Skripsi berjudul “Pesan Dakwah yang Terkandung dalam Novel Negeri Lima Menara Karya Ahmad Fuadi (Analisis Wacana)” yang disusun oleh Dinda Andraena, Nomor Induk Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, telah disetujui untuk diajukan pada Sidang Tesis Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta. Skripsi berjudul: Pesan Dakwah yang Terkandung dalam Novel Negeri Lima Menara Karya Ahmad Fuadi (Analisis Wacana). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pesan dakwah yang terkandung dalam novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi.
Data tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan model analisis wacana Teun A. Hasil penelitian ini menunjukkan antara lain: Pesan dakwah yang terdapat dalam novel Negeri Lima Menara mencakup tiga pesan dakwah diantaranya pesan iman, syariah, dan pesan dakwah. moral. Oleh karena itu peneliti merasa novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi sangat layak untuk diteliti. Berdasarkan latar belakang masalah di atas yang penulis jelaskan, maka yang menjadi fokus penelitian ini adalah teks novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi.
Pesan dakwah apa yang terkandung dalam novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi. Jika anda ingin mengetahui pesan-pesan dakwah yang terdapat dalam novel Negeri Lima Menara Ahmad Fuadi.
PENDAHULUAN
- Fokus dan Subfokus
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Kegunaan Penelitian
- Sistematika Penulisa
Dalam sistem penulisan skripsi ini, dibagi menjadi 5 bab dan masing-masing bab saling berkaitan satu sama lain.
TINJAUAN PUSTAKA
Pesan Dakwah
Novel
Wacana
Analisis Wacana
Model Analisis Wacana Kritis Teun A. Van Dijk
Hasil Penelitian yang Relevan
METODOLOGI PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Latar/ Setting Penelitian
Metode Penelitian
Data dan Sumber Data
Teknik dan Pengumpulan Data
Teknik Analisis Data
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Biografi Ahmad Fuadi
Ahmad Fuadi menghabiskan pendidikan sekolah dasar dan menengahnya di negara asalnya, yaitu Maninjau, Agam, Sumatera Barat. Kemudian pada tahun 1988, Ahmad Fuadi memulai pendidikan menengahnya di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo karena permintaan ibunya. Di Pondok Gontor, ia banyak mendapat pesan dan nasehat dari para guru atau ustadnya “man jadda wajada”, yang artinya “siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapat kesuksesan”, dan masih ada kata-kata lain yang selalu ia ingat. bahwa “orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang paling banyak memberi manfaat”. Pada akhirnya, pesan-pesan tersebut menjadi prinsip yang selalu dia ikuti dalam hidupnya.
Di Asrama Islam Gontor ternyata menjadi tahapan yang sangat penting dalam perjalanan akademis Ahmed Fuadiu. Sebelum lulus S1, beliau mengikuti program cluster mahasiswa ASEAN, yaitu program sarjana dimana mahasiswa ASEAN belajar bersama di University of Singapore. Karena prestasinya tersebut, pada tahun 1998 ia mendapat beasiswa master di School of Media and Public Affairs, George Washington University.
Kemudian pada tahun 2004 keberuntungan kembali berpihak padanya dimana ia mendapatkan beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London untuk bidang dokumenter. Beliau juga pernah menjadi Direktur Komunikasi di LSM konservasi, The Nature Conservancy, sejak tahun 2007 hingga sekarang. Setelah menyelesaikan pendidikannya dan ketika Ahmad Fuadi menjadi direktur perusahaan komunikasi di LSM konservasi The Nature Conservancy, tiba-tiba ia merasa khawatir akan sesuatu.
Ahmed Fuadi menjadi bingung, karena teringat akan perintah dan nasehat gurunya, bahwa “sebaik-baiknya orang di antara kamu adalah orang yang berguna bagi orang lain”. Mengingat perkataan tersebut, Ahmad Fuadi memutuskan untuk lebih fokus menjadi penulis dan aktif dalam kegiatan sosial, khususnya menyelenggarakan sekolah PAUD gratis untuk keluarga miskin. Ia pun merasakan peluang kembali terbuka dan Tempo akhirnya menerima Ahmad Fuad sebagai jurnalis pada tahun 1998.
Perjalanan hidup Ahmad Fuad dapat menjadi cerminan bagi kita bahwa mimpi dan cita-cita tidak harus selalu sekedar keinginan belaka. Penulis dan Fiksi Terfavorit, Anugerah Pembaca Indonesia 2010 Penulis/Buku Fiksi Terbaik, Perpustakaan Nasional RI 2011 Anugerah Liputan6, SCTV Kategori Pendidikan dan Motivasi Penulis Terbaik 2011, Pameran Buku IKAPI/Indonesia 2011. Penulis gratis dan ratusan penulis acara terkini untuk massal media di Indonesia.
Sinopsis Novel Negeri Lima Menara
Lahir di Desa Buyur, Maninjum, Sumatera Barat, pemuda ini merupakan pemuda desa yang bercita-cita menjadi guru agama seperti harapan orang tuanya. Tentu saja keinginan orang tua tersebut tidak salah, karena sebagai emak (ibu) saat itu, mereka ingin anaknya menjadi orang yang terpandang dan disegani di desa, misalnya menjadi guru agama. “Memiliki anak yang bertaqwa dan berbakti kepada orang tuanya adalah sebuah warisan yang tak ternilai harganya, karena mereka bisa mendoakan orang tuanya bila mereka tiada,” Alif mengenang keinginan ibunya di desa saat itu.
Namun ternyata Alif mempunyai keinginan lain, ia tidak ingin seumur hidupnya tinggal di desa. Orang tuanya menolak membiarkan Alif tinggal dan bersekolah di desa untuk menjadi guru agama. Di hari pertamanya di villa Madani, Alif dikejutkan dengan kata sakti “man jadda wajada”, siapapun yang bersungguh-sungguh pasti dapat”.
Kelima anak yang belajar setiap sore di Pondok Pesantren Gontor ini memiliki kebiasaan unik. Demikian pula, ada pula yang menggambarkan awan itu sebagai Arab Saudi, Mesir, dan benua Eropa. Merasakan liku-liku kehidupan dunia pesantren yang tak terbayangkan sebelumnya, kelima santri dikabarkan bertemu di London.
Kemudian mereka teringat dan membenarkan cita-cita dan impian masing-masing ketika melihat awan di bawah menara masjid saat itu. Siapapun yang tadinya menganggap dunia pesantren itu konservatif, kolot, 'bagus', ternyata salah total. Ternyata pesantren menjaga tingkat kedisiplinan yang tinggi sehingga menghasilkan santri yang bertanggung jawab dan berdedikasi.
Dalam dunia pesantren semangat para santri dibakar oleh para uztad sehingga hal ini dilakukan agar para santri tidak mudah menyerah dan mempunyai mental baja. Setiap hari, sebelum masuk kelas, pujilah selalu kata sakti “man jadda wa jadda” kepada siapa pun yang bersungguh-sungguh ingin sukses.
Pembahasan Temuan Penelitian
- Analisis Wacana Pesan-Pesan Dakwah diliat dari
- Akidah
- Syariah
- Akhlak
- Judul dan Lead
- Story
- Semantik
- Sintaksis
- Stilistik
- Retoris
- Analisis Pesan-Pesan Dakwah dilihat dari Kognisi Sosial
- Analisis Pesan-Pesan Dakwah dilihat dari Konteks Sosial
Dalam novel Negeri Lima Menara banyak mengandungi saranan untuk sentiasa membaca dan mempelajari al-Quran. Dalam novel Negeri Lima Menara banyak memuatkan didikan ibadah mahdah yang ghairah, menghafaz al-Quran, dalam dialog di atas terdapat kisah watak bernama Baso, dia ghairah menghafaz al-Quran. Dalam novel Negeri Lima Menara, pengarang mengemukakan mesej moral yang terdapat dalam dialog berikut.
Kata “persaudaraan” dalam bahasa Arab adalah ukhuwah, yang menurut bahasanya berasal dari kata “akhun” yang berarti bersatu dengan yang lain karena lahirnya dua pihak. Kemudian kata ini digunakan untuk persatuan, persaudaraan suku, agama, hubungan antar manusia, kasih sayang dan kebutuhan lainnya.86. Dalam novel Negeri Lima Menara banyak sekali pembicaraan tentang berbakti kepada orang tua, sebagai ilustrasi penulis menampilkan bagian dialog yang berisi perintah untuk berbakti kepada orang tua. Dalam novel Negeri Lima Menara, perilaku berbaik sangka kepada Allah ditunjukkan pada dialog di bawah ini.
Dalam novel Negeri Lima, Menara banyak memperlihatkan perilaku kerja keras, penulis novel menggambarkannya dalam dialog berikut. Dalam novel Negeri Lima Menara, penulis banyak memaparkan pesan moral empati; Dialog dalam novel berikut menggambarkan sikap tersebut: Hal. Judul novel Negeri Lima Menara dicetak semenarik mungkin dan judul tampak pada halaman sampul luar.
Dalam hal ini, ia boleh diteliti melalui koherensi, bentuk ayat dan kata ganti nama yang digunakan dalam novel Negeri Lima Menara. Dalam novel Negeri Lima Menara, pengarang menggunakan kata ganti nama diri iaitu aku dengan bahasa iaitu aku, ambo dan ana. Dalam novel Negeri Lima Menara terdapat penggunaan bahasa asing yang berbeza yang dicetak condong dalam novel ini yang sengaja diketengahkan oleh penulis.
Skema personal dalam novel Negeri Lima Menara yaitu Pondok Pesantren Madani digambarkan pengarang sebagai tempat ia dan teman-temannya menuntut ilmu dan membangun cita-citanya. Pesan dakwah dalam novel Negeri Lima Menara mencakup tiga pesan dakwah, yaitu pesan keimanan, pesan syariat, dan pesan akhlak. Pesan-pesan dakwah dalam teks novel Negeri Lima Menara disajikan dengan bahasa yang lugas dan lugas.
Kata ganti komunikator menggunakan kata “aku” yang menunjukkan bahwa tokoh utama adalah narator dalam novel ini. Kuntoro, “Analisis Wacana Kritis (Teori Van Dijk dalam Kajian Teks Media Massa)”, dalam Lexika, Vol.