1
ANALISIS METODE PENGAKUAN MARGIN PEMBIAYAAN MURABAHAH BERDASARKAN PRINSIP ANUITAS DAN
PROPORSIONAL SESUAI DENGAN PSAK
( Studi Kasus Pada PT Bank BRI Syariah )
Disusun Oleh : Maulida Fitri (201012074)
Jurusan Akuntansi STIE Indonesia Banking School
Fatwa No. 84/DSN-MUI/XII/2012 yang dikeluarkan oleh DSN MUI menjelaskan bahwa dalam pengakuan keuntungan pembiayaan murabahah yang diaplikasikan oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dikenal dua metode yaitu metode anuitas dan metode proporsional. Penerapan salah satu dari dua metode pengakuan keuntungan pembiayaan murabahah tersebut menimbulkan permasalahan bagi kalangan industri dan masyarakat, karena dalam PSAK No.
102 tidak mengatur pengakuan keuntungan secara anuitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis metode serta pencatatan akuntansi yang digunakan oleh PT Bank BRI Syariah dalam mengakui margin pembiayaan murabahah. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa PT Bank BRI Syariah menggunakan metode anuitas dalam mengakui margin pembiayaan murabahah, namun dalam pencatatan akuntansi atas pembiayaan murabahah PT Bank BRI Syariah mengacu pada PSAK No 102. Penelitian ini memberikan saran kepada PT Bank BRI Syariah agar menetapkan metode pengakuan keuntungan serta standar akuntansi yang konsisten dalam transaksi pembiayaan murabahah di kemudian hari dan menyiapkan perubahan sistem jika memilih metode anuitas karena harus mengacu pada PSAK No. 50, 55, dan 60
Kata kunci : murabahah, metode proporsional, metode anuitas, PSAK No. 102.
BAB I PENDAHULUAN
Bank syariah pada dasarnya adalah lembaga keuangan sebagaimana halnya bank konvensional yang fungsi utamanya melaksanakan intermediasi dana antara pihak yang kelebihan dana dan pihak yang membutuhkan dana, sehingga aktivitas utama bank syariah yaitu menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan dalam bentuk fasilitas pembiayaan.
Menurut Undang-undang No. 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah, bentuk pembiayaan perbankan berdasarkan prinsip syariah antara lain yaitu meliputi; pembiayaan dengan prinsip bagi hasil berdasarkan akad mudharabah dan akad musyarakah, pembiayaan dengan prinsip jual beli berdasarkan akad murabahah, akad salam, dan akad istishna’, pembiayaan dengan prinsip sewa menyewa berdasarkan akad ijarah dan akad ijarah muntahiya bittamlik, dan pembiayaan dengan prinsip pinjam meminjam dalam bentuk piutang berdasarkan akad qardh.
Komposisi pembiayaan yang diberikan oleh Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah yang tercatat dalam statistik Bank Indonesia bulan Oktober 2013 terdiri dari pembiayaan mudharabah, musyarakah, murabahah, istishna’, salam, ijarah, dan qardh. Besarnya komposisi pembiayaan dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 1.2
Komposisi Pembiayaan yang Diberikan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah
Akad 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Okt Akad Mudharabah 6.205 6.597 8.631 10.229 12.023 13.664 Akad Musyarakah 7.411 10.412 14.624 18.960 27.667 37.921 Akad Murabahah 22.486 26.321 37.508 56.365 88.004 107.484
Akad Salam 0 0 0 0 0 0
Akad Istishna’ 369 423 347 326 376 528
Akad Ijarah 765 1.305 2.341 3.839 7.345 10.244 Akad Qardh 959 1.829 4.731 12.937 12.090 9.442
Lainnya 0 0 0 0 0 0
Total 38.195 46.886 68.181 102.655 147.505 179.284
Sumber : www.bi.go.id (data diolah)
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa pembiayaan murabahah memiliki peran penting yang memberikan porsi terbesar dalam penyalura dana. Menurut Rahmawaty (2007:192), hal ini dapat terjadi karena beberapa hal, yaitu :
1. Murabahah adalah pembiayaan investasi jangka pendek, dan dibandingkan dengan sistem profit and loss sharing (PLS) cukup memudahkan;
2. Mark up dalam murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa sehingga memastikan bahwa bank syariah memperoleh keuntungan yang sebanding dengan bank yang berbasis bunga yang menjadi pesaing dari bank-bank syariah;
3. Murabahah menjauhkan ketidakpastian yang ada pada pendapatan dari bisnis-bisnis dengan sistem PLS; dan
4. Murabahah tidak memungkinkan bank-bank syariah untuk mencampuri manajemen bisnis, karena pihak bank bukan merupakan mitra nasabah, akan tetapi hubungan yang terjadi adalah hubungan antara kreditur dan debitur.
Terkait dengan transaksi murabahah sebagai pemberi kontribusi terbesar dalam pembiayaan, PT Bank BRI Syariah merupakan salah satu bank syariah dengan jumlah pembiayaan murabahah paling besar dibandingkan dengan pembiayaan yang lain.
Tabel 1.3
Pertumbuhan Pembiayaan Murabahah Dibandingkan Pembiayaan Lain PT Bank BRI Syariah
Jenis Pembiayaan 2009 2010 2011 2012 2013 Piutang Murabahah 1.643.319 3.350.255 5.275.740 6.966.407 8.849.045 Piutang Istishna 33.562 27.816 21.596 16.362 12.599 Piutang Qardh 80.857 726.148 1.951.102 1.430.785 946.182 Pembiayaan Mudharabah 164.716 387.425 598.464 859.252 936.688 Pembiayaan Musyarakah 589.461 1.309.790 1.721.836 1.737.831 3.033.517
Sumber : Laporan Tahunan PT Bank BRI Syariah (data diolah)
Meskipun pembiayaan murabahah memberikan porsi terbesar dalam penyaluran dana, tetapi pembiayaan murabahah ini justru menimbulkan permasalahan baru, karena pada akhirnya menimbulkan salah persepsi di kalangan masyarakat bahwa pada tataran aplikasinya,
3 pembiayaan murabahah mengindikasikan adanya duplikasi pinjaman atau kredit dari bank konvensional, dengan realisasi perhitungan marginnya mengacu ke bunga bank konvensional (Widodo, 2010:34). Hal ini diperjelas dengan adanya Fatwa No. 84/DSN-MUI/XII/2012 yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 21 Desember 2012 mengenai metode pengakuan keuntungan tamwil bi al-murabahah. Fatwa tersebut salah satunya menyatakan bahwa pengakuan keuntungan murabahah dalam bisnis yang dilakukan oleh para pedagang (al-tujjar) boleh dilakukan secara annuitas (thariqah al-hisab ‘al- tanazuliyyah/thariqah tanaqushiyyah) selama sesuai dengan ‘urf (kebiasaan) yang berlaku dikalangan lembaga keuangan syariah.
Dengan dikeluarkannya Fatwa No. 84/DSN-MUI/XII/2012 oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI), menimbulkan pertanyaan bagaimana menerapkan keuntungan pembiayaan murabahah secara anuitas oleh lembaga keuangan syariah mengingat hal ini tidak diatur dalam PSAK No. 102 tentang Akuntansi Murabahah.
Menanggapi permasalahan mengenai metode pengakuan keuntungan murabahah, di akhir tahun 2013 Dewan Satandar Akuntansi Syariah (DSAS) Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) kemudian menerbitkan revisi atas Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 102 tentang Akuntansi Murabahah.
PSAK No. 102 Revisi yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS) Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menjelaskan bahwa akuntansi untuk pembiayaan murabahah yang substansinya dikategorikan sebagai kegiatan pembiayaan (financing) mengacu pada PSAK 55 tentang Instrument Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, PSAk 50 tentang Instrumen keuangan: Penyajian, PSAK 60 tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan dan PSAK lain yang relevan, sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Oleh karena itu, lembaga keuangan syariah yang menerapkan anuitas untuk pengakuan keuntungan transaksi pembiayaan murabahah sesuai Fatwa DSN No. 84/DSN-MUI/XII/2012 harus melakukan pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan pembiayaan murabahah sesuai dengan PSAK-PSAK tersebut, termasuk akuntansi untuk penurunan nilai.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai metode pengakuan keuntungan pembiayaan murabahah dan pedoman PSAK yang digunakan oleh PT Bank BRI Syariah. Adapun rumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana metode dan pencatatan akuntansi atas pengakuan margin pembiayaan murabahah pada PT Bank BRI Syariah ?
2. Apakah metode dan pencatatan akuntansi atas pengakuan margin pembiayaan murabahah tersebut telah sesuai dengan PSAK No. 102 ?
BAB II
LANDASAN TEORI TIJAUAN PUSTAKA
Pembiayaan Murabahah
Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 102 paragraf 5, Murabahah adalah akad jual beli barang dengan harga jual sebesar biaya perolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual harus mengungkapkan biaya perolehan barang tersebut kepada pembeli. Sedangkan menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 04/DSN- MUI/IV/2000, Murabahah adalah menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba.
Menurut Karim (2011:281), Angsuran harga jual terdiri dari dua unsur yaitu angsuran harga beli/harga pokok barang dan angsuran margin keuntungan. Kedua unsur tersebut harus diinformasikan oleh penjual kepada pembeli, yaitu seberapa besar keuntungan penjualan, selanjutnya pihak pembeli dapat mengkomunikasikan seberapa besar keuntungan penjualan sesuai keinginannya. Menurut Widodo (2010:37) terdapat beberapa metode pricing di bawah ini yang sebagian digunakan oleh Lembaga Keuangan Islam (LKI), antara lain :
1. Metode Margin Anuitas
Anuitas dalam teori keuangan adalah suatu rangkaian penerimaan atau pembayaran tetap yang dilakukan berkala pada waktu tertentu (http://id.wikipedia.org/wiki/Anuitas).
Menurut Widodo (2013:37), Metode ini merupakan modifikasi dari metode efektif.
Metode ini mengatur jumlah angsuran pokok dan margin yang dibayar agar sama setiap bulan. Jumlah angsuran pokok setiap bulan akan semakin besar, sementara jumlah margin semakin kecil.
Keterangan : M = Margin
n = Jangka waktu dalam tahun k = Bulan cicilan ke-
2. Metode Margin Rata-rata/Proporsional
Menurut Virnata, Metode proporsional memiliki kesamaan dan perbedaan dengan metode flat. Persamaan metode ini dengan metode flat yaitu dimana porsi angsuran pokok dan porsi angsuran margin yang dibayarkan setiap bulan sama, namun jumlah angsuran yang dibayarkan setiap bulan tidak sama. Pada metode proporsional, jumlah angsuran yang dibayarkan setiap bulan bergantung kepada kemampuan membayar nasabah, dimana sebelumnya sudah dilakukan kesepakatan antara nasabah dengan bank mengenai berapa jumlah angsuran yang akan dibayar setiap bulannya, sehingga jumlah angsuran yang dibayar setiap bulan tidak sama. Sedangkan pada metode margin flat, jumlah angsuran yang dibayarkan setiap bulannya sama.
Keterangan : M = Margin
n = Jangka waktu dalam tahun
Angsuran Pokok Per Bulan =
Angsuran Pokok (k) = {( )
( ) } x Pokok Pembiayaan x ( )
Angsuran Margin (k) = { ( )
( )
} x Pokok Pembiayaan (k)
Angsuran Margin Per Bulan = {
} x Pokok Pembiayaan x ( )
5 3. Metode Margin Effective Rate
Metode ini menghitung margin yang harus dibayar setiap bulan sesuai dengan saldo pokok pinjaman bulan sebelumnya.
Keterangan : M = Margin
n = Jangka waktu dalam tahun
4. Metode Margin Flat Rate
Dalam metode ini, perhitungan bunga selalu menghasilkan nilai bunga yang sama setiap bulan, karena bunga dihitung dari presentasi bunga dikalikan pokok pinjaman awal.
Keterangan :
Pokok Pembiayaan = Harga perolehan – Uang muka
M = Margin keuntungan
n = Jangka waktu dalam tahun
Cakupan Standar Akuntansi Murabahah A. Pengakuan dan Pengukuran
1. Uang muka (urbun)
a) Uang muka diakui sebagai uang muka pembelian sebesar yang diterima. Pada saat menerima uang muka, jurnal yang dibuat yaitu :
Dr. Kas/Rekening pembeli xxx
Kr. Kewajiban lain-Uang muka murabahah xxx
b) Jika barang dibeli oleh pembeli, maka uang muka diakui sebagai pembayaran piutang (merupakan bagian pokok). Pada saat barang dibeli oleh pembeli, jurnal yang dibuat yaitu :
Dr. Piutang murabahah xxx
Kr.Margin murabahah tangguhan xxx
Kr.Persediaan murabahah xxx
Dr. Kewajiban lain-Uang muka murabahah xxx
Kr. Piutang murabahah xxx
c) Jika barang batal dibeli oleh pembeli, maka uang muka dikembalikan kepada pembeli setelah diperhitungkan dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh penjual. Jika pembeli batal membeli barang maka penjual akan mencatat pengembalian uang muka setelah dipotong biaya administrasi, jurnal yang dibuat:
Dr. Kewajiban lain-Uang muka xxx
Kr. Pendapatan lain-lain xxx
Kr. Kas/Rekening pembeli xxx
Angsuran Per Bulan = {
} ( )
Angsuran Per Bulan = ⌈ ⌉
2. Pada saat perolehan, aset murabahah diakui sebagai persedian sebesar biaya atau harga perolehan. Harga perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan untuk memperoleh aset hingga aset tersebut siap untuk dijual atau digunakan. Dalam transaksi ini bank syariah akan mencatat sebagai berikut :
Dr. Persediaan murabahah xxx
Kr. Kas/Rekening Supplier xxx
3. Diskon atau potongan pembelian dari pemasok diakui sebagai :
a) Pengurangan biaya perolehan aset murabahah, jika terjadi sebelum akad murabahah;
b) Kewajiban kepada pembeli, jika terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad yang disepakati menjadi hak pembeli;
c) Tambahan keuntungan murabahah, jika terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad menjadi hak penjual;
d) Pendapatan operasi lain, jika setelah akad murabahah dan tidak diperjanjikan dalam akad.
4. Piutang murabahah diakui pada saat akad transaksi murabahah, sebesar biaya perolehan ditambah keuntungan (margin) yang disepakati. Pada akhir periode laporan keuangan piutang murabahah dinilai sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi, yaitu saldo piutang dikurangi penyisihan kerugian piutang. Jurnal yang akan dibuat yaitu :
Dr. Kas/Piutang murabahah xxx
Kr. Persediaan murabahah xxx
Kr. Pendapatan murabahah xxx
5. Keuntungan murabahah diakui :
a) Pada saat terjadinya penyerahan barang jika dilakukan secara tunai atau secara tangguh yang tidak melebihi satu tahun; atau
Pada waktu akad, bank syariah akan mencatat sebagai berikut :
Dr. Kas/Piutang murabahah xxx
Kr. Persediaan murabahah xxx
Kr. Pendapatan margin murabahah xxx
b) Selama periode akad sesuai dengan tingkat risiko dan upaya untuk merealisasikan keuntungan tersebut untuk transaksi tangguh lebih dari satu tahun. Metode-metode berikut ini digunakan dan dipilih yang paling sesuai dengan karakteristik risiko dan upaya transaksi murabahah-nya :
i. Keuntungan diakui saat penyerahan aset murabahah. Metode ini terapan untuk murabahah tangguh dimana risiko penagihan kas dari piutang murabahah dan pengelolaan piutang serta penagihannya relatif kecil. Sehingga, keuntungan akan dicatat di dalam jurnal sebagai berikut :
Dr. Piutang murabahah xxx
Kr. Persediaan murabahah xxx
Kr. Pendapatan murabahah xxx
ii. Keuntungan diakui proporsional dengan besaran kas yang berhasil ditagih dari piutang murabahah. metode ini terapan untuk transaksi murabahah tangguh dimana risiko piutang tak tertagih relatif besar dan atau beban untuk mengelola
7 dan menagih piutang tersebut relatif besar. Sehingga, jurnal yang harus dibuat saat penyerahan aset murabahah adalah sebagai berikut :
1. Pada saat penyerahan aset murabahah :
Dr. Piutang murabahah xxx
Kr. Persediaan murabahah xxx
Kr. Margin murabahah tangguhan xxx
2. Pada saat menerima pelunasan piutang murabahah dan mengakui keuntungan murabahah secara proporsional dengan kas yang diterimanya:
Dr. Kas xxx
Dr. Margin murabahah tangguhan xxx
Kr. Piutang murabahah xxx
Kr. Pendapatan margin murabahah xxx
iii. Keuntungan diakui saat seluruh piutang murabahah berhasil ditagih. Metode ini terapan untuk transaksi murabahah tangguh dimana risiko piutang tidak tertagih dan beban pengelolaan piutang serta penagihannya cukup besar. Dalam praktiknya metode ini jarang digunakan, karena transaksi murabahah tangguh mungkin tidak akan terjadi bila tidak ada kepastian yang memadai akan penagihan kasnya. Untuk metode ini, jurnal yang harus dibuat pada saat penyerahan aset adalah sebagai berikut :
1. Pada saat penyerahan aset murabahah :
Dr. Piutang murabahah xxx
Kr. Persediaan murabahah xxx
Kr. Margin murabahah tangguhan xxx
2. Pada saat menerima pelunasan piutang murabahah secara keseluruhan dan mengakui keuntungan murabahah :
Dr. Kas xxx
Dr. Margin murabahah tangguhan xxx
Kr. Piutang murabahah xxx
Kr. Pendapatan margin murabahah xxx
6. Potongan piutang murabahah
a) Potongan pelunasan piutang murabahah diakui sebagai pengurang keuntungan murabahah pada saat pelunasan sebesar jumlah yang diberikan.
b) Jika potongan pembayaran cicilan piutang murabahah diberikan kepada nasabah karena :
i. Membayar cicilan tepat waktu, maka potongan pembayaran diakui sebagai pengurang keuntungan murabahah. jurnal yang dibuat yaitu :
1. Pada saat pengakuan keuntungan murabahah : Dr. Margin murabahah tangguhan xxx
Kr. Pendapatan margin murabahah xxx
2. Pada saat menerima pelunasan dan mengakui potongan angsuran sebagai pengurang keuntungan murabahah :
Dr. Kas xxx
Dr. Pendapatan margin murabahah xxx
Kr. Piutang murabahah xxx
ii. Adanya penurunan kemampuan pembayaran oleh nasabah, maka potongan pembayaran diakui sebagai beban bank.
Untuk pelunasan dini, bank akan mencatat pengakuan pada saat penyelesaian dengan jurnal sebagai berikut :
1. Pada saat pengakuan keuntungan murabahah : Dr. Margin murabahah tangguhan xxx
Kr. Pendapatan margin murabahah xxx
2. Pada saat menerima pelunasan :
Dr. Kas/Rekening nasabah xxx Dr. Beban lain-lain-Potongan angsuran murabahah xxx
Kr. Piutang murabahah xxx
7. Denda (ta’zir) atas nasabah yang lalai diakui sebagai sumber dana kebajikan sebesar dana yang diterima bank. Jurnal yang dibuat untuk mencatat denda, yaitu sebagai berikut :
Dr. Kas/Rekening Pembeli xxx
Kr. Rekening Simpanan Wadiah-Dana Kebajikan xxx B. Penyajian
1. Piutang Murabahah
Piutang murabahah disajikan di neraca pada bagian aset dengan nama rekening piutang murabahah. Berdasarkan PSAK No. 102, piutang murabahah disajikan sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan, yaitu saldo piutang murabahah dikurangi penyisihan kerugian piutang.
2. Keuntungan Murabahah Tangguhan
Keuntungan murabahah tangguhan disajikan di neraca pada bagian aset dengan nama keuntungan murabahah tangguhan sebagai pengurang piutang murabahah.
Piutang murabahah belum jatuh tempo terdiri atas murabahah lancar. Adapun piutang murabahah jatuh tempo terdiri atas piutang murabahah dalam perlakuan khusus, piutang murabahah kurang lancar, piutang murabahah diragukan, dan piutang murabahah macet.
3. Aset Murabahah
Rekening ini disajikan di neraca pada bagian aset. Namun demikian, dikarenakan setelah melakukan transaksi pembelian pihak bank syariah melakukan penyerahan aset murabahah kepada pembeli, maka rekening ini biasanya memiliki saldo nol.
Bank mendebit dan mengkredit rekening aset murabahah secara bersamaan dengan jumlah yang sama.
4. Keuntungan Murabahah
Rekening ini disajikan di laporan laba rugi pada bagian pendapatan dengan nama rekening keuntungan murabahah. Rekening keuntungan murabahah merupakan gabungan total saldo murabahah akrual dan total saldo murabahah kas.
C. Pengungkapan
Berdasarkan PSAK No. 102, bank syariah sebagai penjual harus mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan transaksi murabahah, tetapi tidak terbatas pada :
1. Harga perolehan aset murabahah;
9 2. Janji pemesanan murabahah berdasarkan pesanan sebagai kewajiban atau bukan;
3. Pengungkapan yang diperlukan sesuai dengan PSAK No. 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
Kerangka Pemikiran
Berikut adalah model kerangka pemikiran dalam penelitian ini :
BAB III
METODELOGI PENELITIAN Objek Penelitian
Objek penelitian dilakukan pada PT Bank BRI Syariah, yang berlokasi di Menara Jamsostek Lt. 19 Jl. Gatot Subroto No. 38 Jakarta Selatan. Ruang lingkup penelitian ini hanya mencakup atas transaksi pembiayaan murabahah yang dilakukan oleh PT Bank BRI Syariah.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif.
Karena penelitian ini bertujuan menggambarkan mengenai suatu masalah dari data yang ada, yaitu mengenai metode pengakuan margin pembiayaan murabahah pada PT. Bank BRI Syariah.
Dan penelitian ini tidak hanya terbatas pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi juga meliputi analisis data dan interpretasi tentang data tersebut.
Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalaha data utama yang penulis peroleh dari pihak pihak yang bersangkutan pada perusahaan yang menjadi objek penelitian. Sedangkan data sekunder yaitu sumber data kedua yang berfungsi sebagai data pelengkap bagi sumber data primer.
Teknik pengumpulan data bertujuan untuk mengumpulkan data atau informasi yang dapat menjelaskan permasalahan suatu penelitian secara objektif. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan (library research) dan wawancara.
Studi Kasus PT Bank Muamalat Indonesia
Hasil dan Pembahasan
Analisis Metode Pengakuan Margin Murabahah berdasarkan Prinsip Anuitas dan Proporsional Sesuai dengan PSAK
(Studi Kasus Pada PT. Bank BRI Syariah)
Metode Proporsional Metode Anuitas
Perbandingan, Pengakuan, Pengukuran, dan Pengungkapan
Hasil Analisis
Teknik Analisis Data
Setelah mendapatkan data-data dari studi kepustakaan dan wawancara, selanjutnya peneliti melakukan analisis data. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara :
1. Mengumpulkan data dan informasi yang relevan dengan tujuan penelitian. Data dan informasi yang terkait langsung dengan penelitian berasal dari hasil wawancara dengan informan dan hasil dokumentasi terkait dengan transaksi murabahah yang terjadi di PT.
Bank BRI Syariah 2. Mereduksi data
Mereduksi data dilakukan dengan memilih data-data yang penting dan memfokuskan pada hal yang pokok. Hasil wawancara dengan informan kemudian dijadikan transkip wawancara, sedangkan dokumen transaksi murabahah dipilih yang terkait langsung dengan metode pengakuan margin serta perlakuan akuntansinya.
3. Menyajikan data
Setelah mereduksi data, maka langkah selanjutnya yaitu menyajikan data. Penyajian data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teks naratif mengenai metode pengakuan margin murabahah serta perlakuan akuntansinya, mulai dari pengakuan hingga pengungkapan yang diterapkan oleh PT. Bank BRI Syariah..
4. Mengambil kesimpulan dan verifikasi
Setelah mengetahui metode pengakuan margin yang digunakan serta perlakuan akuntansi murabahah yang terjadi di PT. Bank BRI Syariah, selanjutnya dilakukan perbandingan dengan PSAK No. 102 , barulah ditarik kesimpulan dari hasil analisis.
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN Metode Pengakuan Margin Murabahah Pada PT Bank BRI Syariah
Dalam melakukan analisis dan pembahasan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan simulasi atas salah satu jenis pembiayaan dengan akad murabahah. Hal ini dilakukan peneliti untuk membuat ilustrasi atas pengakuan margin pembiayaan murabahah yang dilakukan oleh PT Bank BRI Syariah, sehingga dapat diketahui metode pengakuan margin dan pedoman standar akuntansi atas pembiayaan murabahah yang digunakan oleh PT Bank BRI Syariah dalam transaksi pembiayaan murabahah. Berikut adalah contoh simulasi pembiayaan murabahah yang dilakukan oleh PT Bank BRI Syariah.
Simulasi Pembiayaan Kepemilikan Kendaraan Bermotor BRI Syariah iB Bapak Achmad
Maksimum Pembiayaan Rp 340.500.000
Tujuan Pembiayaan : Pembelian satu unit mobil baru Mitsubishi Pajero, Type GLX 4x4
Harga Mobil : Rp 454.000.000
Pembiayaan : 25% dari nasabah, 75% dari bank Magin Efektif/Tahun : 13%, Flate Rate 7,18%
Jangka Waktu Pembiayaan : 12 Bulan
Denda : (
)
11 Berikut analisis dan pembahasan mengenai simulasi metode pengakuan margin pemibayaan murabahah yang dilakukan oleh PT Bank BRI Syariah :
PT Bank BRI Syariah menggunakan metode anuitas dalam menghitung angsuran pokok dan margin atas transaksi pembiayaan murabahah (Virnata, 2014). Berikut adalah tabel angsuran pembiayaan kepemilikan kendaraan bermotor sebesar Rp 340.500.000.
Tabel 4.2
Jadwal Angsuran Pembiayaan Kepemilikan Kendaraan Bermotor BRI Syariah iB Pengakuan Margin Pembiayaan Murabahah dengan Menggunakan Metode Anuitas
Bulan
Ke- Jumlah Angsuran Angsuran
Pokok Angsuran Margin Sisa Saldo Pokok Porsi Pokok
Porsi Margin
0 Rp 340.500.000
1 Rp 30.412.532,38 Rp 26.723.782 Rp 3.688.750 Rp 313.776.217,62 87.87% 12.13%
2 Rp 30.412.532,38 Rp 27.013.290 Rp 3.399.242 Rp 286.762.927,60 88.82% 11.18%
3 Rp 30.412.532,38 Rp 27.305.934 Rp 3.106.598 Rp 259.456.993,60 89.79% 10.21%
4 Rp 30.412.532,38 Rp 27.601.748 Rp 2.810.784 Rp 231.855.245,32 90.76% 9.24%
5 Rp 30.412.532,38 Rp 27.900.767 Rp 2.511.765 Rp 203.954.478,10 91.74% 8.26%
6 Rp 30.412.532,38 Rp 28.203.026 Rp 2.209.507 Rp 175.751.452,56 92.73% 7.27%
7 Rp 30.412.532,38 Rp 28.508.558 Rp 1.903.974 Rp 147.242.894,25 93.74% 6.26%
8 Rp 30.412.532,38 Rp 28.817.401 Rp 1.595.131 Rp 118.425.493,23 94.76% 5.24%
9 Rp 30.412.532,38 Rp 29.129.590 Rp 1.282.943 Rp 89.295.903,69 95.78% 4.22%
10 Rp 30.412.532,38 Rp 29.445.160 Rp 967.372 Rp 59.850.743,60 96.82% 3.18%
11 Rp 30.412.532,38 Rp 29.764.149 Rp 648.383 Rp 30.086.594,28 97.87% 2.13%
12 Rp 30.412.532,38 Rp 30.086.594 Rp 325.938 Rp 0 98.93% 1.07%
Total Rp 364.950.388,56 Rp 340.500.000 Rp 24.450.388,56 (sumber : data diolah)
Jurnal Transaksi
Berdasarkan simulasi mengenai pengakuan margin pembiayaan murabahah pada PT Bank BRI Syariah di atas, berikut adalah jurnal pencatatan atas pengakuan margin murabahah :
1. Pada saat Bapak Achmad melakukan pembayaran angsuran setiap bulan :
Keterangan Debit Kredit
Kas/Rekening Bapak Achmad Rp 30.412.532,38
Piutang murabahah Rp 30.412.532,38
(Untuk mencatat penerimaan cicilan murabahah dari Bapak Achmad setiap bulan)
2. Pada saat mengakui margin murabahah :
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-1)
Keterangan Debit Kredit
Margin murabahah ditangguhkan Rp 3.399.242
Margin murabahah Rp 3.399.242
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-2)
Keterangan Debit Kredit
Margin murabahah ditangguhkan Rp 3.688.750
Margin murabahah Rp 3.688.750
Keterangan Debit Kredit Margin murabahah ditangguhkan Rp 3.106.598
Margin murabahah Rp 3.106.598
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-3)
Keterangan Debit Kredit
Margin murabahah ditangguhkan Rp 2.810.784
Margin murabahah Rp 2.810.784
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-4)
Keterangan Debit Kredit
Margin murabahah ditangguhkan Rp 2.511.765
Margin murabahah Rp 2.511.765
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-5)
Keterangan Debit Kredit
Margin murabahah ditangguhkan Rp 2.209.507
Margin murabahah Rp 2.209.507
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-6)
Keterangan Debit Kredit
Margin murabahah ditangguhkan Rp 1.903.974
Margin murabahah Rp 1.903.974
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-7)
Keterangan Debit Kredit
Margin murabahah ditangguhkan Rp 1.595.131
Margin murabahah Rp 1.595.131
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-8)
Keterangan Debit Kredit
Margin murabahah ditangguhkan Rp 1.282.943
Margin murabahah Rp 1.282.943
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-9)
Keterangan Debit Kredit
Margin murabahah ditangguhkan Rp 967.372
Margin murabahah Rp 967.372
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-10)
Keterangan Debit Kredit
Margin murabahah ditangguhkan Rp 648.383
Margin murabahah Rp 648.383
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-11)
Keterangan Debit Kredit
Margin murabahah ditangguhkan Rp 325.938
Margin murabahah Rp 325.938
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-12)
13 Perbandingan Metode Anuitas dengan Metode Proporsional
Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 102 tentang Akuntansi Murabahah paragraf 23 menyatakan bahwa keuntungan murabahah diakui proporsional sesuai besaran kas yang berhasil ditagih. Pengukuran proporsional diperoleh dari persentase margin dan persentase harga perolehan dikalikan kas yang berhasil ditagih.
Terkait dengan metode anuitas merupakan metode yang digunakan PT Bank BRI Syariah, PT Bank BRI Syariah mempunyai alasan mengenai penggunaan metode anuitas untuk transaksi murabahah. Untuk memahami alasan pemilihan metode tersebut, peneliti membuat simulasi skedul angsuran yang keuntungannya diakui secara proporsional. Dengan demikian dapat dibandingkan angsuran keuntungan dengan menggunakan metode anuitas dan metode proporsional. Berikut adalah simulasi pembiayaan murabahah dengan menggunakan metode proporsional :
Simulasi Pembiayaan Kepemilikan Kendaraan Bermotor BRI Syariah iB Bapak Achmad
Maksimum Pembiayaan Rp 340.500.000
Tujuan Pembiayaan : Pembelian satu unit mobil baru Mitsubishi Pajero, Type GLX 4x4 Harga Mobil : Rp 454.000.000
Pembiayaan : 25% nasabah, 75% bank Margin Per Tahun : Rp 24.450.388,56 Pembayaran Tangguh : Rp 364.950.388,56 Jangka Waktu Pembiayaan 12 Bulan
Effective Annual Rate 13%, Flat Rate 7,18%
Persentase/porsi margin terhadap total piutang murabahah : 6,7%
Tabel 4.4
Jadwal Angsuran Pembiayaan Kepemilikan Kendaraan Bermotor BRI Syariah Pengakuan Margin Pembiayaan Murabahah dengan Menggunakan Metode
Proporsional
Bulan
Ke- Jumlah Angsuran Angsuran Pokok (Porsi = 93,30%)
Angsuran Margin
(Porsi = 6,70%) Sisa Saldo Pokok Porsi Pokok
Porsi Margin
0 Rp 340,500,000
1 Rp 20.000.000 Rp 18.660.070,56 Rp 1.339.929,44 Rp 321.839.929,44 93.30% 6.70%
2 Rp 20.000.000 Rp 18.660.070,56 Rp 1.339.929,44 Rp 303.179.858,89 93.30% 6.70%
3 Rp 25.000.000 Rp 23.325.088,20 Rp 1.674.911,80 Rp 279.854.770,69 93.30% 6.70%
4 Rp 25.000.000 Rp 23.325.088,20 Rp 1.674.911,80 Rp 256.529.682,50 93.30% 6.70%
5 Rp 25.000.000 Rp 23.325.088,20 Rp 1.674.911,80 Rp 233.204.594,30 93.30% 6.70%
6 Rp 30.000.000 Rp 27.990.105,83 Rp 2.009.894,17 Rp 205.214.488,47 93.30% 6.70%
7 Rp 30.000.000 Rp 27.990.105,83 Rp 2.009.894,17 Rp 177.224.382,63 93.30% 6.70%
8 Rp 35.000.000 Rp 32.655.123,47 Rp 2.344.876,53 Rp 144.569.259,16 93.30% 6.70%
9 Rp 35.000.000 Rp 32.655.123,47 Rp 2.344.876,53 Rp 111.914.135,69 93.30% 6.70%
10 Rp 35.000.000 Rp 32.655.123,47 Rp 2.344.876,53 Rp 79.259.012,21 93.30% 6.70%
11 Rp 40.000.000 Rp 37.320.141,11 Rp 2.679.858,89 Rp 41.938.871,10 93.30% 6.70%
12 Rp 44.950.388,56 Rp 41.938.871,10 Rp 3.011.517,46 Rp 0 93.30% 6.70%
Total Rp 364.950.388,56 Rp 340.500.000,00 Rp 24.450.388,56 (sumber : data diolah)
Cara yang digunakan untuk menghitung angsuran margin yang harus dibayar oleh nasabah setiap bulan pada Tabel 4.4 di atas, yaitu dengan mengalikan porsi margin sebesar 6,70% dengan jumlah angsuran yang harus dibayar oleh nasabah setiap bulan, misal bulan ke-1 yaitu Rp 20.000.000, sehingga akan didapatkan jumlah margin yang harus dibayar bulan ke-1 yaitu sebesar Rp 1.339.929,44. Sedangkan untuk menghitung angsuran pokok setiap bulan dilakukan dengan cara mengalikan (100% - 6,70%) dengan total yang harus dibayar oleh nasabah setiap bulan, misal bulan ke-1 yaitu Rp 20.000.000, sehingga akan didapatkan jumlah angsuran pokok yang harus dibayar nasabah bulan ke-1 yaitu sebesar Rp18.660.070,56.
Berdasarkan simulasi pembiayaan murabahah pada Tabel 4.2 dan Tabel 4.4 di atas, dapat diketahui alasan PT Bank BRI Syariah menggunakan metode anuitas, yaitu dengan menggunakan metode anuitas bank dapat mengakui keuntungan lebih besar di awal periode pembiayaan dibandingkan dengan metode proposional. Pengakuan pendapatan yang lebih besar di awal akan menguntungkan bank apabila nasabah melunasi pembayaran lebih awal dari kesepakatan (Virnanta, 2014). Selain alasan tersebut, metode anuitas memiliki persentase Effective Rate (ER) yang stabil setiap bulan. Untuk mengetahui hal tersebut, peneliti membuat perhitungan ER atas simulasi pembiayaan murabahah pada Tabel 4.2 dan Tabel 4.4. Berikut adalah rumus persentase ER dan perhitungannya :
Tabel 4.5
Perbandingan Perhitungan Effective Rate
dengan Menggunakan Metode Anuitas dan Metode Proporssional
Bulan
Ke- Metode Anuitas Metode Proporsional
1
13,00%
2
13,00%
= 5,00%
3
13,00%
= 6,63%
4
13,00%
= 7,18%
5
13,00%
= 7,83%
6
13,00%
= 10,34%
7
13,00%
= 11,75%
8
13,00%
=15,88%
ER =
15 9
13,00%
=19,46%
10
13,00%
=25,14%
11
= 13,00%
12
= 13,00%
(sumber : data diolah)
Berdasarkan perhitungan Tabel 4.5 di atas, dapat disimpulkan bahwa metode anuitas memiliki persentase ER yang stabil, yaitu sebesar 13,00%. Hal tersebut merupakan salah satu alasan PT. Bank BRI Syariah menggunakan metode anuitas atas pembiayaan murabahah.
Berdasarkan Tabel 4.2 dan Tabel 4.4, dapat dilakukan perbandingan metode anuitas dengan metode proporsional. Adapun perbandingan tersebut antara lain, yaitu :
1. Pada Tabel 4.2, dengan menggunakan metode anuitas, porsi angsuran pokok dan margin yang harus dibayar setiap bulan berbeda, dimana jumlah angsuran pokok yang harus dibayar setiap bulan semakin besar, sedangkan jumlah margin yang harus dibayar setiap bulan semakin kecil. Sedangkan pada Tabel 4.4, apabila mengguna metode proporsional, porsi angsuran pokok dan margin yang harus dibayar setiap bulan sama.
2. Pada Tabel 4.2, dengan menggunakan metode anuitas, perhitungan margin dihitung dari jumlah sisa saldo angsuran pokok. Sedangkan pada Tabel 4.4, apabila menggunakan metode proporsional, perhitungan margin dihitung dari pokok pembiayaan murabahah.
Tabel 4.6
Perbandingan Metode Anuitas dengan Metode Proporsional
No Perbedaan Metode Anuitas Metode Proporsional 1 Angsuran Pokok Porsi yang dibayar setiap
bulannya berbeda, dimana jumlah yang dibayar semakin
besar setiap bulan
Porsi yang dibayar setiap bulan sama
2 Angsuran Margin Porsi yang dibayar setiap bulannya berbeda, dimana jumlah yang dibayar semakin
kecil setiap bulan
Porsi yang dibayar setiap bulan sama
3 Perhitungan Margin Dihitung berdasarkan jumlah sisa saldo angsuran pokok
Dihitung berdasarkan pokok pembiayaan
murabahah
Kesesuain Metode dan Pencatatan Akuntansi atas Pengakuan Margin Pembiayaan Murabahah Pada PT Bank BRI Syariah dengan PSAK No. 102
Penerapan Standar Akuntansi Murabahah Pada PT Bank BRI Syariah
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Staff Kebijakan Akuntansi PT. Bank BRI Syariah, akad murabahah yang terjadi di PT. Bank BRI Syariah merupakan kategori pembiayaan, dimana PT. Bank BRI Syariah tidak memiliki persediaan aktiva murabahah.
Namun, PT Bank BRI Syariah menggunakan kombinasi PSAK No. 55 dan PSAK No. 102, yaitu dalam perhitungan margin pembiayaan murabahah, PT. Bank BRI Syariah mengacu pada PSAK No. 55, yaitu menggunakan metode anuitas. Dan dalam mencatat akuntansi atas transaksi pembiayaan murabahah, PT. Bank BRI Syariah mengacu pada PSAK No. 102 (Febri, 2014).
A. Pengakuan dan Pengukuran
Berdasarkan simulasi atas transaksi pembiayaan murabahah di atas, pengakuan dan pengukuran transaksi murabahah adalah sebagai berikut :
1) Pada saat Bapak Achmad dan BRI Syariah telah melaksanakan ijab qabul akad murabahah untuk tujuan pembelian mobil baru, BRI Syariah memberikan kuasa kepada Bapak Achmad untuk melakukan pembelian rumah ke pemasok menggunakan akad wakalah. Pelaksanaannya, BRI Syariah memberikan dana kepada Bapak Achmad sebesar dana maksimum yang ditanggung oleh bank yaitu Rp 340.500.000. Maka jurnal yang akan dibuat, yaitu :
Setelah Bapak Achmad menerima dana tersebut, kemudian Bapak Achmad membeli mobil yang diinginkannya kepada pemasok. Setelah mobil berpindah tangan kepada Bapak Achmad, kemudian Bapak Achmad melaporkan pembelian rumahnya kepada BRI Syariah dengan menyerahkan dokumen pembelian. BRI Syariah yang menerima laporan pembelian mobil dari Bapak Achmad, kemudian melakukan penghapusan wakalah dengan jurnal sebagai berikut :
Pada saat yang bersamaan, BRI Syariah mencatat penghapusan persediaan murabahah berupa mobil dan mengakui adanya piutang murabahah kepada Bapak Achmad. Selain itu, BRI Syariah juga melakukan pengakuan margin murabahah tangguh untuk mengakui keuntungannya. Maka jurnal yang akan dibuat, yaitu :
Keterangan Debit Kredit
Piutang murabahah Rp 364.950.388,56
Margin murabahahditangguhkan Rp 24.450.388,56
Persediaan aktiva murabahah Rp 340.500.000
Keterangan Debit Kredit
Piutang wakalah Rp 340.500.000
Rekening Bapak Achmad Rp 340.500.00
Keterangan Debit Kredit
Persediaan aktiva murabahah Rp 340.500.000
Piuang wakalah Rp 340.500.000
17 2) Selanjutnya, BRI Syariah membuat skedul angsuran yang harus dibayar oleh Bapak Achmad setiap bulan sesuai tanggal kesepakatan. Adapun jadwal angsuran yang harus dibayar Bapak Achmad setiap bulan yaitu sesuai dengan Tabel 4.2
Pada saat Bapak Achmad mengangsur cicilan murabahah :
Keterangan Debit Kredit
Kas/Rekening Bapak Achmad Rp 30.412.532,38
Piutang murabahah Rp 30.412.532,38
(untuk mencatat penerimaan cicilan murabahah dari Bapak Achmad setiap bulan)
Keterangan Debit Kredit
Margin murabahah ditangguhkan Rp 3.688.750
Margin murabahah Rp 3.688.750
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-1)
3) Bapak Achmad dapat melakukan pelunasan hutang murabahah lebih awal dibandingkan jadwal yang ditentukan. Misal, pada angsuran bulan ke-6 Bapak Achmad melunasi hutang murabahah. BRI Syariah dapat memberikan potongan pelunasan sebesar margin selama 3 bulan periode terakhir. Perhitungan potongan pelunasan angsuran murabahah sebagai berikut :
Sisa kewajiban porsi pokok Rp 175.751.452,56 Sisa kewajiban porsi margin Rp 6.723.741,72 + Jumlah sisa kewajiban Bapak Achmad Rp 182.475.195 Margin yang belum dibayar Rp 6.723.741,72 Margin 3 bulan periode terakhir Rp 1.941.693,45 - Jumlah potongan yang diberikan Rp 4.782.048,27
Kewajiban yang harus dibayar Bapak Achmad atas pelunasan hutangnya sebelum jangka waktnya yaitu Rp 182.475.194,66 – Rp 4.782.048,27 = Rp 177.693.146.
Maka BRI Syariah akan membuat jurnal sebagai berikut :
Keterangan Debit Kredit
Kas Rp 177.693.146
Margin murabahah ditangguhkan Rp 6.723.742
Piutang murabahah Rp 182.475.195
Margin murabahah Rp 1.941.693
4) Ketika Bapak Achmad membayar angsuran terlambat dari tanggal angsuran yang disepakati, maka BRI Syariah akan mengenakan denda kepada Bapak Achmad.
Misal, Bapak Achmad terlambat 3 hari membayar angsuran sehingga bank mengenakan denda sebesar (Rp 10.982 x 3hari) yaitu Rp 32.946. BRI Syariah mengakui denda tersebut sebagai penambah kas untuk dana sosial, maka jurnal yang dibuat, yaitu :
Keterangan Debit Kredit
Kas-Dana Sosial Rp 32.946
Pendapatan Denda-Dana Sosial Rp 32.946
B. Penyajian
BRI Syariah menyajikan piutang murabahah sebesar nilai bersih yaitu nilai piutang murabahah setelah dikurangi dengan cadangan penyisihan kerugian. Margin murabahah ditangguhkan disajikan sebagai pos lawan piutang murabahah. Penyajian piutang murabahah dapat dilihat pada Laporan Posisi Keuangan PT Bank BRI Syariah Per 31 Desember 2013 berikut :
Laporan Posisi Keuangan PT Bank BRI Syariah Per 31 Desember 2013 (Parsial Piutang Murabahah, dalam Jutaan Rupiah)
(sumber : Laporan Tahunan PT Bank BRI Syariah 2013)
BRI Syariah menyajikan pendapatan murabahah ke dalam kategori pendapatan dari jual beli. Pendapatan dari jual beli oleh BRI Syariah disajikan secara akumulasi dengan jual beli lain pada Laporan Laba Rugi Komprehensif dan secara khusus untuk pendapatan murabahah pada Catatan Atas Laporan Keuangan.
Catatan Atas Laporan Keuangan Tahun Berakhir 31 Desember 2013 (Parsial Pendapatan dari Jual Beli, dalam Jutaan Rupiah)
(sumber : Laporan Tahunan PT Bank BRI Syariah 2013)
C. Pengungkapan
BRI Syariah tidak mengungkapkan secara rinci harga perolehan persediaan murabahah. selain itu, informasi janji pemesanan dalam murabahah dan pengungkapan akan kepemilikan persediaan murabahah juga tidak ditampilkan oleh BRI Syariah di dalam Laporan Keuangannya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN
Berdasarkan pada data yang telah diperoleh dan hasil analisis yang dilakukan oleh peneliti mengenai metode pengakuan margin pembiayaan murabahah berdasarkan prinsip anuitas dan proporsional sesuai dengan PSAK pada PT Bank BRI Syariah, maka dapat disimpulkan bahwa PT Bank BRI Syariah menggunakan metode anuitas dalam mengakui
PIUTANG
Piutang murabahah
setelah dikurangi pendapatan margin yang ditangguhkan pada tanggal 31 Desember 2013 yaitu sebesar Rp 3.467.964
Pihak ketiga 8.927.133
Pihak berelasi 76.896
Jumlah piutang murabahah 9.004.029
Cadangan penyisihan kerugian (154.984)
Neto 8.849.045
Pendapatan dari jual beli terdiri dari :
Murabahah 1.133.476
Istishna’ 2.683
Jumlah 1.136.159
19 margin pembiayaan murabahah. Dan dalam pencatatan akuntansi atas traansaksi murabahah, PT Bank BRI Syariah mengacu pada PSAK No. 102.
Berdasarkan perbandingan PSAK dengan praktik yang terjadi di PT Bank BRI Syariah, dapat disimpulkan bahwa metode pengakuan margin pembiayaan murabahah yang digunakan oleh PT Bank BRI Syariah tidak sesuai dengan PSAK No. 102. Namun, pencatatan akuntansi atas transaksi pembiayaan murabahah yang dilakukan oleh PT Bank BRI Syariah telah sesuai dengan PSAK No. 102.
SARAN
PT. Bank BRI Syariah sebaiknya perlu menetapkan metode pengakuan keuntungan yang digunakan serta standar akuntansi yang konsisten dalam transaksi pembiayaan murabahah di kemudian hari dan menyiapkan perubahan sistem jika memilih metode anuitas karena harus mengacu pada PSAK No. 50, 55, dan 60.
Adanya dua metode yang digunakan dalam pengakuan keuntungan pembiayaan murabahah, yaitu proporsional dan anuitas, kantor akuntan publik diharapkan dapat memahami hal ini karena akan mempengaruhi opini yang akan diberikan kepada entitas syariah atas penyajian laporan keuangan.
Penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian dengan topik permasalahan yang berbeda, misalnya mengenai bagi hasil pada mudharabah atau musyarakah. Namun, apabila ingin melakukan penelitian dengan topik permasalahan yang sama, peneliti dapat melakukan penelitian pada objek penelitian yang berbeda agar dapat dibandingkan hasilnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anggadini, Sri Dewi. 2009. “Penerapan Margin Pembiayaan Murabahah Pada BMT As-Salam Pacet – Cianjur”. Majalah Ilmiah UNIKOM. Vol 9, No 2. 187-198.
Bank Indonesia. 2013. Laporan Keuangan Bank Umum Syariah.
www.bi.go.id/id/publikasi/laporan-keuangan/bank/umum-syariah. Diakses pada tanggal 17 April 2014.
2013. Statistik Perbankan Indonesia. www.bi.go.id/id/statistik/perbankan/syariah.
Diakses pada tanggal 27 Maret 2014.
Ernomo, Melina. 2013. “Analisis Metode Pengakuan Keuntungan Pembiayaan Murabahah pada PT Bank Syariah Mandiri”. Skripsi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Febriati, Ekaputri Ciptani. 2013. “Analisis Penerapan PSAK 55 Atas Cadangan Kerugian Penurunan Nilai”. Jurnal EMBA. Vol 1, No 3. 207-2017.
Harahap, Sofyan, Wiroso, dan Muhammad Yusuf. 2011. Akuntansi Perbankan Syariah. Jakarta:
LPFE Usakti.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2014. Standar Akuntansi Keuangan- PSAK 102 (revisi 2013) : Akuntansi Murabahah. Jakarta: Salemba Empat.
Ismail. 2011. Perbankan Syariah. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Karim, Adiwarman A. 2011. Bank Islam : Analisis Fiqih dan Keuangan. Edisi ke-4. Jakarta:
Rajawali Press.
Masita, Jamaluddi, dan Musviyanti. 2012. “Analisis Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 102 Studi Kasus Pada Pegadaian Syariah Cabang Gunung Sari Balikpapan”. Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman.
Ningsih, Ita Yuliana. 2011. “Perlakuan Akuntansu Murabahah Berdasarkan PSAK 102 Pada BMT Al-Fath”. Skripsi S1 Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Nurhayati, Sri dan Wasilah. 2013. Akuntansi Syariah di Indonesia. Edisi ke-3. Jakarta: Salemba Empat.
Rahmawaty, Anita. 2007. “Ekonomi Syariah : Tinjauan Kritis Produk Murabahah dalam Perbankan Syariah di Indonesia”. Jurnal Ekonomi Islam La Riba. Vol 1, No 2. 187-203.
Rivai, Veithzal. 2012. Islamic Banking and Finance : Dari Teori ke Praktik Bank dan Keuangan Syari’ah sebagai Solusi dan Bukan Alternatif. Edisi Pertama Yogyakarta: BPFE.
Safitri, Fara. 2008. “Analisis Perbedaan Sistem Pemberian Kredit Pada Bank Konvensional dengan Sistem Pembiayaan Murabahah (Studi Kasus pada PT. Bank Mandiri, Tbk dengan PT. Bank DKI Syariah, Tbk). Skripsi S1 Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sparta. 2008. “Mengenal Keunggulan Praktek Perbankan Syariah Di Indonesia”. Jurnal Ekonomi. Tahun XIII, No 03. 347-357.
Widodo, Sugeng. 2010. Seluk Beluk Jual Beli Murabahah Perspektif Aplikatif. Yogyakarta:
Asgard Chapter.
Wikipedia. 2014. Pengertian Anuitas. http://id.wikipedia.org/wiki/Anuitas. Diakses pada 26 Juni 2014
Wiroso. 2011. Produk Perbankan Syariah. Jakarta: LPFE Usakti
Wiyono, Slamet dan Maulamin, Taufan. Memahami Akuntansi Syariah di Indonesia. Jakarta:
Mitra Wacana Media.
Yusuf, Muhammad dan Wiroso. 2011. Bisnis Syariah. Edisi ke-2. Jakarta: Mitra Wacana Media.