Ketua Pelaksana Koordinator Pengabdian Masyarakat dan Kursus Darurat Ibu Arabta M.Peraten Pelawi, S.Kep, Ns., M.Kep. Dalam hal ini pelajar umumnya menjadi korban kecelakaan, namun mereka juga dapat berperan sebagai penolong dengan memberikan bantuan hidup dasar (BHD) kepada orang lain. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa mengenai bantuan hidup dasar bagi korban kecelakaan lalu lintas, guna mengurangi angka kecacatan atau kematian.
Meningkatkan pemahaman siswa atau guru tentang bantuan hidup dasar b. Meningkatkan kesadaran guru dan siswa terhadap pelayanan. Tim pengabdian masyarakat menghubungi SMK Mutiara pada tanggal 17 Agustus untuk mengadakan pelatihan guna memudahkan koordinasi penjangkauan informasi “” dengan memberikan pelatihan. Kegiatan edukasi kesehatan tentang “Bantuan Hidup Dasar Korban Tak Sadar” yang dilaksanakan secara luring pada tanggal 13 Agustus 2020 dengan metode yang digunakan mengajar “Bantuan Hidup Dasar Korban Tak Sadar”.
Dimana akan dilaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk memberikan dukungan dalam kegiatan ini dengan memfasilitasi koordinasi pemberian kegiatan edukasi mengenai “Bantuan Hidup Dasar Korban Tidak Sadar” dengan sasaran kegiatan ini adalah siswa SMK Mutiara pada tanggal 17 Agustus yaitu 60 orang. Metode yang digunakan adalah pengajaran dengan menggunakan media dan mengadaptasi kondisi SMK Mutiar 17 Agustus Kota Bekasi sesuai dengan protokol kesehatan. Kegiatan ini dapat dilakukan atas kerjasama beberapa pihak yaitu para siswa di SMK MUTIARA 17 AGUSTUS, untuk melaksanakan kegiatan promosi kesehatan masyarakat mengenai Konseling Bantuan Hidup Dasar pada korban tidak sadarkan diri di SMK Mutiara 17 Agustus.
Untuk kegiatan selanjutnya akan dilakukan penyuluhan lebih lanjut dengan cakupan kegiatan yang lebih luas dengan harapan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman para siswa di SMK Mutiara 17 Agustus Bekasi Utara.
Jadwal Kegitan No Nama
Anggaran Biaya
PENUTUP
Saran
Diambil dari https://www.healthychildren.org/English/safety-prevention/athome/Pages/First-Aid-Guide.aspx 2016. PROGRAM STUDI PROFESIONAL KEPERAWATAN - PROGRAM STUDI KEPERAWATAN (S1) PROGRAM STUDI PROFESIONAL BIDAN - PROGRAM STUDI KEBIDANAN PROGRAM (S1) PROGRAM STUDI FARMASI (S1) - PROGRAM STUDI KEBIDANAN (D3). PROGRAM STUDI PROFESIONAL KESEHATAN - PROGRAM STUDI KESEHATAN (S1) PROGRAM STUDI PROFESIONAL KEBIDANAN - PROGRAM STUDI KEBIDANAN (S1).
Web : stikesmedistra-indonesia.ac.id Email : [email protected] FORMULIR KESESUAIAN PkM GURU DENGAN PETA JALAN VISI ILMIAH. 2 Gelar Relawan Bantuan Hidup Dasar (BHD) Bagi Korban Tak Sadar 3 Relawan Tahun 2020. Resusitasi merupakan upaya menyalurkan oksigen ke otak, jantung, dan organ vital lainnya melalui suatu tindakan yang meliputi kompresi dada dan pemberian ventilasi yang cukup.
Pelayanan resusitasi merupakan tindakan kritis yang dilakukan ketika terjadi keadaan darurat, terutama pada sistem pernafasan dan sistem kardiovaskular.
Indikasi
Seseorang yang menjalani CPR bisa meninggal dalam waktu yang sangat singkat (sekitar 4-6 menit) jika tidak ditangani secepatnya. Memberikan bantuan luar untuk sirkulasi dan ventilasi kepada korban yang mengalami henti jantung atau pernafasan dengan resusitasi jantung paru (CPR). Pemeriksaan sekunder yang hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis dan gawat darurat yang berkualifikasi merupakan kelanjutan dari pemeriksaan primer.
SURVEI PRIMER
Setelah saluran nafas dipastikan bersih dari sumbatan benda asing, biasanya pada korban yang tidak sadar tonus ototnya hilang, lidah dan epiglotis menutup faring dan laring, hal ini merupakan salah satu penyebab terjadinya sumbatan jalan nafas. Membersihkan jalan nafas dengan lidah dapat dilakukan dengan memiringkan kepala, mengangkat dagu dan melakukan manuver dorongan mandibula. Oleh karena itu, penolong harus meletakkan telinga di atas mulut dan hidung korban atau pasien sambil tetap menjaga jalan napas tetap terbuka.
Apabila korban atau pasien tidak bernapas, bantuan pernapasan dapat diberikan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung, atau mulut ke stomi (lubang yang dibuat di tenggorokan) dengan memberikan 2 kali napas, waktu yang diperlukan untuk setiap kali bernapas. adalah 1,5-2 detik. Bantuan pernafasan dengan cara ini merupakan cara yang cepat dan efektif untuk menyuplai udara ke paru-paru korban atau pasien. Teknik ini dianjurkan bila ventilasi dari mulut korban tidak memungkinkan, misalnya pada kasus Trismus atau jika mulut korban terluka parah, dan sebaliknya, dengan mulut ke hidung, penolong harus menutup mulut atau mulut korban. sabar.
Denyut nadi korban atau pasien dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis di area leher korban atau pasien. Dengan dua atau tiga jari (telunjuk dan jari tengah), penolong dapat meraba bagian tengah leher, sehingga teraba trakea, kemudian gerakkan kedua jari tersebut sekitar 1-2 cm ke kanan atau ke kiri, sentuh perlahan selama 5- 10 detik. Jika teraba denyut nadi, penolong harus memeriksa kembali pernapasan korban dengan melakukan manuver head-up dan chin-up untuk menilai pernapasan korban atau pasien. Letakkan kedua tangan pada posisi ini dengan meletakkan salah satu telapak tangan di atas telapak tangan lainnya, hindari jari menyentuh dinding dada korban atau pasien. Jari-jari bisa diluruskan atau disilangkan.
Perbandingan bantuan peredaran darah dengan bantuan pernafasan adalah 30:2, dilakukan oleh 1 atau 2 orang penolong jika korban atau pasien tidak diintubasi, dan kecepatan kompresi 100 kali per menit (4 siklus per menit), kemudian kaji apakah tindakan selanjutnya dilakukan. siklus itu perlu atau tidak. Tentukan kesadaran korban atau pasien (sentuh dan goyangkan korban dengan lembut dan mantap), jika tidak sadarkan diri Penilaian pernapasan untuk melihat apakah ada pernapasan dan apakah korban atau pasien bernapas dengan cukup atau tidak.
Apabila korban atau pasien dewasa tidak sadarkan diri dengan pernafasan spontan dan tidak terdapat trauma pada leher (trauma tulang belakang), baringkan korban pada posisi stabil (recovery position), jaga jalan nafas tetap terbuka. Apabila pemberian nafas awal terasa sulit, anda dapat mencoba membetulkan posisi kepala korban atau pasien, atau ternyata tidak dapat dilakukan, maka dapat dilakukan: Bagi orang awam, dapat dilanjutkan dengan kompresi dada sebanyak 30 kali. dan 2 kali ventilasi, setiap kali membuka jalan nafas untuk mengeluarkan nafas, sambil mencari benda yang menghalangi jalan nafas, bila terlihat usahakan dikeluarkan. Bila terdapat tanda-tanda sirkulasi, dan terdapat denyut nadi, jangan lakukan kompresi dada, hanya kaji pernapasan korban atau pasien (ada atau tidaknya pernapasan).
Bila terdapat pernafasan dan denyut nadi teraba, baringkan korban pada posisi stabil. Jika tidak ada pernapasan tetapi denyut nadi teraba, berikan bantuan pernapasan 8-10 kali per menit dan pantau denyut nadi setiap saat. Jika terdapat pernapasan spontan dan adekuat serta denyut nadi teraba, jaga jalan napas tetap terbuka dan baringkan korban atau pasien pada posisi menyamping yang stabil.