Pendahuluan
Latar Belakang
Untuk tetap menjaga kepercayaan masyarakat akibat pesatnya perkembangan industri perbankan yang dikaitkan dengan semakin kompleksnya risiko dalam kegiatan perbankan, otoritas moneter mewajibkan bank untuk menerapkan manajemen risiko. Penerapan manajemen risiko meliputi pengawasan aktif terhadap pengelolaan bank, kebijakan, prosedur dan penetapan limit risiko, identifikasi, pengukuran, pemantauan dan proses pengelolaan risiko. Manajemen risiko adalah rancangan dan penerapan prosedur untuk mengelola risiko agar kegiatan usaha bank dapat dikendalikan dalam batas yang dapat diterima dan menguntungkan bank, sehingga diharapkan kinerja bank menjadi lebih baik4.
Kinerja bank secara tegas terwakili dalam laporan, namun tidak menutup kemungkinan tingkat kesehatan bank juga dievaluasi pada bagian akhir. Rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja bank yang menjadi konsumsi masyarakat adalah non-performing loan (NPL), return on equity (ROE), efisiensi perekonomian bank (BOPO), net interest margin (NIM) dan return on assets (ROA). . .5. Penelitian yang dilakukan untuk mengukur kinerja perbankan di Yunani menunjukkan bahwa ROA (return on assets) dan ROE (return on equity) digunakan bersama-sama untuk mengukur kinerja bank umum dan bank koperasi.7.
Penelitian lain yang dilakukan pada bank umum di Indonesia dengan total aset kurang dari 1 triliun menunjukkan bahwa variabel risiko kredit (NPL), risiko suku bunga (NIM), efisiensi operasional (BOPO) dan permodalan (CAR) secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja. bank tingkat kedua.8. Dari uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti kinerja bank dalam kaitannya dengan penerapan manajemen risiko.
Masalah Penelitian
- Identifikasi Masalah
- Perumusan Masalah
- Pembatasan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Sistematika Penelitian
Landasan Teori
Tinjauan Pustaka
- Risiko Perbankan
- Manajemen Risiko Perbankan Oleh Bank Indonesia
- Ruang Lingkup Manajemen Risiko
- Prosedur Kebijakan, Mengukur serta Menetapkan Limit Risiko
- Proses Identifikasi, Penerapan, Pemantauan dan Sistem Informasi21
- Aspek Mengenai Pelaporan
- Kinerja Perbankan
- Return on Asset (ROA)
- Return on Equity (ROE)
- Net Interest Margin (NIM)
- Non Performing Loan (NPL)
Kompas 17 April 2004. . risiko-risiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha perbankan 19 Manajemen risiko memberikan pedoman bagaimana suatu risiko dapat dikelola dan dimitigasi sehingga mengurangi dampak negatif yang material. Proses penerapan manajemen risiko yang mencakup risiko: kredit, pasar, likuiditas, operasional, hukum, reputasi, strategi dan kepatuhan. Wewenang dan tanggung jawab manajemen harus mencakup hal-hal berikut26: a) pembuatan dokumentasi yang menjelaskan kebijakan dan strategi manajemen risiko. bank;.
Penetapan Kebijakan Manajemen Risiko antara lain mencakup penyusunan Strategi Manajemen Risiko yang menjamin hal tersebut29. 29 SEBI no. 5/21/DPNP tanggal 29 September 2003 tentang Pedoman Standar Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum. risiko kepatuhan), ketersediaan informasi manajemen dan keuangan, keberhasilan dan efisiensi operasional bank serta efektivitas budaya risiko pada seluruh tingkatan organisasi bank; Pengukuran risiko digunakan untuk mengukur profil risiko bank dengan tujuan memperoleh gambaran mengenai efektivitas penerapan manajemen risiko.
36 SEBI No.5/21/DPNP tanggal 29 September 2003 tentang Pedoman Standar Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum. 8. e) seluruh risiko yang melekat pada seluruh transaksi dan produk bank serta dapat diintegrasikan ke dalam sistem informasi manajemen Bank. 37 SEBI No.5/21/DPNP tanggal 29 September 2003 tentang Pedoman Standar Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum. d) batas posisi terbuka; .. g) pelanggan dan rekanan (batas peminjam individu dan rekanan); ..h) pihak terkait (batas pihak terkait); .. i) industri/sektor ekonomi dan wilayah (industri/sektor ekonomi dan batas geografis). Sistem informasi manajemen risiko harus dimiliki dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan Bank, agar penerapan manajemen risiko dapat berjalan efektif.
Sebagai bagian dari proses manajemen risiko, Bank harus memiliki sistem informasi manajemen risiko yang dapat menyediakan 41.
Penelitian Terdahulu
Kredit bermasalah atau kredit bermasalah adalah kredit yang termasuk dalam kategori kurang lancar, diragukan, dan macet dari total kredit yang diberikan kepada pihak ketiga. NPL mencerminkan besarnya risiko kredit yang dihadapi bank. Semakin kecil NPL maka semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung bank.58.
Kerangka Pemikiran
Mengingat dampak penerapan manajemen risiko terhadap kinerja keuangan perbankan akan tercermin pada laporan keuangan tahun-tahun berikutnya. Apabila variabel-variabel yang dibandingkan memberikan hasil yang berbeda maka dikatakan proses penerapan manajemen risiko pada suatu bank berpengaruh terhadap kinerja keuangan bank tersebut.
Hipotesis
Metodologi Penelitian
Jenis dan Sumber Data
Populasi dan Sampel Penelitian
- Populasi Penelitian
- Sampel Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Teknik Pengolahan Data
- Analisis Komparatif
- Uji Normalitas Data
- Paired Sample T Test (Uji Sampel Berpasangan)
Hasil dan Pembahasan
Gambaran Umum Objek Penelitian
- Objek Penelitian Berdasarkan Struktur dan Prinsip Kegiatan Usaha
- Objek Penelitian Berdasarkan Total Aset
- Objek Penelitian Berdasarkan Bentuk Hukum dan Kepemilikan
- Objek Penelitian Berdasarkan Besarnya Modal
Perubahan ruang lingkup rahasia bank yang sebelumnya hanya mencakup sisi aset dan kewajiban neraca bank menjadi hanya mencakup nasabah penyimpan dan simpanannya saja. Berdasarkan karakteristik bank secara umum, objek penelitiannya adalah sampel bank yang terdaftar di BEI yang dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis yaitu ditinjau dari struktur bank dan prinsip perbankan, total aset, kepemilikan. bentuk hukum) dan dari segi modal. Ditinjau dari prinsip kegiatan usahanya, bank dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu bank dengan prinsip usaha konvensional (biasanya lebih dikenal dengan bank konvensional) dan bank dengan prinsip usaha syariah (bank syariah).
Bank konvensional merupakan bank yang menjalankan kegiatan usahanya dengan mencari keuntungan dari selisih bunga. Sedangkan bank syariah adalah bank yang beroperasi dengan prinsip bagi hasil dan tidak mengenal bunga (karena dianggap riba dalam hukum Islam). Dalam penelitian ini, seluruh sampel bank (fasilitas penelitian) adalah bank umum dengan prinsip operasi konvensional yang telah terdaftar di BEI.
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa pada tahun 2002 dan 2003 (sebelum diperkenalkannya manajemen risiko) jumlah bank dengan aset di atas 30 triliun hanya 4 bank, sedangkan untuk aset bank antara 1Q-5Q terdapat 5 bank yang memiliki saham. dari total sampel, 31%. Jumlah bank terbesar pada tahun 2002 dan 2003 adalah bank dengan total aset antara Rp 5 triliun hingga Rp 10 triliun dengan jumlah 7 bank. Kategori ini merupakan bank yang mempunyai porsi terbesar dari total sampel yang digunakan dalam survei (sekitar 56%).
Berdasarkan ketentuan tersebut, maka sampel bank yang digunakan dalam penelitian adalah seluruh bank yang berbentuk badan hukum perseroan terbatas (PT). Bank ditinjau dari kepemilikannya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu bank yang merupakan bank milik negara atau badan usaha milik negara (BUMN) dan bank milik swasta atau biasa disebut bank swasta nasional (BUSN). Bank milik negara adalah bank yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh pemerintah, sedangkan bank umum adalah milik swasta nasional.
Berdasarkan diagram lingkaran 4.1 di atas, bank yang termasuk dalam kategori BUMN hanya berjumlah sekitar 6% dari total 16 bank yang ada. Berdasarkan beberapa kategori di atas, maka sampel bank yang digunakan dalam penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu bank fokus dan bank nasional. Berdasarkan tabel 4.3 tahun 2002, terdapat sedikitnya 15 (lima belas) lembaga keuangan yang menjadi sampel dalam kategori Bank fokus.
Pembahasan Hasil Penelitian
- Analisis Komparatif
- Nilai Return on Asset (ROA)
- Nilai Return on Equity (ROE)
- Nilai Net Interest Margin (NIM)
- Nilai Non Performing Loan (NPL)
- Uji Normalitas Data
- Uji Beda t Keuangan Perbankan untuk Seluruh Sampel
- Uji Beda t ROA Perbankan Sebelum dan Sesudah Penerapan
- Uji Beda t ROE Perbankan Sebelum dan Sesudah Penerapan
- Uji Beda t NIM Perbankan Sebelum dan Sesudah Penerapan
- Uji Beda t Keuangan Perbankan Berdasarkan Modal
- Uji Beda t Keuangan Perbankan untuk Sampel Bank dengan Fokus
- Analisis Dampak Manajemen Risiko Bagi Kinerja Bank
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti mengenai kinerja bank antara sebelum penerapan manajemen risiko dan setelah penerapan manajemen risiko dengan sampel bank yang masih terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada tahun 2002 hingga 2006 dengan menggunakan rasio keuangan. Rasio-rasio keuangan tersebut meliputi Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Net Interest Margin (NIM) dan Non Performing Loan (NPL). Pengaruh penerapan manajemen risiko terhadap Return on Assets (ROA) bank setelah dilakukan uji t-difference menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan untuk kategori seluruh sampel penelitian (16 bank), modal bank antara 0,1T-10T (15 bank), dan total aset untuk aset 1T-5T (7 bank) dan aset 10T-30T (5 bank).
Namun untuk kategori total aset bank dengan aset di atas 30 triliun (4 bank), ROA menunjukkan perbedaan yang signifikan setelah penerapan manajemen risiko. Dapat disimpulkan bahwa setelah penerapan manajemen risiko, kinerja ROA aset bank meningkat diatas 30 triliun, dan peningkatan tersebut berbeda secara signifikan antara sebelum penerapan manajemen risiko dan setelah penerapan manajemen risiko. Pengaruh penerapan manajemen risiko terhadap return on equity (ROE) bank setelah dilakukan uji t-difference tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan untuk kategori seluruh sampel penelitian (16 bank), modal bank antara 0,1T-10T (15 bank), dan dari segi total aset.
Oleh karena itu dapat disimpulkan, tidak terdapat perbedaan kinerja keuangan bank yang signifikan antara sebelum dan sesudah penerapan manajemen risiko ditinjau dari ROE. Pengaruh penerapan manajemen risiko terhadap Net Interest Margin (NIM) bank setelah dilakukan uji t-difference tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan untuk kategori seluruh sampel penelitian (16 bank), modal bank antara 0,1T-10T ( 15 bank), dan dari segi total aset. Jadi dapat disimpulkan, tidak terdapat perbedaan kinerja keuangan bank yang signifikan antara sebelum dan sesudah penerapan manajemen risiko ditinjau dari NIM.
Pengaruh penerapan manajemen risiko non-performing loan (NPL) bank setelah dilakukan uji t-difference tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan untuk kategori seluruh sampel penelitian (16 bank), permodalan bank antara 0,1T-10T. (15 bank), dan dari segi total aset. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kinerja keuangan bank yang signifikan antara sebelum dan sesudah penerapan manajemen risiko ditinjau dari NPL. Meskipun hasil penelitian ini banyak yang tidak signifikan, namun penerapan manajemen risiko tetap diperlukan karena beberapa alasan berikut.
Saran
Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan bank umum di Indonesia (Studi kasus pada bank umum dengan total aset kurang dari 1 triliun). Perbandingan kinerja bank BUMN dan bank swasta dengan rasio CAMEL dan pengaruhnya terhadap harga saham. Klarifikasi PBI Nomor 11/25/PBI/2009 tentang Perubahan PBI Nomor 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum.