• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Analisis Perbandingan Prediksi Financial Distress Pada Bank Umum Syariah di Indonesia dan Malaysia Periode 2017-2021 Menggunakan Metode Altman Z-Score Modifikasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of Analisis Perbandingan Prediksi Financial Distress Pada Bank Umum Syariah di Indonesia dan Malaysia Periode 2017-2021 Menggunakan Metode Altman Z-Score Modifikasi"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Journal of Applied Islamic Economics and Finance

Vol. 3, No. 3, June 2023, pp. 531 – 540

https://doi.org/10.35313/jaief.v3i3.5340

Analisis Perbandingan Prediksi Financial Distress Pada Bank Umum Syariah di Indonesia dan Malaysia Periode 2017-2021 Menggunakan Metode Altman Z-Score Modifikasi

Comparation analysis of financial distress in islamic commercial bank in Indonesia and Malaysia period 2017-2021 using modified Altman Z-score method

Muhamad Alif Nur Faizy*, Ade Ali Nurdin, Ine Mayasari Department of Accounting, Politeknik Negeri Bandung, Bandung, Indonesia Research article

Received 15 April 2023; Accepted 08 June 2023

How to cite: Faizy, MAN., Nurdin, AA., Mayasari, I. (2023). Analisis Perbandingan Prediksi Financial Distress Pada Bank Umum Syariah di Indonesia dan Malaysia Periode 2017-2021 Menggunakan Metode Altman Z-Score Modifikasi. Journal of Applied Islamic Economics and Finance, 3(3), 531-540.

*Corresponding author: [email protected]

Abstract: This study aims to determine the differences in the prediction results of financial distress at Islamic Commercial Banks in Indonesia and Islamic Commercial Banks in Malaysia and to determine the effect of the variable ratios of NPF, CAR and FDR on financial distress. The data analysis method uses the Mann Whitney differential test, the results show that there are differences. besides that the data analysis technique used is panel data regression analysis, simultaneously the ratio of NPF, CAR and FDR affects the value of the Z-Score or financial distress. In Islamic Commercial Banks in Indonesia, partially NPF has no effect on the value of the Z-Score or financial distress. Meanwhile, the CAR and FDR ratios have a positive effect on the Z-Score or financial distress. At Islamic Commercial Banks in Malaysia partially the NPF and CAR ratios have no effect on the Z-Score or financial distress, while the FDR ratio has a negative effect on the Z-Score or financial distress.

Keywords: financial distress; Altman Z-Score; bankruptcy

1. Pendahuluan

Dalam satu dekade terakhir, dua krisis besar melanda ekonomi dunia yaitu: Global Financial Crisis (2008-2009) dan krisis Covid-19 Global. Penyebaran corona virus deseas 19 (Covid-19) menimbulkan risiko terhadap penurunan profitabilitas, menurut Islamic Financial Services Industry Stablity Report (2020) terjadi penurunan ROA perbankan syariah secara global, hal ini diakibatkan oleh meningkatnya pembiayaan bermasalah yang menyebabkan kurang efektifnya penggunaan aset dalam menghasilkan keuntungan. Berikut merupakan grafik pertumbuhan ROA perbankan syariah secara global pada gambar 1.

Terlihat ROA di tahun 2017 sebesar 1,9% namun di tahun berikutnya terjadi penurunan sampai tahun 2020 hanya mencapai 1,3%. Menurut Kordestani dkk (2011) tahap awal terjadinya kebangkrutan adalah karena adanya letency yang mana ROA mengalami penurunan.

(2)

Faizy, MAN., Nurdin, AA., & Mayasari, I.

Gambar 1. ROA Bank Syariah Secara Global

Penyebaran virus Covid-19 menimbulkan dampak pada penurunan aktivitas ekonomi di seluruh dunia termasuk negara yang sedang berkembang. Salah satunya yaitu Malaysia pendiri bank syariah di kawasan ASEAN. Berdasarkan World Islamic Finance Marketplace Malaysia menggambarkan dampak dari adanya virus covid-19 ini memberikan ujian besar dalam sektor usaha, terutama perbankan syariah. banyak dari perbankan syariah yang mengalami penurunan pada rasio keuangan dan harus berusaha keras dalam mempertahankan kondisi keuangannya. Berbeda dengan Malaysia, berdasarkan laporan dari Global Islamic Finance Report (2019) Indonesia menggeser Malaysia yang sudah tiga tahun menduduki posisi tersebut. Selain itu perbankan syariah Indonesia mengalami kenaikan pada perkembangan total aset dari tahun 2017 hingga tahun 2021 namun kenaikan tersebut tidak disertai dengan penghasilan laba bersih yang konsisten.

Kesulitan keuangan ditandai dengan penurunan laba (Kristanti, 2019). Penurunan laba dapat mempengaruhi rasio CAR yang mana apabila nilai CAR rendah, maka bank tidak dapat membiayai aktivitas operasional. Hal itu mengakibatkan bank tidak bisa memenuhi penarikan yang dilakukan oleh nasabah. FDR yakni rasio yang menaksir total pembiayaan yang diberikan terhadap total DPK. Selain itu, jika bank tak mampu mengendalikan risiko pembiayaan yang dialirkan maka akan menyebabkan masalah keuangan. Untuk mengukur tingkat pembiayaan yang bermasalah menggunakan NPF.

Penelitian terkait perbandingan risiko financial distress serta pengaruh NPF,CAR dan FDR terhadap financial distress perlu dikaji. Mengingat Indonesia dan Malaysia memiliki perbedaan dalam mengembangkan dan menjaga ketahanan perbankan syariah dalam menghadapi krisis global. Selain itu penelitian ini diharapkan bisa memberikan peringatan dini dan solusi.

2. Kajian Pustaka 2.1. Financial Distress

Financial distress yakni keadaan keuangan perusahaan dalam situasi tidak sehat (Kristanti, 2019). Selain itu financial distress ialah tahapan penyusutan keuangan yang timbul pra kebangkrutan (Platt & Platt, 2002). Menurut Kristanti (2019) tedapat dua faktor memicu perusahaan menghadapi financial distress, yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal perusahaan antara lain manajemen SDM tidak kompeten, produk yang tidak cocok untuk konsumen dan ketidakmampuan perusahaaan dalam mengikuti kemajuan teknologi.

Sedangkan faktor ekstenal perusahaan seperti kondisi ekonomi dimana perusahaan tidak mampu mengatasi inflasi, penerapan kebijakan pemerintah dan bencana alam yang tidak terduga sehingga menyebabkan kegagalan bisnis. Financial distress dapat terjadi dikarenakan

(3)

Faizy, MAN., Nurdin, AA., & Mayasari, I.

salah dalam menetapkan keputusan yang berhubungan dengan keuangan maupun kegiatan operasional perusahaan dan lemahnya pengendalian serta pengawasan terhadap kondisi keuangan dari pihak manajemen (Weston & Brigham, 2003).

2.2. Kebangkrutan

Kebangkrutan yaitu keadaan perusahaan tak mampu memenuhi kewajiban debitur karena perusahaan menghadapi defisit serta tidak cukup dana untuk mengelola usahanya akibatnya tujuan keuangan perusahaan yakni mendapatkan keuntungan tak tercapai (Chenchehene &

Mensah, 2014). Kebangkrutan harus menjadi perhatian bagi setiap orang yang terlibat dalam bisnis dan entitas pemerintah. Antisipatif kebangkrutan harus dilaksanakan sebagai tindakan preventif untuk mengurangi risiko dan bahaya kebangkrutan (Alkhatib & Bzour, 2011).

2.3. Metode Altman Z-Score Modifikasi

Seorang peneliti bernama Edward I Altman mempelajari penggunaan analisis rasio keuangan sebagai alat guna memprediksi kebangkrutan perusahaan. Pengkajian ini melahirkan sebuah rumus yang disebut dengan Z-Score.

Keterangan:

X1= Working capital to total asset.

X2=Rentained earning to total asset.

X3=Earning before interest and tax to total asset.

X4=Book value of equity to book value of total debt.

Hasil rumus di atas dapat dikelompokan ke dalam 3 kategori a) Financial distress apabila nilai Z-Score < 1,1.

b) Grey area apabila nilai Z-Score 1,1 < Z < 2,6 c) Sehat apabila nilai Z-Score > 2,6.

2.4. Non Performing Financing (NPF)

NPF bertujuan untuk menaksir tingkat risiko pembiayaan bermasalah dimanisfestasikan bank dengan membandingkan pembiayaan kurang lancar dan tidak lancar atas tingkat pembiayaan yang dimanisfestasikan bank (Pravasanti, 2018). Tinginya NPF dalam perbankan syariah menandakan semakin tinggi risiko pembiayaan dalam kategori macet sehingga berdampak pada manajemen bank yang buruk dan menandakan kualitas pembiayaan yang buruk.

2.5. Capital Adequacy Ratio (CAR)

CAR ialah jumlah total aset bank yang mengandung unsur risiko yang didanai oleh ekuitas bank, tidak termasuk aset yang bersumber dari luar bank (Dendawijaya, 2009:121). Modal merupakan faktor terpenting bagi perkembangan usaha bank dan pertimbangan risiko kerugian. Semakin tinggi tingkat CAR, bank semakin menanggung risiko produk pembiayaan yang berisiko. CAR rendah sanggup menyusutkan kemampuan bank dalam menghadapi risiko modal (Latifa dkk., 2021).

2.6. Financing to Deposit Ratio (FDR)

FDR ialah simpanan yang diaplikasikan pada pemberian pembiayaan diperlukan guna

(4)

Faizy, MAN., Nurdin, AA., & Mayasari, I.

menilai tingkat likuiditas perbankan melalui perhitungan total pembiayaan yang dilakukan terhadap jumlah deposit (Hijriyani & Setiawan, 2017). Tinggi rasio FDR maka peluang bank mengalami financial distress akan lebih besar dikarenakan adanya pembiayaan yang tidak dapat ditembus oleh bank sehingga berpengaruh terhadap tingkat pendapatan bank menjadi turun hal ini dapat berpotensi terhadap financial distress (Yastynda, 2016).

3. Metode Penelitian

Kuantitatif merupakan jenis data yang diterapkan. Bersumber dari laporan keuangan tahunan dari periode 2017 hingga 2021 yang diperoleh dari website bank terpilih. Peneliti memakai teknik simple random sampling. Sampel dipakai yakni 6 Bank Umum Syariah Indonesia dan 6 Bank Umum Syariah Malaysia. Teknik analisis ini diawali dengan memprediksi financial distress memakai metode Altman Z-Score modifikasi dengan memanfaatkan software Microsoft Excel. Setelah melakukan perhitungan dilakukan, uji normalitas dengan Software SPSS 20 untuk membaca apakah data berdistribusi normal atau tidak. Bila terdistribusi normal, uji beda dijalankan menggunakan dua sampel independent sedangkan uji Mann Whitney dipakai untuk data tidak terdistribusi normal. Untuk melihat pengaruh faktor internal terhadap financial distress memakai analisis regresi data panel.

4. Hasil dan Pembahasan

4.1. Rekapitulasi Altman Z-Score Modifikasi

Tabel 1. Rekapitulasi Altman Z-Score Modifikasi pada BUS di Indonesia

(5)

Faizy, MAN., Nurdin, AA., & Mayasari, I.

Tabel 2.Rekapitulasi Altman Z-Score Modifikasi Pada BUS di Malaysia

4.2. Hasil Analisis Uji Beda

Tabel 3. Hasil Uji Beda

Berdasarkan Asym.Sig.(2-tailed) yakni sebesar 0,000 < 0,05 maka hipotesis (H1) diterima berarti terdapat perbedaan signifikan. Perbedaan terlihat dari hasil financial distress, tahun 2017 2 dari 6 perbankan syariah di Indonesia mengalami financial distress dimana hasil ini lebih sedikit dibandingkan perbankan syariah di Malaysia yaitu 3 dari 6 perbankan syariah Malaysia. Tahun 2018 dan 2019 diperoleh 1 dari 6 perbankan syariah di Indonesia yang mengalami financial distress dimana hasil ini lebih sedikit dibandingkan perbankan syariah Malaysia yaitu 2 dari 6 perbankan syariah Malaysia. Tahun 2020 dan 2021 diperoleh 1 dari 6 perbankan syariah di Indonesia yang mengalami financial distress dimana hasil ini lebih sedikit dibanding dengan perbankan Malaysia yaitu 3 dari 6 perbankan syariah Malaysia. Ini

(6)

Faizy, MAN., Nurdin, AA., & Mayasari, I.

menyatakan perbankan syariah di Indonesia unggul dalam memprediksi financial distress dari perbankan syariah di Malaysia. Dikarenakan mampu memenuhi kewajiban sebagai sumber pembiayaan utama bagi pelaku ekonomi dengan baik jika terjadi krisis.Dari hasil tersebut memiliki kesamaan dengan penelitian dari Zulaikah & Laila (2016) terdapat perbedaan hasil prediksi financial distrees perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia.

4.3. Hasil Pengolahan Data

4.3.1. Uji Model Estimasi Data Panel

Tabel 4. Uji Estimasi Model Regresi

Berdasarkan 3 pengujian yang dikerjakan, disimpulkan model regresi data panel yang cocok untuk Bank Umum Syariah di Indonesia adalah common effect model Sedangkan untuk Bank Umum Syariah di Malaysia adalah fixed effect model.

4.3.2 Model Regresi Data Panel

Tabel 5. Hasil Estimasi Common Efect Model Bank Umum Syariah Indonesia

Dari tabel di atas, didapat model regresi:

Z-Score (Financial distress) = -27,97601 – 0,556289 (NPF) +5,068950 (CAR) +4,086892 (FDR) Berdasarkan persamaan diatas, perubahan nilai Z-Score dapat diperkirakan sesuai dengan besaran koefisien independen (NPF, CAR dan FDR). Dari persamaan diatas dapat dilakukan interpretasi model sebagai berikut:

1. Setiap kenaikan NPF 1% dapat menurunkan nilai Z-Score sebesar 0,556289 dengan arah koefisien negatif dimana variabel lain tetap.

2. Setiap kenaikan CAR 1% dapat menaikan nilai Z-Score sebesar 5,068950 dengan arah koefisien positif dimana variabel lain tetap.

(7)

Faizy, MAN., Nurdin, AA., & Mayasari, I.

koefisien positif dimana variabel lain tetap.

4. Konstanta sebesar -27,97601 yang berarti apabila seluruh variabel tidak ada atau bernilai 0 maka nila Z-Score sebesar -27,97601.

5.

Tabel 6. Hasil Estimasi Fixed Effect Model Bank Umum Syariah Malaysia

Dari tabel diatas, didapat model regresi:

Z-Score (Financial distress) = 0,504223 + 0,190223 (NPF) +0,607298 (CAR) -0,515996 (FDR) Berdasarkan persamaan diatas, perubahan nilai Z-Score dapat diperkirakan sesuai dengan besaran koefisien independen (NPF, CAR dan FDR). Dari persamaan diatas dapat dilakukan interpretasi model sebagai berikut:

1. Setiap kenaikan NPF 1% dapat menaikan nilai Z-Score sebesar 0,190223 dengan arah koefisien positif dimana variabel lain tetap.

2. Setiap kenaikan CAR 1% dapat menaikan nilai Z-Score sebesar 0,607298 dengan arah koefisien positif dimana variabel lain tetap.

3. Setiap kenaikan FDR 1% dapat menurunkan nilai Z-Score sebesar 0,515996 dengan arah koefisien negatif dimana variabel lain tetap.

4. Konstanta sebesar 0,504223 yang berarti apabila seluruh variabel tidak ada atau bernilai 0 maka nila Z-Score sebesar 0,504223.

4.3.3. Hasil Uji Hipotesis Secara Parsial (Uji t)

Berikut penjelasan hasil uji statistik yang terdapat pada tabel 12 : 1. Pengaruh rasio NPF terhadap nilai Z-Score:

Nilai t hitung yaitu 0,890823 dan nilai prob. t-statistik X1 0,3812 > 0,05, menyatakan rasio NPF tidak berpengaruh terhadap nilai Z-Score.

2. Pengaruh rasio CAR terhadap nilai Z-Score:

Nilai t hitung yaitu 4,572946 dan nilai prob. t-statistik X2 0,0001<0,05, menyatakan rasio CAR berpengaruh signifikan dan positif terhadap nilai Z-Score.

3. Pengaruh rasio FDR terhadap nilai Z-Score:

Nilai t hitung yaitu 2,567660 dan nilai prob. t-statistik X3 0,0163 < 0,05, menyatakan rasio FDR berpengaruh signifikan dan positif terhadap nilai Z-Score.

Kemudian, berikut penjelasan hasil uji statistik yang terdapat pada tabel 13

(8)

Faizy, MAN., Nurdin, AA., & Mayasari, I.

1. Pengaruh rasio NPF terhadap nilai Z-Score:

Nilai t hitung 1,532548 dan nilai prob. t-statistik X1 0,1403 > 0,05, menyatakan rasio NPF tidak berpengaruh terhadap nilai Z-Score.

2. Pengaruh rasio CAR terhadap nilai Z-Score:

Nilai t hitung 0,827371 dan nilai prob. t-statistik X2 0,4173 > 0,05, menyatakan rasio CAR tidak berpengaruh terhadap nilai Z-Score.

3. Pengaruh rasio FDR terhadap nilai Z-Score:

Nilai t hitung -3,959245 dan nilai prob. t-statistik X3 0,0007 < 0,05, menyatakan rasio FDR berpengaruh signifikan dan negatif terhadap nilai Z-Score.

4.3.4. Hasil Uji Hipotesis Secara Simultan (Uji F)

Tabel 12 menggambarkan bahwa nilai Prob(F-Statistic) perbankan syariah di Indonesia yakni 0,000001<0,05 artinya semua variabel bebas yang terdiri dari NPF, CAR dan FDR secara bersamaan mempengaruhi financial distress. Sedangkan pada tabel 13 nilai Prob(F-Statistic) perbankan syariah di Malaysia sebesar 0,017271 < 0,05 artinya semua variabel bebas yang terdiri dari NPF, CAR dan FDR secara bersamaan mempengaruhi variabel financial distress.

4.3.5. Hasil Uji Hipotesis (R2)

Tabel 12 menggambarkan nilai Adjusted R-squared pada perbankan syariah di Indonesia sebesar 64,75% dari variasi variabel bebas yakni NPF, CAR dan FDR dapat menjelaskan variabel terikat yakni financial distress, sisanya 35,25% variasi dipengaruhi oleh faktor diluar model. Sedangkan berdasarkan tabel 13 diketahui nilai Adjusted R-squared pada perbankan syariah di Malaysia sebesar 0,369464 atau 36,95% variasi dari variabel NPF, CAR dan FDR dapat menjelaskan variabel terikat yaitu financial distress, sisanya 63,05% variasi dipengaruhi faktor diluar model.

4.4. Pembahasan Hasil Penelitian

4.4.1. Pengaruh NPF terhadap financial distress pada Bank Umum Syariah di Indonesia dan Malaysia

Nilai Prob.T- statistik variabel secara parsial lebih besar dari 0,05 maka hipotesis (H2) ditolak artinya NPF tidak berpengaruh terhadap financial distress pada perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia. hal tersebut menyatakan NPF yang tinggi di perbankan syariah Indonesia dan Malaysia tak serta merta menunjukkan financial distress, hal ini dikarenakan Bank Syariah mampu memperhitungkan pembiayaan bermasalah melalui penyisihan penghapusan aktiva produktif sebagai solusi bila terjadi pembiayaan bermasalah (Anggraini, 2020). Selain itu menurut Wulandari (2020) Dalam hal pembiayaan bermasalah, bank terkait memiliki manajemen pembiayaan yang baik untuk bisa menanggung pembiayaan bermasalah melalui modal yang cukup. Penelitian ini tidak serasi atas hasil penelitian Rahim & Zakaria (2013) bahwa NPF bank syariah di Malaysia tinggi serta dapat mempengaruhi stabilitas bank syariah.

4.4.2. Pengaruh CAR terhadap financial distress pada Bank Umum Syariah di Indonesia dan Malaysia

Nilai Prob.T- statistik variabel secara parsial lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis (H3) diterima artinya CAR berpengaruh signifikan dan positif terhadap financial distress pada perbankan Syariah di Indonesia. Kewajiban memelihara nilai CAR berada di batasan yang telah ditetapkan oleh kesepakatan basel III sebab tingginya CAR menunjukkan kecakapan bank

(9)

Faizy, MAN., Nurdin, AA., & Mayasari, I.

dalam menyerap kerugian yang dapat muncul dari aktivitas operasional bank, selain itu bank juga mampu membiayai kegiatan operasionalnya dan akan memiliki peluang untuk memperoleh pendapatan sehingga bank akan semakin baik dalam menangani resiko aktiva produktif dan potensi menghadapi financial distress pun rendah. Penelitian ini selaras dengan hasil penelitian Bakhtiar (2019) bahwa rasio CAR berpengaruh signifikan positif terhadap financial distress dikarenakan jika modal bank bertambah maka stabilisasi bank juga meningkat. Kesanggupan pengembalian aktiva yang bagus hendak meningkatkan daya tahan perbankan dalam menghadapi resiko. Begitu pun hasil penelitian dari Afiqoh & Laila (2018) bahwa rasio CAR merupakan sumber kekuatan bagi bank syariah, yang berguna untuk menanggung aset berisiko. Kondisi sebaliknya terjadi pada perbankan syariah di Malaysia yang nilai Prob. T-Statistik variabel secara parsial lebih besar dari 0,05 artinya hipotesis (H3) ditolak berarti rasio CAR pada Bank Umum Syariah di Malaysia tidak berpengaruh terhadap financial distress. Artinya kenaikan atau penurunan nilai CAR tidak akan menaikkan atau menurunkan nilai Z-Score hal ini terjadi karena semakin meningkatnnya tingkat modal, maka semakin tinggi cadangan kas bank tersebut, sehingga bank mempunyai kemampuan yang baik untuk menutupi aktiva yang berisiko, bank tersebut juga berpeluang untuk memperoleh pendapatan lebih besar dari penyaluran pembiayaan.

4.4.3. Pengaruh FDR terhadap financial distress pada Bank Umum Syariah di Indonesia dan Malaysia

Nilai Prob.T- statistik variabel secara parsial lebih kecil dari 0,05 dengan koefisien positif maka hipotesis (H4) ditolak berarti FDR berpengaruh signifikan dan positif terhadap financial distress pada perbankan syariah di Indonesia. Tinginya FDR dapat menaikan kemungkinan terjadinya financial distress. Bertambah tinggi rasio FDR yang disebabkan karena adanya pembiayaan yang tidak dapat ditembus oleh bank, bank pun akan akan terancam bangkrut (Yastynda, 2016). Berbeda dengan perbankan syariah malaysia dari hasil pengujian yang dilakukan diperoleh nilai Prob.T-statistik variabel secara parsial lebih kecil dari 0,05 dengan arah koefisien negatif maka hipotesis (H4) diterima berarti FDR berpengaruh signifikan dan negatif terhadap financial distress pada perbankan syariah di Malaysia. Tingginya FDR menunjukkan bahwa perbankan syariah telah menjalankan fungsi intermediasi sehingga tedapat pendapatan dan probabilitas terjadinya financial distress berkurang. Penelitian ini searah dengan penelitian Wulandari (2020) dan Haq & Harto (2019) FDR berpengaruh negatif terhadap financial distress artinya tingginya FDR menurunkan kemungkinan financial distress.

5. Penutup

Berdasarkan hasil uji Mann-whitney terdapat perbedaan financial distress perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia. Dari perhitungan yang dilakukan memakai metode Altman Z- score modifikasi rentang waktu 2017-2021 perbankan syariah di Indonesia yang menghadapi financial distress yakni Bank Muamalat periode 2017-2021 dan Bank Panin Dubai Syariah di tahun 2017. Sedangkan pada perbankan syariah di Malaysia yang menghadali financial distress yakni Affin Bank Berhad di tahun 2017 dan 2021, Standard Chartered Saadiq Berhad di tahun 2017, 2018 dan 2020, CIMB Islamic Bank Berhad di tahun 2017, 2019, 2020 dan 2021, serta Alliance Islamic Berhad di tahun 2018, 2019, 2020, 2021. Oleh karena itu, Perbankan syariah di Malaysia cenderung lebih besar mengalami financial distress dibandingkan perbankan syariah di Indonesia. Secara simultan NPF, CAR dan FDR secara bersamaan berpengaruh terhadap financial distress pada Bank Umum Syariah di Indonesia dan Malaysia. Pada perbankan syariah di Indonesia secara parsial NPF tidak berpengaruh terhadap financial distress, sedangkan CAR dan FDR berpengaruh signifikan dan positif terhadap financial distress. Pada perbankan

(10)

Faizy, MAN., Nurdin, AA., & Mayasari, I.

syariah di Malaysia secara parsial NPF dan CAR tidak berpengaruh terhadap financial distress, sementara itu FDR berpengaruh signifikan dan positif terhadap financial distress.

Bagi perbankan syariah di Indonesia harus meningkatkan RETA melalui peningkatan laba ditahan dan meningkatan rasio nilai buku ekuitas terhadap jumlah utang dengan mengurangi utang yang ada. Pada saat yang sama, perbankan syariah Malaysia dapat meningkatkan rasio WCTA dengan meningkatkan modal kerja dan meningkatkan rasio EBIT dengan cara meningkatkan EBIT atas modal yang diinvestasikan pada seluruh aset yang dimiliki.

Daftar Pustaka

Afiqoh, L., & Laila, N. (2018). Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap Risiko Kebangkrutan Bank Umum Syariah di Indonesia (Metode Altman Z-Score Modifikasi). Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam, 4 No.2. https://doi.org/10.20473/jebis.v4i2.10757

Alkhatib, K., & Bzour, A. E. A. (2011). Predicting Corporate Bankruptcy of Jordanian Listed Companies: Using Altman and Kida Models. International Journal of Business and Management, 6 No. 3.

Anggraini, L. N. (2020). Pengaruh CAR Dan NPF Terhadap Financial Distress Pada Bank Umum Syariah di Indonesia Tahun 2014-2018. IAIN Ponorogo.

Bakhtiar, F. (2019). Analisis Financial Distress Pada Perbankan Syariah di Indonesia.

Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Chenchehene, J., & Mensah, K. (2014). “Corporate Survival: Analysis of Financial Distress and Corporate Turnaround of the UK Retail Industry". nternational Journal of Liberal Arts and Social Science, 2.

Dendawijaya, L. (2009). Manajemen Perbankan. Ghalia Indonesia.

Hijriyani, N. Z., & Setiawan. (2017). Analisis Profitabilitas Perbankan Syariah di Indonesia Sebagai Dampak Dari Efisiensi Operasional. Jurnal Kajian Akuntansi, 1, 194–209.

Kordestani, G., Biglari, V., & Bakhtiar, M. (2011). Ability Of Combinations Of Cash Flow Components To Predict Financial Distres. Verlas: Teorija Ir Praktika Business: Theory And Practice. https://doi.org/10.3846/btp.2011.28

Kristanti, F. T. (2019). Financial Distress Teori Dan Perkembangan Dalam Konteks Indonesia (1 ed.). Inteligensia Media.

Latifa, Z., Nurdin, A. A., & Hazma. (2021). Pengaruh Faktor Internal dan Faktor Eksternal Terhadap Profitabilitas Dengan Mediasi NPF Bank Umum Syariah. Indonesian Journal

of Economics and Management, 2 No.1, 174–187.

https://doi.org/10.35313/ijem.v2i1.3588

Platt, H., & Platt, M. B. (2002). Predicting Financial Distress. Journal of Financial Service Professional, 56, 12.

Pravasanti, Y. (2018). Pengaruh NPF Dan FDR Terhadap CAR Dan Dampaknya Terhadap ROA Pada Perbankan Syariah di Indonesia. Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 4(03), 148–

159. http://dx.doi.org/10.29040/jiei.v4i03.302

Weston, J. F., & Brigham. (2003). Fundamental Financial Managemen. Prentice Hall Int. Inc.

Wulandari, S. (2020). Analisis Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Financing Deposit Ratio (FDR), Non Performing Financing (NPF), Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), Dan Profitabilitas (ROA) Terhadap Financial Distress (Studi Kasus Pada Bank Umum Syariah Di Indonesia Periode 2015-2019).

Yastynda, E. P. (2016). Prediksi Financial Distress Pada Bank Umum Syariah Dengan Analisis Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings And Capital. STIE Perbanas Surabaya.

Referensi

Dokumen terkait

Artinya hipotesis enam ( ) ditolak, yang menunjukkan bahwa BOPO memiliki arah pengaruh negatif tetapi tidak signifikan secara statistik terhadap terjadinya

Penelitian ini juga akan membahas faktor yang paling dominan mempengaruhi financial distress pada keempat Bank Umum Syariah dan Konvensional, jika dilihat dari faktor

Bank Muamalat Indonesia berada pada predikat sehat dan memiliki risiko kebangkrutan yang kecil dengan nilai Z-score sebesar 4,020, naik sebesar 6,54% dari tahun

Berdasarkan hasil Z’’-Score menunjukkan bahwa bank Indonesia berada dalam keadaan sehat, namun bank syariah lebih stabil dibandingkan bank konvensional, sedangkan dari

Bank QNB Indonesia Tbk adalah model Altman Z-Score dengan tingkat akurasi sebesar 59,38 % sedangkan model Springate hanya memiliki 50 % tingkat akurasi dalam melakukan

Perbandingan Financial Distress Bank Syariah di Indonesia dan Bank Islam di Malaysia Sebelum dan Sesudah Krisis Global 2008.. ISI

Penelitian yang dilakukan oleh Ramadhani &amp; Lukviarman (2009), menjelaskan bahwa perusahaan besar maupun kecil memiliki peluang untuk mengalami kebangkrutan

Hasil yang sama dalam penelitian ini dilakukan oleh Rahmania, dan Hermanto, serta Nuranto, dan Ardiansari.[17], [18] Pengaruh FDR dan LDR terhadap Financial Distress Hasil pengaruh