* Corresponding Author
Email : [email protected]
© 2022 Author(s), Administratio: Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan (13) 2 2022
Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan Volume 13 (2) 2022: 125-139
P-ISSN: 2087-0825, E-ISSN: 2548-6977 DOI: 10.23960/administratio.v13i2.310 Accredited by Kemenristek Number 85/M/KP/2020 (Sinta 4)
ARTICLE
Partai Politik Korup: Perlukah Dibubarkan?
Jerry Indrawan¹*, Restu Rahmawati², Anwar Ilmar³, Putrawan Yuliandri⁴, Dede Suprayitno⁵ Muhammad Kamil Ghiffary Abdurrahman6
1,2,3,4,5,6 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UPN Veteran Jakarta
How to cite: Indrawan, J, Rahmawati, R., Ilmar, A., Yuliandri, P., Suprayitno, D., Abdurrahman, M.K.G., (2022) Partai Politik Korup: Perlukan Dibubarkan?. Administratio: Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan, 13(2)
Article History Received: 3 Juli 2022 Accepted: 16 Agustus 2022 Keywords:
Political Party, Corupption, Dissolution Mechanism
Kata Kunci:
Partai Politik, Korupsi, Mekanisme Pembubaran
ABSTRACT
Corruption in Indonesia since entering the reform era has increased in quantity.
Corruption Eradication Commission (KPK) has increase their efforts in arresting corruption suspects. This shows that corruption in this country has not been completed. One of the parties frequently affected by the KPK's Catching Hands (OTT) is public officials, who generally comes from political parties. During this time the party that must be responsible is the public official himself. However, according to the authors political parties also have a significant role. The party should prepare its best cadres as candidates for public officials at all levels. The party must train them in such a way as not to be tempted by corruption. Therefore, if the cadres commit corruption when they are already sitting in government, then the party should be responsible. Corruption is an extraordinary crime, for this reason the author proposes that if a party is corrupt, then it must be dissolved. The party dissolution mechanism is regulated in the Political Party Law, with the authority to dissolve it rests with the Constitutional Court. Even until now there has never been a party that was disbanded, even just being proposed to be dissolved, because of a corruption case. The theoretical implication of this research is that political parties that violate the basic principles of democracy, especially corruption cases, should be disbanded. This study uses qualitative methods with primary data obtained through field observation techniques, while secondary data obtained using documentation studies. The data search was carried out in early to mid 2021 by conducting field observations and collecting secondary data through books, scientific journals, and articles in online mass media. This paper will look at how the mechanism of dissolution of political parties in general is based on the Political Party Law. However, the author specifically will discuss the dissolution of political parties if they are proven to have committed criminal acts of corruption.
ABSTRAK
Korupsi di Indonesia sejak memasuki era reformasi justru semakin meningkat kuantitasnya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meningkatkan usahanya dalam melakukan penangkapan tersangka korupsi. Hal ini menunjukkan bahwa pemberatasan korupsi di negeri ini belum tuntas. Salah satu pihak yang sering terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK adalah pejabat publik, yang umumnya berasal dari partai politik. Selama ini pihak yang harus bertanggung jawab adalah pejabat publik itu sendiri. Namun, menurut penulis partai politik juga
126 | Administratio, Vol. 13 (2 ) 2022: 125-139
mempunyai peran yang tidak sedikit. Partai harusnya mempersiapkan kader-kader terbaiknya sebagai calon pejabat-pejabat publik di semua tingkatan. Partai harus melatih mereka sedemikian rupa agar tidak tergoda oleh perbuatan korupsi. Oleh karena itu, jika kader-kadernya melakukan korupsi saat mereka sudah duduk di pemerintahan, maka sudah seharusnya partai bertanggung jawab. Korupsi adalah kejahatan luar biasa, untuk itu penulis mengusulkan agar jika sebuah partai korupsi, maka ia harus dibubarkan. Mekanisme pembubaran partai sudah diatur dalam UU Partai Politik, dengan kewenangan pembubaran ada pada Mahkamah Konstitusi.
Sekalipun sampai saat ini belum ada partai yang dibubarkan, bahkan sekedar diajukan untuk dibubarkan, karena kasus korupsi. Implikasi teoritis dari riset ini adalah parpol yang melanggar prinsip-prinsip dasar dari demokrasi, apalagi terkena kasus korupsi, sebaiknya dibubarkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan data primer diperoleh melalui teknik observasi lapangan, sedangkan data sekunder didapatkan menggunakan studi dokumentasi. Pencarian data dilakukan pada awal sampai pertengahan tahun 2021 dengan melakukan observasi lapangan dan pengumpulan data sekunder melalui buku, jurnal ilmiah, dan artikel di media massa daring. Tulisan ini akan melihat bagaimana mekanisme pembubaran partai politik secara umum berdasarkan UU Partai Politik. Namun, secara khusus penulis akan membahas pembubaran partai politik jika terbukti melakukan tindak pidana korupsi.
A. PENDAHULUAN
Salah satu elemen penting untuk menjamin terselenggaranya pemerintahan yang baik adalah berfungsinya partai politik (parpol). Kegiatan pemerintahan merupakan sebuah kegiatan politik. Kegiatan politik tersebut bukanlah kegiatan individu semata. Kegiatan politik adalah sebuah aktivitas yang memungkinkan banyak individu berinteraksi di dalamnya. Sebelum individu-individu tersebut masuk dan akhirnya mengelola sebuah entitas yang dinamakan negara, maka kendaraan mereka adalah parpol itu sendiri. Parpol berisi kumpulan individu-individu politik yang sama-sama berjuang mendapatkan kekuasaan.
Atas dasar kekuasaan itulah, parpol memang selalu menjadi pemikat dalam setiap implementasi demokrasi di negara manapun. Hal ini karena partai menjadi alat yang paling tepat untuk membantu siapapun yang ingin berkuasa di pemerintahan. Di Indonesia, banyak pihak berlomba-lomba untuk mendirikan parpol, terutama pasca reformasi, dengan tujuan untuk mendapatkan kedudukan dalam pemerintahan. Jumlah parpol pun membengkak menjadi ratusan, dibanding hanya tiga ketika era Orba dahulu. Parpol adalah kendaraan yang digunakan untuk mencapai kekuasaan, sekaligus memenuhi kebijakan publik. Jadi, parpol bukanlah tujuan. Parpol hanya alat untuk mencapai kesejahteraan.
Parpol digunakan sebagai kendaraan politik bagi figur-figur di partai tersebut untuk menuju puncak kekuasaan. Karena itulah, parpol yang telah didirikan harus dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik. Parpol yang dalam perjalanannya tidak melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik, maka seharusnya parpol tersebut dibubarkan saja. Ketentuan mengenai partai politik terdapat di dalam Undang-Undang No. 2 tahun 2008 jo Undang-Undang No. 2 tahun 2011 tentang Partai Politik (UU Parpol). Sayangnya, sekalipun sudah dimuat dalam Pasal 40, 41, dan 50, undang-undang tersebut tidak mengatur secara tegas mengenai alasan pembubaran parpol. Sampai saat ini pun, belum pernah ada
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 125-139 | 127 pengajuan permohonan pembubaran parpol yang diterima oleh Mahkaman Konstitusi (MK).
MK, sesuai undang-undang parpol, memang menjadi lembaga negara yang berkewenangan untuk membubarkan parpol.
Parpol sebagai pilar utama demokrasi harus dapat memberikan teladan bagi masyarakat dalam kehidupan berdemokrasi, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap partai poitik yang semakin luntur dapat tumbuh kembali. Oleh karena itu, sebuah parpol harus kuat dan kokoh agar demokrasi yang ditopangnya menjadi kokoh pula. Jika pun harus dibubarkan, langkah tersebut adalah upaya hukum terakhir setelah upaya hukum administrasi dan pidana dilakukan. Itulah sebabnya diperlukan rambu-rambu hukum yang adil untuk mengatur tata cara pendirian dan pembubaran parpol. Hal ini karena pembubaran parpol merupakan suatu mekanisme pemberhentian terhadap eksistensi partai tersebut, sehingga dalam masyarakat demokratis pembubaran parpol dapat dilakukan sebagai garis penyeimbang. Aturan hukum yang jelas harus ada dan dapat dipertanggungjawabkan, baik secara hukum maupun politik, jika pun nantinya ingin membubarkan sebuah partai politik.
Namun, parpol di Indonesia seringkali terjebak pusaran arus korupsi. Banyak politisi tak berdaya menahan godaan kekuasaan. Hingga detik ini, korupsi nampaknya masih membudaya, terutama dikalangan pemegang kekuasaan, seperti halnya para politisi. Sejak tahun 2005 sampai tahun 2017, jumlah Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah sebanyak 75 kasus, dengan jumlah tersangka sebanyak 244. Pada tahun 2017 saja, OTT KPK terdata adalah sebanyak 17 kasus dengan 63 tersangka. Jumlah paling banyak sepanjang sejarah KPK berdiri (Viva, 2017). Sejak akhir tahun tahun 2019), KPK sudah melakukan 87 OTT dengan tersangka awal sebanyak 327 orang (Tempo, 2019). Dari jumlah tersebut, kebanyakan yang dijadikan tersangka adalah para politisi dari parpol.
Banyaknya anggota parpol yang terkena kasus korupsi membuat wacana pembubaran parpol jika partai tersebut terbukti korupsi menurut penulis cukup layak untuk dipertimbangkan, bahkan direalisasikan. Satu saja anggota parpol, tentunya yang sedang menjabat sebagai pejabat publik, terkena kasus korupsi, maka parpol tersebut harus diusulkan untuk dibubarkan ke MK. Dari data-data yang dikumpulkan penulis, dari sembilan parpol yang ada di parlemen pada periode 2019-2024 ini, semua partai memiliki anggotanya yang pernah melakukan tindak pidana korupsi, apakah itu di legislatif (DPR, DPRD I, dan DPRD II) saja, maupun di eksekutif (menteri, gubernur, bupati, dan walikota) saja. Bahkan, sampai ada partai yang ketua umumnya dipidana karena kasus korupsi.
Dalam kenyataannya, saat ini banyak parpol tidak melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik, contohnya adalah melakukan tindak pidana korupsi. Atas dasar kejahatan luar biasa (extraordinary crime) seperti korupsi itulah, muncul diskursus, apakah partai yang melakukan korupsi harus dibubarkan atau cukup diberikan sanksi administrasi atau pidana saja? kemudian, jika dibubarkan, bagaimana mekanisme pembubarannya menurut undang- undang atau aturan yang berlaku? Artikel ini akan membahas bagaimana mekanisme pembubaran parpol menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku, yaitu UU Parpol.
Dalam tulisan ini, penulis menggunakan dua jurnal sebagai penelitian terdahulu yang bisa digunakan sebagai dasar dari riset ini. Jurnal pertama adalah tulisan Yigal Mersel berjudul The Dissolution of Political Parties: The Problem of Internal Democracy. Jurnal ini membahas tentang mekanisme dan pro kontra pembubaran partai yang tidak memiliki demokrasi internal. Keputusan untuk melarang sebuah partai politik karena struktur internalnya yang nondemokratis adalah salah satu keputusan yang lebih sulit dibuat dalam
128 | Administratio, Vol. 13 (2 ) 2022: 125-139
demokrasi liberal yang menghargai kebebasan sipil. Meskipun demikian, ada beberapa contoh di mana penting untuk memaksakan demokrasi internal partai, tidak hanya sebagai masalah praktis tetapi sebagai manifestasi nyata dari nilai-nilai demokrasi itu sendiri (Mersel, 2006).
Jurnal kedua yang penulis gunakan sebagai penelitian terdahulu adalah James Hogan dengan judul Analyzing The Risk Thresholds For Banning Political Parties After NPD II.
Jurnal ini membahas tentang pelarangan parpol dalam konteks munculnya sentimen-sentimen anti-demokrasi dalam tubuh parpol. Dikecualikan dalam kontestasi politik adalah salah satu dari banyak alat yang tersedia untuk memerangi sentimen anti-demokrasi. Namun, mengembangkan mekanisme pelarangan yang disesuaikan dengan lingkungan kelembagaannya memerlukan penelitian dan penyempurnaan. Dengan demikian, pelarangan partai merupakan pembatasan batas-batas partisipasi demokrasi. Akibatnya, secara luas disepakati bahwa mekanisme pembubaran partai adalah tindakan luar biasa yang hanya boleh digunakan dalam keadaan terbatas (Hogan, 2022).
Kebaruan dari riset ini terlihat dari argumentasi penulis bahwa parpol di Indonesia dapat dibubarkan jika melanggar prinsip-prinsip dasar dari demokrasi. Korupsi adalah penyelewengan utama dalam demokrasi substansial. Parpol korup sama dengan parpol anti- demokrasi, dengan demikian layak dibubarkan. Selama ini belum pernah ada parpol di Indonesia yang dibubarkan karena korupsi. Kebaruan dari tulisan ini memberikan argumentasi dan penjelasan logis secara ilmiah bahwa membubarkan sebuah parpol karena korupsi bisa dilakukan sesuai dengan aturan undang-undang yang berlaku.
B. METODE
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-yang diamati.
metode ini dipilih karena kualitatif adalah sebuah metode penelitian yang membuat gambaran mengenai kejadian untuk menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diteliti (Moelong, 2001). Dengan demikian, metode tersebut dapat membantu menjawab tujuan penelitian, yaitu untuk memberikan analisis tentang mekanisme pembubaran parpol yang melakukan tindakan koruptif.
Pengumpulan data primer diperoleh dengan teknik observasi lapangan, sedangkan pengumpulan data sekunder menggunakan studi dokumentasi di mana data didapatkan melalui berbagai dokumen yang dianggap sesuai dengan tema kajian yang sedang diteliti, baik bersumber dari buku, jurnal ilmiah, dokumen pemerintah, artikel media massa, atau sumber-sumber referensi lainnya (Nilamsari, 2014).
Pencarian data dilakukan pada awal sampai pertengahan tahun 2021 dengan melakukan observasi lapangan dan pengumpulan data sekunder melalui buku, jurnal ilmiah, dan artikel di media massa daring. Sumber utama didapatkan dari buku Erlanda Putra dengan judul Gagasan Pembubaran Partai Politik Korup di Indonesia dan buku Jimly Asshiddiqie dengan judul Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah Konstitusi. Selain buku, jurnal ilmiah juga dijadikan sebagai referensi utama, yaitu jurnal Yigal Mersel dengan judul The Dissolution of Political Parties: The Problem of Internal Democracy dan jurnal James Hogan dengan judul Analyzing The Risk Thresholds For Banning Political Parties After NPD II.
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 125-139 | 129 C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bagian ini penulis akan membahas bagaimana mekanisme pembubaran parpol itu sendiri menurut aturan-aturan yang ada di UU Parpol. Sebelumnya, penulis ingin mengutip UU Parpol, terkait larangan yang tidak boleh dilanggar oleh parpol, yaitu dalam Pasal 40:
1. Partai Politik dilarang menggunakan nama, lambang, atau tanda gambar yang sama dengan:
a) bendera atau lambang negara Republik Indonesia;
b) lambang lembaga negara atau lambang pemerintah;
c) nama, bendera, lambang negara lain atau lembaga/badan internasional d) nama, bendera, simbol organisasi gerakan separatis atau organisasi terlarang;
e) nama atau gambar seseorang; atau
f) yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan nama, lambang, atau gambar Partai Politik lain.
2. Partai Politik dilarang :
a) melakukan kegiatan yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan peraturan perundang-undangan; atau
b) melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan dan keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3. Partai Politik dilarang:
a) menerima dari atau memberikan kepada pihak asing sumbangan dalam bentuk apapun yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan;
b) menerima sumbangan berupa uang, barang, ataupun jasa dari pihak manapun tanpa mencatumkan identitas yang jelas;
c) menerima sumbangan dari perseorangan dan/atau perusahaan/badan usaha melebihi batas yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan;
d) meminta atau menerima dana dari badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan badan usaha milik desa atau dengan sebutan lainnya; atau
e) menggunakan fraksi di Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakila Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabuaten/Kota sebagai sumber pendanaan partai politik.
4. Partai Politik dilarang mendirikan badan usaha dan/atau memiliki saham suatu badan usaha.
5. Partai Politik dilarang menganut dan mengembangkan serta menyebarkan ajaran atau paham komunisme/marxisme-leninisme.
Dari ketentuan tersebut di atas, jika sebuah partai politik sesuai dengan hasil pengawasan pemerintah (Kementerian Dalam Negeri atau Kementerian Hukum dan HAM) diduga melakukan pelanggaran sebagaimana yang diatur dalam Pasal 40 ayat (2) UU Parpol, partai tersebut pertama-tama diajukan oleh pemerintah kepada pengadilan negeri untuk pembekuan sementara. Pembekuan tersebut adalah selama 1 (satu) tahun sejak berlakunya pembekuan oleh pegadilan negeri. Jika pemerintah atau partai politik yang diputus dibekukan tidak menerima putusan pengadilan negeri, maka perkara tersebut dapat diajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA) . Jika putusan kasasi MA mengukuhkan putusan pengadilan negeri, maka pemerintah dapat mengajukan permohonan pembubaran partai politik ke MK. Dalam ketentuan Pasal 68 belum jelas mengenai jenis pelanggaran yang seperti apa yang dapat dijadikan dasar bagi pemerintah untuk menuntut pembubaran sebuah partai politik. Namun dapat ditafsirkan bahwa alat bukti surat yang dipakai untuk menilai permohonan yang diajukan oleh pemerintah dalam hal ini adalah :
1. Anggaran dasar
130 | Administratio, Vol. 13 (2 ) 2022: 125-139
2. Anggaran rumah tangga
3. Laporan kegiatan partai politik yang bersangkutan.
Jika salah satu dari ketiganya ditemukan bukti adanya hal-hal yang bertentangan dengan undang–undang dasar, maka MK dapat membubarkan parpol yang bersangkutan dengan putusan yang bersifat final dan mengikat (Asshiddiqie, 2006).
Sampai dengan saat sekarang ini, MK belum pernah memutus perkara pembubaran parpol, karena permohonan untuk pembubaran parpol belum pernah diajukan ke MK oleh pemerintah. Hal ini dapat dimengerti, karena pembubaran parpol tidak hanya dapat dilakukan dengan permohonan kepada MK, tetapi pembubaran parpol dapat terjadi karena alasan-alasan lain sebagaimana diatur dalam UU Parpol. Pasal 41 UU Parpol tersebut hanya menentukan bahwa sebuah partai politik bubar apabila:
a. Membubarkan diri atas keputusan sediri
b. Menggabungkan diri dengan partai politik lain, atau c. Dibubarkan oleh Mahkamah Kostitusi.
Selama ini parpol bubar dengan alasan membubarkan diri atas keputusan sendiri atau mengggabungkan diri dengan partai politik lain.
Selanjutnya, alasan pembubaran parpol juga diatur di dalam ketentuan Pasal 50, yaitu
“Pengurus Partai Politik yang menggunakan Partai Politiknya untuk melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (5) diatas dituntut berdasarkan Undang-Undang No. 27 tahun 1999 Tentang Perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berkaitan dengan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara dalam Pasal 107 huruf c, huruf d, atau huruf e, dan Partai Politiknya dapat dibubarkan. Kemudian, ketentuan yang terdapat dalam Pasal 107 huruf c, huruf d, dan huruf e berkaitan dengan larangan untuk menganut dan mengembangkan ajaran komunisme/marxisme-leninisme.
Selain menganut dan mengembangkan ajaran komunisme/marxisme-leninisme, maka alasan pembekuan sementara terhadap partai politik dapat ditafsirkan pula sebagai alasan pembubaran parpol. Artinya sebuah parpol dapat dibubarkan dengan alasan telah terbukti melakukan:
1. Kegiatan yang bertentangan dengan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 dan peraturan perundang-undangan
2. Kegiatan yang membahayakan keutuhan dan keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia
Seharusnya, selain yang termuat di dalam ketentuan Undang-Undang, sebuah partai politik dapat dibubarkan pula karena:
1. Tidak lagi memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan 2. Tidak melaksanakan kewajibannya
3. Tidak melaksanakan fungsinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Tidak dapat menampung dan menyalurkan aspirasi rakyat.
Selanjutnya, sebagai organisasi yang dibentuk berdasarkan kebebasan berserikat, eksistensi pengakuannya baru dapat diakui apabila organisasi tersebut telah berbentuk badan hukum. Dari sisi pendiriannya, parpol didirikan oleh individu orang perorangan yang dapat dilihat sebagai badan hukum privat. Namun, parpol memiliki tujuan dan kepentingan yang bukan bersifat privat, melainkan publik, terutama kepentingan yang memiliki keterkaitan dengan kepentingan rakyat. Oleh karena itu, parpol disebut sebagai badan hukum publik, walaupun di sisi lain parpol dapat memainkan peranannya sebagai badan hukum privat, apabila kegiatan tersebut bersinggungan dengan lalu lintas keperdataan (Putra, 2017).
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 125-139 | 131 Sebagai badan hukum publik partai politik harus memiliki pertanggungjawaban khusus terhadap perbuatan yang berkaitan dengan tindak pidana. Mas Achmad Santosa dalam Erlanda Juliansyah Putra mengemukakan bahwa terdapat dua tahapan untuk menentukan pertanggungjawaban pidana dari suatu badan hukum. Pada tahap pertama terdapat tiga kriteria. Pertama, apakah badan hukum dapat dijadikan objek dari norma hukum yang bersangkutan. Kedua, apakah manajemen badan hukum yang bersangkutan memiliki kewenangan terhadap orang-orang yang terdapat di dalam organisasi. Dan ketiga, apakah manajemen atau badan hukum yang bersangkutan dapat dikatakan “menerima” atau
“cenderung menerima” perilaku menyimpang yang didakwakan (Putra, 2017).
Tahapan kedua untuk membuktikan tindak pidana badan hukum adalah; pertama, apabila manajemen dari badan hukum telah mengetahui tindakan pidana yang telah dilakukan, apakah manajemen memiliki kewenangan untuk menghentikan tindakan pelaku fisik tersebut;
kedua, apabila manajemen memiliki kewenangan untuk itu, akan tetapi tidak melakukan pencegahan, maka badan hukum tersebut dapat dikategorikan melakukan tindakan pidana.
Tindakan pidana yang dimaksudkan adalah tindak pidana yang berkaitan dengan perbuatan korupsi yang melibatkan parpol sebagai badan hukum. Perbuatan korupsi yang melibatkan suatu badan hukum, utamanya berkaitan dengan konsepsi hukum perdata dan hukum pidana, namun apabila badan hukum tersebut merupakan suatu organisasi parpol, maka badan hukum tersebut termasuk pada konsepsi hukum tata negara, sehingga parpol dikategorikan sebagai badan hukum (Putra, 2017).
Secara konstitusional, adalah Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang memberikan kewenangan kepada MK untuk memutus pembubaran parpol. Adapun yang memiliki legal standing sebagai pemohon dalam pembubaran parpol menurut Pasal 68 Undang-Undang No. 24 tahun 2003 jo Undang-Undang No. 8 tahun 2011 tentang MK dan PMK No. 12 tahun 2008 tentang prosedur beracara dalam Pembubaran Partai Politik, adalah pemerintah. Jadi, tanpa adanya permohonan dari pemerintah, maka MK tidak bisa menyidangkan perkara pembubaran parpol. Pemerintah, dalam hal ini dapat diwakili oleh jaksa agung dan/atau menteri yang ditugasi oleh presiden. Sedangkan Termohon menurut Pasal 3 ayat (2) PMK Nomor 12 adalah parpol yang diwakili oleh pimpinan parpol yang dimohonkan atau dapat didampingi oleh kuasa hukumnya.
Pemohon harus dapat menguraikan permohonannya dengan didasarkan pada ideologi, asas, tujuan, program parpol yang dimohonkan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945, serta kegiatan atau akibat yang ditimbulkan oleh parpol yang dimohonkan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945. Selain itu, pemohon harus mendasarkan pada alat-alat bukti pendukung atas permohonan pembubaran parpol yang dimohonkan. Terhadap permohonan yang telah dinyatakan lengkap, MK akan menetapkan hari sidang perdana paling lambat 7 hari kerja sejak permohonan dinyatakan lengkap, sedangkan termohon wajib menyerahkan jawaban paling lama 1 hari sebelum sidang perdana dimulai. Kemudian, MK akan memeriksa dan mengadili serta wajib mengambil putusan dalam jangka waktu paling lambat 60 hari kerja sejak permohonan dicatat dalam buku registrasi perkara konstitusi (Saplaw, 2017).
Berdasarkan ketentuan dalam UU Parpol, memang jelas bahwa parpol tidak diperkenankan menerima dari atau memberikan kepada pihak asing sumbangan dalam bentuk apapun yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Tafsiran penulis adalah jika seorang kader parpol yang duduk di pemerintahan lalu melakukan korupsi, maka tentunya uang tersebut tidak dapat diberikan kepada parpol. Jika terbukti demikian, maka pantaslah jika parpol yang menerimanya diberikan sanksi. Menurut penulis, sanksi yang paling tepat adalah dibubarkan. Bagian berikut akan membahas beberapa alasan terkait hal tersebut.
132 | Administratio, Vol. 13 (2 ) 2022: 125-139
Perlukah Dibubarkan?
Setelah membahas bagaimana mekanisme pembubaran parpol, berikut adalah rasionalisasi dan argumen penulis terkait pembubaran parpol yang terkena kasus korupsi. Salah satu amanat gerakan reformasi 1998 adalah pemberantasan korupsi di negeri ini. Kita melihat bahwa sejak KPK dibentuk tahun 2003, upaya tersebut semakin menunjukkan hasilnya. Salah satu aktor yang penulis amati selama ini berpotensi besar melakukan tindak pidana korupsi adalah politisi yang berasal dari partai politik. Politisi-politisi ini umumnya menjabat sebagai pejabat publik di hampir seluruh sektor pemerintahan. Parpol pun tidak lepas dari tuduhan ikut menikmati hasil korupsi ini.
Parpol kerap diduga ikut menikmati dana hasil korupsi yang dilakukan para kadernya.
Namun, sampai sekarang belum pernah ada satupun parpol yang dimintai pertanggungjawaban pidana. Indonesia sebenarnya sudah memiliki perundang-undangan untuk memroses parpol yang terlibat aliran korupsi. Hanya saja, penegakannya belum berjalan sama sekali. Ada sejumlah fakta persidangan yang mengindikasikan aliran dana korupsi ke pundi-pundi parpol. Partai Golkar, misalnya, diduga terlibat dalam korupsi pengadaan Al-Qur’an Kementerian Agama, kasus pemerasan BUMN, kasus PON Riau, korupsi SKK Migas, serta korupsi E-KTP. Dalam persidangan korupsi E-KTP, Setya Novanto bahkan sempat menyebut adanya aliran uang Rp5 miliar untuk Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Golkar. PDIP juga pernah diduga terlibat kasus suap Deputi Gubernur BI, korupsi E-KTP dan korupsi simulator SIM. Partai Demokrat juga diduga terlibat dalam kasus korupsi Hambalang, pembangunan Wisma Atlet Palembang, korupsi SKK Migas, kasus pengadaan alat kesehatan Kemenkes, serta korupsi E-KTP. Terakhir, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN juga sempat disebut ikut menerima aliran dana korupsi pengadaan alat kesehatan Kemenkes (KBR, 2019).
Kondisi ini tentu menyedihkan bagi kondisi perpolitikan negeri ini yang sedang bangkit dan menuju era tinggal landas meninggalkan demokrasi prosedural, menuju demokrasi substansial, atau kata Benjamin Barber, thin democracy to thick democracy (Barber, 2004).
Rakyat tentunya merasa dikhianati, tidak hanya oleh para anggota parpol yang korupsi, tetapi juga parpol itu sendiri, karena saat di bilik suara, rakyat juga memilih mereka. Tidak sedikit kalangan non-pemerintah (LSM), kampus, aktivis, sampai masyarakat biasa yang menggulirkan desakan untuk membubarkan parpol korup di negeri ini.
Menurut Mersel (2006) keputusan untuk melarang sebuah parpol karena struktur internalnya yang non-demokratis adalah salah satu keputusan yang lebih sulit dibuat dalam demokrasi liberal yang menghargai kebebasan sipil, apalagi untuk membubarkannya.
Sekalipun demikian, penulis berpendapat bahwa korupsi adalah penyelewengan utama terhadap demokrasi itu sendiri. Dengan melakukan korupsi, maka parpol layak disematkan gelar non-demokratis. Mersel Kembali menambahkan, bahwa jika kita menerima gagasan bahwa tidak ada tempat bagi partai-partai non-demokratis dalam demokrasi, maka kita juga harus menemukan bahwa tidak ada tempat bagi partai-partai yang tidak memiliki demokrasi internal di parpolnya sendiri. Kurangnya demokrasi internal dapat dilihat sebagai bukti non- demokrasi eksternal (Mersel, 2006).
Penulis ingin mengambil satu contoh kasus, yaitu kasus mega korupsi E-KTP. Dalam kasus tersebut, dakwaan tidak hanya dialamatkan pada para mantan pejabat Kemendagri sebagai stake holder proyek tersebut. Akan tetapi, KPK pun masuk sampai menyelidiki beberapa parpol yang diduga menerima suap mega proyek tersebut. Bahkan, kasus ini menggelinding hingga menyeret politisi-politisi terkemuka dari berbagai partai, di mana mantan Ketua DPR Setya Novanto adalah contohnya. Sebuah kasus yang sangat mendapat perhatian publik, karena Setnov (panggilan akrab Novanto) adalah seorang pimpinan lembaga negara dan juga ketua umum partai Golkar, yang notabene bukanlah partai
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 125-139 | 133 sembarangan di kancah perpolitikan Indonesia. Mega korupsi E-KTP sendiri melibatkan sekitar 60 anggota dewan dengan korupsi Rp. 2.3 triliun, dari nilai proyek sebesar 5.9 triliun (Majalah Tempo, 2017).
Dalam prakteknya, kegiatan korupsi yang dilakukan oleh pengurus parpol berkaitan dengan pemahaman korupsi pemilu, yang terdiri dari tiga bentuk. Pertama, penerimaan dana kampanye yang berasal dari sumber-sumber yang dilarang oleh peraturan perundang- undangan, maupun yang secara universal merupakan sesuatu yang nyata-nyata dianggap tidak boleh. Hal ini karena dapat menciptakan hubungan koruptif antara donatur dengan yang disumbang, di mana di kemudian hari donatur tersebut mendapatkan keuntungan, misalnya konsesi, kontrak-kontrak pemerintah, maupun keistimewaan-keistimewaan terkait kebijakan publik (Putra, 2017).
Kedua, penyalahgunaan fasilitas negara dan jabatan untuk tujuan kampanye. Kegiatan ini misalnya, mengerahkan pegawai negeri sipil untuk mendukung peserta pemilu tertentu, menyusun program populis (contohnya pembagian uang atau sembako) kepada kelompok masyarakat tertentu saat atau menjelang kampanye menggunakan dana APBN/APBD, dll.
Ketiga, pembelian suara melalui politik uang secara ilegal dengan menggunakan pengeluaran dana kampanye peserta pemilu yang digunakan untuk membeli suara pemilih, maupun memengaruhi penyelenggara pemilu untuk memanipulasi hasil pemilu (Putra, 2017).
Ketua Pukat UGM, Zainal Arifin Mochtar, juga memberikan analisanya terkait masalah pembubaran parpol ini. Ia menjelaskan, ada dua ranah yang bisa dilihat dalam menyikapi kasus ini. Pertama, pemberian hukuman dengan memandang parpol sebagai korporasi.
Kedua, pembubaran melalui proses di MK. Hal tersebut diakuinya tak mudah. Namun, wacana tersebut tak lantas menjadi terhenti hanya karena tak diatur secara rinci. Penting bagi bangsa memikirkan dengan detail perilaku partai, kolektif yang sangat banal, yang merusak, koruptif sana-sini masa tidak dihukum karena tidak ada mekanisme terhadap itu. Meski begitu, tidak dapat memastikan apakah cara tersebut akan memberikan efek jera kepada parpol, namun setidaknya dapat memberikan catatan bagi parpol-parpol, bahwa mereka tidak bisa lagi mengumpulkan uang dengan merampok uang negara karena konsekuensinya bisa berujung pada pembubaran organisasi mereka sendiri. Adapun aturan mengenai pembubaran parpol juga tercantum dalam Pasal 68 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Pada ayat pertama disebutkan bahwa pemohon pembubaran parpol adalah pemerintah. Sedangkan pada ayat kedua disebutkan bahwa pemohon wajib menguraikan dengan jelas dalam permohonannya tentang ideologi, asas, tujuan, program, dan kegiatan parpol yang bersangkutan, yang dianggap bertentangan dengan UUD 1945 (Merah Putih, 2017).
Selanjutnya, inisiatif pembubaran parpol diatur dengan UU Parpol. Menurut undang- undang tersebut, yang pembubaran parpol dapat dilakukan hanya melalui dua inisiatif.
Pertama, inisiatif internal. Keinginan membubarkan berasal dari dalam partai sendiri.
Bentuknya bisa berupa keputusan internal partai untuk membubarkan diri atau menggabungkan diri ke partai lain. Kedua, inisiatif eksternal. Partai dibubarkan oleh MK, seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Alasan pembubaran partai melalui MK bersifat limitatif. Ketentuannya terdapat dalam Pasal 40 Ayat 2 dan Pasal 40 Ayat 5.
Partai dilarang melakukan kegiatan yang bertentangan dengan UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan. Selain itu, partai juga tidak diperbolehkan menggelar kegiatan yang membahayakan keutuhan dan keselamatan NKRI. Selanjutnya, partai dilarang menganut, mengembangkan, dan menyebarkan paham komunisme/marxisme-leninisme (Kompas, 2017).
Meski sudah kasat mata, korupsi yang dilakukan anggota atau petinggi partai sehingga menggerogoti keuangan dan perekonomian negara, terkesan dibiarkan. Gerakan pembubaran partai yang inisiatifnya berasal dari internal parpol itu sendiri tidak pernah muncul sama
134 | Administratio, Vol. 13 (2 ) 2022: 125-139
sekali. Bahkan, jangan-jangan, tidak ada klausul yang termaktub dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai yang menempatkan korupsi sebagai alasan pembubaran partai.
Artinya, mengharapkan korupsi dipakai sebagai inisiatif internal untuk membubarkan partai itu bak pungguk merindukan bulan, alias mustahil. Harapan satu-satunya membubarkan partai karena korupsi ada di tangan MK. Pasal 2 huruf b Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) No. 12 tahun 2008 memberikan kewenangan kepada MK untuk membubarkan partai atas alasan melakukan kegiatan yang melanggar peraturan perundang- undangan, terutama UUD 1945 (Kompas, 2017).
Sayangnya, kewenangan ini sedikit tak mulus. Ada dua penyebabnya. Pertama, Pasal 48 Ayat 3 UU Parpol sifatnya berjenjang. Partai yang melanggar peraturan perundang- undangan dikenai sanksi pembekuan sementara. Jika melanggar lagi dalam masa pembekuan, baru dibubarkan. Bagaimana kalau korupsi dilakukan lagi setelah masa pembekuan? Apakah proses hukumannya dimulai dari awal kembali atau langsung dibubarkan? Kedua, frasa
”peraturan perundang-undangan” apakah bermakna kelompok peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan partai saja atau dapat diperluas? Jika maknanya hanya berada di seputar aturan yang membincang partai saja, pupuslah alasan pembubaran partai karena korupsi. Lagi pula, dalam undang-undang tentang partai, tak ada sama sekali kata ”korupsi”
digunakan untuk membubarkan partai (Kompas, 2017).
Menjadi pertanyaan yang perlu dijawab oleh kita semua, terkait diskursus apakah korupsi parpol bisa digolongkan bertentangan dengan UUD 1945. Jika menggunakan argumen Zaenal Arifin Mochtar sebelumnya, maka peluang untuk menggolongkan korupsi sebagai kejahatan terhadap UUD 1945 tetap terbuka. Hal ini karena kewenangan untuk menentukannya adalah sesuai dengan diskresi MK. Jika MK memutuskan bahwa hal tersebut berkaitan, maka perkara pembubaran parpol sesuai Pasal 68 UU MK dapat digelar. Bola dengan demikian, ada di tangan pemerintah, karena hanya mereka yang memiliki kekuatan legal standing untuk mengajukan permohanan pembubaran parpol.
Namun demikian, alasan pembubaran parpol berdasarkan ketentuan PMK Nomor 12 di atas dapat ditafsirkan sebagai celah hukum pembubaran parpol yang baru. Ini disebabkan terjemahan dari perbuatan atau kegiatan parpol yang bertentangan, tidak hanya terpaku pada perbuatan separatis atau ideologis, melainkan perbuatan yang bertentangan dapat juga berasal dari penafsiran perbuatan korupsi. Perbuatan korupsi dapat menimbulkan akibat yang bertentangan dengan konstitusi negara. Hal ini terlihat di dalam konsideran menimbang huruf a dan b Undang-Undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang menyebutkan bahwa:
a. Bahwa tindak pidana korupsi sangat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dan menghambat pembangunan nasional, sehingga harus diberantas dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945;
b. Bahwa akibat tindak pidana korupsi yang terjadi selama ini, selain merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, juga menghambat pertumbuhan dan kelangsungan pembangunan nasional yang menuntut efisiensi tinggi (Putra, 2017).
Pengenaan tafsir nomenklatur “akibat” yang ditimbulkan tersebut dapat menjadi celah pembubaran yang baru, asalkan pengaturan tersebut dapat diakomodir ke dalam peraturan perundang-undangan yang baru. Persyaratan terpenting untuk dapat dikatakan sebagai hukum atau aturan yang baik adalah harus didasarkan pada prinsip manfaat. Penelaahan terhadap tafsir tersebut dapat saja diakomodir ke dalam ketentuan pengaturan pembubaran parpol yang baru, sepanjang pengaturan tersebut dapat sesuai dengan perkembangan masyarakat. Jeremy Waldron dalam Erlanda Juliansyah Putra menyatakan bahwa membahas upaya meningkatkan
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 125-139 | 135 martabat pemerintah dan penghormatan terhadap sumber hukum, artinya memungkinkan bagi rumusan ini untuk diadopsi dalam pengaturan pembubaran yang baru (Putra, 2017).
Mari kita lihat contoh kasus di negara lain. Mengacu pada kasus di Thailand, partai yang menyuap dan menerima suap bisa dibubarkan MK. Saat itu kasus suap menimpa partai terbesar di Thailand, partai Thai Rak Thai, pimpinan Thaksin Shinawatra. Thai Rak Thai diduga menyuap partai lain agar mau mengikuti pemilu. partai-partai tersebut, adalah partai Chart Thai dan partai Pandin Thailand. Ketiga partai itu pun dibubarkan MK. Keputusan bersejarah MK Thailand itu menetapkan standar perilaku dan perilaku untuk politisi Thailand di tahun-tahun mendatang. Keputusan itu berdampak besar pada politik Thailand. Keputusan pengadilan menyatakan bahwa pelanggaran serius terhadap UU Pemilu yang dilakukan anggota komite eksekutif partai dianggap kesalahan yang dilakukan atas nama partai itu sendiri. Karena itu partai politiknya bisa dibubarkan (Haryadi, 2017).
Memang jika mengaca pada kasus di Thailand, praktik pelarangan dan pembubaran partai politik tampaknya bertentangan dengan cita-cita demokrasi. Namun, sejak 2006, Thailand telah menyaksikan pembubaran tujuh partai dan pelarangan ratusan politisi. Dalam konteks Thailand, kondisi ini menunjukkan bahwa pelarangan partai tidak hanya berdampak pada partai yang dilarang, tetapi juga partai-partai lainnya dalam sistem politik. Pelarangan dan pembubaran partai berdampak tidak merata pada dimensi pelembagaan partai yang berbeda.
Dengan demikian, kasus Thailand menunjukkan bahwa pelarangan partai sangat melemahkan
"otonomi" pelembagaan partai, sementara itu memiliki efek yang berbeda pada legitimasi sistem kepartaian (Sinpeng, 2014).
Hal ini diperkuat oleh penelitian Hogan, bahwa dalam demokrasi perwakilan, partai menyediakan kendaraan untuk partisipasi dan legitimasi politik. Namun, pembentukan dan kemajuan partai politik membutuhkan waktu, tenaga, dan modal. Larangan partai bertujuan untuk menolak partai-partai ekstremis mendapatkan forum untuk mengekspresikan pendapatnya secara institusional dan memiliki legitimasi, yang biasanya memang diberikan parpol dalam demokrasi modern. Konsekuensinya, nilai penggunaan model partai harus dinilai terhadap risiko pelarangan partai tersebut dan kehilangan sumber legitimasi tersebut.
Akibatnya, kita harus menyepakati bahwa mekanisme pembubaran partai adalah tindakan luar biasa yang hanya boleh digunakan dalam keadaan terbatas (Hogan, 2022). Korupsi adalah salah satu tindakan yang termasuk dalam keadaan terbatas itu.
Contoh kasus berikutnya adalah di Jerman, di mana berdasarkan konstitusi Jerman (Basic Law), suatu parpol dapat dinyatakan bertentangan dengan konstitusi oleh Mahkamah Konstitusi Jerman (Bundesvarfasungsgericht) berdasarkan tujuan atau perilaku pengikutnya yang tidak sesuai atau berupaya menghapuskan tatanan dasar demokrasi. Selain itu, parpol tersebut juga dianggap dapat membahayakan negara Republik Federal Jerman. Permohonan partai politik tersebut dapat diajukan melalui Parlemen (Bundestag), Lembaga Perwakilan Negara Bagian (Bundesrat), Pemerintah Federal, serta pemerintah negara bagian tertentu (Putra, 2017).
Pembubaran terhadap Socialist Reich Party (SRP) di Jerman disebabkan oleh adanya pembuktian terhadap kepemilikan struktur, tujuan, program, dan aktivitas yang memiliki kemiripan dengan partai Nazi yang berupaya menghancurkan nilai-nilai dasar demokrasi tertinggi dalam konstitusi. Hal yang sama dialami juga oleh Communist Party of Germany (KPD) yang dinilai memiliki penganutan paham ideologi Marxisme-Leninisme dalam struktur, kepemimpinan kampanye, serta gaya politik KPD. Kedua partai tersebut selain dibubarkan, seluruh aset-aset kepemilikan partai tersebut juga disita oleh negara. Partai-partai tersebut juga kehilangan kursi, baik di parlemen federal, maupun parlemen negara bagian (Putra, 2017: 176).
Mahkamah Konstitusi Federal di Jerman memiliki peranan untuk menciptakan dan menyempurnakan konsep bahwa partai politik adalah entitas konstitusional yang bertugas
136 | Administratio, Vol. 13 (2 ) 2022: 125-139
mendukung tatanan demokrasi liberal normatif. Pengadilan memiliki kekuasaan yang sangat besar untuk melarang suatu parpol demi melindungi tatanan ini. Pasal 21 (2) dari Undang- Undang Dasar menetapkan bahwa Mahkamah Konstitusi Federal akan memutuskan suatu parpol inkonstitusional atau tidak. Parpol akan menjadi inkonstitusional hanya ketika pengadilan memutuskan demikian. Oleh karena itulah, hanya melalui pengadilan di Mahkamah Konstitusi Federal yang bisa menjadikan sebuah parpol inkonstitusional (Franz, 1982).
Di Turki, pembubaran terhadap Halkin Emek Partisi (1993) dan Refah Party (1998) disebabkan oleh adanya kegiatan politik tertentu yang dapat memecah belah bangsa dan dapat mengkhawatirkan bagi keberlangsungan konstitusi Turki. Pembubaran terhadap Halkin Emek Partisi didasari oleh keputusan Mahkamah Konstitusi Turki yang menyatakan partai tersebut terbukti telah mengekspresikan kehendak mendirikan tatanan sosial baru berdasarkan ras (Kurdi) yang dapat disamakan dengan kecenderungan separatisme. Refah Party di sisi lain dibubarkan karena melawan prinsip laicism negara dan bermaksud mengganti sistem politik dengan sistem hukum Shari’a. Prinsip laicism menempatkan supremasi dan kontrol negara di atas kehidupan beragama dan politik. Dari kasus-kasus pembubaran parpol di atas, dapat kita lihat bahwa terdapat persamaan dan perbedaan akibat hukum pembubaran parpol (Putra, 2017).
Pendapat yang berbeda dilayangkan Politikus Golkar, yang juga menjabat sebagai Ketua DPR, Bambang Soesatyo. Menurutnya, “partai itu barang mati dan tidak salah apa-apa, dan yang harus diganti justru pengurusnya. Kalau ada menteri, staf presiden, atau ring satu istana yang korupsi, kementeriannya dibubarkan? Kan tidak. Kalau ada gubernur, walikota, atau bupati kena OTT, apakah pemdanya yang dibubarkan? Apa yang mewacanakan itu mengada- ada dan tidak ada dasar hukumnya, karena yang salah oknumnya, bukan parpolnya,” katanya.
Bambang mengatakan Partai Golkar memegang asa praduga tak bersalah, bahwa tidak ada kader Golkar yang terlibat seperti dakwaan. “Sebab hal itu masih harus dibuktikan di pengadilan,” katanya. Menurutnya, pemberhentian kader Golkar dimungkinkan manakala ada keputusan yang berkekuatan hukum tetap. Namun, bisa saja diambil keputusan lain, misalnya saat ada kader dalam posisi baru tersangka atau terdakwa dinonaktifkan sementara. “Tapi keputusan tersebut harus melalui mekanisme partai, seperti rapat pleno, rapim, atau mahkamah partai. Semua sangat tergantung pada dinamika yang ada,” kata Bambang (Haryadi, 2017: 17).
Berdasarkan pendapat dari Koordinator Indonesian Corruption Watch (ICW), Febri Hendri, pembubaran parpol merujuk pada ketentuan UU Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik dan Peraturan MA No. 13 tahun 2016 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Tindak Pidana oleh Korporasi. Ia juga menerangkan bahwa parpol juga dapat dipandang sebagai kesatuan korporasi, meskipun itu debatable. Dasar hukum tindak pidana korupsi oleh korporasi juga bisa diberlakukan sama untuk parpol. “Karena kami memandang parpol juga korporasi, maka berdasarkan Peratuan MA itu bisa dijerat,” katanya (Haryadi, 2017).
Menurut pakar hukum tata negara, Yusril Ihza Mahendra, pembubaran parpol sangat bisa dilakukan, hanya saja harus lewat proses yang panjang. Yusril yang terlibat dalam pengajuan dan pembahasan RUU Perubahan UU Tipikor 31/99, dan pembahasan RUU MK dengan DPR, menyadari rumitnya penegakan hukum terkait masalah itu. UU Tipikor memberi kewenangan kepada aparat penegak hukum, termasuk KPK, untuk menyidik kejahatan korporasi. Yang termasuk kategori korporasi adalah parpol, yang jika terlibat dalam kejahatan, pimpinannya dapat diadili, dituntut, dan dihukum. Mengacu pada Pasal 68 UU No.
24 tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, MK berwenang memutus perkara pembubaran parpol. Parpol bisa dibubarkan jika asas dan ideologi, serta kegiatan-kegiatan parpol itu
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 125-139 | 137 bertentangan dengan UUD 1945. Apakah parpol yang terlibat korupsi dapat dibubarkan MK dengan alasan perilakunya bertentangan dengan UUD 1945? (Haryadi, 2017).
Dari perspektif hukum pidana, sehubungan dengan kejahatan korporasi, jika korporasi terbukti melakukan kejahatan, yang dijatuhi pidana adalah pimpinannya. Korporasinya sendiri tidak otomatis bubar. Begitu juga halnya jika parpol terbukti korupsi, pimpinannya yang dijatuhi hukuman. Sementara partainya sendiri tidak otomatis bubar. Sebab, yang berwenang memutuskan parpol bubar atau tidak bukanlah pengadilan negeri sampai Mahkaman Agung dalam perkara pidana, tetapi MK dalam perkara tersendiri, yakni perkara pembubaran parpol (Haryadi, 2017).
Menurut Ali Safaat dalam Erlanda Juliansyah Putra, terdapat empat hal yang terkait dengan pembubaran parpol, yakni terkait dengan status parpol; sanksi terhadap pengurus parpol yang dibubarkan; status anggota badan perwakilan yang terpilih dari parpol yang dibubarkan; dan harta kekayaan parpol. Terkait dengan status parpol, Ali Safaat menjelaskan, jika pembubaran terjadi dengan alasan parpol melakukan pelanggaran konstitusional, akan diikuti dengan sanksi larangan pembentukkan kembali partai tersebut atau pembentukkan partai pengganti dengan ideologi, platform, asas, program, dan kegiatan yang sama dengan partai yang dibubarkan. Hal tu berarti partai yang dibubarkan akan menjadi partai terlarang (Putra, 2017).
Terkait dengan pengurus parpol yang dibubarkan, sanksi terhadap mereka harus didasarkan putusan pengadilan dengan berpedoman pada pembuktian bahwa pengurus parpol tersebut memiliki peran yang besar atas pelanggaran yang menyebabkan partai politik tersebut dibubarkan. Pertanggungjawaban individual tergantung kepada tingkat kesalahan yang dibuktikan melalui proses peradilan yang adil dan terbuka. Kemudian, terkait status anggota badan perwakilan yang terpilih, hubungan hukum antara anggota DPR dengan partai politiknya adalah hubungan yang bersifat privat, sedangkan hubungan antara anggota DPR dengan negara, adalah hubungan yang bersifat publik, sehingga tunduk pada ketentuan hukum publik (Putra, 2017).
Dilihat dari sistem pemilihan umum, hubungan hukum antara anggota lembaga perwakilan dengan pemilih dan negara akan semakin kuat dan tidak dapat dikesampingkan, begitu juga dengan partai politiknya. Dalam pemilu sistem distrik dan sistem proporsional, yang dipadu dengan sistem daftar calon terbuka, pemilih dapat memilih langsung nama calon, untuk itulah hubungan antara wakil rakyat dengan konstituennya sangat besar. Berdasarkan argumen tersebut, pembubaran parpol juga seharusnya tidak otomatis berakibat terhadap berakhirnya keanggotaan seseorang di lembaga perwakilan. Pemberhentian itu harus melalui proses hukum yang membuktikan keterlibatan dan tanggung jawab atas pelanggaran partai politiknya (Putra, 2017).
Terakhir, tentang kekayaan parpol, walaupun parpol bukan merupakan badan hukum keperdataan yang berorientasi keuntungan, bahkan dilarang melakukan usaha komersil, namun dalam aktivitasnya pasti pernah terlibat dalam lalu lintas hukum perdata yang menimbulkan hak dan kewajiban. Segala hak dan kewajiban yang timbul dalam hubungan hukum yang dilakukan oleh parpol sebelum dibubarkan harus diselesaikan menurut aturan yang berlaku. Seluruh kekayaan badan hukum parpol yang dibubarkan harus diselesaikan, baik oleh negara dalam kasus harta kekayaan tersebut disita oleh negara, maupun oleh mekanisme internal partai dalam kasus tidak disita oleh negara. Harus dicegah terjadinya pengambilalihan harta kekayaan parpol menjadi hak milik pribadi pengurusnya atau individu tertentu (Putra, 2017)
Desakan pembubaran parpol oleh publik juga semakin banyak bermunculan karena publik melihat parpol-parpol yang ada saat ini tidak saja kurang dapat mewakili aspirasi mereka, anggotanya, terutama yang menjadi pejabat publik, malahan makin sering terlibat kasus- kasus korupsi. Publik semakin resah ketika mandat yang mereka berikan kepada saat parpol
138 | Administratio, Vol. 13 (2 ) 2022: 125-139
pemilu, disalahgunakan oleh oknum-oknum anggota partai untuk kepentingan pribadi atau golongannya saja. wajar saja ketika ada usulan yang berasal dari bawah (masyarakat) untuk meminta presiden membubarkan partai-partai yang korupsi.
Untuk itu, presiden dapat berinisiatif mengajukan permohonan pembubaran parpol ke MK jika ada putusan pengadilan yang menyatakan parpol tersebut secara sah dan menyakinkan terbukti melakukan korupsi (kejahatan korporasi), dan pimpinannya dijatuhi hukuman. Jika pribadi maupun korporasi, dalam hal ini partai politik yang terlibat, terbukti bersalah, itulah saatnya presiden mengajukan perkara pembubaran parpol tersebut ke MK.
Langkah pembubaran sangat penting untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik di masa datang. MK perlu memutuskan bahwa parpol yang melakukan korupsi adalah partai yang melakukan perbuatan yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa-dan bernegara. Atas dasar itulah, MK menyatakan bahwa perbuatan tersebut bertentangan dengan UUD 1945, dan karenanya cukup alasan konstitusional untuk membubarkannya (Putra, 2017).
Menurut penulis, sehubungan dengan pembubaran parpol yang terlibat dalam praktek- praktek korupsi, KPK harus dapat membuktikan bahwa aliran dana yang bersumber dari praktek koruptif tersebut juga dinikmati atau mengalir kepada partai politik dalam menjalankan aktivitas organisasinya. Dengan demikian, penting bagi komisi anti-rasuah tersebut untuk melakukan sinergi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), serta lembaga-lembaga terkait lainnya, untuk membuktikan apakah terdapat aliran dana hasil dari praktek-praktek nakal tersebut.
Selanjutnya, apabila berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkrach) terbukti terdapat aliran dana dari hasil praktek korupsi kepada parpol, maka KPK harus meminta pemerintah (presiden) yang memiliki legal standing untuk dapat mengajukan permohonan pembubaran partai politik kepada MK. MK di sini juga memiliki peran yang penting karena lembaga ini adalah hakim tertinggi di republik ini, sehingga keputusannya final dan mengikat. Karenanya, MK tidak boleh ditarik oleh kepentingan-kepentingan politik praktis yang ada. MK harus independen dalam menjalankan tugasnya mengadili partai politik yang dituduh korupsi, sehingga upaya awal yang dilakukan KPK dan pemerintah tidak kandas di palu MK.
D. SIMPULAN
Parpol kerap diduga ikut menikmati dana hasil korupsi yang dilakukan para kadernya.
Namun, sampai sekarang belum pernah ada satu pun parpol yang dimintai pertanggungjawaban pidana. Membubarkan partai karena korupsi bisa dilakukan oleh MK.
Pasal 2 huruf b Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) No. 12 tahun 2008 memberikan kewenangan kepada MK untuk membubarkan partai atas alasan melakukan kegiatan yang melanggar peraturan perundang- undangan, terutama UUD 1945.
Membubarkan parpol memang tidak seperti membalikkan telapak tangan, alias aturan yang mengaturnya cukup rumit dan sangat prosedural. Namun, bukan berarti membubarkan partai politik, dengan alasan korupsi misalnya, menjadi terhambat masalah regulasi.
Demokrasi adalah persoalan kedaulatan rakyat, di mana pemegang kekuasaan tertinggi adalah rakyat. Parpol adalah bagian dari pewujudan demokrasi modern yang dikenal dengan demokrasi perwakilan, karena rakyat tidak mungkin menjalankan praktek demokrasi secara langsung. Dengan demikian, jika ada masalah dengan parpol, maka rakyat sebagai pemegang mandat tertinggi harusnya punya kekuatan (power) untuk membubarkannya. MK sebagai penafsir utama dan satu-satunya dari konstitusi sebaiknya tidak hanya berpedoman pada regulasi baku yang ada di lembaran-lembaran negara, tetapi memberikan penafsiran substantif bahwa memang ada masalah terhadap parpol.
Administratio, Vol. 13 (2) 2022: 125-139 | 139 Terlebih, keadaan kepartaian seperti sekarang ini mengakibatkan kepercayaan rakyat terhadap parpol semakin hilang. Dengan demikian, implikasi teoritis dari riset ini adalah parpol yang melanggar prinsip-prinsip dasar dari demokrasi, serta tidak menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, apalagi terkena kasus korupsi, akan mengakibatkan demokrasi tidak akan berjalan dengan baik. Alhasil, parpol yang hanya bertujuan untuk meraih kekuasaan, tanpa menjalankan fungsi yang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan rasa keadilan masyarakat, perlu dibubarkan.
REFERENSI
Asshiddiqie, J. (2006). Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah Konstitusi. Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi.
Barber, B. (2004). Strong Democracy: Participatory Politics for a New Age. California:
University of California Press.
Franz, P. (1982). Unconstitutional and Outlawed Political Parties: A German-American Comparison. Boston College International and Comparative Law Review, 5(1), 51-89.
https://lawdigitalcommons.bc.edu/iclr/vol5/iss1/3
Haryadi, R., et all. Bubarkan Partai Korup: Megakorupsi E-KTP Menjadi Pintu Masuk Perampingan Partai Politik, Majalah Gatra, 16-22 Maret 2017.
Hogan, J. (2022). Analyzing The Risk Thresholds For Banning Political Parties After NPD II.
German Law Journal, 23, 97-116. https://doi.org/10.1017/glj.2022.1
KBR.id. (2019, Maret 29). Parpol Ikut Nikmati Dana Korupsi? Ini Pidananya. Diakses 8
Maret 2021, dari https://kbr.id/nasional/03-
2019/parpol_ikut_nikmati_dana_korupsi__ini_pidananya/99042.html
Kompas.com. (2017, Maret 20), Pembubaran Partai. Diakses 20 Februari 2021, dari https://nasional.kompas.com/read/2017/03/20/16472621/pembubaran.partai
Tempo.co. (2017, 17 Maret). Bancakan Uang Negara Proyek E-KTP. Diakses 8 Maret 2021, dari https://majalah.tempo.co/read/opini/152716/bancakan-uang-negara-proyek-e-ktp?
Merah Putih. (2017, Maret 19). Pembubaran Partai Politik yang Terjerat Korupsi, Direktur Pukat UGM: Ide yang Menarik. Diakses 1 Maret 2021, dari https://merahputih.com/post/read/pembubaran-partai-politik-yang-terjerat-korupsi- direktur-pukat-ugm-ide-yang-menarik
Mersel, Y. (2006). The Dissolution of Political Parties: The Problem of Internal Democracy.
International Journal of Constitutional Law, 4(1), 84–113.
https://doi.org/10.1093/icon/moi053
Moelong, L. J. (2001). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nilamsari, N. (2014). Memahami Studi Dokumen dalam Penelitian Kualitatif. Jurnal Wacana, 13(2), 177–181. https://doi.org/10.32509/wacana.v13i2.143
Putra, E. J. (2017). Gagasan Pembubaran Partai Politik Korup di Indonesia. Depok: Rajawali Pers.
Tempo.co. (2019, Desember 17). KPK: 87 OTT Selama Empat Tahun Terakhir. Diakses 29 Februari 2021, dari https://nasional.tempo.co/read/1284671/kpk-87-ott-selama-empat- tahun-terakhir
Saplaw.top. (2017, Maret 21). Pembubaran Parpol Koruptif. Diakses 7 Maret 2021, dari http://www.saplaw.top/tag/pembubaran-partai-politik/
Sinpeng, A. (2014). Party Banning and the Impact on Party System Institutionalization in Thailand. Contemporary Southeast Asia, 36(3), 442-466. https://doi.org/10.1355/cs36-3e Viva. (2017, Oktober 11). Daftar OTT KPK Dari Tahun ke Tahun, 2017 Paling Sibuk.
Diakses 8 Maret 2021, dari https://www.viva.co.id/berita/nasional/965440-daftar-ott- kpk-dari-tahun-ke-tahun-2017-paling-sibuk
140 | Administratio, Vol. 13 (2 ) 2022: 125-139