ANALISIS VARIABEL YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN DIVIDEN
Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2014
CANZUL LATIFUSANI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS, UNIVERSITAS BRAWIJAYA Jl. MT. Haryono 165 Malang 65145
Dosen Pembimbing:
Dr. SITI AISJAH, SE., MS.
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS, UNIVERSITAS BRAWIJAYA Jl. MT. Haryono 165 Malang 65145
Abstrak: Kebijakan dividen merupakan panduan yang ditetapkan oleh perusahaan untuk menentukan jumlah uang yang akan dibayarkan sebagai dividen kepada investor. Besar kecilnya dividen yang dibayarkan oleh perusahaan kepada investor tergantung pada kebijakan dividen masing-masing perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis pengaruh variabel likuiditas, leverage, profitabilitas, dan aktivitas yang diukur dengan Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), dan Total Assets Turn Over (TATO) terhadap kebijakan dividen dengan proksi dividend per share.
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2010-2014 dengan total 33 perusahaan. Sampel penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik Purposive Sampling, yaitu pemilihan anggota sampel berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel profitabilitas memiliki pengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, sedangkan variabel likuiditas, leverage, dan aktivitas tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa perusahaan tidak menerapkan kebijakan dividen yang optimal, karena variabel likuiditas, leverage, dan aktivitas tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, dimana hal tersebut nantinya berakibat pada kepentingan manajemen dan kepentingan pemegang saham yang menjadi tidak seimbang.
Kata Kunci: Kebijakan Dividen, Likuiditas, Leverage, Profitabilitas, dan Aktivitas
Abstract: Dividend policy is an established guide for the firm to determine the amount of money it will pay out as dividends to investors. The size of the dividend to be distributed by the company to investors depends on the dividend policy of each company. The purpose of this study is to analyze the impact of the liquidity, leverage, profitability, and activity variables which measures by Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), and Total Assets Turn Over (TATO) towards the dividend policy which determined by dividend per share. The population in this study are the listed companies in manufacture industry on Indonesia Stock Exchange for period 2010 – 2014 by amounted 33 companies. The sample obtained by using purposive sampling, which is the sampling technique by particular criteria.
The study used the analysis method of multiple regression.
Finally, the result on this study shown that the profitability significantly affect toward dividend policy, whereas the liquidity, leverage, and activity variables unaffected significantly toward dividend policy. According to the result, this study conclude that the dividend policy is not
applicable optimal to company, because the liquidity variable, leverage, and activity have no significant effect towards dividend policy, since it makes unstable parameter between the concerns of management board and stockholders.
Keyword: Dividend Policy, Liquidity, Leverage, Profitability, and Activity PENDAHULUAN
Keuntungan yang diharapkan oleh investor atau pemegang saham terhadap investasi saham dapat diperoleh dari dividen dan capital gain atau keuntungan modal. Capital gain adalah keuntungan modal yang diperoleh dari kenaikan harga saham, yang terjadi saat harga saham pada saat penjualan lebih besar jika dibandingkan dengan harga saham pada saat pembelian. Sedangkan dividen pada prinsipnya adalah sebagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham.
Capital gain mempunyai risiko yang tinggi terhadap pemegang saham jika dibanding dividen, karena untuk memperoleh capital gain investor harus berani berspekulasi bahwa harga saham saat pembelian nantinya akan mengalami kenaikan dikemudian hari. Jika ternyata harga saham mengalami penurunan dikemudian hari atau harga saham saat penjualan lebih rendah dibanding harga saham pada saat pembelian, maka terjadi capital loss atau kerugian modal. Walaupun capital gain memiliki risiko yang besar, keuntungan yang diperoleh juga akan lebih besar dibanding dividen. Namun disisi lain investor yang menginginkan pendapatan secara berkala tentunya lebih memilih dividen, dari pada harus berspekulasi tentang harga saham.
Pembagian dividen dilakukan perusahaan melalui pembayaran secara tunai uang kas perusahaan kepada pemegang saham. Bisa juga membayar dividen dalam bentuk lembar saham baru, atau membayar dividen dalam bentuk aset tetap atau properti perusahaan (Kieso, et.
al., 2002:602). Pembagian dividen secara tunai adalah yang paling umum digunakan perusahaan dan diminati oleh pemegang saham. Bagi perusahaan yang tidak mempunyai ketersediaan kas untuk
membayar dividen karena tingkat likuiditas yang rendah, maka alternatif membayar dengan lembar saham baru atau membayar dengan aset tetap bisa dilakukan untuk memenuhi harapan pemegang saham akan keuntungan dari penyerahan modal ke perusahaan.
Setiap keputusan dalam pembagian dividen mempunyai dua dampak yang berlawanan. Seperti teori keagenan (agency theory) yang dijelaskan Jensen dan Meckling (1976) dalam Jensen dan Smith (1984:78) bahwa konflik bisa terjadi antara pihak manajemen dengan pihak pemegang saham. Jika keuntungan perusahaan dipakai untuk memenuhi keinginan investor terhadap dividen yang tinggi, maka keputusan cadangan akan terabaikan, sebaliknya bila laba akan ditahan semua maka kepentingan pemegang saham akan keuntungan dividen juga terabaikan.
Berkaitan dengan hal itu diperlukan kebijakan dividen untuk mengatur besar kecilnya dividen yang dibagikan. Manajer keuangan harus mengambil keputusan kebijakan dividen yang optimal untuk menjaga kedua kepentingan yang berlawanan tersebut.
Perusahaan dalam memperoleh kebijakan dividen yang optimal perlu mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen di dalam menentukan besar kecilnya pembagian dividen. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kebijakan dividen perusahaan di antaranya undang-undang, posisi likuiditas, kebutuhan pelunasan hutang, pembatasan dalam perjanjian hutang, tingkat ekspansi aktiva, tingkat laba, stabilitas laba, akses ke pasar modal, kendali perusahaan, dan posisi pemegang saham sebagai pemegang pajak (Weston dan Copeland, 1997:125).
Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen, diambil beberapa faktor untuk dijadikan variabel independen yang mempengaruhi variabel dependen yaitu kebijakan dividen. Dalam penelitian ini yang akan dianalisis adalah variabel likuiditas, leverage, profitabilitas, dan aktivitas. Penelitian tentang kebijakan dividen dengan alat ukur Dividend Per Share telah banyak dilakukan. Namun dari penelitian-penelitian terdahulu terdapat perbedaan hasil penelitian. Perbedaan kondisi objek penelitian dan periode penelitian memungkinkan penelitian- penelitian itu berbeda hasilnya. Alasan mengambil keempat variabel ini karena terdapat hasil yang berbeda-beda pada penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dibandingkan dengan variabel- variabel yang lain.
Variabel likuiditas, seperti yang diungkapkan oleh Gitman (2009:58);
Brigham dan Houston (2010:134); dan Bambang Riyanto (2011:25) likuiditas yaitu kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek perusahaan. Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangannya pada saat jatuh tempo berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid, sebaliknya jika perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban finansialnya pada saat jatuh tempo maka perusahaan itu dalam keadaan tidak likuid. Bagi perusahaan, likuid merupakan masalah yang sangat penting karena mewakili kepentingan perusahaan dalam berhubungan dengan pihak lain, baik pihak internal ataupun pihak eksternal.
Likuiditas perusahaan dapat diukur dengan current ratio (rasio lancar) yang didukung oleh penelitian Martati (2010), Imran (2011), Suprasanda (2011), V. Y.
Sitanggang dan Y. Agustina (2011), U.
Agustina (2014), dan Jabbouri (2016).
Kaitannya dengan kebijakan dividen adalah dengan kas yang tersedia perusahaan harus mampu memenuhi kewajiban internal dan eksternalnya, seperti gaji karyawan dan hutang jangka pendek, di sisi lain
perusahaan juga harus memenuhi keinginan pemegang saham akan penerimaan dividen.
Variabel leverage, seperti yang dijelaskan oleh Brigham dan Houston (2011:165); Smart dan Graham (2012:44);
dan Van Horne dan Wachowicz (2013:138) leverage keuangan (financial leverage) adalah rasio hutang yang menggambarkan sampai sejauh mana perusahaan dapat menutupi hutang-hutang kepada pihak luar dan hingga sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang. Suatu perusahaan akan memperoleh hutang baru untuk membiayai operasional perusahaan dan untuk perluasan usahanya. Sebelumnya harus sudah direncanakan terlebih dahulu kebutuhan dana untuk membayar kembali hutang tersebut. Hutang dapat dilunasi pada saat jatuh tempo dengan mengganti hutang tersebut dengan hutang baru. Alternatif lain adalah perusahaan harus menyediakan dana sendiri yang berasal dari keuntungan untuk melunasi hutang tersebut.
Salah satu rasio yang dapat menjamin keseluruhan hutangnya dengan bagian dari modal sendiri adalah Debt to Equity Ratio (DER) yang didukung oleh penelitian Martati (2010), Suprasanda (2011), U. Agustina (2014), dan Jabbouri (2016). DER menunjukkan bagian dari total modal atau ekuitas pemegang saham yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan hutangnya. Kaitannya dengan kebijakan dividen adalah ketika perusahaan berhutang kepada kreditur, secara otomatis perusahaan mempunyai kewajiban untuk melunasi hutang tersebut. Memiliki tingkat hutang yang tinggi bisa mengurangi jumlah dari pembagian dividen karena perusahaan akan lebih memprioritaskan kewajibannya terhadap kreditur demi kepentingan perusahaan ke depan.
Tingkat profitabilitas merupakan salah satu faktor yang juga mempengaruhi pembagian dividen perusahaan. Menurut Sugiyarso dan Winarni (2005:118); Gitman (2009:639); dan Agus Sartono (2010:122) profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba melalui total aktiva maupun modal sendiri.
Salah satu indikator keberhasilan kinerja perusahaan adalah laba bersih yang dihasilkan. Laba bersih yang tinggi menjadi salah satu tujuan utama perusahaan dalam menjalankan usahanya guna mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan. Perusahaan dapat menanamkan kembali dana hasil laba tersebut untuk mempertahankan atau meningkatkan pertumbuhan perusahaannya sehingga dapat bersaing dengan perusahaan lain. Setelah itu, sisa laba akan dibayarkan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen.
Salah satu rasio profitabilitas adalah Return On Equity (ROE) yang juga diambil oleh Imran (2011), U. Agustina (2014), dan Jabbouri (2016) sebagai alat ukur dari profitabilitas. Kaitannya dengan kebijakan dividen adalah ketika perusahaan mampu memperoleh laba yang tinggi atau memiliki tingkat pengembalian yang tinggi, maka kesempatan pemegang saham dalam memperoleh dividen semakin meningkat.
Variabel aktivitas, seperti yang dijelaskan oleh Keown et. al. (2011:80);
Bambang Riyanto (2011:331); dan Van Horne dan Wachowicz (2012:172) rasio aktivitas adalah rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sampai berapa besar efektivitas perusahaan dalam mengerjakan sumber-sumber dananya atau aktiva yang dimilikinya. Dari rasio aktivitas tersebut dapat diketahui seberapa bagus kinerja perusahaan. Besarnya angka penjualan tidak berarti apa-apa jika tidak dibarengi oleh penggunaan aktiva yang rendah. Setara atau hampir setaranya angka penjualan dan aktiva yang keluar, menandakan perusahaan tidak efisien dalam mengerjakan aset-aset yang dimiliki.
Efektivitas perusahaan dikatakan baik jika dengan penggunaan aset yang besar, maka bisa menghasilkan angka penjualan yang jauh lebih besar.
Salah satu yang digunakan dalam mengukur rasio aktivitas adalah Total Assets Turnover (TATO) yang juga digunakan dalam penelitian Martati (2010), Suprasanda (2011), dan V. Y. Sitanggang
dan Y. Agustina (2011). Kaitannya dengan kebijakan dividen adalah ketika perusahaan mengelola aset yang dimiliki dengan sangat efektif, maka perusahaan akan semakin terpacu untuk memutar kembali aktiva yang dimiliki untuk dijadikan modal kerja. Hal ini yang dikhawatirkan akan mengurangi pembagian dividen kepada pemegang saham.
Dari beberapa hasil penelitian terdahulu dapat dilihat terdapat beberapa variabel baik yang berpengaruh maupun tidak terhadap kebijakan dividen yang diukur oleh Dividend Per Share (DPS) masih menunjukkan hasil yang berbeda.
Jabbouri (2016) menyatakan dalam penelitiannya bahwa liquidity (likuiditas) berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, sedangkan Martati (2010), Imran (2011), Suprasanda (2011), V. Y.
Sitanggang dan Y. Agustina (2011), dan U.
Agustina (2014) menyatakan likuiditas yang diukur dengan current ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. U. Agustina (2014) dalam penelitiannya menyatakan bahwa tingkat hutang (leverage) yang diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER) memiliki pengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, sedangkan Martati (2010) dan Suprasanda (2011) menyatakan tidak ada pengaruh signifikan di antara Debt to Equity Ratio (DER) dengan kebijakan dividen. Imran (2011) dan Jabbouri (2016) dalam penelitiannya menyatakan bahwa variabel profitability (profitabilitas) berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, sedangkan U. Agustina (2014) menyatakan profitabilitas yang diukur dengan Return On Equity (ROE) tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen.
Suprasanda (2011) dalam penelitiannya menyatakan Total Assets Turn Over (TATO) memiliki pengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen, sedangkan Martati (2010) dan V. Y. Sitanggang dan Y.
Agustina (2011) menyatakan tidak ada pengaruh signifikan TATO terhadap kebijakan dividen. Hal inilah yang akan diangkat menjadi research gap dalam
penelitian terdahulu. Penelitian ini menguji dan menganalisis pengaruh kebijakan dividen, di antaranya likuiditas yang diukur dengan Current Ratio (CR), leverage yang diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER), profitabilitas yang diukur dengan Return On Equity (ROE), dan aktivitas yang diukur dengan Total Assets Turn Over (TATO).
Variabel-variabel ini diharapkan dapat menjawab perbedaan hasil penelitian dari beberapa penelitian sebelumnya. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan kebijakan dividen.
KAJIAN PUSTAKA
Penelitian yang dilakukan Martati (2010) tentang faktor penentu dividend per share perusahaan manufaktur yang terdaftar pada BEI. Sampel yang digunakan sebanyak 39 perusahaan manufaktur, dengan periode pengamatan dari tahun 2000 hingga 2003. Variabel yang digunakan dalam penelitian adalah:
dividends per share (DPS) sebagai variabel dependen, current rasio (CR), debt to equity rasio (DER), earning per share (EPS), dividend per share tahun sebelumnya (DPSt-1), dan total asset turn over (TATO) sebagai variabel independen.
Ada dua variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap DPS yaitu EPS dan DPSt-1, sedangkan 4 variabel lainnya, yaitu CR, DER, dan TATO tidak berpengaruh signifikan.
Penelitian yang dilakukan Imran (2011) tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen pada perusahaan sektor mesin di Pakistan periode 1996-2008. Sampel yang digunakan sebanyak 36 perusahaan manufaktur, dengan periode pengamatan selama 13 periode dari tahun 1996 hingga 2008. Variabel yang digunakan dalam penelitian adalah: last year’s dividend (DPSt-1), earning per share (EPS), profitability, sales growth, liquidity, dan firm size. Lima variabel berpengaruh secara signifikan terhadap DPS yaitu DPSt-1, EPS, profitability, sales growth, dan firm
size, sedangkan liquidity tidak berpengaruh signifikan.
Penelitian yang dilakukan Suprasanda (2011) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan pembayaran dividen pada perusahaan manufaktur di BEI. Sampel yang digunakan sebanyak 34 perusahaan manufaktur, dengan periode pengamatan dari tahun 2006 hingga 2009.
Variabel yang digunakan dalam penelitian adalah: DPS sebagai variabel dependen, CR, DER, EPS, DPSt-1, dan TATO sebagai variabel independen. Ada dua variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap DPS yaitu EPS dan TATO, sedangkan 3 variabel lainnya, yaitu CR, DER, dan DPSt- 1 tidak berpengaruh signifikan.
Penelitian yang dilakukan V. Y.
Sitanggang dan Y. Agustina (2011) tentang faktor - faktor yang mempengaruhi pembayaran dividen pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI. Sampel yang digunakan sebanyak 9 perusahaan manufaktur, dengan periode pengamatan dari tahun 2005 hingga 2008. Variabel yang digunakan dalam penelitian adalah: DPS sebagai variabel dependen CR, EPS, DPSt- 1, TATO, dan ukuran perusahaan (Size) sebagai variabel independen. Ada dua variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap DPS yaitu EPS dan DPSt-1, sedangkan 4 variabel lainnya, yaitu CR, TATO, dan Ukuran Perusahaan (Size) tidak berpengaruh signifikan.
Penelitian yang dilakukan U.
Agustina (2014) tentang pengaruh CR, DER, rentabilitas ekonomi, dan ROE terhadap DPS pada perusahaan manufaktur yang terdapat di BEI periode 2010 – 2012.
Sampel yang menggunakan periode pengamatan dari tahun 2005 hingga 2008.
Variabel yang digunakan dalam penelitian adalah: DPS sebagai variabel dependen dan CR, DER, rentabilitas ekonomi, dan ROE sebagai variabel independen. Ada dua variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap DPS yaitu DER dan rentabilitas ekonomi, sedangkan 2 variabel lainnya, yaitu CR dan ROE tidak berpengaruh secara signifikan.
Penelitian yang dilakukan Jabbouri (2016) tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen pada perusahaan sektor mesin di Pakistan periode 1996-2008. Sampel yang digunakan sebanyak 36 perusahaan manufaktur, dengan periode pengamatan selama 13 periode dari tahun 1996 hingga 2008. Variabel yang digunakan dalam penelitian adalah: DPS sebagai variabel dependen, firm size, leverage, growth, current profit, future profit, past dividends, liquidity, free cash flow, dan market return sebagai variabel independen. Ada tujuh variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap dividends per share yaitu firm size, leverage, growth, current profit, liquidity, free cash flow, dan market return, sedangkan future profit dan past dividends tidak berpengaruh signifikan.
Pengertian Dividen
Sedangkan menurut R. Ang (1997:68) dividen merupakan pendapatan bersih setelah pajak dikurangi dengan laba ditahan (retained earnings) yang ditahan sebagai cadangan perusahaan, maka dapat disimpulkan bahwa dividen adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan dan dibagikan kepada para pemegang saham perusahaan.
Pengertian dividen menurut Gitman (2009:590) adalah
“Periodic distributions of earnings to the stockholders of a firm.”
Artinya “Distribusi berkala laba kepada para pemegang saham dari suatu perusahaan”.
Bentuk - Bentuk Dividen
Dividen yang dibagikan kepada pemegang saham terdiri atas beberapa bentuk. Bentuk- bentuk dividen menurut Brealey, Myers, dan Marcus (2007:432-433) adalah sebagai berikut:
1. Cash Dividend, payment of cash by the firm to its shareholders.
(Pembayaran oleh perusahaan dalam bentuk tunai kepada para pemegang saham).
2. Stock Dividend, distribution of additional share to firm’s stockholders.
(Penyaluran atau penambahan saham- saham perusahaan kepada para pemilik saham).
3. Stock Split, issue of additional shares to firm’s stockholders.
(Isu penambahan kepemilikan saham berupa pemecahan saham).
4. Stock Repurchase, firm’s buy’s back from its shareholders.
(Perusahaan membeli kembali saham dari para pemegang saham).
Pengertian Kebijakan Dividen
Menurut Atmaja (2006:285), Kebijakan Dividen berkaitan dengan keputusan apakah perusahaan akan membagi dividen kepada para pemegang saham atau menahan laba untuk diinvestasikan kembali pada proyek-proyek yang menguntungkan guna meningkatkan pertumbuhan perusahaan.
Menurut Gitman (2009:607) Kebijakan Dividen perusahaan adalah
“The firm’s plan of action to be followed whenever it makes a dividend decision”.
Artinya “Tindakan dari rencana perusahaan yang harus dikuti setiap kali membuat keputusan dividen.”
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kebijakan Dividen ialah kebijakan yang mengatur berapa bagian dari laba bersih yang akan dibagikan sebagai dividen kepada para pemegang saham dan berapa besar bagian laba bersih yang akan digunakan untuk membiayai investasi perusahaan.
Bentuk-bentuk Kebijakan Dividen Beberapa kebijakan dividen menurut Gitman (2009:611-613) di antaranya:
1. Constant-Payout-Ratio Dividend Policy (Kebijakan Dividen rasio- pembayaran-konstan)
“A dividend policy based on the payment of certain percentage of
earnings to owners in each dividend period” artinya Kebijakan Dividen yang didasarkan pembayaran dividen dalam persentase tertentu dari pendapatan yang dibayarkan kepada pemilik setiap periode pembagian dividen.
2. Regular Dividend Policy (Kebijakan Dividen yang Teratur)
“A dividend policy based on the payment of a fixed dollar dividend in each period” artinya Kebijakan Dividen didasarkan atas pembayaran dividen dengan dollar yang tetap dalam setiap periode.
3. Low-Regular-and-Extra Dividend Policy (Kebijakan Dividen rendah yang teratur dan ditambah extra)
“A dividend policy based on paying a low regular dividend, supplemented by an additional dividend when earnings are higher than normal in a given period” artinya Kebijakan Dividen yang didasarkan pembayaran dividen yang rendah yang teratur, dilengkapi dengan penambahan dividen jika ada jaminan pendapatan.
Informational Content Hypothesis Theory Teori ini berpendapat berdasarkan kenyataan bahwa manajemen cenderung memiliki informasi yang lebih baik tentang prospek perusahaan dibandingkan dengan investor. Sebagai akibatnya, investor menilai bahwa capital gain lebih berisiko dibandingkan dengan dividen dalam bentuk kas. Modigliani-Miller dalam (Brigham dan Houston, 2011:214) berpendapat bahwa kenaikan dividen oleh investor dilihat sebagai tanda atau sinyal bahwa prospek perusahaan di masa mendatang yang lebih baik. Sebaliknya penurunan dividen akan dilihat sebagai tanda bahwa prospek perusahaan menurun.
Teori Hipotesis Pecking Order
Perusahaan yang profitable memiliki dorongan untuk membayar dividen relatif rendah dalam rangka memiliki dana internal lebih banyak untuk
membiayai proyek-proyek investasinya.
Bahkan bagi perusahaan bertumbuh, peningkatan dividen dapat menjadi berita buruk (bad news) karena diduga perusahaan telah mengurangi rencana investasinya (Myers dan Majluf, 1983).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen
Menurut Weston dan Copeland (1997:125) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi Kebijakan Dividen antara lain:
a. Undang - Undang
Undang - Undang menentukan bahwa dividen harus dibayar dari laba, baik laba tahun berjalan maupun laba tahun lalu yang ada dalam pos “laba ditahan”
dalam neraca. Undang – Undang ini penting karena merupakan kerangka untuk merumuskan kebijakan dividen.
b. Posisi likuiditas
Laba ditahan biasanya diinvestasikan dalam bentuk aktiva yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha. Laba ditahan tahun-tahun lalu sudah diinvestasikan dalam bentuk pabrik dan peralatan, persediaan, dan aktiva lainnya; laba tersebut tidak disimpan dalam bentuk kas. Jadi meskipun suatu perusahaan mempunyai catatan mengenai laba, perusahaan mungkin tidak dapat membayar tunai dividen karena posisi likuiditasnya.
c. Kebutuhan pelunasan hutang
Apabila perusahaan mengambil keputusan hutang untuk membiayai ekspansi atau untuk mengganti jenis pembiayaan lain, perusahaan menghadapi dua pilihan. Perusahaan dapat membayar hutang itu pada saat jatuh tempo dan menggantikannya dengan jenis surat berharga lain, atau perusahaan dapat memutuskan untuk melunaskan hutang tersebut. Jika keputusannya adalah membayar hutang tersebut, maka biasanya perlu penambahan laba.
d. Pembatasan dalam perjanjian hutang
Perjanjian hutang, khususnya apabila merupakan hutang jangka panjang sering kali membatasi kemampuan perusahaan untuk membayar dividen tunai. Larangan yang dibuat untuk melindungi kedudukan pemberi pinjaman, biasanya menyatakan bahwa (1) dividen pada masa akan datang hanya dapat dibayar dari laba yang diperoleh sesudah penandatanganan perjanjian hutang (jadi, dividen tidak dapat dibayar dari laba ditahan tahun- tahun lalu) dan (2) dividen tidak dapat dibayarkan apabila modal kerja bersih (aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar) berada di bawah suatu jumlah yang telah ditentukan. Demikian pula, perjanjian saham preferen biasanya mengatakan bahwa dividen tunai saham biasa tidak dapat dibayarkan kecuali semua dividen saham preferen sudah dibayar.
e. Tingkat ekspansi aktiva
Semakin cepat sebuah perusahaan berkembang, semakin besar kebutuhannya untuk membiayai ekspansi aktivanya. Kalau kebutuhan dana di masa depan semakin besar, perusahaan akan cenderung untuk menahan laba dari pada membayarkannya.
f. Tingkat laba
Tingkat laba pengembalian yang diharapkan akan menentukan pilihan relatif untuk membayar laba tersebut dalam bentuk dividen kepada pemegang saham (yang akan menggunakan dana itu di tempat lain) atau menggunakannya di perusahaan tersebut.
g. Stabilitas laba
Suatu perusahaan yang mempunyai laba stabil sering kali dapat memperkirakan berapa besar laba di masa akan datang. Perusahaan seperti ini biasanya cenderung membayarkan laba dengan persentase yang lebih tinggi dari pada perusahaan yang labanya berfluktuasi. Perusahaan yang tidak stabil, tidak yakin apakah laba
yang diharapkan pada tahun-tahun yang akan datang akan tercapai, sehingga perusahaan cenderung untuk menahan sebagian besar laba saat ini.
h. Akses ke pasar modal
Suatu perusahaan yang besar dan telah berjalan baik dan mempunyai catatan profitabilitas dan stabilitas, akan mempunyai akses yang mudah ke pasar modal dan mempunyai bentuk lain dari pendanaan. Jadi perusahaan yang sudah mapan cenderung untuk memberi tingkat pembayaran dividen yang lebih tinggi dari pada perusahaan kecil dan baru.
i. Kendali perusahaan
Variabel penting lainnya adalah pengaruh sumber pembiayaan alternatif terhadap situasi kendali perusahaan. Sebagai suatu kebijakan, beberapa perusahaan melakukan ekspansi hanya sampai pada tingkat penggunaan laba internal saja.
Kebijakan ini didukung oleh pendapat bahwa menghimpun dana melalui penjualan tambahan saham biasa akan mengurangi kekuasaan kelompok dominan pada perusahaan itu. Pada saat yang sama, mengambil hutang akan memperbesar risiko naik turunnya laba yang dihadapi perusahaan saat ini. Pentingnya pembiayaan internal dalam usaha untuk mempertahankan kendali perusahaan, akan memperkecil pembayaran dividen.
j. Posisi pemegang saham sebagai pembayar pajak
Posisi pemilik perusahaan sebagai pembayar pajak sangat mempengaruhi keinginannya untuk memperoleh dividen. Misalnya, suatu perusahaan yang dipegang hanya oleh beberapa pembayar pajak dalam golongan berpendapatan tinggi, cenderung untuk membayar dividen yang rendah.
Pemilik memilih untuk menempatkan pendapatan mereka dalam bentuk peningkatan modal dari pada dividen, karena akan terkena pajak penghasilan
pribadi yang lebih tinggi. Akan tetapi, pemegang saham suatu perusahaan yang dimiliki oleh orang banyak akan memilih pembayaran dividen yang tinggi.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
H1 : variabel likuiditas (CR) berpengaruh secara signifikan terhadap kebijakan dividen (DPS).
H2 : variabel leverage (DER) berpengaruh secara signifikan terhadap kebijakan dividen (DPS).
H3 : variabel profitabilitas (ROE) berpengaruh secara signifikan terhadap kebijakan dividen (DPS).
H4 : variabel aktivitas (TATO) berpengaruh secara signifikan terhadap kebijakan dividen (DPS).
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah explanatory research, yaitu penelitian yang bertujuan untuk memberikan penjelasan kausal atau hubungan antar variabel melalui pengujian hipotesis. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder digunakan dalam penelitian ini, dikarenakan objek penelitian ini adalah perusahaan yang harus melaporkan kondisi perusahaannya kepada pihak di luar perusahaan. Sumber data dalam penelitian ini adalah laporan tahunan dari perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan periode 2010 sampai 2014.
Populasi adalah suatu kelompok dari elemen penelitian, dimana elemen adalah unit terkecil yang merupakan sumber dari data yang diperlukan (Mudrajad, 2009:123). Populasi dalam penelitian adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2010-2014 yang membagikan dividen. Sampel ditentukan dengan metode purposive sampling yaitu penentuan sampel berdasarkan kriteria-kriteria tertentu agar mendapatkan sampel yang representatif.
Uji Asumsi Klasik
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui tingkat distribusi normal variabel – variabel yang digunakan dalam model regresi. Pengujian normalitas ini menggunakan kolmogorov-smirnov test, dan Probability-Plot (P-plot) test . Dalam kolmogorov-smirnov test variabel-variabel yang mempunyai tingkat signifikansi dibawah 0,05 dalam asymp. Sig (2-tailed), maka artinya variabel yang diuji tidak terdistribusi secara normal. Uji multikolinieritas dilakukan untuk menguji korelasi antar variabel-variabel independen dalam suatu model regresi.
Multikolinieritas mengacu pada situasi dengan dua variabel atau lebih sangat berhubungan linier. Uji multikolinieritas dapat diketahui dengan menganalisis nilai dari VIF (Variance Inflation Factor). Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui tingkat varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.
Model regresi yang baik adalah non heteroskedastisitas. Uji autokorelasi dilakukan untuk bertujuan menguji korelasi anatra kesalahan pengganggu pada periode sekarang (t) dengan kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya (t – 1). Model yang baik dalam suatu regresi yaitu tidak terjadi autokorelasi atau non autokorelasi.
Pengujian autokorelasi dilakukan dengan cara uji Durbin-Watson.
Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi berganda digunakan untuk menguji pengaruh variabel-variabel independen yaitu variabel likuiditas yang diukur dengan CR, leverage yang diukur dengan DER, profitabilitas yang diukur dengan ROE, dan aktivitas yang diukur dengan TATO memiliki pengaruh terhadap variabel dependen kebijakan dividen dengan proksi DPS secara parsial. Model regresi berganda yang digunakan untuk menguji hipotesis sesuai dengan model persamaan regresi berganda Gujarati dan Porter (2012:245) sebagai berikut:
Yi = ai + β1X1i + β2X2i + β3X3i + β4X4i + ei
Keterangan:
Yi = DPS
ai = Konstanta
β1, β2, β3, β4 = Koefisien Regresi Parsial X1i = CR Perusahaan Sampel
ke - i
X2i = DER Perusahaan Sampel ke - i
X3i = ROE Perusahaan Sampel ke - i
X4i = TATO Perusahaan Sampel ke - i
ei = Faktor gangguan stokastik i = Periode tahun
Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) diuji untuk menyatakan seberapa besar keterandalan model regresi yang dipergunakan dalam penelitian ini.
Diharapkan dari pengujian koefisien determinasi ini mampu menjelaskan seberapa besar proporsi perubahan variabel independent mampu menjelaskan perubahan variabel dependent persamaan model regresi yang ada.
Uji t
Pengujian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel independent yaitu variabel likuiditas yang diukur dengan CR, leverage yang diukur dengan DER, profitabilitas yang diukur dengan ROE, dan aktivitas yang diukur dengan TATO secara individu atau parsial terhadap variabel dependent kebijakan dividen dengan proksi DPS.
HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Regresi Linier Berganda
Tabel Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
Model
Unstandardized Coefficients B Std. Error 1 (Constant) 8,301 1,115
Ln_CR ,198 1,010 Ln_DER -,321 ,805 Ln_ROE 2,100 ,601 Ln_TATO -,952 ,981
Berdasarkan tabel di atas, maka persamaan regresi linier berganda dengan 4 variabel independen sebagai berikut:
Ln_DPS =
8,301 + 0,198Ln_CR – 0,321Ln_DER + 2,100Ln_ROE – 0,952Ln_TATO
Keterangan:
Ln_DPS = Dividend Per Share Ln_CR = Current Ratio Ln_DER = Debt to Equity Rasio Ln_ROE = Return On Equity Ln_TATO = Total Assets Turn Over
Koefisien Determinasi (R2)
Tabel Hasil Koefisien Determinasi (R2) Model R Square
1 ,350
Terlihat dalam tabel di atas diketahui nilai R² (R Square) adalah 0,350, atau 35%. Hal ini menunjukkan bahwa variabel dependen yaitu Dividend Per Share (DPS) dapat dijelaskan oleh variabel independen sebesar 35%, di mana angka maksimal adalah 100%. Sedangkan selebihnya yaitu sebesar 65% dapat dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel independen lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.
Uji Hipotesis
Hasil Uji t (Parsial)
Model T Sig. Information 1 (Constant) 7,446 ,000
Ln_CR ,196 ,846 Non Significant Ln_DER -,398 ,693 Non Significant Ln_ROE 3,492 ,002 Significant Ln_TATO -,970 ,340 Non Significant
Berdasarkan tabel di atas maka dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pengaruh variabel CR (Current Ratio) terhadap DPS (Dividend Per Share) menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,846 dengan nilai t hitung sebesar 0,196. Di mana nilai signifikansi 0,846 lebih besar dari α=0,05 dan nilai t hitung tersebut lebih kecil dari t tabel (0,196 < 1.692) maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan variabel CR (Current Ratio) terhadap variabel DPS (Dividend Per Share).
2. Pengaruh variabel DER (Debt to Equity Ratio) terhadap DPS (Dividend Per Share) menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,693 dengan nilai t hitung sebesar -0,398. Di mana nilai signifikansi 0,693 lebih besar dari α=0,05 dan nilai t hitung tersebut lebih kecil dari t tabel (-0,398 < 1.692) maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan variabel DER (Debt to Equity Ratio) terhadap variabel DPS (Dividend Per Share).
3. Pengaruh variabel ROE (Return On Equity) terhadap DPS (Dividend Per Share) menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,002 dengan nilai t hitung sebesar 3,492. Di mana nilai signifikansi 0,002 lebih kecil dari α=0,05 dan nilai t hitung tersebut lebih besar dari t tabel (3,492 > 1.692) maka dapat disimpulkan bahwa variabel ROE (Return On Equity) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel DPS (Dividend Per Share).
4. Pengaruh variabel TATO (Total Assets Turn Over) terhadap DPS (Dividend Per Share) menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,340 dengan nilai t hitung sebesar -0,970. Di mana nilai signifikansi 0,340 lebih besar dari α=0,05 dan nilai t hitung tersebut lebih kecil dari t tabel (-0,970 < 1.692) maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan variabel TATO (Total Assets Turn Over) terhadap variabel DPS (Dividend Per Share).
Pembahasan
Pengaruh Likuiditas terhadap Kebijakan Dividen
Tingkat likuiditas perusahaan menunjukkan seberapa besar kemampuan aset lancar perusahaan dalam menanggung kewajiban lancarnya. Karena dividen merupakan cash outflow, maka dividen tergantung pada kemampuan membayar dari perusahaan tersebut. Brigham dan Houston (2011:232) menyatakan bahwa dividen tunai hanya dapat dibayarkan dengan kas, jika terjadi kekurangan kas maka dapat membatasi pembayaran dividen.
Alat ukur yang dipergunakan di dalam mengukur tingkat likuiditas perusahaan manufaktur pada penelitian ini yaitu current ratio sesuai penelitian Martati (2010), Imran (2011), Suprasanda (2011), V. Y. Sitanggang dan Y. Agustina (2011), U. Agustina (2014), dan Jabbouri (2016).
Hasil penelitian tidak menemukan adanya pengaruh signifikan variabel likuiditas yang diukur dengan current ratio terhadap kebijakan dividen dengan proksi dividend per share. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan atau penurunan likuiditas tidak bisa langsung dinilai sebagai hal yang positif atau negatif untuk mempengaruhi kebijakan dividen.
Hal ini terjadi karena kemungkinan perusahaan mengalokasikan aktiva lancarnya ke hal yang lebih penting untuk kelangsungan hidup perusahaan seperti untuk membiayai kegiatan operasional atau
untuk keperluan investasi jangka pendek, atau bisa saja aktiva lancar yang dimiliki perusahaan bukan merupakan dana likuid yang siap dipakai. Komposisi aktiva lancar perusahaan biasanya terdiri dari kas, surat berharga, piutang, persediaan, dan biaya dibayar di muka. Tingginya current ratio tidak mesti diikuti oleh kemampuan perusahaan di dalam pembayaran dividen tunai kepada para pemegang sahamnya.
Pembagian dividen yang dilakukan oleh perusahaan ketika tidak tersedianya kas biasanya berupa dividen saham (stock repurchase), dividen pemecahan saham (stock split), atau dengan pembelian kembali saham yang dimiliki para pemegang saham (stock repurchase).
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Martati (2010), Imran (2011), Suprasanda (2011), V. Y. Sitanggang dan Y. Agustina (2011), dan U. Agustina (2014) yang menyatakan bahwa tingkat likuiditas yang diukur dengan current ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen dengan proksi dividend per share. Tetapi tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Jabbouri (2016) yang menyatakan bahwa tingkat likuiditas yang diukur dengan current ratio berpengaruh secara signifikan terhadap kebijakan dividen dengan proksi dividend per share.
Pengaruh Leverage terhadap Kebijakan Dividen
Leverage financial merupakan suatu analisis laporan keuangan yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar penggunaan hutang untuk mendanai kegiatan perusahaan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen adalah pengawasan terhadap perusahaan di mana kadang-kadang pemilik tidak mau kehilangan kendali terhadap perusahaan.
Apabila perusahaan mencari sumber dana dari modal sendiri, kemungkinan akan masuk investor baru dan ini tentunya akan mengurangi kekuasaan pemilik lama dalam mengendalikan perusahaan. Jika dibelanjai dari hutang, risikonya cukup besar. Oleh
karena itu perusahaan cenderung tidak membagikan dividennya agar pengendalian tetap berada ditangannya. Weston dan Copeland (1997:128) menyatakan bahwa perusahaan yang sedang berkembang walaupun dengan keuntungan yang sangat besar, biasanya mempunyai kebutuhan dana yang sangat mendesak, sehingga perusahaan dapat memutuskan untuk membayar dividen atau menahan laba (retained earnings) yang diinvestasikan dalam bentuk aktiva yang dibutuhkan untuk menjalankan usahanya.
Rasio DER atau Debt to Equity Ratio digunakan dalam mengukur tingkat leverage perusahaan sampel sesuai dengan penelitian Martati (2010), Suprasanda (2011), U. Agustina (2014), dan Jabbouri (2016).
Hasil penelitian tidak menemukan adanya pengaruh signifikan antara variabel leverage yang diukur dengan debt to equity ratio terhadap kebijakan dividen dengan proksi dividend per share. Hasil tersebut menunjukkan perubahan proporsi hutang perusahaan memiliki pengaruh yang kecil terhadap kebijakan dividen. Berapa pun beban bunga yang ditanggung perusahaan secara signifikan tidak mempengaruhi kebijakan dividen perusahaan.
Dilihat dari perkembangan periode pengamatan, perusahaan manufaktur rata- rata memiliki nilai debt to equity ratio yang rendah, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan manufaktur lebih menyukai pembiayaan dengan dana internal daripada menggunakan dana dari pihak eksternal.
Hal tersebut sejalan dengan pecking order theory yang menyatakan bahwa perusahaan menyukai pendanaan internal daripada pendanaan dari luar. Hal ini tidak terlepas dari usaha untuk meningkatkan kredibilitas perusahaan di mata pihak eksternal karena hutang memberikan risiko yang tinggi, artinya perusahaan harus mampu mengambil keputusan di tengah tawaran akan manfaat dari leverage atau menjaga kesejahteraan pemegang saham, dengan menjauhkannya dari risiko tersebut. Hal ini yang memungkinkan tingkat leverage tidak
signifikan mempengaruhi kebijakan dividen, karena tingkat leverage yang rendah tidak mempengaruhi besaran dividen yang dibagikan.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Martati (2010) dan Suprasanda (2011) yang menyatakan bahwa leverage yang diukur dengan debt to equity ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen dengan proksi dividend per share.
Tetapi tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh U. Agustina (2014), dan Jabbouri (2016) yang menyatakan bahwa leverage yang diukur dengan debt to equity ratio berpengaruh secara signifikan terhadap kebijakan dividen dengan proksi dividend per share.
Pengaruh Profitabilitas terhadap Kebijakan Dividen
Rasio profitabilitas merupakan suatu perhitungan yang menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dengan berbagai macam sumber, seperti total aset, penjualan, dan total ekuitas. Tingkat profitabilitas yang tinggi mencerminkan kesuksesan perusahaan dalam menjalankan operasionalnya, karena perusahaan dinilai berhasil jika mempunyai keuntungan yang besar. Dengan kesuksesan perusahaan dalam menjalankan operasionalnya, maka diharapkan pembagian dividen akan semakin meningkat, karena salah satu tujuan perusahaan adalah memakmurkan pemegang saham. Avivazian et. al. (2003) dalam Imran (2011) mengemukakan bahwa tingkat profitabilitas mempengaruhi tingkat pembagian dividen, semakin tinggi profitabilitas maka semakin tinggi tingkat pembagian dividen.
Return On Equity (ROE) digunakan untuk mewakili pengaruh faktor profitabilitas terhadap kebijakan dividen sesuai dengan penelitian Imran (2011), U.
Agustina (2014), dan Jabbouri (2016).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel profitabilitas perusahaan manufaktur yang diukur menggunakan
rasio ROE mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel kebijakan dividen dengan proksi dividend per share. Hasil tersebut menunjukkan bahwa di dalam menentukan besaran dividen yang dikeluarkan kepada pemegang saham, manajemen perusahaan mengacu pada tingkat profitabilitas perusahaan. Semakin tinggi tingkat profitabilitas maka semakin besar dividen yang dibagikan kepada pemegang saham, begitu juga sebaliknya semakin rendah tingkat profitabilitas maka semakin kecil dividen yang dibagikan kepada pemegang saham.
Hasil signifikan dalam penelitian ini sesuai dengan Information Content, or Signaling Hypothesis Theory yang dikemukakan oleh Miller dan Modigliani dalam Brigham dan Houston (2011:214) yang menyatakan bahwa kenaikan dividen merupakan suatu sinyal kepada para investor bahwa manajemen meramalkan suatu penghasilan yang baik di masa yang akan datang. Berdasarkan teori tersebut, dapat ditunjukkan bahwa penghasilan yang tinggi melalui ekuitas yang dimiliki yang tercermin dari nilai return on equity menunjukkan pengaruh signifikan terhadap
kebijakan dividen. Dalam
perkembangannya rata-rata return on equity pada perusahaan manufaktur menunjukkan hasil yang baik. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba yang tentunya akan meningkatkan nilai perusahaan dan memberikan sinyal baik kepada investor tentang kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Imran (2011) dan Jabbouri (2016) yang menyatakan bahwa profitabilitas yang diukur dengan return on equity berpengaruh secara signifikan terhadap kebijakan dividen dengan proksi dividend per share. Tetapi tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh U. Agustina (2014) yang menyatakan bahwa profitabilitas yang diukur dengan return on
equity tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen dengan proksi dividend per share.
Pengaruh Aktivitas terhadap Kebijakan Dividen
Tingginya nilai rasio aktivitas menunjukkan bahwa perusahaan bisa memanfaatkan besaran sumber dana yang dimiliki dengan sangat baik. Di mana dengan tingkat keefisienan perusahaan yang tinggi, perusahaan akan semakin terpacu untuk menanamkan kembali dana yang dimiliki untuk dijadikan modal kerja.
Weston dan Copeland (1997:128) bahwa pemanfaatan aktiva yang optimal akan memberikan dorongan bagi perusahaan untuk meningkatkan tingkat ekspansi aktiva di masa yang akan datang sehingga perusahaan akan cenderung menahan laba daripada membayarkan dividen.
Total Assets Turnover (TATO) merupakan salah satu bentuk rasio aktivitas yang lazim digunakan suatu perusahaan untuk mengukur sejauh mana total aktiva yang dimiliki perusahaan dapat menghasilkan penjualan, sesuai dengan penelitian Martati (2010), Suprasanda (2011), dan V. Y. Sitanggang dan Y.
Agustina (2011).
Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya pengaruh signifikan dari variabel aktivitas terhadap variabel kebijakan dividen dengan proksi dividend per share.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa keefektifan dalam mengelola aset tidak membuat perusahaan lupa akan kebutuhan pemegang saham terhadap pembagian dividen. Perusahaan belum merasa hal ini adalah waktunya menyetorkan semua dananya kembali untuk dijadikan modal kerja, walaupun tingkat rasio aktivitas yang tinggi menandakan operasional perusahaan sedang baik dan investasi yang besar akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
Mungkin saja perusahaan secara keseluruhan tidak mempertimbangkan rasio aktivitas perusahaan sebagai pertimbangan dalam meningkatkan modal kerja, dan lebih memilih untuk menerapkan
kebijakan dividen yang stabil, karena dengan begitu investasi modal dari pemegang saham akan semakin besar.
Penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Suprasanda (2011) yang menyatakan bahwa aktivitas yang diukur dengan total assets turn over berpengaruh secara signifikan terhadap kebijakan dividen dengan proksi dividend per share. Tetapi sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Martati (2010), dan V.
Y. Sitanggang dan Y. Agustina (2011) yang menyatakan bahwa aktivitas yang diukur dengan total assets turn over tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen dengan proksi dividend per share.
Implikasi Penelitian
Dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa perusahaan manufaktur yang dijadikan sampel penelitian menetapkan kebijakan dividen dengan variabel profitabilitas yang diukur dengan Return On Equity (ROE) sebagai variabel yang paling signifikan, sedangkan variabel likuiditas yang diukur dengan Current Ratio (CR), leverage yang diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER), dan aktivitas yang diukur dengan Total Assets Turn Over (TATO) tidak signifikan dalam menentukan kebijakan dividen, yang artinya perusahaan tidak melihat likuiditas, leverage, dan aktivitas perusahaan sebagai variabel yang mempengaruhi kebijakan dividen.
Keputusan perusahaan menetapkan kebijakan dividen melalui profitabilitas perusahaan sangat tepat, pada Information Content, or Signaling Hypothesis theory yang dijelaskan Modigliani dan Miller dalam Brigham dan Houston (2011:214) bahwa dividen yang tinggi merupakan suatu gambaran bahwa tingkat laba yang diperoleh perusahaan juga tinggi. Namun di samping itu, likuiditas, leverage, dan aktivitas perusahaan seharusnya dijadikan pertimbangan dalam mengoptimalkan pembagian dividen kepada pemegang saham, apalagi dalam perhitungan rasio aktivitas terdapat hasil yang baik. Rasio
aktivitas yang baik seharusnya bisa dijadikan acuan bagi perusahaan untuk menahan dana lebih banyak untuk dijadikan modal kerja. Optimalisasi kebijakan dividen adalah kewajiban manajemen perusahaan dalam menekan potensi konflik antara manajemen dengan pemegang saham, karena selain menyenangkan para pemegang saham yang menyukai dividen tunai, kebutuhan manajemen perusahaan akan modal kerja juga terpenuhi melalui laba ditahan.
Penelitian ini memberikan referensi terhadap perusahaan bahwa dalam menentukan kebijakan dividen, perusahaan harus mengoptimalkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kebijakan dividen optimal diharapkan bisa menyeimbangkan tingkat perolehan dividen pemegang saham dengan laba ditahan perusahaan. Investor juga lebih tertarik dengan perusahaan yang mempunyai prospek yang cerah di masa depan dan rutin dalam membagikan dividen. Peneliti selanjutnya yang meneliti tentang kebijakan dividen juga akan mendapatkan hasil yang lebih baik.
Kesimpulan
Dari beberapa variabel independen hanya variabel profitabilitas yang diukur dengan return on equity yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu kebijakan dividen dengan proksi dividend per share. Sedangkan variabel independen likuiditas yang diukur menggunakan current ratio, leverage yang diukur menggunakan debt to equity ratio, dan aktivitas yang diukur menggunakan total aset turn over tidak berpengaruh secara signifikan.
Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka peneliti dapat memberikan beberapa saran, di antaranya:
1. Bagi peneliti disarankan untuk menambah beberapa variabel independen yang diduga berpengaruh terhadap kebijakan dividen pada penelitian selanjutnya, karena dengan
variabel independen yang ada dalam penelitian ini kurang bisa menjelaskan variabel dependennya. Menambah masa periode penelitian maupun menambah jumlah perusahaan sampel juga sangat disarankan agar memperoleh hasil yang lebih baik.
2. Bagi manajemen perusahaan disarankan untuk memperhatikan faktor-faktor internal maupun eksternal yang lain dalam menentukan besaran dividen yang dibagikan kepada pemegang saham, karena dengan begitu tingkat dividen yang dibagikan akan lebih optimal. Dividen yang besar bagi sebagian investor adalah sesuatu yang sangat menarik dan memberikan kesan bahwa perusahaan sedang dalam kondisi baik yang tentu saja mendorong kepercayaan investor dalam menanamkan dananya kepada perusahaan. Namun jika dividen yang besar itu dialihkan untuk keperluan investasi perusahaan, maka nantinya akan berefek positif pada pertumbuhan perusahaan. Laba yang dihasilkan ke depannya akan semakin meningkat dan pembagian dividen pemegang saham semakin terjamin.
3. Bagi investor disarankan untuk jangan menilai suatu kondisi perusahaan hanya dengan tingkat dividen yang dibagikan perusahaan. Karena terbukti pada penelitian ini bahwa dividen yang dibagikan oleh perusahaan hanya mencerminkan profitabilitas perusahaan saja, tetapi tidak mencerminkan likuiditas, leverage, dan aktivitas perusahaan. Tingginya profitabilitas saat ini tidak menjamin tingginya profitabilitas di masa depan jika likuiditas, leverage, dan rasio aktivitas perusahaan tidak diperhatikan dengan baik, karena bisa menghambat pertumbuhan perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, Unik. (2014). Pengaruh Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Rentabilitas Ekonomi, dan Return On
Equity terhadap Dividend Per Share pada Perusahaan Manufaktur yang Terdapat di Bursa Efek Indonesia periode 2010 – 2012. Jurnal Manajemen & Bisnis, Universitas Dian Nuswantoro. Diakses pada http://eprints.dinus.ac.id/8720/
Tanggal 15/04/2016 Jam 23.05 WIB.
Ang, Robert. (1997). Pasar Modal Indonesia. Jakarta: Media Indonesia.
Atmaja, Lukas Setia. (2006). Manajemen Keuangan (Edisi Revisi, Cetakan II).
Jakarta: Anid Offset.
Brealey, Richard A., Myers, Stewart C., &
Marcus, Alan J. (2007). Fundamental of Corporate Finance (5th ed.). New York, USA: Mcgraw Hill.
Brigham, Eugene F., & Houston, Joel F.
(2010 & 2011). Essentials of Financial (Terj: Dasar-dasar Manajemen Keuangan, Buku 1 & 2) (Edisi Kesebelas, Cetakan ke 2).
(Diterjemahkan oleh A. A. Yulianto) Jakarta: Salemba Empat.
Gitman, Lawrence J. (2009). Principles of Managerial Finance (twelfth ed.).
Boston, USA: Pearson Education, Inc.
Gujarati, Damodar N., & Porter, Dawn C.
(2012). Dasar-Dasar Ekonometrika, Buku 1 (Kelima ed.). (E.
Mardanugraha, S. Wardhani, & C.
Mangunsong, Penerj.) Jakarta:
Salemba Empat.
Imran, Kashif. (2011). Determinants of Dividend Payout Policy: A Case of Pakistan Engineering Sector. The Romanian Economic Journal, YEAR XIV, No. 40, Hal. 47-60.
Jabbouri, Imad. (2016). Determinants of corporate dividend policy in emerging markets: Evidence from MENA stock markets. International Business and Finance Journal, Vol.
37, Hal. 283-298.
Jensen, Michael. C., & Smith Jr, Clifford W. (1984). The Modern Theory of Corporate Finance (2nd ed.). USA:
McGRAW-HILL series in finance.
Keown, Arthur J., Martin, John D., Petty, J.
William., & Scott, Jr, David. F.
(2011). Financial Management:
Priciples and Applications (Terj:
Manajemen Keuangan: Prinsip dan Penerapan, Jilid 1) (Edisi Kesepuluh). (Diterjemahkan oleh M.
P. Widodo) Jakarta: PT. Indeks.
Kieso, Donald E., Weygandt, Jerry J., &
Warfield, Terry D. (2002).
Intermediate Accounting (Terj:
Akuntansi Intermediate, Jilid 1) (Kesepuluh ed.). (Diterjemahkan oleh E. Salim) Jakarta: Erlangga.
Kuncoro, Mudrajad (2009). Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi (Edisi Ketiga). Jakarta: Erlangga.
Martati, Indah. (2010). Faktor Penentu Dividend Per Share Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar pada Bursa Efek Indonesia. Jurnal Eksis, Vol. 6, No. 2, Hal. 1598-1605.
Myers, Stewart C., & Majluf, Nicholas S.
(1983). Corporate Financing and Investment Decision When Firms Have Information The Investors Do Not Have. National Bureau of Economic Research.
Riyanto, Bambang. (2011). Dasar-Dasar Pembelajaran Perusahaan (Edisi Keempat). Yogyakarta: BPFE UGM.
Sartono, R. Agus. (2010). Manajemen Keuangan: Teori dan Aplikasi (Edisi 4). Yogyakarta: BPFE.
Sitanggang, Vista Yuniarti, & Agustina, Yeni. (2011). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembayaran Dividen pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Jurnal Ilmiah Esai, Vol. 5, No. 3.
Smart, Scott B., & Graham, John R. (2012).
Introduction to Financial Management (third ed.). USA: South Western Cengeage Learning.
Smith Jr, C. W., & Watts, R. L. (1992). The investment opportunity set and corporate financing, dividend, and compensation policies. Journal of Financial Economics, Vol. 32, No. 3, Hal. 263-292.
Sugiyarso & Winarni. (2005). Manajemen Keuangan (Edisi 1). Yogyakarta:
Media Pressindo.
Suprasanda, Viky. (2011). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Pembayaran Deviden pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya, Malang.
Van Horne, James C., & Wachowicz Jr., John M. (2012 & 2013).
Fundamentals of Financial Management (Terj: Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan, Buku 1 & 2) (Edisi 13). (Diterjemahkan oleh Q.
Mubarakah) Jakarta: Salemba Empat.
Weston, J. Fred, & Copeland, Thomas E.
(1997). Manajemen Keuangan, Jilid II (Edisi Kesembilan).
(Diterjemahkan oleh J. Wasana, &
Kibrandoko) Jakarta: Binarupa Aksara.