• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analysis of Metaphorical Representation of Patience in Imam Nawawi's Riyadussalihin

N/A
N/A
Andi Eka Salviana

Academic year: 2024

Membagikan "Analysis of Metaphorical Representation of Patience in Imam Nawawi's Riyadussalihin"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Vol.….. No. ….., Desember 2022 DOI : (Di isi oleh pengelola jurnal)

11

Analisis Majaz Mursal Bab Sabar Pada Kitab Riyadussalihin Karya Imam Nawawi

Andi Eka Salviana1, Fadhilah Farhah, Siti Khaerunnisa Hamzah3 Haniah4

1,2,3Program Magister Pendidikan Bahasa Arab, UIN Alauddin Makassar,

E-mail:[email protected],

Abstrak :Tujuan Artikel ini adalah untuk menganalisis hadis yang dinukil dalam sebuah kitab yang mashur karya Imam Nawawi yaitu kitab riyadussalihin yang hanya dibatasi pada ba sabar. Analisis ini hanya berfokus pada majaz Mursal dalam kajian ilmu balagah. Manfaat artikel ini untuk mengetahui: (1) jumlah majaz mursal yang dijumpai pada bab sabar, (2) untuk mengetahui berapa jumlah ‘alaqah dan qarinah pada majaz mursal yang ditemi pada kitab riyadussalihin khususnya bab sabar. Metode penelitian yang digunakan yaitu telaah kepustakaan (library research), yaitu medote deskriptif analisis, dengan menggunakan teori Ali Jarim dan teori Al-Hasyimi. Hasil Penelitian yang didapatkan dari ketiga hadis terkait sabar yaitu terdapat 3 majaz mursal, dengan qarinah haliyah sebanyak 1 qarinah, dengan alaqah al-haliyah 1,, dan qarinah lafzhiyah sebanyak 2 qarinah, dengan

‘alaqah `Itibar mā kāna 1, juz`iyah 1.

Abstract : The purpose of this article is to analyze the hadith quoted in a famous book by Imam Nawawi, namely the book Riyadussalihin which is only limited to the ba-sabar. This analysis only focuses on the Mursal majaz in the study of balagah science. The benefits of this article are to find out: (1) the number of mursal majaz found in the patient chapter, (2) to find out how many 'alaqah and qarinah in the mursal majaz found in the Riyadussalihin book, especially the patient chapter. The research method used is library research, namely a descriptive analysis method, using Ali Jarim's theory and Al-Hasyimi's theory. The research results obtained from the three hadiths related to patience are that there are 3 mursal majaz, with 1 qarinah haliyah, with 1 'alaqah al-haliyah, and 2 qarinah lafzhiyah, with 1 'alaqah `I'tibar mā kāna, juziyah 1.

Kata kunci: Majaz Mursal, Ilmu Balagah, ‘Alaqah, dan Qarinah

PENDAHULUAN

Bahasa diciptakan oleh Tuhan agar manusia dapat mengkomunikasikan apa yang ada di dalam hati mereka dengan kata-kata.1 Bahasa dimulai dengan huruf, yang dirangkai menjadi kata, yang kemudian disusun menjadi kalimat, yang kemudian disusun menjadi paragraf. Bahasa tulisan dan bahasa lisan adalah bentuk komunikasi langsung antara orang-orang. Menurut Al- Ghulayayini:

مهدوصقم نع موق لك اهب ربعي ظافلا : ةغللا

1 Noermanzah, ‘Bahasa Sebagai Alat Komunikasi, Citra Pikiran, Dan Kepribadian’, Prosiding Seminar Nasional Bulan Bahasa (Semiba), 2019, 306–19 <https://ejournal.unib.ac.id/index.php/semiba>.

(2)

12

Bahasa adalah ucapan-ucapan yang di gunakan setiap kaum untuk mengungkapkan maksud merek

Semua bahasa memiliki sejarah, dan bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan oleh orang Arab di Jazirah Arabiya. Sebagaimana dikatakan Zaidan, secara historis bahasa Arab termasuk dalam rumpun Bahasa Semit.2

لا ةغللا ءانبا اهب مهفتي ناك يتلا تاغللا ةيماسلا تاغلاب نودري ةيماسلا ةغللا ىدحإ يه ةيبرع

ماسلا

Bahasa Arab adalah salah satu dari bahasa samiyah (bahasa Smit) yaitu bahasa yang di gunakan oleh keturunan Sam (Sam Bin Nuh)'/. Zaidan (1996: 21).

Secara historis, selama abad pertengahan, bahasa Arab menjadi bahasa ilmu pengetahuan, budaya, dan pemikiran progresif di seluruh dunia yang beradab. Antara abad ke-9 dan ke-12, lebih banyak karya dalam bidang filsafat, kedokteran, sejarah, agama, astronomi, dan geografi ditulis dalam bahasa Arab daripada dalam bahasa lain. Sampai saat ini, bahasa Eropa Barat masih memiliki banyak kata yang dipengaruhi oleh bahasa Arab.3

Fungsi bahasa Arab sebagai bahasa ibadah agama Islam sangat jelas, karena bahasa Arab berkembang dari wilayah Arab seiring dengan penyebaran agama Islam. AlQur'an dan Hadis ditulis dalam bahasa Arab.4

Hadis secara umum berfungsi sebagai syarah dan penjelasan kitab suci Al-Qur'an. berfungsi untuk menafsirkan kalimat yang masih mujmal (global), mengkhususkan kalimat yang masih umum, membatasi pengertian yang masih mutlaq, menjelaskan maksud beberapa lafaz secara tepat dan benar, dan menghilangkan pemahaman yang menyimpang yang menjadi sumber perbedaan pendapat atau ikhtilaf.

Al-Qur'an dan Hadis merupakan karya sastra tertinggi karena menggunakan struktur bahasa Arab yang khas, sentuhan bahasa yang indah, mengajarkan budi pekerti, memberikan pedoman hidup bagi umat Islam, dan hukum dan standar hidup. Oleh karena itu, Al-Qur'an dan Hadis menarik untuk dipelajari terutama dari perspektif sastra. Dalam bahasa Arab, "

بدلاا

" adalah istilah untuk kata sastra.

Kata "adab" secara leksikal juga berarti "sopan santun", "tata cara", filologi, kemanusiaan, kultur, dan humaniora. Namun, dalam bahasa Indonesia, kata ini digunakan dengan arti sopan santun, budi bahasa, kebudayaan, kemajuan, atau kecerdasan, bukan dengan arti sastra.5

ا ملع

ةغلابل

/ "Ilmu balaghati/" adalah salah satu cabang Ilmu Sastra Arab yang sangat penting.

Dengan menggunakan cabang ini, Al-Qur'an dan Hadis dapat dipelajari dari segi bahasa dan

2 Erwin Suryaningrat, ‘Bahasa Semit Sebagai Akar Sejarah Bahasa Arab’, At-Ta’lim, 17.1 (2018), 15–28.

3 Muhammad Zaky Sya’bani and Qois Azizah Bin Has, ‘Relevansi Bahasa Arab Dalam Dakwah : Refleksi Atas Kedudukan Bahasa Arab Sebagai Bahasa Al-Quran (Tinjauan Literatur)’, Ath-Thariq; Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, Vol. 07 No. 01, Januari-Juni 2023, 07.01 (2023), 97–111.

4 Rahimah, ‘Ilmu Balaghah Sebagai Chabang Ilmu Bahasa Arab’, USU Digital Library, 2004, 1–17.

5 Sukron Kamil and Fauzan, Teori Kritik Sastra Arab: Klasik Dan Modern, 2018.

(3)

13

maknanya. Ilmu balagah terdiri dari tiga cabang, yaitu:

يناعلما ملع , ٕنايبلا ملع

dan

عيدبلا ملع

.6

Penulis sangat tertarik mengkaji salah satu cabang ilmu bayan yaitu majaz murzal (majaz Mufrad Mursal) yang menjadi pust kajian penelitian ini yaitu kita Riyadussalihin bab sabar.

Kajian ini layak untuk dikaji lebih dalam lagi karena untuk mengetahui keberadaan majaz- majaz mursat dalam kitab tersebut khususnya bab sabar.

METODE

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan data perpustakaan. Setelah itu, data yang telah dikumpulkan dari berbagai referensi dipilah dan dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif.

Kitab Riyadusshalihin, yang ditulis oleh Imam Nawawi, merupakan sumber utama penelitian ini. Kitab tersebut terdiri dari 18 jilid, masing-masing berisi 351 bab dan 1896 hadis.

Namun, peneliti hanya mempelajari bab III dari kitab tersebut yang membahas tentang sabar dan hanya mengambl beberapa hadist.

LITERATUR REVIEW

Dilihat dari segi makna kalimat, bahasa Arab memiliki dua makna: "hakiki" dan "majazi".7

ةقيقحلا ينعمو اهل تعضو يتلا ةيلصلاا اهيناعم ىلع ظافللا لدتنا يهو :

Ma’na kalam haqiqi adalah lafazh-lafazh yang maknanya bersifat makna asli yang terdapat padanya.

ملاكلا قايس نم كلذ مهفيو ،ةيقيقحلا اهناعم ريغ يف ظفللاا لمعتست نا وهو :زاجم ينعمو

Makna majaz dia menggunakan lafaz-lafaz yang bukan maknanya yang asli, yang makna itu akan dipahami dengan penjelasan selanjutnya. 8

Kata "majaz" berasal dari fi‟il madhi زاج' jāza', yang berarti "melewati". Karena para ulama melewatkan lafaz dari makna aslinya, mereka menyebutnya "majaz". Secara etimologi, majâz berasal dari kata "jâza al-syai" yajûzuhu, yang berarti "melampaui sesuatu". Namun, menurut al-Jurjani, secara terminologi, majâz berarti nominal yang menunjukkan sesuatu yang tidak memiliki makna tekstual karena ada kecocokan antara keduanya (makna kontekstual dan tekstual).

Majaz adalah sarana ilmu bayan terbaik untuk menjelaskan makna karena membuat makna terlihat nyata. Oleh karena itu, mereka cenderung memperluas kalimat dan sering menunjukkan banyaknya arti lafaz.

Untuk meningkatkan pemahaman tentang majaz, penulis menambahkan pendapat ahli bahasa berikut:

ىلصلأا ىنعلما ةدارإ مدع ىلع ةلاد ةنيرق عم ةقلاعل هل عضو امريغ يف لمعتسلما ظفللا وه زاجلما

6 Iin Suryaningsih and Hendrawanto Hendrawanto, ‘Ilmu Balaghah: Tasybih Dalam Manuskrip “Syarh Fī Bayān Al-Majāz Wa Al-Tasybīh Wa Al-Kināyah”’, Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Humaniora, 4.1 (2018), 1

<https://doi.org/10.36722/sh.v4i1.245>.

7 Husein Aziz, Dosen Iain, and Sunan Ampel, ‘وامنا جعل لالسان على لا فؤاد دليلا ان لاكلام لفي لافؤاد’, XI.01 (2012), 27–41.

8 Ahmad Badawi, ‘Lafaz Ditinjau Dari Segi Hakikat Dan Majaz (Wacana Pengantar Studi)’, Al-Fikru:

Jurnal Ilmiah, 13.1 (2019), 50–60 <https://doi.org/10.51672/alfikru.v13i1.27>.

(4)

14

Majaz adalah lafazh yang di gunakan pada selain arti yang di tetapkan karena adanya persesuaian serta qarinah (pertanda) yang menunjukkan bahwa kata itu tidak menghendaki makna aslinya”.9

Dalam bahasa Indonesia, majaz juga berarti "makna kiasan" atau "makna figuratif". Menurut beberapa referensi sebelemnyas, bentuk

زاجلما

adalah penggunaan kata dengan arti figuratif, atau kata yang tidak memiliki arti sebenarnya.

Hasymi membagi Majaz menjadi empat kategori, bersama dengan defenisinya: (a) Majaz Mufrad Mursal adalah kata yang sengaja digunakan untuk menunjukkan selain arti aslinya karena melihat persesuaian/indikator yang bukan penyerupaan serta adanya pertanda yang menunjukkan untuk tidak menghendaki makna aslinya. (b) Majaz Mufrad bil Isti‟arah adalah menggunakan suatu lafaz (kata) untuk selain arti asli yang ditetapkan karena adanya persesuaian keserupaan antara arti yang dipindahkan dan arti yang dipakai bersama itu terdapat pertanda yang memalingkan untuk menghendaki makna aslinya. (c) Majaz Murakab Mursal adalah Kalimat yang dipakai pada selain makna yang ditetapkan, karena ada persesuaian yang bukan penyerupaan serta ada pertanda yang menghalangi untuk menghalangi makna aslinya. (d) Majaz Murakkab bil Isti‟arah adalah menggunakan suatu kalimat untuk selain arti asli yang ditetapkan karena adanya persesuaian keserupaan antara arti yang dipindahkan dan arti yang dipakai bersama itu terdapat pertanda yang memalingkan untuk menghendaki makna aslinya.10 Dari ke empat pembahagian majaz menurut Hasyimi, peneliti berkonsentrasi pada analisis Majaz Mufrad Mursal, juga dikenal sebagai Majaz Mursal.

Defenisi Majaz Mursal adalah sebagai berikut:

ا لم زاج ةدارإ ةعنام ةنيرق عم ةهباشلما ريع ةقلاعل ىلصلأا اهناعم ريغ يف تلمعتسا ةملك لسرلما

يلصلأا ىنعلما

Majaz Mursal adalah kata yang digunakan bukan pada maknanya yang asli karena adanya hubungan yang selain keserupaan serta adanya qarinah yang menghalangi pemahaman dengan makna yang asli.

ا لم زاج لسرلما كلا وه ةهباشلما ريغ ةقلاع ةظحلالم ىلصلاأ اهانعم ريغ يف ادصق ةلمعتسلما ةمل

رإ مدع ىلع ةلاد ةنيرق عم ةدا

علما ىلصلاا ىن

Majaz mursal adalah kata yang sengaja digunakan untuk menunjukkan selain arti aslinya karena melihat persesuaian/indikator ةقلاع yang bukan penyerupaan serta adanya pertanda ةنيرق yang menunjukkan untuk tidak menghendaki makna aslinya'.11

Kedua referensi menjelaskan maksud yang sama, yaitu Majaz Mufrad Mursal digunakan bukan pada makna asli, dengan adanya Qarinah dan "Alaqah ghairu musyabahah".

Ada dua karakteristik utama Majaz Mursal dalam pembentukannya, yaitu persesuaian (ةقلاع) dan pertanda/indikator (ةنيرق),12 dan defenisi berikut: (a) ‘Alaqah. Alaqah adalah:

يه ةقلعلا هيلا لوقنلماو هنع لوقنلا ىنعلما ةبسانلما :

‘Alaqah adalah persesuaian yang menghubungkan antara makna yag berpindah dan makna yang dipindahkan'

9 Sayyid Ahmad Al-Hasyimi, Mutiara Ilmu Balaghah Dalami Lmu Bayan Dan Ilmu Badi’ (Surabaya:

Mutiara Ilmu, 1994).

10 Al-Hasyimi.

11 Al-Hasyimi.

12 Vina Qurrotu A’yun dan Annie Lutfia Perbawati, ‘Eksistensi Makna Majasi Pada Hadis Nabawi (Studi Komparatif Antara Ulama’ Salaf Dan Ulama’ Khalaf)’, Dirayah: Jurnal Ilmu Hadis, 2.2 (2022), 184.

(5)

15

Majaz Mufrad Mursal memiliki persesuaian yang berbeda, membedakannya dengan majaz lain yang hanya memiliki satu persesuaian, yaitu musyabahah. Penulis menyebutnya sebagai pengikat, atau hubungan antara arti majaz dan arti asli. Didasarkan pada "alaqah, Majaz Mursal dibagi menjadi delapan bagian, yang terdiri dari: (1) penyebab, makna majaz menujukkan sebab sesuatu. (2) akibat, makna majaz menunjukkan akibat bagi sesuatu. (3) keseluruhan, makna majaz menunjukkan keseluruhan meskipun yang disebutkan menunjunjukkan makna sebahasian. (4) sebahagian, makna majaz menunjukkan sebahagian meski kata yang digunakan menunjukkan keseluruhan. (5) menunjukkan masa lampau, maksudnya makna majaz menunjukkan kepada hal yang telah lalu. (6) menunjukkan masa yang akan datang, maksudnya makna majaz menunjukkan apa yang akan terjadi. (7) keadaan, maksudnya makna majaz yang menunjukkan keadaan. Dan (8) menunjukkan tempat, maksudnya kata majaz menujukkan tempat.13

Menurut Hasyimi, defenisi qarinah adalah seperti berikut:

عضو امريغ ظفللاب دارإ هنأ ىلع لايلد ملكتلما هلعجي يذلا رملاا :يه ةنيرقلا هل

Qarinah adalah hal yang dijadikan oleh mutakallim sebagai petunjuk bahwa dia menghendaki dengan suatu lafaz itu pada selain makna aslinya atau yang di sebut juga mencegah makna aslinya (indikator) yang

menghubungkan makna majaz dan makna asli.

Ada dua jenis Qarinah, yaitu Lafzhiyyah dan Haliyah. Qarinah lafzhiyyah adalah:

يتلا :يه ةيظفل ةنيرق بيكرتلا يف اهب ظفلي

'Qarinah lafzhiyyah adalah qarinah yang diucapkan dalam susunan kalimat.

Qarinah Haliyah adalah:

يه ةيلاح ةنيرق :

عقاولا نم وا ملكتلما لاح نم مهفت يتلا

Haliyah adalah qarinah yang dipahami dari keadaan mutakallim atau dari kenyataan yang ada

Kesimpulannya, suatu kalimat dianggap sebagai majaz mursal jika pada kata yang mengandung nilai majazi terdapat "Alaqah, yang berfungsi sebagai penghubung antara makna asli dan makna majazinya, dan Qarinah, yang berfungsi sebagai indikator yang mencegah kata tersebut diartikan kembali ke makna aslinya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hadis ke 5 analisisnya sebagai berikut:

ديز نب ةماسأ ديز يبأ ن عو نبإو هبحو ملسو هيلع الله ىلص الله لوسر ىلوم ةثراح

ضر هبح للهاي

لأ :لاق امهنع ملسو هيلع الله ىلص ىبنلا تنب تلسر

: ...اندحشاف رضتحلا دق ىنبإ ينإ

Diriwayatkan dari Abu Zaid, yaitu Usamah bin Zaid bin hariṡah ra., pelayan Rasulullah saw, serta kekasihnya serta putra kekasihnya pula, berkata, “salah seorang putri nabi saw mengutus seseorang untuk mengabarkan kepada Rasuullah saw, anakku sedang sakratul maut, karena itu (datang dan saksikanlah) keadaan kami”. (halaman ke 30, hadis ke 5)

13 Muhammad Syamsudin Noor, ‘Majaz „Aqliy Dalam Surah Al-Baqarah’, Jurnal UIN Antasari, 1.2 (2013), 68–104.

(6)

16

ديز نب ةماسأ ديز يبأ ن عو نبإو هبحو ملسو هيلع الله ىلص الله لوسر ىلوم ةثراح

ضر هبح للهاي

امهنع

Dalam susunan hadis di atas, kata "

هبح

" secara leksikal berarti "kekasih" secara keseluruhan atau umum. Namun, karena akan menimbulkan kerancuan makna dan ketidaktepatan makna, kata "

هبح

" secara gramatikal diartikan dengan makna yang lebih spesifik—dalam hadis ini, kekasih yang dimaksud adalah anak menantu dan cucunya. Setelah dipelajari, kata tersebut dimasukkan ke dalam majaz Mursal, Qarinahnya adalah keadaan hadis beserta kisahnya yang menghalangi untuk tidak memahami kata "

هبح

dengan makna kekasih secara umum, maka dari itu kata tersebut diartikan dengan makna gramatikalnya. Disesuaikan dengan makna kontekstualnya,’Alaqahnya adalah \\\Disebutkan suatu kata dengan makna keseluruhan akan tetapi dengan maksud sebahagian.

Hadis ke 6 analisisnya sebagai berikut:

لاقف هربخاف بهارلا يتاف ...:لاق ملسو هيلع الله ىلص الله لوسر نأ هنع الله ي ضر بيهص نعو ولا تنا ينب ىا :بهارلا هل تبنإف ،ىلبتس كناو ،را ام كرما نم غلب دق ،نم لضفا مي

لدت لاف تيل

....ىلع

Diriwayatkan dari suhaib semoga Allah swt meridhainya, bahwa Rasulullah saw berkata: kemudian pemuda itu mendatangi pendeta itu dan mencertakan kejadian tersebut, pendeta tu berkata 'wahai anakku, pada har ini engkau lebih utama dariku, keadaanmu sudah sampai di suatu tingkat yang aku sendri tidak dapat memahamnya, sungguh, engkau akan diber ujian, jika engkau mendapatkan ujian itu, janganlah engkau menyebut namaku... ' (halaman :32, hadis ke 6).

ولا تنا ينب ىا ىلبتس كناو ،را ام كرما نم غلب دق ،نم لضفا مي

Dalam susunan hadis di atas, kata "

ينب

" secara leksikal berarti "seorang anak yang belum balig", dan tidak dapat diartikan atau difahami dengan makna asli karena akan menyebabkan arti yang tidak tepat. Namun, secara gramatikal, kata "

ينب

" dimasukkan ke dalam majaz Mursal sebagai "pemuda". Qarinahnya adalah (lafzhiyyah), yaitu kata

غلب

yang berarti "usia yang telah sampai", yang menghalangi mengartikan kata

ينب

dengan makna "anak-anak", karena berdasarkan kisahnya, tidak mungkin seorang anak yang belum berusia dewasa mampu menjalankan tugas berat., dan kata

غلب

jelas berarti "seorang pemuda". Oleh karena itu, agar tidak menimbulkan keraguan atau disesuaikan dengan konteksnya, "alaqahnya adalah ٕ رابتعإ ناكام, suatu kata yang digunakan karena melihat ke masa lalu dengan harapan masa depan."

Hadis ke 7 analisisnya sebagai berikut:

(7)

17

رماب ملسو هيلع الله ىلص يبنلا رم لاق هنع الله ي ضر سنا نعو الله يقبا( :لاقف ربق دنع ىكبت ةا

للاقف ،)ىرببصاو للهاىلص ىبنلا هنا :اهل ليقف ،هفيعت ملو ،يتبيصمب بصت مل كناف ،ينع كيلا ت

يلع ....ملسو هيلع الله ىلص ىبنلا باب تتاف ،ملسو ه

Diriwayatkan dari anas ra. Ia berkata “suatu ketika, Rasulullah saw, melewati seorang perempuan yang sedang menangis diatas kuburan. Rasulullah saw bersabda “bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah”. lalu perempuan itu berkata “pergilah engkau dari sini. Sungguh engkau tidak tertimpa musibah seperti apa yang aku alami.... rupanya perempuan itu tidak tau kalau yang bicara kepadanya adalah Rasulullah saw, lalu dkatakan kepadanya “ia adalah Rasulullah” maka perempuan Itu mendatangi rumah Rasulullah ... ' (Hal 34 hadis ke 7)

ملسو هيلع الله ىلص ىبنلا باب تتاف

Kata

باب

secara leksikal berarti "pintu", tetapi dalam susunan kalimat di atas, itu tidak dapat diartikan dengan benar atau difahami dengan benar. Namun, kata

باب

dapat diartikan secara gramatikal dengan makna "

ت يبل

ا", yang berarti "rumah". Setelah dipelajari, kata ini termasuk dalam majaz Mursal, Karena qarinah (lafzhiyyah), kata

تتا

yang berarti "datang" menghalangi untuk mengartikan kata

باب

yang berarti "pintu" karena rumah adalah tempat yang didatangi setiap orang yang ingin bertamu, bukan pintu. Oleh karena itu, agar tidak menimbulkan keraguan atau kesulitan dalam memahami makna kata tersebut, disarankan untuk mengartikannya secara gramatikal. Disesuaikan dengan konteksnya, "alaqahnya adalah menyebutkan sebagian akan tetapi dengan maksud keseluruhan, dalam konteks hadis di atas disebutkan

باب

, yang merupakan komponen unsur pembentuk sebuah bangunan rumah."

KESIMPULAN

Setelah dianalisis maka dapatlah disimpulkan bahwa jumlah Hadis-hadis yang diteliti pada kitab Riyadhusshalihin jilid satu, yang dibatasi dari bab III tentang sabar.

Setelah diteliti berdasarkan teory Balaghah Ali jarim dan Hasyimi berikutlah hasil penelitian tersebut Diantaranya: terdapat 3 majaz mursal, dengan qarinah haliyah sebanyak 1 qarinah, dengan ‘alaqah al-haliyah 1, dan qarinah lafzhiyah sebanyak 2 qarinah, dengan ‘alaqah `I’tibar mā kāna 1, juz`iyah 1

DAFTAR REFERENSI

Al-Hasyimi, Sayyid Ahmad, Mutiara Ilmu Balaghah Dalami Lmu Bayan Dan Ilmu Badi’

(Surabaya: Mutiara Ilmu, 1994)

Aziz, Husein, Dosen Iain, and Sunan Ampel, ‘وامنا جعل لالسان على لا فؤاد دليلا ان لاكلام لفي لافؤاد’, XI.01 (2012), 27–41

Badawi, Ahmad, ‘Lafaz Ditinjau Dari Segi Hakikat Dan Majaz (Wacana Pengantar Studi)’, Al- Fikru: Jurnal Ilmiah, 13.1 (2019), 50–60 <https://doi.org/10.51672/alfikru.v13i1.27>

(8)

18

Kamil, Sukron, and Fauzan, Teori Kritik Sastra Arab: Klasik Dan Modern, 2018

Muhammad Syamsudin Noor, ‘Majaz „Aqliy Dalam Surah Al-Baqarah’, Jurnal UIN Antasari, 1.2 (2013), 68–104

Noermanzah, ‘Bahasa Sebagai Alat Komunikasi, Citra Pikiran, Dan Kepribadian’, Prosiding Seminar Nasional Bulan Bahasa (Semiba), 2019, 306–19

<https://ejournal.unib.ac.id/index.php/semiba>

Perbawati, Vina Qurrotu A’yun dan Annie Lutfia, ‘Eksistensi Makna Majasi Pada Hadis Nabawi (Studi Komparatif Antara Ulama’ Salaf Dan Ulama’ Khalaf)’, Dirayah: Jurnal Ilmu Hadis, 2.2 (2022), 184

Rahimah, ‘Ilmu Balaghah Sebagai Chabang Ilmu Bahasa Arab’, USU Digital Library, 2004, 1–17

Suryaningrat, Erwin, ‘Bahasa Semit Sebagai Akar Sejarah Bahasa Arab’, At-Ta’lim, 17.1 (2018), 15–28

Suryaningsih, Iin, and Hendrawanto Hendrawanto, ‘Ilmu Balaghah: Tasybih Dalam Manuskrip

“Syarh Fī Bayān Al-Majāz Wa Al-Tasybīh Wa Al-Kināyah”’, Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Humaniora, 4.1 (2018), 1 <https://doi.org/10.36722/sh.v4i1.245>

Sya’bani, Muhammad Zaky, and Qois Azizah Bin Has, ‘Relevansi Bahasa Arab Dalam Dakwah : Refleksi Atas Kedudukan Bahasa Arab Sebagai Bahasa Al-Quran (Tinjauan Literatur)’, Ath-Thariq ; Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, Vol. 07 No. 01, Januari-Juni 2023, 07.01 (2023), 97–111

Referensi

Dokumen terkait