• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis terhadap penyelesaian kasus pengalihan objek

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "analisis terhadap penyelesaian kasus pengalihan objek"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

Ag selaku penguji skripsi ini telah menguji, memberikan arahan dan melakukan perbaikan terhadap skripsi ini agar karya ini dapat menjadi karya yang lebih baik lagi. Bapak Pramono, selaku Komisaris BPR Bhumikarya Pala yang memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu dan penelitian di instansi terkait. Bapak Dimas Mahmudi selaku pengelola BMT Bina Sejahtera yang memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu dan penelitian di instansi terkait.

Alternatif penyelesaian sengketa pengalihan objek fidusia pada BMT Bina Sejahtera dan BPR Bumikarya Pala.

Latar Belakang

Bentuk perjanjian tambahan (accessory) yang terdapat dalam perjanjian utang piutang oleh suatu lembaga pembiayaan biasanya berupa perjanjian penjaminan, khusus menggunakan model jaminan fidusia dan obligasi. Namun tidak jarang penggunaan model jaminan fidusia ini disalahgunakan oleh debitur macet. Salah satu penyebab terjadinya kredit macet adalah adanya pengalihan objek jaminan fidusia oleh debitur kepada pihak ketiga.

Di wilayah dimana penulis sendiri berdomisili yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta juga tidak lepas dari permasalahan kredit macet, dimana sebagian kredit macet tersebut disebabkan oleh adanya pengalihan barang jaminan fidusia dari debitur kepada pihak ketiga. .

Rumusan Masalah

Tujuan dan Manfaat

Dari uraian masalah dan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana lembaga perbankan khususnya BPR Bhumikarya Pala dan BMT Bina Sejahtera mengatasi permasalahan tersebut dan apa dampak atau solusi yang dilakukan oleh bank sebagai kreditur terhadap permasalahan tersebut. untuk menyelesaikan konflik hak antara direksi dan pihak ketiga. BMT Bina Sejahtera secara khusus dalam menyelesaikan permasalahan pengalihan objek jaminan fidusia oleh debitur kepada pihak ketiga; Untuk mengetahui dampak mekanisme penyelesaian yang dilakukan oleh perbankan dan lembaga keuangan di Yogyakarta khususnya pada BPR Bhumikarya Pala dan BMT Bina Sejahtera terhadap kepatuhan hak milik pihak ketiga.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu hukum khususnya di bidang hukum perdata yaitu berkaitan dengan alternatif pengaturan yang dapat diterapkan oleh lembaga keuangan dan pembiayaan dalam menyelesaikan permasalahan pengalihan fidusia. objek jaminan oleh debitur. dan dampak penyelesaian ini terhadap hak milik pihak ketiga.

Telaah Pustaka

BPR Artha Sumber Arum Sleman sebagai perusahaan yang memberikan jasa pembiayaan/pinjaman agunan kendaraan bermotor dalam hal obyek jaminan fidusia dijaminkan oleh debitur kepada pihak ketiga. Dari penelitiannya, penulis menyimpulkan bahwa dalam hal suatu barang jaminan fidusia dijaminkan oleh debitur kepada pihak ketiga, maka PT. 10 Rut Ernawati, “Penyelesaian objek fidusia yang dijaminkan kepada pihak ketiga dalam perjanjian kredit di PT.

12 Ra Diah Kusudrini, “Perlindungan Hukum Bagi Kreditur Pemegang Sertifikat Jaminan Fidusia Dalam Hal Debitur Cidera Janji dan Pemindahtanganan Objek Agunan (Studi Kasus Perusahaan Kreditur Cabang Astra Surakarta)”, Skripsi, (Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada,).

Metode Penelitian

  • Jenis Penelitian
  • Sifat Penelitian
  • Metode Pendekatan
  • Lokasi Penelitian
  • Jenis dan Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data

Penulis tidak memungkiri, mungkin selain karya-karya di atas, masih banyak penelitian lain yang mengangkat permasalahan pengalihan barang jaminan fidusia oleh debitur, yang tidak dapat penulis temukan karena keterbatasan penulis. Namun jika ditinjau dari tinjauan yang penulis lakukan, belum ada penelitian yang secara khusus membahas permasalahan pengalihan jaminan fidusia dari sudut pandang konflik hak antara pihak ketiga dan kreditur dalam penyelesaian pengalihan hak. aset fidusia.jaminan fidusia. Oleh karena itu, penulis berpendapat belum pernah dilakukan penelitian mengenai dampak pelunasan yang dilakukan kreditur dalam kasus pengalihan barang jaminan fidusia terhadap hak milik pihak ketiga.

Oleh karena itu, penulis memandang penting untuk melakukan kajian khusus mengenai perlindungan hukum seperti apa yang diterima pihak ketiga apabila terjadi pengalihan obyek jaminan fidusia dari debitur kepada pihak ketiga, apabila berhadapan dengan kreditur yang mempunyai kedudukan sebagai kreditor preferensial. Penelitian yang berjudul “Analisis Penyelesaian Perkara Pengalihan Benda Fidusia dan Dampaknya Terhadap Pihak Ketiga dalam Perjanjian Kredit dan Pembiayaan Konsumen pada BPR Bhumikarya Pala dan BMT Bina Sejahtera” merupakan jenis Penelitian Hukum Empiris/Field Research yaitu jenis penelitian yang menganalisis praktek penerapan suatu undang-undang di masyarakat serta dinamika permasalahan yang dihadapi dalam penerapan undang-undang tersebut 14 Dalam penelitian ini, permasalahan yang akan diteliti adalah perbedaan mekanisme pembayaran yang diterapkan oleh beberapa lembaga perbankan di Daerah Istimewa Yogyakarta terhadap permasalahan tersebut. terjadinya pengalihan barang jaminan fidusia oleh debitur dan dampaknya terhadap hak milik pihak ketiga selaku pemegang barang jaminan fidusia. Mengenai kajian fenomena tersebut, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yuridis-empiris, dimana hukum dipahami sebagai sebuah realitas sosial, baik dalam pelaksanaannya maupun penerapannya dalam masyarakat.16 Jadi, pendekatan tersebut akan fokus pada kajian praktik. pelaksanaan jaminan fidusia di lapangan khususnya yang berkaitan dengan permasalahan pengalihan barang jaminan fidusia dari debitur dan pelunasannya oleh kreditur serta dampaknya terhadap hak kepemilikan pihak ketiga selaku pemegang/pengendali barang jaminan fidusia. .

Penelitian ini akan dilakukan pada 3 institusi yaitu BPR Bhumikarya Pala dan BMT Bina Sejahtera sebagai lembaga perbankan yang memberikan layanan pembiayaan dengan menggunakan sistem kredit dengan model jaminan fidusia. Selain itu, penelitian juga dilakukan di Kantor Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Kantor Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai instansi pemerintah yang mempunyai kewenangan hukum untuk menangani pendaftaran jaminan fidusia dan penerbitan sertifikat jaminan fidusia. di Indonesia. Data sekunder dalam penelitian ini berupa Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Undang-Undang Jaminan Fidusia, Hukum Perkara dan berbagai literatur ilmiah berupa buku-buku serta hasil-hasil penelitian terdahulu mengenai pengalihan obyek jaminan fidusia.

Dalam penelitian ini data-data yang diperlukan akan dikumpulkan melalui inventarisasi berbagai data yang diperoleh dari hasil-hasil penelitian terdahulu, perjanjian pembiayaan konsumen/permohonan kredit, buku-buku dan karya ilmiah yang berkaitan dengan pengalihan objek jaminan fidusia oleh debitur kepada pihak ketiga. Wawancara dilakukan secara intensif untuk memperoleh gambaran permasalahan secara detail dan dibatasi pada satu permasalahan utama yaitu selesainya pengalihan objek jaminan fidusia yang dialihkan.

Kerangka Teori

  • Teori Perlindungan Hukum
  • Teori Perjanjian
  • Asas Publicitet dan Asas Specialitet
  • Asas-Asas Jaminan Dalam Hukum Islam
  • Asas Droit De Suite dan Droit De Preference

Hadjon menjelaskan dengan menggunakan konsep Barat sebagai kerangka berpikir berdasarkan Pancasila, maka asas perlindungan hukum bagi masyarakat di Indonesia adalah asas pengakuan dan perlindungan harkat dan martabat manusia berdasarkan Pancasila dan asas supremasi hukum. tentang Pancasila.18 Philipus M. Hadjon membedakan perlindungan hukum terhadap rakyat menjadi dua bagian, yaitu perlindungan hukum preventif dan perlindungan hukum represif.19. Satjipto Rahardjo menjelaskan, perlindungan hukum adalah memberikan perlindungan terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan oleh orang lain dan perlindungan itu diberikan.

Berdasarkan pasal 1320 KUH Perdata mengatur tentang syarat-syarat sahnya suatu perjanjian, syarat-syarat itu adalah sebagai berikut: 21. Dalam perjanjian dikenal juga asas Pacta Sunt Servanda, yaitu asas yang menyatakan bahwa perjanjian itu seperti hukum adalah mengikat para pihak yang membuatnya dan juga asas bahwa suatu perjanjian harus dibuat dengan itikad baik. Dalam hukum agunan diketahui ada beberapa asas yang harus diperhatikan, antara lain asas publisitas dan asas kekhususan.

23 Sedangkan asas kekhususan adalah asas yang mensyaratkan bahwa hak tanggungan, hak fidusia, dan hipotek hanya dapat ditempatkan pada barang atau barang yang didaftarkan atas nama orang tertentu. Dalam penelitian ini sendiri, bentuk agunan dalam hukum Islam yang relevan dengan objek penelitian ini adalah agunan yang berbentuk agunan kebendaan yang dikenal dengan rahn. Dimana bentuk ini dianalogikan dengan model jaminan dalam hukum konvensional yang dikenal dengan model jaminan fidusia.

Setiap hak kebendaan mempunyai ciri “Droit de suite”, yaitu suatu hak yang selalu mengikuti benda yang berada ditangannya benda itu, droit de suite atau suatu hak yang selalu mengikuti benda itu a. Asas Droit De Preference diartikan sebagai asas yang mensyaratkan bahwa kreditor yang memegang agunan pada umumnya selalu mempunyai hak untuk mendahului, atau mempunyai kedudukan yang diprioritaskan di atas kreditur lainnya.26.

Sistematika Penulisan

Jasa apa saja yang disediakan oleh BPR Bhumikarya Pala?

Berapa Jumlah total nasabah sejauh ini?

Berapa rata-rata jumlah pertambahan nasabah per tahun?

Apa saja syarat untuk mengajukan permohonan kredit/pembiayaan?

Apakah dalam memberikan kredit/pembiayaan pihak BPR Bhumikarya Pala mempunyai kuaifikasi tertentu untuk menilai

Terkait jasa kredit dan pembiayaan yang disediakan, apakah menggunakan jaminan dari debitur?

Jaminan yang dapat diberikan dalam bentuk apa saja?

Terkait kredit dan pembiayaan, berapa nominal terendah yang dapat diajukan/dimohon oleh debitur?

Dalam pembuatan perjanjian kredit, apakah menggunakan jasa notaris?

Apakah perjanjian kredit beserta jaminannya tersebut dedaftarkan ke kantor pendaftaran jaminan fidusia di KEMENKUMHAM?

Berapa lama jangka waktu yang diberikan oleh perusahaan untuk debitur melunasi hutangnya?

Bagaimana mekanisme penagihan yang diterapkan ketika terjadi kemacetan terkait kewajiban debitur untuk mengangsur?

Dari total pembiayaan yang dilakukan, sejauh ini berapa debitur yang kredit macet?

Faktor apa saja yang mendorong terjadinya kredit macet oleh debitur?

Bagaimana mekanisme penagihan yang diterapkan ketika hutang sudah jatuh tempo namun belum dilunasi oleh debitur?

Bagaimana kebijakan perusahaan dalam hal terjadi pengalihan objek jaminan oleh debitur kepada pihak ketiga?

Ketiga, apabila debitur tidak mempunyai itikad baik, maka surat teguran 1, 2, dan 3 akan dikirimkan secara bertahap. Keempat, perseroan akan mengajukan gugatan wanprestasi ke pengadilan, dengan debitur sebagai tergugat.

Kira-kira factor apa saja yang mendorong debitur mengalihkan objek jaminan kepada pihak ketiga?

Apakahperusahaanpernah mengalami kasus tersebut sebelumnya?

Berapa jumlah Kredit macet akibat pengalihan objek jaminan yang ditangani Tahun ini?

Bagaimana penyelesaian yang ditentukan oleh perusahaan ketika terjadi masalah tersebut?

Jawab: Jika ternyata debitur telah mengalihkan obyek agunan, sebenarnya tidak menjadi masalah jika debitur tetap memenuhi kewajibannya untuk melunasi utangnya sampai lunas, namun menjadi masalah jika setelah itu. pengalihan obyek jaminan debitur mengingkari kewajibannya. Diskusi silaturahmi mengenai hal ini dan maksud debitur mengenai pelaksanaan perjanjian, apakah benda jaminan tersebut harus diganti dengan jumlah yang setara atau bagaimana. Apabila tidak terdapat itikad baik dari pihak debitur, maka penyelesaiannya dilakukan melalui jalur hukum dengan mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri.

Bagaimana dampaknya terhadap pihak ketiga yang menguasai objek jaminan?

Jasa apa saja yang disediakan oleh BMT Bina Sejahtera?

Apakah dalam memberikan kredit/pembiayaan pihak BMT Bina Sejahtera mempunyai kuaifikasi tertentu untuk menilai nasabah

Jawaban: Sebelum memberikan kredit, pertimbangan yang digunakan BMT Bina Sejahtera adalah prinsip 5C yang dilanjutkan dengan penyelidikan lapangan dan pengecekan riwayat kredit nasabah. Apakah mereka menggunakan agunan dari debitur dalam hal jasa kredit dan pembiayaan? menggunakan jaminan dari debitur? Jawaban : Jaminan yang diberikan dapat berupa barang bergerak maupun tidak bergerak dengan model penjaminan amanah dan hak gadai 8. Berapa jumlah nominal terendah yang dapat diperoleh dalam hal kredit dan pembiayaan?

Jawaban: Penutupan perjanjian kredit di notaris, apabila jumlah kredit yang diminta melebihi Rp. Apakah perjanjian kredit dan asuransi sudah terdaftar pada layanan pendaftaran fidusia di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia? ke Kantor Pendaftaran Jaminan Fidusia pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia? Mekanisme pemulihan apa yang dilakukan apabila terjadi hambatan pada kewajiban debitur untuk mencicil? kemacetan lalu lintas terkait dengan kewajiban debitur untuk mencicil?

Jawaban: Dalam menangani kredit macet, BMT Bina Sejahtera melakukan penagihan secara bertahap, yaitu pertama dengan cara musyawarah keluarga, Kedua, pemberian surat teguran 1, 2 dan 3, Ketiga, dengan melakukan penagihan dengan cara paksa. jasa hutang. kolektor 13. Kira . Bagaimana mekanisme penagihan yang berlaku bila utang sudah jatuh tempo tetapi belum dibayar oleh debitur? Jawaban : Dalam mengatasi kredit macet BMT Bina Sejahtera melakukan penagihan secara bertahap yaitu pertama dengan melakukan musyawarah keluarga, kedua dengan surat teguran 1, 2 dan 3, ketiga dengan melakukan penagihan secara paksa dengan menggunakan jasa hutang. koleksi 16.

Kedua, jika tidak ada itikad baik dari pihak debitur, maka surat peringatan 1, 2, dan 3 akan dikirimkan secara bertahap. Ketiga, harta kekayaan debitur disita secara paksa kemudian dilelang untuk menutupi utang-utang debitur.

Kira-kira faktor apa saja yang mendorong debitur mengalihkan objek jaminan kepada pihak ketiga?

Berapa jumlahnya kira-kira dalam 1 Tahun?

Jawaban : Belum tentu, namun pada tahun ini terdapat 3 kasus, 3 kasus dari total 10 kredit macet disebabkan oleh pengalihan agunan. Jawaban: Dalam hal debitur mengalihkan objek jaminan dan kemudian tidak melanjutkan angsuran kredit sebagaimana tercantum dalam perjanjian, maka perseroan menggunakan mekanisme sebagai berikut. Intinya, ketika debitur gagal bayar, maka perusahaan akan berusaha semaksimal mungkin agar debitur tetap bisa membayar utangnya, meski harus menggunakan agen penagihan.

Apabila harta debitur tidak mencukupi maka tetap dilakukan penagihan secara paksa, paling tidak dari pada harta perusahaan hilang seluruhnya, lebih baik disita lalu dilelang walaupun nominalnya tidak mencukupi. Jawaban: Apabila terjadi wanprestasi akibat pengalihan obyek jaminan fidusia oleh debitur, maka pihak ketiga tidak menanggung akibat perbuatan debitur, oleh karena itu utang dan tanggung jawab sepenuhnya ditanggung oleh debitur, karena menurut perjanjian yang di dalamnya disepakati hak, kewajiban, dan larangan.

Latar Belakang Pendidikan Formal

Referensi

Dokumen terkait