i
SKRIPSI
OLEH
SARADITA OKTAVIANI G.331.14.0085
PROGRAM STUDI S1-ILMU KOMUNIKASI JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS SEMARANG
SEMARANG 2019
ii
iii
iv
v
vi
He that is faithful in that which is least is faithful also in much:
and he that is unjust in the least in unjust also in much.
Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.
Dan barang siapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara- perkara besar.
Persembahan ; Skripsi dipersembahkan kepada : For my dearest family Almamater Beloved friends
vii
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, atas segala anugerah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Resepsi Seksualitas Program Acara KLIMAKS Gajah Mada FM Di Mata Pendengar Setianya”, sebagai persyaratan memperoleh gelar sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi pada Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Semarang.
Penulis sepenuhnya menyadari bahwa selesainya skripsi ini tidak lepas dari dukungan beberapa pihak, baik berupa material maupun moril berupa saran-saran, informasi, motivasi, bimbingan, dan sebagainya. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Terimakasih kepada Tuhan Yesus yang telah melimpahkan hikmatnya kepada penulis sehingga penulis selalu diberi kesehatan, kekuatan, dan kemudahan selama penyusunan tugas akhir skripsi ini.
2. Drs. H. Gunawan Witjaksana, M. Si selaku dosen pembimbing utama dan Errika Dwi Setya Watie, M.I.Kom selaku dosen pembimbing pendamping dan pembimbing seminar yang telah memberikan banyak masukan, saran, dan telah meluangkan waktu untuk membantu penulis menyelesaikan laporan ini.
3. Hatika Yanti Nora, S. Sos dan juga Gajah Mada FM yang telah berkenan memberikan data guna penyusunan skripsi.
4. Dosen pengajar serta staf di progam studi Ilmu Komunikasi atas ilmu dan bantuan yang sudah diberikan kepada penulis selama menempuh pendidikan sarjana.
viii
ix
LEMBAR PERSETUJUAN ……….………….……… ii
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI .…………...……….. iii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ….………. iv
PERNYATAAN ……….………... v
MOTO & PERSEMBAHAN ………...………...….. vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ...………... ix
DAFTAR BAGAN ...………... xiii
DAFTAR TABEL ………...………...… xiv
DAFTAR LAMPIRAN ……….... xv
ABSTRACT ... xvi
ABSTRAK ... xvii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...……….………. 1
1.2 Rumusan Masalah………...……….………. 8
x
1.4.2 Manfaat Praktis ...………... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis Resepsi ...………...………. 10
2.2 Teori Resepsi… ...……….. 12
2.3 Radio ……... ……….. 14
2.4 Talkshow …………...…....……… 17
2.5 Audiens ...……….……....……….. 20
2.6 Seksualitas ……….…...……….……….….. 22
2.7 Kerangka Berpikir ...…….……….… 24
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian ... 26
3.2 Bentuk dan Strategi Penelitian ………... 26
3.3 Data dan Sumber Data ………...26
3.3.1 Data Primer ………... 26
3.3.2 Data Sekunder ………... 27
3.4 Teknik Sampling………... 27
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 28
3.5.1 Observasi Berpesan Pasif ...………...………… 29
3.5.2 Wawancara Mendalam ………..……… 29
xi
3.7 Teknik Analisis Data... 30
3.7.1 Analisis Resepsi………... 30
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum KLIMAKS Gajah Mada FM ... 32
4.2 Segment KLIMAKS episode Konsistensi Menjaga Hubungan ……… 35
4.3 Preferred Reading KLIMAKS Gajah Mada FM …... 35
4.3.1 Hasil Wawancara Informan 1 ... 37
4.3.2 Hasil Wawancara Informan 2 ... 40
4.3.3 Hasil Wawancara Informan 3 ………...……… 43
4.4 Pembahasan ... 46
BAB IV PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 52
5.2 Implikasi ... 53
5.2.1 Implikasi Teoris ………...………. 53
5.2.2 Implikasi Metodologis ...………...……… 53
5.2.3 Implikasi Praktis ………...……… 53
5.3 Saran ... 54
5.3.1 Saran Akademis .………...….………..………..…….……….. 54
5.3.2 Saran Praktis ….……….…..………...……….. 54
DAFTAR PUSTAKA ... 55
xii
2.7.1 Kerangka Berpikir Penelitian ……… 24
xiii
4.2 Segment KLIMAKS Konsistensi Menjaga Hubungan ………... 36
4.4.1 Pemaknaan Prefered Reading oleh Maria Cicilia Susana ………... 47
4.4.2 Pemaknaan Prefered Reading oleh Yuni ………...……. 49
4.4.3 Pemaknaan Prefered Reading oleh Sefti Sinaga ………...….. 50
xiv
Lampiran 3 ………. Transkrip Acara KLIMAKS
Lampiran 4 ………..……….. Log Konsul
Lampiran 5 ……… Surat permohonan ijin melakukan riset Lampiran 6 ………. Surat Penunjukan Pembimbing
xv
The program of the event was the KLIMAKS is a talkshow that deals with sexual relationships and relationships around the household. This program presents a competent speaker and audience can be consulted through this event, unique in every episode has a different theme that is presented. One of the themes taken up is consistency in the relationship. This research aims to understand the audience's understanding of sexuality and the consistency of the KLIMAKS of Gajah Mada FM. Basic theory used in this research is the theory of Reception of Stuart Hall (1976) that lays out the three positions of the audience. The research results obtained through in- depth interviews with three informants of different economic background, education, and the tribe.
Preferred reading of this KLIMAKS is geared to audiences agree that consistency is important in relationships, communication is required in terms of sexuality, and the need for physical touch and take the time to mate. Research results are grouped into three positions, dominant hegemonic position which puts the audience accept the meaning of media presented, negotiated position that places the audience accept the meaning of presented but modified in such a way so reflect his personal interests and positions, and oppositional position audiences rejected the meanings presented and determine its meaning on its own.
Key words: analysis of reception, radio talkshow, sexuality
xvi
Program acara KLIMAKS merupakan sebuah talkshow yang membahas seputar hubungan seksual dan hubungan rumah tangga. Program ini menghadirkan narasumber yang kompeten dan audiens dapat berkonsultasi melalui acara ini, uniknya setiap episode yang disajikan memiliki tema berbeda. Salah satu tema yang diambil adalah konsistensi dalam hubungan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pemahaman audiens seksualitas dan konsistensi KLIMAKS Gajah Mada FM. Teori dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Resepsi Stuart Hall (1976) yang menjabarkan tiga posisi audiens. Hasil penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tiga informan yang berbeda latar belakang ekonomi, pendidikan, dan suku.
Preferred reading dari KLIMAKS ini adalah khalayak diarahkan untuk menyetujui bahwa konsistensi penting dalam hubungan, komunikasi diperlukan dalam hal seksualitas, dan perlunya sentuhan fisik serta meluangkan waktu untuk pasangan. Hasil penelitian dikelompokkan menjadi tiga posisi, dominant hegemonic position yang menempatkan audiens menerima makna yang disajikan media, negotiated position yang menempatkan audiens menerima makna yang disajikan tetapi dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mencerminkan posisi dan minat pribadinya, dan oppositional position audiens menolak makna yang disajikan dan menentukan maknanya sendiri.
Kata kunci: analisis resepsi, radio, talkshow, seksualitas
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Ranah komunikasi sangat lah luas, dan pesan yang disebarkan tidak bisa lepas dari media. Secara singkat komunikasi adalah penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media. Seperti komunikasi model Harold Lasswell “Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?” (siapa berkata apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa?). Berkembangnya teknologi menguntungkan komunikasi manusia melalui berbagai media baru.
Komunikasi massa merupakan komunikasi yang efektif untuk menjangkau audiens atau khalayak yang luas. Menurut Joseph R. Dominick, komunikasi massa adalah suatu proses dimana suatu organisasi yang kompleks dengan bantuan salah satu atau lebih mesin memproduksi dan mengirimkan pesan kepada khalayak yang besar, heterogen, dan tersebar. Setiap media menargetkan audiens sesuai dengan karakteristik media dan konten yang disajikan oleh media tersebut.
Media penyiaran radio menjadi salah satu media yang mempunyai berbagai macam program siaran dan segmentasi audiens. Menurut UU No.
32 tahun 2002 tentang Penyiaran pasal 1 ayat 3, menjelaskan bahwa
“Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar, yang menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara secara umum dan terbuka, berupa program yang teratur dan berkesinambungan.”
Radio mendapat julukan „kekuasaan kelima‟ atau the fifth estate, sementara pers mendapatkan julukan „kekuasaan keempat‟ setelah tiga pilar
pemerintahan yaitu legislatif, yudikatif dan eksekutif. Fungsi dari penyiaran seperti yang ditulis dalam UU No. 32 tahun 2002 pasal 4 ayat 1:
“Penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial.”
Faktor penting dalam siaran radio yaitu program siaran. Kata “program”
berasal dari bahasa Inggris programme atau program yang berarti acara atau rencana. Namun Undang Undang Penyiaran Indonesia menggunakan istilah
“siaran” yang didefinisikan sebagai pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar, atau suara dan gambar atau yang berbentuk grafis, karakter, baik yang bersifat interaktif maupun tidak, yang dapat diterima melalui perangkat penerima siaran (UU No. 32 tahun 2002 pasal 1:1). Dewasa ini persaingan stasiun radio di kota-kota besar cukup tinggi, sehingga mereka harus dapat menjual program mereka ke masyarakat untuk menarik minat.
Banyak sekali stasiun radio yang ada di Semarang ± 59 stasiun radio baik AM maupun FM. Pringle-Star-McCavitt (1991) menjelaskan bahwa: the programing of most station is dominate by one principal content element or sound, known as format (program sebagian besar stasiun radio didominasi oleh satu elemen isi atau suara yang utama yang dikenal dengan format) (dalam Morissan, 2008: 230). Format siaran radio harus jelas, tentang apa, untuk siapa, dan bagaimana prosesnya supaya dapat diterima oleh audiens.
Dalam satu stasiun radio semakin banyak program acara dengan berbagai format, maka semakin banyak dan fokus segmentasi audiensnya.
Tak jarang terdapat beberapa program acara radio yang sama antara radio satu dan yang lainnya. Tetapi yang membedakan adalah bagaimana penyajian acara tersebut sesuai dengan konsep yang diusung oleh masing-masing radio.
Walaupun banyak radio yang mengutamakan Top 40 sebagai program unggulan dan tentunya diminati oleh kaum muda, sebagian juga menyajikan program acara dengan tujuan memberikan informasi tetapi dikemas menarik seperti format talk show. Talk show sendiri adalah gabungan dari seni berbicara dan seni wawancara (Morissan 2008: 236). Perbincangan tersebut dipandu oleh penyiar bersama narasumber untuk mengupas informasi.
Kemampuan penyiar sangat dituntut dalam memandu program acara semacam talk show ini, sebab jika penyiar kurang dalam menggali informasi dari narasumber akan berakibat pada pemahaman atau penerimaan pesan ke audiens.
Di kota Semarang terdapat dua stasiun radio yang mempunyai program acara berkonsep seksualitas, yaitu KLIMAKS (Konsultasi Masalah Seksual) di Gajah Mada FM dan KONSENTRASI (Konsultasi Seksologi dan Rehabilitasi) di KISS FM. Kedua program ini mempunyai kesamaan yaitu menghadirkan narasumber yang sama, dr. Andi Sugiarto, SpRm. KLIMAKS mengudara setiap hari rabu pukul 22.00-23.00 sedangkan KONSENTRASI mengudara setiap hari juman pukul 21.00-22.00. Berbeda dengan KLIMAKS, KONSENTRASI menyajikan talkshow dimana audiens dapat direhabilitasi dengan tema-tema yang disajikan, sedangkan KLIMAKS berfokus pada konsultasi saja.
Program siaran Klimaks (Konsultasi Masalah Seksual) yang berbentuk talkshow, dimana program tersebut menghadirkan narasumber untuk membahas suatu topik mengenai masalah seksual dan hubungan mengenai suami istri yang dikupas dari berbagai sisi, seperti kesehatan dan psikologis.
Maka dari itu target audiens dari program siaran Klimaks ini adalah orang dewasa yang telah menikah. Menurut Kriyantono (2009: 275) ada tiga sumber yang menjadi penunjang kehidupan industri media, yaitu capital, content, dan audience. Program Klimaks ini dikhususkan untuk usia dewasa karena disesuaikan dengan konten siaran tersebut. Di Indonesia sendiri karena menganur budaya timur, masih menganggap bahwa pembahasan mengenai seks itu tabu. Pengenalan seks seharusnya diajarkan sejak kecil kepada anak hingga dia dewasa. Namun karena jarang dibicarakan, pembahasan mengenai seks ini menjadi hal yang tabu. Seperti survei yang dilakukan CoupunCodes4u terhadap 2.305 orangtua menghasilkan bahwa
44 persen dari mereka menolak membahas seks dengan anaknya, karena topiknya dianggap memalukan. Sementara, 27 persen lainnya menolak, karena merasa hal itu bertentangan dengan ajaran agama, dan 11 persen yang lain tidak percaya dengan pendidikan seks.
(https://www.motherandbaby.co.id/article/2016/4/40/899/Pendidikan- Seks-Masih-Tabu. Diakses pada tanggal 14 Juli 2018 pukul 14.37)
Di program Klimaks ini seksualitas dibedah sedemikian rupa untuk membentuk pemahaman seseorang dan juga hubungan suami isteri, seperti pada tema Konsisten. dalam episode ini diarahkan pendengar dapat membangun hubungan dengan pasangan dengan cara menaikkan konsistensi.
Menurut Made Oka Negara, seksualitas secara denotatif memiliki makna lebih luas karena meliputi semua aspek yang berhubungan dengan seks yang bisa meliputi nilai, sikap, orientasi, dan perilaku.
Sedangkan Konsisten: kon-sis-ten /konsistén/ dalam KBBI a 1 tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek; 2selaras; sesuai: perbuatan hendaknya -- dng ucapan. Dalam episode ini konsistensi membawa peran besar dalam hubungan suami isteri, dan diharapkan setiap pasangan dapat mempertahankan konsistensinya atau justru menjadikan lebih baik. Dibahas juga bagaimana konsistensi pasangan dalam berkomunikasi sampai perilaku atau sikap pasangan ketika melakukan kontak fisik. Kontak fisik ini bisa seperti berpegangan tangan sampai melakukan hubungan intim suami isteri.
Tema ini menyangkut juga dengan seksualitas yang tidak dapat dipisahkan dalam hubungan suami isteri. Seksualitas pada episode ini mengacu pada kemesraan pasangan sampai kenikmatan dalam hubungan suami isteri.
Irish Times melakukan survey mengenai elemen terpenting dalam keintiman dan hasilnya menunjukkan sebesar 22% merasa diinginkan, 22%
kepercayaan, 19% komunikasi yang baik, 13% kasih saying, dan 24%
menjawab yang lainnya. (https://www.irishtimes.com/life-and-style/health- family/sex-survey/let-s-talk-about-sex-the-full-survey-results-1.2263907.
Diakses tanggal 14 Juli 2018 pukul 15.09)
Episode ini juga menjelaskan bahwa dalam hubungan rumah tangga semua harus dikomunikasikan termasuk seksualitas harus dikomunikasikan satu
sama lain, dan biasanya wanita sering kali diam jika tidak puas atau ada yang mengganjal dalam hubungan seksualitasnya. Maka dari itu penulis hendak meneliti bagaimana penerimaan seksualitas pendengar setia Klimaks pada episode konsistensi menjaga hubungan ini. Apakah setuju dengan makna seksualitas yang terkandung di dalamnya atau tidak.
Dengan media radio yang mengandalkan gelombang elektromagnetik, program siaran Klimaks dapat didengarkan oleh masyarakat (audiens).
Masyarakat dengan latar belakang kebudayaan dan lingkungan yang berbeda akan berbeda pula penerimaan tentang program Klimaks ini. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi penerimaan audiens terhadap suatu program, Malvin De Fleur mengasumsikan bahwa pesan yang disampaikan media massa akan ditangkap oleh individu sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya masing-masing. Begitu pula pendidikan akan membentuk karakter seseorang, melalui pendidikan orang akan memperoleh ilmu dan pengetahuan yang banyak menurut tingkat pendidikannya. Cara berpikir orang yang mengenyam pendidikan tingkat SMA akan berbeda dengan seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan sampai perguruan tinggi.
Maka dari itu, peneliti ingin melihat bagaimana penerimaan pendengar dari program Klimaks ini dilihat dari latar belakang pendidikan pendengar tersebut.
Sebagai pendukung penelitian ini, penulis telah melakukan tinjauan dan observasi terhadap beberapa literatur mengenai perbandingan program acara radio. Berikut penelitian yang setama dengan penelitian yang akan dilakukan
peneliti: Penelitian pertama berjudul Analisis Resepsi terhadap Rasisme Dalam Film (Studi Analisis Resepsi Film 12 Years A Slave Pada Mahasiswa Multi Etnis) yang ditulis oleh Billy Susanti mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Surakarta tahun yang disusun pada tahun 2014. Dalam penelitian tersebut, Billy Susanti mengambil beberapa informan dengan latar belakang suku dan budaya yang berbeda, yaitu etnis China, Arab, Flores, dan Aceh. Mereka ini adalah etnis minoritas yang ada di Indonesia. Namun penerimaan mereka sama pada posisi oposisi terhadap beberapa adegan yang sudah dipilih untuk menjadi encoding. Tetapi terdapat penerimaan berbeda dari beberapa informan terkait adegan budak kulit hitam dipaksa menari untuk menghibur para tuannya. Pendapat para informan ini dilatar belakangi budaya yang berbeda. Penelitian Analisis Resepsi terhadap Rasisme Dalam Film menggunakan analisis resepsi, sama seperti analisis yang akan digunakan dalam penelirian ini.
Yang kedua adalah jurnal penelitian oleh Any Suryani, mahasiswa S1 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang berjudul Analisis Resepsi Penonton Atas Popularitas Instan Video Youtube „Keong Racun‟
Sinta Dan Jojo yang disusun pada tahun 2013. Hasil dari penelitian tersebut bahwa dari kalangan mahasiswa Ilkom USM terdapat tiga kategori penonton yang mencirikan analisis resepsi yang lalu dibandingkan dengan preffered reading analisis semiotika. Video; Keong Racun‟ Shinta dan Jojo ini menunjukan kekuatan media baru yang memiliki alternative untuk mengambangkan bakat seseorang. Dalam jurnal penelitian Aeny ini
menggunakan analisis Resepsi yang kemudian dikaitkan dengan anaisis Semiotika milik Charles Saunders Pierce.
Penelitian ketiga yang dilakukan oleh Hanifahridads mahasiswa Program Studi Komunikasi Dan Penyiaran Islam, Pascasarjana, Institut Agama Islam Negeri Purwokerto degan judul PESAN ISLAM MELALUI RADIO:
Analisis Resepsi Pendengar Mutiara Pagi RRI Purwokerto. Dalam penelitian tersebut, dilakukan bagaimana resepsi pendengar terkait pesan islam yang disampaikan melalui radio ini menggunakan teori resepsi yang dipadukan dengan metode analisi resepsi. Disini Hanifahridads tidak menganalisa preferred reading dengan teori semiotika, melainkan langsung meneliti dengan metode analisis resepsi. Pengambilan data juga menggunakan focus group discussion (FGD), berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis, yaitu melalui wawancara mendalam tetapi mempunyai kesamaan yaitu tanpa menganalisis teksnya dengan teori semiotika.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka perumusan masalahnya adalah “Bagaimana Analisis Resepsi Seksualitas Program Acara Klimaks Gajah Mada FM Di Mata Pendengarnya?”
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini untuk memahami dan mendeskripsikan secara rinci mengenai Analisis Resepsi Resepsi Seksualitas Program Acara Klimaks Gajah Mada FM Di Mata Pendengarnya.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian yang berupa kajian mendalam Analisis Resepsi Program Acara Klimaks Gajah Mada FM Di Mata Pendengar Setianya hendaknya bermanfaat:
1.4.1 Manfaat Teoritis
Secara teoritis kegunaannya adalah untuk menambah wawasan dan khazanah dalam memahami bagaiamana resepsi mengenai seksualitas pendengar program siaran Klimaks di Gajah Mada FM sesuai dengan latar belakang pendengar (audiens) tersebut. Analisis resepsi digunakan untuk mengumpulkan preferred reading dan teori resepsi digunakan untuk mengetahui penerimaan audiens terhadap program siaran Klimaks Penelitian ini juga diharapkan bermanfaat untuk khazanah pustaka di Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi di Universitas Semarang, tempat dimana penulis menimba ilmu, dan sebagai acuan atau referensi untuk penelitian-penelitian lainnya.
1.4.2 Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini juga dapat dimanfaatkan untuk pihak- pihak terkait penyusunan penelitian ini untuk membantu mengevaluasi
program acara ataupun sebagai masukan program di radio Gajah Mada FM Semarang.
10 BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Analisis Resepsi
Analisis resepsi menaruh perhatian terhadap keadaan-keadaan sosial spesifik dimana pembacaan berlangsung (Burton, 1999: 186-193). Menurut McRobbie (1991 dalam CCMS: 2002) analisis resepsi merupakan sebuah
“pendekatan kulturalis” dimana makna media dinegosiasikan oleh individual berdasarkan pengalaman hidup mereka. Dengan kata lain pesan-pesan media secara subjektif dikonstruksikan khalayak secara individual.
Teori resepsi mementingkan pendapat khalayak pada sebuah isi media ataupun karya, bisa pendapat umum yang bisa berubah-ubah terhadap suatu karya. Menurut Fiske pemanfaatan teori analisis resepsi merupakan pendukung dalam kajian terhadap khalayak sesungguhnya hendak memanfaatkan khalayak tidak semata-mata pasif tapi dilihat sebagai agen kultural (cultural agent) yang mempunyai kuasa sendiri dalam menghasilkan makna dari berbagai wacana konten yang ditawarkan media. Makna yang diusung media lalu bisa bersifat terbuka atau polysemic dan bahkan bisa ditanggapi secara oposisif oleh khalayak (Fiske dalam Tri Nugroho Adi, 2008).
Perkembangan riset media budaya telah diberitahu dalam tiga generasi studi. Pengembangan ini ditandai pertama sebagai encoding /decoding etnografi penonton dan kemudian ke tampilan diskursif atau konstruksionis media dan khalayak (Alaasutari, 1999:2-8). Encoding merupakan kegiatan sumber dalam menerjemahkan gagasan dan ide-ide ke dalam indera yang dapat
diterima pihak penerima. Sedangkan decoding adalah kegiatan untuk menerjemahkan atau menginterpretasikan pesan-pesan fisik ke dalam suatu bentuk yang memiliki arti bagi penerima (Morissan, 2013: 21).
Pesan-pesan dari media merupakan gabungan dari simbol, tanda, dan makna dimana „preferred reading‟ (pemaknaan utama) sudah ditentukan, tetapi masih berpeluang pesan tersebut diterima dengan cara berbeda dari pesan tersebut dikirimkan. Preferred reading adalah makna dominan atau makna terpilih dari sebuah teks. Disebut sebagai dominan, karena ada pola pembacaan yang lebih dipilih, dan pembacaan ini menjadikan tatanan ideologis atau politik atau institusional tertanam dalam pembacaan maupun menjadikan pembacaan terinstitusionalisasikan (Hall, 2011: 223).
Ada tiga elemen pokok dalam metodologi resepsi yang secara eksplisit bisa disebut sebagai “the collection, analysis, and interpretation of reception data”
(pengumpulan, analisis, dan interpretasi data penerimaan) (Jensen, 1999: 139).
Ketiga elemen tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan data dari khalayak atau audiens
Data bisa diperoleh melalui wawancara mendalam (baik individual maupun kelompok). Dalam analisis resepsi, wawancara berlangsug untuk menggali bagaimana sebuah isi pesan media tertentu menstimulasi wacana yang berkembang dalam diri khalayaknya.
2. Menganalisis hasil
Data yang telah diperoleh melalui wawancara atau rekaman proses jalannya focus group discussions (FGD) harus dikaji. Data-data
wawancara dapat dirapikan dengan dikategorikan sesuai pertanyaan, pernyataan, atau komentar.
3. Melakukan interpretasi terhadap pengalaman bermedia dari khalayaknya Selanjutnya adalah mengkolaborasikan hasil temuan di lapangan dengan teori yang digunakan sehingga membuahkan hasil bagaimana penerimaan audiens atau khalayak dari konteks penelitian tersebut yang sesungguhnya.
2.2 Teori Resepsi
Teori resepsi pertama kali dikenalkan oleh Stuart Hall, teori ini biasanya digunakan untuk meganalisis audiens yang dipasangkan dengan analisis resepsi. Stuard Hall menganggap resepsi atau pemaknaan khalayak merupakan adaptasi dari model encoding-decoding yang merupakan model komunikasi yang ditemukannya pada tahun 1973. Berbeda dengan teori-teori media lain yang memperbolehkan pemberdayaan khalayak, Stuart Hall memajukan gagasan bahwa anggota audiens dapat memainkan peran aktif dalam mendekodekan (decoding) pesan karena mereka bergantung pada konteks sosial mereka sendiri, dan mungkin mampu mengubah pesan sendiri melalui tindakan kolektif.
Model teori ini menyatakan bahwa makna yang dikodekan (encoded) oleh pengirim dapat diartikan (decoded) menjadi hal yang berbeda oleh si penerima.
Pengirim akan mengirimkan makna sesuai dengan persepsi dan tujuan mereka, sedangkan penerima menerjemahkan pesan atau makna sesuai dengan persepsi mereka. Hal ini dipengaruhi berbagai faktor.
“Teori ini mengacu pada bagaimana khalayak melakukan decoding pada seluruh isi yang disampaikan media dalam hubungannya berinteraksi dengan makna dari pesan yang disampaikan” (McQuails, 2004: 326).
Gambar 2.2.1 Diagram proses resepsi Stuart Hall (1976) (Dalam Storey, 1996: 10)
Dalam teori ini, kode yang digunakan (encode) dan yang disandi balik (decode) tidak selalu berbentuk simetris. Derajat simetris dalam teori ini diartikan sebagai derajat pemahaman dan kesalahpahaman dalam pertukaran pesan dalam proses komunikasi, tergantung pada reaksi simetris atau tidak yang terbentuk Antara encoder (komunikator) dan decoder (komunikan).
Posisi encoder (komunikator) dan decoder (komunikan) jika dipersonifikasikan menjadi pembuat dan penerima pesan.
Menurut Stuart Hall, khalayak melakukan decoding pesan media melalui tiga kemungkinan posisi:
1. Dominant hegemonic position (posisi hegemonic dominan)
Stuart Hall menjelaskan Hegemoni Dominan sebagai situasi dimana “the media produce the message; the masses consume it. The audience reading coincide with the preferred reading” (media menyampaikan pesan, khalayak menerimanya. Apa yang disampaikan media secara kebetulan juga disukai oleh khalayak). Jadi di posisi ini khalayak akan menerima makna secara penuh yang dikehendaki oleh pembuat program tersebut.
2. Negotiated position (posisi negosiasi)
Diposisi ini khalaak akan menerima ideologi dominan dan menolak untuk menerapkannya pada kasus-kasus tertentu. Seperti yang dikatakan oleh Stuart Hall; “the audience assimilates the leading ideology in general but opposes its application in specific case”. Khalayak akan menerima ideologi secara umum tapi akan menolak menerapkannya jika terdapat perbedaan dengan kebudayaan mereka.
3. Opositional position (posisi oposisi)
Dialam posisi oposisi ini, audiens atau khalayak menolak makna yang diberikan oleh media dan menggantikannya dengan makna pemikiran mereka sendiri sesuai dengan pemikiran mereka terhadap isi media tersebut.
2.3 Radio
Dalam KBBI radio (n) berarti siaran (pengiriman) suara atau bunyi melalui udara. Awal mula adanya radio di Indonesia berawal dari hobi yang sekarang ini berkembang menjadi industri, karena menarik keuntungan. Arifin Gandawijaya yang hobinya otak-atik barang elektronik, bersama teman-
temannya merakit pemancar, yaitu dengan cara mengumpulkan perangkat siaran radio, dan sesekali mengudara memutarkan siaran yang diinginkan.
Rahanantha (2008: 24) menjelaskan radio adalah teknologi yang digunakan untuk mengirim sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik).
“Radio, tepatnya radio siaran (broadcasting radio) merupakan salah satu jenis ,edia massa (mass media), yakni sarana atau saluran komunikasi massa (channel of mass communication), seperti halnya surat kabar, majalah, atau televisi. Ciri khas utama radio adalah auditif, yakni dikonsumsi telinga atau pendengaran”. (Romli, 2014:
19)
Radio pertama yang ada di Indonesia adalah Bataviasche Radio Vereniging (BRV) di Jakarta pada tanggal 16 Juni 1925 yang dimiliki oleh Pemerintahan Hindia Belanda. Sedangkan radio pertama milik Indonesia adalah Solosche Radio Vereninging (SRV) yang didirikan oleh Mangkunegoro VII dan Sarsito Mangunkusumo pada 1 April 1933 di Solo.
Setiap tanggal 11 September menjadi peringatan Hari Radio di Indonesia.
Sebab Radio Republik Indonesia (RRI) lahir pada tanggal 11 September 1945.
Sejak Proklamasi kemerdekaan 1945 hingga akhir pemerintahan Orde Lama 1965, penyiaran hanya dilakukan oleh RRI saja. Lalu setelah kemunculan Orde Baru, berbagai organisasi radio amatir mulai tumbuh, seperti PARB (Persatuan Amatir Radio di Bandung) dan organisasi radio amatir lainnya. Maraknya kemunculan radio amatir ini baru resmi diizinkan oleh pemerintah dengan keluarnya Peraturan Pemerintrah RI Nomor 21 Tahun 1957 tentang Radio Amatir di Indonesia (sebagai turunan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1964
tentang penetapan PP pengganti UU Nomor 6 Tahun 1963 tentang Telekomunikasi).
Selain ekonomis, radio dapat didengar dimana saja dan kapan saja, bahkan saat melakukan pekerjaan atau aktivitas, masyarakat dapat mendengarkan radio. Radio dapat dijumpai dimana-mana, di rumah-rumah, di dalam mobil, bahkan lebih praktis terdapat dalam handphone sehingga memudahkan orang untuk mendengarkan siaran radio. Hasil survei dari Neilsen mengemukakan terdapat 96% masyarakat mendengarkan radio di rumah, sedangkan sisanya mendengarkan radio di mobil. Siaran radio dapat dinikmati dimana saja tanpa butuh banyak konsentrasi mata, hanya mengandalakan indera pendengaran saja, sehingga mendengarkan siaran radio saat menyetir dianggap aman, daripada menonton audio visual di dalam mobil, sebab selain memerlukan konsentrasi penuh, ini juga memerlukan indera penglihatan dan pendengaran sehingga dapat mengganggu konsentrasi saat mengemudi.
Melalui Surat Keputusan No. 201/Humas/SK/68 tertanggal 29 Mei 1968, Solihin GP, Gubernur Jawa Barat kala itu menetapkan kategori radio siaran non-RRI, dengan kriteria (Achmad Setiyaji, et al. 2015: ) :
- Siaran radio komersial, yaitu siaran radio swasta bertujuan membantu kemajuan dan perkembangan perdagangan, perindustrian, dan perekonomian pada umumnya dengan cara menjual sebagian waktu siarannya untuk iklan, sponsor maupun pilihan pendengar.
- Siaran radio eksperimental, yaitu siaran radio perguruan tinggi dengan tujuan penyebarluasan pengetahuan, kebudayaan dan pensisikan, yang dipertanggungjawabkan langsung kepada pimpinan perguruan tinggi.
- Siaran hiburan, yaitu siaran radio non-komersial sebagai wahana untuk mengembangkan hobi elektronika yang sehat kepada masyarakat.
- Radio daerah (sturada) yaitu radio yang disponsori oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat yang berfungsi sebagai suplemen dari RRI.
2.4 Talkshow
Format siaran radio harus jelas, tentang apa, untuk siapa, dan bagaimana prosesnya supaya dapat diterima oleh audiens. Dalam satu stasiun radio semakin banyak program acara dengan berbagai format, maka semain banyak dan fokus segmentasi audiensnya. Michael C. Keith (1987) menyusun empat karakteristik format siaran utama yang populer di dunia sebagai berikut:
Format Karakteristik
Adult
Contenporary (AC)
Untuk kaum muda dan dewasa dengan rentang umur sangat luas antara 25-50 tahun, berdaya beli tinggi.
Menyiarkan musik pop masa kini, softrock, balada.
Menyiarkan berita olahraga, ekonomi, politik.
Format ini berkembang pula ke dalam format lain seperti Middle of the Road, Album Oriental Rock, dan Easy Listening.
Contenporary Hit Radio (CHR) atau
Untuk ABG dan muda belia berumur antara 12-20 tahun. Format paling populer yang berisi lagu-lagu
Top 40 Radio Top 40/ Top 30 dan tips praktis. Sebelum menjadi CHR awalnya disebut Top 40 Radio. CHR merupakan radio yang sering mrmutar 30 rekaman terkini, bukan album lama, tidak memutar ulang sebuah lagu yang sama secara berdekatan, perpindahan antar lagu sangat cepat.
All News / All Talks
All Talks lebih dulu hadir pada tahun 1960 di Los Angeles dengan konsep siaran talk show interaktif mengupas isu-isu lokal. All News hadir kemudian tahun 1964 dimotori Gordon Mclendon di Chicago dengan konsep berita buletin 20 menit berisi berita lokal, regional, dan dunia. Sasaran radio ini kaum muda dan dewasa berumur25-50 tahun, berdaya beli tinggi. Berita dan bincang ekonomi politik menjadi primadona.
Classic / Oldies Untuk kalangan dewasa dan tua berumur 35-60 tahun. Memutar lagu-lagu klasik, apresiasi penyanyi dan lirik lagu lebih penting dari lagunya. Menyiarkan berita kilas balik masa lalu, berita mistik. Oldies juga mencakup degmen beragam pada level ekonomi menengah kebawah dengan dominasi musik dangdut dan kolaborasi.
Tabel 2.4 karakteristik Format Siaran menurut Michael C. Keith (dalam Morissan, 2008: 232)
Tak jarang terdapat beberapa program acara radio yang sama antara radio satu dan yang lainnya. Tetapi yang membedakan adalah bagaimana penyajian acara tersebut sesuai dengan konsep yang diusung oleh masing-masing radio.
Walaupun banyak radio yang mengutamakan Top 40 sebagai program unggulan dan tentunya diminati oleh kaum muda, sebagian juga menyajikan program acara dengan tujuan memberikan informasi tetapi dikemas menarik seperti format talk show.
Talkshow adalah ungkapan bahasa Inggris yang berasal dari dua kata:
show dan talk. Show artinya tontonan, pertunjukan atau pameran, sedangkan talk artinya omong-omong, ngobrol-ngobrol. Dengan begitu talkshow berarti pertunjukan orang-orang yang sedang ngobrol. Istilah Talkshow merupakan aksen dari bahasa inggris di Amerika. Di Inggris sendiri, istilah Talkshow ini biasa disebut Chat Show.
Pengertian Talkshow adalah sebuah program televisi atau radio dimana seseorang ataupun group berkumpul bersama untuk mendiskusikan berbagai hal topik dengan suasana santai tapi serius, yang dipandu oleh seorang moderator.
Menurut morissan ( 2008:28) program talkshow atau perbincangan adalah program yang menampilkan satu atau beberapa orang untuk membahas suatu topik tertentu yang dipandu oleh seorang pembawa acara (host). Mereka yang diundang adalah orang-orang yang berpengalaman langsung dengan peristiwa
atau topic yang diperbincangkan atau mereka yang ahli dalam masalah yang tengah dibahas.
Durasi sebuah siaran talkshow berkisar antara 30-60 menit. Pemegang kunci dari acara talkshow adalah penyiar – jika dalam radio, sebab penyiar akan menentukan arah perbincangan topik dan narasumber. Kecakapan penyiar dalam menggali informasi sangat penting supaya informasi yang akan disampaikan oleh pihak stasiun radio lengkap.
2.5 Audience
Audien merupakan salah satu elemen dalam komunikasi massa. Apa yang akan disukai audien? Bagaimana tanggapan audien? Dan lain sebagainya yang membuat audien sangat penting. Suatu program siaran juga membutuhkan audien. Morrisan mengatakan bahwa “Mengerti secara persis kebutuhan audien merupakan hal terpenting, tidak sekedar menghadirkan acara dengan materi atau kemasan baru tapi isinya tetap lama” (Morissan 2015: 172). Persaingan media penyiaran biasanya adalah memperebutkan perhatian audiens, dengan cara pengelola media tersebut harus mengetahui selera audien. Terdapat kurang lebih 5 karakteristik audience menurut Hiebert dan kawan-kawan:
1. Audience cenderung merupakan individu-individu yang condong untuk berbagi pengalaman dan dipengaruhi oleh hubungan sosial diantara mereka
2. Audience cenderung besar dan tersebar ke berbagai wilayah jangkauan sasaran komunikasi massa
3. Audience cenderung heterogen (terdiri atas berbagai lapisan dan kategori sosial)
4. Audience cenderung anonim (tidak mengenal satu sama lain) 5. Audience secara fisik dipisahkan dari komunikator (dipisahkan
oleh ruang dan waktu)
Melvin De Fleur dan Sandra Ball – rokeach (1988) mengkaji lebih dalam lagi mengenai audiens yakni bagaimana tindakan audens terhadap isi media:
1. Individual Differences Perspective
Proses ini berlangsung berdasarkan ide dasar dari stimulus-respon.
Tidak ada audience yang relatif sama; pengaruh media massa pada masing-masing individu berbeda, tergantung pada kondisi psikologi individu dan pengalaman masa lalunya.
2. Social Categories Perspective
Mengambil posisi masyarakat amerika yang didasarkan pada jenis kelamin, umur, pendidikan, pendapatan dan seterusnya. Adanya perkumpulan sosial memberi kecenderungan audience mempunyai kesamaan norma sosial, nilai dan sikap. Kelompok audience ini akan memberikan respon atau reaksi yang sama pada pesan yang diterimanya.
3. Social Relation Perspective
Didasarkan pada penelitian Paul Lazarfeld, Bernard Berelson, dan Elihu Katz, menyarankan bahwa hubungan secara informal mempengaruhi audience dampak komunikasi masa yang diberikan
diubah dengan sangat hebat oleh individu yang mempunyai kekuatan hubungan sosial dengan anggota audience. Sebagai hasilnya, individu dipengaruhi oleh sikap dan perilaku individu anggota audience yang didapatkan dari media massa. Arinya, antar individu itu saling mempengaruhi satu sama lain dan menghasilkan respons yang hampir sama.
2.6. Seksualitas
Terkadang orang salah mengartikan seks dan seksualitas. Padahal walaupun terlibat hamper sama, tetapi kedua kata ini mempunyai arti yang berbeda.
Menurut WHO (2002) bahwa seks mengacu pada sifat-sifat biologis yang mendefinisikan manusia sebagai perempuan ataupun laki-laki.
Sementara himpunan sifat biologis ini tidak saling asing, sebab ada individu yang memiliki kedua-duanya, manusia cenderung membedakan sebagai laki-laki dan perempuan olehnya. Jadi secara singkat seks adalah suatu yang merujuk organ intim manusia yang membedakan apakah dia perempuan atau laki-laki.
Sedangkan seksualitas sendiri menurut WHO (2002) adalah suatu aspek inti manusia sepanjang hidupnya dan meliputi seks, identitas dan peran gender, orientasi seksual, erotisme, kenikmatan, kemesraan dan reproduksi. Seksualitas dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, politik, budaya, etika, hukum, sejarah, religius, dan spiritual.
Menurut Made Oka Negara, seksualitas secara denotative bermakna sangat luas, secara dimensional seksualitas dapat dibagi lagi ke dalam beberapa dimensi; dimensi biologi, psikososial, perilaku, klinis dan kultural. Dimensi biologi mulai dari bentuk anatomis organ seks sampai fungsi dan proses biologi yang menyertainya. Faktor biologi ini mengontrol perkembangan seksual dari konsepsi sampai kelahiran dan kemampuan bereproduksi setelah pubertas. Fungsi ini juga mempengaruhi dorongan seksual, fungsi seksual, dan kepuasan seksual. Dimensi Psikososial melipusi faktor psikis yaitu emosi, pandangan dan kepribadian yang berkolaborasi dengan faktor sosial, yaitu bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungannya secara seksual. Dimensi perilaku seksual seringkali diartikan negatif, padalah yang dinamakan perilaku seksual adalah perilaku yang didasari oleh dorongan seksual atau kegiatan unyuk mendapatkan kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku.
Perilakunya seperti berdandan, menggoda, hingga aktivitas dan hubungan seksual.
Dimensi klinis memberi solusi terhadap masalah fisik seperti penyakit, trauma, perasaan malu, kecemasan, dan lain-lain yang dapat mengganggu fungsi reproduksi dan reaksi sosial. Pembahasan mengenai seksualitas seringkali menimbulkan pro dan kontra. Pro dan kontra tersebut relative terhadap waktu, tempat dan lingkungan. Ditambah lagi dengan „moral‟ serta adat budaya lingkungan yang berbeda-beda.
Perubahan perilaku seksual telah marak terjadi di dunia, termasuk di
Indonesia, tidak terlepas dari dimensi kultural. Faktor penyebab perubahan tersebut Antara lain semakin terbukanya informasu seksualitas, perubahan peran gender,dan semakin diterimanya seks untuk tujuan rekreasi dan relasi sebagai lawan dari reproduksi. (Negara, 2005:9)
Seksualitas merupakan suatu komponen dari kehidupan seorang wanita normal. Hubungan seksual yang nyaman dan memuaskan merupaka salah satu faktor yang berperan penting dalam hubungan perkawinan bagi banyak pasangan (Irwan, 2012).
Bayer Healthcare melakukan survey mengenai pandangan kaum wanita tentang pentingnya fungsi seksual pada 12 Negara pada April 2006.
Salah satu pertanyaannya adalah apa pentingnya kepuasan seksual bagi diri mereka, 85% responden mengaku kepuasan seksual merupakan sesuatu yang sangat penting (33%) dan penting (52%). Hanya 15% dari responden beranggapan bahwa kepuasan seksual tidak terlalu berarti bagi mereka (Bayer, 2006).
2.7 Kerangka Pemikiran
Bagan 2.7.1 Kerangka Berpikir Penelitian
Subyek dari proposal penelitian ini adalah pendengar program siaran Klimaks Gajah Mada FM, dan obyek penelitian ini adalah konsep seksualitas yang disajikan dalam program Klimaks tersebut. Seksualitas yang disajikan dalam program tersebut kemudian dianalisa menggunakan analisis resepsi sekaligus menentukan preferred reading. Kemudian mengumpulkan data dari khalayak, data tersebut lalu dikolaborasikan dengan preferred reading dan teori resepsi. Data penerimaan pendengar tersebut lalu dikelompokkan menjadi dapat diterima apa adanya (dominant audience), atau ditolak seutuhnya (oppositional audience), atau diterima sesuai minatnya (negotiation audience). Lalu diambil kesimpulan hasil resepsi dari program KLIMAKS mengenai tema tersebut.
26 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di kota Ungaran dan Semarang, khususnya untuk pendengar yang intens mendengarkan program siaran Klimaks di Gajah Mada FM. Mereka berpotensi menjadi informan karena selalu mengikuti program siaran tersebut dan paham akan isi dari tema-tema yang disiarkan.
3.2 Bentuk dan Strategi Penelitian
Bentuk penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis resepsi. Analisis resepsi milik Stuart Hall digunakan untuk mengetahui pemaknaan pendengar dari program siaran Klimaks, bahwa pendengar tidak selalu pasif tapi dilihat sebagai culture agent, mereka dapat menghasilkan makna dari berbagai konten dan wacana yang ditawarkan media.
Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Dengan jenis penelitian ini, diharapkan mampu menangkap berbagai informasi kualitatif dengan deskripsi yang teliti, penuh nuansa natural (Lincoln dan Guba, 1985).
3.3 Data dan Sumber Data 3.3.1 Data Primer
Merupakan data yang diperoleh secara langsung dari obyek penelitian perorangan, kelompok dan organisasi (Ruslan, 2006:29). Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara mendalam (Indepth
Interview) kepada informan (orang yang dapat memberikan keterangan atau informasi mengenai masalah yang sedang diteliti dan berperan sebagai narasumber dalam penelitian) Moleong dan Miles (dalam Mantra 2004: 86).
Selain ini dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan observasi untuk memperkuat data. Spreadley (dalam HB Sutopo, 2002) menjelaskan bahwa pelaksanaan tekhnik observasi dibedakan menjadi empat, yaitu observasi tak berperan sama sekali, observasi berperan pasif, observasi berperan aktif, dan observasi berperan penuh. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tekhnik observasi berperan pasif, karena peneliti tidak ikut dalam kegiatan informan tetapi sebelumnya informan sudah diberi tahu bahwa diateliti dan peneliti hanya melihat bagaimana reaksi dari informan tersebut saat mendengarkan program siaran Klimaks.
3.3.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah suatu data dalam bentuk yang sudah jadi (tersedia) melalui publisitas dan informasi yang dikeluarkan di berbagai organisasi dan perusahaan (Ruslan, 2006:30). Sumber data sekunder diperoleh peneliti melalui studi kepustakaan. Peneliti mengkaji buku-buku, penelitian terdahulu, internet, dan sumber-sumber lain untuk mendukung penelitian.
3.4 Teknik Sampling
Teknik sampling digunakan untuk membatasi data yang akan diteliti.
Dalam penelitian yang akan dilakukan oleh penulis, untuk mencegah jenis
data yang masuk karena konsistensi dalam hubungan sangat luas cakupannya maka dalam penelitian yang akan dilakukan ini menggunakan teknik purposive sampling. Teknik ini mencakup dari orang-orang yang sudah diseleksi atas dasar kriteria tertentu yang dibuat oleh peneliti berdasarkan tujuan penelitian, yang bisa disebut sebagai informan yaitu mereka yang setia mendengarkan program siaran Klimaks. Pada penelitian ini, peneliti memiliki informan sebagai sumber dari informasi penelitian yaitu :
a. Mendengarkan Klimaks episode Konsistensi tanggal 16 Mei 2018.
b. Pendengar program siaran Klimaks Gajah mada FM selama 2-3 tahun belakangan.
c. Pendengar intens program siaran Klimaks Gajah mada FM dengan intensitas 3 kali dalam sebulan.
d. Memiliki latar belakang pendidikan minimal SMA, sampai Sarjana.
e. Termasuk dalam segmentasi pendengar Klimaks yaitu telah menikah atau berumah tangga berumur 25- 50 tahun.
Dari sampling tersebut maka yang menjadi narasumber adalah:
1. Maria Cicilia Susana 2. Yuni
3. Sefti Sinaga
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Goetz dan LeCompte (dalam Sutopo, 2002: 58), menjelaskan terdapat dua macam metode pengumpulan data, yaitu interaktif dan non-interaktif. Metode interaktif meliputi wawancara mendalam, observasi berperan dalam beberapa
tingkatan, dan focus group discussion, sedangkan non-interaktif meliputi questionnaire, content analysis, dan observasi tidak berperan. Dalam penelitian ini data-data tersebut diperoleh menggunakan:
3.5.1 Observasi berperan pasif
Teknik observasi digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, tempat atau lokasi dan benda, serta rekaman gambar (H.B Sutopo, 2002:64). Observasi berperan pasif dilakukan peneliti hanya mengamati reaksi dari informan saat mendengarkan siaran Klimaks.
3.5.2 Wawancara mendalam (in-depth interviewing)
Dalam penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara mendalam yaitu mendapatkan informasi dengan bertanya langsung kepada informan dengan pertanyan yang bersifat openended dan mengarah pada kedalam informasi serta dilakukan dengan cara yang tidak secara formal terstruktur guna menggali pandangan subjek yang diteliti tentang banyak hal yang sangat bermanfaaat untuk menjadi dasar bagi penggalian informasinya secara lebih jauh dan mendalam (H.B Sutopo, 2002:59)
3.5.3 Studi Pustaka
Menurut Nazir (1998 : 112), studi kepustakaan merupakan langkah yang penting dimana setelah seorang peneliti menetapkan topik penelitian, langkah selanjutnya adalah melakukan kajian yang berkaitan dengan teori yang berkaitan dengan topik penelitian. Dalam
pencarian teori, peneliti akan mengumpulkan informasi sebanyak- banyaknya dari kepustakaan yang berhubungan untuk memperkaya data dan kalancaran penelitian.
3.6 Validitas Data
Data yang telah diperoleh dalam penelitian memerlukan pengembangan validitas agar hasil penelitian akan dapat benar-benar dipertanggungjawabkan. Patton (dalam Gunawan, 2009: 24 – 27) mengemukakan ada empat macam trianggulasi, yaitu trianggulasi data atau sumber, trianggulasi metode, trianggulasi peneliti, dan trianggulasi teori.
Dalam penelitian yang akan dilakukan ini menggunakan metode trianggulasi data atau sumber, yaitu data digali dari berbagai sumber yang tersedia. Data yang digali dari sumber satu akan lebih teruji kebenarannya jika dilihat dari perspektifnsumber lainnya. Trianggulasi data atau sumber ini lebih berfokus pada perbedaan sumber data, bukan pada tekhnik pengumpulannya. Peneliti bisa memperoleh dari sumber (manusia) yang berbeda-beda posisinya dengan tekhnik wawancara mendalam, sehingga informasi dari narasumber yang satu bisa dibandingkan dengan informasi dari narasumber lainnya (Gunawan, 2009: 25).
3.7 Teknik Analisis Data 3.7.1 Analisis Resepsi
Dalam penelitian yang akan dilakukan ini menggunakan analisis resepsi milik Stuart Hall dengan melihat subjek atau informan
memaknai seksualitas dalam program siaran Klimaks Gajah Mada FM. Berikut langkah-langkan analisis resepsi:
a. Indentifikasi teks yang akan dianalisis dengan resepsi b. Menganalisis preferred reading dari audio
c. Analisis dan interpretasi data dari wawancara mendalam pada narasumber. Data hasil wawancara mendalam dibuat transkrip, kemudia dibuat ketegorisasi sesuai tema-tema yang muncul pada pemaknaan yang dilakukan subjek penelitian (makna yang dimunculkan).
d. Tema-tema yang muncul lalu dianalisis dengan mempertimbangkan diskursus yang meliputi proses pemaknaan, karakteristik individu, cara pemaknaan, sekaligus juga konteks sosial dan kultural yang melingkupi proses pemaknaan. Selain analisis dari wawancara juga dilakukan analisis wacana, dimana wacana dari khalayak diinterpretasikan dengan mempertimbangkan konteks baik itu wacana teks media maupun konteks sosial dan kondisi psikologis dari khalayak.
e. Tema-tema yang muncul dibandingkan dengan preferred reading untuk kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kelompok pemaknaan, yaitu dominant reading, oppositional reading, atau negotiated reading (Hapsari, 2006: 71-72).
32 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum KLIMAKS Gajah Mada FM
Gajah Mada FM merupakan salah satu radio yang ada di Semarang yang dinaungi oleh PT. Suara Gajahmada Angkasa Jaya, terdiri dari radio Suara Semarang, Imelda FM, dan Gajah Mada FM itu sendiri. Radio yang mempunyai positioning Radionya Orang Semarang ini telah berdiri sejak tahun 1972 oleh Haris Suharto dan mendiang Hidayat, yang berlokasi di Jalan Gajah Mada no.65 Semarang sehingga nama jalan tersebut diambil menjadi nama radio ini. Lalu tiga tahun kemudian manajemen berpindah tangan di bawah kepemimpinan Teguh Dono Mulyano dan berpindah lokasi di jalan M.T.
Haryono 161 Semarang. Radio Gajah Mada berpindah frekuensi dari AM 828 ke FM 102.6 pada Mei 1991, lalu pada tahun 2004 berpindah ke frekuensi baru yaitu 102.4 FM. Visi dari radio ini adalah menjadi media pendidikan, informasi, dan hiburan yang konstruktif bagi masyarakat. Sedangkan Misinya adalah melakukan siaran dengan memberikan yang terbaik bagi pendengar.
KLIMAKS merupakan salah satu program acara di radio Gajah Mada FM Semarang. Program acara ini telah mengudara kurang lebih 14 tahun dengan mengangkat konsep seksualitas. Nama KLIMAKS sendiri adalah kepanjangan dari Konsultasi Masalah Seksual dengan mengangkat tema-tema yang unik dan menarik. Sesuai format acara ini yaitu talkshow namun uniknya acara ini tidak menggunakan script ataupun panduan lain. Penyiar akan diberi tahu tema oleh narasumber dan acara akan mengalir begitu saja secara alami. Pendengar
memperoleh informasi dan juga dapat berkonsultasi dalam acara tersebut.
Program acara ini bertujuan untuk mengedukasi pendengar supaya medapat informasi yang benar dan memahami seksualitas secara benar, sebab pada waktu itu hal-hal berbau seksual masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat.
Acara yang menguadara setiap Rabu pukul 22. ini menyajikan informasi dengan mengundang narasumber yang kompeten dalam bidangnya. Dr. Arya Hasanudin, SH, SpKJ merupakan narasumber pertama acara ini. Dr. Arya Hasanudin, SH, SpKJ merupakan Ketua Indonesian Society of Hypnotis sekaligus seksolog, psikiater, dosen, pengacara, seksolog, dan mind concelor menjadi narasumber dalam menyampaikan informasi terkait seksualitas.
Disesuaikan dengan latar belakang dan ilmu, dr. Arya menyajikan tema dengan pendekatan seperti kelainan seks dan masalah pernikahan. Empat tahun kemudian digantikan oleh dr. Andi Sugiarto, SpRM, FIAS yang merupakan ketua Asosiasi Seksologi kota Semarang, spesialis rehabilitasi medis dan dokter seks dan seksoligi Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Berbeda dengan dr. Arya yang mengangkat tema-tema kelainan seksualitas dan hipnoterapi dan materi yang dr. Andi bagikan lebih condong kepada terapi yang menggunakan alat-alat medis atau teknologi baru.
KLIMAKS selalu menyajikan tema-tema yang berbeda setiap episodenya.
Sebelum acara dimulai biasanya akan diputar iklan mengenai Klimaks ini sekaligus menegaskan bahwa konten ini diperuntukkan orang dewasa bahkan di tag fan page „ADULT ONLY‟. Tema tersebut berasal dari narasumber
selanjutnya akan dikonfirmasi kepada penyiar. Tema yang diangkat biasanya berasal dari pengalaman pasien-pasien atau bahkan permasalahan seks yang sedang banyak diperbincangkan masyarakat. Dalam acara ini narasumber dan penyiar akan memaparkan informasi sesuai tema dengan diselingi candaan sehingga pendengar merasa santai saat mendengarkan acara ini.
KLIMAKS selalu tayang setiap hari rabu pukul 22.00 WIB. Salah satu tema yang disajikan oleh KLIMAKS yaitu mengenai konsisten menjaga hubungan, tema ini sidampaikan oleh dr. Andi dan penyiar Gajah Mada FM, Kania Pink pada 16 Mei 2018. Episode ini menerangkan bahwa dalam suatu hubungan rumah tangga ataupun dengan pasangan, konsistensi sangatlah penting. Ada banyak orang merasa hubungan suami isteri jika sudah menikah merupakan sesuatu yang otomastis, semua mengalir begitu saja. Tetapi menjaga hubungan dengan pasangan adalah hal yang harus diupayakan, dipelihara. Dr. Andi memaparkan bahwa konsistensi dalam hubungan meliputi konsistensi dalam hal seksualitas dan komunikasi.
Setiap manusia dewasa mempunyai dorongan seksual, ketika menikah mereka dorongan tersebut tersalurkan kepada pasangan. Konsistensi disini bisa mengarah pada frekuensi hubungan intim yang ideal. Hubungan suami isteri terlebih hubungan seksualitas menjadi dasar dari hubungan rumah tangga.
Hubungan intim sebagai rekreasi pikiran untuk melepas penat, untuk mempunyai keturunan, dan kedekatan terhadap pasangan. Ketika frekuensi terjaga maka kedekatan antar suami isteri akan terjaga juga. Kedekatan tersebut berupa kedekatan fisik dan emosi. Dorongan seksual yang tidak tersalurkan
akan membuat hubungan pasangan menjadi menjauh, tidak ada rasa sayang dan kedekatan. Kedekatan bisa terjalin dari kedekatan fisik dan kedekatan emosi. Jika tidak ada kedekatan fisik, tidak ada kedekatan emosi, semakin lama hubungan komunikasi dengan pasangan tidak bagus dan berdampak ke berbagai aspek dalam hubungan rumah tangga, diantaranya anak-anak dan keluarga. Dahulu pembicaraan mengenai hubungan intim dianggap tabu dan wanita hanya berada di posisi menerima, tetapi KLIMAKS melalui episode ini memberikan edukasi bahwa wanita dan pria saama-sama memiliki dorongan seksual sehingga nantinya mereka ingin dorongan seksual itu tersalurkan.
4.2 Segment KLIMAKS Episode Konsistensi Menjaga Hubungan Acara KLIMAKS dibagi menjadi dua segmen yaitu:
Isi Keterangan
Jingle
Iklan KLIMAKS Berisi iklan mengenai acara KLIMAKS yang dikhususkan dewasa
Lagu 1 Jingle Transisi
Segmen #1 Opening, Konsistensi menjaga hubungan,
#konsisten dalam komunikasi Transisi
Lagu 2 Lagu 3
Segmen #2 #konsisten dalam seksualitas Closing acara
Lagu 4
Table 4.2 Segment KLIMAKS Konsistensi Menjaga Hubungan
4.3 Prefered Reading KLIMAKS Episode Konsistensi Menjaga Hubungan Preferred reading adalah makna dominan atau makna terpilih dari suatu teks. Setelah itu prefered reading tersebut menjadi acuan dalam melakukan wawancara mendalam terhadap informan. Lalu jawaban dari informan akan diolah dikolaborasikan dengan preferred reading berserta teori, jawaban tersebut yang akan menentukan apakah informan tersebut termasuk dalam posisi dominan hegemonic, negotiated position, atau opossitional position.
Dalam episode ini makna dominan mengacu pada seksualitas hubungan intim suami dan isteri. Komunikasi dalam hubungan pasangan mempengaruhi hubungan intim dengan pasangan. Seksualitas menyangkut kemesraan dengan paangan juga dan sentuhan-sentuhan fisik yang diberikan sebagai rangsangan.
Suami dan isteri, pria da wanita mempunyai kedudukan sama dalam hubungan intim yaitu untuk mendapat kepuasan satu sama lain.
Penelitian ini merupakan analisis resepsi dimana episode KLIMAKS Konsistensi Menjaga Hubungan menjadi subjeknya. Episode ini memberitahukan audiens bahwa hubungan seksual dan kepuasan seksual sangat penting dalam hubungan suami isteri, sehingga ketika salah satunya belum atau tidak mencapai kepuasan tersebut harus dibicarakan dan pasangannya dapat membantu untuk mencapai kepuasan tersebut. Posisi dalam
berhubungan seksual menjadi salah satu faktor untuk mendapatkan kepuasan seksual pasangan.
4.3.1 Hasil Wawancara Informan 1
Maria Cicilia Susana S.Psi adalah seorang ibu dari 3 (tiga) anak yang berprofesi sebagai seorang guru Kelompok Bermain. Wanita yang lahir di Ambarawa 7 Maret 1973 ini merupakan alumni dari fakultas psikologi Universitas Unika Soegijapranata yang lulus pada tahun 2001.
Setelah kuliah, Cicil mendapat tawaran untuk mengajar Sekolah Minggu di gerejanya, setahun kemudian ia mendapat tawaran sebagai guru pendamping Kelompok Bermain di salah satu sekolah yang ada di Ungaran. Sering kali Cicil diminta untuk memberikan konsultasi masalah murid-muridnya sampai dengan konsultasi anak remaja.
Setelah Sembilan tahun mengajar akhirnya Cicil berhenti bekerja selama beberapa tahun menunggu anak bungsunya cukup besar dikarenakan jadwal kerja suami yang tidak dapat bertukar sehingga anak-anak tidak ada yang menjaga. Lima tahun yang lalu ia kembali menggeluti bidang pendidikan untuk anak usia dini hingga sekarang.
Menjadi guru Kelompok Bermain sekaligus guru PIA (Pendalaman Iman Anak) di Gereja Kristus Raja.
Peneliti mewawancarai Cicil pada tanggal 15 November 2018 sekitar pukul 12 siang setelah Cicil mengajar yang dilakukan di sekolah tempat ia mengajar tepatnya di kelas. Wawancara tersebut dilakukan
secara santai dan komunikaatif. Cicil menggunakan Bahasa Indonesia dan sesekali wawancara diisi dengan sedikit gurauan.
Informan telah mendengarkan Gajah Mada FM sejak duduk di bangku kuliah, dan menjadi pendengar setia KLIMAKS sejak kehadiran putri bungsunya. Cicil berpendapat bahwa sebelum menikah setiap pasangan memanglah harus berkomitmen, karena setelah menikah pasangan tersebut dapat sejalan. Selain berkomitmen juga diperlukan konsisten meskipun sudah menikah lama maupun baru menikah.
Karena dengan konsisten pasangan akan semakin baik dan semua yang dilakukan akan merasa senang. Memelihara hubungan rumah tangga tidak dilakukan ketika awal menikah saja, setiap hari pasangan harus menjaga hubungan tersebut supaya lebih baik lagi terutama sikap kita terhadap pasangan. Sikap harus dipelihara terus menerus karena terkadang situasi membuat sikap pasangan berubah, disini peran pasangan untuk menjaga sikap yang baik sangat diperlukan dalam memperlakukan pasangan. Perlakuan baik pada pasangan dapat menjadi contoh anak-anak mereka, anak-anak akan merasa bahwa mereka ada di tengah-tengah keluarga yang baik dan saling menyayangi.
Menurut informan juga ketika hubungan terasa hambar atau lempeng (datar) maka harus dikomunikasikan kepada pasangan meskipun salah satu pasangan atau keduanya sibuk. Ketika pasangan sudah mempunyai anak, frekuensi berhubungan biasanya akan berkurang atau bahkan berjalan jika jarang sekali. Namun bila
dikomunikasikan dengan baik, maka hubungan antar pasangan dapat berjalan dengan baik juga meningkat mengingat komitmen sebelum menikah dulu.
Pendapat Informan mengenai hak perempuan dalam berhubungan suami isteri sama dengan hak suami. Dimana setiap pasangan berhak untuk mencapai klimaks atau kepuasan.
“Kalau menurut saya ya dimaksimalkan, atau mungkin dari isteri bilang – mas aku belum, jadi mungkin biasa dirangsang dulu ya supaya isterinya maksimal dulu, sehingga akhirnya sama-sama maksimal.”
Wanita terkadang malu untuk mengungkapkan jika belum klimaks kepada pasangannya, tapi hal tersebut bisa berimbas pada hal lain. Juga posisi dalam berhubungan intim menjadi faktor untuk mencapai kepuasan tersebut. Informan berpendapat apa yang dirasakan pasangan dapat mempengaruhi kepuasan tersebut, terlebih laki-lali meminta posisi yang macam-macam ketika berhubungan intim.
“Apa yang kita rasakan mungkin –aku belum, posisinya nggak enak– karena biasanya kan‟ laki-laki atau pasangan minta yang macam-macam. –aku seperti ini nggak seneng,nggak enak– apa yang dirasa nggak nyaman juga mempengaruhi kepuasan itu sih ya.”
Maka dari itu harus dalam hubungan intim juga perlu komunikasi, jika salah satu belum mencamai klimaks hendaknya dibicarakan kepada pasangan tersebut. Komunikasi secara non verbal misalnya dengan isyarat-isyarat yang saling dimengerti oleh pasangan, seperti yang dikatakan informan ketika diwawancarai pada 17 November 2018:
“Dengan guyon-guyon (bercanda), mengingat masa lalu dulu waktu pacaran. Kita senang-senang waktu menikah
pertama kali, dari situ timbul naluri, oh iya ya kita sudah menikah, lalu kita komunikasikan kepada suami kita”
Informan bercerita kedekatan pasangan tidak hanya hubungan intim saja, duduk bedua misalnya menemani anak-anak belajar. Jika memang ingin melakukan hubungan suami isteri bisa menggunakan isyarat atau kode-kode tertentu supaya anak-anak tidak mengatahuinya, sebab ada hal tertentu yang tidak harus diungkapkan kepada anak-anak.
Meyediakan waktu untuk pasangan dapat mempererat hubungan suami dan isteri. Ketika pasangan sibuk maka salah satu harus tetap mengerti dan konsisten untuk berkomunikasi. Informan menuturkan ketika berumah tangga ada hal-hal yang perlu dikomunikasikan selain hubungan dengan pasangan saja, seperti perkembangan anak dan hal- hal lain. Setiap hubungan rumah tangga pasti pernah mengalami permasalahan atau salah paham, dalam hal ini pasangan tidak boleh saling menyalahkan tetapi menyikapinya dengan kepala dingin dan intospeksi diri, berusaha memperbaiki dari diri telebih dahulu.
Permasalahan rumah tangga hendaknya juga dibicarakan bersama, tidak saling emosi dan berkata-kata kasar atau berteriak. Memberikan pasangan kesempatan untuk mengutarakan pendapat mengenai masalah yang sedang dihadapi tidak memotong pendapat pasangan akan mempercepat penyelesaian masalah. Kunci sebuah rumah tangga adalah rasa percaya kepada pasangan.
4.3.2 Hasil Wawancara Informan 2
Yuni adalah seorang ibu rumah tangga yang berusia 43 tahun yang juga diploma tiga sekretaris di salah satu universitas di Semarang.
Belum lama ini Yuni keluar dari pekerjaanya di bidang properti karena ingin fokus kepada anaknya. Informan telah menikah selama delapan belas tahun dan dikaruniani anak perempuan berumur dua tahun. Ketika informan diwawancarai di rumahnya, suasanya sedikit ramai karena sedang ada renovasi di rumahnya, pada tangga 27 November 2018. Saat peneliti datang ke rumah informan, informan terlihat sedang menyuapi anaknya makan. Dalam wawancara tersebut informan menggunakan Bahasa Indonedia dan Bahasa Jawa.
Menurut informan ketika seseorang memutuskan untuk menikah maka harus selalu komitmen, seperti janji nikah yang sudah diucapkan.
Terlebih kita sudah memilih pasangan dan harus dijalani seumur hidup, maka apapun yang terjadi dalam rumah tangga tersebut harus dijalani bersama. Konsistensi sangat diperlukan dalam rumah tangga, jika tidak maka pasangan tidak sehati sepikir. Informan berpendapat kedekatan emosi pasangan memberikan dampak yang baik bagi pasangan tersebut.
Ketika peneliti bertanya mengenai hubungan intim, terlihat bahwa informan bersikap sedikit defensive saat diwawancara. Menurut informan, pasangan yang belum memiliki buah hati boleh saja untuk menghabiskan waktu berdua, sehingga hubungan yang terbentuk juga terjalin dengan baik melalui quality time bersama pasangan. Namun ketika sudah memiliki buah hati, informan mengatakan bahwa