Rumusan masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimanakah tingkat kesehatan bank BNI periode tahun 2016 yang diukur dengan metode RGEC? Penilaian tingkat kesehatan bank dengan pendekatan risiko (Risk-Based Bank Rating) meliputi penilaian terhadap faktor profil risiko, Good Corporate Governance (GCG), profitabilitas (laba) dan permodalan.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
- Bagi akademisi
- Bagi masyarakat
- Indikator Variabel
- Pembatasan Penelitian
Oleh karena itu, peneliti memutuskan untuk melakukan survei bertajuk “Analisis Kesehatan Bank Umum Konvensional BUMN Tahun 2016 Menggunakan Metode Profil Risiko, Good Corporate Governance, Profit and Capital (RGEC)”. Metode tingkat kesehatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode profil risiko, tata kelola perusahaan yang baik, metode earnings dan permodalan.
Definisi Operasional
Penilaian faktor profil risiko merupakan penilaian terhadap risiko inheren dan kualitas penerapan manajemen risiko dalam operasional perbankan yang wajib dilakukan terhadap 8 (delapan) risiko yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, dan risiko operasional. risiko hukum. , risiko strategis, risiko kepatuhan, dan risiko reputasi 19. Kewajiban mengevaluasi faktor profitabilitas (laba), yang meliputi evaluasi kinerja profitabilitas (laba), sumber daya.
Metode Penelitian
- Pendekatan dan Jenis Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
- Analisis Data
- Sistematika Pembahasan
Penilaian risiko dibagi menjadi 8 bagian yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko strategis, risiko kepatuhan, dan risiko reputasi. Prinsip-prinsip GCG dan fokus evaluasi penerapan prinsip-prinsip GCG terdiri dari 5 prinsip yaitu transparansi, akuntabilitas, daya tanggap, independensi dan keadilan.39.
Penelitian Terdahulu
Membandingkan Kesehatan Bank Syariah dan Konvensional Menggunakan Metode CAMEL (Studi Kasus BPR Syariah Jabal Tsur Pasuruan dan BRI Jember Periode 2011). 5 Siti Ayu Hidayatika, Analisis Perbedaan Tingkat Kesehatan Bank Konvensional Dengan Metode RGEC (Studi Pada Bank Konvensional yang Listing BEI 2011-2014).
Kajian Teori
Pengertian Bank Umum
Laporan keuangan
Laporan anotasi atas laporan keuangan merupakan laporan yang dibuat sehubungan dengan laporan keuangan yang disajikan. Mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain terkait laporan keuangan yang relevan dengan integritas.
Tingkat Kesehatan Bank
Aturan Penilaian Tingkat Kesehatan Bank
Dengan beralihnya fungsi, tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor perbankan dari Bank Indonesia kepada Otoritas Jasa Keuangan, OJK memperbarui ketentuan mengenai penilaian tingkat kesehatan bank umum, yaitu POJK No. 4/ POJK.03/2016 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank, umumnya berdasarkan pendekatan risiko (Risk-based Bank Rating/RBBR). Bagi pengawas, penilaian kesehatan bank menjadi masukan dalam menyusun strategi dan rencana pengawasan perbankan yang efektif.65.
Tingkat Kesehatan Bank RGEC
Penilaian status kesehatan bank didasarkan pada risiko perbankan dan dampaknya terhadap kinerja bank secara keseluruhan. Penggunaan parameter atau indikator pada setiap faktor penilaian Tingkat Kesehatan Bank memperhatikan karakteristik dan kompleksitas operasional bank.
Penilaian Tingkat Kesehatan RGEC a. Penilaian Profil Risiko
Risiko Kredit
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan meningkatkan permintaan terhadap fasilitas kredit dan menurunkan tingkat risiko kredit yang melekat. Buruknya kondisi pertumbuhan ekonomi di Amerika dan Eropa akan meningkatkan risiko kredit inheren jika perbankan menyalurkan kredit kepada debitur yang memasarkan produknya di kedua wilayah tersebut.69.
Risiko Pasar
Likuiditas dapat diartikan secara luas sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan (arus kas) secara cepat dan dengan biaya yang sesuai. Kerentanan bank terhadap kebutuhan pendanaan dan kemampuan bank dalam memenuhi kebutuhan pendanaan tersebut merupakan indikator untuk menilai kebutuhan pendanaan bank dalam situasi normal dan krisis serta kemampuan bank dalam memenuhi kebutuhan pendanaan tersebut. d) Akses terhadap sumber pendanaan.
Risiko Operasional
Penilaian tersebut antara lain berfokus pada reputasi bank dalam menjaga sumber pendanaan, kondisi jalur pendanaan, kinerja akses terhadap sumber pendanaan, dan dukungan perusahaan induk atau intra-grup.76. Sistem teknologi informasi yang tidak memadai dan/atau sistem pengelolaan dan pengendalian yang tidak efektif berpotensi menimbulkan kerugian terkait risiko operasional.
Risiko Hukum
Penilaian Fraud dilakukan dengan memperkirakan kemungkinan dan besarnya dampak Fraud yang terjadi pada asesmen sebelumnya, termasuk potensi kejadian Fraud yang timbul akibat kelemahan aspek bisnis, SDM, sistem teknologi informasi atau pihak eksternal. e) Peristiwa eksternal. Frekuensi dan materialitas kejadian eksternal yang berdampak pada kegiatan operasional bank, seperti terorisme, kriminalitas, dan bencana alam, dengan memperhatikan lokasi dan kondisi geografis kantor bank.78.
Risiko Stratejik
Strategi berisiko rendah adalah strategi dimana bank melakukan kegiatan usaha dengan pangsa pasar dan menawarkan produk yang sudah dikenal atau tradisional kepada nasabah, sehingga tingkat pertumbuhan usaha secara umum stabil dan dapat diprediksi. Tujuan penilaian antara lain untuk mengukur penyimpangan antara realisasi rencana bisnis bank dengan rencana strategis bank.81.
Risiko Kepatuhan
Risiko Reputasi
Penilaian terhadap kualitas penerapan manajemen risiko dilakukan terhadap masing-masing 8 (delapan) jenis risiko, yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko strategis, risiko kepatuhan, dan risiko reputasi (plus risiko imbal hasil). dan risiko investasi bagi bank syariah).88. Prinsip-prinsip GCG dan fokus penilaian penerapan prinsip-prinsip GCG terdiri dari 5 prinsip, yaitu transparansi, akuntabilitas, daya tanggap, independensi dan keadilan.
Tranparancy (Keterbukaan)
Accountability (Akuntabilitas)
Responsilbility (Pertanggungjawaban)
Indenpendency (Kemandirian)
Fairnes (Kewajaran)
Pemeringkatan faktor Good Corporate Governance dibagi menjadi 5 (lima) peringkat yaitu peringkat 1, peringkat 2, peringkat 3, peringkat 4, dan peringkat 5. Penentuan peringkat faktor Good Corporate Governance dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif. penilaian. tekniknya seperti pada tabel berikut:98.
Penilaian Peringkat Komposit Tingkat Kesehatan Bank
Menunjukkan kondisi bank secara umum cukup sehat sehingga dinilai cukup mampu menahan pengaruh negatif signifikan perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya yang tercermin pada peringkat faktor penilaian antara lain profil risiko, penerapan GCG, profitabilitas. dan modal yang secara umum sangat baik. Mencerminkan kondisi bank secara keseluruhan yang kurang sehat sehingga dinilai kurang mampu menghadapi dampak buruk yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya, tercermin pada pemeringkatan faktor pemeringkatan, termasuk profil risiko, penerapan GCG, profitabilitas dan permodalan. , yang secara umum sangat bagus.
Tindak Lanjut Penilaian Tingkat Kesehatan Bank
Pasca penunjukan De Javache Bank warisan pemerintah Belanda sebagai bank sentral pada tahun 1949, pemerintah membatasi peran BNI sebagai bank sentral. Gelombang tersebut mencerminkan kemajuan dinamis BNI sebagai bank umum milik negara yang berorientasi pasar.
Bank Rakyat Indonesia a. Sejarah BRI
13 Tahun 1968 tentang Undang-Undang Bank Sentral yang pada hakikatnya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai bank sentral dan Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Pedesaan dan Ekspor Impor dipecah menjadi dua bank, yaitu masing-masing Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor Indonesia. Sebagai bank yang fokus pada pembiayaan perumahan, Perseroan ingin membantu masyarakat Indonesia mewujudkan impian memiliki rumah idaman.
Bank Mandiri
Komisaris: Ardan Adiperdana 2) Direksi.. a) Direktur Utama: Kartika Wirjoatmodjo b) Wakil Direktur Utama: Sulaiman A. Arianto c) Chief Operating Officer: Ogi Prastomiyono. Berdasarkan data pada tabel 3.1 diatas mengenai rasio indikator TKB bank BNI periode tahun 2016 diperoleh rasio kredit kualitas rendah terhadap total kredit sebesar 6,00%, rasio kredit bermasalah terhadap total kredit sebesar 3,00%. . , rasio CKPN kredit terhadap total kredit sebesar 4,00%, rasio aset yang dapat dipasarkan, derivatif dan FVO terhadap total aset sebesar 80,0%, rasio liabilitas yang dapat diperdagangkan, derivatif dan FVO terhadap total liabilitas sebesar 99,0%, rasio alat likuid dan sekunder terhadap total aset sebesar 19,0%, rasio ROA sebesar 2,7%, rasio NIM sebesar 6,20%, rasio pendapatan bunga bersih terhadap total aset sebesar 5,00%, rasio pendapatan operasional selain pendapatan bunga sebesar 1,70%, rasio beban umum terhadap total aset sebesar 3,20%, rasio CAR sebesar 19,4%, dan rasio modal terhadap ATMR sebesar 18,3%.
Bank BRI
Berdasarkan data pada Tabel 3.2 diatas mengenai Rasio Indikator TKB bank BRI periode tahun 2016 terlihat bahwa rasio kredit berkualitas rendah terhadap total kredit sebesar 4,00%, dan rasio kredit bermasalah terhadap total kredit sebesar 1,00 %. rasio CKPN kredit terhadap total kredit sebesar 3,44%, rasio aset diperdagangkan, derivatif dan FVO terhadap total aset sebesar 93,0%, rasio liabilitas perdagangan, derivatif dan FVO terhadap total liabilitas sebesar 98,0%, rasio aset likuid dan sekunder terhadap total aset sebesar 23,0%, rasio ROA sebesar 5,15%, rasio NIM sebesar 8,42%, rasio pendapatan bunga bersih terhadap total aset sebesar 6,60%, rasio pendapatan operasional selain pendapatan bunga sebesar 2,00%, rasio overhead terhadap total aset sebesar 3 0,50 %, rasio CAR sebesar 16,9% dan rasio modal terhadap ATMR sebesar 21,5%.
Bank BTN
Berdasarkan data pada Tabel 3.3 diatas mengenai rasio indikator BTN Bank TKB periode tahun 2016 menunjukkan bahwa rasio kredit berkualitas rendah terhadap total kredit sebesar 12,7%, rasio kredit macet terhadap total kredit sebesar 2,60%. Rasio CKPN antara kredit dan total kredit sebesar 1,29%, rasio antara aset diperdagangkan, derivatif dan FVO terhadap total aset 96,0%, rasio antara liabilitas perdagangan, derivatif dan FVO terhadap total liabilitas 99,0%, rasio antara aset likuid dan sekunder terhadap total aset 13,0%, rasio ROA 1,76%, rasio NIM 4,98%, rasio antara pendapatan bunga bersih dengan total aset 3,80%, rasio antara pendapatan operasional tidak termasuk pendapatan bunga 0,60%, rasio overhead terhadap total aset 2,00%, rasio CAR 20,3%, rasio ekuitas terhadap ATMR sebesar 16,5%. Berdasarkan data pada tabel 3.4 diatas mengenai rasio indikator TKB Bank Mandiri periode tahun 2016 terlihat bahwa rasio antara kredit berkualitas rendah dengan total kredit adalah sebesar 8,00%, rasio antara kredit macet dengan total kredit sebesar 4,00%, rasio CKPN antara kredit dengan total kredit sebesar 5,00%, rasio aset diperdagangkan, derivatif dan FVO terhadap total aset sebesar 78,0%, rasio liabilitas perdagangan, derivatif dan FVO terhadap total liabilitas sebesar 94,0%, rasio antara likuid dan aset sekunder dan total aset 24,0%, rasio ROA 1,96%, rasio NIM 6,44%, rasio antara pendapatan bunga bersih dengan total aset 5,00%, rasio antara pendapatan operasional tidak termasuk bunga terhadap pendapatan 1,80%, rasio antara overhead dan total aset 3 . 00%, rasio CAR sebesar 21,4%, rasio modal terhadap ATMR sebesar 20,3%.
Penilaian Risiko Inheren
Berdasarkan tabel 3.6 di atas terlihat bahwa penilaian risiko inheren untuk risiko pasar bank BNI periode tahun 2016 adalah sebesar 2 (dua) atau low to moderat. Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan kerugian yang dihadapi bank BNI akibat risiko pasar relatif rendah. . Berdasarkan tabel 3.7 di atas terlihat bahwa penilaian risiko inheren untuk risiko likuiditas bank BNI periode tahun 2016 adalah sebesar 2 (dua) atau low to moderat. Hal ini menunjukkan bahwa peluang kerugian yang dihadapi bank BNI akibat risiko likuiditas relatif rendah. .
Penilaian Kualitas Penerapan Manajemen Risiko
Pembahasan
Penilaian profitabilitas keempat bank pelat merah tersebut mendapat peringkat 1 (satu) yang menunjukkan bahwa profitabilitas lembaga keuangan pelat merah periode tahun 2016 sangat memadai. Penilaian permodalan keempat bank pelat merah tersebut mendapat peringkat 1 (satu) yang menunjukkan bahwa permodalan bank pelat merah periode tahun 2016 sangat memadai.
Kesimpulan
Saran
Bagi Bank BUMN
Bagi Peneliti Selanjutnya
Analisis perbedaan tingkat kesehatan bank konvensional dengan metode RGEC (Studi Peringkat Bank Konvensional di BEI 2011-2014). Analisis Perbandingan Tingkat Kesehatan Bank Syariah dan Konvensional Menggunakan Metode CAMEL (Studi pada BPR Syariah Jabal Tsur Pasuruan dan BRI Jember Periode 2011).
DATA PRIBADI
RIWAYAT PENDIDIKAN