PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di Indonesia, jumlah penderita diabetes melitus pada kehamilan mencapai 1,9-3,6% sesuai dengan kriteria umum diagnosis diabetes melitus pada kehamilan. Diabetes sendiri terbagi menjadi 3 klasifikasi yaitu DM tipe 1 merupakan diabetes melitus tergantung insulin (DMTI) 90-95%. Laboratorium klinik dapat menawarkan berbagai jenis alat skrining, ada dua alat yang sering digunakan untuk memeriksa glukosa darah, yaitu Glukometer dan Spektrofotometer.
Hasil pemeriksaan glukosa darah ibu hamil trimester II diperoleh nilai rata-rata sebesar 107,73 dari 30 data, sebaran data yang diperoleh sebesar 9,299 dengan standar error sebesar 1,698. Hasil pemeriksaan glukosa darah ibu hamil trimester III diperoleh nilai rata-rata sebesar 118,27 dari 30 data, sebaran data yang diperoleh sebesar 5,589 dengan standar error sebesar 1,020. Berdasarkan uraian di atas, penulis ingin menganalisis sejauh mana perbedaan hasil pemeriksaan glukosa darah dengan glukometer dan spektrofotometer pada ibu hamil trimester II dan III di Klinik Yakrija Utama Jakarta Barat.
Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Khotimah pada tahun 2020 di Klinik Cinta Bunda, Ciledug, Tangerang, ibu hamil menurut usia kehamilan pada trimester kedua dan trimester ketiga. Hal ini menunjukkan data trimester III lebih tinggi dibandingkan trimester II, dari hasil uji bivariat diperoleh nilai p value sebesar 0,000 yang berarti p < 0,05 (5).
Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan
Manfaat Penelitian
- Bagi Institusi Pendidikan
- Bagi Profesi Teknologi Laboratorium Medis
- Bagi Masyarakat
- Bagi Peneliti
TINJAUAN PUSTAKA
- Landasan Teori
- Diabetes Melitus
- Klasifikasi Diabetes Melitus
- Glukosa Darah
- Metabolisme Glukosa Darah
- Faktor yang Mempengaruhi Gula Darah Pada Kehamilan
- Jenis Pemeriksaan Glukosa Darah
- Metode Pemeriksaan Glukosa Darah
- Ibu Hamil
- Kerangka Teori
- Hipotesis
Ibu hamil yang belum pernah atau pernah menderita penyakit diabetes melitus, namun memiliki kadar gula darah yang tinggi pada saat hamil, dapat dikatakan menderita diabetes melitus gestasional. Glukosa berperan sebagai energi utama yang banyak digunakan dalam sel-sel tubuh, terutama pada otot dan jaringan.(11) Menurut ilmu kedokteran, kadar glukosa darah dilihat dari kadar glukosa darah, glukosa darah digunakan untuk mendiagnosis diabetes. melitus, ini merupakan pemeriksaan yang sering digunakan yaitu pemeriksaan enzimatik dengan mengambil sampel darah vena, sedangkan hasil pemeriksaannya dipantau dengan pemeriksaan glukosa darah kapiler menggunakan glukometer. Kadar glukosa darah dalam tubuh manusia diatur secara ketat, glukosa yang mengalir dalam darah merupakan energi utama bagi sel-sel tubuh manusia.
Sedangkan nilai kadar glukosa darah yang paling rendah adalah kurang dari 70 mg/dL, biasa disebut hipoglikemia, sebaliknya hiperglikemia, artinya kadar glukosa darah tinggi dengan hasil lebih dari 110 mg/dl (11). Glukosa darah sementara merupakan pemeriksaan kadar glukosa yang dapat dilakukan kapan saja, tanpa pasien harus melakukan puasa karbohidrat terlebih dahulu atau memperhitungkan asupan makanan terakhir. Tes glukosa darah ini kini dapat digunakan sebagai tes skrining untuk mengetahui apakah seseorang menderita diabetes melitus.
Seseorang yang kadar glukosa darahnya lebih tinggi dari nilai acuan yang ada dapat didiagnosis mengidap penyakit diabetes melitus. Laboratorium klinik dapat menyediakan berbagai jenis alat uji, antara lain alat pengukur glukosa darah, glukometer. Glukometer dengan prinsip Point of Care Testing diartikan sebagai suatu pemeriksaan laboratorium yang berguna untuk menentukan kadar glukosa darah untuk memantau atau memantau kadar glukosa darah.
Keunggulan Point of Care Testing adalah dapat dilakukan secara mandiri, sehingga kadar gula darah dapat cepat diketahui dan dipantau. Pengujian glukosa darah menggunakan glukometer menggunakan sampel darah utuh sebanyak kurang lebih 0,8 μl sampel yang diperlukan untuk memperoleh hasil yang akurat dalam waktu 5 detik. Sistem pembacaan alat ini didasarkan pada prinsip pengukuran glukosa darah yang dioksidasi oleh enzim oksidase, yang akan mengakibatkan proses pemecahan glukosa menjadi glikogen, yang akan menimbulkan elektron dan dibaca oleh sensor pada perangkat. perangkat.
Hipotesis sementara dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pemeriksaan glukosa darah ibu hamil menggunakan glukometer dan spektrofotometer.
METODOLOGI PENELITIAN
- Jenis dan Desain Penelitian
- Tempat dan Waktu Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Kerangka Konsep
- Pemeriksaan Glukosa Darah Menggunakan Glukometer
- Tahap Pra Analitik
- Tahap Analitik
- Tahap Pasca Analitik
- Pemeriksaan Glukosa Darah Menggunakan Spektrofotometer
- Tahap Pra Analitik
- Tahap Analitik
- Tahap Pasca Analitik
- Instrumen pengumpulan data
- Teknik Pengolahan Data
- Teknik Analisis Data
- Alur Penelitian
Sampel yang digunakan adalah 30 sampel ibu hamil trimester II dan III yang dilakukan pemeriksaan glukosa darah menggunakan glukometer dan spektrofotometer. Sampel terdiri dari darah utuh dan serum darah ibu hamil trimester kedua dan ketiga yang menjalani pemeriksaan glukosa darah di laboratorium Klinik Yakrija Utama, Jakarta Barat. Variabel terikat pada penelitian ini adalah kadar glukosa darah ibu hamil trimester II dan III.
Pemeriksaan gula darah menggunakan glukometer dan spektrofotometer pada ibu hamil trimester II dan III dilakukan di laboratorium klinik Yakrija Utama. Telah dilakukan penelitian untuk menganalisis perbedaan hasil pemeriksaan glukosa darah menggunakan glukometer dan spektrofotometer pada ibu hamil trimester II dan III di Klinik Yakrija Utama pada bulan Maret hingga Juli 2022. Berikut Tabel 4.1 merupakan tabel sebaran glukosa darah kadar ibu hamil trimester II dan trimester III dengan menggunakan alat glukometer dan spektrofotometer.
Tabel 4.2 berikut merupakan tabel distribusi uji normalitas nilai gula darah ibu hamil trimester II dan III dengan menggunakan alat glukometer dan spektrofotometer. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, hasil pemeriksaan kadar gula darah menggunakan glukometer dan spektrofotometer pada ibu hamil trimester II dan trimester III memberikan hasil yang berbeda yaitu glukometer mempunyai kadar glukosa lebih tinggi dibandingkan dengan spektrofotometer dengan signifikansi. nilai 0,049. Kadar gula darah menggunakan glukometer pada ibu hamil trimester II di Klinik Yakrija Utama mempunyai nilai rata-rata sebesar 123,00 mg/dL dan pada trimester III nilai rata-ratanya sebesar 136,00 mg/dL.
Kadar glukosa darah dengan spektrofotometer pada ibu hamil trimester II mempunyai nilai rata-rata sebesar 110,50 mg/dL dan pada trimester III nilai rata-ratanya sebesar 132,43 mg/dL. Setelah dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah menggunakan glukometer dan spektrofotometer pada ibu hamil terdapat perbedaan hasil dengan nilai signifikan sebesar 0,049. Gambaran kadar glukosa darah ibu hamil tanpa riwayat diabetes melitus trimester II dan III.
Kadar Glukosa Darah Kehamilan Trimester Kedua dan Ketiga (mg/dl) Tanggal Spektrofotometer Glukometer Trimester Riwayat penyakit kencing manis.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Klinik Yakrija Utama memberikan pelayanan yaitu penyuluhan kesehatan, senam sehat kelompok, pelayanan konseling kesehatan, imunisasi, rawat jalan GP 24 jam, rawat jalan gigi, pelayanan kebidanan. Untuk menunjang pelayanan kesehatan, laboratorium klinik Yakrija Utama menyediakan pemeriksaan laboratorium yang meliputi pemeriksaan hematologi, pemeriksaan kimia, pemeriksaan urinalisis, pemeriksaan imunologi/serologi. Klinik Yakrija Utama juga menyediakan layanan home visit, yaitu layanan pemeriksaan kesehatan di rumah pasien, sehingga memudahkan pasien yang sulit keluar rumah, seperti lansia.
Hasil Penelitian
Pada uji normalitas data glukosa darah pada penelitian ini dengan menggunakan glukometer diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,050 dan dengan menggunakan spektrofotometer nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,226 sehingga menunjukkan bahwa data dari keduanya nilai signifikansinya lebih besar atau sama dengan 0,05 yaitu berarti datanya terdistribusi normal. Data berdistribusi normal karena data yang diperoleh sudah sesuai dengan standar uji normalitas yaitu 0,049 sama dengan atau lebih besar dari 0,050 dan merupakan syarat untuk melakukan uji parametrik, karena jika data yang diperoleh tidak berdistribusi normal maka data tersebut tidak terdistribusi normal. uji parametrik tidak dapat dilakukan. Setelah data yang diperoleh berdistribusi normal maka dilakukan uji normalitas, data yang diperoleh dilanjutkan dengan uji t berpasangan. Hasil yang diperoleh dari uji t berpasangan adalah terdapat perbedaan kadar glukosa darah ibu hamil pada kehamilan kedua dan ketiga. trimester dengan menggunakan glukometer dan spektrofotometer.
Pembahasan
Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Khotimah pada tahun 2020 di Klinik Cinta Bunda, Ciledug, Tangerang terhadap ibu hamil berdasarkan usia kehamilan pada trimester kedua dan trimester ketiga. Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa ibu hamil yang memiliki riwayat DM mempunyai kadar glukosa darah lebih tinggi dibandingkan ibu hamil tanpa riwayat keluarga. Pada penelitian tersebut dilakukan survey mengenai konsumsi makanan, pada penelitian ini didapatkan ibu hamil yang mengkonsumsi makanan berlebih sebanyak 3 orang ibu hamil yang sering mengkonsumsi makanan berlebih dengan presentasi 10% dan 27 orang ibu hamil yang tidak mengkonsumsi makanan berlebih. makanan tidak punya. makanan dengan penawaran 90%.
Riwayat DM dan konsumsi makanan berlebihan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kadar glukosa dan dapat meningkatkan risiko ibu hamil terkena diabetes gestasional. Berdasarkan usia kehamilan rata-rata kadar glukosa darah ibu hamil trimester III lebih tinggi, dengan menggunakan glukometer rata-rata kadar glukosa darah ibu hamil trimester III sebesar 136,07 mg/dL dari 14 sampel, sedangkan hamil trimester II perempuan memiliki nilai yang lebih tinggi, rata-rata 123 mg/dL dari 16 sampel. Dengan menggunakan spektrofotometer, hasil rata-rata glukosa darah ibu hamil trimester III lebih tinggi yaitu 132,43 mg/dL dari 14 sampel, sedangkan ibu hamil trimester II memiliki nilai rata-rata 110,50 mg/dL dari 16 sampel, dari keduanya. Instrumen ini berarti rata-rata kadar glukosa darah ibu hamil trimester III lebih tinggi dibandingkan rata-rata kadar glukosa ibu hamil trimester II.
Diabetes melitus terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya.(20) Salah satu penyebab kadar glukosa darah ibu hamil trimester ketiga lebih tinggi dibandingkan kadar glukosa darah ibu hamil trimester kedua adalah karena selama kehamilan itu akan terjadi. Perubahan fisiologis pada ibu hamil antara lain produksi hormon seperti estrogen, progesteron, kortisol, prolaktin dan human prolactinlactogen (hPL).Sejak kehamilan trimester kedua, sensitivitas insulin menurun hingga 80%. Diabetes gestasional yang tidak ditangani sejak dini dapat menimbulkan komplikasi yang berdampak pada kesehatan ibu dan bayi. Tujuan utama pemeriksaan kadar gula darah saat hamil adalah untuk mendeteksi apakah ibu hamil menderita diabetes gestasional atau tidak.
Gula darah yang tinggi menimbulkan risiko bagi kesehatan ibu hamil dan janin dalam kandungan. Analisis faktor yang berhubungan dengan kadar glukosa darah selama kehamilan di Kota Manado. Faktor yang berhubungan dengan kejadian diabetes gestasional pada ibu hamil di Puskesmas Dahlia Makassar Tahun 2017.
Pengaruh riwayat keluarga terhadap kadar glukosa darah pada dewasa muda penderita diabetes melitus tipe 2 generasi pertama di Denpasar Selatan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
Indeks glikemik dan beban glikemik makanan pada sampel ibu hamil penderita diabetes melitus tipe 2 di Brasil Barat Laut. Persiapan sampel vena 3 ml, persiapan alat dan bahan, persetujuan responden, pengambilan sampel. Kode chip dan strip gula kemudian dibandingkan satu sama lain. Jika sesuai dengan angka yang muncul di layar, alat dapat digunakan, kemudian dipipet sampel darah vena sebanyak 5 μl dan diteteskan pada strip gula. Hasilnya keluar. setelah 10 detik.
Selanjutnya, 1000 μl reagen glukosa dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 10 μl serum lalu diinkubasi selama 5 menit.