• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR, INFLASI DAN JUMLAH PENDUDUK NEGARA TUJUAN EKSPOR TERHADAP EKSPOR INDONESIA-FILIPINA

N/A
N/A
Fawaz Azzahid

Academic year: 2023

Membagikan "ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR, INFLASI DAN JUMLAH PENDUDUK NEGARA TUJUAN EKSPOR TERHADAP EKSPOR INDONESIA-FILIPINA "

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

1

ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR, INFLASI DAN JUMLAH PENDUDUK NEGARA TUJUAN EKSPOR TERHADAP EKSPOR INDONESIA-FILIPINA TAHUN

1990-2022

Annisa Salsabila1, Belina Yunie Theresia2, Dimas Wahyu Pratama3, Muhammad Fawaz Azzahid4, M. Afdal Samsuddin5

Universitas Bangka Belitung1, Universitas Bangka Belitung2, Universitas Bangka Belitung3, Universitas Bangka Belitung4, Universitas Bangka Belitung5

[email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected],

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh nilai tukar (log X1), inflasi (X2), dan jumlah penduduk negara tujuan ekspor (log X3) terhadap ekspor (log Y) Indonesia-Filipina dari tahun 1990- 2022. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dan deskriptif dengan menggunakan data time series. Ekspor memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara dan dapat mempengaruhi pendapatan dan devisa negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial nilai tukar (log X1) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Ekspor Indonesia-Filipina, inflasi (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Ekspor Indonesia-Filipina dan jumlah penduduk negara tujuan ekspor (log X3) berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekspor Indonesia-Filipina.

Secara simultan variabel nilai tukar (log X1), inflasi (X2) dan jumlah penduduk negara tujuan ekspor (log X3) mempengaruhi ekspor Indonesia-Filipina tahun 1990-2022. Artinya ketiga variabel independen secara simultan atau bersama-sama memberikan pengaruh signifikan terhadap ekspor Indonesia-Filipina tahun 1990-2022.

Kata Kunci: Ekspor, Nilai Tukar, Inflasi, Jumlah Penduduk Abstract

This study aims to analyze the effect of exchange rate (log X1 ), inflation (X2 ), and population of export destination countries (log X3 ) on exports (log Y) of Indonesia-Philippines from 1990-2022.

This type of research uses quantitative and descriptive research using time series data. Exports have

(2)

2

an important role in a country's economic growth and can affect the country's income and foreign exchange. The results showed that partially the exchange rate (log X1 ) had a negative and significant effect on Indonesia-Philippines exports, inflation (X2 ) had a positive and significant effect on Indonesia-Philippines exports and the population of export destination countries (log X3 ) had a positive and significant effect on Indonesia-Philippines exports. Simultaneously, the exchange rate variable (log X1 ), inflation (X2 ) and the population of export destination countries (log X3 ) affect Indonesia-Philippines exports in 1990-2022. This means that the three independent variables simultaneously or together have a significant effect on Indonesia-Philippines exports in 1990-2022.

Keywords: Export, Exchange Rate, Inflation, Population Latar Belakang

Setiap negara memiliki sumber daya alam dan kebutuhan yang berbeda antar satu negara dengan negara lain. Kebutuhan manusia yang tidak terbatas, tetapi sumber daya yang terbatas telah menjadi permasalahan yang sama di berbagai negara. Untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan adanya kerjasama dalam bentuk perdagangan internasional. Tujuan perdagangan internasional adalah untuk memenuhi kebutuhan penduduk suatu negara (Tri Utami, 2019).

Dalam era globalisasi yang telah berkembang saat ini dengan kemajuan teknologi menyebabkan kemudahan transportasi dan komunikasi sehingga setiap negara semakin mudah untuk menjalin kerjasama dengan negara lainnya termasuk kerjasama perdagangan internasional yang meliputi kegiatan ekspor dan impor (Mustika & Ahmad, 2021). Perdagangan internasional juga memungkinkan suatu negara untuk berkonsentrasi pada pembuatan produk yang memiliki keunggulan komparatif dan menukar sebagian outputnya dengan produk yang memiliki kelemahan komparatif. Dengan demikian, kedua negara akhirnya mengonsumsi lebih banyak kedua komoditas tersebut daripada ketika tanpa perdagangan. Peningkatan pengiriman barang, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi suatu negara (Lubis, 2019). Naiknya atau turunnya nilai ekspor dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dalam jangka panjang, kegiatan ekspor akan menumbuhkan industri dalam negeri, yang pada gilirannya akan menghasilkan peningkatan devisa. Ekspor juga memiliki keuntungan, seperti memperluas pangsa pasar internasional, mendorong arus perdagangan dalam negeri lebih lancar,

(3)

3

memberikan efek multiplier terhadap kegiatan ekonomi lainnya, dan mengatasi masalah over produksi dalam negeri sehingga produksi dalam negeri tetap berjalan dengan baik (Tyas, 2022).

Untuk sebuah negara, ekspor sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan output negara, terutama mengekspor produk dengan biaya produksi yang efisien dan bahan baku yang dapat diperoleh. Kenaikan output akan menyebabkan kelebihan domestik dan ekspor pada akhirnya akan meningkat bersamaan dengan peluang kerja. Sesuai dengan penurunan ekspor komoditas dan kesempatan kerja (Goestjahjanti dkk., 2023). Dengan semakin meningkatnya perkembangan ekspor, maka hubungan perdagangan antara Indonesia dengan negara-negara lain baik secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada perubahan indikator makro suatu negara.

Apalagi dengan diberlakukannya sistem nilai tukar mengambang bebas (freely floating system) yang dimulai sejak Agustus 1997, maka posisi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing ditentukan oleh mekanisme pasar (Ginting, 2013). Ekspor adalah salah satu cara di mana devisa negara Indonesia dapat digunakan untuk membiayai pembangunan negara. Selain itu, ekspor suatu negara mampu menunjukkan kesejahteraan negara tersebut (Alfaria, 2015). Nilai tukar terkadang digunakan untuk meningkatkan daya saing (mendorong ekspor), karena perubahan nilai tukar dapat membuat harga produk relatif menjadi lebih mahal atau lebih murah. Menurut Silitoga (2017), nilai tukar hasil tentang ekonomi dapat dilihat dari perspektif penawaran. Perubahan lain dilihat dari sisi aliran modal, kegiatan pemerintah, cadangan devisa, serta keadaan politik disuatu negara. Perubahan sisi penawaran maupun sisi permintaan akibat perdagangan jasa maupun barang. Dua hasil yang mungkin dari perubahan kurs atau nilai tukar adalah melemah (depresiasi) atau menguat (apresiasi). Jika perekonomian terus memburuk (cateris paribus), harga barang akan turun untuk semua orang yang tinggal di luar negara (ekspor) dengan cara yang sama (Saputri dkk., 2020). Perubahan posisi ekspor ini kemudian berguna untuk memperbaiki posisi neraca perdagangan. Pengambil kebijakan ekonomi harus memahami bagaimana output dan neraca perdagangan berhubungan dengan nilai tukar (Mustika & Ahmad, 2021).

Menurut Supardi (2019), Ekspor mengacu pada transaksi yang melibatkan pembelian barang atau jasa dari luar suatu negara dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Sebaliknya, menurut Sutedi (2014), ekspor adalah tanda situasi di mana suatu negara tertentu tidak mampu memenuhi kebutuhan sendiri dan harus dengan demikian mencari kolaborasi dengan negara lain untuk memenuhi kebutuhan warganya. Oleh karena itu, ekspor sangat mendukung bangsa-bangsa lain

(4)

4

dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan orang-orang di negara-negara lain sehingga jumlah minimum keberlangsungan hidup dapat terjadi (Saputri dkk., 2020).

Literatur Review

Menurut (Morrison, 1977) dalam penelitiannya yang berjudul “ The Effects Of Population Size and Population Density On The Manufactured Exports Of Developing Countries “ menjelaskan beberapa penelitian lintas negara telah memberikan dukungan empiris terhadap hipotesis bahwa jumlah penduduk dan kepadatan penduduk berhubungan positif dengan kinerja ekspor manufaktur di negara-negara berkembang. Teori yang mendasari hipotesis jumlah penduduk adalah bahwa skala ekonomi memberi suatu negara keunggulan komparatif dalam barang-barang manufaktur.

Menurut (Fang dkk., 2006) dalam penelitiannya yang berjudul “ Export Promotion through Exchange Rate Changes: Exchange Rate Depreciation or Stabilization?” menjelaskan pergerakan nilai tukar mempengaruhi ekspor melalui dua cara, yaitu depresiasi nilai tukar dan variabilitas nilai tukar (risiko) akan meningkatkan ekspor.

Menurut (Nuroglu, 2010) dalam penelitiannya yang berjudul “ The Impact of Population on Bilateral Trade Flows in the Case Of OIC “ Nuroglu memberikan penekanan khusus pada pengaruh jumlah penduduk terhadap arus perdagangan suatu negara dan pendekatan terhadap masalah jumlah penduduk dari sudut pandang ilmiah. Tulisan ini menunjukkan bahwa dampak jumlah penduduk terhadap arus perdagangan bilateral adalah positif bagi negaraeksportir.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Carmen dan Nicolae (2011) mempelajari pengaruh nilai tukar pada ekspor di Rumania (Triwulan II 2003 - 1 tahun kuartal 2011). Dia menggunakan model otorat vektor dan fungsi respon impuls untuk analisis. Ditemukan bahwa kejutan dalam nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap ekspor (Oloyede & Essi Didi, 2017).

Menurut (Uzomba dkk., 2012) dalam penelitiannya yang berjudul “ The Impact of Macroeconomic Variables on Non-Oil Exsports Perfomance in Nigeria, 1986-2010 “ menyatakan bahwa, nilai tukar berpengaruh terhadap ekspor.

Menurut (Sholehuddin, 2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Pengaruh Kurs, Inflasi, Suku Bunga Indonesia, Harga Minyak Dunia, dan Harga Emas Dunia Terhadap Ekspor

(5)

5

Komoditi: Studi Pada PT Perkebunan Nusantara XII “ dengan menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder, dan metode analisis regresi linier berganda. Hasilnya menjelaskan bahwa secara bersama-sama (simultan) variabel bebas yaitu (Kurs, Inflasi, Suku Bunga, Harga Minyak Dunia, dan Harga Emas Dunia) berpengaruh secara signifikan terhadap Ekspor Karet.

Menurut (Ayuningsih & Setiawina, 2014) dalam penelitiannya yang berjudul “ Pengaruh Kurs Dollar amerika, Jumlah Produksi dan Luas Lahan Pada Volume Ekspor Kayu Manis Indonesia Periode 1992-2011 Serta Daya Sainganya “ dengan analisis data yang digunakan adalah analisis linear berganda, asumsi klasik, analisis secara simultan dan parsial serta analisis indeks RCA. Data dari penelitian ini didapat dari Publikasi Bank Indonesia, Dinas Perkebunan, Departemen Pertanian, dan United Nation Commodity Trade (COMTRADE) statistical database. Hasil analisis data menunjukkan secara bersamaan kurs Dollar Amerika Serikat, jumlah produksi, dan luas lahan berpengaruh signifikan terhadap volume ekspor kayu manis Indonesia periode 1992-2011. Hasil analisis data secara parsial variabel Kurs Dollar Amerika Serikat dan jumlah produksi berpengaruh signifikan positif terhadap volume ekspor kayu manis Indonesia periode 1992-2011.

Menurut (Aswitari, 2015) dalam penelitiannya yang berjudul “ Analisis Daya Saing Dan Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Ekspor Kayu Lapis Indonesia Ke Jepang Periode 1992-2011 “ dengan menggunakan indeks RCA (Revealed Comparative Advantage) dan analisis regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh baik secara simultan maupun parsial. antara nilai tukar Dolar AS, Jumlah Produksi dan Produk Domestik Bruto di Jepang terhadap ekspor kayu lapis Indonesia ke Jepang dengan menggunakan analisis program data sekunder. Hasil analisis data menunjukkan secara simultan nilai tukar Dollar Amerika, Total Produksi dan Produk Domestik Bruto Jepang berpengaruh signifikan terhadap ekspor kayu lapis Indonesia ke Jepang pada periode 1992-2011. Secara parsial nilai tukar Dollar Amerika, jumlah produksi, dan produk domestik bruto Jepang berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekspor kayu lapis Indonesia ke Jepang periode 1992-2011.

Menurut (Mahendra & Kesumajaya, 2015) dalam penelitiannya yang berjudul “ Analisis Pengaruh Investasi, Inflasi, Kurs Dollar Amerika Serikat Dan Suku Bunga Kredit Terhadap Ekspor Indonesia Tahun 1992-2012 “. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda. Hasil analisis data menunjukkan bahwa secara serempak investasi, inflasi, kurs dollar Amerika Serikat dan suku bunga kredit berpengaruh terhadap ekspor Indonesia

(6)

6

tahun 1992-2012. Secara parsial, kurs dollar Amerika Serikat dan suku bunga kredit berpengaruh signifikan terhadap ekspor Indonesia tahun 1992-2012.

Menurut Made Dian Kartika Dewi dan Nyoman Djinar Setiawina yang berjudul “ Pengaruh Kurs Dollar, Harga, Dan Inflasi Terhadap Volume Ekspor Kepiting Indonesia tahun 2015 “ menemukan bahwa hasil uji simultan menyatakan kurs dollar, harga, dan inflasi berpengaruh signifikan terhadap ekspor (Karlina, 2019).

Menurut Malhotra dan Kumari (2016) yang meneliti determinan ekspor negara-negara Asia (Asia Timur, Asia Tenggara, dan Asia Selatan) selama tahun 1980 hingga 2012 dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS) untuk mengevaluasi pengaruh kinerja ekspor. Selain permintaan dan penawaran konvensional sebagai nilai tukar efektif riil, permintaan dunia, kapasitas atau tingkat produksi, dan harga relatif, hal ini juga mencakup invasi investasi asing langsung dan perdagangan terhadap kinerja ekspor. Telah diamati bahwa volatilitas nilai tukar dapat meningkatkan volume ekspor (Hassan dkk., 2022).

Menurut (R. F. A. Putri dkk., 2016), dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Inflasi dan Nilai Tukar Terhadap Ekspor Indonesia Komoditi Tekstil dan Elektronika ke Korea Selatan hasilnya menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi ekspor Indonesia adalah inflasi dan nilai tukar dimana inflasi berpengaruh secara positif terhadap nilai ekspor. Sehingga dapat dikatakan bahwa meningkatnya inflasi akan meningkatkan nilai ekspor dan menurunkan nilai impor (Rusdan, 2018).

Menurut penelitian (Wayan dkk., 2017) yang berjudul “ Pengaruh Kurs Dollar Amerika Serikat, Inflasi dan Harga Ekspor Terhadap Nilai Ekspor Pakaian Jadi Indonesia “ dengan menggunakan analisis regresi linear berganda, hasilnya yaitu kurs berpengaruh positif dan signifkan terhadap nilai ekspor pakaian jadi indonesia.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Piani & Wenagama, 2018) dengan judul “ Analisis Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Ekspor Perhiasan Ke Beberapa Negara Di Dunia Tahun 2014-2018 “ hasilnya yaitu variabel populasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Ekspor Perhiasan.

(7)

7

Menurut (Purusa & Istiqomah, 2018) dalam penelitiannya yang berjudul “ Impact of FDI, COP, and Inflation to Export in Five ASEAN Countries “ menunjukkan inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ekspor.

Menurut (Devi & Murtala, 2019) dalam penelitiannya yang berjudul “ Pengaruh Inflasi dan Kurs Terhadap Ekspor Teh Indonesia Ke Jerman “ dengan metode analisis data menggunakan regresi linear berganda dan data time series. Hasilnya bahwa secara parsial variabel kurs berpengaruh signifikan terhadap variabel ekspor teh Indonesia ke Jerman.

Menurut (Alvaro, 2019) dalam penelitiannya “ Pengaruh Nilai Kurs, Inflasi, Dan PDB Terhadap Ekspor Tembaga Di Indonesia ( The Effect of Exchange Rate, Inflation and GDP on Copper Exports in Indonesia ) juga membuktikan bahwa nilai tukar berpengaruh negatif terhadap ekspor tembaga Indonesia.

Menurut penelitian (Silalahi dkk., 2021) yang berjudul “ The Effect of Exchange Rate and Inflation on Indonesian Exports in 1989-2019 “. Model penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah VECM ( Vector Error Correction Model ) dengan alat bantu program Eviews 10, menggunakan data time series pada rentang waktu yang pakai adalah tahun 1989 sampai dengan tahun 2019 jenis data yang di gunakan yaitu data sekunder diperoleh dari situs resmi laman Lembaga bersangkutan seperi Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia serta Lembaga lain. Hasilnya dalam jangka panjang inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekspor Indonesia.

Menurut (Sugiharti dkk., 2020) dalam penelitiannya yang berjudul “ The Impact Of Exchange Rate Volatility On Indonesia's Top Exports To The Five Main Export Markets “ dengan menggunakan model GARCH dan data bulanan tahun 2006-2018. Hasilnya adalah dalam jangka pendek maupun jangka Panjang dampak volatilitas nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap ekspor komoditas dengan kode 26 (bijih), 38 (bahan kimia), 40 (karet), dan 47 (kertas pulp) ke India, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Dampak nilai tukar memberikan dampak negatif dan positif (yang diharapkan) terhadap ekspor pada tingkat komoditas dan mitra dating.

Menurut (Firjionita dkk., 2021) dalam penelitiannya yang berjudul “ Daya Saing dan Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Ekspor di Provinsi Bali “ dengan menggunakan keunggulan komparatif terungkap (RCA) untuk mengidentifikasi daya saing ekspor komoditas vanili di provinsi Bali.

(8)

8

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menentukan 4 variabel, yaitu produksi, nilai tukar dolar AS, inflasi dan harga, dan variabel yang mempengaruhi ekspor vanili. Hasil uji indeks RCA menunjukkan bahwa komoditas vanilla belum memiliki daya saing atau indeks RCA yang dihasilkan kurang dari satu. Hasil uji regresi linier berganda menunjukkan bahwa 4 variabel yaitu produksi, nilai tukar dolar AS, inflasi dan harga, hanya variabel produksi yang berpengaruh signifikan terhadap ekspor vanili di provinsi Bali.

Menurut (Syofya dkk., 2022) dalam penelitiannya yang berjudul “ Model Persamaan Simultan Ekspor dan Inflasi Negara Malaysia “ menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan antara inflasi dan dan ekspor yang berpengaruh positif dan signifikan.

Menurut (Rezandy & Yasin, 2022) dalam penelitiannya yang berjudul “ Pengaruh Nilai Tukar, Inflasi, Dan Pendapatan Nasional Terhadap Ekspor Nonmigas Indonesia “ metode yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasilnya menunjukkan nilai tukar memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap ekspor nonmigas Indonesia.

Landasan Teori

Perdagangan Internasional

Menurut (Putong, 2003) perdagangan luar negeri adalah perdagangan antara dua negara dengan kesatuan hukum dan kedaulatan yang berbeda, kesepakatan tertentu, dan standar yang diakui secara internasional. Perdagangan terjadi karena kebutuhan dalam negeri untuk memenuhi serta mendapatkan manfaat atau keuntungan yang lebih. Akibatnya, setiap negara berkonsentrasi pada produksi barang dan jasa yang dapat dihasilkannya secara efisien atau spesialisasi produksi, sementara negara lain berkonsentrasi pada pembelian barang dan jasa lain yang tidak diproduksinya.

Nilai Tukar

Nilai Tukar adalah harga mata uang asing yang harus ditukar dengan sejumlah nilai mata uang lain. Untuk memungkinkan penggunaan uang tersebut dalam kegiatan ekonomi, sejumlah besar nilai tukar saat ini diperlukan. Nilai tukar mata uang suatu negara harus ditentukan dalam sistem perekonomian (Ra. F. A. Putri dkk., 2016). Sedangkan menurut (Alvaro, 2019) kurs atau nilai tukar (exchange rate) adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya.

(9)

9

Setiap negara memiliki sistem unik untuk menghitung nilai tukar sesuai dengan kebijakan bank sentral dan kondisi ekonomi secara keseluruhan. Ada berbagai jenis sistem nilai tukar, termasuk sistem harga tukar tetap, sistem harga fluktuatif yang fleksibel, dan floating yang kurang dikelola.

Indonesia menggunakan sistem yang tidak dikendalikan yang disebut nilai tukar mengambang terkendali. Sistem nilai tukar mengambang terkendali membutuhkan intervensi pemerintah yang berkelanjutan selama proses ini. Nilai tukar dapat berpengaruh positif dan negatif terhadap ekspor.

Pengaruh positif terjadi ketika penguatan nilai tukar dapat mempengaruhi ekspor sehingga ekspor dapat bertambah (Dornbusck, 2004). Nilai tukar dapat mempengaruhi harga suatu barang yang diekspor, sehingga ketika nilai tukar rupiah terhadap dollar menguat, maka harga barang ekspor akan naik. Pengaruh negatif dari nilai tukar terjadi ketika nilai tukar melemah, maka ekspor naik atau bertambah (N. G. Mankiw, 1998).

Nilai tukar mengandung istilah penjualan dan harga beli yang digunakan oleh perusahaan uang changer untuk mendapatkan keuntungan dari layanan pertukaran mata uang asing. Tingkat penjualan adalah tingkat yang berlaku saat kita ingin menjual rupiah ke penukaran uang atau akan menukar rupiah untuk mata uang asing. Tingkat pembelian adalah tingkat yang berlaku saat kita ingin menukar mata uang asing untuk Rupiah. Sistem nilai tukar mata uang akan bergantung pada sifat pasar. Jumlah uang domestik yang beredar terhadap jumlah barang dan jasa yang dijual. Peningkatan nilai tukar mata uang domestik disebut apresiasi terhadap mata uang asing. Penurunan nilai tukar domestik disebut depresiasi mata uang asing. Perubahan relatif akibat apresiasi atau depresiasi kemudian dapat mempengaruhi kondisi perdagangan luar negeri negara. Dengan memegang semua kondisi lain yang diadakan, apresiasi mata uang akan meningkatkan harga relatif ekspornya dan mengurangi harga relatif impornya. Barang ekspor negara-negara ini relatif kurang kompetitif di pasar internasional, yang dapat mengurangi nilai ekspor di luar negeri dan mendorong peningkatan impor. Sebaliknya, penyusutan akan menghasilkan penurunan harga relatif ekspor dan kenaikan harga relatif impor.

Barang ekspor negara menjadi lebih kompetitif di pasar internasional, yang dapat meningkatkan nilai ekspor di luar negeri dan mengurangi nilai impor (Oktoriza & Nuswantoro, 2022)

Nilai tukar, menurut Masngudi (2012), adalah sistem pembayaran internasional yang ditunjukkan dalam bentuk mata uang suatu negara dengan mata uang negara lain yang terlibat dalam transaksi perdagangan internasional. Nilai tukar ini menentukan bagaimana nilai ekspor suatu negara berkorelasi dengan nilai impornya (Goestjahjanti, 2017). Dalam bukunya, Mankiw menjelaskan

(10)

10

hubungan antara Nilai tukar dengan volume Perdagangan internasional menggunakan Model Mundell Fleming. Model ini mengasumsikan bahwa tingkat harga tetap dan menunjukkan penyebab fluktuasi jangka pendek dalam perekonomian terbuka kecil dengan mobilitas modal sempurna. Model Mundell Fleming menunjukkan bahwa depresiasi atau apresiasi nilai mata uang akan mengakibatkan perubahan terhadap ekspor maupun impor. Jika kurs mengalami depresiasi, yaitu nilai mata uang dalam negeri secara relatif terhadap mata uang asing menurun, volume ekspor akan menaik (G. N.

Mankiw, 2003).

Jumlah Penduduk

Menurut said, yang di maksud dengan penduduk adalah “ jumlah orang yang bertempat tinggal di suatu wilayah pada waktu tertentu dan merupakan hasil dari proses-proses demografi seperti fertilitas, mortalitas, dan migrasi. Penduduk merupakan sejumlah manusia, baik secara individu maupun kelompok yang menempati wilayah atau negara tertentu minimal dalam jangka waktu satu tahun pada saat dilaksanakan pendataan atau sensus penduduk (Tri Utami, 2019).

Populasi digunakan untuk mengukur besar kecilnya suatu negara. Penduduk memiliki dua peran, yaitu pada sisi permintaan dan pada sisi penawaran. Dari segi permintaan, penduduk berperan sebagai konsumen dan dari segi penawaran, penduduk berperan sebagai produsen. Hal ini menunjukkan bahwa populasi berperan dalam meningkatkan ekspor serta meningkatkan impor (Suparmoko &

Irawan, 2002). Ketika suatu negara tidak dapat memenuhi kebutuhan populasi yang terus bertambah, hal ini menjadi penting. Hal ini menguntungkan bagi negara pengekspor karena negara pengimpor dapat menyerap pasokan lebih banyak terhadap suatu komoditas. Jumlah penduduk atau jumlah penduduk suatu negara akan mempengaruhi permintaan produk komersial negara tersebut. Hal ini dapat ditunjukkan dengan peningkatan permintaan seiring dengan peningkatan populasi suatu negara, jika semua faktor lainnya dianggap sama. Jumlah Penduduk menunjukkan adanya kebutuhan semakin bergerak ke arah perdagangan komoditas. Evolusi Populasi yang berlebihan dapat berdampak negatif terhadap pasokan pangan (Tri Utami, 2019).

Menurut Supardi (1993), jumlah penduduk adalah suatu kelompok individu atau subjek dalam suatu wilayah atau waktu yang mempunyai kualitas tertentu yang dapat diamati. Peningkatan jumlah penduduk mampu meningkatkan jumlah konsumsi sehingga berpengaruh terhadap meningkatnya permintaan domestik suatu negara terhadap suatu komoditas. Ketika suatu negara tersebut tidak

(11)

11

mampu memenuhi permintaan domestiknya, maka akan dilakukan impor sehingga dapat menguntungkan bagi negara eksportir (Wijaya dkk., 2023)

Inflasi

Inflasi adalah kondisi di mana harga barang dan jasa terus meningkat secara umum menandai bahwa perubahan harga tidak hanya mempengaruhi satu jenis produk, sebaliknya, mereka mempengaruhi seluruh kelompok barang yang dikonsumsi masyarakat, dan di samping itu, mereka akan meningkatkan harga barang yang dijual di tempat lain (Suparmono, 2018). Inflasi dapat memberikan pengaruh yang negatif ataupun positif terhadap ekspor. Pengaruh negatif dari inflasi yaitu ketika terjadi inflasi, maka harga komoditi akan meningkat. Peningkatan harga komoditi disebabkan produksi untuk menghasilkan komoditi menghabiskan banyak biaya. Harga komoditi yang mahal akan membuat komoditi tersebut tidak bersaing di pasar global. Ball ( 2005 ) menyatakan bahwa ketika tingkat inflasi tinggi akan mengakibatkan harga barang dan jasa yang dihasilkan atau ditawarkan oleh suatu negara akan meningkat sehingga barang dan jasa tersebut menjadi kurang kompetitif dan ekspor akan turun. Selain memiliki pengaruh negatif, inflasi juga dapat berpengaruh positif terhadap ekspor. Pengaruh positif dari inflasi yaitu ekspor suatu negara dapat meningkat karena modal dari hutang atau pinjaman untuk menghasilkan barang dan jasa meningkat. Hal ini sesuai dengan pendapat Ball ( 2005 ), yaitu ketika inflasi tinggi maka akan mendorong dilakukannya pinjaman, pinjaman tersebut akan dibayarkan kembali dengan uang yang lebih rendah nilainya (R. F.

A. Putri dkk., 2016).

Keynes melihat inflasi itu terjadi karena nafsu yang berlebihan dari sekelompok orang yang ingin memanfaatkan barang dan layanan yang lebih tersedia. Karena keinginan untuk memenuhi kebutuhan kelebihan, permintaan meningkat, sedangkan pasokan konstan yang akan terjadi adalah harga yang akan naik. Keberadaan inflasi ini dapat mengurangi daya beli masyarakat yang akan menyebabkan kalah rasa berkurang. Setiap negara di sekitar berbagai kebijakan yang dikeluarkan sehingga maka yang terjadi di negara ini berada dalam batas nyata yang telah ditetapkan. Inflasi berfluktuasi menyebabkan ketidakpastian bagi kesejahteraan masyarakat dan mengurangi daya beli masyarakat untuk barang dan jasa (Ilmas dkk., 2022).

Indeks Harga Konsumen (IHK) adalah salah satu indikator ekonomi penting yang dapat memberikan informasi tentang perubahan harga barang dan jasa yang dibayar oleh masyarakat atau

(12)

12

konsumen. IHK dapat mengukur perubahan harga barang dan jasa karena inflasi atau deflasi.

Penghitungan IHK bertujuan untuk mengetahui bagaimana harga barang dan jasa yang umumnya dikonsumsi telah berubah. Selain itu, IHK sering digunakan untuk menerapkan pendekatan Indeks Biaya Hidup (Cost of Living Index/CoLI). Survei Biaya Hidup (SBH) digunakan sebagai dasar untuk menentukan jumlah, jenis, dan kualitas barang dan jasa yang termasuk dalam paket serta bobot timbangannya dalam IHK. IHK menghitung perubahan biaya dan pengeluaran barang dan jasa, juga dikenal sebagai paket komoditas, yang biasa dibeli oleh mayoritas rumah tangga dari waktu ke waktu.

Dengan kualitas dan kuantitas paket komoditas yang dianggap konstan pada tahun dasar, indeks tersebut semata-mata mencerminkan perubahan harga dan didesain sebagai suatu ukuran dari dampak perubahan harga pada pembelian barang dan jasa (Yudanto dkk., 2020).

Ekspor

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2006, ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang dari dalam negeri ke luar negeri. Jika pembeli berasal dari luar negeri dan penjual berasal dari dalam negeri, maka kegiatan tersebut dapat dianggap sebagai ekspor. Ekspor sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi negara, seperti yang telah dijelaskan dalam teori Hecksher-Ohlin di Pridayanti (2014) bahwa sebuah negara akan mengekspor produk yang biaya produksi lebih murah dan bahan baku melimpah. Ini akan menguntungkan negara pengekspor karena akan meningkatkan pendapatan nasional dan pertumbuhan ekonomi (Kartikasari, 2017).

Ekspor dapat diartikan sebagai pengiriman dan penjualan barang-barang dari dalam negeri ke luar negeri. Menurut Perdana (2010), pada awalnya komoditi yang dibuat oleh produsen hanya dijual di dalam negeri. Namun, seiring meningkatnya kebutuhan akan barang dan jasa di seluruh dunia dan adanya negara yang tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, negara yang dapat menghasilkan jumlah komoditi yang signifikan akan mengekspornya ke negara yang membutuhkannya. Oleh karena itu, ekspor dapat didefinisikan sebagai upaya untuk menjual komoditi yang tidak dapat mereka beli sendiri (Ansharia dkk., 2017). Ekspor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. (Magdalena, 2017).

Selain itu menurut Mankiw, barang dan jasa yang dibuat di dalam negeri dan dikirim ke negara lain disebut ekspor. Untuk menilai kinerja ekspor saat ini dan memprediksi masa depan, ada sejumlah indikator yang dapat digunakan sebagai dasar data. Pertumbuhan ekspor rata-rata per tahun atau tren

(13)

13

pertumbuhan jangka panjang adalah salah satu yang umum digunakan (Sari & Baskara, 2018). Dalam perdagangan internasional, ekspor adalah kegiatan penting di mana ekspor berfungsi untuk menjual barang ke luar negeri dengan menggunakan pembayaran, kualitas, kuantitas, dan syarat lain yang disetujui oleh importir dan eksportir. Agar negara dapat mengekspor barang dan jasa, negara tersebut harus berusaha menghasilkan barang dan jasa yang mampu bersaing di pasar global (Nurhayati &

Juliansyah, 2020). Keuntungan melakukan ekspor menurut Sukirno adalah dapat memperluas pasar, menambah devisa negara, memperluas lapangan kerja (Sedyaningrum dkk., 2016).

Metode Penelitian

Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data nilai tukar, inflasi jumlah penduduk Filipina dan ekspor Indonesia selama 33 tahun, yaitu dari tahun 1990-2022 yang merupakan data time series.

Jenis penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dan deskriptif dengan estimasi model yang digunakan dalam penelitian ini adalah Regresi Berganda data time series. Analisis data time series adalah analisis regresi yang mengumpulkan data dari waktu ke waktu. Metode ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh varibel independen (nilai tukar, Inflasi dan jumlah penduduk negara tujuan ekspor) terhadap variabel dependennya. Persamaan regresi linear berganda yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut :

log Y= α + β₁logX₁ + β₂X₂ + β₃logX₃ + ε Keterangan :

log Y = Ekspor α = Konstanta log X1 =Nilai Tukar X2 = Inflasi

Log X3 = Jumlah Penduduk Filipina ε = Nilai Error

(14)

14

Hasil dan Pembahasan 5.1 Hasil

5.1.1 Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengevaluasi distribusi data dalam variabel yang akan digunakan dalam penelitian, dan ini dilakukan sebelum melakukan analisis berdasarkan model-model penelitian.

Metode yang sesuai untuk digunakan dalam penelitian ini adalah metode Kolmogorov-Smirnov, yang digunakan untuk menilai apakah data tersebut memiliki distribusi normal atau tidak. Uji Kolmogorov- Smirnov adalah metode perbandingan antara data yang sedang diuji untuk normalitas dengan data yang mengikuti distribusi normal standar (Muqsit, 2019). Hasil dari uji ini diinterpretasikan sebagai berikut:

1. Jika nilai Signifikansi > 0,05, maka data tersebut dapat dianggap berdistribusi normal.

2. Jika nilai Signifikansi < 0,05, maka data tersebut tidak berdistribusi normal.

Sumber: Olah data E-views 12 (2023) Gambar 1 Hasil Uji Normalitas

Berdasarkan hasil dari perhitungan Uji Normalitas, maka dapat diketahui nilai probabilitas Jarque-Bera sebesar 0.140700 lebih besar dari tingkat signifikansi yang digunakan dalam penelitian

0 1 2 3 4 5 6

-0.20 -0.15 -0.10 -0.05 0.00 0.05 0.10

Series: Residuals Sample 1990 2022 Observations 33 Mean -1.72e-15 Median 0.014656 Maximum 0.113182 Minimum -0.199610 Std. Dev. 0.082028 Skewness -0.834563 Kurtosis 3.257988 Jarque-Bera 3.922246 Probability 0.140700

(15)

15

ini yaitu 0.05 atau α = 5% (Bahar, 2022), sehingga dapat disimpulkan bahwa residual yang digunakan berdistribusi normal.

Uji Multicolinearitas

Multikolinearitas dapat diinterpretasikan dari nilai korelasi antar variabel yang ada dalam matriks korelasi. Bila dari hasil pengujian VIF diketahui ada variabel independen yang memiliki Tolerance value kurang dari 0.01 dan /atau nilai VIF lebih tinggi dari 10, maka hal itu menunjukkan adanya indikasi masalah multikolinearitas pada model tersebut (Bahar, 2022).

Sumber: Olah data E-views 12 (2023)

Gambar 2 Uji Multicolinearitas

Berdasarkan hasil uji multicolinearitas dapat diketahui bahwa nilai VIF ketiga variabel independen, nilai tukar ( log X1 ) = 7.616061, inflasi (X2 ) =1.757219, dan jumlah penduduk negara tujuan ekspor ( log X3 ) = 8.614948 menunjukkan bahwa perhitungan VIF kurang atau lebih kecil dari 10. Maka dapat disimpulkan jika model dalam penelitian ini tidak terjadi multicolinearitas.

Variance Inflation Factors Date: 10/07/23 Time: 13:17 Sample: 1990 2022

Included observations: 33

Coefficient Uncentered Centered

Variable Variance VIF VIF

C 14.68375 65264.02 NA

LOGX1 0.003420 1209.734 7.616061 X2 4.32E-06 3.192894 1.757219 LOGX3 0.055356 82191.13 8.614948

(16)

16

Uji Heterokedatisitas

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik. Heteroskedastisitas yaitu adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas (Muqsit, 2019). Uji heteroskedastisitas antar variabel digunakan untuk menentukan ada tidaknya gejala heteroskedastisitas pada pengujian Breusch-Pagan-Godfrey.

Apabila nilai Prob. Chi-Square hitung lebih besar dari tingkat signifikansi 0.05 atau α = 5% artinya tidak terjadi heteroskedastisitas.

Sumber: Olah data E-views 12 (2023)

Gambar 3 Uji Heterokedastisitas

Berdasarkan hasil uji heterokedastisitas dapat diketahui bahwa nilai Prob. Obs*R-Squared yaitu sebesar 0.7825 lebih besar dari tingkat signifikansi 0.05 atau α = 5%, sehingga dapat disimpulkan bahwa model penelitian ini terbebas dari heterokedastisitas.

Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara data dalam variabel pengamatan. Apabila terjadi korelasi maka disebut problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya atau pengganggu suatu periode berkorelasi dengan kesalahan pengganggu periode sebelumnya. Untuk menguji asumsi klasik ini dapat digunakan metode Breusch-Godfrey yang merupakan pengembangan dari metode Durbin- Watson. Metode ini lebih dikenal dengan metode Lagrange Multiplier (LM) (Alvaro, 2019).

Heteroskedasticity Test: Breusch-Pagan-Godfrey Null hypothesis: Homoskedasticity

F-statistic 0.326311 Prob. F(3,29) 0.8063

Obs*R-squared 1.077583 Prob. Chi-Square(3) 0.7825 Scaled explained SS 0.939529 Prob. Chi-Square(3) 0.8159

Test Equation:

Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares

Date: 10/07/23 Time: 13:19 Sample: 1990 2022

Included observations: 33

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 0.388912 0.457458 0.850159 0.4022

LOGX1 0.006829 0.006982 0.978129 0.3361

X2 -0.000145 0.000248 -0.582739 0.5646

LOGX3 -0.024177 0.028088 -0.860766 0.3964 R-squared 0.032654 Mean dependent var 0.006525 Adjusted R-squared -0.067416 S.D. dependent var 0.009956 S.E. of regression 0.010287 Akaike info criterion -6.202741 Sum squared resid 0.003069 Schwarz criterion -6.021346 Log likelihood 106.3452 Hannan-Quinn criter. -6.141707 F-statistic 0.326311 Durbin-Watson stat 1.796187 Prob(F-statistic) 0.806311

(17)

17

Gambar 4 Uji Autokorelasi

Berdasarkan hasil uji autokorelasi dengan menggunakan LM Test dapat diketahui nilai Prob.

Obs*R-Squared sebesar 0.1319 lebih besar dari tingkat signifikansi 0.05 atau α = 5%, sehingga dapat disimpulkan bahwa model penelitian ini terbebas dari uji autokorelasi.

Hasil Regresi Linear Berganda

Model regresi linier berganda adalah suatu persamaan yang menggambarkan korelasi antara satu variabel tak bebas/respons (Y) dengan dua atau lebih variabel bebas/prediktor (X1, X2, ..., Xn). Tujuan dari analisis regresi linier berganda adalah melakukan prediksi terhadap nilai variabel tak bebas/respons (Y) ketika nilai-nilai variabel bebas/prediktor (X1, X2, ..., Xn) telah diketahui. Selain itu, analisis ini juga digunakan untuk memahami arah hubungan antara variabel tak bebas dengan variabel-variabel bebas tersebut (Yuliara, 2016).

Sumber: Olah data E-views 12 (2023) Gambar 5 Regresi Linear Berganda Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:

Null hypothesis: No serial correlation at up to 2 lags

F-statistic 1.888993 Prob. F(2,27) 0.1707

Obs*R-squared 4.050738 Prob. Chi-Square(2) 0.1319

Test Equation:

Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 10/07/23 Time: 13:18 Sample: 1990 2022

Included observations: 33

Presample missing value lagged residuals set to zero.

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 0.629072 3.733664 0.168487 0.8675

LOGX1 0.005522 0.056876 0.097093 0.9234

X2 -0.001132 0.002102 -0.538639 0.5945

LOGX3 -0.036559 0.229156 -0.159537 0.8744

RESID(-1) 0.388641 0.200229 1.940986 0.0628 RESID(-2) -0.101728 0.195247 -0.521019 0.6066 R-squared 0.122750 Mean dependent var -1.72E-15 Adjusted R-squared -0.039704 S.D. dependent var 0.082028 S.E. of regression 0.083641 Akaike info criterion -1.961608 Sum squared resid 0.188886 Schwarz criterion -1.689516 Log likelihood 38.36654 Hannan-Quinn criter. -1.870058 F-statistic 0.755597 Durbin-Watson stat 1.908079 Prob(F-statistic) 0.589459

Dependent Variable: LOGY Method: Least Squares Date: 10/07/23 Time: 13:16 Sample: 1990 2022 Included observations: 33

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -39.46242 3.831938 -10.29829 0.0000

LOGX1 -0.290252 0.058484 -4.962899 0.0000

X2 0.008258 0.002080 3.971197 0.0004

LOGX3 3.689940 0.235278 15.68329 0.0000

R-squared 0.973120 Mean dependent var 25.46654 Adjusted R-squared 0.970339 S.D. dependent var 0.500320 S.E. of regression 0.086167 Akaike info criterion -1.951858 Sum squared resid 0.215315 Schwarz criterion -1.770463 Log likelihood 36.20565 Hannan-Quinn criter. -1.890824 F-statistic 349.9564 Durbin-Watson stat 1.255978 Prob(F-statistic) 0.000000

(18)

18

Berdasarkan hasil regresi linear berganda dengan menggunakan aplikasi E-Views 12 dapat di peroleh koefisien untuk variabel dependen dan variabel independen, yaitu:

C = - 39.46242 log X1 = - 0.290252 X2 = 0.008258 log X3 = 3.689940

Sehingga diperoleh persamaan model regresi sebagai berikut:

Y= - 39.46242 - 0.290252logX1 + 0.008258X2 + 3.689940 logX3 + ε

Pada persamaan regresi yang didapat, menunjukkan pengaruh negatif, yaitu Nilai tukar (log X1) terhadap Ekspor Indonesia (log Y). Serta menunjukkkan pengaruh positif, yaitu Inflasi (X2) dan Jumlah Penduduk negara tujuan ekspor (log X3) terhadap Ekspor Indonesia-Filipina (logY).

Interpretasi dari model regresi tersebut, yaitu:

a. Nilai konstanta sebesar - 39.46242. Artinya, apabila nilai variabel log X1, X2, log X3 = 0 atau tidak ada, maka nilai log Y adalah sebesar konstanta (C) - 39.46242 %, dengan asumsi cateris paribus.

b. Koefisien nilai tukar (log X1) sebesar -0.290252. Artinya, apabila nilai tukar naik atau mengalami apresiasin sebesar 1% akan menyebabkan ekspor menurun sebesar 0.290252 %, dengan asumsi cateris paribus.

c. Koefisien Inflasi (X2) sebesar 0.008258. Artinya apabila inflasi meningkat 1% akan menyebabkan ekspor meningkat sebesar 0.008258 %, dengan asumsi cateris paribus.

d. Koefisien Jumlah Penduduk negara tujuan ekspor (log X3) sebesar 3.689940. Artinya apabila jumlah penduduk meningkat 1% akan menyebakan ekspor meningkat sebesar 3.689940 %, dengan asumsi cateris paribus.

Berdasarkan interpretasi diatas dapat di simpulkan bahwa variabel Nilai Tukar ( 0.0000 < 0.05 ), Inflasi ( 0.0004 < 0.05 ) dan Jumlah Penduduk negara tujuan ekspor ( 0.0000 < 0.05 ) berpengaruh signifikan terhadap ekspor Indonesia-Filipina karena nilai probabilitasnya kurang dari tingkat signifikansi 0.05 atau α = 5%

(19)

19

Uji Koefisien Determinasi ( R2 )

Sumber: Olah data E-views 12 (2023)

Gambar 6 Uji Koefisien Determinasi

Analisis koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa baik model menjelaskan variabel dependen. Variabel independen seperti nilai tukar, inflasi dan jumlah penduduk hampir menyediakan semua informasi yang diperlukan untuk memprediksi variabel ekspor, jika nilai R- kuadrat yang dimodifikasi mendekati satu.

Berdasarkan hasil uji koefisien determinasi ( R2 ) diketahui nilai Adjusted R-Square sebesar 0.973120, maka dapat disimpulkan bahwa sumbangan pengaruh variabel nilai tukar, inflasi dan jumlah penduduk terhadap variabel ekspor secara simultan ( bersamaan ) sebesar 97. 31204 %.

Sedangkan sisanya sebesar 2.68796 % dipengaruhi varibel lain diluar penelitian.

Uji t (Uji Parsial)

Uji parsial (Uji t) digunakan untuk menilai pengaruh individu dari masing-masing variabel independent terhadap variabel dependen secara terpisah (Magfiroh dkk., 2018). Dengan menganggap faktor-faktor lain konstan, pengujian parsial digunakan untuk melihat apakah koefisien regresi variabel independen, seperti nilai tukar (log X1), inflasi (X2), dan jumlah penduduk (log X3) berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen ( log Y ) ekspor.

Dependent Variable: LOGY Method: Least Squares Date: 10/07/23 Time: 13:16 Sample: 1990 2022

Included observations: 33

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -39.46242 3.831938 -10.29829 0.0000

LOGX1 -0.290252 0.058484 -4.962899 0.0000

X2 0.008258 0.002080 3.971197 0.0004

LOGX3 3.689940 0.235278 15.68329 0.0000

R-squared 0.973120 Mean dependent var 25.46654 Adjusted R-squared 0.970339 S.D. dependent var 0.500320 S.E. of regression 0.086167 Akaike info criterion -1.951858 Sum squared resid 0.215315 Schwarz criterion -1.770463 Log likelihood 36.20565 Hannan-Quinn criter. -1.890824 F-statistic 349.9564 Durbin-Watson stat 1.255978 Prob(F-statistic) 0.000000

(20)

20

Sumber: Olah data E-views 12 (2023)

Gambar 7 Uji Parsial Uji T ( Parsial )

Berdasarkan hasil diatas, maka dapat dapat di interpretasikan sebagai berikut : Nilai Tukar

Berdasarkan data pada gambar 7, diketahui bahwa t-statistic dari variabel nilai tukar sebesar – 4.962899, sedangkan nilai t-tabel 2.036933. Dengan hipotesis :

H0 : berarti secara parsial tidak ada pengaruh signifikan dari variabel nilai tukar terhadap ekspor di Indonesia.

H1 : berarti secara parsial ada pengaruh signifikan dari variabel nilai tukar terhadap ekspor di Indonesia.

Karena nilai mutlak t-statistik ( 4.962899 ) > t-tabel ( 2.036933 ) yang berarti H0 ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa secara parsial nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap variabel ekspor.

Hasil ini diperkuat dengan probabilitas nilai tukar ( 0.0000 ) < 5% ( 0.05 ). Maka dapat disimpulkan bahwa secara parsial variabel nilai tukar berpengaruh negatif dan signifikan terhadap variabel ekspor Indonesia-Filipina.

Inflasi

Setelah melihat hasil gambar 7 diketahui bahwa t-statistik dari variabel inflasi sebesar 3.971197 sedangkan nilai t-tabel 2.036933. Dengan hipotesis :

Dependent Variable: LOGY Method: Least Squares Date: 10/07/23 Time: 13:16 Sample: 1990 2022

Included observations: 33

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -39.46242 3.831938 -10.29829 0.0000

LOGX1 -0.290252 0.058484 -4.962899 0.0000

X2 0.008258 0.002080 3.971197 0.0004

LOGX3 3.689940 0.235278 15.68329 0.0000

R-squared 0.973120 Mean dependent var 25.46654 Adjusted R-squared 0.970339 S.D. dependent var 0.500320 S.E. of regression 0.086167 Akaike info criterion -1.951858 Sum squared resid 0.215315 Schwarz criterion -1.770463 Log likelihood 36.20565 Hannan-Quinn criter. -1.890824 F-statistic 349.9564 Durbin-Watson stat 1.255978 Prob(F-statistic) 0.000000

(21)

21

H0 : berarti secara parsial tidak ada pengaruh signifikan dari variabel inflasi terhadap ekspor di Indonesia.

H1 : berarti secara parsial ada pengaruh signifikan dari variabel inflasi terhadap ekspor di Indonesia.

Karena t-statistik ( 3.971197 ) > nilai t-tabel ( 2.036933 ) yang berarti H0 ditolak, maka dapat disimpulkanbahwa secara parsial inflasi berpengaruh signifikan terhadap variabel ekspor. Hasil ini diperkuat dengan probabilitas inflasi ( 0.0004 ) < 5% ( 0.05 ). Maka dapat disimpulkan bahwa secara parsial variabel inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel ekspor Indonesia- Filipina.

Jumlah Penduduk Negara Tujuan Ekspor

Berdasarkan data pada gambar 7, diketahui bahwa t-statistik 15.68329 dari variabel jumlah penduduk sebesar sedangkan nilai t-tabel 2.036933. Dengan hipotesis :

H0 : berarti secara parsial tidak ada pengaruh signifikan dari variabel Jumlah Penduduk terhadap ekspor di Indonesia.

H1 : berarti secara parsial ada pengaruh signifikan dari variabel Jumlah Penduduk terhadap ekspor di Indonesia.

Karena t-statistik ( 15.68329 ) > nilai t-tabel ( 2.036933 ) yang berarti H0 ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa secara parsial jumlah penduduk negara tujuan ekspor berpengaruh signifikan terhadap variabel ekspor. Hasil ini diperkuat dengan probabilitas jumlah penduduk negara tujuan ekspor ( 0.0000 ) < 5% ( 0.05 ). Maka dapat disimpulkan bahwa secara parsial variabel jumlah penduduk negara tujuan ekspor berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel ekspor Indonesia-Filipina.

Uji F ( Simultan )

Uji simultan digunakan untuk menggambarkan pengaruh bersama-sama dari semua variabel independen terhadap variabel dependen (Magfiroh dkk., 2018).

(22)

22

Sumber: Olah data E-views 12 (2023)

Gambar 8 Uji F ( Simultan )

Berdasarkan data pada gambar 8, interpretasi hasil uji F terhadap metode penelitian adalah sebagai berikut :

1. Berdasarkan data di atas dapat diketahui nilai F-statistik = 349.9564.

2. Nilai F-tabel adalah 2.90112 yang di dapat dari = FINV ( 0.05,3,32 ).

3. Sehingga dari hasil uji F, di peroleh nilai F-statistik ( 349.9564 ) > nilai F tabel ( 2.90112 ). Sehingga hasil uji tersebut dapat dibuktikan dengan nilai Prob. F-statistik 0.000000 <

nilai signifikansi 0.05 atau 5%. Yang artinya variabel nilai tukar, inflasi dan jumlah penduduk secara simultan berpengaruh signifikan terhadap ekspor Indonesia-Filipina tahun 1990-2022.

5.2 Pembahasan

Pengaruh Nilai Tukar Terhadap Ekspor Indonesia-Filipina

Dari hasil uji parsial, menunjukkan bahwa nilai t-statistik > nilai t tabel, hal ini di dukung oleh nilai probabilitas pada variabel nilai tukar sebesar 0.000. Nilai tersebut lebih kecil dari nilai signifikansi sebesar 0.05 atau dengan kata lain signifikan pada tingkat 5%. Maka dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa nilai tukar berpengaruh secara signifikan terhadap variabel ekspor.

Berdasarkan hasil regresi data time series hasil estimasi menunjukkan nilai t-statistik variabel nilai tukar sebesar - 0.290252. Artinya variabel nilai tukar berpengaruh negatif terhadap ekspor, dimana

Dependent Variable: LOGY Method: Least Squares Date: 10/07/23 Time: 13:16 Sample: 1990 2022

Included observations: 33

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C -39.46242 3.831938 -10.29829 0.0000

LOGX1 -0.290252 0.058484 -4.962899 0.0000

X2 0.008258 0.002080 3.971197 0.0004

LOGX3 3.689940 0.235278 15.68329 0.0000

R-squared 0.973120 Mean dependent var 25.46654 Adjusted R-squared 0.970339 S.D. dependent var 0.500320 S.E. of regression 0.086167 Akaike info criterion -1.951858 Sum squared resid 0.215315 Schwarz criterion -1.770463 Log likelihood 36.20565 Hannan-Quinn criter. -1.890824 F-statistic 349.9564 Durbin-Watson stat 1.255978 Prob(F-statistic) 0.000000

(23)

23

dapat diasumsikan jika terjadi kenaikan 1% pada nilai tukar maka akan mengakibatkan ekspor menurun sebesar 0.290252%.

Hasil ini didukung dengan penelitian (Setyorani, 2018) yang menunjukkan bahwa nilai tukar berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ekspor. Selain itu, Okta Rabiana Risma dkk ( 2018 ) juga membuktikan bahwa nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap ekspor (Okta Rabiana Risma, T Zulham, 2018). Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Fitria Eviana Khoironi dan Ida Ayu Nyoman Saskara (2017) kurs berpengaruh signifikan terhadap ekspor ikan hias di Provinsi Bali tahun 1991-2015 (Khoironi & Saskara, 2017). Selain itu hasil penelitian yang dilakukan Vinh Nguyen Thi Thuy dan Duong Trinh Thi Thuy (2018) juga menunjukkan pengaruh negatif terhadap volume ekspor dalam jangka panjang (Thuy & Thuy, 2019). Akan tetapi, hasil ini tidak sejalan dengan penelitian Cahyono (2019) yang menunjukkan nilai tukar memiliki pengaruh positif terhadap volume ekspor perusahaan semen di Indonesia (Cahyono, 2019). Dan penelitian Syahrul dkk (2020) yang menunjukkan nilai tukar berpengaruh positif terhadap nilai ekspor Yogyakarta (Ashari dkk., 2020)

Pengaruh Inflasi Terhadap Ekspor Indonesia-Filipina

Berdasarkan hasil uji parsial, menunjukkan bahwa nilai t-statistik > nilai t tabel, hal ini di dukung oleh nilai probabilitas pada variabel inflasi sebesar 0.0004. Nilai tersebut lebih kecil dari nilai signifikansi sebesar 0,05 atau dengan kata lain signifikan pada tingkat 5%. Maka dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa inflasi berpengaruh secara signifikan terhadap variabel ekspor.

Berdasarkan hasil regresi data time series hasil estimasi menunjukkan nilai t-statistik dari variabel inflasi sebesar 3.971197. Artinya variabel inflasi berpengaruh positif terhadap ekspor, dimana dapat diasumsikan jika terjadi kenaikan 1% pada inflasi maka akan mengakibatkan kenaikan ekspor sebesar 3.971197%.

Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Jacob dkk (2022) yaitu, inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja ekspor di India (Jacob dkk., 2022). Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Muhammad Muslim dkk (2023) juga menunjukkan pengaruh positif dan signifikan terhadap ekspor Regional Sumut (Muslim dkk., 2023). Akan tetapi, hasil ini tidak sejalan dengan penelitian Sovia dan Wirawan (2022) yang menunjukkan inflasi tidak berpengaruh sugnifikan terhadap ekspor produk halal dalam jangka pendek dan jangka panjang (Erika

& Fadly, 2022).

(24)

24

Pengaruh Jumlah Penduduk Negara Tujuan Ekspor Terhadap Ekspor Indonesia- Filipina

Dari hasil pengujian t-statistik menunjukkan bahwa nilai probabilitas pada variabel Jumlah Penduduk sebesar 0,00000. Nilai tersebut lebih kecil dari nilai signifikansi sebesar 0,05 atau dengan kata lain signifikan pada tingkat 5%. Maka dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa Jumlah Penduduk berpengaruh secara signifikan terhadap variabel ekspor. Berdasarkan hasil regresi data time series hasil estimasi menunjukkan nilai t-statistik dari variabel Jumlah Penduduk sebesar -11.31125.

Artinya variabel Jumlah Penduduk berpengaruh negatif terhadap ekspor, dimana dapat diasumsikan jika terjadi kenaikan 1% pada Jumlah populasi maka akan mengakibatkan penurunan ekspor sebesar 11.31125%.

Hasil ini sejalan dengan penelitian Nurhayati dkk (2018) bahwa populasi negara tujuan berpengaruh positif terhadap ekspor lada Indonesia (Nurhayati dkk., 2018). Selain itu, hasil ini juga sejalan dengan penelitian Xi He dan Wendong Zhang (2021) menunjukkan bahwa populasi berpengaruh positif terhadap ekspor (He & Zhang, 2021). Akan tetapi, hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Pudyastusi, dkk (2018) dan penelitian Karlinda (2012) bahwa populasi Negara tujuan ekspor berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ekspor Indonesia (Piani &

Wenagama, 2018).

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan, yaitu:

• Secara parsial variabel nilai tukar (log X1) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ekspor Indonesia-Filipina (log Y).

• Secara parsial variabel inflasi (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekspor Indonesia-Filipina (log Y).

• Secara parsial variabel jumlah penduduk negara tujuan ekspor (log X3) berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekspor Indonesia-Filipina (log Y).

• Variabel nilai tukar (log X1), inflasi (X2) dan jumlah penduduk negara tujuan ekspor (log X3) secara simultan mempengaruhi ekspor Indonesia-Filipina tahun 1990-2022. Artinya ketiga

(25)

25

variabel independen secara simultan atau bersama-sama memberikan pengaruh signifikan terhadap ekspor Indonesia-Filipina tahun 1990-2022.

Saran

Saran yang dapat diberikan untuk jurnal ini adalah melakukan penjelasan yang lebih rinci mengenai uji asumsi klasik yang dilakukan dalam penelitian. Penjelasan mengenai uji normalitas sudah ada, namun perlu dijelaskan lebih lanjut mengenai metode yang digunakan, yaitu uji Kolmogorov-Smirnov, dan bagaimana hasil uji ini diinterpretasikan. Selain itu, perlu dilakukan penjelasan yang lebih detail mengenai uji parsial (uji t) yang digunakan untuk menilai pengaruh variabel independen secara terpisah terhadap variabel dependen. Penjelasan mengenai hasil uji parsial juga perlu diperluas, termasuk interpretasi dari hasil tersebut. Selain itu, disarankan untuk menambahkan referensi yang mendukung analisis regresi linear berganda yang digunakan dalam penelitian ini. Dengan melakukan perbaikan dan penambahan ini, jurnal ini akan menjadi lebih komprehensif dan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai pengaruh nilai tukar, inflasi, dan jumlah penduduk terhadap ekspor Indonesia-Filipina.

(26)

26

Daftar Pustaka

Alfaria, M. (2015). Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Inflasi dan Kurs Terhadap Ekspor Indonesia. Jurnal Ilmiah.

Alvaro, R. (2019). Pengaruh Nilai Kurs, Inflasi, dan PDB Terhadap Ekspor Tembaga di Indonesia.

Jurnal Budget, 4, 64–66.

Ansharia, M. F., Khillab, A. El, & Permata, I. R. (2017). Analisis Pengaruh Inflasi dan Kurs Terhadap Ekspor Di Negara ASEAN 5 Periode Tahun 2012-2016. 1, 121–128.

Ashari, S. R., Sudarusman, E., & Prasetyo, T. U. (2020). Pengaruh PDRB, Nilai Tukar, dan Inflasi terhadap Nilai Ekspor Di Yogyakarta Tahun 2015-2019. Jurnal STIM, 1, 9–16.

Aswitari, L. P. (2015). Analisis Daya Saing Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ekspor Kayu Lapis Indonesia Ke Jepang Periode 1992-2011. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan, 608–745.

Ayuningsih, N. L. S. M., & Setiawina, N. D. (2014). Pengaruh Kurs Dollar amerika, Jumlah Produksi dan Luas Lahan Pada Volume Ekspor Kayu Manis Indonesia Periode 1992- 2011 Serta Daya Sainganya. E-Jurnal EP Unud, 03(08), 366–375.

Bahar, G. (2022). Analisis Pengaruh Suku Bunga, Inflasi, Nilai Tukar dan Ekspor Neto Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Cahyono, D. H. (2019). Pengaruh Nilai Tukar dan Inflasi Terhadap Volume Ekspor ( Studi Pada Perusahaan Ekspor Semen Di Indonesia Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008- 2017 ). 7.

Devi, I., & Murtala, M. (2019). Pengaruh Inflasi Dan Kurs Terhadap Ekspor Teh Indonesia Ke Jerman. Jurnal Ekonomi Pertanian Unimal, 2(1), 8. https://doi.org/10.29103/jepu.v2i1.1699 Dornbusck. (2004). Makroeconomic (8th ed.). Media Global Edukasi.

Erika, S. Z., & Fadly, W. (2022). Pengaruh Inflasi dan Nilai Tukar Terhadap Ekspor Produk Halal Indonesia Periode 2016-2020. Journal Of Economics, Law, and Humanities, 1, 1–15.

Fang, W., Lai, Y., & Miller, S. M. (2006). Export Promotion through Exchange Rate Changes:

Exchange Rate Depreciation or Stabilization? Southern Economic Journal, 72(3), 611–626.

Firjionita, P. C., Antara, M., & Sudarma, I. M. (2021). Daya Saing dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor di Provinsi Bali. Jurnal Agribisnis Dan Agrowisata, 10(1), 95–105.

https://doi.org/10.29244/jhi.10.1.63-73

Ginting, A. M. (2013). Pengaruh Nilai Tukar Terhadap Ekspor Indonesia The Influence of Exchange Rate on Indonesia’s Exports. Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan, 7, 2–7.

Goestjahjanti, F. S. (2017). Effect Of Competitive Power To Term Of Trade And Implication To

(27)

27

Stability Of Exchange In Indonesia. Jurnal Admisi Dan Bisnis, 18, 72.

Goestjahjanti, F. S., Efriani, B., Winanti, Rahmawati, & Kulla, I. (2023). Production and Exchange Rate Impact on Indonesian Industrial Exports Goods. Economics Development Analysis Journal, 12(1).

Hassan, M. S., Kausar, A. K., & Arshed, N. (2022). Investigating Export Determinants: A Time Series Evidence From Canada. Journal Sage, 1, 2–5.

He, X., & Zhang, W. (2021). China’s changing Population Structure And Its Implications For Us Agricultural Exsports. Agricultural Policy Review.

Ilmas, N., Amelia, M., & Risandi, R. (2022). Analysis Of The Effect Of inflation And Exchange Rate Onexports in 5-Year ASEAN Countries ( Years 2010-2020). Jurnal Ekonomi Transaksi, 2, 123.

Jacob, T., Raphael, R., & V.S, A. (2022). Impact of Exchange Rate and Inflation on the Export Performance of the Indian Economy: An Empirical Analysis. BIMTECH Business Perspectives, 3(1), 1–13. https://doi.org/10.1177/bsp.2022.3.1.15

Karlina, B. (2019). Pengaruh Inflasi Dan Nilai Tukar Terhadap Ekspor Non Migas Di Provinsi Lampung Dalam Perspektif Ekonomi Islam Tahun 2008-2017. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Kartikasari, D. (2017). The Effect of Export, Import and Investment to Economic Growth of Riau Islands Indonesia. International Journal of Economics and Financial Issues, 7(4), 663–667.

http:www.econjournals.com

Khoironi, F. E., & Saskara, I. A. N. (2017). Analisis Pengaruh Kurs Dollar, Inflasi, Dan Produksi Terhadap Ekspor Ikan Hias Di Provinsi Bali. Jurusan Ekonomi Pembangunan, 6, 286–471.

Lubis, S. W. & A. S. (2019). Analisis Perkembangan Ekspor Impor Barang Ekonomi di Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Administrasi Bisnis, 8, 31.

Magdalena, J. H. V. P. A. (2017). Pengaruh Nilai Tukar Terhadap Ekspor dan Dampaknya Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Jurnal Manajemen, 12, 287.

Magfiroh, S., Sunarmo, A., & Primasari, D. (2018). Professional Audit And Work Ethics On Whistleblowing Actions. Jurnal Analsis Bisnis Ekonomi, 16, 104–116.

Mahendra, I. G. Y., & Kesumajaya, I. W. W. (2015). Analisis Pengaruh Investasi, Inflasi, Kurs Dollar Amerika Serikat Dan Suku Bunga Kredit Terhadap Ekspor Indonesia Tahun 1992-2012. E- Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana, 4(5), 525–545.

Mankiw, G. N. (2003). Macroeconomic (5th ed.). Worth Publisher.

Mankiw, N. G. (1998). Principle of Microeconomic (1st ed.). Airlangga.

(28)

28

Morrison, T. K. (1977). The Effects Of Population Size and Population Density On The Manufactured Exports Of Developing Countries. Southern Economic Journal, 43(3), 1368–1371.

Muqsit, A. (2019). Analisis Pengaruh Pertumbuhan Penduduk, Produk Domestik Regional Bruto Dan Inflasi Terhadap Pengangguran Di Provinsi Lampung Dalam Perspektif Ekonomi Islam.

Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Muslim, M., Ridwan, M., & Batubara, M. (2023). Determination Of Agricultural Exports In North Sumatra. Sharia Economic, 6. https://doi.org/https://doi.org/10.31538/iijse.v6i3.3888

Mustika, C., & Ahmad, E. (2021). Analisis Pengaruh Nilai Tukar, Pertumbuhan Ekonomi Dan Tenaga Kerja Terhadap Ekspor Indonesia Dan Malaysia Ke China. Jurnal Paradigma Ekonomika, 16, 379–380.

Nurhayati, E., Hartoyo, S., & Mulatsih, S. (2018). Pengembangan Pasar Ekspor Lada Indonesia.

Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan, 12(2), 267–288. https://doi.org/10.30908/bilp.v12i2.335 Nurhayati, & Juliansyah, H. (2020). Pengaruh Perdagangan Internasional Terhadap Pertumbuhan

Ekonomi Indonesia. Jurnal Ekonomika Indonesia, 12, 40.

Nuroglu, E. (2010). The Impact of Population on Bilateral Trade Flows in the Case Of OIC. Journal International Economic S.

Okta Rabiana Risma, T Zulham, T. C. D. (2018). Pengaruh Suku Bunga, produk Domestik Bruto dan Nilai Tukar Terhadap Ekspor di Indonesia. Jurnal Perspektif Ekonomi Darussalam, 4, 1.

Oktoriza, L. A., & Nuswantoro, U. D. (2022). Analysis Of The Effect Of Exchange Rates , Indonesian Coffee Production And International Coffee Price On Coffe ( Case Study On Indonesian Coffee Exsports ). 2(1), 14–25.

Oloyede, O., & Essi Didi, I. (2017). The effect of exchange rate on imports and exports in Nigeria from January 1996 to June 2015. International Journal of Economics and Business Management, 3(2), 66–77.

Piani, & Wenagama. (2018). Analisis beberapa faktor yang mempengaruhi nilai ekspor perhiasan ke beberapa negara di dunia tahun 2014-2018. J EP Unud, 10(5), 1890–1917.

Purusa, N. A., & Istiqomah, N. (2018). Impact of FDI, COP, and Inflation to Export in Five ASEAN Countries. Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi Dan Pembangunan, 19(1), 94. https://doi.org/10.23917/jep.v19i1.5832

Putong, I. (2003). Pengantar Ekonomi Makro Mikro (2nd ed.). Ghalia Indonesia.

Putri, R. F. A., Suhadak, & Sulasmiyati, S. (2016). Pengaruh Inflasi dan Nilai Tukar Terhadap Ekspor Indonesia Komoditi Tekstil dan Elektronika ke Korea Selatan. Jurnal Administrasi Bisnis, 35(1), 127–136. http://administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id/index.php/jab/article/view/1352

(29)

29

Putri, Ra. F. A., Suhadak, & Sulasmiyati, S. (2016). Pengaruh Inflasi Dan Nilai Tukar Terhadap Ekspor Indonesia Komoditi Tekstil dan Elektronika Ke Korea Selatan ( Studi Sebelum dan Setelah ASEAN Korea Free Trade Agreement Tahun 2011 ). Junal Administrasi Bisnis, 35, 127–

136.

Rezandy, A., & Yasin, A. (2022). Pengaruh Nilai Tukar, Inflasi, Dan Pendapatan Nasional Terhadap Ekspor Nonmigas Indonesia. Independent: Journal of Economics, 11, 1245–1255.

https://doi.org/10.26740/independent.v1i3.42784

Rusdan, A. (2018). Pengaruh Inflasi dan Nilai Tukar Terhadap Nilai Ekspor Di Indonesia tahun 1987-2016.

Saputri, N. A. S., Ismanto, B., & Sitorus, D. S. (2020). Pengaruh Inflasi dan Nilai Tukar Terhadap Ekspor Indonesia Tahun 2008-2017. 2.

Sari, N. P. E., & Baskara, I. G. K. (2018). Nilai Tukar, Nilai Ekspor, Dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Profitabilitas Eksportir Food And Beverage Di BEI. E-Jurnal Manajemen Unud, 7, 4190.

Sedyaningrum, M., Suhadak, Firdausi, N., & Nuzula. (2016). Pengaruh Jumlah Nilai Ekspor, Impor Dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Nilai Tukar dan Daya Beli Masyarakat Di Indonesia Studi Pada Bank Indonesia Periode Tahun 2006:IV-2015:III. Jurnal Administrasi Bisnis, 34, 115.

Setyorani, B. (2018). Pengaruh nilai tukar terhadap ekspor dan jumlah uang beredar di indonesia.

Forum Ekonomi, 20(1), 1. https://doi.org/10.29264/jfor.v20i1.3307

Sholehuddin, S. (2013). Analisis Pengaruh Kurs, Inflasi, Suku Bunga Indonesia, Harga Minyak Dunia dan Harga Emas Dunia Terhadap Ekspor Komoditi.

Silalahi, S. M., Iranto, D., & Dianta, K. (2021). The Effect of Exchange Rate and Inflation on Indonesian Exports in 1989-2019. Jurnal Pendidikan Ekonomi, Perkantoran Dan Akuntansi.

Sugiharti, L., Esquivias, M. A., & Setyorani, B. (2020). The Impact Of Exchange Rate Volatility On Indonesia’s Top Exports To The Five Main Export Markets. 1.

Suparmoko, M., & Irawan. (2002). Ekonomi Pembangunan (06 ed.). BPFEUGM.

Suparmono, D. (2018). Pengantar Ekonomi Makro (2nd ed.). Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN.

Syofya, H., Tinggi, S., Sakti, I. E., Kerinci, A., Sudirman No, J. J., Raya, P., & Penuh, S. (2022).

Model Persamaan Simultan Ekspor dan Inflasi Negara Malaysia. Journal on Education, 05(01), 547–554. https://jonedu.org/index.php/joe/article/view/647/496

Thuy, V. N. T., & Thuy, D. T. T. (2019). The Impact of Exchange Rate Volatility on Exports in Vietnam: A Bounds Testing Approach. Journal of Risk and Financial Management, 12, 1–14.

https://doi.org/10.3390/jrfm12010006

(30)

30

Tri Utami, A. (2019). Pengaruh Produksi, Harga Udang Ekspor, Gdp, Negara Tujuan Dan Jumlah Penduduk Negara Tujuan Terhadap Ekspor Udang Indonesia Periode 2006-2017. 1–138.

Tyas, H. P. (2022). Analisis Ekspor Indonesia Tahun 1990-2019. Jurnal Akuntansi, Bisnis Dan Keuangan, 2, 37–39.

Uzomba, Chika, P., Imoisi, Ilegbinosa, A., & Somiari. (2012). The Impact of Macroeconomic Variables on Non-Oil Exsports Perfomance in Nigeria, 1986-2010. 1(1), 1–17.

Wayan, N., Yanti, S. E., & Sudirman, W. (2017). Pengaruh Kurs Dollar Amerika Serikat, Inflasi, Dan Harga Ekspor Terhadap Nilai Ekspor Pakaian Jadi Indonesia. Ekonomi Pembangunan, 6(3), 362–386.

Wijaya, D., Handayani, S., & Lesmana, I. (2023). Analisis pertumbuhan ekonomi Indonesia, nilai tukar, inflasi, jumlah penduduk, dan pertumbuhan pdb terhadap nilai ekspor alas kaki Indonesia tahun 2005-2021. Accounting Cycle Journal, 4(1), 2721–6578.

Yudanto, D., Rochaida, E., & Priyagus. (2020). Pengaruh Pendapatan Perkapita Dan Inflasi Serta Suku Bunga Terhadap Konsumsi Rumah Tangga Makanan Dan Non Makanan Serta Pengaruhnya Terhadap Kesejahteraan Masyarakat. Jurnal Ekonomi Bisnis, 17, 289.

Yuliara, I. M. (2016). Regresi Linear Berganda.

Gambar

Gambar 4 Uji Autokorelasi
Gambar 6 Uji Koefisien Determinasi
Gambar 7 Uji Parsial  Uji T ( Parsial )

Referensi

Dokumen terkait

Secara parsial inflasi tidak berpengaruh terhadap ekspor makanan dan minuman, sementara kurs dollar Amerika Serikat dan Penanaman Modal Asing berpengaruh positif

Kedua, Hasil regresi menunjukkan Jumlah Uang Beredar berpengaruh negatif signifikan terha- dap Inflasi di Indonesia. Ketiga, Nilai Tukar berpengaruh positif signifikan

Hasil uji F dalam penelitian ini menyatakan bahwa Harga Minyak Dunia (X1), Inflasi (X2), dan Nilai Tukar (X3) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa secara parsial suku bunga, dan inflasi berpengaruh negatif namun tidak signifikan, sedangkan nilai tukar berpengaruh negatif

Dengan adanya penelitian ini menyatakan bahwa berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia yaitu ekspor dan nilai tukar rupiah , pihak

ekspor dalam jangka pendek berpengaruh positif tetapi tidak signifikan sedangkan. dalam jangka panjang berpengaruh negatif dan signifikan terhadap

a) Hasil penelitian parsial variabel Nilai Tukar terhadap Pertumbuhan Ekspor pada Negara di Perhimpunan MEA Tahun 2014-2018 memberikan hasil bahwa Nilai Tukar berpengaruh positif

Hasil uji F dalam penelitian ini menyatakan bahwa Harga Minyak Dunia (X1), Inflasi (X2), dan Nilai Tukar (X3) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan