• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis penggunaan antibiotik dengan metode atc/ddd

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "analisis penggunaan antibiotik dengan metode atc/ddd"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 40-62% antibiotik disalahgunakan untuk penyakit yang tidak menggunakan antibiotik, kualitas penggunaan antibiotik di rumah sakit penelitian menunjukkan bahwa 30% hingga 80% tidak berdasarkan indikasi (Putra et al, 2021) . . Setiap tahun di Amerika Serikat, lebih dari 2,8 juta orang mengembangkan infeksi kebal antibiotik, mengakibatkan lebih dari 35.000 kematian. Penggunaan antibiotik di negara berkembang sangat tinggi, karena penyakit infeksi masih menjadi masalah kesehatan utama (WHO, 2019).

AMR di Indonesia dengan perkiraan populasi 258 juta orang dan merupakan negara terpadat keempat di dunia dalam kategori negara berpenghasilan menengah ke bawah (Parathon H, 2017). Selain itu, pada tahun 2013 WHO melaporkan angka kematian akibat resistensi bakteri mencapai 700.000 orang per tahun, angka kematian ini diperkirakan akan terus meningkat menjadi 10 juta orang per tahun pada tahun 2050 (Ambarwati et al, 2018). Metode DU 90% merupakan metode yang menunjukkan pengelompokan obat yang masuk dalam kategori penggunaan tinggi 90%, evaluasi obat yang masuk dalam kategori 90% digunakan untuk menekan segmen obat dalam hal evaluasi, kontrol penggunaan. 90% Du dan perencanaan pengadaan obat (Mahmudah, 2016).

Menurut penelitian yang dilakukan di Puskesmas X Kota Jambi didapatkan nilai DDD tertinggi yaitu amoksisilin dengan 45,13 DDD/1000 CPRJ pada tahun 2017 dan 2018 yaitu 46,27 DDD/1000 CPRJ. Perdaka, Wahyu, dkk, 2020). Di Puskesmas Kebun Handi Jambi periode tahun 2018 nilai DDD amoksisilin sebesar 45.504 DDD/1.000 CPRJ dan periode tahun 2019 sebesar 35.236 DDD/1.000 CPRJ, antibiotik segmen DU sebesar 90% untuk amoxicillin dan ciprofloxacin periode 2018, sedangkan pada periode 2019 terjadi penambahan antibiotik yang pada segmen DU sebesar 90% yaitu amoxicillin, ciprofloxacin dan cefadroxil (Andriani, Yuni et al, 2020).

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Bagi peneliti

Bagi Puskesmas

Bagi institusi

TINJAUAN PUSTAKA

  • Antibiotik
    • Definisi Antibiotik
    • Penggolongan Antibiotik
    • Macam-Macam Terapi Antibiotik
    • Resistensi Antibiotik
  • Metode ATC/DDD
    • ATC (Anatomical Therapeutic Chemical)
    • Unit Pengukuran DDD
    • Drug Ultilzation 90%
  • Profil Puskesmas
    • Definisi Puskesmas
    • Fungsi Puskesmas
    • Kategori Puskesmas
    • Profil Puskesmas Arut Selatan
    • Visi dan Misi Puskesmas Arut Selatan
  • Studi Penelitian Yang Relevan

Sebagai contoh, beberapa bakteri yang resisten terhadap sulfonamida tidak memerlukan PABA ekstraseluler tetapi, seperti sel mamalia, dapat menggunakan asam folat yang telah dibentuk sebelumnya. Misalnya, beberapa bakteri yang sensitif terhadap sulfonamida, sintetase dihidropteroat, memiliki afinitas yang jauh lebih tinggi terhadap sulfonamida daripada PABA. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2019, Puskesmas adalah pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan tingkat pertama dan upaya kesehatan perorangan yang lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif. di wilayah kerjanya.

Pelayanan kesehatan adalah upaya yang diberikan Puskesmas kepada masyarakat yang meliputi perencanaan, evaluasi, pencatatan dan pelaporan yang dituangkan dalam sistem (Permenkes, 2019). Dilihat dari sistem pelayanannya, maka peran dan kedudukan Puskesmas sebagai sistem pelayanan kesehatan terdepan di Indonesia adalah dapat memberikan manfaat yang besar dalam pembangunan kesehatan dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal, sehingga dapat terwujud keadaan sehat. Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di masyarakat, pemerintah menetapkan bahwa pelayanan kesehatan harus mengalami peningkatan mutu (Wowor, Hetmi et al, 2016). Memberikan pelayanan kesehatan keluarga, kelompok, dan masyarakat dengan mempertimbangkan faktor biologis, psikologis, sosial, budaya, dan spiritual.

Kerjasama dengan puskesmas dan rumah sakit tingkat pertama di wilayah kerjanya melalui koordinasi sumber daya kesehatan di wilayah kerja Puskesma. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar secara komprehensif, berkelanjutan, bermutu dan holistik yang memadukan faktor biologis, psikologis, sosial dan budaya dengan mengedepankan hubungan dokter-pasien yang erat dan setara. Organisasi pelayanan kesehatan yang berpusat pada individu, berfokus pada keluarga dan berorientasi pada kelompok dan masyarakat.

Koordinasi dan kerjasama dengan institusi medis di bidang pekerjaannya, sesuai dengan ketentuan hukum. Memiliki fasilitas kota antara lain sekolah dalam jarak 2,5 km, pasar dalam jarak 2 km, rumah sakit dalam jarak kurang dari 5 km atau hotel. Pelayanan UKP diselenggarakan oleh Puskesmas dan fasilitas kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau masyarakat.

Memiliki fasilitas antara lain sekolah dengan radius lebih dari 2,5 km, pasar dan perkotaan dengan radius lebih dari 2 km, rumah sakit dengan radius lebih dari 5 km dan belum ada fasilitas berupa hotel. Pelayanan UKM dan UKP dapat diimplementasikan dalam model klaster/klaster pulau dan/atau pelayanan kesehatan keliling untuk meningkatkan aksesibilitas. Puskesmas Rumah Sakit adalah Puskesmas yang terletak di daerah pedesaan, daerah terpencil, daerah sangat terpencil, jauh dari fasilitas kesehatan rujukan lanjutan, yang mempunyai tambahan sumber daya sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan untuk menyelenggarakan pelayanan rumah sakit bagi pelayanan kesehatan lainnya, mis. sebagai layanan persalinan normal sesuai dengan ketentuan hukum (Permenkes, 2019).

Pada tahun 2010 Puskesmas Arut Selatan mendapatkan sertifikat ISO, pada tahun 2017 Puskesmas Arsel pertama kali terakreditasi 9001:2008 di Kalimantan Tengah. Terwujudnya kemandirian masyarakat Hidup Sehat di wilayah kerja Puskesmas Arut Selatan yang Sejahtera, Adil dan Jaya.

KERANGKA KONSEPTUAL DAN KERANGKA EMPIRIS

Kerangka konseptual

Kerangka Empiris

Pengambilan data penggunaan antibiotik untuk pasien rawat inap dari resep obat pasien, buku register rawat jalan dan LPLPO (Laporan Penggunaan dan Lembar Permintaan Obat) Unit Farmasi Puskesmas Arut Selatan dan pengambilan data jumlah kunjungan rawat jalan tahun 2021. Penggunaan antibiotik DDD/1000 CPRJ tertinggi kedua adalah Amoksisilin 44,014 DDD/1000 CPRJ dengan diagnosis terbanyak pulpa dan jaringan periapikal serta infeksi saluran napas. Penggunaan antibiotik tertinggi keempat adalah Ciplofloxacin 13.461 DDD/1000 KPRJ, antibiotik ini memiliki spektrum pengobatan yang luas untuk infeksi serius dan aman digunakan pada dosis rendah dengan durasi singkat.

Diagnosis antibiotik yang paling sering digunakan adalah infeksi saluran kemih (ISK), yaitu infeksi yang terjadi pada ureter dan ginjal akibat adanya mikroorganisme patogen yang berkembang biak dan bertambah jumlahnya. Banyaknya variasi antibiotik menyebabkan rentannya terjadinya resistensi antibiotik dalam penggunaan. Tingginya penggunaan antibiotik seharusnya mengendalikan resistensi dengan cara mengontrol penggunaan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat menyebabkan kegagalan pengobatan dan laju munculnya resistensi meningkat (Ridwan, et al. 2019). Harus ada studi kualitatif tentang rasionalitas penggunaan antibiotik, terutama antibiotik yang termasuk dalam segmen DU 90%.

Perlunya penelitian yang lebih akurat mengenai jumlah penggunaan antibiotik dengan pola infeksi di Puskesmas Ariut Selatan. Evaluasi penggunaan antibiotik dengan metode ATC/DDD dan 90% DU di Puskesmas Kebun Handil Kota Jambi periode tahun 2018 dan 2019. Kajian penggunaan antibiotik berdasarkan ATC/DDD dan 90% DU di bagian bedah pencernaan kota Bandung RSUD.

Analisis Penggunaan Antibiotik pada Pasien Bedah di RSUD Dr. Banting Martodirjo Pamekasan dengan metode ATC/DDD. Penilaian penggunaan antibiotik menggunakan metode ATC/DDD dan DU 90% di dua Puskesmas Kota Jambi periode 2017-2008. No Nama Pasien Umur L/P Diagnosis Jenis Antibiotik Nama Antibiotik Jumlah Antibiotik Dosis Antibiotik Lama Pemberian Antibiotik Dosis Kekuatan Dosis Bentuk Sediaan.

METODOLOGI PENELITIAN

Waktu Dan Lokasi Penelitian

  • Waktu Penelitian
  • Tempat Penelitian

Sumber data diperoleh dari resep obat pasien, buku register rawat jalan dan LPLPO (Laporan Penggunaan dan Lembar Permintaan Obat) dari Unit Farmasi Puskesmas Arut Selatan tahun 2021.

Desain Penelitian

Variabel Penelitian

  • Variabel Independen (variabel bebas)
  • Variabel Dependen (variabel terikat)

Populasi, Sampel dan Sampling

  • Populasi
  • Sampel
  • Sampling

Kerangka Kerja

Instrumen Penelitian

Definisi Operasional

Jenis antibiotik yang telah dikonversi menurut ATC/DDD diurutkan berdasarkan besaran nilai DDD mulai dari nilai terbesar hingga terkecil.

Teknik pengumpulan data

Analisis data

Etika Penelitian

Penggunaan antibiotik ke-7 sefiksim dengan 0,550 DDD/1000 CPRJ, mekanisme kerja antibiotik ini menghambat sintesis dinding sel yang berikatan dengan satu atau lebih, dapat menghambat proses trans peptidasi dalam sintesis peptidoglikan di dinding sel (Sugiharto et. al, 2016). Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti penggunaan antibiotik yang gratis, kemiskinan dan kurangnya pengetahuan (Valzon, 2021).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Hasil Penelitian

  • Jumlah Kunjungan Pasien Rawat Jalan
  • Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin
  • Karakteristik Pasien Berdasarkan Diagnosa Penyakit

Jumlah kunjungan ke Puskesmas Arut Selatan pada tahun 2021 sebanyak 13.532 orang dengan rata-rata jumlah kunjungan per hari pada tahun 2021 sebanyak 30-40 orang. Data yang diperoleh untuk kunjungan rawat jalan meliputi data seluruh kunjungan pasien yang digunakan untuk menghitung DDD/1000 KPRJ dan jumlah kunjungan rawat jalan yang digunakan untuk analisis penggunaan obat antibiotik pada tahun 2021. Untuk pasien rawat jalan di Puskesmas Arut Selatan Januari - Desember 2021 didapatkan 411 resep sesuai dengan kriteria inklusi.

Berdasarkan tabel 5.1 resep terapi antibiotik rawat jalan mencapai 40,95% yaitu 441 dari total 1077 resep. Pada penelitian Diana persentase antibiotik yang diresepkan sebesar 45,52%, sedangkan pada penelitian Annisa sebesar 51,64%. Berdasarkan tabel 5.2 diketahui bahwa sebagian besar pasien yang mendapatkan terapi antibiotik adalah wanita, wanita memiliki resiko tinggi untuk sering terkena infeksi dibandingkan pria karena wanita rentan terhadap penurunan imunitas tubuh, terdapat perbedaan antara wanita dan pria dalam ekspresi gen dimana pria memiliki ekspresi gen yang lebih tinggi, lebih dari perempuan, inilah sebabnya perempuan sering terinfeksi (Ingersol, 2017).

Berdasarkan tabel 5.3, kategori umur yang paling banyak mendapat terapi antibiotik di Puskesmas Arut Selatan tahun 2021 adalah kelompok umur 26-35 tahun. Diagnosis penyakit merupakan hasil penetapan penyakit yang diderita pasien (Permana et al, 2018). Berdasarkan tabel 5.4 diketahui bahwa jumlah penyakit terbanyak di Puskesmas Arut Selatan pada tahun 2021 adalah penyakit jaringan pulpa dan periapikal.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2011, penyakit pulpa dan jaringan periapikal termasuk dalam sepuluh besar penyakit tertinggi pada pasien rawat jalan di rumah sakit umum di Indonesia (Kemenkes 2012). Penyakit jaringan pulpa dan periapikal disebabkan oleh bakteri karies gigi cocci gram positif seperti stapylococcus, Streptococcus sanguis dan Streptococcus mutans. Bakteri tersebut menghasilkan toksin yang akan masuk ke dalam pulpa melalui tubulus, sehingga jaringan pulpa menjadi meradang pada tubulus, jika pulpa terbuka maka jaringan pulpa akan diinfiltrasi secara lokal oleh leukosit polimorfonukleus, sehingga terbentuk nekrosis pulpa.

Virus ini berhubungan dengan infeksi pernafasan menggunakan sel epitel dan mukosa pernafasan sebagai target utama dan menyebabkan infeksi pernafasan atau kerusakan organ. Coronavirus adalah virus RNA rantai tunggal dan positif milik keluarga Coronaviridae yang dibagi menjadi subfamili menurut karakteristik serotipe dan genotipe yang meliputi α, β, γ dan δ. Diagnosa tertinggi ketiga adalah ISPA dengan terbanyak faringitis akut, faringitis akut adalah peradangan yang terjadi pada selaput lendir faring, paling sering infeksi akut orofaring yaitu tonsil faringitis akut, faringitis akut yang disebabkan oleh virus (adenovirus, rhinovirus dan blue herpes), jamur (Candida), bakteri (Chlamydia, Corynebacterium diphthriae) dan iritasi makanan dapat merangsang faktor pencetus atau memperburuk penyakit (Depkes RI, 2008). Diagnosis tertinggi keempat adalah abses kulit, bisul dan karbunkel yang merupakan bagian dari penyakit kulit dan diagnosis jaringan subkutan.

Tabel  5.  2  Jumlah  Pasien  Berdasarkan  jenis  kelamin  di  Puskesmas  Arut  Selatan tahun 2021
Tabel 5. 2 Jumlah Pasien Berdasarkan jenis kelamin di Puskesmas Arut Selatan tahun 2021

Profil Penggunaan Obat Antibiotik Berdasarkan Klasifikasi ATC/DDD

  • Penggunaan Golongan Antibiotik Yang Digunakan Berdasarkan Klasifikasi

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

Gambar

Gambar 3. 1. Kerangka Konseptual
Gambar 4. 1 Kerangka kerja Populasi
Tabel 5. 1 Persentase peresepan antibiotik pasien rawat jalan Puskesmas Arut  Selatan tahun 2021
Tabel  5.  3  Karakteristik  Berdasarkan  Rentang  Usia  di  Puskesmas  Arut  Selatan tahun 2021
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis antibiotik dan kuantitas penggunaan antibiotik pada pasien infeksi saluran kemih rawat inap di RSU Kartini Jepara tahun

Data yang dikumpulkan berupa nama, bentuk, jumlah kunjungan dan jumlah penggunaan antibiotik yang diolah menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical (ATC) yang

Beberapa istilah infeksi saluran kemih yang sering dipergunakan di dalam klinik ialah: (Walker dan Edwards, 2006). 1) Significant bacteriuria : didefinisikan sebagai

Evaluasi penggunaan antibiotik dengan metode ATC/DDD diperoleh nilai total DDD/100 hari rawat inap sebesar 83,25 dan antibiotik yang memiliki nilai DDD/100 hari rawat inap

Jumlah infeksi nosokomial yang disebabkan oleh Acinetobacter semakin meningkat dan seringkali sangat sulit bagi dokter untuk mengobati karena resistensi yang luas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya penggunaan chloramphenicol yang sesuai dengan standar pelayanan medis rumah sakit, sedangkan antibiotik lain yang digunakan

Dari hasil penelitian ditemukan antibiotik yang banyak digunakan adalah Levofloksasin dengan jumlah penggunaan sebesar 53,88 DDD/100 patient-days yang dapat diartikan

Dalam pemberian antibiotika pada penderita pneumonia sebaiknya berdasarkan data MO (mikroorganisme) dan hasil uji kepekaannya, akan tetapi beberapa hal perlu