• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Standar Kerja Karyawan PT Kuliner Akur Pratama Pada Ruangan Finishing Roti Manis Bread.Co

N/A
N/A
Fahmi

Academic year: 2024

Membagikan "Analisis Standar Kerja Karyawan PT Kuliner Akur Pratama Pada Ruangan Finishing Roti Manis Bread.Co"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS STANDAR KERJA KARYAWAN PT . KULINER AKUR PRATAMA PADA RUANGAN FINISHING ROTI MANIS DENGAN MEREK BREAD.CO

Disusun Oleh:

MUHAMMAD FAHMI TRI KURNIAWAN 200211036

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH CIREBON 2023

(2)

Analisis Standar Kerja Karyawan

PT . Kuliner Akur Pratama Pada Finishing Roti Manis Bread.Co

1. Analisa standar kerja pegawai atau karyawan PT. Kuliner Akur Pratama pada prodak Roti Bread.Co sebelumnya dan saat ini : Sebelumnya dan sampai saat ini standar kerja tidak begitu banyak perubahan masih dengan pola standar kerja yang sama jika diuraikan adalah sebagai berikut :

Kedisiplinan

Kedisiplinan menjadi standar kerja yang sangat krusial karena akan menentukan instrument standar yang lainnya seperti disiplin waktu, kelengkapan pakaian dan kerapihan rambut.

Pengetahuan

Setiap karyawan harus mengetahui apa saja hal-hal yang wajib dikenakan ketika bekerja seperti menggunakan masker, penutup kepala (hairnet), sarung tangan (hands glove), dan clemek.

Bekerja Secara Tim

Setiap karyawan harus saling membantu dalam mengemas, memastikan produk bersih, menyortir produk dan menghitung jumlah produk atau permintaan dengan kebutuhan secara tepat untuk setiap cabang

Perawatan Alat (Maintenance)

Setiap karyawan harus memastikan setiap peralatan yang digunakan seperti meja, pisau pemotong, solatif, dicuci setelah digunakan dan dikembalikan pada tempatnya.

Komunikatif

Mengutamakan koordinasi dan aktif berkomunikasi antar divisi.

(3)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Standar kerja pada perusahaan menjadi aspek yang sangat fundamental karena akan berkaitan dengan proses produksi barang, kualitas barang dan kuantitas barang. Perusahaan yang menerapkan standar kerja memiliki fungsi untuk menjaga kualitas produk, citra produk dan perusahaan serta untuk meningkatkan layanan yang lebih baik. Standar kerja ini ditentukan dari evaluasi yang cukup panjang dari berdirinya perusahaan hingga saat ini.

PT. Kuliner Akur Pratama merupakan perusahaan yang bergerak dibidang F&B dengan merek dagang yang beragam salahh satunya adalah produk roti Bread.co. Perusahaan tersebut memiliki pegawai lebih dari 300 orang yang ditempatkan pada produk-produk tertentu salah satunya produk khusus pada ruangan finishing manis atau bagian pengemasan roti-roti khusus berasa manis. Pada bagian pengemasan roti manis ini memiliki 1 Supervisor dan 1 Quality Control (QC) dan memiliki karyawan yang ditetapkan sebanyak 10 orang dengan shift yang berbeda yaitu shift 1 pada pukul 12.00 dengan jumlah orang yang terjadwal 2 orang, disusul shift 2 pada pukul 13.00 dengan jumlah orang 1 orang dan shift 3 pada pukul 14.00 dengan jumlah orang 6 orang dengan hari libur yang berbeda-beda.

Pembagian shift ini diberlakukan menyesuaikan dengan roti yang sudah matang pada pukul 11.00 dan mendapatkan pendinginan selama 1 jam. Ada pembagian khusus pada jam- jam tertentu salah satunya cabang YBHG yang didahulukan kemudian disusul dengan pemenuhan pasokan roti untuk cabang Dalam Kota (DAKOT) dan Luar Kota (LUKOT).

Estimasi produksi berkisar 6000 pcs hingga 15.000 dalam sehari.

Pada proses pengemasan roti setiap karyawan tidak terlepas dari standar kerja yang ditetapkan salah satunya kebersihan dan kerapihan dalam pengemasan roti, kecermatan dan ketelitan dalam memilah jenis produk dan menempatkan produk juga menjadi salah satu standar yang diperlukan. Maka dari itu berdasarkan hal tersebut standar kerja pada ruangan pengemasan roti di finishing manis menjadi hal yang dapat dipelajari.

(4)

1.2 Identifikasi Masalah Survei Di Lapangan (Perusahaan/Instansi)

Setelah melakukan observasi dan berdasarkan pengalaman pribadi ada beberapa masalah yang menjadi perhatian diantaranya sebagai berikut :

1. Tidak semua karyawan dan pegawai dapat melaksanakan standar kerja yang ditentukan oleh perusahaan.

2. Kurangnya kecermatan dan perhatian pada saat pengemasan barang sehingga ada

beberapa barang yang salah tanggal kadaluarsa, dan ada beberapa produk yang terindikasi terdapat benda yang tidak boleh ada diproduk seperti rambut, kerikil, streples, dan benda- benda yang lainnya.

3. Kesalahan fatal karena tidak menerapkan standar kerja akan menimbulkan persepsi masyarakat atau konsumen yang buruk terhadap produk dan berimbas kepada image atau citra perusahaan

1.3 Maksud Dan Kegunaan Kegiatan Survei

Kegiatan survei pada standar kerja pengemasan produk roti Bread.Co dari PT. Kuliner Akur Pratama memiliki kegunaan dan maksud tertentu yaitu :

1. Untuk mengetahui apa saja penerapan standar kerja yang diterapkan pada produk roti Bread.Co dari PT. Kuliner Akur Pratama.

2. Untuk mengetahui apakah standar kerja yang diterapkan pada produk roti Bread.Co dari PT. Kuliner Akur Pratama diterapkan atau tidak.

3. Untuk mengetahui implikasi atau dampak yang terjadi apabila standar kerja tidak diterapkan.

1.4 Manfaat Kegiatan Survei

Survei yang dilakukan pada pada standar kerja pengemasan produk roti Bread.Co dari PT. Kuliner Akur Pratama memiliki manfaat yaitu sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi masalah yang teradi dan potensi perbaikan citra 2. Mengamati efisiensi pengemasan yang rendah

3. Menganalisa dampak dari tidak jalannya standar kerja terhadap citra perusahaan

(5)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah PT Kuliner Akur Pratama (Bread.Co)

PT Kuliner Akur Pratama, atau yang lebih dikenal dengan Bread.Co, adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri roti dan kue. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2012 oleh Bapak Gondosasmito dan Ibu Dian Kusumawardhani. Awalnya, Bread.Co hanya memproduksi roti dan kue untuk keperluan pribadi. Namun, seiring dengan banyaknya permintaan dari teman dan keluarga, mereka memutuskan untuk memproduksi roti dan kue secara komersil. Pada tahun 2013, Bread.Co membuka gerai pertamanya di Bandung. Gerai ini disambut dengan baik oleh masyarakat, sehingga Bread.Co terus mengembangkan bisnisnya. Pada tahun 2015, Bread.Co membuka gerai kedua di Jakarta. Gerai ini juga sukses, sehingga Bread.Co terus membuka gerai-gerai baru di kota-kota lain di Indonesia.

Saat ini, Bread.Co telah memiliki lebih dari 100 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia.

Bread.Co juga telah mengekspor produknya ke beberapa negara di Asia. Bread.Co terus berkembang pesat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan jumlah gerai dan pangsa pasar yang terus meningkat. Perkembangan bisnis Bread.Co didukung oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Kualitas Produk Yang Tinggi

Bread.Co dikenal dengan roti dan kuenya yang berkualitas tinggi. Roti dan kue di Bread.Co dibuat dari bahan-bahan berkualitas tinggi dan menggunakan proses produksi yang modern.

2. Pengembangan Produk Yang Inovatif

Bread.Co terus mengembangkan produk-produk baru yang inovatif untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Bread.Co juga memiliki berbagai macam varian roti dan kue yang bisa dipilih sesuai dengan selera.

3. Strategi Pemasaran Yang Efektif

Bread.Co menerapkan strategi pemasaran yang efektif untuk meningkatkan brand awareness dan penjualan. Bread.Co memanfaatkan berbagai saluran pemasaran, seperti media sosial, iklan, dan promosi.

(6)

4. Komitmen Perusahaan

Bread.Co berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan.

Bread.Co selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan memberikan pengalaman berbelanja yang menyenangkan. Bread.Co juga berkomitmen untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan. Bread.Co menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan dan menerapkan praktik produksi yang berkelanjutan.

2.2 Standar Kerja

Dalam suatu kegiatan pekerjaan harus memiliki acuan dan pegangan, walaupun masih ada perusahaan yang tidak memiliki acuan serta pedoman dalam suatu pekerjaan. Akibat tidak adanya acuan dalam pelaksanaan pekerjaan banyak membuat organisasi tidak berfungsi dengan baik, hal ini dikarenakan para karyawan bingung atas pekerjaan yang mereka akan kerjakan selanjutnya, dan pihak manajemen pun tidak mempunyai pedoman dalam pengambilan keputusan, sehingga apabila ada suatu kesalahan atau kekeliruan tidak bisa dianalisis dimana kesalahan itu terjadi karena tidak memiliki alur pedoman yang jelas.

Tujuan utama dari pengukuran adalah untuk mengumpulkan data untuk digunakan dalam mengatur standar-standar pekerjaan ketatausahaan. Menurut Simamora (2004), semakin jelas standar kinerjanya, makin akurat tingkat penilaian kinerjanya. Menurut Atmoko (2011:

2) standar kerja adalah pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja instansi/ perusahaan berdasarkan indikator-indikator teknis, administratif dan prosedural sesuai dengan tata kerja, prosedur kerja, dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan. Tujuan standar kerja adalah menciptakan komitmen mengenai apa yang dikerjakan oleh satuan unit kerja instansi/ perusahaan. Menurut Muryati (2007: 53) standar kerja adalah perilaku atau hasil minimum yang diharapkan dapat dicapai oleh seluruh karyawan kantor.

Mathis dan Jackson (2002:78), menyatakan bahwa standar kinerja seseorang yang dilihat kualits output, kuantitas output, jangka waktu output, kehadiran ditempat kerja, dan sikap kooperatif. Standar kerja tersebut ditetapkan berdasarkan kreteria pekerjaan yaitu menjalankan apa-apa saja yang sudah diberikan organisasi untuk dikerjakan oleh karyawan, oleh karena itu kinerja individual dalam kreteria pekerjaan harus diukur, dibandingkan

(7)

dengan standar yang ada dan hasil harus dikomunikasikan kepada seluruh karyawan.

Christie Dkk (2010) menyatakan kinerja adalah pencapaian suatu hasil yang dikarakteristikan dengan keahlian tugas seseorang ataupun kelompok atas dasar tujuan yang telah ditetapkan. Bernandin, John H & Joyce E.A Russel (1993) kinerja dinyatakan sebagai catatan outcomes yang dihasilkan dari suatu aktifits tertentu, selama kurun waktu tertentu.

Penilaian kinerja individu sangat bermanfaat bagi pertumbuhan perusahaan secara kesulurahan, melalui penilaian tersebut maka dapat diketahui kondisis sebenarnya tentang bagaimana kinerja karyawan.Menurut Bernandin & Russel yang dikutip oleh Gomes (2003), terdapat tujuh dimensi penilaian kinerja karyawan yang menjadi perhatian :

1. Kuantitas (Quantity of Work), jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode waktu yang ditentukan.

2. Kualitas (Quality of Work), kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat kesesuaian dan kecapaiannya.

3. Pengetahuan kerja (Jobknowledge), luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan keterampilannya.

4. Kerja sama (Cooperation), kesediaan untuk bekerja sama dengan orang lain (sesama anggota organisasi).

5. Dapat diandalkan (Dependability), kesadaran dan dapat dipercaya dalam hal kehadiran dan penyelesaian pekerjaan.

6. Inisiatif (intiative), semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam memperbesar tunggung jawabnya.

7.

Sikap (Personal qualities), menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramah-tamahan, dan itegritas pribadi.

Bangun (2012:231) menjelaskan bahwa standar kerja sangat diperlukan untuk menilai atau mengevaluasi keberhasilan karyawan dalam melaksanakan tugasnya. Penilaian kinerja karyawan dilakukan dengan membandingkan hasil kerja yang dicapai karyawan dengan standar pekerjaan. Bila hasil kerja yang diperoleh sampai atau melebihi standar pekerjaan dapat dikatakan bahwa karyawan berkinerja baik. Sebaliknya, jika hasil kerja karyawan tidakdapat mencapai standar pekerjaan, maka karyawan berkinerja rendah. Secara umum, standar kinerja karyawan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu standar kinerja yang dapat diukur (tangible standard) dan standar kinerja yang tidak dapat diukur (intangible standard).

(8)

Kualitas, kuantitas, waktu dan biaya merupakan beberapa ukuran tangible standard kinerja karyawan (Wibowo, 2014:160), sedangkan kepemimpinan, kedisiplinan, kerjasama dan tanggungjawab termasuk dalam ukuran intangible standard (Hasibuan, 2014:95).

2.3 Pengertian Citra Perusahaan

Webster (1993) mendefinisikan citra sebagai gambaran mental atau konsep tentang sesuatu. Steinmetz (Siswanto Sutojo, 2004) mengartikan citra sebagai persepsi masyarakat terhadap jati diri perusahaan. Persepsi masyarakat terhadap organisasi didasari pada apa yang mereka ketahui atau mereka kira tentang organisasi yang bersangkutan. Kotler (1995) secara lebih luas mendefinisikan citra sebagai jumlah dari keyakinan-keyakinan, gambaran- gambaran, dan kesan- kesan yang dipunyai seseorang pada suatu obyek. Obyek yang dimaksud bisa berupa orang, organisasi, atau kelompok orang. Jika obyek itu organisasi, berarti seluruh keyakinan, gambaran, dan kesan atas organisasi dari seseorang merupakan citra. Citra sebuah organisasi merepresentasikan nilai-nilai seseorang dan kelompok- kelompok masyarakat yang mempunyai hubungan dengan organisasi tersebut. Pengertian citra itu sendiri abstrak (intangible), tidak nyata, tidak bisa digambarkan secara fisik dan tidak dapat diukur secara matematis, karena citra hanya ada dalam pikiran.

Walaupun demikian, wujudnya bisa dirasakan dari hasil penilaian baik atau buruk, seperti penerimaan dan tanggapan baik positif maupun negatif yang datang dari publik (khalayak sasaran) dan masyarakat luas pada umumnya. Citra bisa diketahui, diukur dan diubah.

Penelitian mengenai citra organisasi (corporate image) telah membuktikan bahwa citra bisa diukur dan diubah, walaupun perubahan citra relatif lambat. Dengan kata lain suatu citra akan bertahan cukup permanen ppada kurun waktu tertentu (Sutisna, 2001: 330).

Setiap organisasi mau tidak mau memiliki citra di masyarakat. Karena citra ada di benak masyarakat, maka salah satu hal yang harus dilakukan pimpinan organisasi adalah menjaga jangan sampai karena berbagai macam sebab, mayoritas anggota masyarakat mempunyai persepsi yang salah tentang organisasinya sehingga menimbulkan citra negatif. Citra negatif akan merugikan organisasi karena citra menjadi salah satu pegangan bagi banyak orang dalam mengambil berbagai keputusan penting seperti antara lain: membeli barang atau menggunakan jasa yang dihasilkan. Dengan demikian citra organisasi harus menjadi

(9)

perhatian pimpinan organisasi. Pimpinan organisasi perlu mengupayakan agar persepsi masyarakat tidak jauh menyimpang dari apa yang diharapkan.

Walaupun citra adalah dunia menurut persepsi, tetapi citra perlu dibangun secara jujur agar citra yang dipersepsikan oleh publik adalah baik dan benar, dalam arti ada konsistensi antara citra dengan realitas. Citra tidak bisa dibangun dengan kebohongan informasi. Ketika tidak ada konsistensi antara kinerja nyata dan citra yang dikomunikasikan, realitas akan menang. Komunikasi organisasi yang dirasakan tidak dipercaya, akan merusak citra bahkan mungkin lebih parah lagi. Jadi, membangun citra di atas informasi yang tidak benar, tidak akan mampu menaikkan citra, malah sebaliknya citra akan menjadi rusak. Dengan demikian, sebenarnya image adalah realitas, oleh karena itu pengembangan dan perbaikan citra harus didasarkan pada realita.

(10)

BAB III

HASIL SURVEI DI LAPANGAN

3.1 Hasil Temuan Fakta Lapangan Kondisi Lapangan

Temuan fakta dilapangan saat berada diruangan finishing manis atau pengemasan roti- roti yang memiliki rasa manis. Ruangan tersebut memiliki ventilasi udara yang memadai dan memiliki insect trap atau fly trap yaitu perangkap serangga sehingga ruangan tetap steril baik secara udara dan dari serangga.

Peralatan yang tersedia didalam ruangan finishing manis yaitu meja panjang, plastik kemasan, pisau, solatip, hands glove atau sarung tangan, kalkulator dan pulpen. Selebihnya hanya loyang-loyang yang digunakan baking (pembakaran roti) yang terdapat roti untuk dikemas.

Selanjutnya, standar kerja diterapkan oleh Bread.Co pada setiap karyawan yang berada di ruangan finishing manis (pengemasan roti) jika diuraikan adalah sebagai berikut :

1. Datang tepat waktu

2. Menggunakan seragam yang telah tersedia 3. Menggunakan masker

4. Menggunakan sepatu khusus

5. Menggunakan hands glove atau sarung tangan 6. Menggunakan hairnet (penutup kepala)

7. Selalu menggunakan handsanitizer pada saat masuk dan keluar ruangan finishing manis

Ada sekitar 100 lebih jenis roti yang dikemas dengan periode kadaluarsa yang berbeda dari 5 hari hingga 6 hari sejak dibuat. Setiap karyawan harus mengetahui roti apa saja yang memilki waktu kadaluarsa 5 dan 6 hari. Setiap plastik kemasan harus dipastikan memiliki barcode dengan nama jenis roti, harga dan tanggal kadaluarsa. Pengemasan harus dilakukan setelah roti benar-benar dingin setelah selesai dapa proses pembakaran. Setiap karyawan harus memastikan kemasan tidak memiliki embun atau uap dari roti yang telah dikemas karena memiliki resiko akan terkena jamur.

(11)

Tidak semua karyawan atau pegawai menerapkan standar kerja di ruangan finishing manis ada beberapa yang sepenuhnya tidak menerapkan prosedur kerja yang telah ditentukan seperti tidak menggunakan handsglove atau sarung tangan khusus yang steril padahal hal ini sangat beresiko terhadap hiegenitas produk roti tersebut. Selain itu terkadang karyawan tidak cermat dalam memastikan roti aman dari benda asing dan terkadang tanggal kadaluarsa tidak tepat.

3.2 Pemecahan Masalah Dari Hasil Temuan Survei

Setelah mengetahui fakta dilapangan mengenai standar kerja yang tidak diterapkan oleh para karyawan dan pegawai dilapangan maka ada beberapa langkah strategis dalam

memeahkan masalah standar kerja ini :

1. Memastikan setiap individu memiliki kompetensi atau kemampuan yang selalu diperbaharui setiap hari dengan cara sosialisasi dan evaluasi pada saat briefing.

2. Menugaskan QC atau Quality Control menyidak langsung bagaimana pola kerja dan pengemasan roti dilakukan harus sesuai dengan standar kerja yang telah ditentukan.

3. Menghadirkan system loading atau pengecekan ketika akan didistribusi dimana setiap tanggal, nama jenis roti, dan kemasan dipastikan tetap sesuai standar kerja.

4. Menyortir roti dengan alat pendeteksi benda asing sehingga roti yang akan dikonsumsi menjadi aman bagi konsumen.

3.3 Strategi Dan Metode Meningkatkan Citra Reputasi Perusahaan

Ada beberapa strategi dan metode dalam meningkatkan citra dan reputasi perusahaan Bread.Co. yaitu seperti yang diuraikan dalam titik pembangkit citra Silih Agung Wasesa dan Jim Macnamara (2013: 245) dengan analisis sesuai dengan PT. Kuliner Akur Pratama pada produk Bread.Co :

1. Memetakan Persepsi

Ini diawali dengan mengadakan audit terkait dengan citra PT. Kuliner Akur Pratama mengenai produk roti Bread.Co bagaimana citra tersebut dipandang dari persepsi masyarakat seperti rotinya terlalu mahal kemudian ada beberapa roti yang rusak kemasannya. Dari hasil audit citra tersebut dapat dipetakan dimana

(12)

posisi merek dalam persepsi masyarakat. Titik penentuan itu menjadi awal pemetaan persepsi, hal itu perlu dikoordinasikan dan disinkronisasikan dengan visi dan misi manajemen.

2. Menyesuaikan Dengan Visi Manajemen

Diperlukan aktivitas manajemen paling atas atau top management untuk dikoordinasikan dengan tim Public Relations untuk program-program yang akan dilakukan. Hal ini mesti dilakukan agar apapun program yang akan dilaksanakan sesuai dengan visi dan misi perusahaan sehingga ada kesesuaian antara pihak perusahaan dengan tim PR.

3. Pahami Audience (Publik)

Sebelum program akan dibuat kita harus mengetahui public yang akan menjadi sasaran program yang akan dilakukan. Program tersebut harus dibuat berdasarkan kebutuhan publik, bukan sebaliknya. Inilah yang membedakan antara program yang sukses dengan program yang gagal, yaitu mengetahi segmentasi public perihal kebutuhan yang diinginkan oleh publik.

4. Kita Harus Fokus Pada Titik Pengembangan Tertentu.

Program-program PR yang akan dilakukan harus pengkajian yang terpadu dan terstruktur sehingga masyarakat tertarik untuk melihat dan mengikuti setiap program PR yang dilaksanakan. Program tersebut harus berjangka panjang sehingga dapat berkelanjutan seperti pendidikan, donor darah, CSR dan lain sebagainnya.

5. Kreativitas

Komunikasi PR dalam menerapkan program harus dikemas dengan kreativitas yang tinggi seperti logo, slogan, program peka yang menjual, membuat target market, dan membuat marketing programnya. Semua dilakukan agar program bisa

"dibeli" oleh karyawan. Karena ini merupakan syarat mutlak dari program PR yang strategis.

(13)

6. Konsistensi

Konsistensi dalam menjalankan program PR hal yang sangat perlu dilakukan secara berkesinambungan, ini berkaitan dengan sejauh mana pengaruh program dari PR dapat mengubah persepsi dan citra masyarakat terhadap perusahaan menjadi lebih baik. Ini bukanlah hal yang mudah karena membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

(14)

BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan Dari Hasil Kegiatan

Dari hasil literature review yang telah dilakukan melalui jurnal yang membahas mengenai standar kerja yang dikuti dengan pembahasan yang berkaitan dengan standar kerja pegawai atau karyawan PT. Kuliner Akur Pratama terhadap brand atau produk roti Bread.Co di ruangan Finishing Manis atau ruangan pengemasan roti. Maka dapat disimpulkan standar kerja yang diberlakukan disusun melalui proses yang panjang melalui pengkajian- pengkajian yang sesuai dengan standar yang berlaku misalnya pada standar kerja pegawai roti ini, informasi kemasan dan kehiegenisan atau kebersihan produk sangat diutamakan karena itu berkaitan dengan komitmen perusahaan yang memberikan garansi produk yang aman, halal dan sehat. Faktor standar kerja yang diterapkan dengan baik akan mempengaruhi kualitas citra dan persepsi masyarakat yang terbentuk menjadi lebih baik.

4.2 Saran Dan Rekomendasi Untuk Perbaikan

Saran dalam pembahasan ini berkaitan dengan pengkajian ulang dalam pemetaan citra sesuai kebutuhan masyarakat terhadap sebuah produk dimana itu akan disesuaikan dengan kebijakan perusahaan sebagai komitmen untuk konsumen sehingga terbangun citra yang relevan dan sesuai yang konsumen butuhkan. Dalam hal ini sangat direkomendasikan setiap standar kerja harus memiliki nilai yang kuat terhadap komitmen perusahaan sehingga setiap pegawai dan karyawan dapat meningkatkan kinerjanya sesuai dengan komitmen perusahaan halal, bersih, aman dan hiegenis.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Alfaza Wiguna. (2017) PERANCANGAN STANDAR KINERJA KARYAWAN PADA PERUSAHAAN KERTAS DAUR ULANG BUONO PULP DI SURABAYA.

Surabaya. PERFORMA: Jurnal Manajemen dan Start-Up Bisnis 1(2): 4

Faiz Sultan U.A, Saryadi & Wahyu Hidayat. (2014) PENGARUH KOMPENSASI, STANDAR KERJA, DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN.

Semarang. DIPONEGORO JOURNAL OF SOCIAL AND POLITIC 1(1):1-2

Ranty Sapitri. (2016) PENGARUH KOMITMEN ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA AREA PEKANBARU. Pekanbaru.

JOM Fisip 1(3): 2

Rosady Ruslan. 1999. Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Referensi

Dokumen terkait