• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PERUBAHAN PEMANFAATAN LAHAN PERMUKIMAN DI IBUKOTA KECAMATAN BULA

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "ANALISIS PERUBAHAN PEMANFAATAN LAHAN PERMUKIMAN DI IBUKOTA KECAMATAN BULA"

Copied!
140
0
0

Teks penuh

Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Permukiman di Ibu Kota Bula Kabupaten Seram Timur (Dibimbing oleh Syahriar Tato dan Jufriadi). Untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan pemukiman di ibu kota Bula.

Tabel 3.1. Koefesien Tingkat Korelasi Variabel yang Berpengaruh......... 52 Tabel 4.1 Luas  Wilayah  Kabupaten Seram  Bagian  Timur Dirinci
Tabel 3.1. Koefesien Tingkat Korelasi Variabel yang Berpengaruh......... 52 Tabel 4.1 Luas Wilayah Kabupaten Seram Bagian Timur Dirinci

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang
  • Rumusan Masalah
  • Tujuan Penelitian
  • Manfaat Penelitian
  • BatasanPenelitian
  • Sistematika Pembahasan

Keterbatasan penelitian yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah untuk menentukan perubahan penggunaan lahan pemukiman (jumlah pemukiman) yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti jumlah penduduk, mata pencaharian dan harga tanah serta tawaran arahan perencanaan yang akan digunakan pada lahan perumahan. . digunakan di ibu kota kabupaten Bula.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian

  • Permukiman
  • Lahan
  • Perubahan Pemanfaatan Lahan

Bagian lingkungan di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun kawasan perdesaan, yang berfungsi sebagai kawasan pemukiman atau pemukiman dan tempat kegiatan yang menunjang kehidupan dan kondisi kehidupan. Perumahan adalah sekumpulan rumah yang berfungsi sebagai kawasan hunian atau kawasan pemukiman yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan.

Pola Persebaran Permukiman

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan Pemanfaatan Lahan 19

Perubahan penggunaan ruang menurut kriteria ini adalah perubahan penggunaan ruang baru yang tidak sesuai dengan orientasi penggunaan ruang berdasarkan rencana kota yang telah ditetapkan. Perubahan penggunaan ruang menurut kriteria ini adalah perubahan penggunaan ruang yang baru melebihi batas maksimum KDB dan/atau maksimum KLB sesuai dengan rencana kota yang telah ditetapkan.

Kebijakan Pengembangan Penggunaan Lahan

  • Undang-undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007
  • Undang-undang Perumahan Dan Kawasan Pemukiman Nomor

Ketentuan lebih lanjut mengenai arah pengembangan kawasan permukiman sebagaimana dimaksud dalam alinea kedua diatur dengan peraturan perundang-undangan. Peran masyarakat sebagaimana dimaksud dalam alinea kedua dipenuhi dengan membentuk forum perumahan dan kawasan permukiman.

Model Manajemen Perubahan Pemanfaatan Lahan

Model pengelolaan perubahan penggunaan lahan terdiri dari dua model, model pertama adalah model yang menggabungkan pertimbangan struktural dari teori ekologi manusia dan ekonomi politik ke dalam konsep penggunaan lahan. Model ini memandang bahwa pengelolaan perubahan penggunaan lahan harus memperhatikan kedudukan nilai sosial, nilai pasar dan nilai ekologi; proporsi yang sama dan konektivitas yang tepat. Tanpa struktur terintegrasi dari ketiga nilai tersebut, tidak mungkin menyelesaikan konflik penggunaan lahan melalui prosedur pengelolaan lahan.

Pertimbangan Penanganan Perubahan Pemanfaatan Lahan

  • Prioritas
  • Penyembuhan (Curative)
  • Pencegahan (Preventive)
  • Pengembangan (Development)

Metode ini tidak akan berarti banyak untuk bidang/aktivitas dinamis dan tingkat perubahannya sangat cepat. Metode terapi yang paling logis adalah melalui pembangunan, karena selalu ada resistensi terhadap metode pengobatan dan terlalu sulit untuk melakukan pencegahan dalam dinamika pertumbuhan suatu pemukiman tanpa mengetahui arah perkembangannya (Zulkaidi Jika kita dapat melihat arah perkembangan dan tahu kapan). terjadi kesalahan, maka kita dapat mengarahkannya dengan benar menuju tujuan.

Kriteria Arahan Pemanfaatan Lahan

  • Penelitian Terdahulu

Pemanfaatan lahan eksisting yang tidak menyimpang dari struktur dasar struktur pembangunan kegiatannya, pemanfaatan lahan eksisting tetap dipertahankan dengan pengaturan penataan lebih lanjut dengan penggunaan lahan yang optimal. Potensi daya dukung lahan, khususnya lahan kosong yang tidak dimanfaatkan secara optimal untuk penggunaan lahan baru yang dianggap lebih produktif dan kemungkinan alih fungsi, terutama lahan yang tidak dimanfaatkan dengan baik, harus dikaji kemungkinan fungsinya untuk beralih ke penggunaan lahan yang lebih efektif. Iwan Kustiwan dan Melani Anugrahani (2000) melakukan penelitian untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tipe penggunaan lahan di Kawasan Pengembangan Cibeunying Kota Bandung, dengan judul penelitian “Perubahan Penggunaan Lahan Perumahan Menjadi Perkantoran: Implikasi Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kota (Studi Kasus: Pengembangan Kawasan Kota Cibeunying Bandung)”.

Kustanto Nur Adnan (2000) melakukan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan judul penelitian “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Pemanfaatan Ruang Perkotaan di Yogyakarta: Studi Kasus Kawasan Selatan Kota Yogyakarta”. Dwike Wijayanti (2003) melakukan penelitian untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan dengan mengambil wilayah penelitian Kecamatan Depok Kabupaten Sleman dengan judul penelitian “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Penggunaan Lahan di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman”. Tangguh Wicaksono (2011) melakukan penelitian untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan pemanfaatan perumahan di kawasan Tlongsari Kulon Semarang, dengan judul penelitian “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Pemanfaatan Perumahan Untuk Keperluan Komersial di Kawasan Tlogosari Kulon Semarang”.

Hasil kajian menyimpulkan bahwa perubahan penggunaan lahan di kawasan Tlogosari Kulon Semarang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

Kerangka Pikir

METODE PENELITIAN

  • Lokasi Penelitian
  • Populasi dan Sampel
  • Variabel Penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data
  • Defenisi Operasional Variabel

Variabel penelitian merupakan parameter untuk mengetahui sejauh mana pengaruh jumlah permukiman terhadap perubahan penggunaan lahan permukiman di Ibukota Kabupaten Bula. Persebaran dan kepadatan penduduk di ibu kota Kecamatan Bula/Kecamatan Bula terlihat berdasarkan perubahan penggunaan lahan, sehingga perlu diperhatikan kondisi fisik lahan dan perencanaan peruntukan lahan terbangun. memperhitungkan. Penggunaan lahan di Kecamatan Induk Kelurahan Bula/Bula mengalami perubahan dari tahun ke tahun berdasarkan jenis penggunaan lahan dan luas lahan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir keberadaannya.

Hasil Uji Korelasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Penggunaan Lahan Permukiman Ibukota di Kecamatan Bula/Kelurahan Bula. Oleh karena itu, fokus yang harus diletakkan pada alih guna lahan adalah bagaimana masyarakat Ibukota Kabupaten Bula atau Kelurahan Bula dapat menikmati kepemilikan atas alih fungsi lahan permukiman sesuai dengan kondisi sosial masyarakatnya masing-masing. Karena faktor lain dianggap tidak terlalu berpengaruh atau tidak kuat mengubah penggunaan lahan pemukiman di ibu kota kecamatan Bula.

Oleh karena itu, pemerintah berperan penting dalam mengatur agar masyarakat ibu kota kabupaten Bula terhindar dari hal tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Kabupaten Seram Bagian Timur

  • Aspek Fisik Dasar
  • Kondisi Demografi Kabupaten Seram Bagian Timur

Berdasarkan kondisi topografi tersebut terlihat bahwa lahan datar di Kabupaten Seram Bagian Timur terbatas, sehingga lahan yang dapat digunakan sebagai areal budidaya juga terbatas. Desa-desa di Kabupaten Seram Bagian Timur umumnya berada pada ketinggian kurang dari 500 m dpl dengan luas daratan yang didominasi oleh daratan dan perbukitan. Kabupaten Seram Bagian Timur memiliki Daerah Irigasi (DI) yang terdiri dari Kewenangan Pusat, Kewenangan Propinsi dan DI Kabupaten serta Irigasi Desa.

Iklim di Kabupaten Seram Bagian Timur merupakan iklim laut tropis dan iklim musiman. Berdasarkan arahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Seram Bagian Timur, pola tata ruang dikategorikan seperti di atas. Penggunaan lahan di Kabupaten Seram Bagian Timur, kecuali kawasan hutan, dijelaskan pada Tabel 4.7 sebagai berikut;

Dengan semakin berkembangnya suatu wilayah atau daerah, hal ini ditunjukkan dengan perkembangan jumlah penduduk Kabupaten Seram Timur dari tahun ke tahun yang terus meningkat.

Gambaran Umum Kecamatan Bula

  • Aspek kependudukan
  • Penggunaan lahan

Jadi, berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kecamatan Bula pada tahun 2017 sebanyak 19.305 jiwa dengan luas wilayah 72,82 km2. Data jumlah penduduk Kecamatan Bula selama 5 tahun terakhir menunjukkan jumlah penduduk pada tahun 2013 sebanyak 12.294 jiwa, dalam 5 tahun terakhir meningkat menjadi 19.305 jiwa pada tahun 2017 menunjukkan pertambahan penduduk selama 5 tahun sebanyak 7.011 jiwa. Penduduk menurut jenis kelamin adalah perbandingan yang menunjukkan perbedaan antara penduduk laki-laki dan perempuan.

Berdasarkan data yang ada dapat digambarkan bahwa penduduk Kecamatan Bula terdiri dari 9.601 orang laki-laki atau 48,53% sedangkan jumlah penduduk perempuan sebanyak 9.704 orang atau 51,47%. Penduduk menurut jenis kelamin di Kecamatan Bula dan tempat tinggalnya dapat dilihat dari rencana pembagian tanah, keluarga atau rumah tangga yang menjadi kriteria alokasi tanah. Melihat hal tersebut, penduduk menurut jenis kelamin adalah jumlah penduduk yang dihitung berdasarkan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di Kecamatan Bula. Penduduk menurut agama dan kepercayaan di Kecamatan Bula didominasi oleh pemeluk agama Islam dengan jumlah 13.191 jiwa dari total penduduk beragama yang tercatat sebanyak 16.305 jiwa.

Jika kita berbicara tentang penduduk menurut agama, maka dampak perubahan pemanfaatan ruang adalah kajian tentang penentuan tempat ibadah, karena keberadaan tempat ibadah.

Tinjauan Khusus Ibukota Kecamatan Bula/Kelurahan Bula

  • Aspek Kependudukan
  • Penggunaan Lahan
  • Tingkat Pendapatan
  • Pemanfaatan Ruang Ibukota Kecamatan Bula
  • Permukiman
  • Mata Pecaharian
  • Harga Lahan

Luas wilayah yang ada terlihat dari lingkungan di Kecamatan Bula, sehingga peruntukan lahan lebih berorientasi pada lingkungan 1. Perubahan penggunaan lahan terjadi apabila ketidaksesuaian lahan di Kelurahan Bula disebabkan oleh adanya lahan yang tidak sesuai dengan fungsinya, bertambahnya jumlah penduduk dan faktor lainnya. Berdasarkan topografi yang ada, pembagian lahan pemukiman, komersial, perkantoran dan pendidikan merupakan hal yang perlu dilakukan di desa Bula sebagai ibu kota kabupaten.

Kondisi geologi di Desa Bula hampir sama dengan kondisi geologi di Kecamatan Bula pada umumnya yaitu endapan alluvia. Sebaran penduduk di Kecamatan Bula terdiri dari 2 kelurahan, kelurahan 1 sebesar 51,39% dan kelurahan 2 sebesar 48,61% dengan kepadatan penduduk sebesar 356. Penggunaan lahan dalam 5 tahun terakhir di Kelurahan Bula terdiri dari pendidikan, perdagangan, ibadah, perkantoran, pemukiman dan persawahan.

Hal ini akan mempengaruhi penggunaan lahan di Desa Bula yang berujung pada harga dan nilai lahan serta terjadinya alih fungsi lahan.

Analisis Variabel Penelitian

  • Identifikasi Perubahan Pemanfaatan Lahan di Ibukota
  • Pertumbuhan dan Jumlah Penduduk
  • Mata Pencaharian
  • Arahan Perubahan Pemanfaatan Lahan di Ibukota Kecamatan
  • Arahan Pemanfaatan Fasilitas Pendidikan
  • Arahan Perubahan Pemanfaatan Kawasan Perdagangan
  • Arahan Pemanfaatan Fasilitas Perkantoran
  • Arahan Perubahan Pemanfaatan Pemukiman
  • Arahan Pengembangan Sistem Transportasi
  • Arahan Penggunaan Lahan Konservasi
  • Pemerintah
  • Swasta
  • Masyarakat

Saat ini ibu kota Kabupaten Bula cenderung mengalihkan mata pencaharian dari sektor pertanian ke sektor non pertanian. Oleh karena itu, dampak harga tanah terhadap perubahan tanah pemukiman sangat berpengaruh karena perkembangan penduduk serta pemenuhan kebutuhan ekonomi dan sosial masyarakat di ibukota kabupaten Bula. Dari hasil uji statistik tersebut, penghidupan terhadap adanya perubahan penggunaan lahan pemukiman di ibukota kabupaten Bula menjadi hal yang penting untuk diperhatikan, dimana kebutuhan masyarakat bergantung pada penghidupan itu sendiri.

Pengaruh harga tanah terhadap perubahan penggunaan tanah pemukiman (jumlah pemukiman) sangat kuat yaitu 1. Berdasarkan uji statistik dan hasil wawancara menggunakan kuesioner, harga tanah di Ibukota Kabupaten Bula atau Kelurahan Bula sangat berat, seperti memiliki atau membeli, karena memiliki tingkatan harga. Untuk lebih jelasnya tentang pedoman penggunaan kawasan perkantoran di Ibukota Bula dijelaskan pada peta arah penggunaan lahan. Dari hasil uji statistik tersebut mata pencaharian terhadap adanya perubahan penggunaan lahan pemukiman di Ibukota Bula menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dimana kebutuhan masyarakat bergantung pada mata pencaharian itu sendiri.

Pengaruh harga tanah terhadap perubahan penggunaan tanah pemukiman (jumlah pemukiman) sangat kuat, dilihat dari uji statistik dan hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner, harga tanah di ibu kota Bula atau Kelurahan Bula sangat merepotkan seperti kepemilikan atau pembelian karena tingkat harga.

PENUTUP

Kesimpulan

Sehingga harga tanah bukanlah hal yang membuat masyarakat Kabupaten Bula Ibukota kesulitan kebutuhan atau belum memiliki peruntukan atau kepemilikan kavling tempat tinggal maupun yang berkaitan dengan sosial masyarakat Kabupaten Bula Ibukota. Sehingga perubahan pembelian penggunaan lahan pemukiman harus ditindaklanjuti dengan melihat mata pencaharian penduduk agar tidak menimbulkan kemiskinan atau keuntungan ekonomi bagi pihak yang mata pencahariannya jelas. Pedoman penggunaan lahan pemukiman berdasarkan hasil survei lapangan, perlu dibuat petunjuk penggunaan sarana pendidikan, petunjuk perubahan kawasan perdagangan dan kegiatan ekonomi, petunjuk penataan fasilitas perkantoran, petunjuk perubahan lahan pemukiman penggunaan, petunjuk pengembangan sistem transportasi dan petunjuk penggunaan lahan konservasi.

Untuk itu tanggung jawab diberikan kepada semua pihak baik pemerintah, swasta maupun masyarakat untuk bersama-sama melakukan dan bekerja sama dalam hal perubahan penggunaan permukiman yang mengutamakan kepentingan bersama atas tanah yang ada di Ibukota kabupaten. dari Bula.

Saran

Pemerintah sebagai pihak yang berperan penting dalam tender dan perizinan yang dikeluarkan untuk pembangunan permukiman, seharusnya pemerintah tidak hanya memberikan izin tetapi juga melihat aturan yang telah ditetapkan agar kesesuaian pembangunan tidak menimbulkan masalah. 1982. Struktur Internal Kota, Kuliah tentang Bentuk Perkotaan, Pertumbuhan, dan Politik, New York: Oxford University Press. Dinas Tata Guna Lahan dan Permukiman Kabupaten Seram Bagian Timur (2015), Perencanaan Tata Guna Lahan Kabupaten Seram Bagian Timur.

Kajian Perubahan Penggunaan Lahan dari Penggunaan Lahan Permukiman Menjadi Penggunaan Lahan Komersial, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Perencanaan, Institut Teknologi Bandung. Menurut Anda, manakah dari keempat faktor atau variabel di bawah ini yang paling berpengaruh terhadap keberadaan suatu pemukiman/kediaman; Menurut anda faktor apa saja yang mempengaruhi lahan pemukiman tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah atau semrawutnya persebaran pemukiman?

Apakah ada faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan lahan untuk pembangunan/perumahan yang tidak sesuai dengan kebutuhan hidup.

Gambar

Tabel 3.1. Koefesien Tingkat Korelasi Variabel yang Berpengaruh......... 52 Tabel 4.1 Luas  Wilayah  Kabupaten Seram  Bagian  Timur Dirinci
Tabel 4.15 Jumlah  Penduduk  Menurut  Usia  Di  Kecamatan Bula Tahun 2017.......................................................................................
Gambar 3.1.KerangkaPikir

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) menganalisis perubahan penggunaan lahan yang terjadi antara tahun 2010 dan 2014, (2) menganalisis faktor-faktor

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) menganalisis perubahan penggunaan lahan yang terjadi antara tahun 2010 dan 2014, (2) menganalisis faktor-faktor

Faktor yang paling dominan dengan perubahan penggunaan lahan yaitu, tingkat pertambahan jumlah fasilitas sosial ekonomi (r = 0,56), sedangkan dua faktor yang lain

Potensi perubahan pemanfaatan lahan pada di Kecmatan Tembelang Kabupaten Jombang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan

perubahan penggunaan lahan untuk pemukiman di Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang yaitu wilayah ini ditunjang dari non fisis terdiri dari pertumbuhan penduduk,

Karena keterbatasan waktu penelitian dan kompleksnya perubahan fungsi lahan yang terjadi di Kecamatan Polewali, maka perubahan fungsi lahan yang dimaksud dalam

Faktor yang paling dominan dengan perubahan penggunaan lahan yaitu, tingkat pertambahan jumlah fasilitas sosial ekonomi (r = 0,56), sedangkan dua faktor yang lain

Kebutuhan lahan permukiman Kota Padang pada tahun 2030 yaitu 788.62 ha, kebutuhan lahan permukiman Kota Padang dihitung berdasarkan asumsi jumlah penduduk tahun 2020 dengan luas lahan