• Tidak ada hasil yang ditemukan

Antara Harapan dan Kenyataan

N/A
N/A
Jihan Sekar

Academic year: 2024

Membagikan "Antara Harapan dan Kenyataan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

“Antara Harapan dan Kenyataan”

Suara dering dari gawai pintar warna biru berbunyi yang menunjukkan pukul 06.00 WIB. Aku terbangun dari tidur lelapku. Aku memiliki janji dengan adik tingkatku. Sebenarnya, aku mengajak temanku untuk menemani dan membantuku dalam mengerjakan penelitian tugas akhirku. Dia menyetujuinya karena memiliki kepentingan yang berbeda di tempat yang sama. Oleh karena itu, aku memaksakan diri untuk tidur lebih awal agar jam biologisku mau bekerja sama agar bangun pagi. Setelah itu, aku bergegas untuk mandi, sarapan, kemudian bersiap-siap dengan peralatan yang akan dibawa.

Aku sudah sampai di tempat penelitian kemudian mendatangi temanku yang tiba lebih dulu. Kami menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk menyelesaikan tugas masing-masing. Aku melihat temanku sedang mengali tanah dengan sekop. Aku ingin membantunya, hitung saja balas budi. Kami pun berbasa-basi sekadar menghilangkan kebosanan.

“Ini berapa kilo mau diambil tanahnya, Jo?”, ujarku.

“Hmm, ada enam kantong, Mbak, beda-beda beratnya tiap kantong, nanti aku kasih tahu, Mbak”, ia membalas.

“Oh, siap hehehe”,

“Hmm, ini kamu kok sudah menyiapkan diri buat penelitian, padahal bulan ini angkatanmu banyak yang masih seminar proposal lho”, seruku.

“Jadi gini, Mbak Ika. Aku tuh mulai penanamannya kan Agustus. Aku juga udah mulai uji kualitas benih. Tapi tanahnya itu, ya media tanam itu variabel bebas, ya kayak perlakuan gitu lah. Itu biar homogen butuh waktu dua bulan, Mbak”, ujarnya.

“Oalah gitu toh. Bagus, sih. Artinya, kamu paham sama isi skripsimu hehe, jangan kayak aku yang apa-apa bingung, jadinya ya gini deh lama, masih ambil data juga”, ujar diriku yang berusaha memahaminya.

(2)

“Oh ya, kamu udah presentasi belum?”, tanyaku.

“Sudah, Mbak. Oh ya, Mbak. Aku kemarin ada lihat loh ada mahasiswa yang pembimbingnya kesal.”, ia menjawab.

Aku bertanya dengan heran, “Lha, kenapa bisa gitu?”

“Yah, sebenarnya, bukan satu dosen aja sih yang komplain. Ada yang isi slide PPTnya kebanyakan teks, terus ada yang cara ngomongnya kecepatan dibilang kayak kumur-kumur, terus ada yang topiknya tidak sesuai keahlian pembimbing. Aku rasa mereka ini jarang koordinasi sama pembimbingnya.”, ujarnya dengan nada yang sedikit takut.

Aku bergidik ngeri. Otakku memunculkan pikiran kemungkinan skenario aku disemprot oleh pembimbingku. Aku mengingat saat satu anak bimbingan dikomplain keras karena waktu pengumpulan yang begitu mepet, lalu terdapat banyak kesalahan dari isi proposal kami. Aku berusaha keras untuk menyelesaikan tugas akhir ini dengan layak, tidak usah perfeksionis. Jikalau ada hal yang tidak kuketahui, aku akan mengirim chat kepada pembimbingku.

Aku pun membalas, “Kalau kayak gitu sih ya kita tahu diri aja, dosen tuh udah sibuk mengajar, mengerjakan penelitian, lalu memberi nilai, mungkin lagi sensitif. Aku rasa kita juga harus memaklumi, ya kita mahasiswa masih butuh bimbingan mereka.

Mereka ilmunya udah tinggi, terus udah banyak pengalaman dari publikasi kan ya. Ya udah deh ndak usah diambil hati banget, yang penting lulus aja lah”.

Ya Tuhan, kenapa aku enteng sekali mengucapkan kalimat seperti itu.

Perasaanku sebenarnya juga takut dan khawatir. Aku berusaha untuk menenangkan adik tingkatku, tapi aku juga tidak tenang. Miris sekali, tapi tetap semangat. Aku anggap perkataanku ini sebagai afirmasi positif saja.

“Iya hehehe, aku takut aja sih, Mbak. Aku memikirkan biar cepat lulus dari sini biar ndak bayar UKT lagi. Ya udah lah, pasrah aja hehehe”, ujarnya dengan pasrah.

Iya, Jo. Aku pun sama. Aku lelah menghadapi kenyataan bahwa sisa masa studiku makin berkurang. Pikiranku bercabang ingin menyelesaikan studi secepatnya agar tidak menambah UKT yang menguras duit orang tuaku. Di sisi lain, kenyataan

(3)

berkata lain. Kesulitan menghantamku saat di lapnagan untuk mengambil data. Kalau ada jam pasir, mungkin bagian bawahnya sudah separuh lebih yang jatuh pasirnya.

“Waduh cuacanya mau mendung nih, Joshua. Ayo cepat selesaikan yuk, takut hujan ntar susah”, seruku.

“Baik, Mbak”, ia membalas.

Aku dan adik tingkatku sudah menyelesaikan pengambilan sampel tanah. Aku izin pergi sebentar untuk membeli tisu. Aku menyarankan temanku untuk fokus ke pembuatan media tanamnya terlebih dahulu. Setelah itu, kami melanjutkan untuk melakukan penyemaikan. Iya, giliranku sekarang. Kami pun berbasa-basi sekadar menghilangkan kebosanan.

“Hmm, semester akhir ngapain aja, Mbak. Kira-kira masih banyak tugas ndak?”, ujarnya memulai percakapan.

“Iya, gabut tapi nanggung. Kamu tahu lah hehehe. Aku udah lepas fokus dari UKM sih, paling bantu anak divisiku kalau mau nanya-nanya soal realisasi program kerja. Eh kamu kan satu divisi sama aku. Ya udahlah, dah tua ndak usah macam- macam”, jawabku.

Dia pun bertanya lagi, “Oh ya, Mbak, aku udah ndak ikuti agenda kelompok studi loh. Ketua divisi sekarang siapa ya, Mbak?”

“Hmm, Safira”, ujarku.

“Safira tuh yang mana ya, Mbak? Kayaknya ndak seangkatan sama aku”, tanyanya.

Aku menjawab, “Itu loh, Jo. Anak 2020. Eh tapi wajar sih kamu ndak kenal, kita aja selama kuliah ini di rumah mulu, laptopan mulu. Sangat disayangkan sih sistem daring ini. Tapi siapa yang mau pandemi ya, kita juga harus adaptasi sih. Walaupun aku rasa kuliah atau kegiatan lainnya jalannya kurang optimal”.

“Oh ya, Mbak di divisi RT sekarang gimana progresnya?”, tanyanya lagi.

Aku menjelaskan, “Hmm apa ya, aku kemarin minta tolong si Safira dan anak PJ sewa barang buat publikasi sih, sama aku agak kesusahan pas anak-anak tanya tentang

(4)

wirausaha. Jujur aja aku ndak ada pengalaman di sana, Nah, aku perjelas lagi nih. Jadi, aku kemarin hubungi anak 2020 buat pertanyaan tentang kesibukan, kesanggupan jadi ketua divisi gitu. Nah, Safira ini kebetulan ada pengalaman jual merchandise gitu. Lalu, pas aku kerja sama dia, aku suka ide dan masukannya. Itu sih pertimbanganku dan anak- anak pengurus harian yang lain. Iya, hitung-hitung pengalaman sih, walaupun program kerja wirausaha mentok cuman buat lomba desain internal aja. Tapi program kerja yang lain aku bisa tangani sih sampai aku buat guideline”.

“Oalah gitu toh, Mbak. Sebelumnya, aku minta maaf banget ndak kenal sama anak angkatan di bawahku.”, ujarnya dengan nada agak melas.

“Eh, santai aja kali, masih ada hal lain yang perlu diingat hahaha. Oh ya, aku ingat kamu ikut paduan suara kampus ya?”, ujarku untuk memecah keheningan.

“Iya, Mbak. Kenapa?”, ujarnya.

“Kepo aja sih. Nah, kan setauku kalau paduan suara ada kelompoknya ndak sih.

Kalau cowok kelompoknya apa aja ya?”, balasku

Bass, baritone, tenor, Mbak.”, jawabnya.

“Kalau kamu masuk yang mana?”, tanyaku dengan penasaran.

Dia pun menjawab, “Aku tenor, Mbak”.

Aku membalas dengan pengetahuan sekedarnya, “Oalah, aku taunya dari K-Pop sih, Jo, hehehe. Kira-kira kamu tahu jenis suaramu dari mana? Terus kamu bisa ndak nyanyi range baritone gitu hehehe”.

“Kalau aku tahunya dari aplikasi piano di HP sih, terus aku sesuaiin. Nanti ada seleksi dari UKMnya juga. Kalau aku sih ndak bisa nyanyi baritone, Mbak”, ujarnya.

Aku pun mengangguk paham, lalu membalas, “Oalah gitu toh, maklumlah aku awam banget. Oh ya biasa kalian latihan di mana?”.

“Di Auditorium Kampus, Mbak. Tapi karena daring ya, kami pakai google meet atau zoom gitu”, balasnya.

“Terus kalau UKM ikut lomba tuh, itu tingkat apa yang diikuti, terus kamu pernah ikut ndak?”, tanyaku lagi.

(5)

Dia menjelaskan, “Ada nasional dan internasional, Mbak. Aku belum pernah ikut lombanya, Mbak. Biasa yang diikutkan lomba itu udah ada di sini. Aku masih di kampung halaman. Aku ikut lomba padus nanti Juli, Mbak. Doakan ya, Mbak”.

Aku menjawab dengan rasa terkesima, “Woah, keren banget kamu. Kira-kira ikut lomba gitu udah dibayarin atau kamu bayar sendiri?”

“Aku ada ikut bayar sih, Mbak. Sekitar 1 juta-an udah sama penginapan, transportasi, mungkin makan juga. Aku lupa, Mbak”, ujarnya.

“Gila sih, mahal banget. Tapi menurutku sesuai lah dengan nilainya, kalau udah pakai transportasi lombanya bergengsi. Semangat ya, Jo. Semoga hasilnya diberikan yang terbaik sama Tuhan, ya.”, ujarku dengan rasa terkejut.

Aku menyeletuk dengan apa yang ada dipikiranku. Kan dia bertanya tentang apa yang bisa dilakukan di semester akhir. “Aku juga ya paling ikut lomba di Instagram, yang gratis hehehe. Untuk sertifikat masuk mata kuliah eksrakurikuler, sih. Mungkin kamu juga bisa gitu pas semester akhir.”

Dia pun mengangguk, lalu membalas, “Oalah oke-oke. Terima kasih atas dukungannya, Mbak. Oh ya, Mbak. Aku mau nanya dong. Mbak abis lulus nih ada rencana gitu ndak?”.

Aku pun membeku sesaat. Aku sama sekali tidak ada bayangan yang pasti tentang masa depanku. Sangat abu-abu dan tidak visioner sekali diriku, tapi itu lah faktanya. Aku menjawab dengan ala kadarnya, “HAHAHAHA.... hehehehe ndak tahu aku. Aku pengen kerja yang halal aja. Boro-boro aku punya mimpi yang muluk-muluk, otak pas-pasan gini, cukup bersyukur jadi orang yang berguna bagi keluarga. Kalaupun aku nanti Mungkin aku kurang minat berkecimpung di dunia akademisi ya. Pengen kerja yang lebih banyak praktek aja. Karena aku sudah pusing kuliah ngerjain laporan, isinya teoritis semua. Kalau kamu gimana? Mau lanjut S2 atau langsung kerja?”.

“Aku kayaknya ndak ambil pascasarjana dulu sih, Mbak. Soalnya aku merasa kurang minat di program studi ini. Mungkin sama kayak Mbak Ika ya hehehe. Aku agak menghindari jadi dosen sih, Mbak. Mbak juga udah tahu kan alasannya hehehe”, jawabnya.

(6)

Aku pun mengangguk dan berkata, “Hmm, it’s okay. Aku punya cerita dari senior anak S2. Kami ketemu pas di laboratorium. Dia curhat tipis-tipis sih lagi pusing soal duit. Beli bahan-bahan, alat, sarana, buat publikasi jurnal bebas akses udah habis berjuta-juta rupiah. Padahal dia udah pakai beasiswa loh. Jadi, aku rasa kamu perlu cari informasi tentang itu. Kuliah itu butuh duit banyak. Kita masih dalam tanggungan orang tua, rasanya aku kurang enak aja sih. Apalagi setelah dihantam kenyataan, minatku terhadap dunia akademik pudar”.

Dia mendengarkan dengan seksama lalu membalas, “Oalah gitu, Mbak. Oh ya, ini semaianku udah selesai ya, Mbak”.

“Makasih banyak, Joshua. Kalau kamu perlu bantuanku jangan sungkan ya. Kita saling bantu aja, penelitian berat loh. Oh ya, kayaknya udah mau maghrib nih, beres- beres yuk”, ujarku

“Siap, Mbak”, serunya.

Kami membereskan gazebo yang digunakan untuk melakukan persiapan penelitian. Matahari sudah mulai tenggelam. Kami segera pulang bersama-sama dengan bis. Setelah bis berhenti, kami berpisah menuju tempat tujuan masing-masing. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Itulah hidup yang memiliki siklus. Kami yang memiliki tujuan yang berbeda, namun kami memiliki persamaan. Kami yang datang dari berbagai tempat dengan membawa berbagai harapan di pundak kami. Sebagai manusia, orientasi tujuan hidup kita adalah belajar untuk membela nilai yang kita anut dan dianggap benar dengan mencurahkan waktu, pikiran, tenaga dan harta. Hal ini dapat direalisasikan dengan bekerja keras, berkorban, menyerahkan diri kepada Tuhan, dan menjaga hubungan sosial yang baik dan stabil.

Referensi

Dokumen terkait