TUGAS ARSITEKTUR TRADISIONAL NUSANTARA DAN BUDAYA PENJELASAN DARI PENGARUH 3 AGAMA
DISUSUN OLEH:
MUH. WILDAN FARAS TORIQ 220211501004
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2023
DAFTAR ISI
Contents
BAB I ... 3
ISLAM ... 3
A. Sejarah Arsitektur ... 3
B. Ciri Khas Arsitektur ... 4
C. Elemen Yang Mendapatkan Pengaruh ... 5
BAB II ... 6
KRISTEN AWAL ... 6
A. Sejarah Arsitektur ... 6
B. Ciri Khas Arsitektur ... 7
C. Elemen Dalam Arsitektur ... 7
BAB III ... 9
HINDU-BUDDHA ... 9
A. Sejarah Arsitektur ... 9
B. Ciri Khas Arsitektur ... 10
C. Elemen Dalam Arsitektur ... 11
DAFTAR PUSTAKA ... 13
BAB I ISLAM A. Sejarah Arsitektur
Arsitektur merupakan seni yang merancang serta membuat kontruksi bangunan, jembatan, masjid atau dalam bentuk lainnya dengan segala bentuk metode dan gaya rancangan suatu kontruksi bangunan. Jika dikaitkan dengan dunia Islam maka arsitektur beralih fungsi dan maknanya yang berkaitan dengan dunia Islam, artinya lebih mengandung unsur rohaniah.
Arsitektur Islam merupakan salah satu bagian dari kebudayaan Islam yang merupalam hasil usaha manusia yang berwujud konkrit dalam upayanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Arsitektur Islam merupakan arsitektur yang membentang dan berevolusi dalam kultur muslim yang membentang sepanjang sejarah Islam. Arsitektur Islam mencakup bangunan religius. Pola yang dikedepankan pada arsitektur Islami sangat bervariasi mulai dari pola arsitektur klasik hingga modern.
Kebudayaan merupakan sesuatu yang diciptakan oleh manusia sebagai bentuk usaha dalam memberikan bentuk serta susunan-susunan baru kepada pemberian Tuhan sesuai dengan kebutuhan jasmani dan rohani. Sebelum Islam datang dan mempengaruhi seni arsitektur Islam, arsitektur telah berkembang pesat seperti di Yunani, Persia, Mesir Kuno, dan bangsa- bangsa lainnya. Pada umumnya, corak bangunan arsitektur berbentuk seperti bangunan Gereja, Istana Raja, Tata Kota, Kuburan dan bangunan lainnya. Kemudian, Islam datang dan mempengaruhi gaya arsitektur bangunan yang bernuansa
Islam, seperti pengubahan Gereja menjadi Masjid tanpa mengubah bentuk aslinya dan hanya mengubah pola-pola ruangan sesuai kebutuhan Islam itu sendiri. Selama berabadabad semasa penyebarannya ternyata Islam dapat mengubah sikap hidup bangsa-bangsa dan daerah-daerah yang terjangkau.
Dari tanah Arab, kemudian menyebar luas ke Timur melalui Mesopotamia, Persia sampai ke daerah Lembah sungai Indus. Sedangkan ke Barat menyebar luas melalui Syiria, Mesir, bahakan sampai ke Spanyol melalui Maroko. Kemudian, dalam perkembangan selanjutnya, melalui berbagai benua dan samudra asitektur Islam sampai ke daerah Cina hingga sampai Indonesia. Dan kemudian, dapat menyebar luas ke sabagian Benua Afrika hingga ke daratan Benua Eropa.
Awal adanya arsitektur Islam dimulai dengan adanya bangunan masjid sederhana pada awal perkembangan Islam, dengan pola bangunan yang terbuka serta menggunakan bahan-bahan bangunan yang digunakan cukup sederhana, seperti batang kurma, pelepah, dahan atau daun kurma, dan batu yang berasal dari gunung.
Pada tahap awal pembangunan, tiang penyangga atap masjid terbuat dari batang kurma yang ditopang dengan batu. Atapnya terbuat dari daun atau pelepah kurma. Dinding sekelilingnya serta batasan-batasan tertentu memakai batu-batu yang berasal dari pegunungan atau batu bata yang ada di sekitarnya untuk menghindari dari terjadinya kerobohan karena tiupan angin. Pola masjid seperti itu merupakan masjid lapangan. Karena, yang menjadi unsur utamanya adalah lapangan dibagian tengah masjid yang dikelilingi dengan dinding sebagai tembok pembatasnya. Kesederhanaan bentuk dari masjid ini yang memungkinkan
memberikan kemudahan ketikan proses pembanguanan berlangsung, juga akibat kebiasaan
adat lama Arab yang senantiasa menampilkan bentuk lapangan terbuka di antara dinding- dinding pembatas, dan mereka juga mempergunakan sebagai fasiltias untuk tempat
pertemuan dan aktifitas kehidupan lainnya. Masjid menjadi pusat setiap kegiatan masyarakat Arab pada saat itu.
Pada perkembangan selanjutnya, masjid yang pertama kali dibangun oleh Nabi Muhammad semakin berkembang dari masa ke masa. Dan juga hingga saat ini terus direnovasi dan diperluas. Contohnya masjid Nabawi di Madinah Mukarramah. Secara khusus, arsitektur Islam dibangun segera setelah masa Nabi Muhammad. Pada awalnya, berkembang dari pengaruh Romawi, Mesir, dan Persia. pada awal 691 M diselesaikannya pembangunan Qubbat al Sakrah (Dome of the Rock) di Yerusalem. Pada bangunan ini menyertakan di dalamnya interior berupa kubah bundar dikelilingi oleh ornamen repetitif dekorasi Arab.
Masjid merupakan bangunan religi yang merupakan perpaduan dari fungsi bangunan sebagai unsur bangunan arsitektur Islam yang memiliki pedoman dalam ketentuanketentuan yang diperintahkan oleh Tuhan sebagai tempat pelaksanaan ajaran-ajaran Islam. Bangunan arsitektur Islam ini merupakan ungkapan tertinggi dari nilai-nilai luhur suatu kehidupan manusia yang juga melaksanakan ajaran syariat Islam. Oleh karena itu, tampil adanya arsitektur Islam berupa masjid dengan segala bentuk, gaya, corak serta penampilannya
B. Ciri Khas Arsitektur
Berikut ciri atau karakter khas yang biasa dijumpai dalam bangunan dengan gaya arsitektur Islam:
1. Menara, Menara adalah konstruksi puncak menara atau menara dengan jendela kecil dan tangga tertutup. Ini adalah salah satu elemen arsitektur Islam yang paling
kuno.Fungsi utama menara adalah kesempatan bagi seorang muazin untuk memanggil orang-orang beriman dari titik tertinggi untuk berdoa. Itu terjadi lima kali sehari: saat fajar, pada siang hari, di tengah hari, saat matahari terbenam dan pada malam hari (subuh, zuhur, ashar, maghrib dan Isya). Mulai abad XI, beberapa masjid memiliki lebih dari satu menara, yang secara tradisional menunjukkan bahwa didirikan oleh seorang sultan.
2. Sarang Lebah (Muqarnas), Berbeda dengan mayoritas kubah Islam yang
mengandalkan pendulum, kubah berdiri di atas drum yang ditopang oleh 16 tiang dan tiang. Dalam arsitektur Islam, liontin sering kali didekorasi dengan ubin atau
muqarnas, sejenis dekorasi pahatan.Karena komposisi pahatan dan pola estetika mereka, muqarnas sering dibandingkan dengan stalaktit atau sarang lebah.
3. Kubah, Seperti banyak gerakan arsitektur inovatif, termasuk tradisi bangunan
Bizantium dan Renaisans Italia, arsitek Islam juga mengintegrasikan kubah ke dalam proyek mereka. Kubah Batu, tempat perlindungan abad VII di Yerusalem, adalah bangunan Islam pertama, di mana terdapat elemen arsitektur ini. Terinspirasi oleh konstruksi Bizantium, bangunan segi delapan ini dimahkotai dengan kubah kayu berlapis emas selama abad XVI.
4. Arches (lengkungan), Arch merupakan salah satu atribut arsitektur Islam.
Lengkungan Islam, terlihat baik di pintu masuk dan interior fasilitas keagamaan dan budaya, dibagi menjadi empat gaya utama: runcing, ogee, tapal kuda, dan multifoil.
Lengkungan runcing memiliki desain membulat dengan puncak berbentuk kerucut.
Jenis lengkungan ini pada akhirnya akan menjadi elemen penting dalam arsitektur Gotik. Lengkungan ogee menyerupai lengkungan runcing. Namun, ujungnya terdiri dari dua garis berbentuk huruf s, diakhiri dengan siluet yang lebih berkelok-kelok.
Lengkungan tapal kuda (juga dikenal sebagai lengkungan lubang kunci) dikaitkan dengan arsitektur Moor. Karena mahkotanya dapat berbentuk bulat atau runcing, jenis struktur ini dirancang untuk melebar dan mempersempit sisinya. Seperti lengkungan tapal kuda, lengkungan multifoil merupakan ciri khas arsitektur Moor. Kubah ini dibedakan dengan beberapa foilnya, atau “daunnya”.
5. Gapura, dan yang terakhir ada gapura. Gapura adalah bagian paling penting di dalam arsitektur islam. Rasulullah membangun gapura sebagai pintu masuk. Tapi
belakangan ini gapura sudah berkembang bahkan penggunaannya hampir ke semua bangunan. Fungsinya pun sama, sebagai pintu masuk. Saat ini gapura memiliki banyak ornamen yang membuatnya terlihat semakin cantik dan menarik.
C. Elemen Yang Mendapatkan Pengaruh
1. Motif Geometric, yakni bentuk-bentuk sederhana dari pola-pola geometris digabungkan atau disatukan untuk membentuk desain.
2. Vegetal Pattern, yakni elemen yang mempunyai pola-pola representasi tanaman dan tidak memiliki makna simbolis.
3. Calligraphy, yakni Ayat-ayat Alquran sering ditulis dalam bentuk ini untuk memperkuat pesan dan juga menarik secara estetika.
4. Minarets atau tower, yakni elemen mendasar dari arsitektur Islam berupa tower dengan ujungnya berbentuk bawang kerucut (onion shaper crown).
5. Domes, yakni elemen masjid yang paling umum dan menjadi simbol utama dari masjid.
6. Fountains/Water, yakniunsur dekoratif yang dapat berfungsi sebagai sumber pendinginan.
7. Light, yakni dengan menambah menambah kualitas tampilan arsitektur yang lebih dinamis melalui penggunaan pencahayaan (lighting) guna meningkatkan tekstur dan kontras elemen.
8. Other Elements, yakni elemenelemen yang muncul pada elemen bangunan, seperti taman, lengkungan, kolom atau halaman.
BAB II KRISTEN AWAL A. Sejarah Arsitektur
KRISTEN AWAL (ABAD 3-7) Seni pada masa ini merupakan kelanjutan dari senirupa kuno, romawi dan byzantium. Pada awalnya, Kristen menolak adanya penggambaran pola- pola dekoratif yang menggambarkan halhal yang bersifat agamis dan spiritualis. Setelah abad ke empat, dibawah pengaruh imperialisme, awal arsitektural Kristen sangat dipengaruhi oleh gaya kerajaan Romawi, yaitu bangunan berskala monumental. Gedung-gedung gereja dibagi menjadi dua tipe; hall yang berbentuk longitudinal-Bassilica; bangunan terpusat-mausoleum atau tempat pembaptisan.Eksterior gereja pada umumnya polos dan minus dekorasi yang kontras dengan nuansa interiornya yang cenderung dekoratif dan glamour.
Di antara demikian banyak pemahaman tentang arsitektur, arsitektur dikenal juga sebagai suatu tradisi yang berkembang. Dari waktu ke waktu wajah arsitektur selalu mengalami perubahan. Hal-hal yang mempengaruhi perkembangan dan pengembangan arsitektur tidak hanya berupa keadaan eksternal, tetapi juga keadaan internal. Dimaksud dengan keadaan eksternal adalah keadaan yang melingkungi atau mengitari kehadiran arsitektur, seperti keadaan geografik, geologik, iklim, bahan bangunan, budaya dan pranata masyarakat, sejarah ataupun agama. Sementara itu, dimaksud dengan keadaan internal adalah segenap keadaan yang berada di dalam diri perancang dan pembangun seperti paham atau pola pikir serta pola penalaran, kemampuan teknologi dan berteknologi, daya imajinasi dan daya kreasi, dan semacamnya.
Agama Kristen lahir di kota Betlehem yang terletak di Palestina sekitar tahun 4-8 SM, pada masa kuasaan raja Herodes. Pada masa-masa awal berdirinya, agama Kristen cenderung dianggap sebagai ancaman hingga terus-menerus dikejar dan dianiaya oleh pemerintah Romawi saat itu. Namun dengan gencarnya para rasul menyebarkan ajaran Kristen, perlahan agama ini mulai berkembang jumlahnya, sehingga pemerintah Romawi semakin terancam oleh keberadaan agama Kristen. Romawi pun berusaha menekan, dan bahkan melarang agama Kristen, karena umat Kristen saat itu tidak mau menyembah Kaisar, dan hal ini menyulitkan kekuasaan Romawi.
Sebagai agama resmi negara Kekristenan menyebar dengan sangat cepat. Namun Gereja juga mulai terpecah-pecah dengan munculnya berbagai aliran (bidaah). Salah satu upaya untuk menekan bidaah adalah dengan diadakannya Konsili Nicea yang pertama pada tahun 325 M.
Konsili Nicea mencetuskan pengakuan iman umat Kristen keseluruhan pertama kali, sebagai tanda persatuan Kristen universal yang dibedakan dari umat-umat Kristen yang bidaah. Salah satu contohnya adalah bidaah arianisme, yang merupakan salah satu krisis bidaah terbesar saat itu yang menjadi alasan utama diadakannya Konsili Nicea yang pertama.
Ketika Kerajaan Romawi runtuh dan terceraiberai, Gereja Kristen tetap bertahan. Pada abad ke-11 terjadilah Perang Salib, di mana kekejaman prajurit perang salib menjadi sejarah kelam Kristen yang hingga kini masih banyak disesali. Perang Salib adalah perang agama antara Kristen dan Islam. Dicetuskan pertama kali oleh Paus Urbanus II, Perang Salib I bertujuan
merebut kembali kota suci Yerusalem dari kekuasaan Islam, yang merupakan tempat penting umat Kristen sebagai tujuan ziarah saat itu.
Karena sebagian besar rakyat eropa menganut agama Nasrani maka dibangun juga gereja- gereja untuk beribadat. Namun pembangunan gereja pada abad X masih terbuat dari kayu dan telah banyak dibakar oleh orang- orang Normandia, sehingga sebagian besar katedral tersebut sekarang sudah musnah. Baru pada abad XI mulai dibuat Katedral dari batu dengan bentuk yang indah dan lebih bagus. Kaedral tersebut dibangun dengan gaya romawi, bentuknya kaku tidak menarik, sangat gelap, memyerupai gereja basilika pada zaman romawi kuno, namun juga mempunyai nilai seni yang tinggi.
B. Ciri Khas Arsitektur
Arsitektur Kristen Awal memiliki beberapa ciri khas yaitu:
1. Temboknya tebal, bangunannya tidak terlalu tinggi, atapnya melengkung membentuk kubah setengah lingkaran,ruang- ruangnya gelap dan pada dindingnya ada sedikit Ukiran itu berupa gambar- gambar binatang, gambar dedaunan, malaikat dan orang- orang suci.
2. temboknya tebal, bangunannya tidak terlalu tinggi, atapnya melengkung membentuk kubah setengah lingkaran,ruang- ruangnya gelap dan pada dindingnya ada sedikit Ukiran itu berupa gambar- gambar binatang, gambar dedaunan, malaikat dan orang- orang suci.
3. Ukiran gaya fresco yang sangat sederhana.
4. Pilar- pilarnya sangat besar.
5. Bentuk-bentuk denahnya sangat terikat oleh dalil-dalil yang sistematik, yaitu bentuk simetris, jelas dan teratur dengan teknik konstruksi yang bersahaja.
6. Arsitektur ditangani dengan menggunakan daya nalar atau pikiran yang rasional.
C. Elemen Dalam Arsitektur
Arsitektur Kristen awal dipengaruhi oleh beberapa elemen penting yang mencerminkan perkembangan dan karakteristik awal Kristen. Berikut adalah beberapa elemen yang mendapatkan pengaruh dalam arsitektur Kristen awal:
1. Ruang Bawah Tanah (Catacombs): Pada awalnya, umat Kristen beribadah dalam ruang bawah tanah yang disebut catacombs. Ruang-ruang ini digunakan sebagai tempat peribadatan, pemakaman, dan tempat berlindung dari penganiayaan. Arsitektur ini mencerminkan periode kepercayaan Kristen yang rahasia dan tersembunyi.
2. Basilika: Basilika adalah bentuk gereja Kristen pertama yang signifikan. Basilika adalah bangunan panjang dengan langit-langit tinggi yang didukung oleh deretan
tiang. Ini adalah bentuk yang sangat umum digunakan untuk gereja-gereja Kristen awal dan menjadi cikal bakal arsitektur gereja-gereja Kristen selanjutnya.
3. Ornamentasi Sederhana: Arsitektur Kristen awal cenderung sederhana dalam ornamen dan dekorasi, mengingat penganiayaan Kristen pada masa itu. Dekorasi interior gereja pada awalnya minimalis, dengan fokus pada simbol-simbol Kristen seperti ikan (Ichthus), salib, dan lambang agama.
4. Kubah: Penggunaan kubah dalam arsitektur Kristen awal mulai muncul sebagai evolusi dari basilika. Gereja-gereja Kristen awal seperti Hagia Sophia di
Konstantinopel (sekarang Istanbul) menggunakan kubah untuk menciptakan ruang yang luas dan penuh cahaya.
5. Bentuk Silang Latin (Cross-in-square): Gereja-gereja Kristen Ortodoks Timur
mengembangkan bentuk silang Latin yang dikenal sebagai cross-in-square. Ini adalah tipe gereja yang memiliki bentuk silang dengan empat lengan sejajar yang
berpotongan di pusat, menciptakan ruang yang simetris dan sakral.
6. Pengaruh Arsitektur Romawi: Karena Konstantinopel (sekarang Istanbul) adalah ibu kota Kekaisaran Romawi Timur, arsitektur Kristen awal di wilayah ini mendapatkan pengaruh kuat dari arsitektur Romawi. Misalnya, Hagia Sophia adalah contoh terkenal dari arsitektur Kristen dengan pengaruh Romawi.
7. Simbolisme Kristen: Arsitektur Kristen awal selalu mencerminkan simbolisme Kristen. Sebagai contoh, salib yang terletak di atas kubah gereja menjadi simbol yang sangat penting, dan arsitektur tersebut sering dirancang untuk menciptakan suasana yang mengangkat roh dan mempromosikan spiritualitas.
8. Pengaruh Budaya Lokal: Di berbagai wilayah, arsitektur Kristen awal juga
dipengaruhi oleh budaya dan gaya arsitektur lokal. Ini termasuk penggunaan bahan bangunan setempat, gaya hiasan yang khas, dan tradisi konstruksi yang sudah ada.
Arsitektur Kristen awal terus berkembang seiring waktu dan mengalami berbagai pengaruh dari budaya dan periode sejarah yang berbeda. Ini menciptakan beragam gaya arsitektur Kristen, seperti Romawi Kristen, Bizantium, dan Gothic, yang masing-masing memiliki karakteristik uniknya sendiri.
BAB III HINDU-BUDDHA A. Sejarah Arsitektur
Perkembangan arsitektur dan makna bangunan-bangunan Hindu-Buddha di Indonesia merupakan salah satu warisan budaya yang sangat penting dan berharga bagi bangsa
Indonesia. Arsitektur dan bangunan-bangunan Hindu-Buddha di Indonesia memiliki sejarah panjang dan kompleks yang berakar dari kedatangan agama Hindu dan Buddha ke Indonesia pada abad ke-4 Masehi.
Perkembangan arsitektur dan makna bangunan-bangunan ini menggambarkan pemahaman masyarakat Indonesia tentang kosmologi, agama, dan kehidupan sehari-hari. Arsitektur bangunan ini mencerminkan keindahan dan keagungan yang dapat diapresiasi oleh siapa saja, tidak hanya bagi umat Hindu dan Buddha, tetapi juga bagi orang-orang dari berbagai latar belakang budaya dan agama.
Arsitektur bangunan Hindu-Buddha di Indonesia umumnya terdiri dari dua jenis, yaitu candi dan pura. Candi merupakan bangunan suci yang dibangun pada masa Kerajaan Hindu- Buddha di Indonesia, terutama pada abad ke-8 hingga ke-15.
Sedangkan pura adalah bangunan suci yang lebih umum ditemukan di Bali, yang digunakan oleh umat Hindu Bali untuk beribadah. Kuil-kuil Hindu dan Buddha yang dibangun pada masa itu menggabungkan unsur-unsur lokal dengan elemen arsitektur dari India.
Arsitektur Hindu-Buddha di Indonesia ditandai oleh bangunan-bangunan seperti candi, stupa, dan arca yang dibangun selama berabad-abad. Contohnya adalah Candi Borobudur dan Candi Prambanan, dua bangunan kuno yang terkenal di Indonesia. Candi Borobudur, adalah salah satu contoh candi Buddha terbesar di dunia dan merupakan situs warisan dunia UNESCO.
Bangunan ini dibangun pada abad ke-9 dan berisi 504 arca Buddha serta 2.672 panel relief Candi Prambanan adalah contoh bangunan Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini terdiri dari tiga candi utama yang didedikasikan untuk Trimurti Hindu, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa, serta beberapa candi kecil lain yang terletak disekitarnya. Arsitektur candi ini sangat rumit dan rumit, dengan banyak ornamen dan ukiran. Candi Prambanan dibangun pada abad ke-9 di Yogyakarta yang merupakan kuil Hindu terbesar di Indonesia. Bangunan-bangunan ini menggambarkan kosmologi Hindu dan juga menunjukkan hubungan budaya antara India dan Indonesia pada kala itu.
Kedua bangunan ini menunjukkan betapa pentingnya kepercayaan dan kebudayaan Hindu dan Buddha dalam sejarah Indonesia. Bangunan-bangunan ini juga menunjukkan keindahan arsitektur dan seni rupa pada masa itu. Selain itu, mereka menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia pada masa lalu mencari makna dan arah hidup mereka melalui agama dan seni.
Salah satu makna utama dibangunnya bangunan-bangunan ini ia lah untuk memuja para dewa dan dewi dalam agama Hindu-Buddha. Bangunan-bangunan Hindu-Buddha di Indonesia juga
menunjukkan keberadaan kebesaran Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia pada masa lampau.
Sebagai anak Tuhan, kita harus bisa menghargai dan menghormati keberadaan bangunan- bangunan Hindu-Buddha ini. Kita harus bisa belajar dari kebijaksanaan dan kearifan nenek moyang kita yang telah membangun bangunan-bangunan ini dengan sangat indah dan megah.
Kita harus dapat memahami makna dan tujuan dibangunnya bangunan-bangunan ini, serta mengapresiasi keindahan dan keagungan yang tersimpan di dalamnya.
Namun, sebagai anak Tuhan, kita juga harus mampu menyadari bahwa agama dan keyakinan setiap individu adalah hak yang harus dihormati dan diakui. Kita harus memahami bahwa keberadaan bangunan-bangunan Hindu-Buddha ini bukanlah untuk menghakimi atau merendahkan keyakinan agama lain, tetapi sebagai warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.
B. Ciri Khas Arsitektur
Ciri khas Candi Hindu, Menurut Purwo Prihatin dalam buku Seni Rupa Indonesia dalam Perspektif Sejarah (2017), salah satu ciri khas dari candi Hindu ialah bentuk atapnya yang tinggi menjulang. Contohnya Candi Prambanan yang memiliki atap menjulang tinggi. Selain itu, candi Hindu juga memiliki beberapa ciri khas lainnya:
1. Bentuk candi Hindu biasanya lebih ramping dan menjulang tinggi Candi Hindu memiliki bentuk bangunan yang lebih ramping, mungkin bentuk ruangannya seperti segi empat dan tidak terlalu lebar.
2. Ada arca Dewa Trimurti Candi Hindu memiliki arca Dewa Trimurti, yakni Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma. Ini merupakan ciri khas candi Hindu yang membedakannya dengan candi Buddha. Selain arca Dewa Trimurti, biasanya dalam bangunan candi juga bisa ditemui arca Dewa Ganesha, Dewi Durga, dan lain sebagainya.
3. Digunakan sebagai tempat penghormatan orang meninggal serta pemakaman raja, Candi Hindu digunakan sebagai tempat penghormatan orang yang telah meninggal dan lokasi pemakaman raja, pada zaman dahulu. Candi Hindu juga sering digunakan sebagai tempat penyembahan kepada dewa.
4. Struktur candi dibagi menjadi tiga bagian, Candi Hindu memiliki tiga struktur candi, yakni Bhurloka (kaki candi tempat makhluk hidup tinggal), Bhuwahloka (bagian tengah candi melambangkan manusia yang sedang disucikan dan menuju
kesempurnaan batiniah) serta Swahloka (perlambang dunia dewa).
5. Bagian atas atau puncaknya berbentuk ratna, Ratna merupakan bentuk atap yang meruncing. Biasanya menjulang tinggi ke atas disertai dengan bentuk seperti mengerucut (makin lama makin kecil).
6. Biasanya pintu masuk menghadap arah barat, Pintu masuk candi Hindu biasanya menghadap arah barat. Pada bagian pintunya disertai kepala kala dengan rahang bagian bawah.
Ciri khas Candi Buddha, Salah satu ciri khas utama dari candi Buddha ialah atapnya berbentuk stupa. Selain itu, candi Buddha juga memiliki ciri khas lainnya, yaitu:
1. Digunakan sebagai tempat pemujaan dewa, Candi Buddha sering digunakan sebagai tempat pemujaan atau penghormatan kepada dewa. Selain itu, candi Buddha juga dijadikan tempat peribadatan bagi warga Buddha, pada zaman dahulu.
2. Pada candi Buddha terdapat arca Buddha dengan bentuk kesederhanaannya, Dalam candi Buddha biasanya terdapat tiga jenis arca, yakni Dyani-Buddha, Manusi-Buddha, serta Dhyani-Bodisattwa. Ketiga arca ini melambangkan arca Buddha dalam bentuk kesederhanannya. Biasanya disimbolkan dengan sikap tangan atau mudra sebagai bentuk ajakan kemuliaan.
3. Pada relief candi biasanya memiliki kisah tersendiri, Umumnya relief candi Buddha menggambarkan kisah tertentu yang ingin disampaikan . Contohnya kisah dalam relief Candi Borobudur menggambarkan tentang perjuangan kehidupan manusia untuk meninggalkan sisi duniawinya.
4. Struktur candi dibagi menjadi tiga bagian, Candi Buddha memiliki tiga struktur candi, yakni Kamadhatu (melambangkan manusia penuh dosa), Rupadhatu (melambangkan kehidupan manusia yang penuh dengan hawa nafsu), dan Arupadhatu (melambangkan manusia yang mencapai nirwana).
5. Biasanya pintu candi menghadap timur, Pintu masuk candi Buddha biasanya menghadap timur. Pada bagian pintunya disertai kepala Kala dengan posisi mulut menganga tanpa rahang bawah.
6. Bentuk bangunan candi Buddha biasanya lebih melebar, Candi Buddha biasanya memiliki bentuk bangunan yang lebih melebar dan tidak terlalu tinggi. Contohnya Candi Borobudur.
C. Elemen Dalam Arsitektur
Arsitektur Kristen di beberapa wilayah yang pernah memiliki pengaruh kuat dari agama Hindu dan Buddha dapat menunjukkan pengaruh dari kedua agama tersebut dalam elemen- elemen tertentu. Berikut adalah beberapa elemen yang mendapatkan pengaruh dari Hindu- Buddha dalam arsitektur Kristen:
1. Stupa dan Pagoda: Stupa dan pagoda adalah struktur khas dalam arsitektur Hindu dan Buddha. Beberapa gereja Kristen yang dibangun di wilayah-wilayah dengan sejarah Hindu-Buddha dapat menampilkan bentuk bangunan yang terinspirasi oleh stupa atau pagoda dalam elemen-elemen seperti kubah atau menara.
2. Motif Dekoratif: Motif-motif dekoratif yang ditemukan dalam seni Hindu dan Buddha, seperti bunga teratai, lotus, hiasan hewan, dan kaligrafi, dapat muncul dalam ukiran atau hiasan-hiasan dalam gereja-gereja Kristen.
3. Struktur Bangunan: Beberapa gereja Kristen di wilayah yang pernah terpengaruh oleh Hindu-Buddha dapat mengadopsi elemen struktural seperti lantai bertingkat dan platform tinggi yang mirip dengan asrama atau candi dalam Hindu-Buddha.
4. Penggunaan Batu dan Pahat Batu: Hindu-Buddha dikenal karena menggunakan batu sebagai bahan bangunan utama dan mengukirnya dengan seni yang indah.
Arsitektur Kristen di wilayah yang memiliki pengaruh ini mungkin menggunakan batu dan mengadopsi teknik pengukiran yang mirip.
5. Layout Tertentu: Terkadang, layout atau tata letak gereja Kristen di wilayah dengan pengaruh Hindu-Buddha dapat mencerminkan tata letak candi atau kuil Hindu- Buddha, terutama jika gereja tersebut dibangun di atas situs yang sebelumnya memiliki nilai sakral dalam agama Hindu-Buddha.
6. Penggunaan Simbolisme Universal: Beberapa simbol Kristen dapat memiliki korelasi dengan simbol-simbol yang ditemukan dalam agama Hindu dan Buddha,
seperti salib (yang mirip dengan swastika dalam Hinduisme) atau lambang ikan (Ichthus), yang bisa dihubungkan dengan makna yang serupa dalam agama-agama ini.
Penting untuk dicatat bahwa pengaruh ini bervariasi tergantung pada lokasi geografis dan periode waktu tertentu. Arsitektur Kristen dapat menunjukkan pengaruh Hindu-Buddha yang berbeda-beda tergantung pada sejauh mana budaya-budaya ini saling berinteraksi dan berbagi ide-ide arsitektural.
DAFTAR PUSTAKA
Islampos.com. Tersebar di Seluruh Dunia, Ini 7 Ciri Khas Arsitektur Islam. Islampos.com.
Diakses pada Rabu Tanggal 13 September 2023 melalui:
https://www.islampos.com/tersebar-di-seluruh-dunia-ini-7-ciri-khas-arsitektur-islam-208826/
file.upi.edu. Sejarah Kristen Awal. file.upi.edu. Diakses pada Rabu Tanggal 13 September 2023 melalui:
http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._TEKNIK_ARSITEKTUR/19770919200801 2-DIAH_CAHYANI_PERMANA_SARI/KRISTEN_AWAL2.pdf
kompasiana.com. Perkembangan Arsitektur dan Makna Bangunan-bangunan Hindu Buddha di Indonesia. kompasiana.com. Diakses pada Rabu Tanggal 13 September 2023 melalui:
https://www.kompasiana.com/gabriellaaretha7387/641c0ac908a8b51b1b60b372/perkembang an-arsitektur-dan-makna-bangunan-bangunan-hindu-buddha-di-indonesia
Kompas.com. Ciri Khasa Candi Hindu dan Candi Buddha. kompas.com. Diakses pada Rabu Tanggal 13 September 2023 melalui:
https://www.kompas.com/skola/read/2021/03/15/191617869/ciri-khas-candi-hindu-dan- candi-buddha
Janah, RA. Mipta Miftahul. Wardani, Muhammad Rosyad Ridho. Thifana, Agitya Ratu.
Hamidah, Wanda. Fajrussalam, Hisny. (2022). Budaya Arsitektur dalam Islam. Jurnal Pendidikan Tabusai. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2022. Halaman 4302-4312.