ANALISIS PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH, DANA PERIMBANGAN, BELANJA MODAL DAN SISA LEBIH PERHITUNGAN
ANGGARAN TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH DI WILAYAH MALANG RAYA TAHUN 2003-2017
Anita Angelina
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Pendapatan Asli Daerah, dana perimbangan, belanja modal, dan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran terhadap Pertumbuhan Ekonomi daerah di Wilayah Malang Raya Tahun 2003-2017. Estimasi dilakukan dengan regresi data panel yang mengunakan eviews 10. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa PAD berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Pertumbuhan ekonomi, Dana perimbangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, Belanja modal berpengaruh positif dan signifkan terhadap pertumbuhan ekonomi, SiLPA berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah Malang Raya pada tahun 2003-2017
Kata kunci: Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, Belanja Modal, SiLPA, Pertumbuhan Ekonomi Daerah.
A. PENDAHULUAN
Pertumbuhan ekonomi antar daerah baik di Kota dan Kabupaten di Indonesia sangat beragam.Kota dan Kabupaten yang memiliki pendapatan tinggi dan independen akan mempunyai posisi yang lebih baik dari pada yang bergantung dari dana pemerintah pusat. Melalui otonomi daerah ini diharapkan bisa menjadi jembatan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah untuk efisiensi pelayanan publik yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta meningkatkan kesejahteraan penduduk melalui berbagai efek multiplier dari desentralisasi yang diharapkan bisa terwujud (Muchlas, 2018).
Provinsi Jawa Timur terdiri dari 29 Kabupaten dan 9 kota yang terletak di pulau jawa dan tidak terlepas dari masalah pertumbuhan ekonomi dan kesenjangan distribusi pendapatan. Setiap daerah mungkin mempunyai permasalahan yang sama akan tetapi Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan performa performa pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus dan mampu memaksimalkan sektor-sektor ekonomi yang memiliki nilai keunggulan kompetitif untuk dapat dikembangkan. Hal ini ditunjukkan dengan kondisi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dan Nasional.Berdasarkan Perda Provinsi Jawa Timur No. 2 Tahun 2006 terbentuklah 9 kawasan satuan wilayah pembangunan (SWP). Salah satu SWP yang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup baik ialah Malang Raya. Malang Raya terdiri atas Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu. Malang Raya juga turut adil atas pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di Provinsi Jawa Timur. Dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Malang Raya cukup baik dan relatif stabil, bahkan selama rentang waktu 2013-2017, Malang Raya memiliki pertumbuhan yang tinggi, bahkan di atas rata-rata laju pertumbuhan di Provinsi Jawa Timur dan Nasional.
Pertumbuhan ekonomi Kota Malang dan Kota Batu menggambarkan persamaan dalam pergerakan pertumbuhan ekonomi nya setiap tahunnya. Hal yang membedakan adalah pada tahun 2017 Kota Batu mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi sedangkan Kota Malang mengalami peningkatanpertumbuhan ekonomi dimana selama enam tahun terakhir, Kota Batu menjadi kota dengan pertumbuhan ekonomi yang selalu di atas rata-rata Provinsi Jatim. Disusul Kota Malang dengan pertumbuhan yang stabil tetap di atas rata-rata Provinsi selama tahun 2013
dan tahun 2015 – 2017. Adapun Kabupaten Malang memiliki pertumbuhan yang relatif sama dengan pergerakan pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur.Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan perekonomian daerah Malang Raya cenderung menurun setiap tahun nya.
Penerimaan Pendapatan Asli Daerah di wilayah Malang Raya pada tahun 2012-2017 selalu mengalami kenaikan di setiap tahunnya.Ini merupakan hasil yang baik buat pemerintah daerah di wilayah malang raya yang berusaha terus menerus meningkatkan pendapatan asli daerah dengan memperluas cakupan pungutan pajak dan retribusi, efisiensi biaya pemungutan dan penyempurnaan mekanisme pengelolaan keuangan daerah.Penerimaan dana perimbangan di wilayah Malang Raya pada tahun 2013-2017 selalu mengalami kenaikan di setiap tahunnya.
Kenaikan pendanaan ini akan menjadi positif jika pemerintah daerah menggunakan dan merealisasikan anggaran untuk membiayai pemenuhan kebutuhan public. Adanya fasilitas publik yang tersedia dengan lengkap dan nyaman akan mendorong investasi modal masuk ke daerah tersebut. Tidak dapat dipungkiri semakin tinggi nya kenyamanan dan kualitas pelayanan publik maka investor akan merasa nyaman dan merasa efisien dan efektif untuk menjalankan usahanya di daerah tersebut. Tidak hanya investor saja akan tetapi tinggi nya pelayanan publik seperti pelayanan di sektor pendidikan, kesehatan, dan transportasi membuat masyarakat dapat merasakan manfaat dari belanja modal yang digunakan untuk pembangunan di daerah tersebut
Belanja modal berkaitan erat dengan sisa lebih perhitungan anggaran. Hal tersebut dapat terjadi disetiap daerah apabila belanja modal yang sudah dianggarkan setiap tahunnya tidak terserap dengan baik sesuai program, sehingga akan menghasilkan sisa dana, Sisa lebih perhitungan anggaran di Wilayah Malang Raya setiap tahunnya ini meningkat
B. TINJAUAN PUSTAKA Teori Pertumbuhan Ekonomi
Teori Klasik berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu jumlah penduduk, jumlah barang modal, luas tanah dan kekayaan alam serta teknologi yang digunakan. Menurut teori ini, pada mulanya pertambahan penduduk akan menyebabkan kenaikan pendapatan perkapita. Namun jika jumlah penduduk terus bertambah maka hukum hasil lebih yang semakin berkurang akan mempengaruhi fungsi produksi yaitu produksi marginal akan mengalami penurunan, dan akan membawa pada keadaan pendapatan perkapita sama dengan produksi marginal.
Teori Harrord Domar Teori ini melengkapi teori Keynes, dimana Keynes melihatnya dalam jangka pendek (kondisi statis), sedangkan Harrod-Domar melihatnya dalam jangka panjang (kondisi dinamis). Teori Harrod-Domar didasarkan pada asumsi :
1. Perkonomian bersifat tertutup.
2. Hasrat menabung (MPS = s) adalah konstan.
3. Proses produksi memiliki koefisien yang tetap (constant return to scale).
4. Tingkat pertumbuhan angkatan kerja adalah konstan dan sama dengan tingkat pertumbuhan penduduk.
Teori Makro: Keterkaitan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Teori makro mengenai perkembangan pemerintah dikemukakan oleh AdolfWagner yang mengemukakan pendapatnya melalui teori mengenai perkembangan pengeluaran pemerintah yang menyatakan bahwa pengeluaran pemerintah dan kegiatan pemerintah semakin lama semakin meningkat. Dalam teori Peacock dan Wiseman didasarkan pada suatu analisis penerimaan pengeluaran pemerintah. Pemerintah selalu berusaha memperbesar pengeluarannya dengan memperbesar penerimaan melalui kebijakan pajak, padahal masyarakat tidak menyukai pembayaran pajak yang besar untuk membiayai pengeluaran pemerintah yang semakin besar tersebut. Meningkatnya penerimaan pajak menyebabkan pengeluaran pemerintah juga semakin meningkat.
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan Asli daerah merupakan salah satu sumber penerimaan daerah yang utama, oleh karenanya kemampuan melaksanakan ekonomi diukur dari besarnya kontribusi yang diberikan oleh Pendapatan Asli Daerah terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), semakin besar kontribusi yang dapat diberikan oleh Pendapatan Asli Daerah terhadap APBD berarti semakin kecil ketergantungan pemerintah daerah terhadap bantuan pemerintah
pusat. Kenyataanya, banyak daerah masih bergantung kepada pemerintah pusat, maka dari itu pemerintah daerah diharuskan untuk mampu menggali sumber-sumber penerimaan yang berasal dari daerahnya sendiri.
Dana Perimbangan
Menurut Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Pasal 1 ayat 18 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Dana Perimbangan diartikan sebagai dana yang bersumber dari pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
Peningkatan kebutuhan belanja pemerintah daerah dalam era otonomi ini memang seharusnya di atasi dengan peningkatan kinerja pemerintah daerah dalam menggali potensi pendapatan yang ada di daerahnya, akan tetapi, kebanyakan daerah memiliki tingkat kemandirian keuangan daerah yang rendah sehingga mengandalkan dana perimbangan.
Belanja Modal
belanja modal merupakan belanja pemerintah daerah yang manfaatnya melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan daerah dan selanjutnya akan menambah belanja yang bersifat rutin seperti biaya pemeliharaan pada kelompok belanja operasional.Belanja Modal yang dilakukan oleh pemerintah daerah seperti pembangunan dan perbaikan sektor pendidikan, kesehatan, transportasi membuat masyarakat menikmati manfaat dari pembangunan daerahnya.Investasi yang dilaksanakan pemerintah melalui belanja modal berkontribusi pada perekonomian regional.Dengan tersedianya infrastruktur yang baik diharapkan dapat menciptakan efisiensi dan efektifitas di berbagai sektor, produktifitas masyarakat diharapkan menjadi semakin tinggi dan pada gilirannya terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi.
Hipotesis
Berdasarkan kajian teori dan penelitian terdahulu yang telah dipaparkan, maka hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah:
H1 : Diduga Pendapatan Asli Daerah (PAD) berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan ekonomi daerah
H2 : Diduga Dana Perimbangan berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan ekonomi daerah
H3 : Diduga Belanja Modal berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan ekonomi daerah H4 : Diduga SiLPA berpengaruh tidak signifikan terhadap Pertumbuhan ekonomi daerah
C. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan lokasi penelitian di wilayah Malang Raya tahun 2007-2016. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder berupa data realisasi APBD Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu tahun 2007-2016. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
PEit = β0+ β1 PADit + β2 DAPERit+ β3 BMit+ β4 SiLPAit+ εt
Dimana:
PE = Laju Pertumbuhan Ekonomi β0 = Konstanta
i = daerah ke
t = tahun pengujian (2003, 2004, 2005, ..., 2017) β1 = Koefisien regresi PAD
β2 = Koefisien regresi Dana Perimbangan β3 = Koefisien regresi Belanja Modal β4 =Koefisien regresi SiLPA
ε = kesalahan pengganggu (error of term)
Uji signifikasi variabel bebas dilihat dengan melihat tabel hasil regresi. Jika nilai probabilitasnya dibawah 5% dan 10% maka variabel bebas tersebut berpengarug signifikan terhadap variabel terikat.
D. PEMBAHASAN
Pada bagian ini akan dipaparkan uraian hasil penelitian dan pembahasan mengenai PAD, Dana Perimbangan, Belanja Modal dan SiLPA terhadap pertumbuhan Ekonomi Daerah.
Pertumbuhan Ekonomi (Y)
Variabel Pertumbuhan Ekonomi diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam bentuk persen yang diteliti dari tahun 2003 sampai tahun 2017 disajikan pada gambar dibawah ini:
Gambar 1: Pertumbuhan Ekonomi wilayah Malang Raya Tahun 2003 – 2017
Sumber: Badan Pusat Statistik Kab.Malang, Kota Malang, Kota batu, 2019 (diolah)
Berdasarkan Gambar diatas dapat dilihat bahwa laju pertumbuhan ekonomi Wilayah Malang Raya dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2017 menunjukkan peningkatan setiap tahunnya terlihat bahwa Kota Batu yang baru berdiri tahun 2001 masih menjadi daerah dengan nilai laju pertumbuhan ekonomi terbesar dibanding daerah lain, disusul oleh daerah Kota Malang dan Kabupaten Malang.
Pendapatan Asli Daerah (X1)
Variabel PAD diperoleh dari Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) yang diteliti dari tahun 2003 sampai tahun 2017 disajikan pada gambar dibawah ini:
Gambar 2: PAD wilayah Malang Raya Tahun 2003 – 2017
Sumber:DJPK Kab.Malang, Kota Malang, Kota Batu, 2019 (diolah)
Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Wilayah Malang Raya setiap tahunnya mengalami perkembangan yang positif dan menggambarkan kondisi yang baik dari tahun 2003-2017,
0 1 2 3 4 5 6 7 8
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
Kab Malang Kota Malang Kota Batu
- 100,000.00 200,000.00 300,000.00 400,000.00 500,000.00 600,000.00 700,000.00 800,000.00
2003 2005 2007 2009 2011 2013 2015 2017 Kab Malang Kota Malang Kota Batu
menunjukan peningkatan di setiap tahunnya dalam komposisi PAD masing – masing daerah. Pada tahun 2017 dengan nilai rata-ratanya adalah Rp 493,671.44 (Dalam milar rupiah) dengan PAD tertinggi dicapai oleh Kabupaten Malang.
Dana Perimbangan (X2)
Variabel Dana Perimbangan diperoleh dari Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) yang diteliti dari tahun 2003 sampai tahun 2017 disajikan pada gambar dibawah ini:
Gambar 3: DAPER wilayah Malang Raya Tahun 2003 – 2017
Sumber:DJPK Kab.Malang, Kota Malang, Kota Batu, 2019 (diolah)
Jumlah dana perimbangan dalam keuangan daerah pemerintah Kabupaten/ Kota di Malang Raya yang setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan yaitu mulai dari tahun 2003 – 2017. Dana perimbangan yang paling tertinggi dicapai oleh Kabupaten Malang.
Belanja Modal (X3)
Variabel Belanja Modal diperoleh dari Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) yang diteliti dari tahun 2003 sampai tahun 2017 disajikan pada gambar dibawah ini:
Gambar 4: Belanja Modal wilayah Malang Raya Tahun 2003 – 2017
Sumber:DJPK Kab.Malang, Kota Malang, Kota Batu, 2019 (diolah)
Menurut Adolf wagner, perkembangan pengeluaran pemerintah sejalan dengan capaian pendapatan dari suatu negara. Hal ini juga dialami oleh Wilayah Malang Raya dimana total pengeluaran pemerintah terus meningkat sepanjang tahun.Belanja modal pada kab/kota Malang Raya mengalami peningkatan dari tahun 2003 ke tahun 2017
0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
Kab Malang Kota Malang Kota Batu
0 100000 200000 300000 400000 500000 600000 700000 800000
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
Kab Malang Kota Malang Kota Batu
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (X4)
Variabel SiLPA diperoleh dari Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) yang diteliti dari tahun 2003 sampai tahun 2017 disajikan pada gambar dibawah ini:
Gambar 5: SiLPA wilayah Malang Raya Tahun 2003 – 2017
Sumber: DJPK Kab.Malang, Kota Malang, Kota Batu, 2019 (diolah)
Penerimaan masih didominasi oleh SiLPA tahun lalu, namun besarnya SiLPA tahun lalu di Kabupaten Malang dan Kota Batu perkembangannya cenderung mengalami penurunan rata-rata per tahun, sedangkan Kota Malang selalu mengalami peningkatan di setiap tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa penyusunan perencanaan pembangunan di Wilayah Malang Raya membaik.
Hasil Estimasi Model Regresi Panel
Berdasarkan uji spesifikasi model, model yang paling baik untuk diestimasi adalah model Fixed Effect. Berikut ini adalah hasil estimasi model regresi panel tersebut :
Tabel 1: Hasil Regresi Panel
Variabel Coefficient Prob.
C -6.813755 0.0712
LN_PAD -0.551534 0.0252
LN_DAPER 0.834102 0.0743
LN_BM 0.417105 0.0225
LN_SiLPA 0.082242 0.6722
R-Squared 0.646542 Sumber: Eviews diolah, 2019
Berdasarkan variabel yang digunakan persamaan regresi menjadi:
Y = -6.813755 – 0.551534X1 + 0.834102X2 + 0.417105X3 + 0.082242X4 Pengaruh Pendapatan Asli Daerah terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Variabel PAD menunjukkan pengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan ekonomi daerah dengan nilai probabilitas 0.0252< 0.05, yang artinya peningkatan atau penurunan PAD berpengaruh untuk pertumbuhan ekonomi daerah di wilayah Malang Raya.Pengaruh yang diberikan bernilai negatif sebesar -0.551534. Hasil ini tidak sesuai dengan teori dan hipotesis
Di Malang raya hubungan antara PAD dan pertumbuhan ekonomi tersebut mengarah ke hubungan negatif karena daerah terlalu ofensif dalam upaya meningkatkan penerimaan daerahnya.
Sebagaimana diketahui, belakangan ini banyak pihak, khususnya dunia usaha, yang mengeluhkan soal begitu banyaknya pajak atau retribusi yang justru menekan daya saing daerah.
0 100000 200000 300000 400000 500000
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
Kab Malang Kota Malang Kota Batu
Dari sumber yang terlihat bahwa penarikan pajak dan retribusi daerah justru berakibat pada output daerah yang tercermin pada PDRB yang dihasilkan berbagai sektor pendapatan di Kabupaten/Kota tidak berjalan secara maksimal.Ini juga menunjukkan bahwa pemerintah daerah belum sepenuhnya menjalankan dengan baik. Selain itu masih kurangnya pemerintah daerah dalam menggali potensi daerah, seharusnya dengan mengetahui potensi yang ada di daerah tersebut pemerintah daerah dapat menghimpun danapendapatan untuk menunjang sektor yang berpotensi mengangkat perekonomian daerah tersebut.
Pengaruh Dana Perimbangan terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Pengujian signifikansi variabel dana perimbangan menghasilkan nilai probabilitas sebesar 0,0743< 0,10 atau berpengaruh secara signifikan pada α 10% terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di wilayah malang raya. Besarnya pengaruh dana perimbangan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah ditunjukkan oleh nilai koefisien dari variabel dana perimbangan yaitu 0.834102 yang artinya jika ada peningkatan dana perimbangan yang didistribusikan sebesar 1 persen, maka peluang pertumbuhan ekonomi daerah meningkat sebesar 0.834102 persen.
Dana perimbangan seperti DAU di Pemerintah Kota Malang memilki program untuk menekan angka kemiskinan seperti bedah rumah, pelatihan, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat, salah satu contohnya adalah pemberdayaan masyarakat di Kampung Warna-Warni.
Pemerintah Kabupaten Malang juga melakukan beberapa program untuk mengatasi masalah kemiskinan, yaitu salah satunya berupa pemberian bantuan langsung tunai kepada warganya yang miskin. DAK di pemerintahan Kota Batu juga memberikan bantuan bagi sektor pendidikan yaitu bantuan untuk renovasi bangunan sekolah-sekolah yang kurang layak untuk digunakan kegiatan belajar mengajar.
Semakin tinggi dana perimbangan yang diterima maka akan semakin tinggi pertumbuhan ekonomi. Demikian pula sebaliknya ketika dana perimbangan yang ada dalam kondisi buruk, maka kondisi pertumbuhan ekonomi juga akan rendah.
Pengaruh Belanja Modal terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Berdasarkan hasil regresi, variabel belanja modal menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dengan nilai probabilitas 0.0225< 0,05, yang artinya perubahan belanja modal berpengaruh terhadap Pertumbuhan ekonomi daerah di wilayah malang raya. Pengaruh yang diberikan bersifat positif sebesar0.417105.
Penggunaan belanja daerah yang diutamakan untuk belanja modal akan sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi sebagaimana teori klasik yang menyatakan bahwa salah satu pembentuk pertumbuhan ekonomi adalah adanya akumulasi modal, hasil penelitian tersebut didukung oleh beberapa kemajuan-kemajuan di Wilayah Malang Raya. Salah satu contohnya adalah perbaikan-perbaikan jalan yang dilakukan di daerah yang sudah menunjukkan kemajuan menjadi lebih baik dan layak untuk digunakan masyarakat. Begitu pula yang terjadi di Kota Malang, terdapat beberapa daerah yang mengalami pelebaran jalan raya guna untuk mengurangi kemacetan di Kota Malang. Hal tersebut membuktikan bahwa pengalokasian belanja modal digunakan dengan baik untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Wilayah Malang Raya salah satunya untuk perbaikan dan pelebaran jalan untuk warga Malang Raya.
Pengaruh SiLPA terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Variabel SiLPA menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan terhadap Pertumbuhan ekonomi daerah dengan nilai probabilitas 0.6722> 0,05 dan 0,10 yang artinya peningkatan atau pengurangan SiLPA tidak berpengaruh terhadap Pertumbuhan ekonomi daerah.
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) yang berasal dari sisa anggaran yang belum digunakan atau dimanfaatkan oleh pemerintah daerah merupakan salah satu variabel yang bisa menjadi penghambat dalam pembangunan ekonomi karena dengan adanya peningkatan SiLPA ini memiliki pengaruh secara langsung menghambat laju pertumbuhan ekonomi yang dikarenakan semakin tinggi dana yang mengendap di rekening kas daerah, maka pertumbuhan ekonomi akan terhambat karena tidak adanya pembangunan oleh pemerintah daerah.
Permasalahan ini juga harus menjadi pusat perhatian pemerintah khususnya di daerah agar penggunaan anggaran dapat tepat waktu dan tepat sasaran agar Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) terus menurun dan penggunaan anggaran tersebut tentunya memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi daerah program dan kegiatan yang telah direncanakan.
SiLPA tahun 2015 menyimpulkan bahwa peningkatan besaran SiLPA salah satunya disebabkan
belanja yang tidak terserap lebih dominan dibanding dengan pelampauan pendapatannya. SiLPA di Malang Raya diakibatkan karena banyak program dan pembangunan yang belum terlaksanakan, SiLPA ini lebih diperuntukan untuk belanja tidak langsung bukan untuk belanja modal yang nantinya jika diperuntukan untuk belanja modal memunginkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut, dan faktor lainnya seperti pelampauan penerimaan PAD dan adanya efisiensi belanja pemerintah yang terlalu jauh dari target yang ditetapkan.
E. PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis pembahasan, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pertumbuhan ekonomi mengarah ke hubungan negatif karena daerah terlalu ofensif dalam upaya meningkatkan penerimaan daerahnya. Sebagaimana diketahui, belakangan ini banyak pihak, khususnya dunia usaha, yang mengeluhkan soal begitu banyaknya pajak atau retribusi yang justru menekan daya saing daerah, sehingga semakin rendah pertumbuhan ekonomi yang akan terjadi, sehingga apabila pemerintah ingin meningkatkan pertumbuhan ekonominya maka pemerintah perlu mengetahui potensi-potensi yang ada di daerah tersebut, dan menghimpun berbagai pungutan.
2. Dana perimbangan yang cukup tinggi untuk keperluan pengeluaran pemerintah akan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
3. Dengan adanya belanja modal yang dilakukan pemerintah daerah maka akan dapat menarik minat investor untuk berinvestasi yang nantinya akan menambah jumlah investasi daerah dan pada gilirannya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dan kemajuan-kemajuan di Wilayah Malang Raya. Salah satu contohnya adalah perbaikan-perbaikan jalan yang dilakukan di daerah Malang Raya yang sudah menunjukkan kemajuan menjadi lebih baik dan layak untuk digunakan masyarakat.
4. SiLPA yang menganggur dalam rekening kas daerah akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi di wilayah malang raya. Di wilayah malang raya tahun 2003-2017 nilai SiLPA terus mengalami peningkatan, yang artinya masih banyak daerah yang belum mampu mengoptimalkan realisasi belanja pemerintahannya, yang secara otomatis berdampak terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi daerah di wilayah malang raya
Saran
1. Bagi pemerintah daerah untuk dapat memaksimalkan penerimaan daerah yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan menggali potensi daerahnya sebagai sumber pendapatan daerah agar kesejahteraan masyarakat semakin meningkat.
2. Meningkatkan efektivitas penggunaan dana perimbangan pemerintah dengan memaksimalkan penggunaan tersebut dalam membiayai belanja daerahyang berhubungan dengan kepentingan public seperti perbaikan infrastruktur, sarana dan prasarana atau fasilitas-fasilitas public lainnya yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
3. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) seharusnya digunakan sebijak mungkin untuk meningkatkan pengadaan infrastruktur, sarana dan prasarana publik yang akan meningkatkan produktivitas publik dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah
DAFTAR PUSTAKA
Adi, Priyo Hari. 2005. Dampak Desentralisasi Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Jurnal Interdispliner Kritis UKSW
Ahmad, Yani. 2002. Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Jakarta:
Grafindo.
Akai, Nobuo dan Sakata, Masayo. 2002. Fiscal Decentralization Contributes to Economic Growth: Evidence From State Level Cross Section Data For The United States. Journal of Urban Economics, Vol. 52, 93 – 108
Barro, Robert J., dan Xavier, Sala-i-Martin. 1995. “Economic Growth”. New York: Mc Graw Hill.
Blakely, E.J., dan Bradshaw, T. K. 2002. “Planning Local Economic Development: Theory and Practice, 3 rd Edition”. Sage Publications, Inc. California.
Boediono. 2012. Teori Pertumbuhan Ekonomi, Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE
Case, Karl E & Ray, C. Fair. 2007. Prinsip-Prinsip Ekonomi, Edisi Kedelapan, Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. 2019. http://djpk.depkeu.go.id/ diakses pada tanggal 1 Maret 2019
Dumairy. 2000. Perekonomian Indonesia. Jakarta: Erlangga Gujarati, Damodar. 2003. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Erlangga.
Gujarati, Damodar. 2012. Dasar-Dasar Ekonometrika. Buku 2, Edisi 5. Jakarta: Salemba Empat Halim, Abdul. 2008. Analisis Investasi (Belanja Modal) Sektor Publik Pemerintahan Daerah.
Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
http://tirto.id/kpk-tetapkan-19-tersangka-baru-suap-apbd-malang-termasuk-wali-kota-cGw2.
Diakses pada tanggal 10 Mei 2019.
Iskandar, Maolana Amir. (2012). Pengaruh Belanja Modal, Dana Perimbangan dan Kemandirian Fiskal terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah. (Studi empiris pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Pulau Jawa Periode 2006-2010. Skripsi. Sarjana Ekonomi pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Kusaini.2006. Ekonomi Publik: Desentralisasi Fiskal dan Pembangunan Daerah. BPFE Unibraw. Malang
Kuncoro, Haryo. (2004). Pengaruh Transfer Antar Pemerintah pada Kinerja Fiskal Pemerintah Daerah Kota dan Kabupatendi Indonesia. Vol. 9, No. 1
Kuncoro, Mudrajad. 2014. Otonomi Daerah: Menuju Era Baru Pembangunan Daerah Edisi 3.
Jakarta: Erlangga
Mahmudi. 2010. Manajemen Keuangan Daerah. Jakarta: Erlangga.
Mankiw, Gregory. 2007. Makroekonomi, Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.
Mankiw, N.G. 2013. Macroeconomics, 8 th Edition. New York: Worth Publisher.
Mangkoesoebroto, G,2008, Ekonomi Publik Edisi Ketiga, Yogyakarta: BPPE.
Novandy ,Andrie, M. P, Anhulaila dan Ridwan. PENGARUH BELANJA LANGSUNG DAN SISA LEBIH PERHITUNGAN ANGGARAN (SiLPA) TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI (Survei Pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Tengah). Jurnal Katalogis, Volume 3 Nomor 9, September 2015 hlm 147-158
Sekretariat Negara RI. 2004. Penjelasan UU No. 32 Tahun 2004 Pemda Jakarta.
Simamora, Sihan. 2014. Pengaruh Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA), Penerimaan dan Pengeluaran Pembiayaan Terhadap Belanja Daerah Dalam Perspektif Teoritis. Medan:
Universitas Sumatera Utara.
Situs resmi Badan Pusat Statistik (BPS). 2019. http://bps.go.id diakses pada tanggal 5 Maret 2019.
Situs resmi Kabupaten Malang. 2018. http://malangkab.go.id diakses pada tanggal 20 Maret 2019.
Situs resmi Kota Batu. 2018. http://batukota.go.id diakses pada tanggal 20 Maret 2019.
Situs resmi Kota Malang. 2018. http://malangkota.go.id diakses pada tanggal 20 Maret 2019.
UU RI No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Sekretaris Negara. Jakarta
UU RI No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah. Sekretaris Negara. Jakarta.
UU RI No. 34 Tahun 2000 Tentang Otonomi Daerah. Sekretaris Negara. Jakarta.
Todaro, Michael P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jakarta: Erlangga Widjaja, HAW. 2002. Otonomi Daerah dan Daerah Otonom. Jakarta: Salemba Empat.
Winarno, W.W. (2007). Analisis ekonometrika dan statistika dengan eviews. Unit Penerbit dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen. Yogjakarta: