ANALISIS PENGARUH BELANJA DAERAH, SISA LEBIH PERHITUNGAN ANGGARAN (SiLPA) DAN INVESTASI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI
DAERAH
(Studi Kasus Pada 38 Kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa Timur Tahun 2010-2014)
JURNAL ILMIAH
Disusun Oleh:
SEPTIAN KURNIA PUTRA 135020101111046
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Meraih Derajat Sarjana Ekonomi
JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2017
ANALISIS PENGARUH BELANJA DAERAH, SISA LEBIH PERHITUNGAN ANGGARAN (SiLPA) DAN INVESTASI TERHADAP
PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH
(Studi Kasus Pada 38 Kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa Timur Tahun 2010-2014)
Septian Kurnia Putra, Dr. Susilo, SE., MS.
Email : [email protected]
ABST RACT
Economic growth is a measure that is used to view the results of the performance of local government decentralization. Economic growth on this study is proxied by regional economic growth that means with the highest economic development can make the regional economic growth highest. Factors that have an influence on economic growth is the government expenditure, budget deficit, and investment that managed by the local government. This study aims to examine the government expenditure, budget deficit, and investment that effect the regional economic growth by using multiple linier regression and panel data. The result of the study for this model shows that government expenditure and investment are significantlly affecting the regional economic growth, while budget deficit is not affecting the regional economic growth. This study is expecting to give the important information for the local government, especially the cities/districts as a case study on this research.
Keywords: Government Expenditure, Budget Defisit, Regional Economic Growth
ABSTRAK
Pertumbuhan ekonomi merupakan ukuran yang digunakan untuk melihat hasil dari kinerja pemerintah daerah dengan adanya desentralisasi. Pertumbuhan ekonomi dalam penelitian ini diproksikan oleh PDRB yang dimana dengan peningkatan pembangunan ekonomi daerah akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Faktor yang mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi adalah belanja daerah, Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA), dan investasi yang dikelola oleh pemerintah daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh belanja daerah, SiLPA, dan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan menggunakan metode regresi linier berganda dengan menggunakan data panel. Maka hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa belanja daerah dan invetasi berpengaruh secara signifikan dan memiliki hubungan searah terhadap pertumbuhan ekonomi. Sedangkan SiLPA tidak berpengaruh secara signifikan dan memiliki hubungan yang tidak searah terhadap pertumbuhan ekonomi.
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi penting bagi pemerintah daerah, khususnya kabupaten/kota Provinsi Jawa Timur yang menjadi studi kasus dalam penelitian kali ini.
Kata Kunci: Belanja Daerah, SiLPA, Investasi, dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah.
A. PENDAHULUAN
Pembangunan Ekonomi merupakan sebuah rangkaian usaha dan kebijaksanaan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, mengembangkan lapangan pekerjaan, meratakan pendapatan masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional, dan merubah struktur kegiatan ekonomi yang awalnya dari sektor primer diubah ke sektor sekunder dan tersier (Tri Widodo,2006). Pembangunan ekonomi sendiri sangat diperlukan suatu negara dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat di suatu negara, dengan mengembangkan semua bidang kegiatan yang dimiliki negar tersebut. Dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, diperlukanlah pertumbuhan ekonomi yang berkembang dan distribusi pendapatan yang merata.
Untuk memberikan pemerataan pertumbuhan ekonomi kepada daerah tertinggal sendiri, pemerintah daerah tidak perlu melakukan intervensi khusus untuk memindahkan kegiatan ekonomi ke daerah-daerah tertinggal. Hanya dengan menerapkan program pembangunan yang bersifat umum dan netral secara parsial, seperti dengan meningkatkan akses pendidikan dan kesehatan untuk memungkinkan penduduk daerah tertinggal dapat memaksimalkan manfaatnya dan bergerak ke peluang yang lebih baik yang diiringi dengan pembangunan inftrastruktur yang menghubungkan secara parsial untuk meningkatkan arus barang, orang, dan informasi ke pusat- pusat ekonomi daerah.
Agar dapat mendorong terciptanya sebuah pertumbuhan ekonomi daerah yang kondusif salah satu kompenen yang diandalkan adalah dengan belanja daerah. Belanja Daerah sebagaimana dimaksudkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa belanja daerah digunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang bersangkutan terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan urusan penanganannya dalam bidang tertentu yang dapat dilaksanakan secara bersama-sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah yang telah ditetapkan berdasarkan aturan perundang-undangan.
Selanjutnya, sumber pendanaan lainnya untuk alokasi belanja penyediaan berbagai fasilitas publik adalah penerimaan daerah yang bersumber dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya. Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No.13 Tahun 2006 tentang pengelolaan keuangan daerah, dimana SiLPA adalah sisa dana yang diperoleh dari aktualisasi penerimaan serta pengeluaran anggaran daerah selama satu periode sebelumnya. Dalam upaya mendukung pembangunan ekonomi daerah, pemerintah daerah perlu membuat kebijakan yang mendukung penanaman modal yang saling menguntungkan baik bagi pemerintah daerah, pihak swasta maupun masyarakat daerah, khususnya daerah Provinsi Jawa Timur.
Dalam pemaparan secara terperinci diatas, tujuan penulis dalam penelitian ini adalah untuk meneliti dan mengkaji kembali dari penelitian terdahulu yang menjadi pedoman utama peneliti membuat tulisan ini. Maka penulis mengangkat Judul “Analisis Pengaruh Belanja Daerah, Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA), dan Investasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah (Studi Kasus Pada 38 Kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa Timur Tahun 2010-2014)”.
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat diambil suatu rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pengaruh dari belanja daerah, Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA), dan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur. Tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh dari belanja daerah, Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA), dan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur.
B. KAJIAN PUSTAKA APBD
Sesuai Undang-undang No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menjelaskan bahwa yang di maksud dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah sebuah rencana keuangan tahunan yang dimiliki pemerintah daerah yang mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang sudah ditetapkan dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) mempunyai fungsi otoritas, perencanaan, pengawasan, distribusi, alokasi, dan stabilisasi. Dimana dalam APBD disusun oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan fungsi pemerintahan agar dapat mencapai tujuan bernegara yang telah direncakan. APBD sendiri terdiri atas anggaran pendapatan, anggaran belanja, dan pembiayaan.
Belanja Daerah
Halim (2007:322) berpendapat bahwa belanja daerah adalah sebuah kewajiban pemerintah untuk mengurangi nilai kekayaan bersih. Sedangkan menurut Yuwono, dkk (2005:108) memberikan pernyataan bahwa belanja daerah adalah semua pengeluran kas daerah atau kewajiban yang dapat diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode satu tahun
anggaran yang tidak akan diperoleh kembali pembayarannya oleh pemerintah. Belanja daerah juga dikelompokkan ke dalam belanja langsung dan belanja tidak langsung.
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA)
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) adalah sisa anggaran yang tidak dipakai di tahun anggaran yang berkenaan, namun dapat diguakan di tahun berikutnya. SiLPA tahun berkenaan merupakan suatu indikator yang cukup krusial dalam realisasi APBD. Menurut Mahmudi (dalam Usman,2012), sisa anggaran yang berasal dari SiLPA akan digunakan pemerintah daerah sebagai sumber pembiayaan daerah yaitu sebagai: (1). Menutupi defisit anggaran, (2).
Membayar pokok dan cicilan hutang, (3). Pembentukan dana cadangan, (4). Penyertaan modal, dan (5). Pemberian pinjaman. Dalam mengelola SiLPA pemerintah daerah tidak serta merta menggunakan semua instrumen tersebut bahkan hanya dibiarkan saja menjadi sisa kas di rekening Kas daerah.
Investasi
Menurut (Sukirno, 2010) investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran atau perbelanjaan penanaman-penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang dan jasa yang tersedia dalam sebuah perekonomian, sehingga investasi dapat disebut dengan penanaman modal. Investasi sendiri disini terdiri dari investasi fisik dan invenstasi finansial.
Pada konteks PDB/PDRB, aktivitas investasi tercermin pada komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan Perubahan Inventori. PMTB sendiri didefinisikan sebagai penambahan dan pengurangan aset tetap pada suatu unit produksinya, dalam kurun waktu tertentu.
Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi hanya mencatat peningkatan produksi barang dan jasa secara nasional, sedang pembangunan berdimensi lebih luas. Salah satu sasaran pembangunan ekonomi daerah adalah meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan pertumbuhan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut harga konstan. Berikut merupakan rumus untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi (sukirno, 2007):
Keterangan:
PDRB1 − PDRB0
G = PDRB0 x 100%
G = Laju Pertumbuhan Ekonomi
PDRB1 = PDRB ADHK pada suatu tahun PDRB0 = PDRB ADHK pada tahun sebelumnya
Menurut Mankiw (2007), model pertumbuhan Solow dirancang untuk menunjukkan bagaimana pertumbuhan persediaan modal, pertumbuhan tenaga kerja, dan kemajuan teknologi berinteraksi dalam perekonomian, serta bagaimana pengaruhnya terhadap output dan jasa disuatu negara secara keseluruhan. Dalam pendapat Keynesian, defisit anggaran akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan, dan konsumsi pada waktu berikutnya. Defisit anggaran yang dibiayai utang, yang berarti beban pajak pada masa sekarang relatif lebih rendah, akan menyebabkan pendapatan peningkatan yang siap dibelanjakan. Dengan meningkatnya pendapatan yang siap dibelanjakan akan meningkatkan konsumsi dan sisi permintaan secara menyeluruh.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi 1. Keterkaitan Belanja Daerah dengan Pertumbuhan Ekonomi
Dari hasil penelitian Wahyuni (2014), yang penelitiannya membahas antara hubungan antara pengeluaran pemerintah dengan pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Bali, menunjukkan bahwa pengeluaran pemerintah memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap pertumbuhan ekonomi dengan menunjukkan adanya hubungan yang searah antara pengeluaran pemerintah dengan pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Bali, sehingga kenaikan pengeluaran pengeluaran pemerintah akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
2. Keterkaitan SiLPA dengan Pertumbuhan Ekonomi
Jika dikaitkan dengan teori Sollow, dimana ketika adanya penambahan modal (melalui tabungan dan investasi) yang digunakan untuk pertumbuhan angkatan kerja dan kemajuan teknologi akan memberikan dampak pertumbuhan ekonomi, yang dimana SiLPA akan di diamkan atau disimpan dalam rekening kas daerah untuk ditabungkan sementara waktu.
Dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi karena semakin besar nilai SiLPA yang di miliki pemerintah daerah.
3. Keterkaitan Investasi dengan Pertumbuhan Ekonomi
Jika dikaitkan dengan teori Sollow, dimana ketika adanya penambahan modal (melalui tabungan dan investasi) yang digunakan untuk pertumbuhan angkatan kerja dan kemajuan teknologi akan memberikan dampak pertumbuhan ekonomi. Yang dimana investasi tersebut akan dinikmati secara menyeluruh oleh masyarakat di seluruh daerah.
Model Penelitian
Sumber: Ilustrasi Penulis, 2017
C. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Menurut Wirartha (2006), penelitian kuantitatif menekankan analisis pada data-data numerikal (angka) yang diolah dengan metode-metode statistika.
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersifat kuantitatif. Data sekunder merupakan data yang telah dikumpulkan oleh lembaga pengumpul data dan dipublikasikan kepada masyarakat. Data sekunder kuantitatif pada penelitian ini berupa data perekonomian antara lain belanja daerah, SiLPA, investas, dan pertumbuhan ekonomi dengan periode penelitian selama lima (5) tahun yaitu tahun 2010 sampai tahun 2014. Data bersifat time series dan cross section atau disebut dengan data panel dan diperoleh dari berbagai macam sumber. Dimana data bersumber dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur, Bank Indonesia, Dirjen Perimbangan Keuangan Daerah Provinsi Jawa Timur, Bappeda Provinsi Jawa Timur.
Populasi dan Sampel
Sesuai dengan permasalahan dan tujuan dari penelitian yang telah disinggung sebelumnya, maka populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah pemerintah daerah kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Jawa Timur. Sedangkan untuk sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah 38 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jawa Timur.
Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 1. Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Alokasi Pertumbuhan Ekonomi, yaitu pertumbuhan ekonomi daerah yang dipresentasikan dengan proksi berupa laju pertumbuhan PDRB atas harga konstan 2000. Pertumbuhan PDRB menunjukkan produksi barang dan jasa di suatu wilayah perekonomian dalam selang waktu tertentu dengan satuan Miliar Rupiah (Rp).
2. Variabel Independen
Variabel bebas adalah suatu variabel yang variasinya dapat mempengaruhi variabel yang lain. Selain itu juga dapat dikatakan bahwa variabel bebas merupakan variabel yang pengaruhnya terhadap variabel lainnya ingin diketahui. Dalam penelitian in i yang menjadi variabel bebasnya adalah sebagai berikut: Belanja Daerah (X1), yaitu jumlah Realisasi Belanja Daerah (BD) yang digunakan Provinsi Jawa Timur selama periode penelitian (Rp Miliar), Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (X2), yaitu jumlah Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) yang ada pada APBD dalam Provinsi Jawa Timur selama periode penelitian (Rp Juta). Investasi (X3), yaitu jumlah Realisasi Investasi (INV) yang masuk ke dalam Provinsi Jawa Timur selama perionde penelitian (Rp Triliun).
Metode Pengumpulan Data
1. Pengumpulan Data Sekunder
Dalam penelitian ini, data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh melalui internet. Untuk belanja daerah, SiLPA, dan Investasi diperoleh dari situs resmi Bank Indonesia (bi.go.id), BPS, dan DJPK. Sementara untuk pertumbuhan ekonomi yang dilihat dari PDRB diperoleh dari situs resmi Badan Pusat Statistik (bps.go.id) periode tahun 2010-2014. Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data panel yang dimana gabungan dari data time series dengan data cross section di kabupaten/kota Provinsi Jawa Timur tahun 2010-2014.
2. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Bertujuan untuk memperoleh landasan teoritis yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Dilakukan dengan membaca, menelaah, dan meneliti, buku, jurnal, dan literatur-literatur lainnya yang berhubungan dengan topik penelitian.
Metode Analisis Data
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan alat analisis regresi linier berganda dengan estimasi model melalui Pooled Least Square (PLS) dengan menggunakan software E-views 8.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Variabel Penelitian
Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui baik atau buruknya suatu perekonomian. Apabila pertumbuhan ekonomi meningkat, maka semakin baik perekonomian di suatu daerah dan secara otomatis akan mempengaruhi pemerataan pembangunan pelayanan publik di daerah.
Belanja daerah adalah semua pengeluaran yang digunakan untuk membiayai semua kebutuhan pemerintah yang dilakukan oleh pemerintah daerah pada satu periode anggaran. Struktur belanja menurut Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang
pengelolaan keuangan daerah, belanja daerah dikelompokkan menjadi belanja langsung dan belanja tidak langsung.
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) menurut Mahmudi (dalam Usman 2012) sisa anggaran yag akan digunakan pemerintah daerah sebagai sumber pembiayaan daerah sebagai penutup defisit anggaran, membayar pokok dan cicilan hutang, pembentukan dana cadangan, penyertaan modal, dan pemberian pinjaman. Dalam kinerja pengelolaan APBD secara keseluruhan.
Investasi yang berasal dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang definisinya sebagai penambahan dan pengurangan aset tetap pada suatu unit produksinya dalam kurun waktu tertentu yang mencakup pengadaan, pembuatan, pembelian, sewa beli barang modal baru yang berasal dari dalam ataupun dari luar negeri, dan pembentukan aset sumber daya hayati yang dibudidayakan yang nantinya semua investasi tersebut akan memberikan manfaat yang positif bagi masyarakat daerah Provinsi Jawa Timur.
Hasil Estimasi Model Regresi
Berikut adalah hasil penelitian dengan membentuk model regresi linier berganda adalah sebagai berikut:
LogPertumbuhan Ekonomi = -7.598634 + 0.232950 LogBD + (- 5.84E-08) SiLPA + 0.429269 LogINV +e
Nilai dari konstanta berdasarkan hasil regresi adalah sebesar -7.598634. Artinya yakni ketika variabel belanja daerah (X1), SiLPA (X2), dan investasi (X3) konstan atau tidak ada perubahan, maka besarnya pertumbuhan ekonomi sebesar -7.598634%.
Nilai dari koefisien variabel belanja daerah berdasarkan hasil regresi besarnya yakni 0.232950 dengan nilai signifikansi 0.0000. nilai dari koefisien ini menunjukkan bahwa belanja daerah memiliki hubungan yang searah atau positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Artinya, apabila belanja daerah mengalami peningkatan sebesar 1% maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.232950%.
Nilai dari koefisien variabel SiLPA berdasarkan hasil regresi besarnya yakni - 5.84E-08 dengan nilai signifikansi 0.1566. Artinya, SiLPA tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dan apabila SiLPA mengalami peningkatan 1% maka akan menurunkan pertumbuhan ekonomi sebesar -5.84E-08%.
Nilai dari koefisien variabel investasi berdasarkan hasil regresi besarnya yakni 0.429269 dengan nilai signifikansi 0.0000. Nilai dari koefisien ini menunjukkan bahwa investasi memiliki hubungan yang searah atau positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Artinya, apabila investasi mengalami peningkatan sebesar 1% maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.429269%.
Berdasarkan hasil regresi diatas maka dapat dilihat bahwa nilai dari Adjusted R- squared sebesar 0,99 yang artinya variabel independen yang terdiri dari belanja daerah, SiLPA, dan investasi memiliki pengaruh sebesar 99% terhadap variabel dependen yaitu pertumbuhan ekonomi, sedangkan sisanya sebesar 1% dipengarui oleh variabel lain yang tidak termasuk ke dalam model. Dalam penelitian ini diperoleh hasil, yakni belanja daerah, dan investasi signifikan mempengaruhi variabel dependen yaitu pertumbuhan ekonomi.
Sedangkan SiLPA tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap variabel pertumbuhan ekonomi.
Dari hasil uji F yang sudah dilakukan dapat diketahui bahwa nilai dari probability F-statistic sebesar 0,000000 < α = 0,05, maka dapat dikatakan H1 diterima yang artinya variabel independen dalam variabel penelitian ini yang terdiri dari belanja daerah, SiLPA, dan investasi kabupaten/kota secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen yaitu pertumbuhan ekonomi pada penelitian kali ini.
Hasil Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas
Uji normalitas data dilakukan untuk melihat apakah suatu data terdistribusi secara normal atau tidak. Cara untuk mendeteksi pelanggaran asumsi klasik normalitas dengan
melakukan Jarque-bera test. Nilai probabilitas Jarque-Bera adalah sebesar 0.000000, maka data penelitian ini terdistribusi secara tidak normal.
2. Uji Autokorelasi
Pada uji autokorelasi ini memiliki tujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara variabel independen itu sendiri. Dalam penelitian kali ini pendeteksian gejala autokorelasi menggunakan uji Durbin-Waston (DW test). Dari hasil regresi yang telah dilakukan dalam penelitian ini dapat dilihat nilai dari DW sebesar 1.004959 > dU = 1.033711, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi.
3. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinearitas memiliki tujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya kesamaan di antara variabel independen satu dengan variabel independen lainnya yang ada pada satu model.
Hasi uji menunjukkan variabel investasi menunjukkan angka lebih dari 0.8 yang artinya teridentifikasi multikolinearitas. Dan variabel bebas belanja daerah dan SiLPA tidak terdapat multikolinearitas. Data dikatakan teridentifikasi multioklinearitas apabila koefisien korelasi antar variabel independen lebih dari 1 atau sama dengan 0,8 (Gujarati,2013).
4. Uji Heteroskedastisitas
Pada uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan dengan pengamatan yang lainnyUji Glajser yang digunakan untuk meregres nilai absolut residual terhadap variabel independen (Gujarati, 2010).
Berdasarkan variabel independen SiLPA di atas dengan nilai > 0,05 maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas pada model FE. Sedangkan variabel belanja daerah dan investasi terjadi heteroskedastisitas.
Pembahasan
1. Keterkaitan Belanja Daerah dengan Pertumbuhan Ekonomi
Dari hasil estimasi yang telah dilakukan, belanja daerah memiliki probabilitas 0,0000 yang mana lebih kecil dari α sebesar 5%. Hal ini mengindikasikan bahwa belanja daerah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari nilai koefisien menunjukkan angka 0,232950 yang menunjukkan bahwa pengaruh dari belanja daerah terhadap pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan yang searah. Dimana dengan kenaikan 1% pada belanja daerah, maka akan meningkatan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,232950%. Sehingga ketika belanja daerah meningkat maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah kabupaten/kota Provinsi Jawa Timur.
Dengan adanya kebijakan desentralisasi fiskal yang memberikan kewenangan pemerintah daerah untuk mengelola anggaran sesuai dengan kebijakan daerahnya sendiri memberikan dampak yang positif dari sisi belanja daerah yang dimana belanja daerah tersebut bisa dilaksanakan di kabupaten/kota Provinsi Jawa Timur.
2. Keterkaitan SiLPA dengan Pertumbuhan Ekonomi
Setelah melakukan estimasi variabel SiLPA terhadap pertumbuhan ekonomi, maka hasil analisis dari estimasi yang menunjukkan probabilitas sebesar 0,1566 yang dimana lebih besar dari α sebesar 5%. Yang artinya SiLPA memiliki pengaruh secara tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari nilai koefisien yang menunjukkan angka - 5.84E-08 yang menunjukkan bahwa pengaruh dari SiLPA terhadap pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan yang tidak searah. Dimana dengan kenaikan 1% pada SiLPA, maka akan menurunkan pertumbuhan ekonomi sebesar -5.84E-08%. Sehingga ketika SiLPA meningkat maka akan menurunkan pertumbuhan ekonomi di daerah kabupaten/kota Provinsi Jawa Timur. SiLPA yang merupakan sumber penerimaan internal pemerintah daerah yang dapat digunakan untuk mendanai kegiatan-kegiatan tahun berjalan. Hampir seluruh daerah di Provinsi Jawa Timur memiliki SiLPA.
Dengan demikian, dimasa yang akan datang diharapkan SiLPA harus semakin menurun, karena dengan semakin menurunnya nilai SiLPA merupakan salah satu indikasi semakin baik antara perencanaan dengan penganggaran. Selain itu semakin besar dana yang dikeluarkan untuk pembangunan maka akan mempunyai multiplier effect yang besar bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.
3. Keterkaitan Performa Ekonomi terhadap Financial Deepening
investasi yang berasal dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) merupakan salah satu variabel penting dalam pembangunan ekonomi karena dengan adanya peningkatan investasi ini memiliki pengaruh secara langsung mengurangi berbagai masalah dalam suatu perekonomian. Setelah melakukan estimasi variabel investasi terhadap pertumbuhan ekonomi, maka hasil analisis dari estimasi yang menunjukkan probabilitas sebesar 0,0000 yang dimana lebih kecil dari α sebesar 5%. Yang artinya investasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dengan nilai koefisien yang menunjukkan angka 0,389364 yang artinya bahwa pengaruh investasi terhadap pertumbuhan ekonomi adalah memiliki hubungan yang searah.
Dengan kenaikan 1% pada investasi maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,389364%. Sehingga ketika investasi meningkat maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kabupaten/kota Provinsi Jawa Timur. Karena investasi dapat merangsang produksi tiap sektor pada daerah tersebut sehingga dengan peningkatan aktivitas produksi dan pengeluaran nilai tambah serta aliran dari pembayaran pada daerah maka dapat menyebakan laju pertumbuhan ekonomi meningkat.
E. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan hasil pengujian dan pembahasan yang disajikan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Variabel Belanja daerah yang berpengaruh secara signifikan dan searah dengan pertumbuhan ekonomi, akan menciptakan pertumbuhan ekonomi. Yang dimana belanja daerah akan menopang daya beli pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pelayanan publik yang dibutuhkan masyarakat. Hal tersebut bisa berjalan dengan baik jika ada kerjasama antar satuan kerja untuk mengalokasikan belanja sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing agar memberikan dampak yang langsung terhadap masyarakat dan merangsang pertumbuhan ekonomi.
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tidak berpengaruh secara signifikan dan memiliki hubungan yang tidak searah dengan pertumbuhan ekonomi yang dimana Semakin tinggi nilai SiLPA yang menganggur (idle) dalam rekening kas daerah maka akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah kabupaten/kota Provinisi Jawa Timur. Hampir di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur selama periode tahun 2010 hingga tahun 2014 nilai SiLPA terus mengalami peningkatan. Yang artinya masih banyak daerah yang belum mampu mengoptimalkan realisasi belanja pemerintahnya. Yang secara otomatis berdampak terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi daerah Provinsi Jawa Timur.
Dari variabel investasi yang berpengaruh secara signifikan dan searah dengan pertumbuhan ekonomi yang dimana investasi dapat merangsang produksi tiap sektor pada daerah yang berdampak pada peningkatan aktivitas produksi dan pengeluaran nilai tambah serta aliran dari pembayaran pada daerah yang dimana akan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi daerah Provinsi Jawa Timur. Dengan rata-rata peningkatan setiap tahunnya, realisasi investasi diharapkan mampu memberikan manfaat yang nyata dan merata terhadap pertumbuhan ekonomi di seluruh kabupaten/kota Provinsi Jawa Timur.
Dari hasil uji analisis pengaruh belanja daerah, SiLPA, dan investasi ini maka dapat disimpulkan dengan nilai koefisien tertinggi adalah variabel Investasi yang artinya investasi memiliki pengaruh yang lebih tinggi dibandingkan belanja daerah dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Selain itu dengan lebih rendahnya pengaruh belanja daerah yang dibandingkan dengan investasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di karenakan masih banyaknya dana realisasi belanja di berbagai daerah kabupaten dan kota
yang masih belum terserap secara merata yang akibatnya menumpuklah dana tersebut menjadi SiLPA yang hasilnya akan memperlambat pertumbuhan ekonomi daerah.
Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan, maka saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Pemerintah
Penggalian potensi penyerapan belanja daerah perlu ditingkatkan dan dimaksimalkan guna memberikan pemerataan pembangunan pelayanan publik di daerah kabupaten/kota Provinisi Jawa Timur.
Pemerintah daerah sebaiknya dapat menekan jumlah SiLPA yang di diamkan pada kas daerah sebagai dana menganggur (idle) agar SiLPA tersebut memberikan manfaat terhadap realisasi pembanguan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat.
Realisasi investasi yang diperoleh tiap-tiap daerah yang memiliki selisih yang sangat jauh sebaiknya diperbaiki guna memberikan pemerataan pembangunan daerah agar tidak terjadi ketimpangan dalam pertumbuhan ekonomi dengan cara pembangunan infrastruktur, pelayanan kesehata, pendidikan, dan membangun industri atau pariwisata.
Selain itu pemerintah dapat melihat dari hasil penelitian ini sebagai informasi dimana sektor manakah yang akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Khususnya di daerah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Variabel-variabel yang ada pada belanja daerah sangatlah beragam, tidak hanya belanja langsung dan tidak langsung saja. Sehingga peneliti selanjutnya dapat mencari variabel pengukuran kinerja yang lain. Seperti halnya dengan investasi yang tidak hanya pada Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), masih banyak investasi di sektor lainnya.
Peneliti selanjutnya dapat mengembangkan lebih luas lagi kegunaan serta dampak SiLPA pada tahun anggaran berikutnya secara langsung terhadap pertumbuhan ekonomi.
Penelitian ini hanya terbatas pada daerah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur, sehingga untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat memperluas bahkan membandingan dari belanja daerah, SiLPA, dan Investasi terhadap pertumbuhan ekonomi dengan daerah lain.
F. DAFTAR PUSTAKA
Afandi. 2014. Analisis Pengaruh Investasi, Tenaga Kerja, dan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Timur (2001-2010). Jurnal Ilmiah.
Universitas Brawijaya Malang.
Agus, Widarjono. 2013. Ekonometrika: Pengantar dan Aplikasinya Disertai Panduan Eviews.
Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
Bank Indonesia Pusat. 2016. Kajian Ekonomi Regional Jawa Timur Tahun 2010-2014.
http://bi.go.id.
Badan Pusat Statistik Jawa Timur. 2015. Produk Domestik Regional Bruto Menurut Pengeluaran Provinsi Jawa Timur 2010-2014. Surabaya. Katalog BPS: 9302004.35.
Badan Pusat Statistik Jawa Timur. 2016. Statistik Keuangan Pemerintah Daerah Jawa Timur Tahun 2010-2014. http://jatim.bps.go.id.
Bernheim, B.D. 1989. A Neoclasiccal Perspective on Budget Defiits. Journal of Economic Perspective, 3(2), 55-72.
Deviani. 2016. Analisis Belanja Daerah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Pendidikan (Studi Empiris Kota dan Kabupaten di Sumatera Barat). Universitas Negeri Padang.
Publikasi Jurnal, Vol 8, No.1, Maret 2016: 1-13.
Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan. 2015. Modul Pelatihan Pengelolaan Keuangan Daerah Tingkat Eksekutif 2015. Kementrian Keuangan Republik Indonesia. Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan. Jakarta.
Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan. 2016. Laporan Evaluasi Realisasi APBD Provinsi di Indonesia. http://www.djpk.kemenkeu.go.id/ .
Gujarati, Damodar. 2006. Ekonometrika Dasar. Jakarta. Penerbit: Erlangga.
Gujarati Damodar dan Dawn C. Porter. 2012. Dasar-dasar Ekonometrika. Jakarta Penerbit:
Salemba Empat.
Halim, Abdul. 2007. Akuntansi Sektor Publik Akuntansi Keuangan Daerah. Edisi Revisi, Jakarta. Penerbit: Salemba Empat.
Haryanto, etd. 2014. Determinan Kinerja Keuangan Revolving Loan Fund: Studi Kasus Pada Unit Pengelola Keuangan Program Nasional Pemberdayaan Mandiri Perkotaan Kabupaten Gresik. Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol.3 No.12. Surabaya.
Kuncoro, Mudrajad. 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah, Reformasi, Perencanaan, Strategi dan Peluang. Jakarta. Penerbit: Airlangga. ,2000. Ekonomi Pembangunan: Teori, Masalah, dan Kebijakan. Cetakan Kedua. Yogyakarta. UPP AMP YKPN.
Kusnandar, Siswantoro, Dodik. 2012. Pengaruh Dana Alokasi Umum, Pendapatan Asli Daerah, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran, dan Luas Wilayah terhadap Belanja Modal. SNA XV Banjarmasin 20-23 September 2012.
Laksmi, R.P., & Hadi, S. 2013. Pengaruh PAD, DAU, SiLPA, Realisasi Anggaran dan Tanggal Penetapan Perda APBD Terhadap Anggaran Pembangunan Pada Pemerntah Kabupaten/Kota. Ekbisim VIII (1), 35-46.
Lincolin, Arsyad. 2004. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: Bagian Penerbitan STIE-YKPN Loizides, John dan George Vamvoukas. (2004). Government Expenditure and Economic Growth: Evidence from Trivariate Causality Testing. Athens University of Economics and Business: Journal of Applied Economics, Vol. VIII, No. 1 (May 2005), 125-152.
Maharani Kurnia. Sri Isnowati. 2014. Pengeluaran Pemerintah, Tenaga Kerja Dan Keterbukaan Ekonomi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Tengah. E- Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE), Maret 2014, Hal. 62-72. Vol 21, No.1. ISSN: 1412- 3126.
Mahmudi. 2010. Manajemen Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta. UPP STIM YKPN. Mankiw, N. Gregory, 2007. Makroekonomi. Edisi Keenam. Jakarta. Penerbit: Erlangga. Mudrajad Kuncoro, 2012. Metode Kuantitatif; Teori dan Aplikasi untuk Bisnis dan Ekonomi,
edisi Keempat. Yogyakarta. AMP YKPN.
Novandy, Andrie, M. Palampanga, Anhulaila. Et al. 2015. Pengaruh Belanja Langsung dan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Terhadap Pertumbuhan Ekonomi (Survei Pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Tengah). E Jurnal Katalogis. Vol.3 No.9. hlm 147-158.
Putri, Siska Anggraini. Hendry Cahyono. 2012. Pengaruh Belanja Daerah Dan PMDN Tergadap Pertumbuhan Ekonomi Di Jawa Timur. Volume 01 Nomor 01 Tahun 2012,0- 216.
Putri, P.I. 2014. Pengaruh Investasi, Tenaga Kerja, Belanja Modal, Dan Infrastruktur Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Pulau Jawa. JEJAK Jaournal of Economics and Policy, 7(2), 109-120.
Riduwan, A, Riharjo, I.B. 2014. Determinan Kinerja Keuangan Revolving Loan Fund: Studi Kasus Pada Unit Pengelola Keuangan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat,3(12).
Setiawan, Sigit & Rudi Handoko, 2005. Pertumbuhan Ekonomi 2006: Suatu Estimasi dan Arah Pencapaian Pertumuhan yang Merata dan Berkualitas. Kajian Ekonomi dan Keuangan. Vol.9.
Sukirno, Sadono. 2007. Makro Ekonomi Modern: Perkembangan Pemikiran dari Klasik hingga Keynesian baru. Jakarta. Penerbit: PT. Raja Grafindo Persada.
Sukirno, Sadono. 2010. Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah dan Dasar Kebijakan.
Jakarta. Penerbit: Kencana.
Sulistiawati, R. 2012. Pengaruh Upah Minimum Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Masyarakat di Provinsi di Indonesia. Jurnal Eksos, 8(1), 195-211.
Todaro, Michael P., dan Smith, Stephen C. 2006. Pembangunan Ekonomi/ Edisi Kesembilan, Jilid 1 (Alih Bahasa: Haris Munandar dan Puji A.L.). Jakarta. Penerbit: Erlangga.
Usman, 2012. Analisis Proses Dan Pola Terbentuknya SiLPA di Kabupaten Sumbawa. Tesis.
Universitas Brawijaya Malang.
, 2003. Undang-Undang No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
, 2004. Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah.
, 2004. Undang-Undang No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
, 2006. Permendagri No.13 Tahun 2006 tentang Pedoman Keuangan Daerah Pasal 31 ayat (1).
, 2007. Undang-Undang RI No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.
, 2010. Peraturan Pemerintah No.71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah.
Wahyuni, I Gusti Ayu Putri; Made Sukarsa; Nyoman Yuliarmi. 2014. Pengaruh Pengeluaran Pemerintah, dan Investasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kesenjangan Pendapatan Kabupaten/Kota di Provinsi Bali. Jurnal. Universitas Udayana Bali.
Widianto, Heru. 2016. Analisis Implikasi Goo Governance Dari Prespektif Akuntabilitas Keuangan Daerah Terhadap Penerimaan Pajak Daerah, Belanja Modal dan Kinerja Ekonomi Pemerintah Kabupaten/Kota Di Jawa Timur tahun 2010-2014. Tesis.
Universitas Brawijaya Malang.
Widodo, Tri. 2006. Perencanaan Pembangunan: Aplikasi Komputer. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
Yuwono, Sony, et al. 2005. Penganggaran Sektor Publik. Surabaya: Bayumedia Publishing.