Analisis Kinerja Pemasaran Komoditas Ayam Pedaging di Desa Bintare Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba Dibimbing oleh AMRUDDIN dan NADIR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Analisis Kinerja Pemasaran Komoditas Ayam Pedaging di Desa Bintare Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ayam broiler di Kecamatan Bintare melalui beberapa jalur usaha ayam pedaging yaitu a) Peternak, Pengumpul, Pengecer dan Konsumen.
9864 per kilogram dari perbandingan antara keuntungan dan biaya badan pemasaran merupakan salah satu selisih margin pemasaran dengan biaya yang dikeluarkan dalam proses pemasaran. lembaga pemasaran ayam pedaging di desa Bintare.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Kegunaan Penelitian
Meningkatnya konsumsi dan permintaan masyarakat akan ayam broiler merupakan peluang usaha yang ingin digarap oleh masyarakat Kecamatan Ujung Bulu khususnya Desa Bintare. Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ayam pedaging dilakukan di Desa Bintare Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba yang merupakan salah satu daerah penghasil ayam pedaging di Provinsi Sulawesi Selatan. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka perlu dikaji bagaimana kinerja pemasaran usaha ternak ayam pedaging di Desa Bintare Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba.
Untuk menganalisis kinerja pemasaran pada usaha peternak ayam pedaging di Desa Bintare Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba.
TINJAUAN PUSTAKA
Usaha Ternak Ayam Broiler
Pola Usaha Ayam Broiler
Secara umum pola peternakan mandiri lebih sensitif terhadap total produksi, fluktuasi harga broiler dan harga input pasar. Pola Usaha Semi Mitra adalah peternakan yang bermitra dengan PS (toko/usaha penjualan hasil pertanian) untuk menyediakan beberapa kebutuhan peternakan, biasanya pakan, bibit, obat-obatan. Peternak ayam pedaging yang menerapkan pola usaha kemitraan tidak harus mengeluarkan semua biaya, karena pola ini merupakan bentuk kerjasama yang dilakukan dengan pihak lain, seperti pabrik pakan, toko unggas dan pembibitan (perusahaan) besar.
Santoso dan Sudaryani (2003) membagi pola usaha kemitraan menjadi pola inti plasma, pola sewa kandang dan peralatan, dan pola investor.
Penelitian Terdahulu
Menganalisis risiko produksi dan alternatif manajemen risiko untuk peternakan ayam pedaging di Desa Karassing, Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba. Analisis pendapatan usaha ayam pedaging dengan model dan skala yang berbeda pada peternakan rakyat di Kabupaten Lumajang.
METODEPENELITIAN
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Teknik Penentuan Informan
- Jenis dan Sumber Data .1 Jenis Data .1Jenis Data
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
Data kualitatif yaitu data yang diperoleh dari wawancara langsung dengan petani, dan data kuantitatif yaitu data berupa total pendapatan, biaya pendapatan, biaya penyusutan peralatan, biaya tenaga kerja, total biaya. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari lapangan, baik melalui observasi maupun wawancara langsung dengan petani, sedangkan data primer berasal dari sumber asli yang dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Data primer mengacu pada sumber data yang tidak tersedia dalam bentuk file atau laporan. Data ini dapat dikumpulkan dari individu, kelompok fokus atau melalui pemanenan pakar.
Data sekunder merupakan pelengkap data primer, yaitu data yang diperoleh dalam bentuk siap pakai yang telah dikumpulkan oleh reviewer lain. Materi yang diterbitkan oleh reviewer lain dapat digunakan untuk membuat formula atau informasi baru untuk memecahkan masalah saat ini dan masa depan. Pengumpulan data dilakukan dengan mengamati kondisi yang terjadi di daerah penelitian yaitu Desa Bintare Kecamatan Ujung Kabupaten Bulukumba.
Dokumentasi, yaitu informasi yang dapat diperoleh dari fakta yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip, foto, hasil rapat, memorabilia, catatan kegiatan, dll. Data berupa dokumen seperti ini dapat digunakan untuk mencari informasi yang terjadi di masa lalu. Untuk menjawab rumusan masalah menggunakan metode analisis deskriptif dengan indikator kinerja pemasaran yaitu semakin besar margin pasar yang diperoleh, semakin baik kinerja pemasaran, semakin banyak keuntungan pemasaran, semakin baik kinerja pemasaran, dan semakin besar bagian petani. , semakin baik kinerja pemasarannya.
Analisis deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi pola saluran pemasaran yang terjadi di Desa Bintare Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba. Definisi operasional mencakup makna yang digunakan untuk memperoleh dan menganalisis data yang berkaitan dengan tujuan penelitian.
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Letak geografis dan luas wilayah
Ibu kota kabupaten ini luasnya 1.154,67 km² dan berpenduduk 395.560 jiwa dengan jarak kurang lebih 153 km dari Kota Makassar. Secara geografis Kabupaten Bulukumba terletak pada koordinat antara 5°20" sampai 5°40" Lintang Selatan dan 119°50" sampai 120°28" Bujur Timur. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Teluk Bone, Laut Flores di selatan dan Kabupaten Bantaeng di barat.
Kabupaten Bulukumba berada dalam keadaan empat dimensi yaitu dataran tinggi di kaki gunung Bawakaraeng-Lompobattang, dataran rendah, pantai dan laut lepas.
Gambaran Demografi
HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Identitas Informan 5.1 Identitas Informan
Umur
Tingkat Pendidikan
Pengalaman Usaha
Jumlah Tanggungan Keluarga
Untuk mempekerjakan pekerja untuk menjalankan usaha ayam pedaging, Anda tidak perlu mengeluarkan uang karena dibantu oleh anggota keluarga, yang akan sedikit meringankan pengeluaran Anda.
Analisis Kinerja Pemasaran Usaha Ternak Ayam Broiler di Kelurahan Bintarore Kabupaten Bulukumba
Petani yang memiliki banyak anggota dan sedikit lahan tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga petani. Ayam broiler merupakan ayam ras unggul hasil persilangan ayam ras yang memiliki produktivitas tinggi terutama dalam produksi daging ayam (Santoso dan Sudaryani, 2011). Ayam broiler merupakan ayam yang memiliki kemampuan menghasilkan daging dengan sangat cepat sehingga saat ini banyak dikembangkan oleh masyarakat.
Ayam pedaging adalah istilah untuk menyebut jenis ayam yang dihasilkan oleh peternakan teknologi, yang memiliki karakteristik ekonomis, ditandai dengan pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan yang efisien, siap potong pada usia yang relatif muda dan menghasilkan daging berserat lembut berkualitas. Murtidjo, 1987). Ini adalah cara untuk mempelajari daya tarik pasar tertentu dalam industri tertentu Pemasaran mencakup kegiatan yang berkaitan dengan tindakan menciptakan penggunaan atau manfaat karena tempat, waktu dan kepemilikan. Pemasaran adalah kegiatan komersial yang berkaitan dengan arus barang dan jasa antara produsen dan konsumen.
Menurut Kotler dan Keller (2009), “Pemasaran merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh perusahaan, baik perusahaan barang maupun jasa dalam upaya mempertahankan kelangsungan usahanya.” Sedangkan menurut Tjiptono dan Chandra (2012), “Pemasaran berarti kegiatan individu yang bertujuan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan melalui pertukaran”. Pemasaran. Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang digunakan untuk merencanakan, menentukan harga, mendistribusikan dan mempromosikan suatu barang atau jasa yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pembeli agar dapat memuaskan. Pemasaran harus dibedakan dengan penjualan, pemasaran merupakan orientasi manajemen yang beranggapan bahwa tugas utama perusahaan adalah memaksimalkan kepuasan pelanggan (consumer satisfaction), sedangkan penjualan hanya merupakan bagian dari kegiatan pemasaran yang lebih terfokus pada peningkatan volume penjualan yang maksimal.
Pemasaran sangat penting untuk meningkatkan volume penjualan, apalagi pemasaran ayam pedaging dari peternak seluruhnya dilakukan oleh perusahaan inti yang menjual ayam pedaging yang dilakukan dengan cara Deliverier Order (DO), yaitu oleh pembeli yang melakukan pre-order ayam pedaging ke pembeli ayam pedaging. Hasil wawancara yang dilakukan dengan peternak, pengepul, pengecer, ayam pedaging di Desa Bintare Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba.
Saluran Usaha Ayam Broiler
Input produksi bersifat alami, pembudidaya plasma hanya membuat input produksi seperti bahan bakar dan sekam. Berbeda dengan pedagang pengumpul, fungsi cagar alam adalah menyediakan makanan dan minuman bagi ayam yang tidak laku pada hari itu. Namun penyimpanan ini umumnya tidak berlangsung lama, karena pengepul biasanya membeli ayam hanya sesuai permintaan pasar atau pengecer yang berminat.Dalam menjual ayam untuk ayam, pengepul biasanya menjual ayam hidup.
Sementara jumlah kematian akibat pengangkutan dan penanganan fisik menjadi salah satu risiko yang ditanggung pengepul sebagai pembeli dengan rata-rata tingkat kematian satu hingga tiga persen. Untuk menghindari resiko kematian yang tinggi, usaha ini biasanya mengangkut ayam pedaging pada pagi atau sore hari dan mengurangi kepadatan setiap keranjang. Hasil penelitian pada saluran usaha ayam pedaging di Kecamatan Bintare Kecamatan Ujung Bulu yaitu model 1 70% dan model 2 20% dan model 3 10% di desa Bintare lebih banyak memilih model 1 karena banyak tengkulak. pedagang yang terlibat sehingga harga yang dikeluarkan oleh konsumen tinggi.
Hal ini sejalan dengan pendapat Amalia (2013) bahwa semakin banyak perantara yang terlibat dalam saluran bisnis ayam pedaging maka semakin tinggi pula harga yang dibayar konsumen. Nazaruddin (2011) menegaskan kembali bahwa saluran bisnis ayam pedaging hingga pemasaran merupakan salah satu faktor penentu peningkatan penjualan ayam pedaging yaitu saluran pengiriman produk, jika saluran tersebut dapat dioptimalkan dengan baik maka konsumen dapat dengan mudah mendapatkan produk tersebut.
Margin Pemasaran
Pedagang ayam pedaging berusaha meningkatkan nilai guna tambahan peternak ayam pedaging dengan mendistribusikan stok ayam pedaging dari peternak ke konsumen, dari satu pasar ke pasar lainnya. Manfaat yang diterima setiap agen pemasaran sangat bervariasi tergantung pada bisnisnya. Margin pemasaran adalah selisih antara harga yang ditawarkan produsen dengan harga yang dibayarkan kepada konsumen akhir.Margin adalah selisih harga atau selisih antara harga yang dibayarkan konsumen akhir dengan harga yang diterima petani.
Dalam hal ini margin pemasaran pedagang pengumpul adalah selisih antara harga yang dibayarkan kepada petani dengan harga jual kepada pengecer dan konsumen dalam saluran pemasaran dengan komoditi yang sama (Ali, 2014). Biaya pemasaran pengepul Rp 3.903, masing-masing terdiri dari biaya tenaga kerja Rp 3.472 per kilogram, biaya angkut Rp 451,4 per kilogram dan tunjangan. Sedangkan market cost retailer Rp 1.789, masing-masing terdiri dari biaya angkut Rp 1.500 per kilogram, biaya pengguna Rp 208, dan biaya pengemasan Rp 80,9.
Ini karena saluran kedua hanya menggunakan satu agen pemasaran dan biaya pemasarannya rendah. Hal ini didukung oleh pendapat Jumiati (2013) dan Duungan (2014) yang menyatakan bahwa semakin jauh jarak dan semakin banyak perantara yang terlibat dalam pemasaran maka semakin tinggi biaya pemasaran dan semakin besar margin pemasaran. Besarnya margin yang dicapai pada saluran III lebih sedikit dibandingkan saluran I dan II.
Saluran kedua hanya menggunakan satu agen pemasaran dan biaya pemasarannya rendah.
Rasio Keuntungan dan Biaya
Efisiensi Pemasaran Ayam Broiler
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa saluran I sampai dengan saluran II menunjukkan saluran pertama yang paling efektif dan ekonomis yaitu sebesar 71%, sehingga efektifitas saluran pemasaran di Kecamatan Bintare Kabupaten Bulukumba dipengaruhi oleh biaya yang dikeluarkan dan nilai utilitas produk ayam boiler yang diperdagangkan di pasar. Efisiensi pemasaran juga dapat dilihat dari pemerataan keuntungan yang diterima masing-masing lembaga pemasaran sesuai dengan perbandingan biaya.
Kesimpulan
Saran
Analisis Pendapatan Usaha Ayam Pedaging pada Berbagai Pola dan Skala Peternakan Rakyat di Kabupaten Lumajang. (1 Juli 2017). Dengan ini saya bermaksud untuk melaksanakan kegiatan penelitian yang berjudul Disertasi “Analisis Kinerja Pemasaran Ayam Broiler di Desa Bintare Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba.