SKRIPSI
ANALISIS TITIK PULANG POKOK USAHATANI KENTANG DI DESA BONTO LOJONG KECAMATAN ULU ERE
KABUPATEN BANTAENG
PUTU AYU ANGGRAENI 4515033004
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BOSOWA
MAKASSAR 2019
i SKRIPSI
ANALISIS TITIK PULANG POKOK USAHATANI KENTANG DI DESA BONTO LOJONG, KECAMATAN ULU ERE
KABUPATEN BANTAENG
PUTU AYU ANGGRAENI 4515033004
Skripsi ini sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana
Pada
Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BOSOWA
MAKASSAR 2019
ii
iii
ABSTRAK
Putu Ayu Anggraeni, 4515033004. Analisis Titik Pulang Pokok Usahatani Kentang di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng. Di bawah bimbingan Ir. M. Jamil Gunawi. M.Si dan Dr. Ir. H. Zulkifli Razak. M.P.
Penelitian ini dilakukan di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, kabupaten Bantaeng pada bulan April sampai dengan Mei 2019, dengan tujuan untuk mengetahui jumlah keuntungan pada usahatani kentang dan mengetahui besar titik pulang pokok (break even point). Untuk mencapai tujuan penelitian yang pertama digunakan analisis keuntungan ( π = TR-TC) dengan cara data yang diperoleh dari responden yang berpedoman pada pertanyaan yang dikumpulkan kemudian ditabulasi dan dianalisis, yang kedua menggunkan analisis titik pulang pokok (break even point).
Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata total biaya yang dikeluarkan petani responden yang berusahatani kentang di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng dalam satu kali musim tanam untuk responden menggunakan benih kelas G2 adalah sebesar Rp28.400.778, responden menggunakan benih kelas G3 adalah sebesar Rp16.594.086, dan untuk responden menggunakan benih kelas G4 adalah sebesar Rp 12.304.182, Rata-rata keuntungan yang diperoleh dalam satu kali musim tanam adalah untuk responden benih kelas G2 adalah sebesar Rp62.559.222, responden benih kelas G3 adalah sebesar Rp 24.064.247, dan untuk responden benih kelas G4 adalah sebesar Rp 20.595.818.
Penjualan Kentang untuk mencapai titik pulang pokok (break even point) adalah untuk jenis benih kelas G2 sebanyak 89.66 kg, dengan penerimaan sebesar Rp 630.133 Untuk jenis benih kelas G3 sebanyak 78.22 kg, dengan penerimaan sebesar Rp 547.560. Untuk jenis benih kelas G4 sebanyak 75.40 kg, dengan penerimaan sebesar Rp 524.764.
Kata Kunci : Usahatani, Kentang, Keuntungan, Titik Pulang Pokok (Break Even Point).
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat limpahan karunia dan kuasa-Nya, sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan Skripsi dengan judul “Analisis Titik Pulang Pokok Usahatani Kentang di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng”.
Pada Kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih dan penghargaan kepada kedua otang tua Ayahanda Nyoman Suko dan Ibunda Komang Sukartini, atas perhatian dan doa serta dorongan dan pengorbanan yang telah diberikan kepada penulis baik materil maupun moril. Penulis juga mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Ir. M. Jamil Gunawi. M.Si selaku pembimbing I, dan Dr. Ir. Zulkifli Razak. MP Selaku Pembimbing II yang telah membimbing penulis mulai sejak penentuan judul sampai terselesaikannya Skripsi ini.
2. Kepada bapak/ibu dosen, staf Fakultas Pertanian, Universitas Bosowa Makassar.
3. Kepada keluarga besar Tiren House, terimakasih untuk Kak Yati, Eonni, Kak Asti, Kak Sri, Fate, Kak Lili, Abang Muddin, Abang Saldi, Nunu, Irdha, Kak Ira, dan semuanya yang selalu memberi dukungan kepada penulis.
4. Kepada Sahabat-sahabat se-fakultas pertanian angkatan ’15 “Altru15”, terkhusus kepada sahabat-sahabat yang selalu memotivasi penulis,
v
terimakasih untuk Leni, Susan, Ainun, Rian, Isma, Ica, Adya, Ulfa, Gebi, Adlu.
5. Untuk semua pihak yang telah ikut serta dalam membantu dan memberi masukan selama penyusunan Skripsi yang belum disebutkan namanya tanpa mengurangi rasa hormat, terimakasih banyak.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Skripsi ini terdapat kekurangan dan kesalahan baik dalam segi kata maupun penulisan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
Makassar, Maret 2019
Penulis
vi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
ABSTRAK ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GRAFIK ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan dan Kegunaan... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Umum Tanaman Kentang ... 6
2.2 Konsep Usahatani dan Anilisis Biaya Produksi Kentang ... 12
2.3 Analisis Penerimaan dan Pendapatan ... 16
2.4 Analisis Titik Pulang Pokok (Break Even Point) ... 17
2.5 Manfaat Analisis Titik Pulang Pokok (Break Even Point) ... 20
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ... 22
3.2 Populasi dan Sampel ... 22
3.3 Jenis dan Sumber Data ... 22
3.4 Metode Analisis Data ... 23
vii
BAB IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Letak Topografi dan Adminitratif ... 27 4.2 Luas Wilayah dan Penggunaan Lahan ... 28 4.3 Keadaan Penduduk ... 30 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Responden ... 34 5.2 Analisis Biaya dan Pendapatan Usahatani... 41 5.3 Analisis Titik Pulang Pokok ... 46 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan ... 54 6.2 Saran ... 55 DAFTAR PUSTAKA
viii
DAFTAR TABEL
No Teks Halaman 1. Produksi, luas panen, dan produktivitas kentang di Indonesia
tahun 2013-2017 ... 3 2. Produksi, luas panen, dan produktivitas kentang di
Sulawesi Selatan tahun 2013-2017 ... 3 3. Produksi kentang di Kabupaten Bantaeng 2014-2017 ... 3 4. Produksi kentang di kecamatan Ulu Ere tahun 2014-2017 ... 4 5. Jenis dan Luas Penggunaan lahan di Desa Bonto Lojong
Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng 2018. ... .. 29 6. Jumlah Penduduk Berdasarkan Klasifikasi Usia dan
Jenis Kelamin di Desa Bonto Lojong Kecamatan Uluere
Kabupaten Bantaeng 2018. ... 30 7. Penduduk Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Di Desa Bonto Lojong Kecamatan Uluere
Kabupaten Bantaeng 2018. ... 32 8. Klasifikasi Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan di
Desa Bonto Lojong Kecamatan Uluere
Kabupaten Bantaeng 2018. ... . 33 9. Klasifikasi Umur Petani Responden di Desa Bonto Lojong
Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng ... 35 10. Tingkat Pendidikan Petani Responden di Desa
Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng ... 36 11. Jumlah Tanggungan Keluarga Responden di
Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng ... 37 12. Pengalaman Berusahatani Kentang di Desa Bonto Lojong
Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng ... 38
ix
13. Luas Lahan Petani Kentang di Desa Bonto Lojong
Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng ... 39 14. Jumlah Produksi Kentang di Desa Bonto Lojong
Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng ... 40 15. Biaya dan Keuntungan Usahatani Kentang G2 di
Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere
Kabupaten Bantaeng Selama Satu Musim Tanam. ... 41 16. Rata-rata Biaya, dan Keuntungan Usahatani Kentang G3 di
Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere
Kabupaten Bantaeng Selama Satu Musim Tanam ... 43 17. Rata-rata Biaya, dan Keuntungan Usahatani Kentang bibit G4 di
Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere
Kabupaten Bantaeng Selama Satu Musim Tanam ... 45 18. Rekapitulasi Analisis Titik Pulang Pokok berdasarkan Benih G2,
G3, G4... 53
x
DAFTAR GRAFIK
No Teks Halaman 1. Grafik Titik Pulang Pokok Usahatani Kentang G2 di
Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng ... 48 2. Grafik Titik Pulang Pokok Usahatani Kentang G3 di
Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng ... 50 3. Grafik Titik Pulang Pokok Usahatani Kentang G4 di
Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng ... 52
xi
DAFTAR LAMPIRAN
No Teks Halaman 1. Daftar Identitas Responden Petani Kentang di
Desa Bonto Lojong Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng ... 53 2. Analisis Biaya Variabel Kentang G2 di Desa Bonto Lojong
Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng ... 54 3. Analisis Biaya Tetap Kentang G2 di Desa Bonto Lojong
Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng ... 55 4. Analisis Keuntungan Usahatani Kentang G2 di Desa Bonto Lojong
Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng ... 56 5. Analisis Biaya Variabel Kentang G3 di Desa Bonto Lojong
Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng ... 57 6. Analisis Biaya Tetap Kentang G3 di Desa Bonto Lojong
Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng ... 62 7. Analisis Keuntungan Usahatani Kentang G3 di Desa Bonto Lojong
Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng ... 66 8. Analisis Biaya Variabel Kentang G4 di Desa Bonto Lojong
Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng ... 67 9. Analisis Biaya Tetap Kentang G4 di Desa Bonto Lojong
Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng ... 72 10. Analisis Keuntungan Usahatani Kentang G4 di Desa Bonto Lojong
Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng ... 76
1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat penting, dimana sebagian besar masyarakat Indonesia bergantung pada hasil pertanian dan bermata pencaharian sebagai petani.
Budidaya pertanian global tidak hanya berfokus pada tanaman pangan, namun juga berfokus pada tanaman hortikultura, salah satu tananam hortikultura yang cukup mendapat perhatian adalah tanaman kentang.
Kentang merupakan tanaman hortikultura yang cukup berpeluang untuk dikembangkan, hal ini disebabkan oleh peminat kentang yang tinggi, pasar yang terjamin, serta daya simpan lebih lama dibandingkan dengan komoditas hortikultura lainnnya. Umbi kentang pada basis bobot segar memiliki kandungan nilai gizi yang tinggi.
Kentang memiliki potensi dan prospek yang baik untuk mendukung program diversifikasi dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan, dibuktikan dengan swasembada kentang konsumsi jenis granola pada tahun 2018, per januari-september 2018 Indonesia telah ekspor kentang segar sebesar 2.781 ton. Namun kentang bahan baku industri masih impor per januari-september 2018 sebesar 19.649 ton
2
lebih kecil dibandingkan impor pada tahun 2017 yaitu sebesar 51.849 ton, (Kementan Ditjen Hortikultura, 2018)
Produksi kentang seluruh Indonesia pada tahun 2017 adalah 1.164.738 ton, luas panen seluruh Indonesia adalah 75.611 ha, dengan jumlah produktivitas sebesar 15.40 ton/ha, dengan tiga besar sentra produksi kentang di Indonesia adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sulawesi Selatan sendiri berada di posisi ke sembilan dengan produksi kentang 31.831 ton dengan luas panen 1.841 ha, dan produktivitasnya 17.29 ton/ha. Pengembangan kentang di Sulawesi Selatan pun salah satunya dikembangakan di Kabupaten Bantaeng dengan produksi kentang pada tahun 2017 sebanyak 17.232 ton, dengan luas panen 935 ha, dan produktivitas 18.429 ton/ha, Kecamatan yang memiliki produksi, luas panen, dan produktivitas kentang terbesar di Kabupaten Bantaeng adalah Kecamatan Ulu Ere dengan produksi kentang pada tahun 2017 sebanyak 16.845 ton, dengan luas panen 903 ha, dan produktivitas 18.65 ton/ha (BPS dan Ditjen Hortikultura, 2018).
3
Tabel 1. Produksi, luas panen, dan produktivitas kentang di Indonesia tahun 2013-2017
Tahun Produksi
(ton)
Luas Panen (ha)
Produktivitas (ton/ha)
2013 1.124.282 70.187 16.02
2014 1.347.815 76.291 17.67
2015 1.219.270 66.983 18.20
2016 1.213.038 66.450 18.23
2017 1.164.738 75.611 15.40
Sumber: BPS dan Ditjen Hortikultura (2018)
Tabel 2. Produksi, luas panen, dan produktivitas kentang di Sulawesi Selatan tahun 2013-2017
Tahun Produksi
(ton)
Luas Panen (ha)
Produktivitas (ton/ha)
2013 30.295 2.018 15.01
2014 25.005 1.661 15.05
2015 29.522 1.925 15.34
2016 49.895 2.996 16.65
2017 31.831 1.841 17.29
Sumber: BPS dan Ditjen Hortikultura (2018)
Tabel 3. Produksi kentang di Kabupaten Bantaeng 2014-2017 Tahun
2014 2015 2016 2017
Produksi
(ton/ha) 9.593 12.457 13.501 17.232
Sumber: BPS Bantaeng (2018)
4
Tabel 4. Produksi kentang di kecamatan Ulu Ere tahun 2014-2017
Tahun 2014 2015 2016 2017
Produksi
(ton/ha) 9.434 12.242 13.084 16.845
Sumber: BPS Bantaeng (2018)
Dalam pengusahaannya usahatani kentang merupakan usaha turun temurun, yang dikelola secara mandiri oleh petani, serta kentang merupakan tanaman semusim, maka dalam usahatani ini petani melakukan berbagai upaya dalam merencanakan serta menjalankan usahataninya, mulai dari penyediaan sarana produksi, hingga pengolahan hasil. Dari Tabel 4 menunjukan produksi kentang di Kecamatan Ulu Ere dari tahun 2014-2017 mengalami peningkatan, namun bila penanaman kentang dilakukan pada saat musim hujan, petani harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk pengendalian hama penyakit yang menyerang tanaman, penggunaan bibit, pemupukan, dan penggunaan pestisida yang kurang tepat baik dosis maupun waktu juga memegang peranan penting dalam menghasilkan produksi (Maryanto,dkk, 2018).
Petani mengupayakan dalam berusahatani kentang hasil yang diperoleh dapat menguntungkan secara ekonomis, dimana biaya yang dikeluarkan dapat menghasilkan produksi yang maksimal, sehingga penerimaan yang diperoleh meningkat, maka dengan mengetahui besarnya total biaya dan total penerimaan yang diperoleh, petani dapat
5
mengetahui berapa banyak jumlah kentang yang harus dijual sehingga mencapai titik pulang pokok (Break Even Point).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat dikemukakan masalah sebagai berikut:
1. Berapa besar rata-rata pendapatan usahatani kentang?
2. Berapa besar titik pulang pokok (Break Even Point)?
1.3 Tujuan dan Kegunaan 1.3.1 Tujuan
1. Untuk mengetahui jumlah keuntungan pada usahatani kentang.
2. Untuk mengetahui besar titik pulang pokok (Break Even Point).
1.3.2 Kegunaan
1. Agar petani dapat memahami, mempertimbangkan dan menentukan berapa besar keuntungan yang diperoleh.
2. Agar dapat menjadi panduan pemerintah dalam membuat kebijakan tentang usahatani kentang di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng.
3. Agar penelitian dapat menjadi bahan referensi bagi peneliti selanjutnya, tentang pembiayaan dan analisis usahatani kentang.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Umum Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L)
Kentang merupakan tanaman hortikultura yang kaya akan sumber karbohidrat, mineral, dan vitamin yang telah dikenal sejak lama serta merupakan tanaman pangan ke empat dunia yang paling banyak di konsumsi, setelah gandum, jagung dan padi. Salah satu komoditas pangan penting yang bernilaai ekonomi tinggi sehingga menjadi salah satu prioritas pengembangan pemerintah. Kentang bukanlah tanaman asli Indonesia, tetapi datang dari benua Eropa, di Indonesia kentang dikenal sejak tahun 1974 disekitaran Cimahi, Bandung, yang pada mulanya penanaman kentang dilakukan oleh penjajah Belanda untuk penyediaan stok pangan karena kesulitan impor dari Eropa, dan kini kentang telah menyebar luas ke seluruh Indonesia, (Sunarjono, 2007).
Klasifikasi tanaman kentang sebagai berikut:
Kelas : Dicotyledonae (berkeping dua) Ordo : Tubiflorae (berumbi)
Famili : Solanaceae (berbunga terompet)
Genus : Solanum (daun mahkota berletakan satu sama lain) Seksi : Petota
Spesies : Solanum tuberosum L.
7
Beberapa varietas kentang yang dibudidayakan di Indonesia, yaitu:
a. Easterling, dengan ciri umur panen 90-100 hari, daya hasil dan kandungan pati rendah, umbi berbentuk lonjong, mata dangkal, kulit umbi dan daging kuning muda, dengan batang lemah, peka terhadap Phitophthora infentas, tetapi imum terhadap virus A.
b. Desiree, dengan ciri umur panen 100-120 hari, daya hasil tinggi, kandungan pati rendah, umbi lonjong, mata dangkal, kulit merah, daging umbi kuning muda, batang tegap dan daun kenopi cepat tumbuh, agak peka terhadap P. infestans, tetapi imum terhadap penyakit kutil.
c. Petrones, dengan ciri umur panen 100-120 hari, daya hasil tinggi, dengan kandungan pati sedang. Umbi lonjong, mata agak dangkal, kulit agak kuning pucat, daging umbi kuning muda, batang kekar daun kanopi cepat tumbuh, agak tahan terhadap P. infestans dan agak tahan terhadap virus Y.
d. Katella, dengan ciri umur 90-100 hari, daya hasil sedang, kadungan pating sedang-rendah. Umbi bulat-oval, mata dangkal, kulit kuning, daging umbi kuning, batang kecil agak lemah, daun konopi tumbuh lebih lambat, peka sekali terhadap P. infestans.
e. Eigenheimer, dengan ciri umur 100-120 hari, daya hasil tinggi,
8
kandungan pati tinggi. Umbi oval, mata dalam, kulit umbi kekuningan, daging umbi kuning menyala, batang agak tetap dan daun konopi cepat tumbuh, agak peka terhadap P. infestans.
f. Bintje, dengan ciri umur 100-120 hari, daya hasil tinggi, kandungan pati rendah. Umbi lonjong,mata dangkal, kulit umbi kekuningan, dan daging umbi kuning muda, bata tegap kekar, peka terhadap P.
infestans dan imum terhadap virus A.
g. Cosima, dengan ciri umur 110-120 hari, daya hasil tinggi, kandungan pati sedang. Umbi bulat, agak pipih, mata agak dalam, kulit keputihan, dan daging agak putih, batang agak tegap dan daun kanopi tumbuh sedikit lambat, agak tahan terhadap P. infestans dan peka terhadap virus leaf roll.
h. Bevelander, dengan ciri umur 90-110 hari, daya hasil dan kandungan pati sedang. Umbi kecil, bulat, kulit kekuningan, dan daging umbi kuning muda. Batang kecil, agak lemah daun kanopi tumbuh lambat, agak peka terhadap P. infestans, tetapi tahan terhadap penyakit kutil.
i. Granola, dengan ciri umur 100-120 hari daya hasil dan kandungan pati tinggi. Umbi oval, besar, mata agak dalam, kulit kuning kotor, daging umbi kuning. Batang tegap, kekar, daun kanopi tumbuh sedang, tahan terhadap P. infestans dan virus Y.
j. Cipanas, dengan ciri umur 100-120 hari,daya hasil tinggi, kandungan
9
pati sedang. Umbi oval, besar, kult merah, daging kuning, dan mata dangkal. Batang tegap, kekar, dan daun kanopi tumbuh sedang, agak tahan terhadap P. infestans dan agak tahan terhadap layu bakteri.
k. Alpha, dengan cirri >120 hari, daya hasil tinggi, kandungan pati sedang. Umbi bulat, besar, mata dangkal, kulit kekuningan, daging umbi kuning muda. Batang tegap, kekar, daun kanopi tumbuh lambat, agak peka terhadap P. infestans dan virus Y, tetapi tahan terhadapp kudis.
l. Marita, dengan ciri umur sangat 120 hari, daya hasil dan kandungan pati tinggi. Umbi bulat, mata dalam, kulit kekuningan, daging umbi kuning muda. Batang kekar, daun kanopi tumbuh cepat, agak peka terhadap P. infestans, tahan terhadap virus Y, dan imun terhadap kutil.
m. Multa, dengan ciri umur >120 hari, daya hasil agak tinggi, kandungan pati tinggi. Umbi lonjong, besar, mata dangkal, kulit kekuningan, daging umbi kuning muda. Batang kekar dan daun kanopi tumbuh cepat, tahan terhadap P. infestans dan kuds, agak peka terhadap virus Y, imun terhadap kutil.
n. Voran, dengan ciri umur >120 hari, daya hasil dan kandungan pati tinggi. Umbi bulat, kecil, kulit kekuninga, daging umbi kuning muda.
Batang tegap,kekar, dengan daun kanopi tumbuh lambat, agak peka terhadap P. infestans tahan terhadap virus Y, dan imun terhadap
10
penyakit kutil.
o. Radosa, dengan ciri umur >120 hari, daya hasil dan kandungan pati tinggi. Umbi lonjong, mata dangkal, kulit putih kekunningan, daging umbi kuning muda. Batang kekar, agak tegap, daun kanopi tumbuh sedang, peka terhadap P. infestans imun terhadap virus Y, dan penyakit kutil.
p. Thung 151, dengan ciri umur >120 hari, daya hasil dan kandungan pati tinggi. Umbi bulat, mata dalam, kulit kekuningan, daging umbi kuning tua. Batang tegap, kekar, daun kanopi tumbuh sedang, tahan terhadap P. infestans tetapi peka penyakit layu bakteri.
q. Rapan 106, dengan ciri umur >120 hari, daya hasil dan kandungan pati tinggi. Umbi bulat, mata dalam, kulit kekuningan, daging umbi kuning tua. Batang tegap, kekar, daun kanopi tumbuh sedang, tahan terhadap penyakit layu bakteri dan virus leaf roll.
r. Condea, dengan ciri umur >120 hari, daya hasil tinggi, kandungan pati sedang. Umbi lonjong, mata dangkal, kulit kuning kotor, daging umbi kuning muda. Batang tegap, kekar, daun kanopi tumbuh cepat, tahan terhadap P. infestans
s. Segunung, ciri umur ± 100 hari, kulit dan daging umbinya berwarna kuning, dengan mata dangkal, tahan terhadap P. infestans.
t. Atlantik, umur tanam 100 hari, kualitas umbi baik, kadar patinya tinggi,
11
kadar gula rendah, kadar karbohidrat 16%, tahan terhadap nematode.
u. DTO-28 dan DTO-33, produksi tinggi, kandungan berat kering rendah, tahan terhadap penyakit layu bakteri, serta tahan terhadap suhu tinggi.
v. LT-1, umur ±120 hari bentuk umbi bulat, warna kulit kuning dan halus dengan warna daging umbi putih, mata tunas dangkal.
Beberapa varietas kentang yang banyak ditanam di Indonesia adalah kentang kuning varietas Granola, Atlantik, Cipanas, dan Segunung (BI dalam Muhibuddin, 2016).
Kentang umumnya dibudidayakan di dataran tinggi, hal yang menjadi perhatian banyak pihak terutama para pemerhati lingkungan dan kelestarian alam. Usaha budidaya kentang di dataran tinggi secara terus menerus dan tidak terkendali dapat merusak lingkungan, karena dapat menyebabkan erosi dan menurunkan produktivitas tanah (Muhibuddin, 2016).
Lahan dataran tinggi untuk budidaya kentang sangat terbatas, sehingga areal pengembangan agribisnis kentang seolah-olah menetap dan periode rotasi tanaman menjadi sangat pendek, yakni antara 1-2 tahun, hal ini mengakibatkan terjadinya penumpukan hama dan penyakit, dengan alasaan tersebut timbul gagasan untuk mengembangkan luas areal pertanaman ke dataran rendah dan medium yang memenuhi syarat tumbuh tanaman kentang. Dari beberapa tahun percobaan diberbagai lokasi dataran rendah dan medium ternyata kentang mampu berumbi
12
normal, varietas kentang yang toleran terhadap suhu panas dan dapat dikembangkan di dataran rendah dan medium adalah cipanas, DTO-28, LT-1, cosima, dan DTO-33 (Sunarjono, 2007).
Lahan dataran rendah dan medium tersebut harus memenuhi beberapa syarat, yaitu: jenis tanah latosol dan alluvial, suhu malam hari 20-27o C, terdapat angin sepoi-sepoi yang menjadikan lingkungan menjadi dingin dan sejuk, tersedia air pengairan yang cukup, tetapi tidak kebanjiran, dan bukan bekas tanaman Solanaceae, atau tanaman pisang (Sunarjono, 2007).
2.2 Konsep Usahatani dan Analisis Biaya Produksi Kentang
Pengelolaan usahatani yang efisien akan mendatangkan suatu keuntungan, usahatani yang tidak efisien akan mendatangkan suatu kerugian. Usahatani yang efisien adalah usahatani yang produktivitasnya tinggi. Dalam usahatani terdapat dua tipe usahatani, tipe usahatani ini menunjukan klasifikasi tanaman yang didasarkan pada macam dan cara penyusunan tanaman yang diusahakan:
a. Macam tipe usahatani:
a) Usahatani padi
b) Usahatani serealia, umbi-umbian, jagung b. Pola tanam
a) Usahatani monokultur
b) Usahatani campuran/tumpangsari
13
c) Usahatani bergilir/tumpang gilir, (Darwis, 2017)
Usahatani bisa dikatakan efisien bila petani bisa mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki (yang dikuasai) sebaik-baiknya, dan dikatakan efesien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output) yang melebihi masukan (input).
Dalam bidang agribisnis, analisis usahatani sangat penting, analisis diperlukan untuk mengetahui apakah kegiatan usahatani tersebut layak di kembangkan, walaupun secara teknis kegiatan usahatani bisa dilakukan, tetapi jika secara ekonomis merugikan, maka kegitan usahatani tersebut tidak layak untuk dilajutkan.
Dalam berusahatani akan timbul berbagai jenis biaya yang diperlukan dalam kegiatan produksi. Dimana tujuan dari produksi adalah menghasilkan barang yang memberikan manfaat bagi manusia. Fungsi produksi adalah adanya hubungan matematika antara sejumlah produksi tertentu dengan input (faktor produksi) yang dilibatkan dalam suatu proses produksi. Fungsi produksi tersebut menunjukan bahwa besarnya jumlah produksi yang dihasilkan tergantung dari banyaknya atau kurangnya faktor produksi yang digunakan dalam setiap produksi (Winardi dalam Alin 2013).
Produksi juga pada dasarnya adalah penciptaan barang yang memiliki kegunaan dengan mengadakan perubahan bentuk, menyediakan tempat yang diperlukan dalam produksi, serta dilaksanakan
14
pada waktu yang tepat. Faktor-faktor produksi yang menentukan hasil dalam proses adalah sebagai berikut:
1. Tanah sebagai salah satu faktor produksi merupakan pabrik hasil- hasil pertanian yaitu tempat dimana produksi berjalan dan darimana hasil produksi keluar. Faktor produksi tanah mempunyai kedudukan paling penting. Hal ini terbukti dari besarnya balas jasa yang diterima oleh tanah dibandingkan faktor-faktor produksi lainnya (Mubyarto, 1995)
2. Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi dalam jumlah yang cukup bukan saja dilihat dari tersedianya tenaga kerja tetapi juga kualitas dan macam tenaga kerja perlu diperhatikan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada faktor produksi tenaga kerja adalah tersedianya tenaga kerja yang cukup memadai, kualitas tenaga kerja, jenis kelamin dan tenaga kerja musiman.
3. Modal, dalam kegiatan proses produksi pertanian, maka modal dibedakan menjadi dua macam yaitu modal tetap dan modal tidak tetap. Perbedaan tersebut dibedakan karena ciri yang dimiliki oleh modal tersebut. Besar kecilnya modal dalam usaha pertanian tergantung dari skala usah, macam komoditas, dan tersedianya kredit sangat menentukan keberhasilan suatu ushaatani (Soekartawi, 2003)
15
4. Manajemen terdiri dari merencanakan, mengorganisasikan dan melaksanakan serta mengevaluasi suatu proses produksi. Karena proses produksi ini melibatkan orang (Tenaga kerja) dari berbagai tingkatan, maka manajemen berarti pula bagaimana mengelola orang-orang tersebut dalam tingkatan atau dalam tahapan proses produksi (Soekartawi, 2003).
Dalam produksi juga diperlukan biaya, biaya yang dikeluarkan dalam hubungannya dengan proses produksi perlu diketahui untuk dijadikan dasar dalam penetapan harga pokok hasil produksi dimana biaya-biaya yang telah dikeluarkan tersebut terdiri dari berbagai unsur dan disebut sebagai unsur-unsur biaya yaitu, biaya Produksi adalah biaya yang dikeluarkan sejak pengadaan bahan biaya komersial dan biaya komersial adalah biaya yang dikeluarkan setelah barang tersebut selesai diproduksi, yang berupa biaya untuk mendistribusikan barang- barang tersebut kepada konsumen.
Jenis-jenis biaya produksi dapat pula dibagi dalam biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel atau biaya tidak tetap (variable cost). Yang dimaksud dengan biaya tetap adalah jenis biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada besar kecilnya produksi, misalnya sewa atau bunga tanah yang berupa uang. Biaya lain-lainnya pada umumnya masuk biaya variabel karena besar kecilnya berhubungan langsung dengan besarnya produksi, misalnya pengeluaran-pengeluaran untuk
16
bibit, biaya persiapan, dan pengolahan tanah. Akumulasi dari biaya variabel dan biaya tetap disebut pula sebagai total biaya.
Perhitungan biaya variabel total (Total Variable Cost = VC), biaya variabel total merupakan biaya yang besar-kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang dihasilkan atau keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi variabel. Perhitungan biaya tetap total (Total Fixed Cost = FC), biaya tetap total adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya dan selalu dikeluarkan walaupun produksi yang dihasilkan banyak atau sedikit. Berapapun jumlah output yang dihasilkan biaya tetap itu sama saja. Perhitungan biaya total (Total Cost = TC), biaya total adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produksi yang merupakan penjumlahan antara biaya tetap dan biaya variabel.
2.3 Analisis Penerimaan dan Keuntungan
a. Penerimaan dalam usahatani adalah sebuah istilah nilai produksi (value of production) atau penerimaan kotor usahatani (gross return), yaitu nilai total produk usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual, (Alin,2013). Penerimaan usahatani diperoleh dari produksi fisik dikalikan dengan harga produksi. Penerimaan usahatani berwujud dari tiga hal , yaitu hasil penjualan tanaman, ternak, ikan, atau produksi yang dijual, produksi yang dikonsumsi pengusaha dan keluarga selama melakukan kegiatan, dan kenaikan nilai inventaris. Penerimaan usahatani dapat
17
dilakukan dengan mengalikan jumlah produksi yang diperoleh dengan harga jualnya. Penerimaan petani kentang diperoleh dari banyaknya kentang yang terjual lalu dikalikan dengan harga kentang tersebut.
b. Keuntungan, dalam usahatani pendapatan usahatani adalah keuntungan yang diperoleh petani dengan mengurangkan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi dengan penerimaan usahatani (Soekartawi, 2003).
Tujuan petani dalam berusahatani kentang adalah untuk mendapatkan untung, menurut Soekartawi (2003) dalam melakukan usaha pertanian seorang petani dapat memaksimumkan keuntungan dengan “Profit Maximization dan Cost Minimization”. Profit maximization adalah mengalokasikan input seefisien munngkin untuk memperoleh output yang maksimal, sedangkan cost minimization adalah menekan biaya produksi sekecil-kecilnya untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar, kedua pendekatan tersebut merupakan hubungan antara input dan output produksi yang tidak lain adalah fungsi produksi.
2.4 Analisis Titik Pulang Pokok (Break Even Point)
Analisis titik pulang pokok (break even point) adalah perhitungan di mana usaha tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian. Dalam perhitungan analisis break even point dibutuhkan data-data biaya yang diperlukan untuk menganalisis permasalahan yang akan dipecahkan.
18
Analisis Titik pulang pokok atau break even point (BEP) adalah suatu analisis yang bertujuan untuk menemukan satu titik, dalam unit atau rupiah, yang menunjukkan biaya sama dengan penerimaan. Titik tersebut dinamakan titik pulang pokok atau break even point (BEP).
Dengan mengetahui titik pulang pokok, dapat diketahui pada volume penjualan, berapa perusahaan mencapai titik impasnya, yaitu tidak rugi, tetapi juga tidak untung sehingga apabila penjualan melebihi titik itu, maka perusahaan mulai mendapatkan untung (Prasetya dan Lukiastuti dalam Qomariah, 2014)
Teknik analisis titik pulang pokok adalah teknik untuk memperlajari hubungan antara biaya, laba, dan volume penjualan (cost-profit-volume analysis). Biaya yang diperhitungkan adalah biaya total yang terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel (Martono dan Harjito, 2001). Salah satu unsur penting dalam perhitungan analisis break even point atau analisis pulang pokok adalah klasifikasi biaya. Klasifikasi biaya yang digunakan dalam perhitungan analisis break even point yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost) tujuannya untuk menentukan perencanaan kapasitas produksi agar sebuah usaha tidak mengalami kerugian dengan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dan keuntungan yang akan didapatkan.
Analisis titik pulang pokok (break even point) memerlukan beberapa asumsi yang harus dipenuhi, yaitu;
19
1) Titik impas semua unsur adalah perencanaan, oleh karena itu semua unsur berasal dari anggaran yang disusun sebelumnya
2) Tingkah laku biaya dan pendapatan ditentukan batas yang telah dianggarkan.
3) Unsur biaya bisa dipisahkan ke kelompok variabel dan tetap.
4) Biaya tetap tidak berubah secara total.
5) Biaya variabel berubah secara proporsional dengan perubahan kapasitas.
6) Produktivitas dan efisiensi operasi tidak berubah selama tahun anggaran. suatu analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara beberapa variabel didalam kegiatan, (Machfoenda, dalam Wahidin 2012).
Ada dua cara dalam menentukan titik pulang pokok (break even point), yaitu;
a. Pendekatan Grafik, salah satu pendekatan penentuan titik pulang pokok adalah dengan menggambarkan unsur-unsur biaya dan penghasilan ke dalam suatu gambar grafik. Pada grafik tersebut nampak garis-garis biaya variabel, biaya tetap, total biaya, dan garis total penghasilan grafik titik pulang pokok.
b. Pendekatan Matematik, dalam perhitungan titik pulang pokok dengan pendekatan matematik dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu atas
20
dasar unit dan atas dasar rupiah. Seperti pada pengertian titik pulang pokok bahwa:
a) Usaha tidak memperoleh laba atau tidak menderita rugi.
b) Total penghasilan sama dengan total biaya.
c) Laba sama dengan nol (Wahidin, 2012).
2.5 Manfaat Analisis Titik Pulang Pokok (Break Even Point)
Analsis titik pulang pokok (break even point) dapat digunakan untuk membantu dalam menetapkan sasaran atau tujuan usaha.
Adapun kegunaan dan arti penting analisis titik pulang pokok adalah sebagai berikut:
1. Sebagai dasar atau landasan merencanakan kegiatan operasional dalam usaha mencapai Laba.
2. Sebagai usaha atau landasan untuk mengendalikan kegiatan operasi yang sedang berjalan yaitu sebagai alat pencocokan antara realisasi dengan angka-angka dalam perhitungan break even point.
3. Sebagai pertimbangan dalam penentuan harga jual.
4. Sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan.
Pada kenyataanya analisis titik pulang pokok (break even point) juga mempunyai kesulitan karena adanya batasan-batasan yaitu;
1. Bahwa biaya harus dapat dipisahkan atau dapat di klasifikasikan menjadi dua biaya variabel dan biaya tetap. Pada karakternya untuk memisahkan biaya tetap dan biaya variabel bukalah pekerjaan yang
21
mudah karena adanya biaya variabel dan biaya tetap yang mempunyai sifat variebel dan tetap.
2. Bahwa biaya total yang akan selalu konstan sampai tingkat kapasitas penuh.
3. Bahwa biaya variabel akan berubah secara proporsional (sebanding) dengan perubahan volume penjualan dan adanya sinkornisasi antara produksi dan penjualan. Keadaan yang demikian dalam praktek jarang terjadi.
4. Harga jual per satauan tidak akan berubah berapapun jumlah satuan barang yang atau tidak ada perubahan harga secara umum. Hal yang demikian sulit ditemukan dalam kenyataan atau praktik.
5. Bahwa hanya ada satu macam barang yang di produksi atau dijual atau lebih dari satu macam komposisi penjualan (sales mix) akan tetap konstan, (Wahidin, 2012).
22
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2019.
Penelitian pun akan dilakukan di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan. Desa Bonto Lojong dipilih karena merupakan salah satu tempat penanaman kentang di Kecamatan Ulu Ere.
3.2 Populasi dan Sampel
a. Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia dan benda ataupun peristiwa sebagai sumber data yang mewakili karakteristik tertentu dalam penelitain (Nazir, 2002), populasi dalam penelitian ini adalah petani kentang di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng.
b. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti, sampel dalam penelitian ini adalah 25 petani kentang, yang dipilih dengan cara sampling snowball (bola salju). Sampling snowball adalah dimana sampel diperoleh melalui proses bergulir dari satu responden ke responden yang lainnya (Nurdiani, 2014).
3.3 Jenis Sumber Data
Metode penelitian ini dilaksanakan adalah dengan mengumpulkan data meliputi;
23
1. Penelitian Pustaka (Library Research)
Penelitian ini dilakukan dengan membaca literature, artikel dan sumber-sember yang berkaitan dengan masalah penelitian.
2. Penelitian lapangan (Field Research)
Penelitian lapangan dimaksudkan untuk memperoleh data primer dan sekunder. Data primer yang dicari baik dalam bentuk kualitatif maupun kuantitif dilakukan dengan cara mengadakan observasi, wawancara, dan pembagian kuesioner kepada responden yang berhubungan dengan masalah penelitian, serta data sekunder dengan cara mencari data dari instansi terkait.
3.4 Metode Analisis Data
Analisis data yang digunakan untuk menghitung pendapatan usahatani kentang adalah analisis data sebagai berikut:
1. Analisis Biaya meliputi:
a. Biaya Tetap Total (Total Fixed Cost) = TFC b. Biaya Variabel Total (Total Variabel Cost) = TVC c. Biaya Variabel/unit = TVC
Produksi d. Biaya Total (Total Cost) = TC
TC = TFC + TVC
TC/unit = Biaya Tetap + (Biaya Variabel/unit x BEP/unit)
24
2. Analisis Penerimaan TR = P.Q
Keterangan; TR = Total Revenue/Total Penerimaan (Rp/Kg/mt) P = Harga/Price (Rp/Kg)
Q = Jumlah produksi (Kg/mt) 3. Analisis Keuntungan
π = TR – TC
Keterangan; π = Profit/Keuntungan (Rp/ha/mt) TR = Total penerimaan (Rp/ha/mt) TC = Total Biaya (Rp/ha/mt)
4. Analisis titik pulang pokok, ada dua cara dalam menentukan break even point, yaitu
c. Pendekatan Grafik, pada grafik akan nampak garis-garis biaya variabel, biaya tetap, total biaya, dan garis total penghasilan grafik titik pulang pokok.
d. Pendekatan Matematik, dua cara penentuan adalah, atas dasar unit dan atas dasar rupiah.
Berikut rumus untuk menghitung break even point unit produksi (kg);
BEPunit (kg) = Biaya Tetap
Harga perunit – Biaya Variabel per Unit Dengan kriteria produksi sebagai berikut:
25
a) Jika nilai hitung BEP produksi < jumlah produksi, maka usaha berada pada posisi menguntungkan
b) Jika nilai hitung BEP produksi = jumlah produksi, maka usaha berada pada posisi titik impas atau tidak rugi tidak untung c) Jika nilai hitung BEP produksi > jumlah produksi, maka usaha
berada pada posisi tidak menguntungkan
Apabila diinginkan break even point dalam Harga (Rp)
BEPrupiah(Rp) = Biaya Tetap Biaya Variabel
Penjualan Dengan kriteria produksi sebagai berikut:
a) Jika BEP produksi < penjualan, maka usaha berada pada posisi menguntungkan.
b) Jika BEP produksi = penjualan, maka usaha berada pada posisi titik impas atau tidak rugi tidak untung.
c) Jika BEP produksi > penjualan, maka usaha berada pada posisi tidak menguntungkan.
3.5 Konsep Operasional
Untuk memudahkan pengambilan data di lokasi maka dirumuskan pengertian-pengertian sebagai berikut;
1. Petani responden adalah petani yang menanam kentang.
1 –
26
2. Upah adalah konpensasi (jasa kerja) yang diperoleh oleh tenaga kerja langsung atau tenaga kerja harian yang dibayarkan pada setiap hari kerja.
3. Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang jumlahnya tetap/konstan biaya tetap meliputi pajak lahan dan penyusutan alat yang digunakan dalam produksi dan pengolahan.
4. Biaya variabel (variable cost) adalah biaya yang jumlahnya berubah- ubah sesuai dengan perubahan volume atau aktivitas produksi kentang. Biaya variabel meliputi benih kentang, pupuk (Urea, ZA, NPK, Organik, Pupuk Organik Cair), insektisida (racun hama), biaya pengolahan, biaya tanam, biaya pemeliharaan, biaya panen, dan biaya pengangkutan yang dinyatakan dalam (Rp/ha).
5. Total Biaya (total cost) adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk produksi dan merupakan penjumlahan antara biaya tetap dan biaya variabel.
6. Penerimaan usahatani adalah hasil perkalian anatara jumlah produksi dengan harga kentang.
7. Keuntungan usahatani merupakan jumlah seluruh penghasilan bersih petani dari hasil penerimaan dikurangi total biaya.
8. Titik pulang pokok (break even point) adalah alat analisis untuk melihat titik keseimbangan antara penerimaan dan total biaya usahatani kentang.
27
BAB IV
KEADAAN UMUM WILAYAH 4.1 Letak Topografi dan Administratif
Desa Bonto Lojong secara topografis berada di ketinggian antara 1.300-1.500 meter di atas permukaan laut (dpl), dengan kelembaban udara yaitu, pada siang hari 15-20º C dan malam hari 16-14º C. Jenis tanah yang ada di wilayah Desa Bonto Lojong yaitu Alluvial atau struktur tanah yang remah gumpal dengan tekstrur lempun, liat dan berpasir.
Sedangkan iklim dan curah hujan berada pada tipe iklim basah (tipe C) dengan kelas iklim yaitu, bulan basah berada pada Juli s/d November, sedangkan bulan kering berada Agustus s/d Oktober, dengan intensitas curah hujan tertinggi pada bulan April dan Mei.
Desa Bonto Lojong Kec Ulu Ere terletak di sebelah selatan ibu kota Kabupaten Bantaeng yang terletak kurang lebih 25 km dan 7 km dari ibukota Kecamatan. Berdasarkan letak wilayah administrasi, wilayah Desa Bonto Lojong Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng berbatasan dengan empat wilayah yaitu :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Sinjai
b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bulukumba, Desa Kayu Loe, Desa Pa’bumbungan
28
c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Bonto Tangnga, Desa Bonto Bulaeng
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Jeneponto, Bonto Marannu
Secara keseluruhan luas wilayah Desa Bonto Lojong Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng kurang lebih 20,11 km2. Dari luas tersebut.
Desa Bonto Lojong terbagi menjadi atas 7 dusun yaitu:
1. Dusun Bengkeng Bonto 2. Dusun Buakang Paliang 3. Dusun Lannying 1 4. Dusun Lannying 2 5. Dusun Muntea 6. Dusun Kayu Tanning 7. Dusun Bissawali
Wilayah Desa Bonto Lojong secara umum wilayahnya dikelilingi oleh pegunungan, dengan kondisi kemiringan tanah secara umum diperkirakan sekitar 0º sampai dengan 45º. Desa Bonto Lojong ini terkenal sebagai kawasan Agrowisata dengan pemandangan yang sangat indah.
4.2 Luas Wilayah dan Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan wilayah Desa Bonto Lojong Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng dengan luas adalah 3.682,14 Ha dengan perincian sebagai berikut.
29
Tabel 5. Jenis dan Luas Penggunaan lahan di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng, 2018.
No Jenis Penggunaan Lahan Luas Lahan (Ha)
Presentase (%)
1 Pekarangan 5.58 0.15
2 Tegalan 828.76 22.50
3 Perkebunan 6.00 0.16
4 Padang Pengembalaan 58.25 1.58
5 Lahan Kritis 0 0.00
6 Lahan untuk bangunan lain 11.15 0.30
7 Hutan Negara 2773 75.30
Jumlah 3.683 100
Sumber : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Bonto Lojong (RPJM) Data Sekunder, 2018
Berdasarkan Tabel 5 terlihat bahwa penggunaan lahan paling luas digunakan sebagai Hutan Negara seluas 2773 Ha atau 75.30% dari luas Desa Bonto Lojong, penggunaan tegalan hanya 22.50% atau 828.76 Ha dari luas lahan yang ada, disusul dengan padang pengembalaan seluas 58.25 Ha atau 1.58%, serta tidak terdapat lahan kritis di Desa Bonto Lojong.
30
4.3 Keadaan Penduduk
a. Jumlah penduduk menurut usia dan jenis kelamin
Salah satu dari potensi dasar pembangunan suatu wilayah adalah besarnya sumber daya manusia yang dimiliki. Adapun jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur di Desa Bonto Lojong Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Jumlah Penduduk Berdasarkan Klasifikasi Usia dan Jenis Kelamin di Desa Bonto Lojong Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng 2018.
No Umur (Tahun)
Laki-laki (Jiwa)
Perempuan (Jiwa)
Jumlah (Jiwa)
Persentase (%)
1 0-15 459 490 949 28.8
2 15-30 497 631 1128 34.3
3 31-45 319 385 704 21.4
4 46-61 115 243 358 10.9
5 >62 87 65 152 4.6
Jumlah 1477 1814 3291 100
Sumber: RPJM Desa Bonto Lojong Data Sekunder, 2018
Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang ada di Desa Bonto Lojong persentase yang tertinggi terdapat pada umur 15-30 tahun sebanyak 1128 jiwa atau 34.3%, diikuti umur 0-15 tahun
31
sebanyak 949 jiwa dengan persentase 28.8%, sedangkan persentase terendah adalah umur ≥62 tahun sebanyak 152 jiwa dengan persentase 4.6%. Golongan umur umumnya di gunakan untuk mengelompokkan tingkat produktifitas sekelompok masyarakat.
Berdasarkan undang-undang ketenagakerjaan diketahui bahwa pengelompokan tingkat produktifitas 0-14 tahun di kategorikan sebagai kelompok umur belum produktif, 15-60 tahun di kategorikan kelompok umur produktif dan di atas 61 tahun termasuk kategori kelompok umur kurang produktif.
b. Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan
Pendidikan adalah salah satu hal penting dalam memajukan tingkat kesejahteraan pada umumnya dan tingkat perekonomian pada khususnya. Pendidikan biasanya akan dapat mempertajam sistematika pikir atau pola pikir individu, selain itu akan mempermudah menerima informasi yang lebih maju. Di bawah ini menunjukkan tingkat rata-rata pendidikan penduduk di Desa Bonto Lojong.
32
Tabel 7. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Bonto Lojong Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng 2018.
No Klasifikasi Tingkat Pendidikan
Jumlah (Jiwa)
Persentase (%)
1 Tidak Sekolah 2041 62.0
2 Belum Sekolah 347 10.5
3 TK 52 1.6
4 SD 289 8.8
5 SMP 261 7.9
6 SMA 214 6.5
7 D3-S1 87 2.6
Jumlah 3291 100
Sumber : RPJM Desa Bonto Lojong Data Sekunder,2018
Berdasarkan tabel 7 di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan penduduk di Desa Bonto Lojong, penduduk tidak sekolah menempati posisi tertinggi dengan persentase 62.0% atau sebanyak 2041 jiwa, sedangkan penduduk dengan tingkat pendidikan TK menempati posisi terkahir dengan persentase 1,6% atau sebanyak 52 jiwa.
33
c. Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Secara umum mata pencaharian masyarakat Desa Bonto Lojong dapat Teridentifikasi ke dalam beberapa bidang mata Pencaharian seperti, Petani, Pedagang, Tukang, PNS dan Tukang batu, Ojek sebagaimana tabel 8 di bawah ini.
Tabel 8. Klasifikasi Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan di Desa Bonto Lojong Kecamatan Uluere Kabupaten Bantaeng 2018.
No Jenis Pekerjaan Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1 Petani dan Pekebun 1783 54.2
2 Pedagang 56 1.7
3 PNS 10 0.3
4 Honorer 40 1.2
5 Tidak Bekerja 1402 42.6
Jumlah 3291 100
Sumber : RPJM Desa Bonto Lojong Data Sekunder, 2018
Berdasarkan tabel 8 tersebut menunjukkan bahwa tenaga kerja mayoritas adalah petani dengan jumlah sebanyak 1783 jiwa atau 54.2%, disusul dengan penduduk tidak bekerja 1402 jiwa atau 42.6%, dan pedagang sebanyak 56 jiwa atau 1.7%, penduduk dengan Pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil sebanyak 10 jiwa atau 0.3%.
34
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini merupakan petani kentang dengan karakteristik seperti umur petani, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, lama berusahatani, dan luas garapan.
a. Umur
Umur sangat berpengaruh dalam berusahatani, umumnya petani muda lebih baik dan lebih cepat mengadopsi teknologi serta mempunyai kemampuan fisik yang lebih baik dibandingkan dengan petani yang berumur tua, namun petani yang berumur tua mempunyai pengalaman kerja yang lebih matang dalam mengelola usahataninya serta lebih hati-hati dalam penggunaan teknologi dan informasi walaupun kemampuan fisiknya sudah mulai menurun (Hartati, 2015).
Tingkat umur responden petani kentang di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng, dapat dilihat pada tabel berikut:
35
Tabel 9. Klasifikasi Umur Petani Responden di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng
No. Umur
(Tahun)
Jumlah (Orang)
Persentase (%)
1. 20-35 10 40
2. 36-51 12 48
3. 52-67 3 12
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer setelah diolah, 2019
Tabel 9 Menunjukan bahwa penyebaran umur responden pada usahatani kentang persentase tertinggi pada umur 36-51 tahun yakni sebanyak 12 orang dengan persentase 48% mengikuti umur 20-35 tahun sebanyak 10 orang dengan persentase 40% dan interval umur terkecil berada pada umur 52-67 tahun yakni sebanyak 3 orang dengan persentase 12 %. Dari tabel 10 bisa diketahui bahwa petani kentang di desa Bonto Lojong adalah Petani yang berada pada usia produktif, dari hasil penelitian tingkat pendapatan tertinggi terdapat pada usia 36-51 tahun dengan rata-rata pendapatan Rp 41.064.703,- b. Tingkat Pendidikan
Pendidikan tinggi akan Berhubungan terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan petani, dimana petani akan berusaha untuk memanfaatkan setiap kesempatan untuk dapat memajukan usahataninya, semakin tinggi tingkat pendidikan akan menyebabkan
36
petani lebih responsif terhadap adopsi teknologi (Mardikanto dalam Utama, dkk, 2007)
Tingkat pendidikan responden di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng pada tahun 2019 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 10. Tingkat Pendidikan Petani Responden di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng
No. Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa)
Persentase (%)
1. SD/Sederajat 7 28
2. SMP/Sederajat 10 40
3. SMA/Sederajat 5 20
4. S1 3 12
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer setelah diolah, 2019
Tabel 10 menunjukan bahwa tingkat pendidikan responden pada usahatani kentang memiliki persentase tertinggi pada tingkat pendidikan SMP/Sederajat yang berjumlah 10 orang dengan persentase sebesar 40%, diikuti dengan tingkat pendidikan SD/Sederajat sebanyak 7 orang atau persentase 28%, kemudian tingkat pendidikan SMA/Sederajat sebanyak 5 orang dengan jumlah persentase 20%, dan tingkat pendidikan terkecil adalah S1/Sederajat sebanyak 3 orang dengan persentase 12%. Dari hasil penelitiaan di
37
Desa Bonto Lojong tingkat pendidikan tidak berpengaruh nyata dengan pendapatan yang diperoleh oleh responden.
c. Jumlah Tanggungan Keluarga
Jumlah tanggungan keluarga petani responden merupakan beban bagi keluarga serta merupakan sumber tenaga kerja dalam kegiatan usahataninya terutama anggota keluarga yang produktif.
Jumlah tanggungan keluarga petani responden dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 11. Jumlah Tanggungan Keluarga Responden di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng
No. Jumlah Tanggungan (Jiwa)
Jumlah (Jiwa)
Persentase (%)
1. 1-3 5 20
2. 4-6 19 76
3. 7-9 1 4
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer setelah diolah, 2019
Tabel 11 menunjukan bahwa petani responden memiliki tanggungan keluarga sebanyak 4-6 orang sebanyak 19 orang dengan persentase 76%, petani responden yang memiliki tanggungan keluarga sebanyak 1-3 sebanyak 5 orang dengan persentase 20%, dan responden yang memiliki jumlah tanggungan 7-10 orang sebayak 1 orang dengan persentase 4%.
d. Pengalaman Berusahatani
38
Pengalaman petani merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam berusahatani, pengalaman ini bisa dilihat dari lamanya petani melakukan kegiatan usahatani serta banyak sedikitnya informasi yang diperoleh oleh petani dalam mengadopsi teknologi yang dianggap bermanfaat bagi petani itu sendiri (Mulyani dalam Utama, dkk, 2007).
Gambaran mengenai pengalaman petani responden dalam berusahatani kentang dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 12. Pengalaman Berusahatani Kentang di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng
No. Pengalaman Berusahatani
(Tahun)
Jumlah (Jiwa)
Persentase (%)
1. 1-10 5 20
2. 11-20 13 52
3. 21-30 4 16
4. 31-40 3 12
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer setelah diolah, 2019
Tabel 12 menunjukan bahwa petani responden yang mempunyai pengalaman 11-20 tahun hanya 13 orang dengan jumlah persentase 52%, pengalaman berusahatani 1-10 tahun berjumlah 5 orang atau 20%, responden yang mempunyai pengalaman usahatani 21-30
39
tahun sebanyak 4 orang atau 16%, dan responden yang mempunyai pengalaman 31-40 tahun sebanyak 3 orang atau 12%.
e. Luas Lahan
Lahan merupakan modal utama bagi seorang petani, jika tidak memiliki lahan maka petani akan sangat bergantung pada orang lain yang memiliki lahan. Luas lahan garapan akan mempengaruhi pada kegiatan produksi yang dihasilkan. Luas lahan yang dimiliki petani dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 13. Luas Lahan Petani Kentang di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng
No. Luas Lahan
(ha)
Jumlah (Jiwa)
Persentase (%)
1. 0,25-0,50 16 64
2. 0,51-0,75 4 16
3. 0,76-1 5 20
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer setelah diolah 2019
Tabel 13 menujukan sebagian responden memiliki jumlah lahan 0,25-0,50 ha dengan jumlah responden sebanyak 16 orang dengan persentase 64%, responden yang meiliki luas lahan 0,76-1 ha sebanyak 5 orang dengan persentase 20%, dan jumlah responden yang memiliki jumlah lahan 0.51-0,75 ha sebanyak 4 orang dengan jumlah persentase 16%.
40
f. Jumlah Produksi
Produksi merupakan jumlah fisik yang diperoleh petani sebagai panen yang dinyatakan dalam kilogram (kg) selama satu musim tanam. Jumlah produksi kentang yang diperoleh oleh petani responden di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng, dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 14. Jumlah Produksi Kentang di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng
No. Produksi Kentang/ ha (kg)
Jumlah (Orang)
Persentase (%)
1. 2400-4900 13 52
2. 5000-7500 7 28
3. 8000-10500 3 12
4. 11000-13500 2 8
Jumlah 25 100
Sumber: Data Primer setelah diolah, 2019
Tabel 14 menunjukan bahwa jumlah produksi yang dimiliki responden berbeda-beda, dimana produksi terbesar berada pada produksi 2400-4900 kg yaitu sebanyak 13 orang atau 52%, dan jumlah produksi terkecil berada pada produksi 11000-13500 kg yaitu sebanyak 2 orang atau 8%. Rata-rata jumlah produksi kentang dari 25 responden hanya 5464 kg.
41 5.2 Analisis Biaya dan Keuntungan Usahatani
Analisis biaya usahatani tergantung dari jenis sarana produksi yang digunakan selama periode tertentu. Biaya yang dikeluarkan petani dalam mengelola usahataninya adalah biaya variabel dan biaya tetap.
Tabel 15. Biaya dan Keuntungan Usahatani Kentang G2 di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng Selama Satu Musim Tanam
No. Uraian Nilai (Rp)
1. Penerimaan
a. Produksi (Q) 13.000
b. Harga Jual (P) 7.000,-
c. Penerimaan ( P x Q ) 91.000.0000,-
2. Biaya Total (TC) a. Biaya Tetap
Pajak Lahan 85.000,-
Penyusutan Alat 349.778,-
Total Biaya Tetap (FC) 434.778,-
b. Biaya Variabel (VC)
Benih / Ha 18.000.000,-
Pupuk Urea 300kg @2000 600.000,-
Pupuk Za 200kg @1500 300.000,-
Pupuk Phoska 250 @2700 675.000,-
Pupuk Kandang 5000 @300 1.500.000,-
Pupuk NPK 150 @2300 345.000,-
Pupuk Daun 445.000,-
3.665.000,-
Insektisida 595.000,-
Fungisida 1.906.000,-
Herbisida 300.000,-
2.801.000,-
Biaya Traktor / Ha 600.000,-
Biaya Pemeliharaan Benih 150.000,-
Biaya pengolahan Lahan 300.000,-
Biaya Pemupukan 400.000,-
Biaya Penanaman 400.000,-
Biaya Penyiangan 200.000,-
Biaya Pembumbunan 400.000,-
Biaya Pengendalian OPT 450.000,-
Biaya Panen 400.000,-
2.587.500,-
Total Biaya Variabel (VC) 27.966.000,-
3. Total Biaya (TC= FC + VC) Rp/Ha 28.400.778,-
4. Keuntungan (π = TR - TC) Rp/Ha 62.599.222,-
Sumber: Data Primer setelah diolah, 2019.
42
Tabel 15 menujukan bahwa jumlah total biaya usahatani kentang jenis bibit G2 yang harus dikeluarkan responden terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Rata-rata biaya tetap yang dikeluarkan adalah Rp434.778,- dan rata-rata biaya variabel yang dikeluarkan responden adalah sebesar Rp 27.966.000,-. Nilai produksi (penjualan) responden dalam satu kali musim tanam adalah Rp 91.000.000,- dikurangi dengan total biaya yang dikeluarkan yakni sebesar Rp 28.400.778,- maka keuntungan yang diterima adalah Rp 62.599.222,-. Besarnya keuntungan yang dikeluarakan petani sangat ditentukan oleh besarnya penerimaan yang diperoleh dari nilai produksi yang dikurangi dengan biaya yang harus dikeluarkan.
43
Tabel 16. Rata-rata Biaya, dan Keuntungan Usahatani Kentang G3 di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng Selama Satu Musim Tanam
No. Uraian Nilai (Rp)
1. Penerimaan a. Produksi (Q) 5805
b. Harga Jual (P) 7.000,-
c. Penerimaan( P x Q ) 40.658.333,-
2. Biaya Total (TC) a. Biaya Tetap
Pajak Lahan 61.166,-
Penyusutan Alat 267.370,-
Total Biaya Tetap 328.536,-
b. Biaya Variabel (VC)
Benih / Ha 9.750.000,-
Pupuk Urea 177kg @2000 354.166,-
Pupuk Za 160kg @1500 240.625,-
Pupuk Phoska 102kg @ 2700 275.625,-
Pupuk Kandang 3908kg @300 1.172.500,-
Pupuk NPK191kg @2300 440.285,-
Pupuk Daun 226.180,-
2.709.382,-
Insektisida 255.000,-
Fungisida 641.791,-
Herbisida 284.375,-
1.181.166,-
Biaya Traktor 475.000,-
Biaya Pemeliharaan Benih 108.333,-
Biaya pengolahan Lahan 287.500,-
Biaya Pemupukan 320.833,-
Biaya Penanaman 287.500,-
Biaya Penyiangan 220.833,-
Biaya Pembumbunan 262.500,-
Biaya Pengendalian OPT 312.500,-
Biaya Panen 350.000,-
2.625.000,-
Total Biaya Variabel 16.265.549,-
3. Total Biaya (TC= FC + VC) 16.594.086,-
4. Keuntungan (π = TR - TC) 24.064.247,-
Sumber: Data Primer setalah diolah tahun, 2019.
44
Tabel 16 menujukan bahwa jumlah rata-rata total biaya usahatani kentang jenis bibit G3 yang harus dikeluarkan responden terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Rata-rata biaya tetap yang dikeluarkan adalah Rp 328.536,- dan rata-rata biaya variabel yang dikeluarkan responden adalah sebesar Rp 16.265.549,-. Rata-rata penerimaan responden dalam satu kali musim tanam adalah Rp 40.685.333,- dikurangi dengan total biaya yang dikeluarkan yakni sebesar Rp 16.594,086,- maka keuntungan yang diterima adalah Rp 24.064.247,-.
45
Tabel 17. Rata-rata Biaya, dan Pendapatan Usahatani Kentang bibit G4 di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng Selama Satu Musim Tanam
No. Uraian Nilai (Rp)
1 Penerimaan a. Produksi (Q) 4700
b. Harga Jual (P) 7.000,-
c. Penerimaan ( P x Q ) 32.900.000,- 2. Biaya Total (TC)
a. Biaya Tetap
Pajak Lahan 37.042,-
Penyusutan Alat 298.807,-
Total Biaya Tetap 335.849,-
b. Biaya Variabel (VC)
Benih / Ha 5.941.667,-
Pupuk Urea 197kg @2000 395.833,-
Pupuk Za 183 kg @1500 275.000,-
Pupuk Phoska 97 kg @2700 262.500,-
Pupuk Kandang 3377 @300 1.013.333,-
Pupuk NPK 164 @2300 378.770,-
Pupuk Daun 287.778,-
2.613.214,-
Insektisida 170.000,-
Fungisida 410.416,-
Herbisida 320.536,-
900.952,-
Biaya Traktor 408.333,-
Biaya Pemeliharaan Benih 91.667,-
Biaya pengolahan Lahan 308.333,-
Biaya Pemupukan 325.000,-
Biaya Penanaman 287.500,-
Biaya Penyiangan 216.667,-
Biaya Pembumbunan 225.000,-
Biaya Pengendalian 312.500,-
Biaya Panen 337.500,-
2.512.500,-
Total Biaya Variabel 11.986.333,-
3. Total Biaya (TC= FC + VC) 12.304.182,-
4. Keuntungan (π = TR - TC) 20.595.818,-
Sumber: Data Primer setelah diolah, 2019
46 Tabel 17 menujukan bahwa jumlah rata-rata total biaya usahatani kentang jenis bibit G4 yang harus dikeluarkan responden terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
Rata-rata biaya tetap yang dikeluarkan adalah 335.849,- dan rata-rata biaya variabel yang dikeluarkan responden adalah sebesar 11.986.333,-. Nilai produksi (penjualan) rata-rata responden dalam satu kali musim tanam adalah Rp 32.900.000,- dikurangi dengan total biaya yang dikeluarkan yakni sebesar Rp 12.304.182,- maka keuntungan yang diterima adalah Rp 20.595.818,-.
5.3 Analisis Titik pulang Pokok
Analisis Pulang Pokok (Break Even Point) digunkan untuk mempelajari hubungan antara biaya, penerimaan, dan laba. Sifat analsisis pulang pokok digambarkan dalam suatu grafik yang terbentuk dari kurva Total Cost (TC) dan Penerimaan.
1. Analisis Titik Pulang Pokok Pendekatan Matematik dan Grafik 1) Titik Pulang Pokok Usahatani Kentang G2
a. BEPunit (kg) = Biaya Tetap
Harga perunit – Biaya Variabel per Unit
= 434.778 7.000 – 2.151
= 434.778
4.849 = 89.66 kg,-
Artinya jika nilai hitung titik pulang pokok produksi lebih kecil dari jumlah produksi, maka usaha berada pada posisi menguntungkan.
47 b. BEPrupiah(Rp) = Biaya Tetap
Biaya Variabel Penjualan
= 434.778 27.966.000 91.000.000
= 434.778
1 – 0.31
= 434.778 0.69
= Rp 630.113,-
Artinya jika nilai titik pulang pokok rupiah lebih kecil dari penjualan, maka usaha berada pada posisi menguntungkan.
c. TC = Biaya Tetap + (Biaya Variabel/unit x BEP/unit)
= 434.778 + (2.151 x 89.66)
= 434.778 + 192.858
= Rp 627.633,- 1 –
1 –
48
Gambar 1 Grafik Titik Pulang Pokok Usahatani Kentang G2 di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng
Y
Keterangan : = Rugi
= Untung 630.113
89.66
TR
TC
FC
X 91.000.000
13.000 434.778
BEP