagai daerah. Perang menjadikan

18 Wawancara dengan perwakilan Badan Intelijen Negara, pada 21 Januari 2019.

ekonomi Suriah semakin terpuruk, pada bulan Maret 2015 sebanyak tiga juta masyarakat Suriah kehilangan pekerjaannya, pengangguran meningkat menjadi 57.7% pada akhir tahun 2014, dan 80% masyarakat hidup dalam kemiskinan.

Angka harapan hidup Suriah turun menjadi 55 tahun, 22 tahun lebih rendah dari sebelum masa perang sipil. Dengan semakin tidak terkendalinya perang, jutaan masyarakat mengungsi ke berbagai negara.

Kebanyakan dari mereka tidak mendapatkan penghidupan yang layak, dengan terbatasnya jumlah makanan tidak jarang pengungsi hanya mendapatkan makanan sekali dalam sekali, serta tempat penampungan yang tidak layak menyebabkan pengungsi mudah terjangkit dan menularkan penyakit.

Tidak tersedianya akses untuk mendapatkan perlindungan yang layak serta akses untuk perlayanan kesehatan dirasakan masyarakat di dalam dan luar Suriah. Banyaknya kota yang dikuasai oleh pemberontak menjadikan permukiman sipil menjadi rentan dengan pertarungan.

Pengungsi sendiri banyak yang tidak

(20)

mendapatkan hak atas akses kesehatan, penolakan dari rumah sakit di negara setempat menjadi hal yang umum. Perang yang terjadi selama tujuh tahun berdampak langsung pada pendidikan masyarakat Suriah. Selama konflik dimulai pada tahun 2011, 309 fasilitas pendidikan menjadi sasaran penyerangan dan satu diantara tiga sekolah tidak lagi dapat beroperasi. Sekitar 40% anak-anak tidak lagi dapat melanjutkan pendidikan, menjadikan mereka rentan terhadap eksploitasi child soldier maupun perbudakan. Bagi pengungsi, akses anak- anak terhadap edukasi sering kali ditolak oleh tuan rumah negara.

Kekerasan laten lainnya adalah kekerasan kultural, yakni kekerasan yang melibatkan aspek-aspek budaya untuk melegitimasi kekerasan langsung. Dalam konflik Suriah kekerasan kultural terjadi bersamaan dengan pembentukan budaya negara tersebut. Suriah tidak memiliki sistem kenegaraan yang matang dikarenakan warisan dari Prancis tidak memberikan sistem parlemen yang kuat dan hanya mementingkan kekuatan militer.

Hal tersebut menyebabkan awal kemerdekaan Suriah dipenuhi dengan kudeta dari tahun 1949 hingga 1970.

Warisan kerajaan Ottoman juga mengakibatkan persekusi dan diskriminasi pada kelompok agama minoritas. Pada masa tersebut sekte-sekte minoritas menempati wilayah-wilayah terpencil.

Meskipun pada pemerintahan Assad tidak dilakukan diskriminasi terhadap agama minoritas, namun hal tersebut dilakukan semata-mata untuk mempertahankan kekuasaannya sehingga tidak ada pembudayaan toleran yang kuat diantara masyarakat. Kewaspadaan terjaga agar kelompok sekte yang lainnya tidak menguasai status quo, serta pemisahan antara Sunni dan Syiah sangat kuat di dalam dunia Arab. Keinginan oposisi untuk memiliki pemimpin Sunni setelah 40 tahun dipimpin oleh etnis minoritas menandakan tidak ada rasa persatuan yang kuat antar masyarakat Suriah.

Diskriminasi dilakukan terhadap masyarakat Kurdi dengan melarang adanya identitas Kurdi serta akses untuk mendapatkan hak-hak dasar seperti pendidikan, kesehatan dan ekonomi tidak sama dengan masyarakat lainnya. Hal tersebut menjadikan Kurdistan sangat mudah memalingkan wajah dari pemerintah pada perang sipil, menjadi

(21)

sebagai salah satu kelompok bersenjata oposisi yang terkuat di Suriah. Faktor eksternal menjadi pendorong yang kuat bagi masyarakat dengan adanya tren Arab Spring yang terjadi di Tunisi, Libya dan Mesir. Melihat masyarakatnya melakukan protes terhadap pemimpin-peminpin yang otoriter, masyarakat Suriah kemudian terinspirasi untuk melakukan hal yang sama berkaca pada pemimpin otoriter yang telah keluarganya telah memerintah selama 40 tahun.

C. Kekerasan Struktural

Kemerdekaan Suriah tidak diiringi dengan kematangan sistem kenegaraannya, dengan warisan sistem parlemen yang lemah dan kekuatan militer yang kuat dari Prancis. Lemahnya budaya persaingan politik mengakibatkan pergantian kekuasaan melalui coup de etat selama delapan kali dari 1949 hingga 1970.

Kelemahan juga terdapat dalam sistem sosial budaya Suriah dimana dengan komposisi masyarakat yang beragam, Kerajaan Ottoman mewariskan persekusi dan diskriminasi terhadap kelompok agama minoritas, sehingga sekte-sekte minoritas

seperti Alawi dan Druze menempati tempat-tempat yang terpencil.

Pada tahun 2000, Bashar berkuasa menggantikan Hafez. Meskipun menggunakan imej yang lebih modern dengan ayahnya, namun kekerasan kultural yang terjadi tidak berubah secara signifikan. Meskipun tidak setangan besi ayahnya, Ia tetap menangkap aktifis-aktifis politik yang menyuarakan hak asasi dan dengan ketat menjaga sensor media.

Pemerintahan Bashar juga melakukan diskriminasi terhadap Kurdistan, dengan melarang adanya identitas Kurdis, termasuk bahasa, perayaan-perayaan tradisional, dan hak kewarganegaraan.

Masyarakat Kurdis yang telah lama didiskriminasi kemudian semakin terpojokan dengan pelarangan memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan, serta tidak ada akses bepergian ke luar negeri, serta tidak diizinkan untuk bekerja pada profesi tertentu serta kepemilikan tanah, rumah dan bisnis.

Aksi demonstrasi yang damai awalnya hanya menuntut pembebasan tahanan, penegakan hukum dan politik yang adil. Namun dengan respon opresi dan penangkapan sejumlah aktifis, hal

(22)

tersebut semakin memprovokasi masa untuk menurunkan Assad sebagai pemimpin bangsa. Dengan semakin meningkatnya aktifitas rakyat maka pasukan pemerintah menggunakan senjata api untuk meredam. Hal tersebut menyebabkan protes semakin menyebar di berbagai provinsi. Tidak adanya persatuan dan persamaan dalam nasionalisme Suriah menjadikan identitas sekte tetap melekat kuat pada masyarakatnya. Pada perang sipil, masyarakat Suriah terpecah ke dalam kelompok-kelompok teroris, pemberontak, dan pro pemerintah, dimana pengelompokannya terjadi berdasarkan sekte-sekte. Kelompok bersenjata Shiah secara garis besar berada pada pihak Assad sedangkan Sunni dan Kurdis pada oposisi.

Dalam keadaan perang, peran bias media dalam meliput sebuah kejadian menjadikan konsumen, baik dalam maupun luar negeri tidak memiliki pengetahuan yang utuh. Propaganda AS dalam berusaha untuk menyudutkan pemerintahan Assad dilancarkan melalui media-medianya, sehingga membentuk perspektif bahwa Assad merupakan aktor terbesar di dalam konflik tersebut. Jurnalisme Rusia yang

cenderung hanya meliput aksi heroiknya tidak memberikan fakta yang jelas tentang posisi oposisi yang tidak sepenuhnya menjadi aktor utama di dalam konflik Suriah. Ketidakberimbangan dalam menyajikan informasi kemudian membentuk opini global dimana keduanya saling bertentangan antara aktor konflik dan juru damai, poros media AS menganggap AS adalah juru damai dan oposisi adalah protagonist yang melanggar hak asasi manusia dan menggunakan senjata kimia. Namun dua lembaga yang aktif melaporkan pelanggaran-pelanggaran rezim adalah Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) dan Organisasi Helm Putih yang disinyalir merupakan organisasi yang didanai barat untuk melakukan propaganda. Poros media Rusia meliput tindakan-tindakan oemerintah dalam menangani kelompok teror serta dukungan dana AS dan Turki kepada kelompok teror.

Tujuan kelompok oposisi dalam melakukan pemberontakan adalah untuk menjatuhkan Assad dan memiliki pemimpin Sunni setelah hampir 40 tahun kekuasaan didominasi oleh Alawi. Meningkatnya derajat hidup kaum Alawi menjadi ancaman

(23)

bagi kaum Sunni akan pendirian negara Alawi di Suriah. Pada penyerangan kaum pemberontak juga menyerang masyarakat sipil Alawi, termasuk wanita dan anak-anak.

Diskriminasi tidak hanya terjadi di dalam negeri, namun juga 22 juta masyarakat pengungsi di luar kawasan.

Setelah bertahan dari gempuran pemerintah dan ISIS mereka memilih untuk memilih resiko berlayar yang dapat tenggelam sewaktu-waktu, dan tidak diperlakukan seperti manusia di negara lain. Mayoritas negara tidak dengan tangan terbuka menerima pengungsi, dengan menetapkan kebijakan dan prosedur yang ketat, para pengungsi sulit untuk mendapatkan kehidupan yang layak

Pengekangan opini dan informasi telah terjadi semenjak pemerintahan Havez al-Asssad. Hal ini dilakukan untuk mengamankan kekuasaannya, yang kemudian dilakukan kembali oleh anaknya Bashar dalam estafet kekuasaan pemerintahannya. Meskipun Bashar melakukan modernisasi serta kompromi kelonggaran informasi, namun aktifis tetap menjadi tahanan politik dan media dikontrol secara ketat oleh pemerintah.

Kesetaraan antara pria dan wanita yang

awalnya dijanjikan juga tidak mendapatkan pencerahan.

Meskipun ekonomi mampu direvolusi oleh Bashar, nepotisme memperparah okigarki. Hal ini ditunjang dengan ketersediaan lapangan pekerjaan yang cukup bagi masyarakat Suriah dengan tingkat pengangguran yang mencapai 10%

pada tahun 2003-2011. Pertentangan laten menjadi semakin kuat di tubuh masyarakat Suriah. Selain faktor internal, politik internasional yang dimainkan oleh Assad menjadikan negarannya menjadi musuh negara terbesar, AS. Hal tersebut menjadikan Assad semakin sulit mengembangkan ekonominya dengan sanksi internasional yang diderita akibat keputusan politis pemerintahan tersebut.

Pada masa perang, ekonomi Suriah turun sehingga tiga juta masyarakat kehilangan pekerjaannya dan 80% hidup dalam kemiskinan dan 40% anak-anak kehilangan pendidikan. Pengungsi yang berada diluar wilayah Suriah pun tidak mendapatkan penghidupan yang layak dengan tidak tersedianya kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup. Hal-hal tersebut adalah konflik yang disebabkan oleh ketimpangan kekuasaan dan

(24)

ketidakseimbangan kesempatan dalam mendapatkan akses yang sama. Kerusakan yang diakibatkan tidak berakibat secara fisik namun melalui ketidakmampuan masyarakat dalam mengakses kebutuhan- kebutuhan dasar. Hal ini terbukti terjadi cukup stabil di sepanjang pemerintahan keluarga Assad.

Kesimpulan

Kekerasan di Suriah menurut tipologinya mengalami berbagai perubahan sesuai dengan perkembangannya. Perang dimulai dari represi negara terhadap demonstrasi oposisi yang dikategorikan sebagai represi / terorisme negara. Selanjutnya konflik berkembang menjadi perang sipil dengan perpecahan militer yang mengakibatkan pertumbuhan kelompok-kelompok oposisi bersenjata. Kekuatan kelompok oposisi mempu melewati kekuatan pemerintah dengan keberhasilan kelompok-kelompok tersebut dalam merebut sejumlah kota- kota dan beberapa pangkalan militer di berbagai provinsi. Hal tersebut dikategorikan dalam perang sipil hingga penetrasi karena aktor non-negara mampu menembus sistem pemerintahan, kepemilikan, militer, serta ekonomi dan

sosial budaya. Namun teori tipologi Galtung belum mampu untuk mengkategorikan tipologi konflik antar aktor-aktor non-negara, yang menjadi konflik utama pada perang sipil di Suriah sebelum adanya intervensi Rusia. Dengan adanya intervensi Rusia maka kekuatan negara kembali dapat mengimbangi kekuatan oposisi, sehingga pada tahapan ini penetrasi hingga represi terjadi kembali dalam upaya menanggulangi kelompok oposisi dan teroris.

Pada konflik di Suriah, kekerasan langsung mendominasi diantara kekerasan lainnya. Hal ini juga dapat terlihat pada analisis eskalasi konflik dimana konflik sudah pada tahapan tertingginya, yakni perang. Kekerasan langsung yang terjadi mengalami eskalasi yang cukup signifikan, dumulai dari kerusuhan sipil dimana masyarakat terrepresi, mengalami penindasan dan penahanan bagi aktifis- aktifis demonstran memicu demonstrasi menjadi semakin anarkis. Demonstrasi menjadi semakin berdarah, terjadi perpecahan di militer yang menjadi faktor utama munculnya angkatan bersenjata oposisi, serta perang melawan terorisme yang juga pada saat yang bersamaan

(25)

melawan pemerintah dan oposisi.

Intervensi AS dan koalisi menambah kapasitas kelompok bersenjata sehingga kehancuran menjadi lebih besar. Rusia juga berperan dalam kekerasan langsung dengan operasi-operasi diluar dari legitimasinya di Suriah.

Kekerasan struktural di Suriah meliputi pengekangan kebebasan berpendapat yang sudah diterapkan sejak pemerintahan Havez al-Assad.

Pemerintahan otoriter membentuk lingkaran elitnya sendiri sehingga kekuasaan dan keuntungan utama dinikmati oleh kaum oligarkis, yang diperparah dengan ketidaktersediaan lapangan pekerjaan bagi 10% masyarakat Suriah pada tahun 2003-2011. Keputusan politis Assad dalam hubungan internasional menjadikan negaranya menjadi musuh AS, menerima sanksi dan pemersulit perkembangan ekonomi Suriah. Pada masa perang mayoritas masyarakat hidup dalam kemiskinan dan anak-anak kehilangan hak untuk mendapatkan pendidikan.

Pengungsi di luar Suriah pun tidak mendapatkan kehidupan yang layak.

Kekerasan kultural meliputi lemahnya sistem pemerintahan Suriah dimana dalam

sejarahnya pembentukannya dipenuhi dengan kudeta hingga stabilitas terbentuk pada keberhasilan Assad menguasai pemerintahan pada tahun 1970. Dengan lingkungan timur tengah yang sangat kuat dengan sektarian, maka di Suriah masyarakat juga terkelompok ke dalam sekte tersebut, persatuan Suriah tidak diiringi dengan pembangunan hubungan positif antar sekte hingga perdamaian dengan mudah terpecah menjadi perang sipil. Diskriminasi juga terjadi khususnya pada masyarakat Kurdi, menjadikan YPG menjadi salah satu angkatan bersenjata terkuat dalam melawan pemerintah. Faktor eksternal Arab Spring juga menjadi tren yang mempengaruhi terjadinya perang sipil.

Rekomendasi

Untuk Suriah, hal yang dapat direkomendasikan penulis meliputi peran pemerintah dalam upaya penyelesaian dapat berkompromi dengan pihak-pihak oposisi, menemui jalan tengah dan saling mengkompromikan kepentingan untuk mencapai win-win solution. Agar momentum pertemuan antar pemerintah dan oposisi dapat menjadi titik baru dalam

(26)

mencapai kepercayaan di masyarakatnya.

Kedepannya, Suriah juga diharapkan dapat dapat memfasilitasi dalam pemulihan masyarakat terhadap hak-haknya pasca perang, dalam jangka waktu panjang diharapkan pemerintah dapat memberikan kebebasan berpendapat terhadap masyarakatnya serta menegakan keadilan dengan memberikan perlakuan dan kesempatan yang sama terhadap setiap warga negara

Untuk Indonesia, agar penelitian ini dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia untuk menghindari konflik serupa. Tingginya tingkat intoleransi dan kerentanan masyarakat pada tahun-tahun politik berpotensi menjadi konflik struktural yang jika ada pemicunya dapat sewaktu-waktu menjadi konflik terbuka.

Konflik Suriah diperparah dengan kentalnya sektarian diantara masyarakatnya sehingga terjadi permusuhan diantara masyarakat. Peneliti menyarankan agar Indonesia dapat meningkatkan upaya untuk meningkatkan toleransi terhadap SARA untuk meredam konflik laten yang sekarang mulai tumbuh di masyarakat. Peneliti juga merekomendasikan perlibatan diplomasi

Indonesia di Timur Tengah khususnya terhadap konflik Suriah agar Indonesia dapat menjadi pionir perdamaian dunia.

Indonesia dapat berperan sebagai pihak netral yang dapat turut memfasilitasi dialog perdamaian antara pemerintah Suriah dan oposisi untuk memperkuat perannya di hubungan internasional.

Daftar Pustaka Buku

Galtung, J. (1996). Peace by Peaceful Means.

SAGE.

Phillips, C. (2016) The Battle for Syria:

International Rivalry in the New Middle East. New Heaven and London: Yale University Press. hlm.

45-46.

Website

Guide to the Syrian rebels. (2013, December

13). dalam

https://www.bbc.com/news/world- middle-east-24403003, diakses pada 12 Agustus 2018

Hawari, T. (2016). Syria's civil war and the sectarian violence dilemma: A study on the development of the Sunni- Alawite struggle (Unpublished master's thesis). Western Illinois University.

Armed residents put up resistance to Syrian army. (2011, Mei 31). Diakses pada 28 November 2018, dalam https://www.khaleejtimes.com/arti cle/20110531/ARTICLE/305319890/10 16.

Oweis, K. Tank, navy attack on Syria’s Latakia kills 26: witness. (2011,

(27)

Agustus 14). Diakses pada 29 November 2018, dalam https://www.reuters.com/article/us- syria/tank-navy-attack-on-syrias- latakia-kills-26-witnesses-

idUSTRE77D0LP20110814.

Syrian activists condemn Houla ‘massacre’.

(2012, May 26). Diakses pada 29 November 2018, dalam https://www.aljazeera.com/news/m iddleeast/2012/05/201252652583978 85.html.

Spillius, A dan Blair, D. Syria: Bashar al- Assad vows to crush ‘foreign- backed terrorism’ as army targets new cities. (2012, Maret 6). Diakses pada 29 November 2018, dalam https://www.telegraph.co.uk/news/

worldnews/middleeast/syria/912705 7/Syria-Bashar-al-Assad-vows-to- crush-foreign-backed-terrorism-as- army-targets-new-cities.html.

al-Masri, A. Tensions over Al-Qaeda efforts for influence in south Syria. (2014, Mei 12). Diakses pada 5 Desember

2015, dalam

https://www.middleeastmonitor.co m/20140512-tensions-over-al-qaeda- efforts-for-influence-in-south-syria/.

Tomson, C. “Rebels storm Misraba village as insurgent fighting engulf East Ghouta”. (2016, 5 Agustus). Diakses pada 8 Desember 2018, dalam https://www.almasdarnews.com/ar ticle/rebels-storm-misraba-village- insurgent-infighting-engulfs- damascus/.

Israel bombs Syria’s Golan after blast.

(2014, Mar 19). Diakses pada 3 Desember 2018, dalam https://www.aljazeera.com/news/m iddleeast/2014/03/israel-deploys- artillery-after-golan-blast-

2014318173434341989.html.

(28)

Referensi

Dokumen terkait