Kepastian Hukum dalam Kegiatan Jual Beli Thrift bagi Pedagang Thrift dalam Menghadapi Tuntutan Hukum Mendadak
Legal Certainty in Thrift Buying and Selling Activities for Thrift Traders in the Face of Sudden Lawsuits
Febrian Dwi Firmansyah 202040100093
PROPOSAL SKRIPSI
Program Studi Hukum
Fakultas Bisnis Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Mei, 2023
LEMBAR PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI
Judul : Kepastian Hukum dalam Kegiatan Jual Beli Thrift bagi Pedagang Thrift dalam Menghadapi Tuntutan Hukum Mendadak
Nama Mahasiswa : Febrian Dwi Firmansyah NIM : 202040100093
Disetujui oleh
Dosen Pembimbing
Mochammad Tanzil Multazam, S.H., M.Kn.
NIDN.00000000
_______________________
Diketahui oleh
Ketua Program Studi
Noor Fatimah Mediawati, S.H., M.H. _______________________
NIDN. 000000000
Tanggal Pengesahan (00/00/0000)
i
DAFTAR ISI
A. Bagian Pengesahan 1. Sampul
2. Lembar Pengesahan ... i
3. Daftar Isi ... ii
B. Bagian Isi 1. Judul ... 1
2. Pendahuluan ... 1
3. Rumusan Masalah ... 2
4. Pertanyaan Penelitian ... 2
5. Kategori SDGs ... 2
6. Metode ... 2
7. Jadwal Penelitian ... 2
ii
Kepastian Hukum dalam Kegiatan Jual Beli Thrift bagi Pedagang Thrift dalam Menghadapi Tuntutan Hukum Mendadak
Legal Certainty in Thrift Buying and Selling Activities for Thrift Traders in the Face of Sudden Lawsuits
I. Pendahuluan
Berkembangnya kegiatan ekonomi yang sangat pesat membuat lebih mudah untuk mendapatkan banyak macam barang dan jasa. Adanya support perkembangan teknologi informasi memudahkan para penjual serta pembeli dalam melakukan kegiatan jual beli. Salah satunya pada kegiatan jual beli pakaian,pakaian merupakan kebutuhan primer manusia dengan banyak jenis/variasi yang diinginkan.
Besarnya minat dengan perkembangan-perkembangan yang ada manusia dapat memilih sesuai kebutuhan dan selera seperti pakaian brand. Permintaan terhadap pakaian siap pakai akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuha n populasi dunia.[1]
Kenaikan permintaan yang signifikan telah menyebabkan peningkatan penjualan pakaian bekas impor yang meluas di pasar domestik. Maraknya pakaian bekas impor ini berdampak pada produk dalam negeri yang memiliki kualitas lebih layak. Mengimpor pakaian bekas lebih murah dibandingkan menciptakan produk baru, itu sebagai salah satu alasan. Trhifting merupakan suatu kegiatan berburu barang bekas import yang memiliki brand, kualitas bagus dengan harga miring.[2]
Thriftshop sangat banyak bermunculan, namun sangat disayangkan masyarakat tidak memperhatikan dampak dari pakaian bekas tersebut.
Meningkatnya impor serta berdasar hasil pengujian pakaian bekas,membuat pemerintah bertindak tegas mengeluarkan aturan. Data valid dari Badan Pusat Statistik di Tahun 2019 menunjukkan Volume serta nilai pakaian bekas Indonesia mencapai tingkat yang sangat tinggi.[3] Tingginya angka nilai impor pakaian bekas berdampak negative terhambatnya pembangunan negara dari bea dan cukai. Pemerintah melarang impor baju bekas kepada para penjual di pasar menjadi suatu permasalahan tersendiri bagi para penjual.[4] Meskipun aturan impor telah ada importir ilegal tetap mengimpor barang-barang mereka melalui pelabuhan tikus yang hanya orang tertentu yang mengetahui. [5]
Pemerintah bertindak tegas melalui penerapan aturan larangan impor dan intensif dalam menyita pakaian bekas impor bernilai miliaran rupiah.[6] Peredaran produk ilegal di pasaran sudah sangat banyak,pemerintah terlambat mengatasi hal tersebut. Semakin banyaknya pelaku usaha thrifting mengakibatkan tidak berjalan dengan sepenuhnya aturan yang telah ada.[7] Karena itu importir pakaian bekas masih terus berkembang hingga berbagai penjuru Indonesia. Pemerintah kurang memperhatikan penerapan peraturan yang telah dibuat, sehingga terkesan peraturan tersebut hanya dibuat untuk tujuan pelarangan saja.
Banyak penelitian yang mengangkat tentang undang-undang perlindungan konsumen pada jual dan beli thrift. Peneliti sebelumnya mencari kepastian sudah atau belumnya konsumen mendapatkan haknya sebagai konsumen pada kegiatan tersebut.[8] Karena banyaknya hal-hal yang kurang atas
1
informasi barang thrift membuat hak sebagai konsumen tidak terpenuhi. Tidak adanya kepastian hukum yang ada untuk para pedagang thrift ini membuat banyaknya thrift di Indonesia.
Penelitian ini akan mengangkat tentang kepastian hukum, aturan-aturan hukum untuk para pedagang thrift tersebut.
Rumusan masalah: Kepastian hukum untuk mengatur perdagangan thrift dan memberantas kegiatan impor pakian bekas yang telah dilarang dalam aturan
Pertanyaan penelitian: Bagaimana cara penjual baju bekas (thrift) melindungi diri mereka dari tuntutan hukum yang mungkin muncul akibat penjualan produk-produk bekas dengan kualitas yang tidak terjamin dan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan konsumen?
Kategori SDGs: Sesuai dengan kategori SDGs 12 https://sdgs.un.org/goals/goal12 II. Metode
Penelitian ini mencari kejelasan hukum bagi penjual thrift termasuk dalam adanya kekosongan hukum maka dari itu pada penelitian ini menggunakan penelitian yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan(Statue Approach) menalaah peraturan yang bersangkut paut pada pembahasan thrift atau jual beli pakaian bekas. Pada penelitian ini terdapat peraturan –peraturan tentang kebijakan thrift atau jual beli pakaian bekas pada negara Indonesia yaitu Permendag Nomor 18 Tahun 2021 yang telah diubah dengan Permendag Nomor 40 Tahun 2022 tentang Perubahan Atas Permendag Nomor 18 Tahun 2021 Tentang Barang
Dilarang Ekspor dan Barang Dilarang Impor.dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Data Primer dalam penelitian ini bersumber dari Undang-Undang serta peraturanperaturan yang ada, untuk sumber data sekunder berupa artikel ilmiah, jurnal, buku, atau lainnya yang relevan dengan pembahasan dengan menggunakan metode studi kepustakaan
III. Jadwal Penelitian
Adapun jadwal penelitian sebagaimana bisa dilihat pada gambar 1.
No. Tahap dan Kegiatan Penelitian Waktu (Bulan)
1 2 3 4 5 6
1. Persiapan Menyusun Proposal 2. Pengumpulan Data
Mengumpulkan Data Primer dan Sekunder
3. Pengolahan dan Analisis Data
4. Penyusunan Laporan
2
5. Dan Lain-lain Gambar 1. Jadwal penelitian Referensi
[1] C. N. Narulita, E. B. Sili, and I. G. A. Wisudawan, “Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Dalam Jual Beli Barang Pakaian Second Trift Brand Paradise Suplly,” Commer. Law, vol. 2, no.
1, Art. no. 1, Jun. 2022, doi: 10.29303/commercelaw.v2i1.1370.
[2] T. ningsih Wahyu Ningrum, “Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Pakaian Bekas Yang Diimpor Keindonesia.,” Skripsi Univ. Jember 2017, 2017.
[3] A. Fatah, D. A. P. Sari, I. S. Irwanda, L. I. Kolen, and P. G. D. Agnesia, “PENGARUH
LARANGAN IMPOR PAKAIAN BEKAS TERHADAP PENGUSAHA THRIFT,” J. Econ., vol. 2, no. 1, Art. no. 1, Jan. 2023, doi: 10.55681/economina.v2i1.288.
[4] R. Y. Dewi, “Perancangan Informasi Thrift Shop Melalui Media Board Game,”
Bandung:UNIKOM,2020,
[5] S. NABILA, “UPAYA INDONESIA DALAM MENCEGAH IMPOR PAKAIAN BEKAS TAHUN 2015-2020,” Mar. 2023.
[6] Y. Saputra, “Baju bekas impor: Tren thrifting buat Indonesia ‘menjadi penampung sampah’ dan dianggap ‘tidak punya martabat’ - BBC News Indonesia,” Artic. Bbc, Sep. 2022,
[7] K. D. A. L. Ningsih, S. N. Ardhya, and M. J. Setianto, “IMPLEMENTASI PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2020 TENTANG BARANG DILARANG IMPOR (Studi Kasus Peredaran Pakaian Impor Bekas di Kota Singaraja),” J. Komunitas Yust., vol. 4, no. 3, Art. no. 3, 2021, doi:
10.23887/jatayu.v4i3.43084.
[8] B. Arkia Putri Sarah, “Tinjauan Yuridis Terhadap Perlindungan Konsumen Dalam Jual Beli Baju Bekas (Thrift Shop atau Preloved),” Univ. Islam Sultan Agung, Aug. 2022,
3