• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis manajemen operasional di pabrik gula (pg)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "analisis manajemen operasional di pabrik gula (pg)"

Copied!
143
0
0

Teks penuh

Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimanakah manajemen operasional tata cara produksi gula di Wonolangan Probolinggo? Tujuan penelitian dalam skripsi ini adalah: 1) Untuk mengetahui prosedur operasional manajemen produksi gula di Wonolangan Probolinggo? Bagaimana Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi gula untuk menyeimbangkan permintaan gula di Pabrik Gula Wonolangan Probolinggo.

Untuk mengetahui Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi gula untuk menyeimbangkan permintaan gula di Pabrik Gula Wonolangan Probolinggo.

2.1  Gambar Pergerakan Sepanjang Kurva ..........................................   48      4.1  Struktur Organisasi Pabrik Gula WonolanganProbolinggo .........
2.1 Gambar Pergerakan Sepanjang Kurva .......................................... 48 4.1 Struktur Organisasi Pabrik Gula WonolanganProbolinggo .........

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang Masalah
  • Fokus Penelitian
  • Tujuan Penelitian
  • Manfaat Penelitian
  • Definisi Istilah
  • Sistematika Pembahasan

Konsep permintaan pasar adalah keinginan konsumen yang diimbangi dengan kemampuan membeli sesuatu dengan merangsang kebutuhan yang ingin dipenuhi. Dengan kata lain, konsep permintaan adalah penjumlahan seluruh permintaan yang dihadapi oleh seluruh individu perusahaan.9 Mengenai penelitian permintaan pasar, fokusnya adalah pada permintaan gula pasir di pabrik Wonolangan Probolinggi dari pasar, baik konsumen rumah tangga maupun industri.

KAJIAN KEPUSTAKAAN

Penelitian Terdahulu

Penelitian ini mengkaji prosedur operasi standar dan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hubungan Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Dengan Kinerja Pekerja Produksi Di Pabrik PT Kimia Farma Tbk Medan Tahun 2014. Perbedaan penelitian ini adalah subjek pembahasan yang saya teliti adalah Standar Operasional Prosedur Produksi Gula .

Sedangkan penelitian sebelumnya membahas tentang hubungan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan kinerja pekerja produksi.

Kajian Teori

Istilah Prosedur Operasi Standar (SOP) sering digunakan untuk merujuk pada dokumen apa pun yang mengatur kegiatan operasional suatu organisasi. Prosedur Operasi Standar (SOP) adalah prosedur standar yang harus diikuti untuk menyelesaikan suatu proses kerja. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa standar operasional prosedur (SOP) adalah seperangkat instruksi kerja tertulis yang baku (terdokumentasi) berkaitan dengan proses pelaksanaan administrasi perusahaan, bagaimana dan kapan harus dilakukan, di mana dan oleh siapa dilakukan. 23.

Standard Operating Procedures (SOP) memang sangat diperlukan dalam perusahaan sebagai pedoman dalam menjalankan suatu proses kerja. Bisa dibayangkan, Standar Operasional Prosedur (SOP) tanpa pedoman yang baku tentu akan menimbulkan kebingungan di kalangan karyawan. Di bawah ini adalah contoh berbagai aktivitas dalam proses pelaksanaan produksi, yang kemudian dibuatkan prosedur kerja atau Standard Operating Procedures (SOP).

Penerapan standar operasional prosedur (SOP) pada suatu perusahaan tentunya bertujuan untuk memberikan kenyamanan dan manfaat bagi perusahaan dan karyawan. Biasanya penerapan standar operasional prosedur (SOP) di perusahaan lama dianggap membatasi ruang gerak. Birokrasi validasi dokumen yang memberatkan, administrasi yang merupakan bagian dari kerja ekstra dan berbagai hal standar lainnya yang terdapat dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) seringkali membuat pegawai apatis terhadap penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang akan diterapkan. terjadi.

Ada beberapa permasalahan yang mungkin timbul yang perlu diwaspadai ketika menerapkan Prosedur Operasi Standar (SOP). Kendala ini harus segera diatasi, karena individu yang menjadi penghambat penerapan standar operasional prosedur (SOP) dapat mempengaruhi individu lain. Dengan demikian, penerapan standar operasional prosedur (SOP) akan sangat sulit ditegakkan dan cita-cita perusahaan akan menjadi sesuatu yang sulit untuk dicapai.

Standar Operasional Prosedur (SOP) yang diterapkan dengan benar akan membawa manfaat bagi organisasi atau perusahaan.

METODE PENELITIAN

Pendekatan Dan Jenis Penelitian

Lokasi Penelitian

Subyek Penelitian

Tekhnik Pengumpulan Data

Analisis Data

Keabsahan Data

Tahap-Tahap Penelitian

PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

Gambaran Objek Penelitian

  • Lokasi Industri Pabrik Gula Wonolangan Probolinggo
  • Sejarah Pabrik Gula Wonolangan Probolinggo
  • Visi Dan Misi Pabrik Gula Wonolangan Probolinggo
  • Struktur Organisasi Pabrik Gula Wonolangan Probolinggo 63
  • Kapasitas Produksi Gula
  • Sumber Daya Manusia (SDM)
  • Letak Geografis

Wonolangan terletak di Desa Kedungdalem, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, berjarak 2 km dari Kabupaten Probolinggo. Pada tahun 1957 PG Wonolangan dinasionalisasi oleh pemerintah Belanda menjadi milik pemerintah Indonesia dengan nama Perusahaan Perkebunan Negara di bawah pengawasan inspektorat V11. Dalam kegiatan operasionalnya, Pabrik Gula Wonolangan dikelola oleh seorang Administrator yang bertanggung jawab kepada Direksi.

Bahan baku Pabrik Gula Wonolangan adalah tebu yang 100% berasal dari perkebunan sendiri dan 90% dari tebu petani. Pabrik Gula (PG) Wonolangan telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan produktivitas, antara lain optimalisasi masa panen, penataan varietas menuju komposisi ideal, penyediaan input pertanian yang tepat, intensifikasi budidaya serta perbaikan manajemen penebangan dan transportasi. Pegawai PG Wonolangan terbagi dalam beberapa kelompok, yaitu pegawai manajemen, pegawai manajerial, dan pegawai di luar masa kerja.

Pabrik Gula Wonolangan terletak di Jl Raya Dringu, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Kecamatan Dringu terletak di wilayah Kabupaten Probolinggo yang berada di bagian barat ibu kota Probolinggo yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Probolinggo. Dilihat dari ketinggian di atas permukaan laut, Kecamatan Dring berada pada ketinggian 0 hingga 10 meter.

Iklim di Kecamatan Dringu adalah tropis yang terbagi menjadi dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Suhu udara di Kecamatan Dringu, seperti halnya di kecamatan lainnya pada ketinggian ± 0 hingga 10 meter, relatif lebih panas dibandingkan di wilayah dataran rendah, biasanya antara 27 hingga 310 C.

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Pabrik Gula Wonolangan   Sumber: Pabrik Gula Wonolangan(2017)
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Pabrik Gula Wonolangan Sumber: Pabrik Gula Wonolangan(2017)

Penyajian Data

  • Standar Operasional Prodsedur (SOP) Produksi Gula

Kurva data berikut ini akan menggambarkan bagaimana fluktuasi permintaan gula pasir di Pabrik Gula Wonolangan. Selain itu, Pabrik Gula Wonolangan menganut dua sistem dalam proses operasionalnya, yaitu sistem pertama menelusuri jumlah pemasok bahan baku, baik dari tebu rakyat maupun tebu milik sendiri. Sumber: Fluktuasi Permintaan Pabrik Gula Wonolangan Diolah: 2017 Tabel 4.2 Hasil yang dihasilkan Pabrik Gula Wonolangan Probolinggo, 2012-2015.

Pada tahun 2012, Pabrik Gula Wonolangan Probolinggo memperoleh pasokan bahan baku tebu dari dua sumber yaitu dari petani sebanyak 251232,1 ton, sedangkan pasokan bahan baku tebu dari perkebunan PTPN X1 ​​sebanyak 17952,9 ton. Pada tahun 2013, Pabrik Gula Wonolangan Probolinggo memperoleh pasokan bahan baku tebu dari dua sumber yaitu dari petani sebanyak 27.495,4 ton, sedangkan pasokan bahan baku tebu dari perkebunan PTPN X1 ​​sebanyak 23.928,2 ton. Pada tahun 2014, Pabrik Gula Wonolangan Probolinggo memperoleh pasokan bahan baku tebu dari dua sumber yaitu dari petani sebanyak 242.213 ton, sedangkan pasokan bahan baku tebu dari perkebunan PTPN X1 ​​sebanyak 14757,9 ton.

Pada tahun 2015, Pabrik Gula Wonolangan Probolinggo melakukan pengadaan bahan baku tebu dari dua sumber yaitu dari petani sebanyak 256.503,5 ton, sedangkan pasokan bahan baku tebu dari perkebunan PTPN X1 ​​sebanyak 12.791,2 ton. Selain itu, ketersediaan gula di Pabrik Gula Wonolangan selalu mencukupi untuk menggiling dan memenuhi target produksi gula karena bahan bakunya tidak hanya bersumber dari satu daerah saja melainkan dari berbagai daerah antara lain Lumajang, Jember, dan Situbondo. Namun mesin-mesin Pabrik Gula Wonolangan masih tergolong mesin tua sehingga masih padat karya.

Data dari beberapa informan tersebut di atas menunjukkan bahwa upaya Pabrik Gula Wonolangan dalam mengimbangi peningkatan permintaan produk gula mempunyai strategi dan kinerja yang sesuai dengan SOP yang direncanakan. Tabel berikut menjelaskan kondisi dan kinerja Pabrik Gula Wonolangan dalam mencapai standar operasional prosedur. Mesin-mesin yang digunakan Pabrik Gula Wonolangan diperbarui atau diperbaiki setiap tahun menjelang musim giling.

Selama ini Pabrik Gula Wonolangan hanya memproduksi gula kristal putih tanpa membuat gula premium seperti Gupalas, produk dari Pabrik Gula Semboro.

Gambar  4.2.  Skema  Tiga  Buah  Roll  (Sumber:  Pabrik  Gula  Wonolangan, 2015)
Gambar 4.2. Skema Tiga Buah Roll (Sumber: Pabrik Gula Wonolangan, 2015)

Pembahasan Temuan

  • Standar Operasional Prosedur (SOP) Produksi Gula di
  • Data Permintaan Gula di Pabrik Gula Wonolangan
  • Standar Operasional Prosedur (SOP) Produksi Gula

Pengembangan kawasan terus dilakukan baik untuk tebu rakyat maupun perkebunan tebu, seiring dengan kemampuan Pabrik Gula dalam menggiling tebu lebih banyak, dan pengembangan lahan juga dilakukan pada lahan kering asalkan airnya dapat dipompa artesis. Jadi dapat disimpulkan bahwa Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah serangkaian instruksi kerja tertulis yang dibakukan (terdokumentasi) mengenai proses pelaksanaan administrasi bisnis, bagaimana dan kapan harus dilakukan, di mana dan oleh siapa dilakukan. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi lapangan yang diperoleh peneliti mengenai analisis Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi gula dalam upaya penyeimbangan kebutuhan gula pada Pabrik Gula (PG) Wonolangan Probolinggo menunjukkan bahwa karyawan melakukan pekerjaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. SOP yang sudah ada di perusahaan sehingga ketika terjadi peningkatan permintaan produk, para karyawan telah melakukan pekerjaan sesuai dengan prosedur yang berlaku, hal ini dapat mengimbangi peningkatan produk, perusahaan dapat mencapai tujuan yang diinginkan jika karyawan melakukan semua tugas sesuai dengan prosedur yang berlaku dan didukung dengan pemantauan kinerja perusahaan secara berkala.

Selain itu, hasil wawancara dan observasi peneliti menunjukkan bahwa tata cara pengelolaan produksi gula di Pabrik Gula Wonolongan dalam praktiknya tidak jauh berbeda dengan teori yang ada, hanya saja memang demikian. Prosedur operasi standar (SOP) produksi gula untuk menyeimbangkan permintaan gula di Wonolangan, Probolinggo. Mengenai analisis SOP produksi gula dalam upaya mengimbangi kenaikan permintaan gula di Pabrik Gula (PG) Wonolangan PROBOLINGGO, didapatkan bahwa karyawan melakukan pekerjaannya sesuai dengan SOP yang ada di perusahaan sehingga ketika terjadi peningkatan permintaan terhadap produk dan karyawan bekerja sesuai prosedur yang berlaku. Hal ini dapat mengimbangi perbaikan produk, perusahaan dapat mencapai tujuan yang diinginkan apabila karyawan melaksanakan seluruh tugas sesuai prosedur yang berlaku.

Pada tahun 2012, Pabrik Gula Wonolangan Probolinggo mendapat permintaan peningkatan produksi sebesar 210.615 ton dibandingkan tahun 2013 dan 2014 sebesar 11.232 ton, mengalami penurunan, sedangkan pada tahun 2015 terjadi peningkatan permintaan yang sangat drastis sebanyak 233.218 ton. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil produksi Pabrik Gula Wonolangan meningkat sangat drastis pada tahun 2015 disebabkan oleh kesuburan tanah, dan musim kemarau yang terjadi pada tahun tersebut serta menunjang hasil yang cukup tinggi, berbeda dengan tahun 2013-2014 yang menunjukkan penurunan karena disebabkan oleh Musim hujan. Musim hujan akan mempengaruhi kualitas hasil panen tebu yang kurang manis. Adanya pembinaan atau pengawasan langsung dan rutin terhadap pabrik gula untuk mengevaluasi kinerja Pabrik Gula Wonolangan.

Apakah standar operasional prosedur sudah memenuhi standar yang ditetapkan oleh perusahaan Pabrik Gula Wonolangan Probolinggo? Pada tahun 2012-2015, kondisi permintaan PG Wonolangan mengalami kenaikan atau penurunan. Faktor apa saja yang mempengaruhi permintaan di Pabrik Gula Wonolangan.

PENUTUP

Kesimpulan

Alat-alat yang digunakan dalam proses pembuatan gula adalah alat stasiun penggilingan, alat stasiun pemurnian, dan alat stasiun. Pertama (NPP), Pengujian Nira Mentah (NM), Pengujian Nira Mentah Tersulfurisasi (NMS), Pengujian Nira Encer, Pengujian Kental, Pengujian Nira Kental Tersulfurasi, Pengujian Mangkuk A, C dan D, Pengujian Gula Reduksi, analisis Ampas. Hukum ekonomi menjelaskan bahwa permintaan adalah, semakin tinggi harga suatu barang yang ditawarkan maka permintaan terhadap barang tersebut akan semakin meningkat.

Selain itu, biaya pemotongan dan pengangkutan tebu juga meningkat pada musim hujan sehingga berdampak pula pada pendapatan petani tebu yang menurun. Upaya yang dilakukan perusahaan untuk mengimbangi peningkatan permintaan produk gula, seperti kita ketahui bahwa gula merupakan produk yang dikonsumsi dan dibutuhkan oleh masyarakat setempat, karyawan harus menjalankan aktivitasnya sesuai dengan SOP, menjalin hubungan dengan masyarakat pemilik. lahan tebu sehingga perusahaan tidak melakukannya. Jadi, ketika terjadi peningkatan permintaan produk maka perusahaan bisa mengatasinya, dengan menerapkan SOP yang baik dan tidak kehabisan bahan baku atau tebu karena ada stok cadangan bahan baku, sehingga semuanya sesuai dengan perencanaan perusahaan. dan prosedur.

Saran

Jurnal Teknik Pomits “Analisis Faktor Produktivitas Gula Nasional dan Pengaruhnya Terhadap Harga Gula Dalam Negeri dan Permintaan Gula Impor Dengan Sistem Dinamis”.

Referensi

Dokumen terkait