• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kesulitan Belajar Membaca pada Anak Kelas III Sekolah Dasar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Analisis Kesulitan Belajar Membaca pada Anak Kelas III Sekolah Dasar"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

130 Tersedia Online di http://journal2.um.ac.id/index.php/sd/

ISSN 0854-8285 (cetak); ISSN 2581-1983 (online)

Analisis Kesulitan Belajar Membaca pada Anak Kelas III Sekolah Dasar

Khairurrazikin 1 Fitri Yuliawati2

1Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Jl. Laksda Adisucipto, Papringan, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

2Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

E-mail: [email protected] [email protected] Paper received: 03-06-2023; revised: 29-11-2023; accepted: 30-11-2023

Abstract

The purpose of this study was to determine the characteristics and how the efforts made by teachers in overcoming the problems of students who experience learning difficulties in class III SD Al-Hidayah Poncokusumo Malang. The research method uses a qualitative method of case study approach. The data collection techniques used are observation, interview and documentation techniques. The subjects in this study were the third grade teacher and 1 student who had difficulty learning to read. The results of the study indicate that the learning difficulties experienced by students are very complex, such as not knowing all ABJAD letters, having difficulty distinguishing some letters, finding it difficult to spell them, spelling with stammering and especially not being able to focus on learning when taught how to read so that it is very difficult for children to understand and memorize all ABJAD letters. Factors of difficulty in learning to read for students come from internal and external factors of students.

Keywords: Reading learning difficulties, reading, learners

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dan bagaimana upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengatasi permasalahan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar pada kelas III SD Al- Hidayah Poncokusumo Malang. Adapun metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan studi kasus. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah Guru kelas III dan 1 peserta didik yang mengalami kesulitan belajar membaca. Hasil penelitian adalah menunjukkan bahwa kesulitan belajar yang dialami peserta didik yang sangat kompleks seperti belum mengenal semua huruf ABJAD, sulit membedakan beberapa huruf, sulit untuk mengejanya, mengeja dengan terbata-bata dan terutama tidak bisa fokus belajar ketika diajarkan cara membaca sehingga sangat menyulitkan anak untuk bisa memahami dan menghafal semua huruf ABJAD.

Faktor kesulitan belajar membaca peserta didik berasal dari faktor internal dan eksternal peserta didik.

Kata kunci: Kesulitan belajar membaca, membaca, peserta didik

(2)

PENDAHULUAN

Dalam semua kegiatan belajar di sekolah, membaca merupakan salah satu keterampilan yang paling penting yang harus dikuasai oleh peserta didik (Zhang & Smolen, 2022). Kemampuan membaca bagi peserta didik dipandang sebagai penentu keberhasilan mereka dalam menjalankan aktivitas belajar selama di sekolah (Gafoor, 2014). Hal ini dikarenakan semua materi pelajaran di sekolah membutuhkan pemahaman konsep dan teori yang dapat dipahami melalui kegiatan membaca(Laila, Budiningsih, & Syamsi, 2021).

Kemampuan membaca yang baik yang dimiliki oleh peserta didik akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilannya dalam belajar, begitu juga sebaliknya jika kemampuan membacanya kurang baik, maka akan menjadi faktor penghambat kesulitan belajar dan juga keberhasilan pendidikannya di sekolah (Alves, Kennedy, Brown, & Solis, 2015; Hasanah & Lena, 2021).

Mempersiapkan peserta didik untuk membaca melibatkan dirinya dan Kemampuannya belajar di sekolah, adapun faktor kesiapan membaca meliputi persiapan fisik mental, persiapan pendidikan dan persiapan kemampuan berpikir (Lestari, Ibrahim, Amin, & Kasiyun, 2021)

Studi khusus terhadap anak-anak yang secara neurologis mengalami gangguan dan memiliki prestasi akademik yang jauh di bawah kemampuan anak-anak lain merupakan ciri khas dari gangguan belajar tertentu. Terdapat dua faktor kesulitan belajar peserta didik, yang terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal/intrinsik adalah faktor dari diri sendiri, sedangkan faktor ekstrinsik/eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri peserta didik/lingkungan. Faktor internal dapat berupa minat, motivasi, kemampuan dan hal-hal yang menghambat peserta didik dalam belajar secara efektif. Faktor eksternal misalnya, kondisi lingkungan belajar, dukungan keluarga, metode atau media pembelajaran yang digunakan saat pembelajaran dan segala hal yang berkaitan dengan anak yang menyebabkan kesulitan belajar, yang kemudian mempengaruhi hasil belajar peserta didik (Asriyanti & Purwati, 2020). Anak-anak yang berasal dari keluarga yang mengalami kesulitan membaca dan orang tua yang kurang memperhatikan perkembangan belajar anaknya. Jadi, kemampuan membaca sebelumnya mempengaruhi faktor keturunan sehingga ketidakmampuan membaca atau belajar secara konkret terbukti berasal dari kombinasi faktor genetik dan lingkungan (Faruq & Pratisti, 2022).

Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan oleh faktor intelegensi (mental) yang rendah, tetapi juga dapat disebabkan oleh faktor non-intelegensi. Salah satu faktornya adalah peserta didik yang memiliki IQ tinggi belum tentu memiliki IQ yang tinggi pula yang menjamin keberhasilan belajar.

Agar setiap anak menperoleh bimbingan yang tepat, peserta didik dan guru perlu memahami masalah kesulitan belajar (Suartini, 2022). Anak yang mengalami kesulitan dalam membaca juga biasa disebut dengan disleksia. Disleksia merupakan salah satu jenis kesulitan belajar yang dialami peserta didik dalam membaca. Hal ini disebabkan oleh gangguan pada proses otak saat memproses informasi yang mereka peroleh (Faizin, 2020). Pendekatan yang ramah disleksia melibatkan pengumpulan apa yang diketahui tentang disleksia dan menerapkan informasi ini di kelas reguler, di ruang kelas sehari-hari, berdasarkan apa yang berguna bagi peserta didik disleksia dan dapat bermanfaat bagi semua anak (Irdamurni, Kasiyati, Zulmiyetri, & Taufan, 2018).

Keterampilan yang harus dimiliki juga oleh peserta didik adalah kemampuan menulis, karena setelah peserta didik bisa untuk membaca keterampilan menulis sangat dibutuhkan. Pengajaran membaca di sekolah dasar dibagi menjadi dua tahap yakni membaca permulaan dan membaca lanjut

(3)

(Meo, Wau, & Lawe, 2021). Membaca permulaan tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan menulis.

Ini berarti bahwa kedua keterampilan tersebut dapat digunakan untuk berlatih bahasa dan dapat dipraktekkan pada saat yang bersamaan. Jika peserta didik belajar membaca, mereka juga belajar mengenali tulisan dalam bentuk membaca huruf, suku kata, kata, dan kalimat (Suastika, 2019 ; Veerabudren, Kritzinger, Graham, & Geertsema, 2023). Menulis adalah sebuah kegiatan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan yang diharapkan dapat dipahami oleh pembaca dan berfungsi sebagai alat komunikasi dan informasi (Jatiwuni, 2019).

Guru memiliki dampak besar pada perubahan perilaku kepada peserta didik dari mana perilaku peserta didik berasal pengalaman guru dan lingkungan sekolah atau dalam komunitas. Guru harus melakukan hal yang sama untuk mengembangkan keterampilan bahasa dan komunikasi peserta berpendidikan baik, membaca, menulis dan juga berhitung (Lubis, Juhra, & Helmi, 2023).

Sedangkan kemampuan bahasa adalah salah satu struktur budaya manusia yang paling kompleks, yang memungkinkan manusia maju dalam setiap aspek kehidupan mereka. Pengenalan bahasa dimulai di rumah, orang tua, dan keluarga. Anak-anak kemudian belajar bahasa dalam lingkungan belajar yang lebih terorganisir di sekolah (Gafoor & Remia, 2017).

Tugas guru adalah mengetahui kemampuan membaca peserta didik, terutama yang perlu diketahui adalah kesulitan membaca peserta didik pada saat awal membaca, karena kesulitan peserta didik berbeda-beda. Setiap peserta didik cenderung memiliki kesulitan belajar yang berbeda dengan peserta didik lainnya, akan lebih baik jika kesulitan membaca peserta didik diketahui sejak dini (Suartini, 2022). Guru sebagai pendidik memiliki peran yang strategis, hal ini menjadi alasan untuk meningkatkan kemampuan membaca peserta didik. Peran strategis tersebut antara lain peran guru sebagai fasilitator, motivator, sumber belajar, dan pengatur jalannya proses pembelajaran. Guru yang memiliki kualitas yang tinggi dapat dengan mudah bergabung dan melaksanakan tugas untuk pendidikan dalam mengembangkan kepribadian peserta didik yang lebih maju (Rafika, Kartikasari,

& Lestari, 2020). Juga berkaitan dengan menulis keterampilan menulis peserta didik harus dilatih selangkah demi selangkah sesuai dengan usia dan kemampuan akademis mereka. Dengan usia dan kemampuan akademis, terutama kematangan yang rendah perkembangan motorik yang baik. Tahap pertama menulis harus dikuasai peserta didik terlebih dahulu, kemudian tahap-tahap berikutnya dilatih secara bertahap dan berkesinambungan. secara bertahap dan berkesinambungan (Levlin, Okonski, & Sullivan, 2022; Udhiyanasari & Prystiananta, 2019). Semakin banyak yang diketahui oleh seorang guru mengenai peserta didik dengan kesulitan belajar, maka semakin baik pula ia dapat membantu peserta didiknya untuk bisa maju dan berkembang.

Berdasarkan permasalahan tersebut penulis mencoba melakukan penelitian di salah satu sekolah di SD Islam Al-Hidayah Poncokusumo Malang. Peneliti melakukan observasi pada peserta didik kelas III, dari sembilan belas peserta didik kelas III terdapat satu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar membaca. Oleh karena itu, penulis mencoba meneliti salah permasalahan yang umum di temukan di SD atau MI yaitu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar membaca, karena jika peserta didik yang mengalami kesulitan dibiarkan maka mereka akan tetap sulit untuk menangkap isi mata pelajaran dan mengaplikasikan apa yang dipelajari.

METODE

(4)

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Dalam pendekatan studi kasus, fokusnya adalah pada penggalian masalah secara rinci dan proses analisis terkait berbagai sumber data untuk mendukung sumber data terkait dengan variabel penelitian (Aryani & Fauziah, 2020). Penelitian ini dilakukan di SD Islam Al-Hidayah di kelas III Poncokusomu Malang, dengan jumlah 19 peserta didik. Data pada penelitian berupa Guru kelas III bernama S dan Peserta didik kelas III (1 orang) bernama DF yang mengalami kesulitan belajar membaca. Adapun metode pengumpulan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Penggunaan data melalui observasi dan wawancara peneliti lakukan secara tidak langsung atau diwakili oleh orang lain kepada narasumber. Teknik analisis data digunakan dalam pendokumentasian data untuk mereduksi data, menyajikan data dan menarik kesimpulan. Data awal yang diperoleh dari lapangan disederhanakan dan diatur ulang untuk penargetan. Informasi yang direduksi atau didapatkan kemudian diatur dan dikelompokkan berdasarkan permasalahannya, data yang dikelompokkan di uraikan dan dibandingkan satu per satu.

Terakhir data yang sudah direduksi dan di uraikan ditarik kesimpulan dan menjadi hasil dari penelitian ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SD Islam Al-Hidayah di kelas III Poncokusumo malang dapat diketahui bahwa:

Tabel 1. Daftar Cek Berbagai Kekeliruan Membaca Lisan Peserta didik Kelas Permulaan SD

No. Jenis Kekeliruan Cek Keterangan

1 Tidak dapat melafalkan huruf diftong (ny, ng) ✓ DF belum mampu melafalkan huruf diftong.

2 Tidak dapat melafalkan gabungan huruf konsonan-vokal (ba, pa, ....)

✓ DF masi sulit mengeja atau menggabungkan huruf konsonan dengan huruf vokal.

3 Tidak dapat melafalkan gabungan huruf diftong-vokal (nya, ngu, ...)

✓ DF belum mampu melafalkan gabungan huruf diftong-vokal dan masi perlu bimbingan dari guru.

4 Tidak dapat melafalkan vokal vokal rangkap (ia, oi, ua, ....)

✓ DF masi kebingungan dalam melafalkan vokal vokal rangkap 5 Tidak dapat melafalkan gabungan konsonan

vokal-konsonan (ba-pak, ka-pal, pas-ti, ...)

✓ DF tidak mampu melafalkan gabungan konsonan vokal-konsonan

6 Tidak dapat melafalkan gabungan vokal- konsonan (as-pal, ir-na).

✓ DF belum mampu menggabungkan Vokal-konsonan karna pada dasarnya ia belum mampu mengeja.

7 Tidak dapat membedakan huruf yang bentuknya hampir sama (b-d, p-q, m-n-u-w).

✓ DF tidak konsisten dan sulit dalam menyebutkan beberapa huruf yang sama.(sulit membedakan)

8 Penghilangan huruf atau kata (“Bunga mawar itu merah” dibaca “Bunga itu merah, “Bapak membaca buku” dibaca “Bapak baca buku”).

✓ DF belum mampu mengeja dengan benar jika pun di bantu untuk mengeja ia tidak melihat tulisan(asal baca) 9 Penyisipan kata (“Rumah paman di

Semarang” dibaca “Rumah paman ada di Semarang”).

✓ DF masih terbata bata dalam merangkai huruf menjadi kata kata

10 Pengganti kata, makna berbeda (“Itu kucing

Ali” dibaca “Itu kacang Ali”). ✓ DF belum mampu membedakan beberapa huruf /perlu bantuan guru sehingga masi sulit untuk mengeja tulisan.

(5)

11 Pengucapan kata yang salah, makna sama (“Hati saya senang” dibaca “Hati saya seneng”).

✓ DF masih sulit untuk memakanai sebuah kata atau kalimat.

12 Pengucapan kata yang salah, tidak bermakna (“Mama beli nenas”, dibaca “Mama beli memas”).

✓ DF sering kali mengucapakan kata yang salah,tidak bermakna.

13 Pengucapan kata dengan bantuan guru (“Kuda itu lari kencang” dibaca “Kuda itu lari ...

kencang”).

✓ DF masih perlu bantuan guru dan kadang kala ia masih sulit untuk konsentrasi sehingga ketika di ajarkan selalu menjawab asal.

14 Pengulangan (“Wati main bola” dibaca “Wati ma-ma-ma-in bo-bo-la”).

✓ DF masih terbata bata atau sering ada pengulangan dalam mengeja.

15 Pembalikan kalimat, subjek, predikat, objek,

(“Baju saya bibi dicuci”). ✓ DF Belum mampu merangkai sebuah kalimat dalam tulisan.

16 Tidak memperhatikan tanda baca (“Bapak dan ibu pergi ke kantor. Saya pergi ke sekolah”

dibaca “Bapak dan ibu pergi ke kantor saya pergi ke sekolah”).

✓ DF belum mengerti tanda baca dalam sebuah kalimat.

17 Ragu-ragu dalam membaca (“Iwan bermain layang-layang” dibaca “Iwan ... bermain ....

layang ... layang”).

✓ DF ragu ragu dalam membaca(mengeja) 18 Membaca tersendat-sendat (“Nu Ita guru

Nani” dibaca “Bu I ... tagu ...gu ... ru Na ... na ... ni”).

✓ DF masih tersendat sendat dalam mengeja tulisan.

19 Tidak dapat mengurutkan susunan bacaan cerita.

✓ DF tidak mampu mengurutkan susunan bacaan cerita.

1. Karakteristik peserta didik yang mengalami kesulitan belajar membaca

Menurut Anggraeni dkk, (2021), kesulitan belajar membaca pada anak biasanya menunjukkan ketidakseimbangan dalam membaca seolah-olah gerakannya penuh dengan kegembiraan, seperti mata berkedip, alis terangkat, ritme suara yang tidak stabil, atau menggigit bibir. Mereka juga sering menunjukkan rasa tidak aman yang ditandai dengan perilaku menolak ketika disuruh membaca, menangis atau melawan guru. Mereka sering mengulang-ulang ketika melewatkan satu kata atau satu baris yang dilewati, pengulangan sering terjadi atau baris yang dilewati hingga tidak terbaca lagi.

Pada anak kelas III berinisial DF ini mengalami permasalahan yang sama seperti yang dijelaskan oleh Anggraeni dkk (2021), bahwa pada DF ketika di suruh untuk membaca anak banyak melakukan hal-hal berupa penolakan untuk membaca, seperti gerakan tubuhnya seperti tertekan, mata alis terangkat, terkadang menggigit bibir, kebingungan melanjutkan pengucapan huruf abjad selanjutnya, terutama selalu bergerak memperhatikan kanan kiri atau hal-hal di sekitarnya, sering diejek oleh teman sehingga dia tidak bisa fokus pada apa yang sedang diperintahkan oleh pewawancara. Hal ini sangat sesuai dengan ciri-ciri anak yang mengalami kesulitan belajar dikarenakan anak ini mempunyai kesulitan membaca yang sangat kompleks dimulai dari ia tidak bisa mengidentifikasi semua huruf ABJAD. Seperti melafalkan huruf konsonan B menjadi E, huruf C menjadi Y, pada huruf G dia tidak mengetahui cara penyebutannya, pada huruf A menjadi A, huruf L menjadi G, huruf M menjadi K, huruf V menjadi A dan huruf X menjadi Z, walaupun meski dikaitkan dulu dengan hal yang sering disebutkan seperti bentuk X yang menyerupai perkalian. Dalam beberapa huruf ABJAD DF juga tidak bisa membedakan dan terkadang membacanya secara terbalik, seperti huruf ‘b tertukar ‘d, huruf ‘u tertukar ‘v, huruf ‘p tertukar ‘q, huruf ‘w ‘x dan ‘z. Tetapi untuk melafalkan semua

(6)

konsonan huruf vokal, DF cukup mampu melafalkannnya dan tidak ada masalah dalam melafalkan huruf-huruf ABJAD tersebut.

Pada peserta didik DF Belum mampu melafalkan huruf diftong, masih sulit mengeja atau menggabungkan huruf konsonan dengan huruf vokal. Kemampuan peserta didik dapat membaca konsonan dan vokal tergantung pada pengetahuan mereka dari bunyi konsonan huruf dan vokal (Silmi, Febriani, & Nurani, 2022). Sebagian besar peserta didik memiliki kemampuan mengeja yang bisa diterima. Tetapi, banyak yang tidak. Faktanya, tiga hingga sebelas persen dari semua anak dan remaja mengalami gangguan mengeja dan/atau membaca (Grünke & Skirde, 2022).

Pada DF pewawancara mencoba DF untuk mengeja “CA-CA” dari kata tersebut ternyata peserta didik belum bisa untuk membaca nya, walaupun pewawancara sudah berulang kali mengeja huruf huruf nya, tetapi DF belum cukup bisa untuk menggabungkan huruf huruf tersebut dan membacanya. Hal ini juga dikarenakan DF belum mampu membedakan beberapa huruf dan sangat perlu bantuan dari guru (Abdullah, 2016). Menurut Suastika (2019) membaca permulaan harus memberikan keterampilan sehingga peserta didik dapat mengubah rangkaian huruf menjadi bunyi yang bermakna dengan tepat dan masih banyak lagi teknik membaca untuk anak. Tetapi karena pada dasarnya DF belum mampu mengeja sehingga masih sulit untuk membaca nya.

Selanjutnya DF tidak konsisten dalam memahami bentuk dan sulit dalam menyebutkan beberapa huruf yang sama (sulit membedakan). Masih terbata-bata dalam merangkai huruf menjadi kata kata, tidak pernah mengganti kata karena ia belum mampu mengeja dan belum mampu mengerti apa yang ia baca. Masih sulit untuk memaknai sebuah kata atau kalimat. DF sering kali mengucapakan kata yang salah,tidak bermakna.

Terakhir DF masih perlu bantuan guru dan kadang kala ia masih sulit untuk berkonsentrasi ketika dia disuruh untuk memperhatikan sehingga ketika di ajarkan selalu menjawab asal. Sering terbata bata atau ada pengulangan dalam mengeja kalimat. DF juga belum mampu merangkai sebuah kalimat dalam tulisan, pada observasi pewawancara menyuruh DF untuk menuliskan huruf apapun yang dia hafal dan diketahui ke dalam kertas. Kemudian ketika di tanya pewawancara dia menulis huruf apa, dia sendiri saja tidak tahu dan salah menyebutkan huruf yang dia tulis sendiri “d” dibaca menjadi huruf “d”. Dan sangat ragu dan tersendat sendat dalam membaca (mengeja) huruf yang dia tuliskan. Sehingga tanda baca dalam sebuah kalimat juga DF tidak mengerti.

Adapun wawancara dengan peserta didik DF mengenai cara belajar yang dia lakukan:

Pewawancara: “Bagaimana cara DF untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru di sekolah?”

DF: “Dibantu oleh kakak”

Pewawancara: “Di rumah, apakah DF pernah diajarkan oleh orang tua nya belajar membaca?”

DF: “Pernah, diajarkan oleh ibu”

Pewawancara: “Bagaimana dengan tugas yang diberikan oleh Guru Kelas, apakah pernah dijelaskan kembali?”

DF: “Tidak pernah”

Pewawancara: “Apakah dari orang tua atau guru pernah memberikan hadiah atau pujian Ketika berhasil menjawab pertanyaan yang diberikan?’

DF: “Tidak pernah”

(7)

2. Upaya guru dan Wali kelas dalam memahami peserta didik yang mengalami kesulitan belajar

Dalam wawancara yang dilakukan oleh pewawancara dan guru kelas diketahui bahwa:

Pewawancara: “Bagaimana kesulitan belajar membaca pada peserta didik Bapak?”.

Guru Kelas: “Membaca? Iya”.

Pewawancara: “Tadi kita sudah wawancara terhadap DF. Tanya gitu terus ngetes juga”.

Guru Kelas: “Dia untuk secara keseluruhan dari semua peserta didik yang ada ini memang, kalau dilihat dari segi tampilannya kan normal. Cuman kemampuannya itu, jauh daripada kemampuan anak peserta didik lainnya”.

Dalam wawancara bersama wali kelas III DF Bapak S Berkata: “Pengalaman yang sudah dilakukan, DF ketika awal kali naik kelas III, Itu sebetulnya terkait dengan kondisinya itu sudah kita pahami mulai kelas satu. Nah cuman karena kita yang mengalir saja karena di sistem yang ini K13 kan tidak ada istilah tidak naik kelas, tetap dinaikkan, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Target pokok yang penting targetnya kami yang mulai dahulu dari dulu adalah menghafal ABJAD. Sudah pada kelas I guru berusaha tetapi susah, sampai kelas 2, informasi yang didapat ketika di awal kelas III DF sudah sampai menghafal huruf G atau H untuk ABJAD”.

Lanjutnya pada saat Guru kelas III menangani, “Saya coba, saya buatkan media ABCD di belakang. Jadi awal kelas III itu, saya masih menyempatkan waktu menyesuaikan dengan 19 peserta didik di kelas III itu. Nah ternyata pada perjalanannya sudah dilaksanakan, ternyata saya sangat tidak memiliki waktu untuk mengajarkan DF, karena menyesuaikan dengan peserta didik 18 orang lainnya.” Dari sekian waktu itu sudah saya bikinkan media itu ABCD yang tulisannya besar di pojok kelas”. Jadi ketika teman temannya mengerjakan tugas mandiri yang diberikan oleh guru kelas, dengan sengaja kemudian DF akan dipanggil sendiri oleh gurunya untuk diajarkan dan dilatih untuk mengenal dan melafalkan huruf-huruf ABJAD. Hal ini adalah upaya yang biasa dilakukan oleh Guru Kelas DF, ternyata upaya seperti itu hanya berhasil sampai pada huruf abcd saja yang ia bisa lafalkan dan menunjukkan hurufnya sendiri. Begitu dengan huruf selanjutnya Guru kelas mengatakan bahwa DF ini sudah tidak bisa, sudah salah menunjuk dan juga tidak terkendalikan.

Upaya yang dilakukan oleh guru sangat sering dan banyak dilakukan, namun pada akhirnya kemampuan membacanya sampai pada huruf abcd saja, sampai sekarang Guru Kelas sudah tidak mengulangi itu. Berkaitan dengan pemahaman seperti itu, dilihat dari segi tulisannya juga DF menulis sesukanya saja. Seperti yang dikatakan oleh Guru Kelas III “Misalnya sekarang maunya nulis “t” ya “t” semua, kalau maunya tulis “a” ya “a” semua. Tulisan di semua bukunya yaitu kalau tidak “a” ya “a’ semua kalau tidak “h” ya “h” semua, tetapi apakah dia mengerti bahwa yang ditulis juga itu adalah “h” karena dia juga asal asalan”. Sampai sekarang Guru Kelas mengakui bahwa belum mempunyai solusi yang tepat, tetapi dulu mempunyai harapan untuk membuat kartu ABJAD.

“Kemauan saya cuman belum sampai hari ini, tetapi selalu terkendala dengan waktu, jadi mungkin saya pribadi menyempatkan waktu pembelajaran dan lain sebagainya itu ketika di tengah pembelajaran di sekolah karena di rumah sudah lain lagi.” Saya berkeinginan untuk membelikan DF poster kemudian di gunting satu persatu, dan diberikan kepada orang tua DF supaya ikut bantu langsung anak yang mengalami kesulitan belajar membaca. Caranya dengan

(8)

menyuruh anak mengambil salah satu atau lebih kartu apa saja, kemudian dikumpulkan dan di tanya kartu apa saja yang telah dia ambil dan kumpulkan. Tetapi sampai hari ini belum terjadi.

Inti dari target yang dibuat kami adalah DF bisa untuk menuliskan namanya sendiri, karena nanti ketika dia tetap diikutkan juga dalam ujian yang penting dia bisa menulis namanya sendiri, tetapi terkait dengan jawaban dan lain sebagainya, itu bisa di isi dengan sepengetahuannya dan bakal dikondisikan oleh Guru.”

Permasalahan ini sudah sampai diketahui oleh orang tua dari DF, sehingga pernah di undang wali murid bertemu dengan Guru kelas.

Orang tua insya allah sudah maklum keberadaan itu, kan DF mempunyai adik perempuan satu sekolah dengannya. Itu normal, normal sekali. dan sudah setara dengan teman teman sekelasnya”.

Jadi dari sisi orang tua sendiri terkait dengan anaknya DF yang mengalami kesulitan belajar membaca, orang tua nya sudah sangat paham dan mengetahui dengan baik keberadaan tersebut.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terkait dengan kesulitan belajar membaca pada anak kelas III SD Islam Al-Hidayah Poncokusumo malang dapat penulis simpulkan bahwa karakteristik peserta didik DF yang mempunyai kesulitan belajar yaitu belum mengenal semua huruf ABJAD, sulit untuk membedakan beberapa huruf, sulit untuk mengeja, mengeja dengan terbata-bata dan terutama tidak bisa fokus belajar ketika diajarkan cara membaca sehingga sangat menyulitkan anak untuk bisa memahami dan menghafal semua huruf ABJAD. Adapun faktor penyebab kesulitan membaca anak adalah dari kurangnya minat diri sendiri untuk belajar membaca dan juga berasal dari orang tua anak yang tidak memperhatikan atau memberikan dukungan kepada anaknya.

Kemudian upaya yang sudah dilakukan oleh Guru Kelas adalah dengan menempelkan ABJAD pada pojok kelas untuk membantu dan mempermudah pengetahuan peserta didik dan terutama upaya yang dilakukan adalah memanggil anak kemudian diajarkan sendiri di depan kelas ketika teman- temannya sedang mengerjakan tugas mandiri di dalam kelas.

Saran

Guru mencari metode atau media belajar bagaimana yang bisa dan mampu untuk diajarkan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar terutama membaca dan juga bisa dipahami oleh semua peserta didik yang lainnya. Selalu memberikan motivasi dan dukungan kepada peserta didik, begitupun dengan orang tua sendiri harus bisa juga mendampingi atau mengawasi perkembangan yang dimiliki oleh anaknya. Kemudian memberikan hadiah atau pujian kepada anak ketika sudah berhasil menjawab atau menyelesaikan suatu tugas yang telah diberikan oleh guru atau orang tuanya sendiri agar anak lebih bisa semangat dan giat lagi untuk selalu bisa dan bakal berusaha lagi agar mendapatkan pujian atau hadiah tersebut.

(9)

DAFTARRUJUKAN

Abdullah, D. (2016). Bimbingan Belajar Bagi Siswa Berkesulitan Membaca.

Alves, K. D., Kennedy, M. J., Brown, T. S., & Solis, M. (2015). Story Grammar Instruction with Third and Fifth Grade Students with Learning Disabilities and Other Struggling Readers.

Learning Disabilities.

Anggraeni, S. W., Alpian, Y., Prihamdani, D., & Nurdini, D. (2021). Analisis Kesulitan Belajar Membaca Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Elementaria Edukasia, 4(1).

https://doi.org/10.31949/jee.v4i1.2849

Aryani, R., & Fauziah, P. Y. (2020). Analisis Pola Asuh Orangtua dalam Upaya Menangani Kesulitan Membaca pada Anak Disleksia. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 1128–1137. https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i2.645

Asriyanti, F. D., & Purwati, I. S. (2020). Analisis Faktor Kesulitan Belajar Ditinjau dari Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V Sekolah Dasar. Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan, 29(1), 79–87. https://doi.org/10.17977/um009v29i12020p079

Faizin, I. (2020). STRATEGI GURU DALAM PENANGANAN KESULITAN BELAJAR DISLEKSIA. Empati-Jurnal Bimbingan dan Konseling, 7(1), 1.

https://doi.org/10.26877/empati.v7i1.5632

Faruq, F., & Pratisti, W. D. (2022). Model Pembelajaran Multisensori bagi Anak Disleksia, Efektif?: Tinjauan Sistematis. Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru, 7(3), 243–248.

https://doi.org/10.51169/ideguru.v7i3.392

Gafoor, K. A. (2014). Tests Screening Reading Difficulty in Malayalam among Upper Primary School Boys. In Online Submission (Vol. 2, pp. 271–282). Retrieved from https://eric.ed.gov/?id=ED560698

Gafoor, K. A., & Remia, K. R. (2017). Influence of Home Language Environment on Reading Status in Malayalam among Grade 4 Students in Kerala. In Online Submission (Vol. 5, pp.

609–617). Retrieved from https://eric.ed.gov/?id=ED615473

Grünke, M., & Skirde, I. (2022). The Effects of the PESTS Strategy on the Spelling Skills of a Third Grader With Severe Literacy Difficulties.

Hasanah, A., & Lena, M. S. (2021). Analisis Kemampuan Membaca Permulaan dan Kesulitan yang Dihadapi Siswa Sekolah Dasar. EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN, 3(5), 3296–3307. https://doi.org/10.31004/edukatif.v3i5.526

Irdamurni, I., Kasiyati, K., Zulmiyetri, Z., & Taufan, J. (2018). Meningkatkan Kemampuan Guru pada Pembelajaran Membaca Anak Disleksia. Jurnal Pendidikan Kebutuhan Khusus, 2(2), 29. https://doi.org/10.24036/jpkk.v2i2.516

Jatiwuni, A. (2019). (Drill) Improving Beginning Writing Skills Through Drill Methods.

Laila, A., Budiningsih, C. A., & Syamsi, K. (2021). Textbooks based on local wisdom to improve reading and writing skills of elementary school students. Res Educ, 10(3).

Lestari, N. D. D., Ibrahim, M., Amin, S. M., & Kasiyun, S. (2021). Analisis Faktor-Faktor yang Menghambat Belajar Membaca Permulaan Pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu,

(10)

5(4), 2611–2616. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i4.1278

Levlin, M., Okonski, L., & Sullivan, K. P. H. (2022). Educational attainment in Swedish (L1) and English (L2) for students with reading difficulties: A longitudinal case study from primary to the end of secondary school. Scandinavian Journal of Educational Research, 1–17.

https://doi.org/10.1080/00313831.2022.2123850

Lubis, S. S., Juhra, A., & Helmi, N. (2023). Upaya Guru dalam Mengatasi Kesulitan Membaca, Menulis, dan Menghitung (Studi Kasus pada SDN Kuta Pasie Kabupaten Aceh Besar).

Pionir: jurnal pendidikan, 11(3). https://doi.org/10.22373/pjp.v11i3.16507

Meo, A., Wau, M. P., & Lawe, Y. U. (2021). Analisis Kesulitan Belajar Membaca Permulaan pada Siswa Kelas I SDI Bobawa Kecamatan Golewa Selatan Kabupaten Ngada. Jurnal Citra Pendidikan, 1(2), 277–287. https://doi.org/10.38048/jcp.v1i2.247

Rafika, N., Kartikasari, M., & Lestari, S. (2020). Analisis kesulitan membaca permulaan pada siswa sekolah dasar.

Silmi, M. N., Febriani, W. D., & Nurani, R. Z. (2022). Analisis Kesulitan Belajar Membaca Permulaan Pada Siswa Kelas II SDN 3 Cilangkap. PIWURUK: Jurnal Sekolah Dasar, 1(2), 22–34. https://doi.org/10.36423/pjsd.v1i2.867

Suartini, N. W. P. (2022). Kesulitan Belajar pada Siswa Kelas II Sekolah Dasar. Journal of Education Action Research, 6(1), 141. https://doi.org/10.23887/jear.v6i1.44635

Suastika, N. S. (2019). Problematika Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan di Sekolah Dasar. Adi Widya: Jurnal Pendidikan Dasar, 3(1), 57. https://doi.org/10.25078/aw.v3i1.905 Udhiyanasari, K. Y., & Prystiananta, N. C. (2019). Peningkatan Kemampuan Menulis Permulaan dengan Metode Analisis Glass. Journal of Elementary School (JOES), 2(1), 1–4.

https://doi.org/10.31539/joes.v2i1.572

Veerabudren, S., Kritzinger, A., Graham, M. A., & Geertsema, S. (2023). Grade 4 learners with reading and writing difficulties in Mauritius: Oral reading and spelling characteristics. Open Access.

Zhang, W., & Smolen, L. A. (2022). A tiered texts approach for scaffolding reading comprehension for English learners and struggling readers.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam mengatasi kesulitan membaca pada siswa yang mengalami kesulitan belajar. membaca di SD Negeri

Penelitian ini bertujuan (a) untuk mengetahui kesulitan belajar membaca permulaan pada siswa kelas 1 SD Negeri 2 Serenan, Juwiring, Klaten, (b) untuk mengetahui kesulitan

Usaha guru untuk mengatasi kesulitan belajar membaca siswa tunagrahita di kelas 5 SD Negeri Bangunrejo 2 adalah guru melakukan berbagai latihan dan penugasan,

Oleh karena itu, strategi guru untuk mengatasi kesulitan belajar membaca pada siswa sangat mempengaruhi keberhasilan siswa khususnya di kelas III Madrasah Ibtidaiyah.10

Kesulitan membaca Beni yaitu: 1 Sulit mengeja dengan benar, 2 Sulit mengeja kata atau suku kata yang bentuknya serupa, misal: b-d, u-n, atau m-n, 3 Ketika membaca anak sering salah

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan aplikasi android belajar membaca KEJARBACA untuk meningkatkan minat membaca siswa kelas III Sekolah Dasar dengan

Hasil data penelitian Berdasarkan temuan upaya yang dilakukan guru, peneliti mengelompokkan upaya guru berdasarkan jenis kesulitan membaca permulaan., mulai dari : Mengenal huruf :

Studi tentang kemampuan membaca awal dan tantangan siswa kelas 1 SD di SDN 2 Babakanreuma, analisis dan solusi mengatasi kesulitan