Publikasi ini merupakan salah satu hasil dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian dalam menjalankan visi dan misinya yaitu mempublikasikan data sektor pertanian beserta hasil analisisnya. Publikasi Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Teh Tahun 2021 merupakan bagian dari publikasi Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Tahun 2021. Publikasi ini disajikan dalam bentuk kertas dan soft copy yang dapat diakses melalui website Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian yaitu http: //www.epublikasi.setjen .pertanian.go.id.
Dengan terbitnya publikasi ini, diharapkan para pembaca dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap dan komprehensif mengenai kinerja dan analisis hasil perdagangan teh.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
2 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kebijakan dalam rangka pengembangan komoditas teh antara lain perlunya mensinergikan seluruh potensi sumber daya tanaman teh dalam rangka meningkatkan daya saing usaha, nilai tambah, produktivitas dan mutu produk melalui peran serta aktif pemangku kepentingan, terpadu, holistik dan berkelanjutan, meningkatkan produksi dan produktivitas secara terpadu dan berkelanjutan melalui pengembangan komoditas (intensifikasi, rehabilitasi dan pembaharuan). Kontribusi sektor pertanian terhadap produk domestik bruto (PDB) pada triwulan II tahun 2021 mencatat pertumbuhan tertinggi dibandingkan seluruh sektor usaha.
Tujuan
METODOLOGI
Sumber Data dan Informasi
Metode Analisis
1,0 hingga -0,50 : Berarti komoditas tersebut dalam tahap introduksi dalam perdagangan dunia atau memiliki daya saing rendah atau negara yang bersangkutan merupakan importir suatu komoditas. -0,49 hingga 0,09: Berarti komoditas tersebut berada dalam tahap substitusi impor. 0,10 hingga 0,79 : Artinya komoditas tersebut sedang dalam tahap ekspansi ekspor dalam perdagangan global atau memiliki daya saing yang kuat. 0,80 hingga 1,0 : Artinya komoditas tersebut berada pada tahap kematangan dalam perdagangan global atau memiliki daya saing yang sangat kuat.
Balassa (1965) memperoleh ukuran empiris keunggulan komparatif suatu negara dengan melakukan perhitungan matematis terhadap data nilai ekspor suatu negara dibandingkan dengan nilai ekspor dunia. Xij : Nilai ekspor komoditas i dari negara j (Indonesia) Xj : Total nilai ekspor nonmigas dari negara j (Indonesia). Suatu produk dinyatakan kompetitif jika RCA>1, dan nonkompetitif jika RCA<1.
Suatu produk dikatakan mempunyai daya saing apabila mempunyai nilai diatas nol, dan dikatakan tidak mempunyai daya saing bila nilainya dibawah nol. Rasio Ketergantungan Impor (IDR) merupakan rumus yang memberikan informasi mengenai ketergantungan suatu negara terhadap impor suatu komoditas. Semakin besar nilai penetrasinya dibandingkan dengan nilai penetrasi negara lain, berarti komoditas negara tersebut mempunyai daya saing yang cukup kuat.
GAMBARAN UMUM KINERJA PERDAGANGAN SEKTOR
Perkembangan Neraca Perdagangan Sektor Pertanian
12 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian mencapai $10,06 miliar dan pada tahun 2020 surplus neraca perdagangan meningkat menjadi $11,45 miliar. Jika dilihat dari pertumbuhannya, surplus volume neraca perdagangan barang pertanian pada tahun 2020 ternyata mengalami penurunan dibandingkan tahun 2019 yaitu mencapai 18,18%. Penurunan tarif pada tahun ini terutama disebabkan oleh penurunan volume ekspor sebesar 5,68%, sedangkan volume impor meningkat sebesar 0,37%.
Di sisi lain, dari sisi nilai, terjadi peningkatan yang cukup besar pada neraca perdagangan tahun 2020 dibandingkan tahun 2019 yaitu sebesar 53,95%. Volume ekspor dan impor komoditas pertanian dapat dilihat lebih jelas pada Gambar 3.1 yang secara umum menunjukkan bahwa volume ekspor selalu lebih besar dibandingkan volume impor atau mengalami surplus pada neraca perdagangan pertanian. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 13 Mengenai nilai neraca perdagangan komoditas pertanian dapat dilihat pada Gambar 3.2 Surplus nilai neraca perdagangan terbesar dicapai pada tahun 2017 yaitu sebesar USD 15,44 miliar dengan nilai ekspor sebesar USD 34,92 miliar dan nilai impor sebesar USD 19,48 miliar.
Perkembangan Neraca Perdagangan Subsektor Perkebunan
Catatan: Data tahun 2016 menggunakan kode HS sesuai klasifikasi BTKI tahun 2012. Data tahun tersebut menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2017 No. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 15 Begitu pula dengan impor, dari segi volume setiap tahunnya sedikit meningkat sebesar 5,61 juta ton dan pada tahun 2020 menjadi 6,77 juta ton. Subsektor perkebunan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun baik volume maupun nilai, sedangkan pada tahun 2020 mengalami sedikit penurunan.
Neraca perdagangan subsektor perkebunan meningkat nilainya sebesar USD 20,54 miliar menjadi sebesar USD 23,41 miliar pada tahun 2020. Peningkatan tarif ini terutama disebabkan oleh pertumbuhan nilai ekspor yang meningkat sebesar 11,23% per tahun, dengan nilai ekspor pada tahun 2020 sebesar USD 28,23 miliar. 16 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Volume ekspor subsektor perkebunan periode (Januari-Agustus) tahun 2021 dibandingkan periode yang sama tahun 2020 tercatat mengalami kenaikan secara kuantitatif sebesar 9,58% dibandingkan tahun 2020.
Volume dan nilai ekspor mengalami peningkatan dengan kenaikan sebesar 12,09% dari sisi volume dan 66,64% dari nilai pada periode Januari – Agustus 2020 dan 2021.
KERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN TEH
Sentra Produksi Teh
18 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sepanjang tahun 2019, produksi teh dalam negeri mencapai 129.832 ton dibandingkan produksi sepanjang tahun 2018 yang mencapai 140.236 ton.
Keragaan Harga Teh
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agustus Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agustus Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agustus Sep Okt Nov Des Perkembangan harga konsumen teh di Indonesia Perkembangan harga konsumen teh di provinsi-provinsi sentra produksi di Indonesia disajikan pada tabel 4.3. Perkembangan harga konsumen di setiap sentra cukup bervariasi dengan harga terendah terdapat di Jawa Barat.
Produsen teh seperti Tiongkok, Vietnam, dan Argentina menjual teh mereka melalui penjualan langsung, sementara negara produsen lainnya seperti Kenya, Sri Lanka, india, dan India menerapkan sistem lelang. Keuntungan penjualan langsung bagi eksportir adalah pembayaran biasanya lebih cepat, ketidakpastian harga dan penjualan lebih rendah dan dapat mengurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan lelang, dengan sistem ini kepuasan pembeli terjamin dengan pengiriman yang lebih cepat (juga kualitas lebih tinggi). Berdasarkan data Bank Dunia, pada tahun 2019 rata-rata harga teh tercatat sebesar 2561 USD/ton.
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 21 penyebab turunnya harga teh di dunia salah satunya terkait dengan menurunnya jumlah produksi teh di berbagai negara produsen teh akibat permasalahan perubahan cuaca, konflik dalam negeri tujuan ekspor . negara dan peraturan perdagangan.
Keragaan Kinerja Perdagangan Teh
22 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Produksi teh Indonesia saat ini masih mencukupi untuk konsumsi dalam negeri, hampir separuh produksi teh Indonesia diekspor ke luar negeri. Nilai impor teh pada Januari-Agustus 2021 diperkirakan sebesar USD 14,99 juta, lebih rendah dibandingkan nilai impor tahun 2020 yang diperkirakan sebesar USD 18,09 juta. Kumulatif volume dan nilai impor teh periode Januari sampai Agustus 2020 dan 2021 dapat dilihat secara rinci pada Tabel 4.5.
26 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kode dan deskripsi HS dalam perdagangan teh Indonesia membedakan dua jenis teh hijau dan teh hitam dalam bentuk jadi (Tabel 4.6). Sementara itu, volume impor teh hijau pada tahun 2020 sebesar 3,69 juta ton atau $7,46 juta, meningkat dibandingkan tahun 2019 sebesar 4,57 juta ton atau $13,44 juta. Dilihat dari neraca perdagangan ekspor dan impor teh hijau dan hitam pada tahun 2016 hingga 2020 mengalami surplus.
28 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Besaran ekspor dan impor teh Indonesia berdasarkan kode HS pada tahun 2020 dapat dilihat pada Tabel 4.8. Pada tahun 2016, negara asal impor terbanyak adalah Vietnam dengan nilai impor sebesar $9,95 juta, namun pada tahun 2020 impor teh dari negara ini sedikit menurun menjadi $9,39 juta. 30 Pusat data dan sistem informasi pertanian di Thailand dengan nilai impor 18 ribu USD, meningkat pada tahun 2020 menjadi 2,32 juta USD.
Tujuh negara pengekspor teh terbesar di dunia menurut data peta perdagangan disajikan secara rinci pada Tabel 4.11. Rata-rata nilai impor sembilan (9) negara pengimpor teh terbesar di dunia memberikan kontribusi sebesar 44,11% terhadap total impor teh dunia.
ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN TEH
Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio (SSR)
Dengan kata lain, teh Indonesia sudah memiliki persaingan yang kuat dan sedang dalam tahap ekspansi ekspor. Posisi saing teh india relatif lebih rendah dibandingkan Kenya, Sri Lanka, India, namun masih lebih tinggi dibandingkan China. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 37 mengukur keunggulan komparatif teh RCA dan RSCA Indonesia terhadap komoditas teh Indonesia disajikan pada Tabel 5.3.
Berdasarkan hasil perhitungan nilai RSCA yang disajikan pada Tabel 5.3 menunjukkan bahwa komoditas teh Indonesia memiliki daya saing di pasar dunia. Indonesia memiliki sumber daya lahan yang cocok untuk menanam teh dan mempunyai potensi besar untuk memperluas lahan serta meningkatkan kuantitas dan kualitas teh Indonesia. Permasalahan lain pada industri teh dalam negeri adalah pangsa pasar ekspor teh Indonesia terhadap total ekspor teh dunia mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir.
Analisis ini dapat menggambarkan seberapa besar produk ekspor teh Indonesia telah menembus pasar negara pengimpor dan seberapa besar penetrasi pasar negara pesaing ekspor teh Indonesia berada di negara pengimpor yang sama. 42 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 4) Sumbangan nilai ekspor subsektor perkebunan pada sektor pertanian menempati urutan kedua setelah perkebunan yaitu sebesar 91,115%. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 43 8) Rata-rata nilai impor dari sembilan (9) negara pengimpor teh terbesar di dunia memberikan kontribusi sebesar 44,11% terhadap total impor teh dunia.
Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) dan Indeks Keunggulan
Analisis Penetrasi Pasar Negara Pengeskpor Teh
PENUTUP
Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa: .. 1) Sentra produksi teh tahun 2016-2020 berada di 5 (lima) provinsi dengan kontribusi kumulatif sebesar 93,08% yaitu provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara. , Sumatera Barat dan Jawa Timur. Pergerakan harga teh dari tahun 2018 hingga tahun 2020 terus mengalami kenaikan, harga konsumen tertinggi dicapai pada tahun 2018 sebesar Rp. Masing-masing tercatat sebesar ($3,392/t, $2,676/t, $2,011/t). Dari ketiga lembaga lelang tersebut, penurunan harga terbesar terjadi di Kolkata, yakni pada bulan Februari dan Maret 2019 serta April 2020.
Rata-rata nilai ekspor Tiongkok sebagai eksportir terbesar dunia selama periode 2016-2020 mencapai USD 1,78 miliar atau 22,03% dari total ekspor dunia, disusul Sri Lanka dan Kenya sebesar USD 1,35 miliar dan USD 1,27 miliar. Sedangkan Indonesia menempati peringkat 13 dunia sebagai negara eksportir teh dengan rata-rata nilai ekspor tahun 2016-2020 sebesar USD 25,88 juta. Pakistan merupakan negara pengimpor terbesar di dunia dengan kontribusi impor sebesar 7,78% atau rata-rata nilai impor sebesar USD 540,06 juta.
Disusul Amerika dan Rusia yang menyumbang nilai impor masing-masing sebesar 6,97% dan 6,94% dengan rata-rata nilai impor sebesar USD 483,8 juta dan USD 481,6 juta. Kondisi ini bervariasi dari tahun ke tahun dan tahun 2016 merupakan tahun impor teh tertinggi. Selanjutnya, nilai SSR komoditas teh pada tahun 2016-2020 lebih dari 126,70% yang berarti sebagian besar kebutuhan teh dalam negeri dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.