ANALISIS PENDEKATAN OBJEKTIF PADA NASKAH DRAMA JANJI SENJA KARYA TAOPAN NALISAPUTRA
Revi Asrilia Samsudin
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pasundan Email : [email protected]
Jl. Tamansari No. 6-8, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40116
ABSTRAK
Janji Senja adalah sebuah naskah drama yang ditulis oleh Taopan Nalisaputra. Drama Janji Senja merupakan drama sederhana yang menceritakan sebuah masalah antara ibu dan anak yang dibungkus dalam bingkai keluarga. Dijelaskan dengan menguraikan unsur-unsur pembangun yang ada dalam drama ini secara objektif. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap naskah drama berjudul Janji Senja dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Pada penelitian ini, kajian yang dilakukan yaitu (1) mendeskripsikan isi naskah drama; (2) menganalisis unsur intrinsik karya Taopan Nalisaputra.
Hasil pembahasan yang dianalisis adalah unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam naskah drama Janji Senja Karya Taopan Nalisaputra diantaranya tema, tokoh dan penokohan, alur, latar atau setting yang terdiri dari latar tempat, waktu, dan suasana, dialog, sudut pandang dan amanat. Masalah yang terjadi dalam drama ini erat kaitannya dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam lingkup masalah keluarga.
Kata Kunci : naskah, drama, analisis, objektif.
ABSTRACT
Janji Senja is a drama script written by Taopan Nalisaputra. The Drama Janji Senja is a simple drama that tells of a problem between mother and child wrapped in a family frame. Described by describing the building elements that exist in this drama objectively. This study aims to analyze the drama script entitled Janji Senja by using a qualitative descriptive research method.
In this study, the studies carried out were (1) describing the contents of the drama script; (2) analyze the intrinsic elements of Taopan Nalisaputra's work. The results of the discussion analyzed are the intrinsic elements contained in the drama script Janji Senja by Taopan Nalisaputra including themes, characters and characterizations, plot, setting or setting consisting of place, time and atmosphere, dialogue, point of view and message. The problems that occur in this drama are closely related to everyday life, especially within the scope of family problems.
Keywords: script, drama, analysis, objective.
PENDAHULUAN
Karya sastra merupakan salah satu jenis karya seni yang mengungkapkan pikiran, perasaan, daya khayal seorang pengarang. Menurut Luxemburg (dalam Dewi, 2008:2) “Sastra didefinisikan sebagai suatu ciptaan, suatu kreasi yang merupakan luapan emosi yang spontan dan sastra itu bersifat otonom, tidak mengacu pada sesuatu yang lain, dan mempunyai koherensi antara unsur- unsurnya. Sastra merupakan hasil cipta yang mengungkapkan pribadi manusia berupa pengalaman, semangat, ide, prevasi, pemikiran, dan keyakinan dalam suatu gambaran konkret yang mampu membangkitkan gairah yang dapat tersalurkan dengan alat bahasa. Keindahan suatu karya sastra dapat menggetarkan sukma, dapat menimbulkan keharuan, kemesraan, kebencian, atau pandangan hati, dan dendam bagi penikmatnya.
Karya sastra dipenuhi dengan simbolik atau tanda-tanda yang tidak mudah ditafsirkan dengan angan-angan, artinya sebaik dan sebagus apapun oenafsiran seseorang tentang karya sastra tetap ada batasan dan ketentuan. Pembahasan umum sastra pada intinya dapat dibedakan menjadi dua yaitu sastra sebagai hasil seni dan sastra sebagai ilmu pengetahuan. Sastra sebagai seni merupakan karya kreatif pengarang (sastrawan) yang hasilnya berupa prosa, puisi, dan drama. Sedangkan sastra sebagai ilmu pengetahuan berupa kajian-kajian sastra yang hasilnya berupa kritik sastra, apresiasi sastra, esai, dan lain sebagainya. (Maslikatin, 2007:7).
Pendekatan objektif adalah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra secara keseluruhan. Diperjelas oleh Hasanudin (Abidin 2010: 75) “pendekatan objektif merupakan pendekatan yang mengutamakan penyelidikan karya sastra berdasarkan kenyataan teks sastra itu sendiri”. Pendekatan yang dilihat dari eksistensi sastra itu sendiri berdasarkan konvensi sastra yang berlaku, misalnya, aspek-aspek intrinsik sastra yang meliputi kebulatan makna, diksi, rima, struktur kalimat, tema, plot, setting, karakter, dan sebagainya. Penilaian yang diberikan dilihat dari sejauh mana kekuatan atau nilai karya sastra tersebut berdasarkan kaharmonisan semua unsur-unsur pembentuknya. Penilaian objektif berarti menilai suatu karya sastra secara objektif, tidak dengan pendapat pribadi (subjektif). Secara sederhana endekatan objektif meurpakan kajian yang menitikberatkan pada hubungan antar unsur-unsur pembangun sebuah karya sastra, diantaranya berupa drama.
Drama merupakan salah satu bentuk karya sastra yang ditekankan pada aksi dan gereakan. Drama menurut Budianta (2002: 95) adalah sebuah genre karya sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialog atau cakapan di antara tokoh-tokoh yang ada. Hal itu berbeda dengan puisi ataupun prosa yang dapat dinikmati dengan cara membacanya saja, dimana naskah drama belum dianggap selesai kalau belum dipentaskan.
Drama dikatakan membutuhkan penanganan yang kompleks disebabkan karena drama tidak hanya menampilkan percakapan baik monolog maupun dialog, tapi juga terdapat unsur-unsur lain yang membangun drama itu sendiri.
Seperti halnya prosa, dalam naskah drama juga terdapat unsur intrinsik dan ekstrinsik.
Secara garis besar unsur ekstrinsik merupakan unsur dari luar karya sastra. sedangkan unsur intrinsik merupakan unsur dari dalam karya sastra itu sendiri. Pada penelitian ini akan dikaji struktur instrinsik naskah drama. Unsur-unsur tersebut seperti tema, tokoh dan penokohan, latar yang terdiri dari latar tempat, waktu, dan suasana, plot atau alur, dan amanat yang terdapat didalam drama. Adapun tujuan mengetahui unsur intrinsik dalam teks drama yaitu mengetahui dialog antar tokohnya, mengetahui tema amanat, alur, perwatakan dan latar atau setting,
memahami bagaimana jalan cerita dan nilai yang terkandung dalam drama tersebut, serta pesan dan nilai moral yang disampaikan pengarangnya.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini dilakukan melalui metode penelitian deskriptif kualitatif . Artinya, data yang dikumpulkan bukan berupa angka- angka, melainkan data yang dikumpulkan tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, memo, dan dokumen resmi lainnya. Jenis penelitian ini menampilkan hasil data apa adanya berdasarkan fakta dan dijelaskan secara gambling tanpa proses manipulasi atau perlakuan lain. Dikatakan deskriptif kualitatif karena penelitian ini, penulis mendeskripsikan data yang dikaji berupa tema, tokoh dan penokohan, alur,latar atau setting, sudut pandang, dan amanat.
Dikatakan deskriptif kualitatif karena dalam menjelaskan konsep-konsep yang berkaitan antara yang satu dengan yang lain, penulis menggunakan kata-kata atau kalimat bukan angka- angka statistik dengan mengacu pada struktur yang benar serta menggunakan pemahaman yang mendalam. Jenis penelitian kepustakaan ini dilakukan dengan menganalisis naskah drama Janji Senja karya Taofan Nalisaputra.
Dalam pengumpulan data digunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut : (a) membaca berulang-ulang isi dari naskah drama tersebut, langkah ini digunakan untuk mendapatkan pemahaman terhadap isi naskah drama tersebut; (b) membaca jurnal-jurnal kajian drama yang berkaitan dengan penelitian; (c) mengidentifikasi dan mengklasifikasikan data; (d) menganalisis data; (e) menyusun artikel hasil penelitian.
Teknik analisis data ialah proses mengubah data hasil penelitian menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil kesimpulan serta mengoorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan suatu rumusan masalah dalam penelitian. Analisis data yang ditemukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (a) mengurutkan data yang memenuhi unsur-unsur instrinsik pada naskah pada naskah drama dan (b) menyajikan data yang telah dianalisis.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Sinopsis
Diceritakan bahwa tinggallah di sebuah desa seorang anak perempuan dan sang ibu. Di waktu senja, sang ibu selalu saja duduk di depan rumah untuk menanti kembalinya sang suami yang tak dapat dipastikan kedatangannya. Cerita-cerita tentang sang suami selalu didengarkan kepada sang anak yang tidak pernah bertemu dengan ayahnya tersebut. Ia selalu mengatakan bahwa ayah berjanji akan datang pada saat senja. Hingga suatu saat, sang anak yang beranjak dewasa mulai kehilangan kepercayaan tentang kembalinya sang ayah. Ia sudah tidak yakin bahwa ayahnya masih mengingat ia dan ibu.
Hari berlalu, anak tersebut diterima bekerja di perusahaan yang terletak di kota. Sang anak bermaksud untu mengajak sang ibu untuk tinggal bersamanya. Namun ibu menolak, karena tetap ingin menanti kembalinya sang suami pada senja hari di rumah tersebut walaupun ia akan tetap merasakan senja yang sama diberbagai tempat.
Sang anak pun pulang beberapa kali untuk menjenguk ibunya. Pada saat pulang ke rumah, sang anak menyampaikan keinginannya untuk menikah, sang ibu pun merestuinya dan menyuruh anaknya untuk meminta restu kepada ayahnya. Ibu menyarankannya untuk tinggal beberapa hari di rumah, karena ia yakin sang suami akan kembali. Setelah tinggal beberapa hari di rumah ternyata sang ayah tidak muncul, hal itu membuat anaknya kian kesal dan sang anak memutuskan untuk kembali ke kota karena ayahnya yang tak kunjung datang. Sang ibu pun mengecapnya sebagai anak durhaka. Ibunya juga berjanji akan tetap menanti kehadiran sang suami hingga akhir hayatnya.
Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa analisis pendekatan objektif adalah analisis dengan mengkaji unsur-unsur dalam karya itu sendiri. Berikut adalah hasil analisis dari unsur-unsurnya :
1. Tema
Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama. Tema berhubungan dengan premis dari drama tersebut yang berhubungan pula dengan nada dasar dari sebuah drama dan sudut pandang yang dikemukakan oleh pengarangnya (Waluyo, 2001: 24).
Tema dapat berupa persoalan moral, etika, agama, sosial budaya, teknologi dan masalah- masalah yang terkait dengan kehidupan manusia.
Keluarga yang lengkap dan harmonis adalah dambaan setiap orang. Namun tak semua orang dapat merasakan kebahagiaan tersebut. Ada sebagian dari orang-orang yang ditinggalkan seorang dari keluarganya, baik dengan alasan yang jelas maupun pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Seperti halnya yang terjadi dalam drama berujudul Janji Senja karya Taopan Nalisaputra ini. Dimana, tema yang diangkat dari drama ini adalah kesetiaan tanpa kelogisan berpikir. Istri yang selalu menunggu kepulangan suami yang sudah belasan tahun tak kembali dan tidak pernah mengunjunginyaa sama sekali. Tema ini dibungkus dengan cerita yang menarik untuk disaksikan, yaitu dalam bingkai permasalahan keluarga. Bukti kesetiaan sang istri (tokoh ibu) tampak pada pernyatan tokoh berikut.
Anak : “ Ibu...Jangan kau ceritakan lagi apa pun tentang Ayah. “ Ibu : “ Kenapa ? “
Anak : “ karena Ayah tak pernah datang, dan ku kira ia memang tak akan pernah datang.
Ibu : “Ayahmu berjanji akan datang saat senja. “
Anak : “Sudah tak terhitung lagi jumlah senja yang kita lalui..di sini..tempat ini...sedari dulu waktu aku masih dalam kandungan hingga kini, namun Ayah tak juga datang. “ Ibu : “Ayahmu lelaki yang baik. Ia akan datang, ia pasti datang menepati janjinya. “
Dialog tersebut terdapat pada babak pertama. Pada pernyataan tokoh ibu dapat membutikan kesetiaannya kepada suami yang telah lama meninggalkan dia dan anaknya.
Sang ibu tetap percaya dan yakin bahwa suami (tokoh ayah) akan datang kembali pada saat senja. Setelah itu terdapat bukti pernyataan lainnya sebagai berikut.
Ibu : (Berbicara pada senja) ''Kau berjanji akan datang saat senja. Dan aku yakin kau akan datang. Aku yakin kau tak akan melupakan cinta kita, melupakanku dan buah hati kita. Aku akan tetap menunggumu, sampai senja terakhir hidupku."
Pernyataan tersebut terdapat pada dialog tokoh babak keempat. Pernyataan tersebut sebagai bukti lain yang menunjukan bahwa sang istri (tokoh ibu) dengan setia menunggu kedatangan suaminya yang berjanji akan datang pada saat senja. Walaupun entah saat senja kapan suaminya akan datang. Selama berbelas-belas tahun suaminya tak kunjung datang tetapi sang istri setia menunggu kedatangan suaminya hingga akhir hidupnya.
2. Tokoh dan Penokohan
Penokohan sangat erat hubungannya dengan karakter dan perwatakan.Watak tokoh akan terbaca dengan jelas dalam dialog dan teks samping (Waluyo, 2001: 14). Dalam kebanyakan drama, seorang pemeran menjelaskan wataknya kepada pembaca dengan monolog dan dialognya dengan tokoh-tokoh lainnya (Semi, 1989: 172). Tokoh dalam sebuah drama merupakan para pemeran atau pelaku dalam sebuah cerita dalam drama.
Tokoh dalam drama yaitu:
a. Ibu
Memiliki watak yang setia dan penyabar. Hal itu dapat dibuktikan dengan kutipan tokoh yang terdapat pada babak kedua sebagai berikut.
Ibu : ''Ayahmu terlalu bersih. Ibu tidak mungkin bisa menggantikannya dengan orang lain. (Diam sejenak saling berpandangan) Jangan lagi berpikir untuk mencari orang lain sebagai pengganti Ayahmu. Karena Ibu yakin Ayahmu akan datang pada suatu senja.''
Kutipan tersebut menunjukan kesetiaan seorang istri (tokoh ibu) kepada suaminya. Tokoh ibu yakin suami akan datang saat senja dan menepati janjinya.
Hal itu juga diperkuat dengan pernyataan tokoh ibu yang menyatakan bahwa tidak ada yang bisa menggantikan suaminya dengan orang lain karena kenyakinannya bahwa sang suami akan datang pada suatu senja nanti. Entah saat senja kapan suaminya itu datang, tapi itu juga membuktikan bahwa tokoh ibu memiliki watak sabar.
Memiliki watak keras kepala dan teguh pendirian. Hal itu dapat dibuktikan dengan kutipan tokoh yang terdapat pada babak kedua sebagai berikut.
Anak : ''Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan di kota. Aku berencana akan tinggal disana, dan ku harap Ibu mau ikut bersamaku tinggal di kota. ''
Ibu : '' Ibu masih ingin menunggu Ayahmu di sini, di rumah ini setiap senja. "
Anak : ''Dimanapun itu kita akan tetap menikmati senja yang sama. " (Ibu terdiam sembari tersenyum dan tetap menatap kearah senja)
Anak : ''Ibu bisa menikmati senja bersamaku." (Mencoba membujuk) Ibu : ''Ibu hanya ingin menunggu Ayahmu disini, di rumah ini. ''
Dialog tersebut menunjukan bahwa tokoh ibu memiliki watak yang keras kepala dan teguh pendirian. Walaupun anaknya sudah membujuknya untuk ikut tinggal bersamanya ke kota tapi ia menolak dengan alasan ia masih ingin menunggu suami (tokoh ayah) saat senja dirumahnya.
b. Anak
Memiliki watak pemarah dakeras kepala. Hal itu dapat dibuktikan dengan dialog tokoh yang terdapat pada babak pertama sebagai berikut.
Ibu : (Tenang/datar) “Ayahmu berjanji akan datang saat senja.”
Anak : (Agak meninggikan nada bicara) “Sudah tak terhitung lagi jumlah senja yang kita lalui..di sini..tempat ini...sedari dulu waktu aku masih dalam kandungan hingga kini, namun Ayah tak jua datang.”
Ibu : (Tetap tenang sedikit parau) “Ayahmu lelaki yang baik. Ia akan datang, ia pasti datang menepati janjinya.”
Anak : (Terus mencecar) “kenapa Ayah berjanji akan datang saat senja? Kenapa tidak pagi atau siang saja?”
Ibu : “Karena senja bukan akhir, ia adalah permulaan sebuah hari. ”
Anak : “(Sedikit emosi) Haaaaah....Sudahlah! Aku tak mengerti maksud perkataan Ibu itu. (berlalu masuk ke dalam rumah) ”
Dialog tersebut menunjukan bahwa tokoh anak memiliki watak yang pemarah, keras kepala, dan teguh pendirian. Dari dialog antara tokoh ibu dan anak menunjukan bahwa sang anak memiliki watak pemarah. Hal itu terlihat dari cara bicara sang anak yang menggunakan nada bicara yang tinggi dan pernyataan mencecar, sekalipun sang ibu berbicara dengan tenang/datar kepada anaknya.
Memiliki watak yang tidak tegaan, mudah menangis dan penyayang. Hal itu dapat dibuktikan dengan dialog yang terdapat pada babak kedua sebagai berikut.
Anak : “Ya Tuhan... Apa yang barusan aku katakan. Aku tak seharusnya berkata itu pada ibu. Ibu maafkan aku.” (Sedikit menangis)
Sesaat kemudian ibu keluar dan berdiri depan di depan pintu melihat anaknya
Anak : (Berlari mendekati ibunya lalu memeluknya) “Ibu maafkan aku...!!!
(Sambil menangis dalam pelukan ibu)
Ibu : (Melepas pelukannya dan dengan tangannya memegang dagu mengangkat wajah anaknya) “Ayahmu terlalu bersih. Ibu tidak mungkin bisa menggantikannya dengan orang lain”. (Diam sejenak saling berpandangan)
“Jangan lagi berpikir untuk mencari orang lain sebagai pengganti Ayahmu.
Karena Ibu yakin Ayahmu akan datang pada suatu senja. ”
Sang anak mengangguk perlahan kemudian kembali memeluk ibunya.
Dialog di atas menunjukan bahwa tokoh anak, walaupun memiliki watak pemarah keras kepala, dan sering membantah tapi dia juga memiliki watak yang tidak tegaan dan mudah menangis apalagi terhadap ibunya.
Selain itu sang anak memiliki watak penyayang. Hal itu dapat dibuktikan dari kutipan dialog yang menggabarkan sang anak sebagai sosok anak perempuan yang sukses dan sayang kepada orang tua (ibunya).
Anak : ''Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan di kota. Aku berencana akan tinggal disana, dan ku harap Ibu mau ikut bersamaku tinggal di kota. ''
3. Alur
Waluyo (2001: 8) menyatakan bahwa alur adalah jalinan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik dari dua tokoh yang saling berlawanan.
Konflik tersebut berkembang karena kontradiksi para pelaku. Alur mengatur bagaimana tindakan yang terkandung dalam cerita harus berhubungan satu sama lain misalnya bagaimana suatu peristiwa berhubungan dengan peristiwa lain, bagaimana karakter digambarkan serta memainkan peran dalam cerita yang semuanya terkait dengan satuan waktu.
Alur yang digunakan dalam naskah drama Janji Senja karya Taopan Nalisaputra adalah alur maju. Alur Maju (Progesi) adalah sebuah alur yang memiliki klimaks di akhir cerita dan merupakan jalinan/ rangkaian peristiwa dari masa kini ke masa lalu yang berjalan teratur dan berurutan sesuai dengan urutan waktu kejadian dari awal sampai akhir cerita, disebut juga alur krognitif tahapannya: awal, perumitan, klimaks, antiklimaks, akhir.
Struktur yang membangun alur dalam naskah ini sebagai berikut :
Eksposisi ( Perkenalan Masalah )
Tahap pertama merupakan tahap perkenalan cerita. Perkenalan dari segi latar, waktu, perkenalan tokoh-tokoh, dan lain-lain. Drama “ Janji Senja” dimulai pada babak pertama yang menceritakan di kala senja itu ibu dan anak gadisnya seperti biasa duduk di bangku panjang depan rumahnya. Mereka tengah menatap senja menunggu, menanti seseorang yang telah lama dinanti. Setelah larut dalam diam beberapa saat, sang anak memulai pembicaraan. Hingga terjadi ketegangan antara sang anak dan ibunya ketika anaknya meminta sang ibu untuk tidak menceritakan segala apapun tentang ayahnya lagi. Hal itu dapat dibuktikan seperti kutipan tokoh sebagai berikut .
Anak :“Ibu...Jangan kau ceritakan lagi apa pun tentang ayah.”
Ibu : “Kenapa? ”
Anak : (Sambil memandang ke arah langit senja) “Karena ayah tak pernah datang, dan ku kira ia memang tak akan pernah datang. ”
Komplikasi ( Permulaan Masalah )
Pada tahap ini mulai menampilkan pertentangan atau masalah yang dimulai masih pada babak pertama. Dimana konflik mulai terjadi ketika sang anak mengatakan bahwa ia sudah tidak lagi merindukan ayahnya yang tak kunjung pulang dan sang ibu pun marah mendengarkan hal itu. Adapun hal tersebut dapat dibuktikan melalui kutipan naskah sebagai beirkut.
Ibu : “Tidak rindukah kau pada Ayahmu? ”
Anak : “Rindu…Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. ”
Ketegangan berlanjut ketika sang ibu meminta alasan kepada anaknya yang kemudian dijawab oleh sang anak dengan mengatakan bahwa dia tak lagi menganggap sang ayah yang dianalogikan dengan senja sebagai ayahnya lagi. konflik tersebut mulai berlanjut saat sang anak mengatakan bahwa ia sudah tidak yakin bahwa sang ayah akan masih peduli dan ingat kepada mereka. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kutipan dialog dalam naskah sebagai berikut.
Ibu : (Menatap tajam kepada anaknya) “Kenapa? ”
Anak : (Diam sejenak) “Karena aku tak lagi menganggap Senja sebagai Ayahku, bagiku dia hanyalah lelaki yang menitipkan sperma pada Ibu. ”
Ibu : “Kau tak yakin Ayahmu akan datang? ”
Anak : “Maaf Bu, aku bahkan tak yakin Ayah masih ingat pada kita. ”
Ibu : (Agak parau) “Kau tak akan bicara seperti itu saat kau dapati Ayahmu datang kala senja. ”
ketika sang anak akan pindah ke kota untuk bekerja. Lalu, Ia ngajak sang ibu untuk tinggal bersamanya. Namun sang ibu enggan meninggalkan rumah di desa dan memilih untuk menunggu ayahnya di rumah saja. Mendengar hal itu sang anak marah dengan sedikit emosi mengatakan bahwa untuk apa menunggu seseorang yang tak jelas dan tak pasti kapan ia kan kembali. Anaknya mengatakan bahwa ayahnya tidak bertanggungjawab, sudah tidak peduli dan melupakan mereka. Hingga emosi ibunya tidak terbendung ketika anaknya tersebut menyuruh sang ibu untuk menikah lagi dan melupakah ayahnya itu. Emosi Ibunya pun tak terbendung lagi, ia marah mendengar perkataan anaknya itu.
Klimaks ( Puncak Masalah )
Puncak masalah dimulai pada babak kedua ketika sang anak yang akan pindah ke kota untuk bekerja. Ia Mengajak sang ibu untuk tinggal bersamanya, namun sang ibu enggan meninggalkan rumah di desa. Ia memilih untuk tetap tinggal di rumahnya menunggu ayahnya saat senja, walaupun sang sudah membujuk tapi sang ibu terus menolaknya dengan terus mengatakan alasan yang sama.
Anak : ''Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan di kota. Aku berencana akan tinggal disana, dan ku harap Ibu mau ikut bersamaku tinggal di kota. ''
Ibu : '' Ibu masih ingin menunggu Ayahmu di sini, di rumah ini setiap senja. "
Anak : ''Dimanapun itu kita akan tetap menikmati senja yang sama. " (Ibu terdiam sembari tersenyum dan tetap menatap kearah senja)
Anak : ''Ibu bisa menikmati senja bersamaku." (Mencoba membujuk) Ibu : ''Ibu hanya ingin menunggu Ayahmu disini, di rumah ini. ''
Konflik mulai memasuki puncak ketika sang anak mengatakan bahwa penantian yang ibunya lakukan dengan terus menunggu ayahnya pada saat senja itu tidak akan berbuah apa-apa karena sang anak percaya bahwa ayahnya sudah melupakan mereka. Dan malah menyarankan ibunya untuk menikah lagi dan melupakan ayahnya yang tak bertanggung jawab itu. Adapun hal tersebut dapat dibuktikan dengan kutipan naskah sebagai berikut.
Anak : (Berdiri, kemudian melangkah sedikit maju dengan emosi) “Mengapa Ibu harus menunggunya seperti ini? Menunggu seseorang yang tak jelas dan tak pasti kapan ia kan kembali. Dia sudah lupa dengan kita, dan ku pikir ia memang sudah lupa dengan kita. Coba ibu pikirkan, sedari dulu waktu aku masih dalam kandungan hingga kini aku dewasa, sudah bertahun-tahun lamanya ia tak pernah kembali ke rumah ini. Bahkan aku sendiri tak pernah tau wajahnya (diam sejenak). Ku pikir sebaiknya Ibu menikah lagi dan melupakan lelaki tidak bertanggung jawab itu. ”
Resolusi ( Penyelesaian )
Antiklimaks diceritakan saat kembalinya sang anak ke rumah untuk meminta restu kepada ibu karena ia akan menikah, sang ibu menyuruhnya untuk tinggal sebentar agar dapat meminta restu kepada ayahnya yang mungkin akan datang dalam waktu beberapa hari pada waktu senja. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam dialog tokoh sebagai berikut.
Anak : “Aku berharap ibu memberi restu untukku. ”
Ibu masih terdiam, sang anak pun kembali memalingkan wajahnya ke arah senja sembari memainkan ujung bajunya dan jemarinya. ”
Ibu : “Ibu akan meresetuimu. Tapi.. kau juga harus meminta restu pada senja…
Ayahmu. ” (Sang anak melongo terheran-heran)
Ibu : “Tinggallah dulu disini beberapa waktu. Ayahmu pasti akan datang. Ibu yakin. ”
Coda ( Kesimpulan )
Konklusi diceritakan ketika sang anak yang memutuskan untuk kembali ke kota karena ayahnya yang tak kunjung datang. Setelah beberapa hari sang anak tinggal di rumah, ia memilih untuk pergi kembali ke kota menemui ke kasihnya. Sang ibu pun mengecapnya sebagai anak durhaka. Ibunya juga berjanji akan tetap menanti kehadiran sang suami hingga akhir hayatnya. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan dialog tokoh sebagai berikut.
Anak : “Sudah sepantasnya kan. Ayah macam apa namanya yang tega meninggalkan anak dan istrinya begitu lama. Hingga anaknya akan dipersunting orang pun ia tak ada.”
Ibu : “Ayahmu tak seperti itu. Dia laki-laki yang bertanggung-jawab. ”
Anak : “Ibu sudah mengatakan itu berulang kali..Sejak dulu aku masih kecil. Tapi apa?
Mana buktinya? Omong kosong. ” Ibu : “Kau anak durhaka! ”
Anak : “Biarlah, tak apa aku durhaka pada orang yang telah durhaka pada keluarganya.”
Ibunya kemudian terdiam. Matanya berkaca-kaca, air matanya nampak akan jatuh.
Sang anak berlalu meninggalkan ibunya. Ibu masih diam menatap senja dengan linangan air mata.
Ibu : (Berbicara pada senja) ''Kau berjanji akan datang saat senja. Dan aku yakin kau akan datang. Aku yakin kau tak akan melupakan cinta kita, melupakanku dan buah hati kita. Aku akan tetap menunggumu, sampai senja terakhir hidupku."
4. Latar atau Setting
Latar atau tempat kejadian cerita sering pula disebut sebagai latar cerita/setting. Setting biasanya meliputi 3 dimensi, yaitu tempat, ruang dan waktu Waluyo, 20001: 23). Sejalan dengan pendapat tersebut mneurut Mido (dalam Sehandi, 2016:56) mengemukakan bahwa latar adalah gambaran tentang tempat waktu, dan situasi terjadinya peristiwa.
Semakin jelas dan menarik latar yang digambarkan pengarang, maka kualitas karyanya akan semakin tinggi. Sebaliknya, semakin kabur latar yang digambarkan, maka kualitas karya sastra akan semakin rendah.
a. Latar tempat
Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa drama itu terjadi. Peristiwa dalam drama adalah peristiwa fiktif yang menjadi hasil rekaan penulis drama. Dalam naskah drama Janji Senja karya Taopan Nalisaputra ini terbagi menjadi empat babak di mana antara babak yang satu dan yang lainnya menggunakan latar tempat yang sama yaitu rumah dan tempat duduk (bangku panjang) untuk bersantai. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kutipan naskah narator berikut.
BABAK 1
Kala senja itu ibu dan anak gadisnya seperti biasa duduk di bangku panjang depan rumahnya. Mereka tengah menatap senja menunggu, menanti seseorang yang telah lama dinanti. Setelah larut dalam diam beberapa saat, sang anak memulai pembicaraan.
BABAK 2
Ibu duduk seperti biasa di depan rumah, tetap sembari menatap senja. Dari arah luar anaknya datang dengan pakaian rapi, lalu duduk di samping ibunya.
BABAK 3
Sudah 2 tahun berlalu, sang anak tinggal dan bekerja di kota, ia pulang hanya sesekali menjenguk ibunya. Sore itu seperti biasa, ibu tetap duduk di depan rumah menatap senja. Sang anak datang dari arah luar menghampiri ibunya. Ia lalu duduk berderet menatap senja bersama ibunya. Setelah beberapa saat dalam kebisuan, sang anak memecahkan keheningan.
BABAK 4
Ibu masih duduk di depan rumahnya sore itu, menatap senja. Sang anak keluar dari dalam rumah dengan pakaian yang sudah rapi.
b. Latar Waktu
Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa, adegan, dan babak itu terjadi. Mengarah pada “kapan” terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya sastra misalnya tahun, musim, hari, dan jam. Latar waktu terkadang sudah diberikan atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis drama, tetapi banyak setting waktu ini tidak diberikan oleh penulis drama. Dalam naskah drama Janji Senja karya Taopan Nalisaputra memiliki latar waktu yang sama di setiap babaknya yaitu waktu senja. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui kutipan naskah narator yang telah dijelaskan pada bagian latar tempat. Kemudian terdapat bukti kutipan berupa dialog antara tokoh ibu dan anak sebagai berikut.
Dialog Pada Babak Pertama
Ibu : (Tenang/datar) ''Ayahmu berjanji akan datang saat senja. ''
Anak : (Agak meninggikan nada bicara) ''Sudah tak terhitung lagi jumlah senja yang kita lalui..di sini..tempat ini...sedari dulu waktu aku masih dalam kandungan hingga kini, namun Ayah tak jua datang. ''
Dialog Pada Babak Kedua
Ibu : ''Ibu masih ingin menunggu Ayahmu di sini, di rumah ini setiap senja.''
Anak : ''Dimanapun itu kita akan tetap menikmati senja yang sama. (Ibu terdiam sembari tersenyum dan tetap menatap kea rah senja). ''
c. Latar Suasana
Latar suasana ialah situasi apa saja yang terjadi ketika saat si tokoh atau si pelaku melakukan sesuatu, seperti; saat galau, gembira, lelah dan lain sebagainya. Dalam naskah drama Janji Senja karya Taopan Nalisaputra memiliki latar suasana tegang dan sedih. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui pernyataan tokoh berupa dialog antara tokoh ibu dan anak sebagai berikut.
Dialog Pada Babak Pertama
Ibu : (Tenang/datar) “Ayahmu berjanji akan datang saat senja.”
Anak : (Agak meninggikan nada bicara) “Sudah tak terhitung lagi jumlah senja yang kita lalui..di sini..tempat ini...sedari dulu waktu aku masih dalam kandungan hingga kini, namun Ayah tak jua datang.”
Ibu : (Tetap tenang sedikit parau) “Ayahmu lelaki yang baik. Ia akan datang, ia pasti datang menepati janjinya.”
Anak : (Terus mencecar) “kenapa Ayah berjanji akan datang saat senja? Kenapa tidak pagi atau siang saja?”
Ibu : “Karena senja bukan akhir, ia adalah permulaan sebuah hari. ”
Anak : “(Sedikit emosi) Haaaaah....Sudahlah! Aku tak mengerti maksud perkataan Ibu itu. (berlalu masuk ke dalam rumah) ”
Dialog diatas menggambarkan suasana ketegangan antara ibu dan anak. Hal itu terjadi karena keduanya sama-sama teguh dengan kepercayaan mereka masing-masing. Sang ibu dengan kepercayaan bahwa ia yakin suaminya (tokoh ayah) itu akan datang pada saat senja contohnya terdapat pada kutipan “Ayahmu lelaki yang baik. Ia akan datang, ia pasti datang menepati janjinya.” Sedangkan sang anak yang yakin dengan kepercayaanya bahwa sang ayah tak akan pernah datang “Sudah tak terhitung lagi jumlah senja yang kita lalui..di sini..tempat ini...sedari dulu waktu aku masih dalam kandungan hingga kini, namun Ayah tak jua datang.”
Dialog Pada Babak Pertama
Anak : ''Maaf Bu, aku bahkan tak yakin Ayah masih ingat pada kita. ''
Ibu : (Agak parau) ''Kau tak akan bicara seperti itu saat kau dapati Ayahmu datang kala senja. Mereka berdua saling bertatapan, mata ibu seolah-olah akan menangis. '' Ibu : (Memalingkan muka) ''Tinggalkan Ibu sendiri! '' (Sambil mengusap air matanya) Dengan langkah berat sang anak melangkah masuk ke dalam rumah.
Dialog Pada Babak Kedua
Anak : “Ya Tuhan... Apa yang barusan aku katakan. Aku tak seharusnya berkata itu pada ibu. Ibu maafkan aku.” (Sedikit menangis)
Sesaat kemudian ibu keluar dan berdiri depan di depan pintu melihat anaknya
Anak : (Berlari mendekati ibunya lalu memeluknya) “Ibu maafkan aku...!!! (Sambil menangis dalam pelukan ibu)
Dialog diatas menggambarkan suasana sedih yang dialami oleh ibu dan anak. Sang ibu yang menangis karena mendengar keraguan terhadap ayahnnya yang akan kembali sehingga dia pun sedih meneteskan air mata, seperti pada kutipan ''Tinggalkan Ibu sendiri! '' (Sambil mengusap air matanya). Sedangkan sang anak merasa bersalah karena telah berkata kasar ibunya yang diakhiri dengan menangis di dekapan ibunya, seperti pada kutipan “Ibu maafkan aku...!!! (Sambil menangis dalam pelukan ibu).
5. Dialog
Dialog yaitu percakapan dalam drama. Dalam drama dialog harus memenuhi beberapa tuntutan berikut ini.
Dialog harus menunjang gerak dan laku tokohnya. Gerakan dalam sebuah naskah drama biasanya dituangkan dalam bentuk tanda kurung. Tanda tersebut merupakan bentuk gerakan yang harus dilakukan ketika sebuah naskah dipentaskan. Dengan adanya dialog lebih memperjelas maksud dan tujuan antar tokoh.
Anak : “Ya Tuhan... Apa yang barusan aku katakan. Aku tak seharusnya berkata itu pada ibu. Ibu maafkan aku.” (Sedikit menangis)
Sesaat kemudian ibu keluar dan berdiri depan di depan pintu melihat anaknya
Anak : (Berlari mendekati ibunya lalu memeluknya) “Ibu maafkan aku...!!! (Sambil menangis dalam pelukan ibu)
Ibu : (Melepas pelukannya dan dengan tangannya memegang dagu mengangkat wajah anaknya) “Ayahmu terlalu bersih. Ibu tidak mungkin bisa menggantikannya dengan orang lain”. (Diam sejenak saling berpandangan) “Jangan lagi berpikir untuk mencari orang lain sebagai pengganti Ayahmu. Karena Ibu yakin Ayahmu akan datang pada suatu senja. ”
Sang anak mengangguk perlahan kemudian kembali memeluk ibunya.
Dialog dalam drama biasanya berbeda dan lebih tajam dari percakapan sehari-hari.
Maksudnya berbeda dari percakapan sehari-hari adalah diksi atau pilihan katanya yang berhubungan dengan plot, mengandung estetik, dan tertib sesuai jalan cerita. Bahasa yang digunakan dalam dialog juga komunikatif, serta mewakili karakter tokoh baik secara psikologis maupun fisiologis.
Ibu : (Tetap tenang sedikit parau) “Ayahmu lelaki yang baik. Ia akan datang, ia pasti datang menepati janjinya.”
Anak : (Terus mencecar) “kenapa Ayah berjanji akan datang saat senja? Kenapa tidak pagi atau siang saja?”
Ibu : “Karena senja bukan akhir, ia adalah permulaan sebuah hari. ”
Anak : “(Sedikit emosi) Haaaaah....Sudahlah! Aku tak mengerti maksud perkataan Ibu itu. (berlalu masuk ke dalam rumah) ”
Dalam dialog terdapat monolog yang biasanya disampaikan seperti berpidato.
Monolog sendiri secara sederhana adalah monodrama yang biasanya dilakukan oleh seseorang dengan bercerita mengenai peristiwa atau keadaan yang dialami tokoh.
Monolog dalam naskah drama Janji Senja dapat dilihat melalui contoh berikut ini.
IBU MASIH DUDUK DI DEPAN RUMAHNYA SORE ITU, MENATAP SENJA.
SANG ANAK KELUAR DARI DALAM RUMAH DENGAN PAKAIAN YANG SUDAH RAPI.
Ibu : “Kau mau kemana? ”
Anak : Aku mau pergi. Dia sudah menungguku. ” Ibu : “Kau tak mau menunggu ayahmu? ”
Anak : “Ayah mana yang harus kutunggu? Sudah berhari-hari aku disini, tapi ia tak jua datang. Sudahlah Bu, jika ia memang datang aku tak mau mengenalinya sebagai ayahku. ”
Ibu : “Jaga ucapanmu! Maksudmu apa mengatakan hal demikian? ”
Anak : “Sudah sepantasnya kan. Ayah macam apa namanya yang tega meninggalkan anak dan istrinya begitu lama. Hingga anaknya akan dipersunting orang pun ia tak ada.”
Ibu : “Ayahmu tak seperti itu. Dia laki-laki yang bertanggung-jawab. ”
Anak : “Ibu sudah mengatakan itu berulang kali..Sejak dulu aku masih kecil. Tapi apa?
Mana buktinya? Omong kosong. ” Ibu : “Kau anak durhaka! ”
Anak : “Biarlah, tak apa aku durhaka pada orang yang telah durhaka pada keluarganya.”
IBUNYA KEMUDIAN TERDIAM. MATANYA BERKACA-KACA,
AIRMATANYA NAMPAK AKAN JANTUH. SANG ANAK BERLALU MENINGGALKAN IBUNYA. IBU MASIH DIAM MENATAP SENJA DENGAN LINANGAN AIR MATA.
Kalimat yang di garis bawahi adalah contoh dari monolog yang terdapat dalam dialog naskah drama Janji Senja. Seperti yang kita ketahui setelah membaca kutipan dialog tersebut dapat kita simpulkan bahwa dialog menggambarkan hubungan antara anak dan ibu yang tidak begitu baik.
6. Sudut Pandang
Sudut pandang (titik pandang, pusat pengisahan) merupakan posisi pencerita (narator) dalam sebuah cerita. Ada kalanya pencerita bertindak sebagai orang pertama atau sebagai orang ketiga. Dalam naskah drama Janji Senja karya Taopan Nalisaputra ini, pencerita/penulis memposisikan dirinya sebagai orang ketiga, karena pencerita tidak terlibat langsung dalam cerita. Hal itu dapat dibuktikan dari adanya monolog-monolog dari babak pertama sampai babak keempat.
7. Amanat
Amanat berkaitan dengan pesan yang hendak disampaikan oleh seorang penulis kepada pembaca untuk bisa memaknai dari keseluruhan isi drama. Amanat berisi pesan moral dan nilai kehidupan yang dapat dijadikan renungan berpikir dan implementasi bertindak pembaca yang nantinya sesuai dengan kaidah norma yang berlaku. Amanat yang coba ditampilkan dalam drama berjudul " Janji Senja " yaitu setia itu memang perlu tapi kesetiaan juga harus logis dan fokuslah pada apa yang ada dan jangan menunggu ketidakpastian yang belum tentu terjadi. Hal itu dapat dibuktikan dengan adanya kutipan sebagai berikut.
Ibu : Kau mau kemana?
Anak : Aku mau pergi. Dia sudah menungguku.
Ibu : Kau tak mau menunggu ayahmu?
Ibu : “Sudah sepantasnya kan. Ayah macam apa namanya yang tega meninggalkan anak dan istrinya begitu lama. Hingga anaknya akan dipersunting orang pun ia tak ada.”
Ibu : “Ayahmu tak seperti itu. Dia laki-laki yang bertanggung-jawab. ”
Anak : “Ibu sudah mengatakan itu berulang kali..sejak dulu aku masih kecil. Tapi apa?
Mana buktinya? Omong kosong. ” Ibu : “Kau anak durhaka! ”
Anak : “Biarlah, tak apa aku durhaka pada orang yang telah durhaka pada keluarganya.”
Ibunya kemudian terdiam. Matanya berkaca-kaca, air matanya nampak akan jatuh. Sang anak berlalu meninggalkan ibunya. Ibu masih diam menatap senja dengan linangan air mata.
Ibu : (Berbicara pada senja) ''Kau berjanji akan datang saat senja. Dan aku yakin kau akan datang. Aku yakin kau tak akan melupakan cinta kita, melupakanku dan buah hati kita.
Aku akan tetap menunggumu, sampai senja terakhir hidupku."
Dari dialog tokoh di atas menunjukan sang anak yang akan kembali ke kota setelah beberapa hari tinggal di rumah , namun sang ibu menyuruh untuk tetap tinggal menunggu kedatangan sang ayah pada saat senja. Ia masih percaya bahwa sang suami (tokoh ayah) pasti akan kembali pulang ke rumah pada saat senja. Berlainan dengan sang ibu sang anak yang sudah tidak percaya akan kedatangan ayahnya kembali ke rumah memutuskan untuk kembali ke kota karena ayahnya yang tak kunjung datang. Sang ibu pun mengecapnya sebagai anak durhaka. Ibunya juga berjanji akan tetap menanti kehadiran sang suami hingga akhir hayatnya.
SIMPULAN
Naskah drama berjudul Janji Senja karya karya Taofan Nalisaputra setelah dianalisis secara objektif memberikan sejumlah hasil analisis struktur unsur instrinsik dan aspek-aspek sastra tersebut. Diantaranya dari segi : 1) tema, 2) tokoh dan penokohan, 3) alur, 4) latar atau setting, 5) dialog, 6) sudut pandang, 7) amanat. Tema dalam naskah tersebut mengenai kesetiaan tanpa kelogisan berpikir. Naskah drama ini terbagi menjadi 4 babak di mana antara babak yang satu menggunakan setting tempat yang sama yaitu rumah dan tempat duduk (bangku panjang depan rumah). Dan yang bermain disetiap babaknya adalah sama, yaitu anak dan ibu. Latar waktu saat terjadinya peristiwa di setiap babak sama yaitu senja. Hal ini dibuktikan dengan adegan pemain yang selalu duduk di depan rumah dikala senja. Latar susasana pada naskah drama tersebut adalah tegang dan sedih. Alur yang digunakan yaitu alur maju dan sudut pandang drama menggunakan sudut pandang orang ketiga. Terakhir amanat yang coba ditampilkan dalam drama berjudul " Janji Senja " yaitu setia itu memang perlu tapi kesetiaan juga harus logis dan fokuslah pada apa yang ada dan jangan menunggu ketidakpastian yang belum tentu terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Adiel. (2009, November 16). Teori Obejktif. Diambil kembali dari adiel87.blogspot.com:
http://adiel87.blogspot.com/2009/11/teori-objektif.html
Eryanti, Wulan Nur, dkk. (2015). Analisis Struktur dan Nilai Moral dalam Kumpulan
Naskah Drama “Kalangkang Urang” Karya Arthur S. Nalan. Dangiang Sunda, 3 (2), http://antologi.upi.edu/file/jurnal_indonesia_uul.pdf
Sadikin, Mustofa. (2010). Kumpulan Sastra Indonesia. Jakarta: PT. Buku Kita
Spreadingvibes. (2017, Desember 2). Apresiasi Pementasan Teater Naskah “Janji Senja”
Karya Taofan Nalisaputra. Diambil kembali dari spreadingvibessite.wordpress.com:
https://spreadingvibessite.wordpress.com/2017/12/02/apresiasi-pementasan-teater- naskah-janji-senja-karya-taofan-nalisaputra/