• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Politik Internasional dan MDGs - Blog Staff

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Analisis Politik Internasional dan MDGs - Blog Staff"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan memperlancar proses belajar mengajar di Universitas Indonesia khususnya topik kebijakan kesehatan, penulis telah membuat serangkaian studi kasus pengambilan kebijakan kesehatan. Studi kasus ini dikembangkan berdasarkan kegiatan belajar mengajar di berbagai program studi pascasarjana dan sarjana kebijakan kesehatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Sebagai penanggung jawab mata kuliah pengambilan kebijakan kesehatan di lingkungan FKM UI, penulis merasa perlu untuk menyusun studi kasus ini agar dapat merangsang kreativitas dan memberikan perspektif yang komprehensif dan luas, sekaligus mengasah kemampuan penalaran kritis setiap orang. murid . dalam mempelajari berbagai aspek pengambilan kebijakan publik di sektor kesehatan.

Penulis telah mengumpulkan seluruh topik dan format serta sebagian isi dalam rangkaian studi kasus ini sebagai tugas bagi mahasiswa, yang kemudian mengubahnya menjadi artikel ilmiah. Penulis menyempurnakan temuan penyusunan karya ilmiah ini menjadi sebuah studi kasus yang akan digunakan dalam kajian topik pengambilan kebijakan kesehatan khususnya di Universitas Indonesia. Literatur utama yang digunakan dalam penyusunan studi kasus ini adalah Sistem Kesehatan, Wiku Adisasmito (2007), Pembuatan Kebijakan Kesehatan, Kent Buse dkk (2006), Proses Kebijakan Pelayanan Kesehatan, Carol Barker (1996), Kebijakan Kesehatan, Suatu Pengantar tentang Proses dan Kekuasaan, Gill Walt (1994) dan UU No. 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

Oleh karena itu, kami berharap studi kasus ini dapat memberikan semua materi yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan proses belajar mengajar. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Nina Rosyina, mahasiswi program pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM UI tahun ajaran 2006/2007 yang telah membantu penyusunan makalah yang kemudian penulis jadikan studi kasus.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tujuan

ANALISIS SITUASI

  • Peran Negara-negara Besar
  • Isu Keamanan Perairan Kawasan
  • Isu Perbatasan Antar Negara
  • Nasional

Faktor lain yang juga sangat berpengaruh adalah peran dan kepentingan negara-negara besar, ditambah dengan permasalahan hubungan antar negara di kawasan. Amerika Serikat (AS), satu-satunya negara adidaya, mempunyai kepentingan yang sangat besar di seluruh belahan dunia, termasuk kawasan Asia Tenggara, termasuk kepentingan politik, ekonomi, dan keamanan. Negara-negara besar dan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik tidak bisa mengabaikan peran Tiongkok dalam keamanan kawasan, karena Tiongkok memiliki kepentingan dan kekuatan yang patut diperhitungkan dalam menentukan stabilitas keamanan kawasan.

Hubungan ekonomi anggota UE dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara telah berkembang sedemikian rupa sehingga negara-negara UE mempunyai kepentingan politik dan ekonomi yang besar di kawasan Asia Tenggara, baik sebagai pasar maupun sebagai pemasok bahan mentah. Hal ini menjadikan perairan di kawasan Asia Tenggara, termasuk perairan Indonesia, menjadi jalur laut menuju benua tersebut. Kegiatan penyelundupan melalui perairan antar negara yang tidak kalah lazimnya di kawasan Asia Tenggara selama satu dekade terakhir adalah penyelundupan senjata, amunisi, dan bahan peledak.

Di kawasan Asia Tenggara, beberapa negara perbatasan mengalami ketidakjelasan perbatasan, termasuk di Laut Cina Selatan. Batas maritim dengan landas kontinen yang terletak pada titik koordinat tertentu di perairan Samudera Hindia dan Laut Andaman telah disepakati kedua negara.

TINJAUAN PUSTAKA

Pada tahun 2004, KPA 20 persen penduduk termiskin (kuintil 1) baru mencapai 63,8 persen, sedangkan kelompok terkaya (kuintil 5) mencapai 97,16 persen. Di tingkat nasional, angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun ke atas meningkat dari 92,2 persen pada tahun 1990 menjadi 98,7 persen pada tahun 2004. Namun, angka melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas meningkat dari 84,2 persen pada tahun 1995 menjadi 90,38 persen. persen pada tahun 2004.

Namun rasio APM perempuan dan laki-laki pada tingkat SMP/MTs sejak tahun 1994 selalu lebih dari 100 persen, dan pada tahun 2004 sebesar 103,4. Dengan menggunakan rasio Angka Partisipasi Kasar (APK) perempuan terhadap laki-laki, terlihat bahwa partisipasi perempuan pada jenjang SMP/MTs lebih tinggi dibandingkan laki-laki dengan rasio sebesar 103,1 pada tahun 2003. Rasio APM perempuan terhadap laki-laki pada pendidikan menengah Tingkat tersebut menunjukkan fluktuasi yang cukup besar dari 95,2 pada tahun 1994 menjadi 103,7 pada tahun 2000 dan menjadi 98,7 pada tahun 2004.

Tingginya peningkatan pada tahun 1998-2000 diduga disebabkan oleh dampak menurunnya tingkat perekonomian masyarakat yang menyebabkan banyak anak laki-laki putus sekolah karena harus bekerja. Pada tingkat perguruan tinggi, rasio partisipasi perempuan dan laki-laki meningkat dari 85,1 persen pada tahun 1992 menjadi 94,3 persen pada tahun 2003 dan sedikit menurun menjadi 93,2 persen pada tahun 2004. Pada tahun 2004, APM pendidikan menengah mencapai 43,0 persen, APM pendidikan tinggi sebesar 8,6 persen.

Apabila rentang usia tersebut diperluas menjadi 15 tahun ke atas, tampak kesenjangan tingkat melek huruf laki-laki dan perempuan di perdesaan (rasio 90,1) pada tahun 2004 lebih besar dibandingkan penduduk perkotaan (rasio 94,9). Angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun pada tahun 2003 terus bervariasi antar provinsi dengan angka melek huruf berkisar antara 94,4 persen hingga 99,8 persen dengan rata-rata 98,6 persen. Rata-rata rasio angka melek huruf perempuan dan laki-laki pada tahun 2003 mencapai 100, namun bila dirinci berdasarkan provinsi, kesenjangan tersebut masih tampak besar dengan rasio berkisar antara 89,6 (Papua) hingga 103,1 (Gorontalo).

Kontribusi penduduk perempuan terhadap pekerjaan berupah di sektor non-pertanian juga masih rendah, yakni sebesar 28,3 persen pada tahun 2002. Demikian pula persentase perempuan di lembaga peradilan juga rendah, yaitu 20 persen sebagai hakim dan 18 persen. hakim agung pada tahun 2004. Pada tahun 2000 Indonesia telah mencapai target yang ditetapkan oleh World Summit for Children (WSC) yaitu 65 per 1000 kelahiran hidup.

Penggunaan kondom pada hubungan seksual terakhir pada tahun 2004 adalah 59,7%, dibandingkan dengan 41% pada tahun sebelumnya. Tingkat aksesibilitas jamban oleh rumah tangga meningkat dari 63,5 persen pada tahun 2002 menjadi 67,5% pada tahun 2004.

PEMBAHASAN

Tingginya angka kematian bayi pada usia sampai dengan satu tahun menunjukkan rendahnya status kesehatan ibu dan bayi baru lahir, rendahnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak; serta perilaku ibu hamil dan keluarga serta masyarakat sekitar yang kurang mendukung pola hidup bersih dan sehat. Implementasi desentralisasi layanan kesehatan memberikan tantangan yang cukup besar bagi layanan kesehatan secara umum, karena pembagian tugas dan wewenang di sektor layanan kesehatan belum sepenuhnya dipahami. Ancaman epidemi HIV/AIDS terlihat dari data infeksi HIV yang terus meningkat, terutama pada kelompok risiko tinggi.

Upaya nyata untuk menurunkan angka kematian anak pada masa krisis telah dilakukan melalui program jaring pengaman sosial dan pengurangan subsidi BBM, yaitu dengan memberikan akses layanan kesehatan gratis bagi masyarakat miskin, antara lain layanan kesehatan dasar, layanan kebidanan dasar, layanan perbaikan gizi, revitalisasi. pos pelayanan terpadu (posyandu), pemberantasan penyakit menular dan revitalisasi kesadaran pangan dan gizi. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, upaya peningkatan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan kesehatan terus dilakukan dan lebih ditingkatkan melalui upaya menjaga kesehatan masyarakat miskin dengan sistem asuransi/asuransi kesehatan yang iurannya ditanggung oleh masyarakat miskin. dibayar oleh negara. Dengan sistem ini, sekitar 36,1 juta masyarakat miskin dapat memperoleh manfaat layanan di Puskesmas dan jaringannya, seperti puskesmas binaan dan bidan desa, serta layanan di RS Kelas III secara gratis.

Dalam rangka mendekatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah, kebijakan pembangunan kesehatan terutama ditujukan untuk meningkatkan jumlah, jaringan+mutu PKM, meningkatkan mutu tenaga kesehatan (khususnya dokter+bidan) dan mengembangkan pelayanan kesehatan. sistem asuransi, khususnya bagi masyarakat miskin. Dalam RPJMN, program ini dilanjutkan dan ditingkatkan dengan adanya sistem jaminan kesehatan yang preminya ditanggung oleh pemerintah. Seluruh masyarakat miskin dapat memperoleh pelayanan pengobatan gratis di Puskesmas dan jaringannya serta RS III.

Pengendalian penyebaran HIV/AIDS, khususnya pada kelompok risiko tinggi, akan ditingkatkan dan mendapat perhatian utama dari pemerintah. Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia terdiri dari upaya pencegahan, antara lain peningkatan kualitas dan akses terhadap layanan kesehatan reproduksi serta pemahaman hak-hak reproduksi; Upaya pencegahan juga ditujukan kepada populasi berisiko tinggi seperti pekerja seks komersial dan kliennya, orang yang tertular dan pasangannya, pengguna narkoba suntik, dan petugas kesehatan yang mudah terpapar infeksi HIV/AIDS.

Aksesibilitas pasien terhadap layanan kesehatan ditingkatkan dengan menambah jumlah rumah sakit rujukan menjadi 50 rumah sakit pada tahun 2005, dan 10 rumah sakit ditetapkan sebagai pusat rehabilitasi pecandu narkoba. Di kabupaten/kota dengan prevalensi HIV/AIDS 5% atau lebih, dilakukan upaya pemberantasan tuberkulosis secara konsisten. Pada tahun 1999, diluncurkan Gerakan Nasional Pemberantasan Tuberkulosis atau “Gerdunas” terpadu untuk mendorong percepatan pemberantasan tuberkulosis dengan pendekatan terpadu, yang melibatkan rumah sakit dan pihak swasta serta seluruh pengambil kebijakan lainnya, termasuk pasien dan masyarakat terkait.

Mulai tahun 2005, upaya ini didukung dengan pemberian layanan kesehatan, termasuk pemeriksaan gratis, pengobatan, dan tindakan medis kepada seluruh warga miskin. MDGs berharap dapat mengurangi setengah dari 1,3 miliar penduduk miskin di dunia pada tahun 2015.

Referensi

Dokumen terkait