Disajikan untuk menyelesaikan tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat penyelesaian Program Studi Diploma III Keperawatan. Sahabat saya Henny Rafika Murni yang telah menjadi sahabat selama saya berada di kampus sekaligus menjadi pendukung dalam menyelesaikan tugas akhir ini; Sahabat saya, Annisa Fitriyah Brillianty yang telah menjadi sahabat selama di kampus serta memberikan dukungan dalam menyelesaikan tugas akhir ini;
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang masih menjadi masalah utama dalam dunia kesehatan di Indonesia. Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang masih menjadi masalah utama dalam dunia kesehatan di Indonesia. Hasil tugas akhir terkait asuhan keperawatan penyakit diabetes melitus pada Tn.
Laporan tugas akhir ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat penyelesaian program Diploma Tiga (D3) Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Jember Kampus Lumajang. 8 pola hubungan interpersonal dan hubungan peran, pola citra diri, serta pola reproduksi dan seksual Pelayanan kesehatan diabetes pada Tn. DMT1 : Diabetes melitus tipe 1 DMT2 : Diabetes melitus tipe 2 FDC : Fissed Dosis Kombinasi PDB : Glukosa darah puasa.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh Ilmua Salmaha (2018), jumlah pasien diabetes melitus di ruang Melati pada bulan Agustus 2015 hingga November 2016 tercatat sebanyak 201 kasus menderita diabetes melitus, sedangkan pada tahun 2016 terdapat 62 pasien menderita diabetes melitus. bisul. Diabetes melitus Dalam jangka panjang berdampak parah pada sistem pembuluh darah yaitu mikrovaskuler dan makrovaskuler. Dampak lebih lanjut mengakibatkan kerusakan jaringan dan munculnya ulkus atau gangren kaki diabetik pada penderita diabetes melitus (Guyton, 2011) dalam (Rahayu, 2018).
Beberapa penatalaksanaan komprehensif pasien diabetes dengan ulkus diabetik meliputi 6 kontrol yaitu kontrol mekanis antara lain mengistirahatkan kaki pasien, menghindari tekanan pada area luka dan menggunakan bantalan kaki saat berbaring untuk mencegah luka lecet, dan menggunakan luka baring. jika diperlukan. Teknik perawatan luka saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, tak terkecuali dengan perawat. Salah satu pengobatan luka yang banyak digunakan saat ini adalah teknik perawatan luka modern dengan menggunakan hidrokoloid.
Produk perawatan luka modern melakukan banyak hal untuk meningkatkan perawatan luka, terutama untuk luka kronis seperti luka diabetes. Prinsip produk perawatan luka modern adalah menjaga panas dan kelembapan lingkungan luka untuk mempercepat penyembuhan luka serta mencegah kehilangan cairan jaringan dan kematian sel (De Laune, 1998 dalam Peter Sheehan, 2003 dalam (Nontji et al., 2015)).
Rumusan Masalah
Untuk dressing basah yang mengandung hidrogel, menurut penelitian, penelitian telah mengungkapkan kemampuan hidrogel untuk menghilangkan jaringan nekrotik dibandingkan dengan penghilangan secara enzimatik, menunjukkan bahwa hidrogel lebih baik dalam menghilangkan dan jaringan granulasi dapat tumbuh lebih cepat (Romanelli, 1998). balutan (hidrogel) dapat mengendalikan infeksi lebih baik dibandingkan balutan kasa, dengan balutan modern melaporkan tingkat infeksi luka rata-rata sebesar 2,6% dibandingkan dengan 7,1% pada balutan kasa. Pasien dengan luka kaki diabetik memerlukan perawatan jangka panjang hingga sembuh kembali (Peter Sheehan, 2003) melaporkan bahwa pengobatan pasien dengan luka kaki diabetik akan menunjukkan penutupan luas pada area luka dalam waktu 4 minggu pertama dan penyembuhan sempurna dalam waktu 12 minggu.
Tujuan Penulisan
Manfaat Penulisan
TINJAUAN PUSTAKA
- Kosep Dasar Diabetes Melitus (DM)
- Definisi Diabetes Melitus
- Etiologi Diabetes Melitus
- Klasifikasi Diabetes Melitus
- Patofisiologi
- Menifestasi Klinis
- Pemeriksaan Penunjang
- Penatalaksanaan
- Komplikasi
- Konsep Ulkus Diabetik
- Definisi Ulkus Kaki Diabetik
- Etiologi Ulkus Kaki Diabetik
- Patofisiologi Ulkus Kaki Diabetik
- Klasifikasi Ulkus Kaki Diabetik
- Penatalaksanaan Ulkus Kaki Diabetik
- Pencegahan Ulkus Kaki Diabetik
- Konsep Asuhan Keperawatan
- Pengkajian
- Diagnosa Keperawatan
- Intervensi
- Implementasi
- Evaluasi
Diabetes melitus tipe II disebut juga diabetes melitus non-insulin-dependent (DMTTI) atau diabetes melitus non-insulin-dependent (NIDM). Ini adalah kelompok heterogen bentuk diabetes ringan, yang terutama terjadi pada orang dewasa, namun terkadang juga dapat terjadi pada masa kanak-kanak. Rendi & Margareth (2012) menjelaskan bahwa Kelompok Data Diabetes Nasional klasifikasi diabetes mellitus: Klasifikasi dan diagnosis diabetes mellitus dan kategori intoleransi glukosa lainnya: .. a) Insulin-dependent type (DMTI) tipe I b) . Pada diabetes mellitus tipe I, sel β pankreas, yang biasanya menghasilkan hormon insulin, dihancurkan oleh proses autoimun, sehingga memerlukan suntikan insulin untuk mengontrol kadar gula darah.
Diabetes melitus tipe II terjadi karena berkurangnya sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin) atau karena penurunan jumlah insulin. Diabetes melitus (DM) merupakan kumpulan gejala kronis dan sistematis yang ditandai dengan peningkatan gula/glukosa atau hipergliserin darah yang disebabkan oleh berkurangnya sekresi atau aktivitas insulin sehingga menyebabkan terhambatnya metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak. Mekanisme pasti yang mendasari resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada DM tipe 2 belum diketahui, meskipun faktor genetik memegang peranan utama (Tarwoto et al., 2012).
Diabetes melitus tipe I, bila penyuntikannya tertunda lebih dari 10 hari, akan mudah terjerumus ke dalam precoma KAD atau KAD. Tjokroprawiro dkk (2015) menjelaskan bahwa menurut cara kerja OAD dan keberadaan berbagai OAD, OAD dapat dibagi menjadi 6 kelompok. Insulin Aspart, Lispro, Glulisin c) Insulin kerja sedang: NPH, Lente. ), contoh: Insulin Lispro 75/25 dan Aspart 70/30.. e) Insulin kerja panjang (long-acting insulin):.
Komplikasi diabetes mellitus diklasifikasikan menjadi akut dan kronis, termasuk komplikasi akut antara lain hipoglikemia, ketoasidosis diabetik (DKA), dan koma metabolik hipergluicemic hyperosmolar (HHNC). Usia tua, kontrol gula darah yang buruk, hiperglikemia berkepanjangan dan kurangnya perawatan kaki (Tarwoto et al., 2012). Dari ketiga mekanisme ini, kontraksi pompa otot betis adalah yang paling penting (Tarwoto et al., 2012).
Perawat memiliki peluang yang signifikan untuk meningkatkan dan menjaga kesehatan kaki, mengidentifikasi masalah akut yang muncul, memberikan nasihat kepada pasien tentang faktor risiko dan mendukung praktik perawatan diri yang tepat (Tarwoto et al., 2012). Melakukan perawatan kaki pada penderita diabetes melitus sangat penting dilakukan untuk mencegah terjadinya cedera pada kaki. Pada konsep keperawatan ini menjelaskan tentang konsep pengkajian, pola kesehatan, dan pemeriksaan fisik pada pasien diabetes melitus dengan tukak diabetik.
Salah satu diagnosa keperawatan yang terjadi pada pasien diabetes adalah kerusakan integritas jaringan. Pengendalian respon vaskular, aktivitas seluler dan pembentukan bahan kimia sebagai mediator pada area luka merupakan komponen yang saling berkaitan dalam proses penyembuhan luka (Marvinia et al. 2013).
METODE PENULISAN
- Desain Penulisan
- Batasan Istilah
- Asuhan Keperawatan
- Klien Diabetes Meltus dengan Ulkus Diabetikum
- Partisipan
- Lokasi dan Waktu
- Lokasi
- Waktu
- Pengumpulan data
- Proses pengumpulan data
- Teknik pengumpulan data
- Etika Penulisan
- Informed Consent
- Tanpa Nama (Anonimity)
- Kerahasiaan (Confidentiality)
Proses pendataan klien 1 dimulai pada tanggal 6 September 2019 hingga 8 September 2019, sedangkan untuk klien 2 dilakukan pada tanggal 25 September 2019 hingga 27 September 2019. data laki-laki dan perempuan. , lebih dari 65 tahun, dengan keluhan utama klien berupa luka pada kaki yang sulit sembuh dan terasa nyeri, ditandai dengan kerusakan integumen atau subkutan. Terdapat keterbatasan karakteristik yang terjadi pada klien diabetes melitus yang mengalami ulkus diabetikum yaitu kerusakan pada integumen atau subkutan menurut (Judith M Wilkinson, 2011) Keterbatasan karakteristik yang sama juga terjadi pada klien yaitu kerusakan pada integumen atau subkutan.
Intervensi keperawatan pada klien diabetes melitus dengan masalah keperawatan kerusakan integritas jaringan terdapat 5 intervensi keperawatan dasar, dan intervensi keperawatan yang digunakan ada 3 intervensi yaitu positioning untuk mencegah ulkus dekubitus, perawatan luka dan penyuluhan cara merawat luka ulkus DM. Implementasi keperawatan dilakukan pada klien diabetes melitus dengan masalah keperawatan kerusakan integritas jaringan sesuai dengan. Evaluasi keperawatan klien diabetes melitus dengan masalah keperawatan kerusakan integritas jaringan berhasil dilakukan yaitu 11 kriteria outcome sesuai (Judith M Wilkinson, 2011).
Diharapkan penulis dapat mengaplikasikan ilmu dan pengalaman yang didapat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien diabetes mellitus dengan masalah keperawatan atau kerusakan integritas jaringan di ruang Melati 11 dan 12 RSUD Dr. Hal ini dikarenakan rusaknya integritas diabetes mellitus klien dapat mengakibatkan risiko amputasi jika perawatan luka yang tepat tidak diberikan. Keluarga juga harus memberikan perawatan pada klien diabetes melitus yang mengalami penyakit diabetes melitus dengan masalah keperawatan yang merusak integritas jaringan. Penulis mengajarkan cara merawat luka dengan cara menjaga kebersihan luka dan membalut luka, serta memberikan edukasi mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan.
Rumah sakit diharapkan memiliki ruangan khusus untuk tukak diabetik dan perawat yang terlatih dalam bidang diabetes dan penanganan luka komplikasi tukak diabetik. Jumlah klien penderita diabetes saat ini semakin meningkat, rata-rata juga memerlukan observasi, tindakan dan terapi yang intensif agar penyembuhan luka menjadi lebih baik. Harapan kami selanjutnya penulis dapat mengidentifikasi dengan baik dan cermat permasalahan dan keluhan pasien masalah keperawatan mengenai kerusakan integritas jaringan pada klien diabetes, sehingga penerapan asuhan keperawatan dapat dilaksanakan secara maksimal dan dilaksanakan bekerjasama dengan tim. dan profesional medis lainnya.
Berdasarkan laporan kasus penulis, klien menjalani positioning, perawatan luka dan konseling cara perawatan ulkus DM diabetik. Hasil yang diperoleh setelah melakukan tindakan keperawatan tersebut berbeda pada kedua klien, sehingga diharapkan pada penulis selanjutnya lebih fokus pada tindakan yang tepat pada klien dengan memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk proses penyembuhan klien. Berdasarkan hasil implementasi dan evaluasi klien diabetes melitus yang mengalami luka diabetik setelah dilakukan tindakan perawatan luka, terdapat hasil yang terlihat yaitu luka tidak berbau, eksudat berkurang dan luka berwarna merah.
Dengan demikian penulis dapat memperkirakan waktu yang dibutuhkan dalam perawatan luka pada klien penderita ulkus diabetikum. Setelah sesi konseling, kami berharap peserta dapat memahami penyembuhan luka pada pasien diabetes.
HASIL DAN PEMBAHASAN
- Gambaran Lokasi Penulisan
- Karakteristik Pasien
- Pengkajian
- Identitas klien
- Riwayat Penyakit
- Perubahan Pola Kesehatan
- Pola Nutris dan Metabolik
- Pola Eliminasi
- Pola Istirahat Tidur
- Pola Pengetahuan dan Persepsi Sensori
- Pola Hubungan Interpersonal dan Peran, Pola Konsep Diri, dan
- Pemeriksaan Fisik (pendekatan head to toe/pendekatan system)
- Pemeriksaan Fisik Kepala Sampai Leher
- Pemeriksaan Sistem integumen
- Pemeriksaan Sistem Pernapasan
- Sistem Kardiovaskuler
- Sistem Pencernaan
- Sistem Endokrin dan Sistem Genetalia
- Sistem Muskuloskeletal dan Integument
- Pemeriksaan Fisik Ulkus Kaki Diabetik
- Pemeriksaan Laboraturium
- Terapi Pengobatan
- Diagnosa Medis
- Analisis Data
- Analisa data lain yang muncul
- Diagnosa Keperawatan
- Intervensi Keperawatan
- Implementasi keperawatan
- Evaluasi Keperawatan
- Kesimpulan
- Pengkajian Keperawatan
- Diagnosa Keperawatan
- Intervensi Keperawatan
- implementasi Keperawatan
- Saran
- Bagi Penulis
- Bagi Perawat
- Bagi Keluarga
- Bagi RSUD dr. Haryoto Lumajang
- Bagi Penulis Selanjutnya