PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perceraian bisa terjadi di kalangan masyarakat umum, maupun di kalangan pegawai negeri sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN). PNS yang ingin bercerai harus mendapat izin atau surat keterangan terlebih dahulu dari pejabat.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Kemudian penelitian ini akan disajikan dalam bentuk tesis yang berjudul: “Analisis Peradilan Terhadap Pandangan Hakim Dalam Perkara Perceraian PNS Tanpa Izin Atasan (Studi Kasus Putusan Nomor: .748/Pdt.G/PA/Kab. Mn di Pengadilan Agama Kabupaten Madiun)”. 748/Pdt.G/PA/Kab.Mn tentang Permasalahan Cerai PNS Tanpa Izin Atasannya di Pengadilan Agama Kabupaten Madiun.
Manfaat Penelitian
Diharapkan dapat memberikan informasi, masukan dan menyumbangkan pemikiran kepada seluruh masyarakat dalam pembelajaran tentang izin perceraian bagi PNS agar pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Penelitian mengenai izin cerai bagi PNS diharapkan dapat memberikan survei pemahaman masyarakat dan terlebih dahulu memenuhi syarat-syarat perceraian bagi PNS agar lebih patuh terhadap peraturan perundang-undangan dan agar hak-hak PNS tetap terlindungi.
Telaah Pustaka
Bab ini menjelaskan mengenai perceraian dan izin cerai bagi PNS di Pengadilan Agama Kabupaten Madiun. Pejabat pemerintah yang melakukan perceraian harus terlebih dahulu mendapat izin atau surat keterangan dari atasannya. Bagi PNS sebagai penggugat untuk mendapatkan izin cerai, harus mengajukan permohonan izin cerai secara tertulis (Pasal 3 PP No. 45/1990).
“Bagi PNS yang sudah mendaftarkan cerai dan belum mendapat izin cerai dari atasannya.” Dalam putusan perkara nomor: 748/Pdt.G/2021/PA.Kab.Mn, ia juga menyatakan izin cerai pejabat tidak menjadikan persidangan cacat hukum. Dalam putusan perkara nomor: 748/Pdt.G/2021/PA.Kab.Mn itu, ia juga menyampaikan soal izin cerai bagi PNS.
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa keputusan hakim dalam proses peninjauan kembali putusan perceraian PNS tanpa persetujuan atasan adalah sah. Berdasarkan hasil wawancara, hakim berpendapat bahwa proses perceraian wajib dilakukan bagi PNS untuk memenuhi syarat administrasi yaitu surat izin cerai dari atasannya. Dalam hal ini sejalan dengan putusan hakim dalam penyidikan perceraian PNS tanpa persetujuan atasannya.
Di sini, Peraturan SEMA Nomor 5 Tahun 1984 memberikan ketentuan mengenai petunjuk kepada hakim pengadilan agama mengenai tata cara penyidikan perceraian bagi PNS yang belum melampirkan surat cerai dari atasannya.
Metode Penelitian
- Jenis dan Pendekatan Penelitian
- Kehadiran Peneliti
- Lokasi Penelitian
- Data dan Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Analisis Data
- Pengecekan Keabsahan Data
- Sistematika Pembahasan
Kerangka Konseptual
- Konsep Perceraian
- Perceraian Pegawai Negeri Sipil
Dalam putusan Perkara Nomor: 748/Pdt.G/2021/PA.Kab.Mn, hakim menyatakan izin cerai bagi PNS merupakan syarat formil yang apabila tidak dapat dipenuhi maka hakim. Pengaturan khusus bagi PNS yang bercerai hanya mengikat pihak, dan pengadilan tidak terikat dengan peraturan tersebut. Izin cerai merupakan syarat administratif bagi PNS yang hendak bercerai, sebagai bukti bahwa atasannya telah memperoleh izin cerai.” 6.
Dalam penyidikan, hakim memberikan waktu kepada petugas untuk mendapatkan izin dari pejabat/atasan yang bersangkutan. “Izin cerai merupakan syarat administratif bagi PNS yang akan bercerai sebagai bukti bahwa atasannya boleh bercerai.” Di sini, Undang-undang SEMA Nomor 5 Tahun 1984 memberikan ketentuan mengenai petunjuk kepada hakim pengadilan agama mengenai tata cara penyidikan perceraian bagi PNS yang belum melampirkan surat cerai dari atasannya pada gugatan yang bersangkutan.
Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 1984
PANDANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN PERKARA
Gambaran Umum Pengadilan Agama Kabupaten Madiun
- Wilayah Yurisdiksi PA Kabupaten Madiun
- Alamat PA Kabupaten Madiun
- Visi Dan Misi PA Kabupaten Madiun
- Struktur Organisasi PA Madiun
- Tugas Pokok Dan Fungsi PA Kabupaten Madiun
Kabupaten Madiun adalah sebuah wilayah di Provinsi Jawa Timur, Indonesia dengan kode wilayah administratif 35.19, terletak di Jalan Aloon-aloon Utara No. Secara administratif Kabupaten Madiun mempunyai batas wilayah :. Visi : Merujuk pada visi Mahkamah Agung Republik Indonesia. sebagai puncak kekuasaan kehakiman di Republik Indonesia, visi Pengadilan Agama Kabupaten Madiun yaitu. Tugas pokok dan fungsi Pengadilan Agama Kabupaten Madiun berdasarkan hukum Islam serta wakaf, zakat, infaq dan shadaqah serta ekonomi syariah sebagaimana diatur dalam Pasal 49 Undang-Undang Nomor: 50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama.
Penyediaan pelayanan teknis yudisial dan administrasi administrasi perkara tingkat pertama serta penyitaan dan eksekusi.
Deskripsi Putusan Perkara
Posita, kehidupan rumah tangga penggugat dan tergugat harmonis, namun sejak Januari 2013 mulai timbul perselisihan dan pertengkaran. Pada bulan Desember 2017, tergugat meninggalkan tempat tinggalnya bersama-sama dan berpamitan dengan penggugat untuk bekerja di luar negeri, sehingga tidak pernah diketahui alamat tempat tinggalnya di wilayah Negara Republik Indonesia. Sampai saat ini penggugat dan tergugat telah berpisah per Kurang lebih 3 tahun 6 bulan, selama mereka berpisah, penggugat berusaha mencari keberadaan tergugat, baik bersama orang tuanya maupun dengan kerabatnya, namun tidak berhasil menemukannya. Penggugat berkesimpulan bahwa rumah tangga antara Penggugat dan Tergugat sudah tidak dapat dipertahankan lagi, sehingga Penggugat tidak bersedia lagi menikah dengan Tergugat, dan perceraian merupakan jalan satu-satunya untuk mengakhiri perkawinan antara Penggugat dan Tergugat.
Penggugat dan tergugat merupakan suami istri yang menikah pada tahun 1999 dan mempunyai dua orang anak; tinggal bersama di rumah orang tua penggugat setelah menikah; Saksi mengetahui bahwa ini adalah rumah tangganya sejak Januari 2013. Penggugat dan tergugat mulai ragu karena sering kali saksi menyaksikan perselisihan dan pertengkaran: perselisihan dan pertengkaran disebabkan oleh sikap tergugat yang egois dan tidak memberikan kesempatan kepada penggugat untuk mengutarakan pendapatnya; Penggugat dan Tergugat telah berpisah sejak tahun 2017: Tergugat tidak mengetahui dimana tempat tinggalnya dan Penggugat telah berusaha mencarinya; “Saksi juga menasihati keluarga penggugat untuk sabar menunggu tergugat, namun sia-sia.” Penggugat dan tergugat merupakan suami istri yang menikah pada tahun 1999 dan mempunyai dua orang anak; tinggal bersama di rumah orang tua penggugat setelah menikah; Saksi mengetahui bahwa sejak bulan Januari 2013, rumah tangga penggugat dan tergugat tidak stabil, saksi sering menyaksikan perselisihan dan pertengkaran: perselisihan dan pertengkaran tersebut disebabkan oleh sikap tergugat yang egois dan tidak memberikan kesempatan kepada penggugat untuk mengutarakan pendapatnya. pendapat; Penggugat dan Tergugat telah berpisah sejak tahun 2017: Tergugat tidak mengetahui dimana tempat tinggalnya dan Penggugat telah berusaha mencarinya; Saksi juga menasihati keluarga penggugat untuk bersabar menunggu tergugat, namun sia-sia.”4.
Pandangan Hakim Dalam Memutus Putusan Perkara
Dalam putusan perkara Nomor: 728/Pdt.G/2021/P.Kab.Mn yaitu putusan perceraian PNS tanpa izin cerai dari atasan, sudut pandang hakim dalam memutus perkara tersebut didasarkan pada pemeriksaan alasannya. untuk bercerai dari penggugat. Sesuai Peraturan Pemerintah, syarat pertama dalam mengajukan gugatan cerai bagi PNS, termasuk guru, instansi pemerintah daerah, atau Kementerian Pusat adalah harus terlebih dahulu mendapat izin cerai dari atasannya. Dalam proses peninjauan kembali perkara para penggugat yang berstatus PNS, ia juga menyatakan bahwa hakim Pengadilan Agama sebelum memulai proses peninjauan kembali memerintahkan para penggugat yang tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan izin cerai dari pasangannya. atasan.
Hal serupa juga diungkapkannya dalam persidangan, penggugat yang berstatus pegawai negeri sipil, bahwa sebelum pemeriksaan, hakim memerintahkan penggugat untuk mengisi surat cerai kepada atasannya. “Sebelum melanjutkan perkara perceraian pegawai negeri, hakim memerintahkan penggugat yang belum melampirkan surat cerai dari atasannya, untuk melampirkan surat cerai dari atasannya sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 1984.” Jika mencermati isi Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 1984, tidak adanya surat cerai dari atasan mengharuskan hakim, sebelum memulai persidangan perkara perceraian pegawai negeri sipil, mengingatkan dan memerintahkan yang bersangkutan untuk lakukan itu.
Dengan demikian, dalam proses pemeriksaan perkara tersebut, majelis hakim tidak memberlakukan SEMA nomor 5 Tahun 1984 tentang penundaan sidang paling lama 6 (enam) bulan bagi pegawai negeri sipil yang pada saat bercerai tidak melampirkan izin. atasan mereka dalam gugatan tersebut. Dengan demikian, hakim harus tetap melaksanakan petunjuk dalam ketentuan SEMA no. 5 Tahun 1984 tentang Tata Cara Pembuktian Cerai Perkawinan Bagi Pegawai Negeri Sipil.
ANALISIS YURIDIS TERHADAP PANDANGAN HAKIM
Analisis Yuridis Terhadap Padangan Hakim Dalam Memutus
Analisis Yuridis Terhadap Pandangan Hakim Dalam Proses
Dalam mengadili perkara bagi penggugat yang berstatus pegawai negeri sipil, hakim terikat pada Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor: 5 Tahun 1984 tentang Pedoman Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 yang berkaitan dengan pengurusan perkara. izin cerai berdasarkan SEMA Nomor 5 Tahun 1984, hakim kemudian memberikan waktu kepada pegawai negeri sipil untuk mengajukan permohonan izin atau mengurus izin cerai dari atasan yang bersangkutan dan sidang ditunda paling lama 6 (enam) bulan. dan tidak diperpanjang lagi. . Apabila waktu yang diberikan telah lewat, pihak yang bersangkutan belum mendapat izin cerai dari atasannya dan pegawai negeri belum mencabut gugatan cerai, maka hakim harus mengeluarkan peringatan dengan mengacu pada ketentuan Peraturan Pemerintah nomor 10 Tahun 1983 yang memuat sanksi pemberhentian sebagai pegawai pemerintah.
Dalam memutus dan mengadili perkara perceraian bagi PNS, hakim harus mengikuti Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor: 5 Tahun 1984. Meski ketentuan terkait surat cerai bersifat administratif, namun tetap harus dipatuhi oleh PNS. Kedua, dalam melakukan perceraian, PNS harus mempunyai alasan yang cukup untuk mendapatkan izin dari atasannya.
PENUTUP
Kesimpulan
748/Pdt.G/2021/PA.Kab.Mn yaitu hakim mempertimbangkan alasan perceraian yang dikemukakan penggugat. Sidang administratif bagi hakim berupa pernyataan bahwa penggugat menerima risiko atasannya, sehingga dianggap memenuhi Pasal 3 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1983. Dalam hal permohonan hukum, seharusnya Hakim menolak perceraian yang diajukan penggugat karena perceraian yang diajukan penggugat tidak memenuhi syarat administratif.
748/Pdt.G/2021/PA.Kab.Mn, Majelis Hakim dalam proses pemeriksaan perkara tidak melaksanakan SEMA nomor 5 tahun 1984 tentang penundaan sidang paling lama 6 (enam) bulan.
Saran
Ali, Zainudin, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grapha, 2010 Ali, Zainuddin, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafa, 2006. Harahap, Yahya, Hukum Acara Perdata Tentang Gugatan, Sidang, Penyitaan, Barang Bukti dan Putusan Pengadilan, Jakarta : Sinar Grafa, 2008. Harahap, Yahya, Kekuasaan Mahkamah Agung, Pemeriksaan Kasasi, dan Peninjauan Kembali Perkara Perdata, Jakarta: Sinar Grafa, 2009.
Putusan Hakim Dalam Perkara Perceraian yang Melibatkan Aparatur Sipil Negara pada Pengadilan Agama Palopo, Palopo: IAIN Palopo, 2018. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian Pasal 2(2) .