• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anatomi hukum zakat di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Anatomi hukum zakat di Indonesia"

Copied!
235
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Landasan Hukum Zakat

Zakat dalam rumusan fiqh bermaksud sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu. Selanjutnya dalam Al-Quran Surah Annisa ayat 5 yang bermaksud: Dan janganlah kamu serahkan kepada orang yang tidak sempurna akalnya, harta kamu ada dalam kekuasaan kamu.

Teori yang berkaitan dengan Hukum zakat

Namun di sini hubungannya lebih kompleks, karena norma hukum mempunyai struktur yang lebih kompleks dibandingkan norma moral. Norma hukum yang mewajibkan subjek untuk menghindari pelanggaran dengan memberikan sanksi tidak menetapkan kewajiban hukum untuk melaksanakan sanksi tersebut, untuk melaksanakan norma itu sendiri. Hak dan kewajiban negara merupakan perbuatan manusia yang menjadi isi hak dan kewajiban negara terhadap negara, terhadap kesatuan tatanan hukum yang dipersonifikasikan.

Aturan derogasi, setiap aturan hukum bersumber pada 1. undang-undang yang berlaku, ada pengakuan terhadap mereka yang mempunyai kewenangan untuk melaksanakan aturan tersebut dan terhadap pihak yang kepadanya aturan hukum tersebut diterapkan. Aturan non-kontradiksi: tidak boleh ada pertentangan antara satu aturan hukum dengan aturan hukum lainnya, sehingga norma yang satu dengan norma yang lain harus selaras. Undang-undang pada tingkat yang lebih rendah merupakan bagian dari peraturan hukum pada tingkat yang lebih tinggi, yang didasarkan pada asas-asas praktis. Begitu pula yang menciptakan hukum-hukum dalam Al-Quran adalah Allah SWT.

Jenis Penelitian

Pendekatan penulisan

Gagasan besar penataan pengelolaan zakat yang tertuang dalam UU Nomor 23 Tahun 2011 yang menjiwai keseluruhan pasalnya adalah pengelolaan terpadu. 135 Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Berita Acara Seputar Revisi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat terhadap UUD 1945. Hak atau kewenangan konstitusional yang dianggap Pemohon dirugikan dengan berlakunya pasal-pasal UU Pengelolaan Zakat.

Untuk itu masyarakat diharapkan berperan dan membantu Baznas dalam pengelolaan zakat dengan membentuk Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang secara mandiri dapat melakukan kegiatan pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat. Dengan adanya kepastian hukum maka kepentingan muzakki, mustahik dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) akan terlindungi dalam pelaksanaan pengelolaan zakat. Dalam ketentuan syarat pemberian izin sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (2) undang-undang pengelolaan zakat, yang dimaksud dengan memenuhi syarat minimal adalah izin dari menteri atau pejabat lain yang ditunjuk oleh menteri, dapat atau harus diberikan kepada LAZ yang telah memenuhi persyaratan minimal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) undang-undang pengelolaan zakat.

ANATOMI PENGATURAN ZAKAT

Peraturan Zakat dalam Hukum Positif

UU No. 23 Tahun 2011 Bab III mengatur tentang pengumpulan, pendistribusian, penerapan zakat dan pelaporan, muzakki melakukan perhitungan sendiri atas dana zakat wajibnya. Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2014 tentang Implementasi UU No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. 6 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pembayaran dan Pembuatan Bukti Pembayaran Zakat atau Infak Keagamaan Wajib yang Dapat Dikurangkan dari Pendapatan Bruto dan Peraturan Daerah Provinsi NTB No. 9 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pengelolaan Zakat, Infaq dan Sedekah, Peraturan Daerah Kabupaten Buol No. 3 Tahun 2009 tentang Penatausahaan Zakat, Infaq dan Sedekah di Kabupaten Buol, Peraturan Daerah Kabupaten Parigi Moutong No. 5 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Zakat. Analisis penulis terhadap Peraturan Daerah NTB No. 9 Tahun 2015 tentang Penatausahaan dan Pengelolaan Zakat, Infaq dan Sedekah.

Pada ayat kedua penghimpunan zakat pasal 5 ayat (1) disebutkan bahwa penghimpunan zakat dilakukan dengan cara menerima atau mengambil dari muzakka, ayat (2) pengelola zakat dapat bekerjasama dengan bank dan lembaga keuangan lainnya dalam pengelolaan zakat. Kepgub ini terdiri atas delapan bab, antara lain: Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 (Pasal 1), Bab II Asas dan Tujuan Penyelenggaraan dan Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah Berdasarkan Asas Syariat Islam, Amanah, Kemaslahatan, Pemerataan, Hukum Kepastian, keterpaduan dan tanggung jawab 2 pasal (Pasal 2-3), bab III Penyelenggaraan dan pengelolaan zakat, infaq dan sedekah 9 pasal, alinea pertama tentang pelaksanaan, alinea kedua tentang pemungutan zakat, alinea ketiga tentang pengumpulan infak dan sedekah, keempat ayat tentang mustahiq. Pada Pasal 4 Bab I, pengelolaan zakat, infak, dan sedekah adalah kegiatan merencanakan, melaksanakan, dan mengkoordinasikan pengumpulan, pendistribusian, dan pembayaran zakat.

Pengaturan Zakat Menurut Hukum Islam

Ushlub Tarhib (menakut-nakutkan/amaran) dimaksudkan untuk orang yang suka mengumpul harta dan tidak mahu mengeluarkan zakat. Mereka dipuji sebagai penolong yang disemai dengan sifat ketuhanan, kerasulan dan orang yang beriman kerana kebolehan mereka memberikan harta yang mereka sukai berupa zakat kepada orang lain. Dalam surat al-Baqarah 261, formula pengiraan bagi mereka yang menggunakan gandaan 1:7:100 disertakan di sini.

Putra-putri pejuang Badar, orang-orang yang memeluk Islam, anak-anak muhajirin dan Anshor, para pejuang perang Qadisiyyah, Uballa, dan orang-orang yang menghadiri perjanjian Hudaibiyah. Setiap kepala desa/lurah, serta tokoh masyarakat dan aghniya setiap desa/lurah mempunyai kewajiban untuk mengubah orang yang menerima (mustahiq) menjadi pemberi (muzakki). Hak dan kewajiban juga berkaitan dengan amanah dan kepercayaan juga harus diberikan kepada pihak yang berhak menerimanya.

Teori paksaan ini juga diterapkan pada zaman khalifah Abu Bakar, sehingga orang yang tidak menunaikan zakat, yakni memerangi orang yang tidak menunaikan zakat dan mengkategorikannya sebagai murtad. Anak-anak lelaki dan perempuan pejuang Badar, orang-orang yang memeluk Islam, anak-anak Muhajirin dan Anshor, pejuang perang Qadisiyyah, Uballa, dan orang-orang yang menghadiri perjanjian Hudaibiyah.

UPAYA MENSEJAHTERAKAN MASYARAKAT

Teori negara sejahtera

Amanat konstitusi dalam pembukaan UUD 1945 ayat 4 berbunyi: kemudian membentuk pemerintahan negara Indonesia darah seluruh Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum. Sebagai konstitusi yang berorientasi pada keadilan sosial, maka UUD 1945 memuat pasal dan bab khusus mengenai kesejahteraan sosial, yaitu pada bab xIV, bab xIV pada mulanya “Kesejahteraan Sosial”, sehingga semua pasal yang berkaitan dengan perekonomian harus dibaca dan dipahami dalam kerangka konstitusi. kerangka konsep kesejahteraan sosial sebagaimana tertuang dalam idealisasi cita-cita keadilan sosial 147. Namun sejak amandemen keempat UUD 1945 pada tahun 2002, para penyusun UUD 1945 semakin menegaskan keberadaan UUD 1945. Perekonomian Nasional dan Sosial Kesejahteraan”, namun penyebutan keduanya, yaitu (i) perekonomian nasional dan (ii) kesejahteraan sosial, hendaknya tidak dibaca atau dipahami sebagai dua konsep yang terpisah.

UUD 1945 adalah konstitusi ekonomi (Economic Constitution) dan sekaligus Konstitusi Sosial (Social Constitution) dan sekaligus Konstitusi Kesejahteraan Sosial. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” pasal 33 ayat (1) UUD 1945 “Perekonomian nasional disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan”, termasuk dalam pengertian mikro hubungan perburuhan industrial, setiap unit usaha adalah ' struktur usaha yang terpadu berdasarkan atas dasar kekerabatan atau solidaritas atau hubungan kemitraan 149 Jadi jika menyangkut persoalan hubungan antara pekerja dan pengusaha, UUD 1945 sebagai konstitusi perekonomian Indonesia tidak hanya berpihak pada pengusaha, bahkan bisa juga Indonesia. konstitusi buruh disebut, “Konstitusi Buruh” Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 “Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak secara kemanusiaan”, Pasal 28D (2) Setiap orang berhak atas pekerjaan dan menerima kompensasi dan perlakuan yang adil dalam hubungan kerja.

Teori kewajiban dan paksaan

Teori paksaan/imperatif (imperative theory) merupakan landasan dari teori yurisprudensi analitis John Austin dan pengikut positivisme lainnya.

Konsep Negara kesejahteraan

Kebutuhan hidup ini meliputi layanan kesehatan, perumahan dan tempat tinggal, pendidikan dan layanan sosial pribadi. Kelima, kepemilikan publik atau fasilitas umum agar dapat diberikan kepada masyarakat berpendapatan rendah dengan harga bersubsidi, yang seluruh tanggung jawab tersebut dialihkan kepada masyarakat melalui berbagai bentuk pelayanan sosial.

Upaya mensejahterakan rakyat

Setelah melalui musyawarah dengan tokoh/pemimpin sahabat, Khalifah Umar bin al Khattab mengambil keputusan untuk tidak menggunakan harta Baitul Mal sekaligus, melainkan menggunakannya secara bertahap sesuai kebutuhan yang ada, termasuk menyediakan dana cadangan. Perkembangan lembaga Baitul Mal yang dilengkapi dengan sistem administrasi yang terorganisir dan rapi merupakan sumbangsih terbesar Khalifah Umar bin al-Khattab kepada dunia Islam dan umat Islam.156. Karena jumlah tersebut sangat besar, Khalifah Umar berinisiatif untuk bersidang dan mengundang sahabat-sahabat terkemuka untuk berkonsultasi mengenai penggunaan dana Baitul Mal. Setelah melalui diskusi panjang, Khalifah Umar memutuskan untuk tidak membagikan harta Baitul Mal melainkan menyimpannya sebagai cadangan, baik untuk kebutuhan pribadi, darurat, pembayaran gaji prajurit dan berbagai kebutuhan umat lainnya.

Khalifah Umar bin Khattab juga menetapkan agar pihak eksekutif tidak ikut campur dalam pengelolaan aset Beitul Mali. Khalifah Umar bin Khattab dengan demikian menerapkan asas supremasi dalam pembagian harta kekayaan Baytul Mali, dengan alasan bahwa kesulitan-kesulitan yang dihadapi umat Islam dalam menentukan bagian kekayaan negara harus diperhitungkan, oleh karena itu keadilan memerlukan usaha dan tenaga. Seseorang yang telah berbakti dalam memperjuangkan Islam hendaknya dilestarikan dan diberi penghargaan yang sebaik-baiknya. Kebijakan Khalifah Umar mengundang reaksi dari salah seorang sahabatnya yang bernama Hakim bin Hizam.

Pola pengembangan zakat di indonesia

Sebelum membahas mengenai strategi pengembangan zakat di Indonesia, terlebih dahulu penulis akan mengetahui kendala-kendala dalam pengelolaannya, antara lain: Zakat yang dikeluarkan hanya sebatas zakat fitrah saja, sedangkan zakat pendapatan lainnya tidak banyak diberikan. Lembaga amil zakat yang ada belum mampu mengembangkan sistem informasi zakat yang terintegrasi antar amil sehingga lembaga amil zakat saling terintegrasi.

Ada beberapa kriteria pengelola zakat untuk menjadi lembaga zakat yang profesional antara lain; Dengan demikian, strategi yang diambil adalah perlunya prioritas kebijakan yang harus menerapkan sanksi bagi muzakki yang tidak menerima zakat, meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk meningkatkan profesionalisme, kredibilitas, akuntabilitas dan transparansi OPZ. Skenario terbaik untuk meningkatkan potensi zakat adalah melalui reformasi legislatif. Memperhatikan berbagai permasalahan, hambatan dan kelemahan pengelolaan zakat di Indonesia, antara lain: Kurangnya tenaga yang berkualitas, pemahaman Amil Fiqih yang kurang, rendahnya kesadaran masyarakat, teknologi yang digunakan dan belum berkembangnya SIZ (Sistem Informasi Zakat) . terintegrasi.

Melalui Pendistribusian zakat secara adil

Berdasarkan hal tersebut, model penyaluran zakat yang sesuai dengan ketentuan Islam merupakan bagian dari upaya pemerataan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pendistribusian yang dilakukan basis kota Mataram disesuaikan dengan database ashnaf dan mustahik yang berprioritas tinggi. 172 Data RKAT (Rencana Anggaran Kerja Tahunan) dapat dilihat pada Lampiran 3 Keputusan Baznas Kota Mataram nomor 17/Baznas/SK/xII/2016 tentang KAT Baznas Kota Mataram Tahun 2017 yang ditetapkan pada tanggal 30 Desember 2016.

Sedangkan rencana penyalurannya berdasarkan program periode I Januari s/d 31 Desember 2017 sebagai berikut: penyaluran dana zakat pendidikan Rp. Selain itu, ada juga beberapa praktik yang dilakukan oleh kalangan pesantren, yaitu: pimpinan pesantren 176 bercerita tentang bangunan yang sedang dibangun/masjid belum selesai, guru madrasah belum mendapat gaji. Oleh karena itu, dalam karya ini penulis akan memaparkan pola penyaluran zakat di Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait