ANALISIS KOMPARATIF PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL
RESPONSIBILITY DALAM SUSTAINABILITY REPORT PT BANK CENTRAL ASIA TBK DAN PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) TBK BERDASARKAN
GLOBAL REPORTING INITIATIVE G4
(Studi Kasus pada Sustainability Report PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk tahun 2016)
Oleh:
Irma Surya Frany [email protected]
Accounting and Finance Department, Faculty of Economic and Bussines Brawijaya University
Dosen Pembimbing:
Yeney Widya Prihatiningtias, SE., Ak., MSA., DBA.
This study is aimed to understand the Corporate Social Responsibility disclosure in the Sustainability Reports of PT Bank Central Asia Tbk and PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, and to determine whether the disclosures are in accordance with GRI G4. The research also compared the Sustainability Reports of the two companies to find out which Sustainability Report had a higher suitability with GRI G4. This study combines two analytical techniques, namely content analysis and comparative analysis, to interpret and compare the contents of the sustainability reports of the two companies. The analysis in this study focuses on the fulfillment of the Disclosure on Management Approach (DMA) and Indicators in three categories of disclosures: Economics (EC), Environment (EN), and Social Affairs consisting of the sub- categories of Labor and Work Comfort Practices (LA), Human Rights (HR), Society (SO), and Product Responsibility (PR). The data collection technique used in this study is document study.
From the results of the interpretation and comparison of sustainability reports, it was found that PT. Bank Central Asia Tbk had a total disclosure percentage of material aspects which were identified for DMA to 75.07% and for Indicators to 48.13%, and thus the total average percentage of material aspects obtained for all disclosure categories is 61.60%. Meanwhile, PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk had a total percentage disclosure of material aspects identified for DMA to 86.01% and for Indicators to 57.85%, and so the total average percentage of disclosure of material aspects obtained for all categories of disclosure amounted to 71.93%. This study indicates that the disclosure of Corporate Social Responsibility in the Sustainability Report of PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk is higher in conformity with GRI G4 compared to PT Bank Central Asia Tbk.
Keywords: Corporate Social Responsibility, Sustainability Report, GRI G4, DMA, Indicator, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
I. PENDAHULUAN
Perbankan merupakan salah satu sub-sector dalam industri jasa keuangan yang paling berperan penting dalam menopang tonggak perekonomian. Sejalan dengan fungsinya sebagai lembaga intermediasi keuangan (financial intermediary), bank memiliki peran penting dalam usaha penyaluran dana untuk berbagai kepentingan. Bank bertindak sebagai perantara yang mampu menyalurkan modal kepasar, wilayah, sektor, atau proyek yang berbeda, atau dapat memilih untuk fokus pada derivatif keuangan (Weber, 2014). Kegiatan tersebut membuat pihaknya diklaim memiliki pengaruh yang mendominasi untuk turut berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan. (Helleiner 2011; Mezher, Jamali, dan Zreik 2002; Scholtens 2009, 2011 dalam Weber, 2014). Di dalam konsep pembangunan berkelanjutan, perusahaan, termasuk bank, diharapkan untuk dapat memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kebutuhan generasi masa depan (Brundtland, 1987). Hal ini dilakukan sebagai bagian dari tata kelola yang baik dalam berjalanya bisnis suatu entitas.
Jika pembangunan berkelanjutan menerapkan pada konsep keberlanjutan, tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) dipandang sebagai kendaraan yang dapat digunakan perusahaan untuk dapat berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan (Moon, 2007). CSR merupakan “suatu bentuk tindakan, yang berangkat dari pertibangan etis perusahaan, yang mana diarahkan untuk meningkatkan ekonomi yang dibarengi dengan peningkatan kualitas hidup bagi karyawan berikut keluarganya, serta sekaligus peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar dan masyarakat secara lebih luas” (Hadi, 2014:48). Lebih lanjut, Jones dan Comfort (2005) menegaskan bahwasannya CSR merupakan akar dari pengakuan bahwa bisnis merupakan bagian dari masyarakat dan mempunyai potensi untuk membuat kontribusi yang positif dalam mencapai tujuan dan aspirasi sosial.
Bagi bank, CSR penting untuk dilakukan. Weber (2014) yang mendasarkan pada Baranes (2009); Egede dan Lee (2007); Thompson & Cowton (2004); Scholtens, Cerin, & Hassel (2008);
Weber (2012); Weber, Scholz, dan Michalik (2010); Berman, S. L., A. C. Wicks, S. Kotha, & T.
M. Jones. (1999); Brown dan Whysall (2010); Crane, Matten, & Moon (2008); Evangelinos dan Nikolaou (2009); Scholtens & Zhou (2008) mengungkapan bahwa terdapat hubungan antara peran sektor keuangan dan pembangunan berkelanjutan itu sendiri. Pertama, sektor ini mampu mempengaruhi lingkungan dan dampak keberlanjutan dari klien mereka, seperti proyek atau peminjam dan investee mereka. Kedua, pengenalan peraturan lingkungan terpengaruh dan masih mempengaruhi sektor keuangan dalam banyak hal. Ketiga, tekanan pemangku kepentingan yang berfokus pada pengaruh pembangunan berkelanjutan risiko reputasi lembaga keuangan dan berdampak pada kinerja keuangan mereka.
Di Indonesia, peraturan pelaksanaan CSR bagi perbankan sendiri telah diatur baik dalam undang-undang muapun peraturan pemerintah. Untuk perbankan swasta, kewajiban mengenai pelaksanaan program ini dimuat dalam Pasal 74 UU No.40/2007 tentang Perseroan Terbatas, yang pelaksanaannya sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (“PP”) No.47/2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas; UU No.25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal pasal 15 (b); serta UU No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 22 ayat 1.
Sedangkan untuk perbankan pemerintah, terdapat satu peraturan dasar selain daripada yang berlaku pada sektor swasta. Menurut cara pandang peraturan pemerintah tanggung jawab
sosial perusahaan diformulasikan dalam bentuk satu program yaitu Kemitraan dan Bina Lingkungan yang intinya ditunjukan untuk mendukung kegiatan ekonomi dan terciptanya pemerataan pembangunan melalui perluasan lapangan kerja dan kesempatan berusaha. Secara operasional, anjuran praktik program tersebut termuat dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 3 tahun 1983 tentang Tata Cara Pembinaan Dan Pengawasan Kerja, Perum, dan Persero
. PP tersebut mewajibkan BUMN untuk melakukan pembinaan terhadap usaha kecil sehingga menjadi tangguh dan mandiri. Dana pembinaan untuk usaha kecil bersumber dari penyisihan laba bersih BUMN. Selain itu, menurut UU No.19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara, disamping melakukan pembinaan usaha kecil, BUMN dapat pula menyisihkan sebagian labanya untuk keperluan pembinaan masyarakat sekitar BUMN. Kedua kedua dasar hukum tesebut kemudian menjadi cikal bakal dari lahirnya Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang diinterpretasikan sebagai suatu bentuk tanggung jawab sosial (social responsibility) terutama bagi perusahaan berbasis BUMN. Lebih lanjut, pelaksanaan program ini telah diatur oleh Peraturan Menteri Negara BUMN No.Per-09/MBU/07/2015 tanggal 3 Juli 2015 yang merupakan pembaharuan dari surat Keputusan Menteri BUMN Nomor 236/MBU/2003 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Bina Lingkungan Bersinggungan dengan kewajiban bank untuk melakukan program tanggung jawab sosial, pihaknya juga diwajibkan untuk mengungkapkan secara transparan mengenai hal- hal apa saja yang telah dilakukan sehubungan dengan pelaksanaan program tanggungjawab sosial tersebut dalam bentuk suatu laporan keberlanjutan (sustainability report). Kewajiban ini sebagaimana telah diatur dalam Pasal 66 ayat 2 (c) UU No. 40/2007 dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 29 /POJK.04/2016 tentang Laporan Tahunan Emiten Atau Perusahaan Publik. Laporan keberlanjutan (sustainability report) merupakan laporan yang disusun oleh suatu perusahaan atau organisasi untuk menjelakan mengenai serangkaian program-program tanggungjawab sosial yang telah dilaksanakannya, baik yang terkait dengan perhatian mengenai masalah dampak sosial maupun lingkungan selama satu tahun buku berakhir. Laporan tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan laporan tahunan (annual report) yang dipertanggungjawabkan ke direksi di depan sidang Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Laporan tersebut diterbitkan sebagai wujud pertanggungjawaban, akuntabilitas, dan keterbukaan sebagaimana praktik bisnis yang sehat (Good Corporate Governance) (Hadi, 2011:211).
Pada dasarnya, terdapat banyak pedoman atau standar yang digunakan perusahaan, termasuk perbankan, untuk melaporkan tanggung jawab sosialnya. Pedoman Pelaporan Keberlanjutan GRI (Global Reporting Initiative) adalah pedoman yang paling banyak digunakan dan dikembangkan oleh perusahaan untuk melaporkan tanggung jawab sosialnya. Standar ini memungkinkan organisasi di seluruh dunia untuk mengukur dampaknya terhadap lingkungan, masyarakat, dan ekonomi (Novokmet & Rogosic, 2016). Alasan lain seperti adanya harmonisasi dalam pelaporan serta perbandingan yang dimungkinkan turut menjadi penyebab mengapa lebih banyak organisasi atau perusahaan menjadikan GRI sebagai standar dalam pelaporan dan pengukuran kinerja CSR mereka (Skouloudis et al., 2010; Giannarakis, Theotokas, 2011; Faisal dkk., 2012; Young, Marais, 2012; Gallén, Peraita, 2015; de Villiers, Marques, 2016 dalam Novokmet & Rogosic, 2016). Selain itu, dibandingkan dengan standar lainnya, pedoman ini juga menyediakan tambahan pelaporan khusus sector (sector disclosure) bagi setiap jenis industri, sehingga memungkinkan organisasi atau perusahaan dari berbagai sector industri untuk melaporkan secara lebih dalam sesuai dengan sector industrinya.
Saat ini, GRI beserta dengan tambahan pelaporan khusus sektor (sector disclosure) yang disediakannya telah banyak digunakan oleh beberapa perusahaan perbankan di Indonesia untuk melaporkan serangkaian aktivitas tanggungjawab sosialnya. Diantara perusahaan tersebut, PT.
Bank Central Asia (BCA) Tbk merupakan salah satu dari 7 (tujuh) bank di sektor swasta, yang sampai dengan saat ini, secara konsisten telah menerbitkan laporan keberlanjutannya menggunakan standar tersebut. Tercatat sebagai bank dengan total asset terbesar ketiga di Indonesia per 31 Desember 2016, bank dengan total asset 662,2 trilyun rupiah dan karyawan yang berjumlah 25.073 orang ini telah secara kontinu melaksanakan serta melaporkan kegiatan tanggung jawab sosialnya dalam bentuk laporan keberlanjutan. Tidak hanya itu, komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan di industri perbankan juga ditunjukan melalui keterlibatan perusahaan dalam proyek perintis ‘First Step to Implement Sustainable Finance’ yang digagas oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak akhir tahun 2015.
Sebanding dengan apa yang dilakukan PT Bank Central Asia (BCA) Tbk, di sektor pemerintah, PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk juga melakukan hal yang sama. Berada satu tingkat dibawah pesaingnya, PT. Bank Central Asia (BCA) Tbk, perusahaan dengan total asset terbesar keempat di Indonesia per dengan 31 Desember 2016, perusahaan dengan dengan total asset 603,03 trilyun rupiah dan jumlah karyawan sebesar 28.378 orang tersebut juga telah melaksanakan serta melaporkan seluruh kegiatan tanggungjawab sosial yang telah dilakukannya dalam laporan keberlanjutan. Komitmen BNI untuk turut serta mewujudkan pembangunan berkelanjutan di industry perbankan telah terlihat sejak tahun 2011. Pihaknya dengan menjadi satu dari 6 (enam) pendiri “Indonesian Business Council for Sustainable Development Association” (IBCSD) yang merupakan bagian dari WBCSD (World Business Council for Sustainable Development). Bersama BCA dan 6 (enam) perbankan lainnya, pihaknya juga tergabung dalam dalam proyek perintis ‘First Step to Implement Sustainable Finance’ yang digagas oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak akhir tahun 2015.
Adanya kemiripan karakteristik organisasi serta komiten perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan dengan perbedaan dasar hukum yang mendasarinya menarik minat peneliti untuk meneliti lebih lanjut. sejauh mana pengungkapan tanggungjawab sosial kedua perusahaan tesebut serta membandingkan bagaimana perbedaan pengungkapan tanggungjawab sosial di antara kedua perusahaan tersebut. Adapun tujuan dari penelitian ini, yaitu pertama, untuk memahami bagaimana pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Sustainability Report PT. Bank Central Asia dan PT. Bank Negara Indonesia, dan menentukan apakah kesesuaiannya telah sesuai dengan standar GRI G4. Kedua, untuk membandingkan pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Sustainability Report kedua perusahaan tersebut, perusahaan mana yang pengungkapannya lebih sesuai dengan standar GRI G4.
II. TINJAUAN LITERATUR 2.1 Corporate Social Responsibility
Making Good Bussines Sense mendefinisikan Corporate Social Responsibility sebagai:
“continuing commitment by business to behave ethically and contribute to economic development while improving the quality of life of the workforce and their families as well as of the local community and society at large.” Yang artinya adalah komitmen dunia usaha untuk terus
menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara luas. CSR berfokus pada 3 (tiga) tujuan, yaitu profit (keuntungan), People ( masyarakat), dan planet (lingkungan) yang mana ketiganya mengacu pada pradigma praktik bisnis yang berkelnjutan. Menurut Wibisono (2007:84) CSR memberikan banyak manfaaat diantranya Mempertahankan dan Mendongkrak Reputasi dan Brand Image Organisasi, Layak mendapatkan Social Licence to Operat, Mereduksi Risiko Bisnis Organisasi, Melebarkan Akses Sumber Daya, Membentangkan Akses Menuju Market, Mereduksi Biaya, Memperbaiki Hubungan dengan Stakeholders, Memperbaiki Hubungan dengan Regulator, Meningkatkan Semangat dan Produktivitas karyawan, serta memberikan kesempatan mendapatkan penghargaan.
2.2 Landasan Teoritis Corporate Social Responsibility
Terdapat berbagai macam teori yang melandasi pelaksanaan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR). Namun, dalam penelitian ini akan dibahas 2 (dua) teori utama yang mendasari, yaitu stakeholder theory dan legitimasi theory.
1. Teori stakeholder (Stakeholder Theory): Teori ini menyatakan bahwasannya perusahaan tidak dapat melepaskan diri dengan lingkungan sosial (social setting) sekitarnya.
Perusahaan perlu menjaga legitimasi stakeholder serta kedudukannya dalam kerangka kebijakan dan pengambilan keputusan, sehingga dapat mendukung dalam pencapaian tujuan perusahaan, yaitu stabilitas usaha dan jaminan going concern (Adam & Kuasirikun, 2002).
2. Teori Legitimasi (Legitimacy Theory): teori ini menyatakan legitimasi merupakan system pengelolaan perusahaan yang berorientasi pada keberpihakan terhadap masyarakat (society), pemerintah individu dan kelompok masyarakat. Untuk itu, sebagai suatu system yang mengedepankan keberpihakan kepada society, operasi perusahan harus kongruen dengan harapan masyarakat. (Gray, Owen dan Adam, dalam Hadi, 2014, hal. 88)
2.3 Sustainability Report
Menurut Global Reporting Initiative (GRI) dalam Wahyudi (2012), sustainability report merupakan laporan yang mengukur, mengungkapkan dan menunjukkan tanggung jawab perusahaan kepada pihak eksternal dan internal serta laporan yang menunjukkan kinerja perusahaan dalam kaitannya dengan sustainable development. Menurut Global Reporfing Initiative (2006:3), sustainability report mempunyai beberapa tujuan, sebagai berikut:
1. Benchmarking and Assessing. Dalam hal ini sustainability report berfungsi sebagai alat untuk melihat sustainability performance yang berhubungan dengan hukum, norma, standar kinerja dan inisiatif sukarela.
2. Demonstrating. Bagaimana konsep suatu pembangunan yang keberlanjutan (sustainability development) mempengaruhi perusahaan.
3. Comparing. Membandingkan kinerja suatu organisasi dengan organisasi yang lain dari waktu ke waktu
2.3.1 Global Reporting Initiative G4 Guidelines
Global Reporting Initiative G4 Guidelines merupakan standart pelaporan keberlanjutan terbaru yang dikeluarkan Global Reporting Initiative pada tanggal 22 Mei 2013 di Amsterdam.
Tujuan G4 adalah untuk membantu pelapor menyusun laporan keberlanjutan yang bermakna dan membuat pelaporan keberlanjutan yang mantap dan terarah. Sebagai suatu standar penyusunan
laporan keberlanjutan, G4 Guidelines memuat berbagai panduan mulai dari pelaporan prinsip, standar pengungkapan dan pedoman penyusunan laporan keberlanjutan organisasi dalam berbagai ukuran dan sector. Dalam melaporkan sustainability report, perusahaan dapat memilih untuk melaporkan dengan pilihan Opsi Inti (Core) atau Komprehensif yang menjadi opsi terbaik untuk memenuhi kebutuhan pelaporan mereka dan kebutuhan pemangku kepentingannya.
2.3.2 Pengungkapan berdasarkan GRI G4 Guidelines.
Terdapat 2 (dua) jenis pengungkapan dalam GRI G4 Guidelines, yaitu Pengungkapan Standar Umum Dan Pengungkapan Standar Khusus. Pengungkapan Standar Umum berlaku untuk semua organisasi yang menyiapkan laporan keberlanjutan Sedangkan standar khusus adalah standar yang memuat informasi keberlanjutan perusahaan. Standar ini merupakan inti dari pengungkapan informasi dalam laporan sustainability report perusahaan. Pada standar ini Informasi yang dilaporkan untuk setiap aspek material yang teridentifikasi diungkapkan dalam Disclosure on Management Approach (DMA) dan Indikator (GRI G4, 2013).
a. Disclosure on Management Approach (DMA)
DMA atau yang dikenal dengan Pengungkapan Pendekatan Manajemen merupakan informasi naratif tentang bagaimana organisasi mengidentifikasi, menganalisis, dan merespon dampak aktual maupun potensial dari material ekonomi, lingkungan, dan sosial.
DMA juga memberikan konteks untuk kinerja yang dilaporkan oleh Indikator. Panduan untuk DMA dibagi menjadi dua jenis: Panduan Generik dan Spesifik-Aspek. Panduan DMA Generik dirancang untuk digunakan dengan Aspek mana-pun. Panduan DMA spesifik- Aspek dirancang untuk memberikan rincian tambahan tentang informasi yang akan dilaporkan untuk Aspek tersebut.
b. Indikator.
Indikator memberikan informasi tentang kinerja atau dampak di bidang ekonomi, lingkungan, dan sosial dari suatu organisasi terkait dengan aspek materialnya.
2.2.3 Pengungkapan berdasarkan GRI G4 Financial Service Sector Disclosure (FSSSD) Pada penerapannya, FSSD diposisikan sebagai pelengkap dari GRI G4- Guidelines bukan pengganti. Pengungkapan dalam GRI sektor ini membuat organisasi dapat mengungkapkan informasi keberlanjutannya secara lebih spesifik, sesuai dengan sector industrinya, sehingga pihaknya dapat menyatakan bahwa laporannya telah “sesuai” dengan pedoman Sebagai tambahan pengungkapan, pedoman ini memiliki 4 (empat) bagian pengungkapan tambahan.
a. Sector Specific Aspects;
b. Sector Specific Guidance for Disclosures on Management Approach (DMA);
c. Sector Additions to G4 Indicators, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu Additional Disclosure Requirements for G4 Indicators dan Additional Guidance to G4 Indicators; serta
d. Sector specific Indicators, yang juga terbagi lagi menjadi 2 yaitu Sector specific Indicators located under G4 Aspects dan Sector Specific Indicators Located under Sector Specific Aspects.
Dalam penelitian ini peneliti hanya akan memfoksukan pada pengungkapan GRI G4 Guidelines, Standar Khusus dan GRI G4 Financial Service Sector Disclosure, Specifik Standar Disclosure. Hal ini dikarenakan pengungkapan informasi pada standar ini meruapakan inti dari
laporan keberlanjutan. Analisis akan difokuskan pada pemenuhan Pendekatan Manajemen (DMA) dan Indikator dalam 3 (tiga) kategori pengungkapan yaitu Kategori: Ekonomi (EC), Lingkungan (EN) dan Sosial yang terdiri atas Sub-Kategori: Praktik Ketenagakerjaan dan Kenyamanan Bekerja (LA), Hak Asasi Manusia (HR), Masyarakat (SO), serta Tanggungjawab Produk (PR). Dalam penelitian ini, PT Bank Central Asia Tbk Dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk memilih opsi Inti (Core) dalam melaporkan sustainability report-nya. Pada opsi Inti (Core), sebuah organisasi harus melaporkan DMA dan setidaknya satu Indikator untuk semua Aspek material yang teridentifikasi. Untuk mengetahui lebih jelas bagaimana penggunaan kedua standar GRI tersebut, perhatikan tabel di bawah ini:
Tabel 2.3
Gabungan Penerapan GRI-G4 dan FSSD
Keterangan FSSD:
: Terdapat standar pedoman G4
: Terdapat standar tambahan FSSD (Financial Service Sector Disclosure)
: Tidak terdapat standar baik standar pedoman G4 maupun standar tambahan FSSD (Financial Service Sector Disclosure)
a: Sector specific Aspects
b: Sector specific Guidance for DMA (Disclosures on Management Approach) c: Sector additions to G4 Indicators
c1: Additional disclosure requirements for G4 Indicators c2: Additional Guidance to G4 Indicators
d: Sector specific Indicators
d1: Sector specific Indicators located under G4 Aspects
d2: Sector specific Indicators located under sector specific Aspects 2.2.4 Penelitian Terdahulu
Penelitian ini merupakan replikasi atau pengembangan dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Khan, et. al. (2010); Novokmet dan Rogosic (2016); Evanty (2014); Salmah (2015). Pada penelitian lanjutan ini, peneliti mencoba untuk memperbarui standar pelaporan yang digunakan dari GRI G3 guidelines menjadi GRI G4 guidelines dan menganalisa kecocokan pedoman dengan penerapan yang terdapat di dalam sustainability report dengan menggunakan Standar yang tertera pada GRI G4, kemudian menganalisis persentase pemenuhan terhadap aspek aspek dari pengungkapan setiap aspek yang terdapat di dalam laporan berdasarkan GRI
G4 Guidelines. Selain itu, peneliti juga menggunakan panduan pelaporan tambahan khusus sector yang disediakan oleh GRI G4 sebagai panduan pengungkapan khusus sector, dalam hal ini sector perbankan yaitu GRI G4 Financial Service Sector Diclosure (FSSD).
III. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keberlanjutan tahun 2016 yang dikeluarkan oleh PT. Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia Tbk, yang dapat diakses di website perusahaan.
Laporan keberlanjutan tahun 2016 digunakan karena merupakan laporan terakhir yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut. Untuk Teknik pengumpulan data peneliti menggunakan studi dokumentasi dengan mengumpulkan dokumen maupun catatan-catatan yang dikumpulkan berkaitan dengan 2 perusahaan yang menjadi objek penelitian. Dokumen tersebut antara lain sustainability report periode 2016. Lebih lanjut, Instrumen Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini tabel pemenuhan pengungkapan CSR.
Untuk teknik analisis data peneliti menggabungkan teknik analisis konten (Content Analysis) dan analisis komparatif yang dibantu model analisis Miles and Huberman. Untuk lebih jelasnya, adapun langkah-langkah dari gabungan kedua teknik analisis diatas yang dilakukan penliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Data reduction.
- Peneliti mengumpulkan data yang berkaitan dengan penelitian, seperti laporan keberlanjutan dari perusahaan tersebut, informasi dari situs perusahaan, dan pedoman GRI G4 (G4 Guidelines dan G4 Financial Services Sector Disclosure) melaui sumber yang relevan.
- Peneliti melakukan klasifikasi kategori pengungkapan apa yang seharusnya dicantumkan dalam sustainability report perusahaan. Penilaian pengungkapan dilakukan berdasarkan standard core (inti) pada G4 yang terdiri atas indikator umum, kategori ekonomi, lingkungan, dan sosial. Peneliti melakukan reduksi data untuk memisahkan data data atau bagian yang digunakan mengunakan teknik analsisi konten.
b. Data Display
- Display data dilakukan melalui pembuatan tabel. Tabel tersebut berisikan tentang indikator beserta informasikomponen-komponen apa saja yang harus diungkapkan terkait indikator tersebut sesuai dengan GRI G4 (G4 Guidelines dan Financial Services Sector Disclosure G4)
- Menganalisis laporan keberlanjutan PT. Bank Cental Asia Tbk dan PT. Bank Negara Indonesia Tbk pada tahun 2016. Analisis dilakukan melaui proses pengisian tabel berdasarkan hasil analisis konten. Proses ini dilakukan untuk melihat indikator beserta komponen (point-point) informasi apa saja yang harus diungkapkan berdasarkan pedoman GRI G4 (G4 Guidelines dan G4 Financial Services Sector Disclosure).
Analisis difokuskan pada tiga kategori yaitu Kategori Ekonomi (EC), Kategori Lingkungan (EN), serta Kategori Sosial (SO) yang mencakup didalamnya mencakup 4 (empat) Sub-Kategori yaitu Sub-Kategori Praktik Ketenagakerjaan dan Kenyamana Bekerja (LA), Sub-Kategori Hak Asasi Manusia (HR), Sub-Kategori Masyarakat (SO), dan Sub-Kategori Tanggung Jawab Produk (PR).
Memberikan penilaian terhadap pengungkapan yang meraka lakukan berdasarkan jumlah point yang harus diungkapkan sesuai dengan standar GRI G4. Menghitung point sesuai dengan pemenuhan pengungkapan aspek-aspek material yang teridentifikasi oleh masing-masing perusahaan
memberikan point kepada masing masing aspek yang diungkapkan dengan cara:.
▪ Point 0 untuk aspek yang tidak diungkap.
▪ Point 1 untuk setiap item yang diungkapkan atas aspek material (baik DMA maupun Indikator) dalam laporan. Setiap aspek material (baik DMA maupun Indikator) memiliki jumlah point yang berbeda yang harus diungkapkan dalam laporan, Keterangan: Maximal point adalah jumlah point yang seharusnya diungkap, sedangkan total point adalah point dari masing masing point aspek yang diungkap, total point adalah jumlah skor yang diperoleh dari dari masing masing point aspek yang diungkap.
c. Conclusion drawing atau verification
- Membandingkan tingkat kepatuhan diantara PT. Bank BCA, Tbk dan PT. BNI, Tbk untuk mengetahui siapa diantara keduanya yang lebih patuh dalam pemenuhan setiap aspek material (baik DMA maupun Indikator) sesuai GRI G4 (G4 Guidelines dan G4 Financial Services Sector Disclosure).
- Memberikan kesimpulan keseluruhan analisis, seperti persentase pemenuhan dan nilai untuk laporan keberlanjutan keberlanjutan PT. Bank Cental Asia Tbk dan PT. Bank Negara Indonesia Tbk Laporan keberlanjutan berdasarkan kriteria penerapan GRI G4 (G4 Guidelines dan G4 Financial Services Sector Disclosure)
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kategori Ekonomi
4.1.1 Perbandingan DMA Kategori Ekonomi
Tabel 4.1
Perbandingan DMA Kategori Ekonomi antara PT Bank Bank Central Asia Tbk dan PT. Bank Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
KATEGORI EKONOMI
BCA BNI
ASPEK DMA POINT MAX
POINT
PERSENTASE
ASPEK DMA POINT MAX
POINT
PERSENTASE AWAL AKHIR
RATA-
RATA AWAL AKHIR
RATA- RATA Kinerja
Ekonomi
G Generik 2.33 3 77.67%
78.83%
58.83%
Kinerja Ekonomi
G Generik 2.67 3 89.00%
84.50%
61.67%
FSSD b 0.80 1 80.00% FSSD b 0.8 1 80.00%
Dampak Ekonomi Tidak Langsung
G Generik 2.33 3 77.67%
38.83%
Dampak Ekonomi Tidak Langsung
G Generik 2.33 3 77.67%
38.83%
Spesifik-
Aspek 0 2 0.00%
Spesifik-
Aspek 0 2 0.00%
Dari Tabel 4.1 diatas, persentase rata-rata pengungkapan DMA aspek Kinerja Ekonomi Bank BCA sebesar 78,83% dan aspek Dampak Ekonomi tidak Langsung sebesar 38,83% sementara Bank BNI 84% dan 38,83%. Dari hasil persentase pemenuhan pengungkapan DMA kategori Ekonomi, Bank BNI lebih tinggi kesesuaiannya menurut standar GRI-G4 dibandingkan dengan Bank BCA dengan persentase rata rata pengungkapan BCA 58,83% dan BNI sebesar 61,67%.
4.1.2 Perbandingan Indikator Kategori Ekonomi.
Tabel 4.2
Perbandingan Indikator Kategori Ekonomi antara PT Bank Bank Central Asia Tbk dan PT. Bank Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
KATEGORI EKONOMI
BCA BNI
ASPEK INDIKATOR POINT MAX POINT
PERSENTASE
ASPEK INDIKATOR POINT MAX POINT
PERSENTASE AWAL AKHIR
RATA-
RATA AWAL AKHIR
RATA- RATA Kinerja
Ekonomi EC1
G 0.67 2 33.50%
41.75%
45.79%
Kinerja Ekonomi
EC1
G 1 2 50.00%
50.00%
58.38%
FSSD C2 0.5 1 50.00% FSSD C2 0.5 1 50.00%
Dampak Ekonomi Tidak Langsung
EC7 G 2.33 3 77.67%
49,83%
Dampak Ekonomi Tidak Langsung
EC7 G 3 3 100.00%
66.75%
EC8 G 0.44 2 22.00% EC8 G 0.67 2 33.50%
Dari Tabel 4.2 diatas, persentase rata-rata pengungkapan Indikator aspek Kinerja Ekonomi Bank BCA sebesar 41,75% dan aspek Dampak Ekonomi tidak Langsung sebesar 49,83% sementara Bank BNI 50% dan 66,75%. Dari hasil persentase pemenuhan pengungkapan Indikator kategori Ekonomi, Bank BNI lebih tinggi kesesuaiannya menurut standar GRI-G4 dibandingkan dengan Bank BCA dengan persentase rata rata pengungkapan BCA 45,79% dan BNI sebesar 58,38%.
4.2 Kategori Lingkungan
4.2.1 Perbandingan DMA Kategori Lingkungan
Tabel 4.3
Perbandingan DMA Kategori Lingkungan antara PT Bank Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Dari Tabel 4.3 diatas, persentase rata-rata pengungkapan DMA aspek Bahan Bank BCA sebesar 100% , aspek Energi sebesar
83,33%, aspek Keanekaragaman Hayati sebesar 33,33% dan aspek Kepatuhan sebesar 33%. Sementara Bank BNI untuk aspek Bahan sebesar 100% , aspek Energi sebesar 94,5%, aspek keanekaragaman hayati sebesar 88,83% dan aspek kepatuhan sebesar 89%. Dari hasil persentase rata-rata pemenuhan pengungkapan DMA kategori Sosial (Lingkungan), Bank BNI lebih tinggi kesesuaiannya menurut standar GRI-G4 dibandingkan dengan Bank BCA dengan persentase rata rata pengungkapan aspek BCA sebesar 62,50% dan BNI sebesar 93,08%.
KATEGORI LINGKUNGAN
BCA BNI
ASPEK DMA
POINT MAX POINT
PERSENTASE
ASPEK DMA
POINT MAX POINT
PERSENTASE AWAL AKHIR
RATA-
RATA AWAL AKHIR
RATA- RATA
Bahan G Generik 3 3 100.00% 100%
62.50%
Bahan G Generik 3 3 100.00% 100%
93.08%
Energi G Generik 2 3 66.67%
83.33% Energi G Generik 2.67 3 89.00%
94.50%
Spesifik-
Aspek 1 1 100.00%
Spesifik-
Aspek 1 1 100.00%
Keanekaragaman
Hayati G Generik 2 3 66.67%
33.33% Keanekaragaman
Hayati G Generik 2.33 3 77.67%
88.83%
Spesifik-
Aspek 0 1 0.00%
Spesifik-
Aspek 1 1 100.00%
Kepatuhan G Generik 1 3 33.33% 33% Kepatuhan G Generik 2.67 3 89.00% 89.00%
4.2.2 Perbandingan Indikator Kategori Lingkungan
Tabel 4.4
Perbandingan Indikator Kategori Lingkungan PT Bank BCA Tbk dan PT Bank Negara Indonesia Tbk.
Dari Tabel 4.4 diatas, persentase rata-rata pengungkapan Indikator aspek Bahan Bank BCA sebesar 50% , aspek Energi sebesar 25%, aspek keanekaragaman hayati sebesar 37,5% dan aspek kepatuhan sebesar 50%. Sementara Bank BNI untuk aspek Bahan sebesar 100% , aspek Energi sebesar 39,29%, aspek keanekaragaman hayati sebesar 37,5% dan aspek kepatuhan sebesar 50%.
Dari hasil persentase rata-rata pemenuhan pengungkapan indikator kategori Sosial (Lingkungan), Bank BNI lebih tinggi kesesuaiannya menurut standar GRI-G4 dibandingkan dengan Bank BCA dengan persentase rata rata pengungkapan aspek BCA sebesar 40,63% dan BNI sebesar 56,70%.
KATEGORI LINGKUNGAN
BCA BNI
ASPEK INDIKATOR POINT MAX POINT
PERSENTASE
ASPEK INDIKATOR POINT MAX POINT
PERSENTASE AWAL AKHIR
RATA-
RATA AWAL AKHIR
RATA- RATA
Bahan EN1 G 0.5 1 50.00% 50%
40.63%
Bahan EN2 G 1 1 100.00% 100%
56.70%
Energi EN6 G 1 4 25.00% 25% Energi EN3 G 2 7 28.57%
39.29%
EN6 G 2 4 50.00%
Keanekaragaman Hayati
EN13 G 1 4 25.00%
37.50% Keanekaragaman Hayati
EN13 G 2 4 50.00%
37.50%
EN14 G 0.5 1 50.00% EN14 G 0.5 2 25.00%
Kepatuhan EN29 G 1 2 50.00% 50% Kepatuhan EN29 G 1 2 50.00% 50%
4.3 Kategori Sosial
4.3.1. Kategori Sosial Sub-Kategori Praktik Ketenagakerjaaan dan Kenyamanan Bekerja
4.3.1.1 Perbandingan DMA Kategori Sosial Sub-Kategori Praktik Ketenagakerjaan dan Kenyamanan Bekerja Tabel 4.5
Perbandingan DMA Kategori Sosial Sub-Kategori Praktik Ketenagakerjaan dan Kenyamanan Bekerja antara PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
KATEGORI SOSIAL
SUB KATEGORI: PRAKTIK KETENAGAKERJAAN DAN KENYAMANAN BEKERJA
BCA BNI
ASPEK DMA POINT MAX
POINT
PERSENTASE
ASPEK DMA POINT MAX
POINT
PERSENTASE AWAL AKHIR
RATA-
RATA AWAL AKHIR
RATA- RATA Kepegawaian G
Generik 3 3 100.00%
50.00%
65.03%
Kepegawaian G
Generik 3 3 100.00%
50.00%
72.77%
Spesifik-
Aspek 0 1 0.00%
Spesifik-
Aspek 0 1 0.00%
Kesehatan dan Keselamatan
Kerja
G
Generik 2.67 3 89.00%
94.50%
Kesehatan dan Keselamatan
Kerja
G
Generik 2.33 3 77.67%
88.83%
Spesifik-
Aspek 1 1 100.00%
Spesifik-
Aspek 1 1 100.00%
FSSD b 0.25 1 25.00% 25.00% FSSD b 0.25 1 25.00% 25.00%
Pelatihan dan
Pendidikan G Generik 2.67 3 89.00% 89.00%
Pelatihan dan
Pendidikan G Generik 3 3 100.00% 100.00%
Keberagaman dan Kesetaraan
Peluang G Generik 2 3 66.67% 66.67%
Keberagaman dan Kesetaraan
Peluang G Generik 3 3 100.00% 100.00%
Dari Tabel 4.5 diatas, persentase rata-rata pengungkapan DMA aspek kepegawaian Bank BCA sebesar 50% , aspek Kesehatan dan keselamatan kerja sebesar 94,5%, FSSD 25%, aspek pelatihan dan pendidikan sebesar 89% dan aspek keberagaman dan kesetaraan peluang sebesar 66,67%. Sementara Bank BNI untuk aspek kepegawaian sebesar 50% , aspek kesehatan dan keselamatan kerja sebesar 88,83%, FSSD 25%, aspek pelatihan dan pendidikan sebesar 100% dan aspek keberagaman dan kesetaraan peluang sebesar 100%. Dari hasil persentase rata-rata pemenuhan pengungkapan DMA kategori Sosial (Lingkungan), Bank BNI lebih tinggi kesesuaiannya menurut standar GRI-G4 dibandingkan dengan Bank BCA dengan persentase rata rata pengungkapan aspek BCA sebesar 65,03% dan BNI sebesar 72,77%.
4.3.1.2 Perbandingan Indikator Kategori Sosial Sub-Kategori Praktik Ketenagakerjaan dan Kenyamanan Bekerja Tabel 4. 6
Perbandingan Indikator Kategori Sosial Sub Kategori Praktik Ketenagakerjaan dan Kenyamanan Bekerja antara PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
KATEGORI SOSIAL
SUB KATEGORI: PRAKTIK KETENAGAKERJAAN DAN KENYAMANAN BEKERJA
BCA BNI
ASPEK INDIKATOR POINT MAX POINT
PERSENTASE
ASPEK INDIKATOR POINT
MAX
POINT PERSENTASE
AWAL AKHIR
RATA-
RATA AWAL AKHIR
RATA- RATA Kepegawaian LA1 G 1.25 2 62.50%
43.75%
60.94%
Kepegawaian LA1 G 2 2 100.00%
62.50%
79.17%
LA2 G 0.5 2 25.00% LA2 G 0.5 2 25.00%
Kesehatan dan Keselamatan
Kerja Tidak Mengungkapkan 0% 0%
Kesehatan dan Keselamatan
Kerja LA6 G 1 3 33.33% 33%
Pelatihan dan Pendidikan
LA9 G 1 1 100.00%
100% Pelatihan dan
Pendidikan
LA9 G 1 1 100.00% 100%
LA10 G 2 2 100.00% LA10 G 2 2 100.00% 100%
Keberagaman dan Kesetaraan
Peluang LA12 G 2 2 100.00% 100%
Keberagaman dan Kesetaraan
Peluang LA12 G 2 2 100.00% 100%
Dari Tabel 4.6 diatas, persentase rata-rata pengungkapan Indikator aspek kepegawaian Bank BCA sebesar 43,73% , aspek Kesehatan dan keselamatan kerja sebesar 0%, aspek pelatihan dan pendidikan sebesar 100% dan aspek keberagaman dan kesetaraan peluang sebesar 100%. Sementara Bank BNI untuk aspek kepegawaian sebesar 62,5% , aspek kesehatan dan keselamatan kerja sebesar 33%, aspek pelatihan dan pendidikan sebesar 100% dan aspek keberagaman dan kesetaraan peluang sebesar 100%. Dari hasil persentase rata-rata pemenuhan pengungkapan Indikator kategori sosial (Lingkungan), Bank BNI lebih tinggi kesesuaiannya menurut standar GRI-G4 dibandingkan dengan Bank BCA dengan persentase rata rata pengungkapan aspek BCA sebesar 60,94% dan BNI sebesar 79,17%.
4.3.2 Kategori Sosial Sub-Kategori Hak Asasi Manusia
4.3.2.1 Perbandingan DMA Kategori Sosial Sub-Kategori Hak Asasi Manusia Tabel 4.7
Perbandingan DMA Kategori Sosial Sub-Kategori Hak Asasi Manusia antara PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
KATEGORI SOSIAL
SUB KATEGORI: HAK ASASI MANUSIA
BCA BNI
ASPEK DMA POINT
MAX
POINT PERSENTASE
ASPEK DMA POINT MAX
POINT
PERSENTASE
AWAL AKHIR
RATA-
RATA AWAL AKHIR
RATA- RATA Kebebasan
Berserikat G
Generik 2.67 3 89.00%
94.50% 94.50%
Kebebasan Berserikat
dan Perjanjian
Kerja Bersama
G
Generik 2.67 3 89.00%
94.50% 94.50%
dan Perjanjian
Kerja Bersama
Spesifik-
Aspek 1 1 100.00%
Spesifik-
Aspek 1 1 100.00%
Dari Tabel 4.7 diatas, persentase rata-rata pengungkapan DMA aspek Kinerja Ekonomi Bank BCA sebesar 94,5%, sementara Bank BNI sama sebesar 94,5%. Dari hasil persentase pemenuhan pengungkapan DMA kategori Sosial (Hak azazi manusia), Bank BNI sama tingkat kesesuaiannya menurut standar GRI-G4 dibandingkan dengan Bank BCA dengan persentase rata rata pengungkapan BCA 94,5% dan BNI sebesar 94,5%.
4.3.2.1 Perbandingan Indikator Kategori Sosial Sub-Kategori Hak Asasi Manusia Tabel 4.8
Perbandingan Indikator Kategori Sosial Sub-Kategori Hak Asasi Manusia antara PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
Dari Tabel 4.8 diatas, persentase rata-rata pengungkapan Indikator aspek Kinerja Ekonomi Bank BCA sebesar 50%, sementara Bank BNI sama sebesar 50%. Dari hasil persentase pemenuhan pengungkapan Indikator kategori Sosial (Hak azazi manusia), Bank BNI sama tingkat kesesuaiannya menurut standar GRI-G4 dibandingkan dengan Bank BCA dengan persentase rata rata pengungkapan BCA 50% dan BNI sebesar 50%.
KATEGORI SOSIAL
SUB KATEGORI: HAK ASASI MANUSIA
BCA BNI
ASPEK DMA POINT MAX
POINT
PERSENTASE
ASPEK DMA POINT MAX
POINT
PERSENTASE AWAL AKHIR
RATA-
RATA AWAL AKHIR
RATA- RATA Kebebasan
berserikat
dan G Generik 1 2 50,00% 50.00% 50.00%
Kebebasan berserikat
dan G Generik 1 2 50,00% 50.00% 50.00%
Perjanjian
Kerjasama
Perjanjian Kerjasama
4.3.3 Kategori Sosial Sub-Kategori Masyarakat
4.3.3.1 Perbandingan DMA Kategori Sosial Sub-Kategori Masyarakat Tabel 4.9
Perbandingan DMA Kategori Sosial Sub Kategori Masyarakat antara PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
Dari Tabel 9 diatas, persentase rata-rata pengungkapan DMA aspek Masyarakat Bank BCA sebesar 89%, dan aspek Anti korupsi sebesar 89%, sementara Bank BNI aspek Masyarakat sebesar 100% dan aspek Anti korupsi sebesar 89%. Dari hasil persentase pemenuhan pengungkapan DMA kategori Sosial (Masyarakat), Bank BNI lebih tinggi tingkat kesesuaiannya menurut standar GRI- G4 dibandingkan dengan Bank BCA dengan persentase rata rata pengungkapan BCA 89% dan BNI sebesar 94,5%.
KATEGORI SOSIAL SUB KATEGORI: MASYARAKAT
BCA BNI
ASPEK DMA POINT MAX
POINT
PERSENTASE
ASPEK DMA POINT MAX
POINT
PERSENTASE AWAL AKHIR
RATA-
RATA AWAL AKHIR
RATA- RATA Masyarakat
Lokal G Generik 2.67 3 89.00% 89.00%
89.00%
Masyarakat
Lokal G Generik 3 3 100.00% 100.00%
94.50%
Anti Korupsi G Generik 2.67 3 89.00% 89.00% Anti Korupsi G Generik 2,67 3 89.00% 89.00%
4.3.3.2 Perbandingan Indikator Kategori Sosial Sub-Kategori Masyarakat Tabel 4.10
Perbandingan Indikator Kategori Sosial Sub Kategori Masyarakat antara PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
KATEGORI SOSIAL SUB KATEGORI: MASYARAKAT
BCA BNI
ASPEK INDIKATOR POINT MAX POINT
PERSENTASE
ASPEK INDIKATOR POINT MAX
POINT
PERSENTASE AWAL AKHIR
RATA-
RATA AWAL AKHIR
RATA- RATA Masyarakat
Lokal SO1 G 0.38 1 38.00% 38.00%
29.00%
Masyarakat Lokal
SO1 G 0.125 1 12.50%
56.25%
38.13%
FS14 FSSD D1 1 1 100.00%
Anti Korupsi SO4 G 0.2 1 20.00% 20.00% Anti Korupsi SO4 G 0.20 1 20.00% 20.00%
Dari Tabel 10 diatas, persentase rata-rata pengungkapan Indikator aspek Masyarakat Lokal Bank BCA sebesar 38%, dan aspek Anti korupsi sebesar 20%, sementara Bank BNI aspek Masyarakat sebesar 56,2% dan aspek Anti korupsi sebesar 20%. Dari hasil persentase pemenuhan pengungkapan DMA kategori Sosial (Masyarakat), Bank BNI lebih tinggi tingkat kesesuaiannya menurut standar GRI-G4 dibandingkan dengan Bank BCA dengan persentase rata rata pengungkapan BCA 29% dan BNI sebesar 38,13%.
4.3.4 Kategori Sosial Sub-Kategori Tanggungjawab Produk
4.3.4.1 Perbandingan DMA Kategori Sosial Sub-Kategori Tanggungjawab Produk Tabel 4.11
Perbandingan DMA Kategori Sosial Sub Kategori Tanggung Jawab Produk antara PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
KATEGORI SOSIAL
SUB KATEGORI: TANGGUNGJAWAB PRODUK
BCA BNI
ASPEK DMA POINT MAX
POINT
PERSENTASE
ASPEK DMA POINT MAX
POINT
PERSENTASE AWAL AKHIR
RATA-
RATA AWAL AKHIR
RATA- RATA Pelabelan
Produk dan Jasa
G
Generik 0 3 0.00%
-
80.56%
Pelabelan Produk dan Jasa
G
Generik 2.67 3 89.00%
94.50%
94.07%
Aspek-
Spesifik - - -
Aspek-
Spesifik 1 1 100.00%
FSSD FS15 b 1 1 100.00%
100.00% FSSD FS15 b 1 1 100.00%
100.00%
FS16 b 1 1 100.00% FS16 b 1 1 100.00%
Privasi
Pelanggan G Generik 2 3 66.67% 66.67%
Privasi
Pelanggan G Generik 3 3 100.00% 100.00%
Kepatuhan G Generik 2.33 3 77.67% 77.67% Kepatuhan G Generik 3 3 100.00% 100.00%
Portofolio Produk
G Generik 2.67 3 89.00% 89.00%
Portofolio Produk
G Generik 2.67 3 89.00% 89.00%
FSSD
FS1 a 1 1 100.00%
100.00% FSSD
FS1 a 1 1 100.00%
100.00%
FS2 a 1 1 100.00% FS2 a 1 1 100.00%
FS3 a 1 1 100.00% FS3 a 1 1 100.00%
FS4 a 1 1 100.00%
Audit FSSD FS9 a 0.5 1 50.00% 50.00% Audit FSSD FS9 a 0.75 1 75.00% 75.00%
Dari Tabel 4.11 diatas, persentase rata-rata pengungkapan DMA aspek Pelebelan produk dan jasa Bank BCA sebesar 100%, FSSD sebesar 100% , aspek Privasi pelanggan sebesar 66,67%, aspek kepatuhan sebesar 89%, aspek Portofolio produk sebesar 100%
dan aspek Audit sebesar 50%. Sementara Bank BNI aspek Pelebelan produk dan jasa sebesar 94,5%, FSSD sebesar 100% , aspek Privasi pelanggan sebesar 100%, aspek kepatuhan masing-masing sebesar 100%,100% dan 89%, aspek Portofolio produk sebesar 100% dan aspek Audit sebesar 75%. Dari hasil persentase rata-rata pemenuhan pengungkapan DMA kategori Sosial (Tanggung jawab produk), Bank BNI lebih tinggi kesesuaiannya menurut standar GRI-G4 dibandingkan dengan Bank BCA dengan persentase rata rata pengungkapan aspek BCA sebesar 80,56% dan BNI sebesar 94,07%.
4.3.4.1 Perbandingan Indikator Kategori Sosial Sub-Kategori Tanggungjawab Produk
Tabel 4.12
Perbandingan Indikator Kategori Sosial Sub Kategori Tanggung Jawab Produk antara PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
KATEGORI SOSIAL
SUB KATEGORI: TANGGUNGJAWAB PRODUK
BCA BNI
ASPEK INDIKATOR POINT MAX POINT
PERSENTASE
ASPEK INDIKATOR POINT MAX POINT
PERSENTASE AWAL AKHIR
RATA-
RATA AWAL AKHIR
RATA- RATA Pelabelan
Produk dan Jasa
PR5 G 0.33 1 33.00% 33.00%
62.42%
Pelabelan Produk
dan Jasa PR4 G 2 2 100.00% 66.50%
70.79%
PR5 G 0.33 1 33.00%
PR7 G 1.33 2 66.50%
Privasi
Pelanggan PR8 G 2 3 66.67% 66.67%
Privasi
Pelanggan PR8 G 2 3 66.67% 66.67%
Kepatuhan PR9 G 1 2 50.00% 50.00% Kepatuhan PR9 G 1 2 50.00% 50.00%
Portofolio
Produk FS6 FSSD D2 1 1 100.00%
100.00%
Portoflio
Produk FS6 FSSD D2 1 1 100.00%
100.00%
FS7 FSSD D2 1 1 100.00% FS7 FSSD D2 1 1 100.00%
FS8 FSSD D2 1 1 100.00% FS8 FSSD D2 1 1 100.00%
Audit None Audit
Dari Tabel 12 diatas, persentase rata-rata pengungkapan Indikator aspek Pelebelan produk dan jasa Bank BCA sebesar 32%, aspek Privasi pelanggan sebesar 66,67%, aspek kepatuhan sebesar 50%, aspek Portofolio produk sebesar 100%. Sementara Bank BNI aspek Pelebelan produk dan jasa sebesar 66,5%, aspek Privasi pelanggan sebesar 66,67%, aspek kepatuhan sebesar 50%, dan aspek Portofolio produk sebesar 100%. Dari hasil persentase rata-rata pemenuhan pengungkapan Indikator kategori Sosial (Tanggung jawab produk), Bank BNI lebih tinggi kesesuaiannya menurut standar GRI-G4 dibandingkan dengan Bank BCA dengan persentase rata rata pengungkapan aspek BCA sebesar 62,42% dan BNI sebesar 70,79%.
4.5 Perbandingan Pengungkapan DMA dan Indikator PT Bank Central Asia Tbk dan Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
Tabel 4.13.
Persentase Pengungkapan DMA dan Indikator PT Bank Central Asia Tbk dan Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk KATEGORI SUB KATEGORI
BCA BNI
RATA RATA PERSENTASE TERPENUHI RATA RATA PERSENTASE TERPENUHI DMA INDIKATOR DMA+INDIKATOR DMA INDIKATOR DMA+INDIKATOR
EKONOMI 58.83% 45.79% 52.31% 61.67% 58.38% 60.02%
LINGKUNGAN 62.50% 40.63% 51.57% 93.08% 56.70% 74.89%
SOSIAL
PRAKTIK KETENAGAKERJAAN DAN KENYAMANAN
BEKERJA
65.03% 60.94% 62.99% 72.77% 79.17% 75.97%
HAK ASASI MANUSIA 94.50% 50.00% 72.25% 94.50% 50.00% 72.25%
MASYARAKAT 89.00% 29.00% 59.00% 94.50% 32.08% 63.29%
TANGGUNGJAWAB PRODUK 80.56% 62.42% 71.49% 94.07% 70.79% 82.43%
TOTAL 75.07% 48.13% 61.60% 85.09% 57.85% 71.47%
Dari Tabel 4.13 diatas peneliti menyimpulkan bahwa PT Bank BCA Tbk dalam membuat laporan keberlanjutan memiliki total persentase pengungkapan untuk DMA terindentfikasi sebesar 75,07% dan untuk Indikator sebesar 48,13% sehingga didapat total rata-rata persentase pengungkapan untuk seluruh katagori sebesar 61,60%. Sedangkan PT Bank BNI Tbk memiliki total persentase pengungkapan untuk DMA teridentifikasi sebesar 85,09% dan untuk Indikator sebesar 57,85% sehingga didapat total rata-rata persentase pengungkapan untuk seluruh katagori sebesar 71,47%. Dengan demikian PT Bank BNI Tbk memiliki kesesuaian lebih tinggi dibanding PT Bank BCA Tbk dalam pengungkapan pelaporan berkelanjutan sesuai standar GRI-G4. Demikian juga secara kuantitas dan kualitas pengungkapan identifikasi aspek material DMA dan indikatornya, bank BNI lebih memiliki kedalaman laporan dibanding dengan bank BCA. Berdasarkan hasil pembahasan diatas untuk laporan keberlanjutannya berikutnya baik BCA maupun BNI diharapkan lebih fokus dalam pengungkapan DMA dan Indikator kinerja GRI sehingga lebih detail dalam memberikan informasi yang dibutuhkan.
V. PENUTUP 5.1 Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk memahami isi dari laporan keberlanjutan dari PT. Bank Central Asia, Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, guna menentukan apakah laporan berkelanjutan mereka telah sesuai dengan GRI G4. Peneliti juga membandingkan laporan keberlanjutan dari perusahaan-perusahaan tersebut untuk mengetahui mana yang lebih tinggi kesesuaiannya dengan GRI G4. Analisis pada penelitian ini difokuskan pada tiga kategori yaitu Kategori Ekonomi (EC), Kategori Lingkungan (EN), serta Kategori Sosial (SO) yang mencakup didalamnya mencakup 4 (empat) Sub-Kategori yaitu Sub-Kategori Praktik Ketenagakerjaan dan Kenyamana Bekerja (LA), Sub-Kategori Hak Asasi Manusia (HR), Sub-Kategori Masyarakat (SO), dan Sub-Kategori Tanggung Jawab Produk (PR). Penilaian laporan keberlanjutan atas PT Bank BCA Tbk dan PT Bank BNI didasarkan pada kepatuhan pemenuhan pengungkapan terhadap GRI G4 (GRI G4 Guidelines dan G4 Financial Service Sector Disclosure (FSSD)).
Berdasarkan hasil interpretasi serta perbandingan dalam penelitian ini, peneliti memperoleh kesimpulan dari pengungkapan pada masing-masing DMA dan Indikator per kategori adalah sebagai berikut: PT.Bank BCA.Tbk, Kategori Ekonomi (EC), DMA rata rata 58,83% dan Indikator rata rata 45,79%. PT.Bank BNI (Persero).Tbk, Kategori Ekonomi (EC), DMA rata rata 61,67% dan Indikator rata rata 58,38%. PT.Bank BCA.Tbk, Kategori lingkungan (EN), DMA rata rata 62,50% dan Indikator rata rata 40,63%. PT.Bank BNI (Persero).Tbk, Kategori Lingkungan (EN), DMA rata rata 93,08% dan Indikator rata rata 56,70%. PT.Bank BCA.Tbk, Katagori Sosial Sub Katagori Praktik Ketenagakerjaan dan Pekerjaan yang Layak (LA), DMA rata rata 65,03% dan Indikator rata rata 60,94%. PT.Bank BNI (Persero).Tbk, Katagori Sosial Sub Katagori Praktik Ketenagakerjaan dan Pekerjaan yang Layak (LA), DMA rata rata 72,77% dan Indikator rata rata 79,17%. PT.Bank BCA.Tbk, Katagori Sosial Sub Katagori Hak Asasi Manusia (HAM), DMA rata rata 94,50% dan Indikator rata rata 50,00%.
PT.Bank BNI (Persero).Tbk, Katagori Sosial Sub Katagori Hak Asasi Manusia (HAM), DMA rata rata 94,50% dan Indikator rata rata 50,00%. PT.Bank BCA.Tbk, Katagori Sosial Sub Katagori Masyarakat (SO),, DMA rata rata 89,00% dan Indikator rata rata 29,00%. PT.Bank BNI (Persero).Tbk, Katagori Sosial Sub Katagori Masyarakat (SO), DMA rata rata 94,50% dan Indikator rata rata 32,08%. PT.Bank BCA.Tbk, Katagori Sosial Sub Katagori Tanggung Jawab Produk (PR), DMA rata rata 80,56% dan Indikator rata rata 62,42%. PT.Bank BNI (Persero).Tbk, Katagori Sosial Sub Katagori Tanggung Jawab Produk (PR), DMA rata rata 94,07% dan Indikator rata rata 70,79%.
Dari hasil perbandingan, peneliti menyimpulkan bahwa PT Bank BCA Tbk dalam membuat laporan keberlanjutan memiliki total persentase pengungkapan untuk DMA terindentfikasi sebesar 75,07% dan untuk Indikator sebesar 48,13% sehingga didapat total rata- rata persentase pengungkapan untuk seluruh katagori sebesar 61,60%. Sedangkan PT Bank BNI Tbk memiliki total persentase pengungkapan untuk DMA teridentifikasi sebesar 85,09% dan untuk Indikator sebesar 57,85% sehingga didapat total rata-rata persentase pengungkapan untuk seluruh katagori sebesar 71,47%. Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa PT Bank BNI
Tbk memiliki kesesuaian lebih tinggi dari PT Bank BCA Tbk dalam pengungkapan pelaporan berkelanjutan sesuai standar GRI-G4.
5.2 Implikasi Penelitian
Berdasarkan analisis di atas, manfaat penelitian adalah:
1. Implikasi terhadap teori.
1. Pengungkapan aspek-aspek material yang teridentifikasi yang dilakuakan oleh kedua perusahaan untuk setiap kategori yang diungkapkan dalam laporan keberlanjutan, baik PT Bank Central Asia Tbk maupun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, sebagian besar hanya memenuhi standar minimum keterpenuhan yang diwajibkan oleh GRI G4 pada opsi yang dipilih yaitu Opsi Core.
2. Pelaporan yang diungkapkan baik oleh PT. Bank Central Asia .Tbk maupun PT.Bank BNI (Persero) Tbk, cenderung mencerminkan penerapan dari teori legitimasi dari pada teori stakeholder. Perusahaan perlu mengungkapkan informasi lebih banyak lagi untuk dapat menunjukan keberpihakannya pada stakeholder.
3. Implikasi terhadap praktik
Perusahaan diaharapkan terus meningkatkan kualitas pengungkapan informasi Corporate Sosial Responsibility dalam Sustainability Report-nya sehingga tidak hanya sekedar mematuhi persyaratan hokum atas pelaporan namun juga dapat terlihat sebagai sebagai perusahaan yang berorientasi stakeholder serta mengedepankan keberlanjutan dalam bisnisnya.
5.3 Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan peneliti dalam penelitian dimana hanya menggunakan data sekunder, berdasar laporan keberlanjutan PT Bank BCA Tbk dan PT Bank BNI Tbk pada tahun 2016 yang telah diungkapkan pada publik. Penelitian ini juga menggunakan GRI-G4 sebagai pedoman untuk menilai konten laporan keberlanjutan dari perusahaan-perusahaan tersebut. Peneliti hanya menggunakan satu periode