• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL HUKUM LINGKUNGAN (JHLI)

N/A
N/A
Galang Fadilah

Academic year: 2024

Membagikan "ARTIKEL HUKUM LINGKUNGAN (JHLI)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

DOI: https://doi.org/10.38011/jhli.v9i1.000

REFORMULASI INDONESIAN SUSTANAIBLE PALM OIL (ISPO) GUNA MEWUJUDKAN

PEMBANGUNAN EKONOMI BERKELANJUTAN

Galang Fadilah

1

, Alifkha Herlyanda Putra

2

, Ubaidillah Kamal

3

Abstrak

Artikel ini menyoroti isu dampak lingkungan dari meningkatnya industri ekspor kelapa sawit yang masih mengesampingkan komitmen terhadap lingkungan, seperti penggundulan hutan. Padahal, ekspor kelapa sawit memberikan kontribusi besar dalam mendukung perekonomian nasional melalui penerimaan negara. Maka, pemerintah berupaya mengatur keberlanjutan industri kelapa sawit di Indonesia melalui skema sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai langkah mewujudkan pembangunan ekonomi berkelanjutan di Indonesia yang dirancang untuk melindungi dan menjamin keberlanjutan kelapa sawit.di pasar global. Namun, penerapan sertifikasi ISPO terhadap penanaman lahan gambut dan keberadaan kawasan lindung Bernilai Konservasi Tinggi (HCV) masih belum unggul jika dibandingkan dengan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (RSPO) yang sudah menggunakan prinsip perlindungan standar. Dengan demikian, penulis akan mengajukan sejumlah rekomendasi kebijakan melalui pasal ini dengan (i) merumuskan kembali ketentuan ISPO dengan menyelaraskan ketentuan RSPO dengan menggunakan prinsip standar no deforestation, peatland, and exploitation yang akan melarang penanaman di hutan primer dan HCV dan lahan gambut dengan menghapus MOA 14/2009 dan Pasal 18f PP 24/2021 yang memberikan insentif penanaman di hutan konservasi. Kemudian, (ii) merevisi ketentuan Pasal 110A dan 110B UU Cipta Kerja dengan memberikan sanksi administratif yang lebih tegas kepada pelaku usaha kelapa sawit yang melanggar persyaratan dalam peraturan perundang-undangan, dan (iii) pemerintah perlu menggenjot sertifikasi ISPO, dengan menjadikan ketentuan RSPO sebagai acuan, seperti beberapa ketentuan dalam RSPO yang

1 Universitas Negeri Semarang, [email protected]

2 Universitas Negeri Semarang, [email protected]

3

(2)

memudahkan petani mendapatkan sertifikasi sehingga mendorong pertanian kelapa sawit berkelanjutan.

Kata Kunci: ISPO ; Kelapa Sawit ; Ekonomi Berkelanjutan

Abstract

This article highlights the issue of environmental impacts of the increasing palm oil export industry that still overrides commitments to the environment, such as deforestation. In fact, palm oil exports make a major contribution to supporting the national economy through state revenue. So, the government is making efforts to regulate the sustainability of the palm oil industry in Indonesia through the Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) certification scheme as a step towards realizing sustainable economic development in Indonesia designed to protect and ensure the sustainability of palm oil in the global market. However, the application of ISPO certification to peatland planting and the presence of protected areas with High Conservation Value (HCV) is still not superior when compared to the Indonesian Sustainable Palm Oil (RSPO) certification which already uses standard protection principles. Thus, the author will propose a number of policy recommendations through this article by (i) reformulating the provisions of ISPO by harmonizing the provisions of RSPO using the standard principle of no deforestation, peatland, and exploitation which will prohibit planting in primary and HCV forests and peatlands by removing MOA 14/2009 and Article 18f of PP 24/2021 which provides planting incentives in conservation forests. Then, (ii) revise the provisions of Articles 110A and 110B of the Job Creation Law by providing stricter administrative sanctions to palm oil business actors who violate the requirements in the laws and regulations, and (iii) the government needs to boost ISPO certification, by making RSPO provisions as a reference, such as several provisions in the RSPO that make it easier for farmers to get certified so as to encourage sustainable palm oil farming.

Keywords Indonesian Sustainable Palm Oil ; Sustainable Economy ;Palm Oil

Indonesia diperkirakan menjadi negara dengan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) terbesar kelima pada tahun 2045. Hal tersebut harus ditopang dengan menargetkan kebutuhan PDB sebesar 5,7% per tahun.4 Badan Pusat Statistik mencatat kenaikan 5,32% pada ekspor

4 BAPPENAS. (2018, November 10). Menteri Bambang Brodjonegoro: PDB Indonesia Terbesar Kelima Dunia di Tahun 2045 | Kementerian PPN. Bappenas.

Retrieved April 1, 2024, from https://www.bappenas.go.id/id/berita/menteri- bambang-brodjonegoro-pdb-indonesia-terbesar-kelima-dunia-di-tahun-2045

(3)

pertanian selama januari 2024 dengan realisasi ekspor kelapa sawit memberikan sekitar 33,72% terhadap penerimaan devisa negara pada tahun 2024 sebagai komoditas unggulan Indonesia.5 Hal tersebut menunjukan bahwa sektor kelapa sawit memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional penerimaan devisa negara.

Salah satu upaya pemerintah dalam penguatan  dan peningkatan penerimaan kelapa sawit di Indonesia secara global ialah melalui sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2022). Selaras dengan Pasal 33 Ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945). Yang mana penyelenggaraan ekonomi berdasarkan pada keadilan, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. ISPO merupakan sertifikasi yang dirancang untuk melindungi dan memastikan keberlanjutan kelapa sawit di pasar global. Implementasi ISPO dapat melibatkan proses sertifikasi yang dirancang untuk badan usaha swasta, badan usaha milik negara dan juga perkebunan rakyat.6

Lahirnya ISPO di Indonesia sendiri merupakan respons dari mahalnya sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan oleh lembaga Internasional yang bernama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

7 RSPO ini berada di harga kisaran $25-$50 untuk setiap hektarnya. Maka dari tingginya biaya tersebut Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19/Permentan/OT.140/3/2011 Tahun 2011 tentang Pedoman Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia. Penerapan ISPO dalam Permentan tersebut bersifat wajib terhadap perusahaan kelapa sawit, tetapi masih bersifat sukarela terhadap para pekebun kelapa sawit. Kemudian, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 11/Permentan/OT.140/3/2015 Tahun 2015 tentang Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia, Permentan tersebut juga belum bersifat wajib bagi pekebun sehingga pada tahun 2020 Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 44 Tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia juga dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia sehingga sertifikasi ISPO diberlakukan secara wajib bagi perusahaan perkebunan yang melakukan budidaya perkebunan kelapa sawit.

Namun, penanaman kelapa sawit di Indonesia saat ini masih mengesampingkan komitmen terhadap lingkungan hidup. Dilansir dari Dirjen Kehutanan Indonesia perkebunan kelapa sawit merupakan salah

5 DIrektorat Jenderal Prasana & Sarana Pertanian. (2024, February 15). BPS:

Ekspor Pertanian Januari 2024 Naik Pada Saat Sektor Lainnya Turun. PSP Pertanian. Retrieved April 1, 2024, from https://psp.pertanian.go.id/berita/bps- ekspor-pertanian-januari-2024-naik-pada-saat-sektor-lainnya-turun

6 Ernah Ernah, Eliana Wulandari, and Sudarjat Sudarjat, “Pengenalan Standar Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan,” Jurnal Abdidas 2, no. 1 (2021): 92–97.

7 Sakti Hutabarat, “ISPO Dan Keberlanjutan Perkebunan Kelapa Sawit Di Indonesia,” Indonesian Journal of Agricultural Economics 13, no. 2 (2022): 130–

39.

(4)

satu faktor penyebab deforestasi 32 % kawasan hutan di Indonesia.8 Kemudian saat ini, tujuan dari sertifikasi ISPO telah diperlemah dengan masih dilegalkannya penanaman pada kawasan lahan gambut dan penanaman pada kawasan hutan konservasi yang diatur dalam Undang- Undang Nomor 6 Tahun 2023 Tentang Penetapan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 Tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang (UU Cipta Kerja). Permasalahan tersebut harus diselesaikan agar deforestasi tidak semakin meluas di di Indonesia.

Terlebih lagi dengan diundangkannya European Union Deforestation- Free Regulation (EUDR) pada 16 Mei 2023 yang mensyaratkan beberapa komoditas salah satunya ialah kelapa sawit untuk bebas dari deforestasi. Hal ini berpotensi menjadi hambatan bagi ekspor kelapa sawit Indonesia ke pasar Uni Eropa. Berdasarkan laporan Bank Dunia dalam Commodity Markets Outlook April 2023 dengan adanya regulasi dari Uni Eropa ini menimbulkan resiko dan juga ketidakpastian terhadap beberapa komoditas seperti kelapa sawit, kopi, kakao dan kedelai yang ditanam di kawasan hutan. Akan tetapi dengan adanya EUDR ini merupakan langkah memoderasi deforestasi global yang akan memberikan manfaat terhadap perubahan iklim serta awal dari pertanian yang berkelanjutan. 9

Maka dari itu penting untuk dicermati bagaimana sektor perekonomian terutama kelapa sawit sebagai salah satu sumber penerimaan negara tidak menyebabkan deforestasi yang menjadi salah satu penyebab dari perubahan iklim. Dengan demikian, tujuan dari policy brief mengenai Reformulasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dalam mewujudkan Pembangunan ekonomi berkelanjutan adalah sebagai upaya dalam mewujudkan pilar kedua pembangunan Indonesia Emas 2045, yakni pembangunan ekonomi yang berkelanjutan khususnya dalam komitmen terhadap lingkungan hidup sehingga dapat menjadi suatu langkah yang progresif dalam meningkatkan penerimaan negara dengan tetap mempertahankan kelestarian lingkungan hidup.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, yakni dengan menganalisa fenomena yang dialami oleh subjek penelitian secara deskripsi dalam bentuk bahasa dan kata- kata terhadap suatu konteks khusus yang alamiah. Kemudian, data utama dalam membuat artikel ini, penulis menggunakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai kajian literatur, seperti buku, jurnal, hasil penelitian, website, dan lain sebagainya.

PEMBAHASAN

Permasalahan Penerapan ISPO

Penerapan ISPO dilandaskan dengan prinsip-prinsip yang diatur dalam Pasal 3 ayat (2) Permentan Nomor 38 Tahun 2020, yakni

8 Tomi Satria Maggara and Lince Magriasti, “Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit Politik Ekologi,” AHKAM 3, no. 1 (2024): 23–28.

9 World Bank. (2023, April). Commodity Markets Outlook. A World Bank Report.

https://openknowledge.worldbank.org/server/api/core/bitstreams/6864d537- d407-4cab-8ef1-868dbf7e07e2/content

(5)

kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, penerapan praktik perkebunan yang baik, pengelolaan lingkungan hidup, sumber daya alam dan keanekaragaman hayati, tanggung jawab ketenagakerjaan, tanggung jawab sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, penerapan transparansi, dan peningkatan usaha secara berkelanjutan.  Jadi dapat disimpulkan bahwasanya prinsip dan kriteria ISPO menggambarkan aspek ekologi, lingkungan, sosial dan juga penggunaan lahan.10 Kemudian dalam pasal 4 ayat 2 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2020 tentang Skema Sertifikasi ISPO, menyatakan bahwa sertifikasi ISPO dilaksanakan dengan prinsip- prinsip antara lain: (a) Mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku; (b) Menerapkan praktik pertanian yang optimal dalam perkebunan kelapa sawit; (c) Menjalankan tata kelola lingkungan hidup, sumber daya alam, dan keanekaragaman hayati; (d) Memastikan pertanggungjawaban tenaga kerja; (e) Bertanggung jawab secara sosial dan mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat; (f) Menyelenggarakan kegiatan secara terbuka; dan (g) Menerapkan transparansi dalam segala aspek.

Dalam penerapannya, saat ini masih terdapat tantangan dan permasalahan terkait sistem sertifikasi ISPO. Beberapa permasalahan tersebut yaitu:

1. Konsep keberlanjutan mengenai pengembangan dan pengelolaan kelapa sawit belum dijelaskan para pemangku kepentingan.

2. Peraturan, standar dan indikator ISPO belum mampu menjawab permasalahan mengenai tata kelola perizinan, pengawasan dan kelemahan  penegakan hukum yang terjadi.

3. Sistem sertifikasi RSPO dinilai lebih menarik di pasar global dibanding ISPO, sehingga menimbulkan pertanyaan akan pentingnya sertifikasi ISPO dalam hal ekspor kelapa sawit.

Jika melihat ketentuan sertifikasi RSPO yang terlebih dahulu didirikan pada tahun 2004 yang bertujuan dalam mengembangkan kriteria wajib yang harus dipatuhi oleh perusahaan dalam menghasilkan minyak sawit sehingga dapat meminimalisir dampak negatif yang dihasilkan terhadap flora, fauna, serta Masyarakat.11 Adanya ISPO dan RSPO berperan penting dalam merealisasikan sasaran penerapan industri kelapa sawit. Pada ISPO menysaratkan sebelum dilakukannya audit, perusahaan perkebunan kelapa sawit dalam mendapatkan Penilaian Usaha Perkebunan (PUP) terlebih dahulu haruslah mendapatkan predikat kelas I atau II atau III sedangkan RSPO menggunakan kategori major dan minor.12

10 Abdul Halim Barkatullah and Ifrani Ifrani, Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan Pada Perusahaan Perkebunan Sawit Untuk Meningkatkan Tarap Hidup Masyarakat Di Provinsi Kalimantan Selatan (Nusa Media, 2020).

11 Bagaskara. (2023, January 18). Mengenal Apa Itu RSPO dan Mengapa RSPO Penting? Mutu International. Retrieved April 1, 2024, from https://mutucertification.com/mengenal-apa-itu-rspo/

12 Direktorat Jenderal Perkebunan. (2022, November 4). Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan » SERTIFIKASI ISPO, BENTUK PENGUATAN DAN PENINGKATAN KEBERTERIMAAN PRODUK KELAPA SAWIT INDONESIA SECARA

(6)

ISPO dan RSPO memiliki pandangan yang sama bagi pengelolaan kelapa sawit yang berkelanjutan. Namun jika ditinjau secara komprehensif, RSPO lebih unggul jika dikomparasikan dengan ISPO dari aspek yang sama. Hal ini berdasarkan hasil penelitian dari Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), yang menemukan bahwa RSPO memiliki tingkat kedetailan dan persyaratan lebih komprehensif dibandingkan dengan ISPO. Perbandingan ini ditinjau dari aspek sistem sertifikasi, sistem rantai pasok, perlindungan sosial dan lingkungan, perlakuan terhadap petani kecil/plasma, serta pengelolaan lahan gambut dan pembebasan tanah. Dari penelitian tersebut RSPO memiliki total penilaian sebesar 77 poin dan ISPO mendapat total penilaian 56 poin (Wulandari & Nasution, 2021). Kemudian, hal ini dipertegas oleh CEO World Wildlife Fund (WWF), Rizal Malik, yang menyatakan bahwa industri kelapa sawit di Indonesia sebaiknya menjadikan RSPO sebagai acuan, jika ingin menghasilkan kelapa sawit yang unggul. Karena RSPO lebih mengedepankan aspek keberlanjutan dari segi produksi dan sosial, sedangkan ISPO belum maksimal dari aspek keberlanjutan, namun dari aspek legalitas, ISPO telah sesuai dengan ketentuan peraturan- peraturan pemerintah (Greeners, 2018). Dalam penulisan ini, penulis akan melakukan perbandingan ISPO dan RSPO dari 3 aspek, yaitu sifat sertifikasinya, prosedur penanaman pada lahan baru dan penanaman pada kawasan lahan gambut.

Jika dilihat dari sifat sertifikasinya, ISPO merupakan sertifikasi wajib khusus kelapa sawit di Indonesia, sedangkan RSPO merupakan sertifikasi yang bersifat voluntary bagi negara yang mengekspor kelapa sawit ke konsumen di Uni Eropa (Wulandari & Kusuma, 2023 ). Unit sertifikasi ISPO mencakup perusahaan perkebunan yang mengintegrasikan budidaya dan pengolahan, baik yang berfokus pada usaha budidaya, pengolahan hasil perkebunan, perusahaan perkebunan plasma, maupun mandiri, serta produksi minyak sawit untuk energi terbarukan. Setiap unit sertifikasi berdiri sebagai badan hukum independen. Sedangkan sertifikasi RSPO mencakup pabrik kelapa sawit, perkebunan yang terkait, dan juga perkebunan yang menyediakan tandan kosong kepada pabrik, termasuk petani kecil, petani mandiri, dan perkebunan tanpa pabrik (Sylvia et al. 2022).

Kemudian mengenai Prosedur Penanaman Baru (NPP), RSPO mempersyaratkan pembukaan lahan baru guna penanaman kelapa sawit setelah tanggal 15 November 2018 harus didahului dengan penilaian NKT dan Stok karbon Tinggi (SKT), menggunakan HCSA Toolkit dan penilaian manual terbaru yang berlaku pada saat penelitian, hal ini mencakup konsultasi dengan para pemangku kepentingan untuk mempertimbangkan dampak yang lebih luas. Sedangkan ISPO dalam hal pembukaan lahan baru mewajibkan adanya kajian analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang didalamnya termuat penilaian pengelolaan aspek lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat. Namun, dalam kajian AMDAL tidak memberikan perlindungan secara keseluruhan terhadap keanekaragaman hayati di daerah pertanian. Sedangkan RSPO memiliki langkah-langkah positif terhadap keanekaragaman hayati dan sangat GLOBAL. Direktorat Jenderal Perkebunan. Retrieved April 1, 2024, from https://ditjenbun.pertanian.go.id/sertifikasi-ispo-bentuk-penguatan-dan-

peningkatan-keberterimaan-produk-kelapa-sawit-indonesia-secara-global/

(7)

bergantung pada area yang mengandung NKT (Indonesian Sustainable Palm Oil, 2016). Ketentuan RSPO mengenai NKT, diadopsi dari Forest Stewardship Council (FSC) yang didalamnya terdapat beberapa kriteria mengenai NKT, yaitu:13

1. Kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati, termasuk spesies langka atau terancam punah.

2. Kawasan ekosistem tingkat lanskap yang luas dan berisi populasi sebagian besar spesies yang hidup secara alami.

3. Kawasan ekosistem dan habitat atau tempat perlindungan habitat langka, terancam atau terancam punah.

4. Kawasan yang memiliki pengaruh terhadap tangkapan air dan pengendalian erosi.

5. Kawasan yang menjadi sumber kebutuhan dasar masyarakat lokal.

6. Kawasan yang memiliki nilai-nilai budaya lokal atau masyarakat adat

Ketentuan RSPO mengenai penanaman pada lahan gambut awalnya masih diperbolehkan, namun memerlukan penerapan Best Management Practices (BMPs) yang sederhana untuk pengelolaan lahan gambut.

Namun sejak tanggal 15 November 2018, berdasarkan RSPO Principles

& Criteria 2018 indikator 7.7.1 RSPO tidak lagi mengizinkan penanaman pada lahan gambut. Sedangkan ISPO masih memperbolehkan penanaman pada lahan gambut dengan syarat kedalam konsensinya lebih dari 3 meter. Selain itu ada beberapa perbedaan prinsip antara ISPO dan RSPO, yakni:

Perbandingan Prinsip & Kriteria ISPO dan RSPO Prinsip &

Kriteria

ISPO RSPO

Perlindungan lahan gambut

Memperbolehkan lahan gambut berubah menjadi perkebunan kelapa sawit dengan syarat kedalamannya kurang dari 3 meter 

Melarang lahan gambut menjadi kebun kelapa sawit dengan menggunakan prinsip NDPE Sengketa

lahan/Konflik agraria dengan masyarakat adat/lokal

Sertifikat Hak Milik serta Hak Guna Usaha akan diterbitkan bila semua sengketa telah selesai

Menggunakan sistem padipata dan Prosedur Remediasi dan Kompensasi

13 Roundtable on Sustainable Palm Oil. (n.d.). PRINCIPLES AND CRITERIA FOR SUSTAINABLE PALM OIL PRODUCTION 2018. Indonesia National Interpretation RSPO Principles & Criteria 2018.

(8)

RaCP untuk menyelesaikan sengketa sebelum memulai penanaman pohon Keterlacakan Sistem keterlacakan pasok

perkebunan hingga Perusahaan Kelapa Sawit CPO menggunakan 2 Model  tersegregasi dan mass balance ( berlaku pada 2025)

Penelusuran daring dengan menggunakan PalmTrace

melalui 3

model :  identity preserved, ter segregasi, atau mass balance.

Keterlacakan dapat

diperpanjang hingga

perkebunan atau produk ritel secara manual.

Dokumen persyaratan untuk audit sertifikasi 

Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) dan Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL) sebagai syarat sertifikasi

Tidak

mewajibkan STDB dan SPPL Biaya audit

bagi petani

Total biaya sekitar Rp 250 Juta sebagai dokumen legalitas dan audit lapangan

Total biaya Rp

250 Juta.

Mewajibkan satu audit

Bantuan pendanaan untuk petani

Permohonan dana bantuan dari

Badan Pengelola Dana

Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan harus diajukan sebelum pelaksanaan audit.

Prioritas pendanaan bagi koperasi/kelompok petani dengan lahan 500-1.000 hektar

Pendanaan melalui RSPO Smallholder Support Fund (RSSF)  serta insentif pasca sertifikasi

melalui kredit petani RSPO dengan harga premium.

(9)

Sumber : Center for Indonesian Policy Studies (CIPS)

Adanya EUDR ditujukan sebagai kebijakan dalam membatasi masuknya komoditas dan atau produk yang terkait dengan deforestasi.

Hal ini bertujuan dalam perlindungan hutan serta sebagai langkah preventif terjadinya deforestasi di dunia sehingga dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim juga mendorong praktik pertanian dan industri yang berkelanjutan.14Kebijakan EUDR akan berdampak secara signifikan terhadap pasar dan perdagangan komoditas minyak sawit. Akibatnya negara-negara yang mengimplementasikannya mengharuskan produk yang diimpor atau diproduksi bebas dari deforestasi sehingga menyebabkan adanya hambatan perdagangan non-tarif yang secara langsung mempengaruhi masuknya komoditas dari negara produsen.

 Dengan diundangkannya di EUDR mengakibatkan ekspor Kelapa Sawit ke negara-negara eropa menurun dan mengalami kerugian.

Selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bahwa Indonesia mengalami kerugian mencapai 7$ Miliar AS.15 Hal ini disebabkan oleh penanaman kelapa sawit di Indonesia yang berada di NKT karena adanya UU Cipta kerja Pasal 110A dan 110B yang alih-alih bertindak tegas dalam penggunaan lahan hutan untuk usaha yang belum memenuhi persyaratan. Akan tetapi, UU Cipta Kerja justru memberikan pemutihan hingga 2 November 2023. Padahal keberadaan 505 kebun kelapa sawit ilegal telah merugikan negara sebanyak Rp. 44 Triliun (Ramadhan, 2022).  Selain itu peraturan pelaksana dari UU Cipta kerja yakni Pasal 18 huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2021 Tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif Dan Tata Cara Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berasal Dari Denda Administratif Di Bidang Kehutanan ( PP 24/2021)  yang mana dalam peraturan tersebut yang melegalkan usaha kelapa sawit  dalam hutan konservasi.

Selain dari PP Cipta Kerja dengan masih dilegalkannya penanaman lahan gambut dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 14/Permentan/PL.110/2/2009  Tentang pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya kelapa sawit. Padahal lahan gambut mempunyai peran besar dalam mitigasi emisi gas rumah kaca, menjadi habitat berbagai satwa, mengatur tata air dan sanggup menyediakan berbagai hasil hutan bukan kayu. Lahan gambut juga sanggup menampung hampir 30

% jumlah karbon di dunia agar tak terlepas ke atmosfer dan juga mempunyai fungsi untuk mencegah perubahan iklim. Dengan adanya pengaturan di atas berdampak pada maraknya deforestasi di Indonesia, Terlebih lagi peran sentralnya NKT dan juga Lahan gambut dalam menjaga ekosistem alam.16

14 Sipayung, T. (2024, March 15). Kebijakan EUDR / Deforestation Free (2024).

PASPI. Retrieved April 1, 2024, from

https://palmoilina.asia/sawit-hub/kebijakan-eudr/

15 Pratiwi, F. (n.d.). Airlangga: Kerugian Implementasi EUDR Capai 7 Miliar Dolar

AS. Wikipedia. Retrieved April 1, 2024, from

https://ekonomi.republika.co.id/berita/rxq7zu457/airlangga-kerugian- implementasi-eudr-capai-7-miliar-dolar-as

(10)

Lahan gambut di Indonesia menyimpan sekitar 80 miliar ton karbon, hal ini setara dengan 5 persen dari seluruh karbon yang tersimpan di dalam tanah secara global, namun angka ini menurun bersamaan dengan peningkatan perkebunan kelapa sawit skala besar.17 Hal ini berdasarkan data dari TheTreeMap, yang menunjukkan bahwa kenaikkan deforestasi terjadi di lahan gambut. Total pada tahun 2023, terdapat 10.787 hektare rawa gambut yang dikonversi jadi kelapa sawit, naik 17% dari tahun 2022. Kemudian pada tahun 2023, perluasan kelapa sawit mengubah hutan seluas 30.000 hektare guna penanaman kelapa sawit, naik 36% dari tahun 2022.18 Pemerintah seharusnya dapat mengontrol ekspansi perkebunan kelapa sawit di Indonesia, mengingat hutan maupun lahan gambut/rawa gambut mempunyai peranan penting bagi lingkungan hidup. Jika pemerintah  masih memberikan keleluasan dalam hal ekspansi penanaman kelapa sawit pada lahan gambut, maka hal ini akan bertentangan dengan EUDR, karena EUDR menentang komoditas yang berkaitan dengan deforestasi.

Setidaknya ada beberapa hal yang menjadi tantangan penerapan EUDR di Indonesia. Pertama, yakni mengenai inklusivitas smallholder (petani kecil) dikarenakan komoditas tersebut harus diverifikasi berdasarkan uji kelayakan lahan (due diligence) dan  penerapan geolocation tagging  atau dalam kata lain penyerahan data yang lengkap titik koordinat dimana komoditas itu di  tanam. Kedua yakni sustainability atau keberlanjutan keberlanjutan yang harus diselesaikan tentunya dengan penguatan dan pelarasan prinsip dari ISPO, Ketiga benchmark mengenai kategori berisiko tinggi (high risk) dan berisiko rendah (low risk), dan yang Keempat traceability atau ketertelusuran dalam suatu komoditas kelapa sawit itu ditanam.19

Reformulasi Prinsip Dan tujuan ispo yang selaras dengan EUDR

Hadirnya peraturan mengenai pemutihan lahan sawit dalam UU cipta kerja memberikan dampak buruk bagi kelestarian kawasan hutan dan seluruh ekosistem  di dalamnya, hal ini juga akan memperparah

16 Artika Pertasari, “Kebijakan Moratorium Lahan Gambut Berkelanjutan Di Indonesia,” Prosiding Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (PISIP) 2, no. 1 (2022): 164–

70.

17 Human Right Watch. (2021, June 3). “Mengapa Tanah Kami?”: Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia Membahayakan Lahan Gambut dan Penghidupan Masyarakat | HRW. Human Rights Watch. Retrieved April 1, 2024, from https://www.hrw.org/id/report/2021/06/03/378784

18 Oktavianto, P. (2024, February 20). Deforestasi Akibat Kelapa Sawit Kembali Naik. Forest Digest. Retrieved April 1, 2024, from https://www.forestdigest.com/detail/2519/deforestasi-perkebunan-sawit

19 Outbackball. (2024, Januari 10). Eropa Jegal Sawit, Pemerintah RI Siap

“Protes” 5 Perkara Ini. Wikipedia. Retrieved April 1, 2024, from https://outbackball.com/2024/01/10/eropa-jegal-sawit-pemerintah-ri-siap- protes-5-perkara-ini/

(11)

deforestasi yang terjadi di Indonesia.20 Oleh karena itu penambahan pasal 110A dan 110B UU P3H dalam UU Cipta Kerja perlu direvisi dengan memberikan sanksi administratif yang lebih tegas bagi pelaku usaha kelapa sawit dan mencabut izin usaha bagi pelaku usaha kelapa sawit yang belum memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan.

Pengadopsian EUDR harus diimbangi dengan standar peningkatan dan keberlanjutan sertifikasi bagi para perusahaan. Selaras dengan apa yang dinyatakan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menekankan bahwa Peningkatan sertifikasi ISPO yang mengacu pada standar internasional menunjukkan praktik yang berkelanjutan dalam memperkuat industri secara keseluruhan, dengan menekankan pada pelatihan, sumber daya, serta dukungan terhadap petani kecil.21 Melalui Kepmentan No.833 Tahun 2019, Kementerian Pertanian (Kementan) merilis luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia sebesar 16.38 hektare, di mana rakyat dalam hal ini jumlah petani kecil memiliki lahan sebesar 6,72 hectare. Reformulasi ISPO dapat menjawab tantangan dari adanya keberlakuan EUDR, terkait sulitnya bagi para petani kecil dalam meningkatkan produktivitas pertanian yang berkelanjutan, bertanggung jawab, dan legal. Sehingga dengan adanya reformulasi terhadap ketentuan ISPO, maka ISPO dapat bersaing di ranah internasional.22Berikut jumlah perusahaan sawit yang telah bersertifikasi ISPO berdasarkan luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia (Kementerian Pertanian):

No .

Penguasaan Lahan Jumlah Sertifikat 1. Perkebunan Besar

Swasta 677

2. Perkebunan Besar

Negara 65

3. Perkebunan Rakyat 32

TOTAL 774

20 Hafilah Adys Mardela et al., “ANALISIS DILEMA PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA REGULASI PEMUTIHAN LAHAN SAWIT DALAM UNDANG-UNDANG CIPTA KERJA,” Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, Dan Humaniora 1, no. 2 (2023):

155–63.

21 Majalah Sawit Indonesia. (2024, Januari). ISPO dan EUDR: Sebuah Perspektif Indonesia – Kantor Berita Sawit. Kantor Berita Sawit. Retrieved April 1, 2024, from https://sawitindonesia.com/ispo-dan-eudr-sebuah-perspektif-indonesia/

22 Smart Agribusiness and Food. (2016, October 14). Sertifikasi ISPO dan Keuntungannya bagi Petani Kelapa Sawit - PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. PT SMART Tbk. Retrieved April 1, 2024, from https://www.smart-tbk.com/sertifikasi-ispo-dan-keuntungannya-bagi-petani- kelapa-sawit/

(12)

Sumber: SATU DATA INDONESIA, https://katalog.satudata.go.id/dataset Melihat data yang ada bahwa sertifikasi yang rendah pada petani dan perkebunan perlu beberapa kebijakan agar dapat mendongkrak sertifikasi ISPO. Seperti beberapa ketentuan di dalam RSPO yang memudahkan petani untuk mendapatkan sertifikasi seperti :

a. ISPO dapat mengikuti fleksibilitas RSPO, Yakni dengan mengakui keterangan dari kepala desa sebagai bukti sementara atas kepemilikan lahan jikalau petani pada saat diaudit belum memiliki SHM yang asli. Kemudian petani juga diperbolehkan menggunakan  surat dari dinas perkebunan setempat saat dokumen SPPL dan STDB-nya masih dalam proses pembuatan.

b. Persyaratan keanggotaan petani harus konsisten. Bila kita melihat Pasal 11 Paragraf 2 Permentan No 38/2020 yang menyatakan bahwa petani dapat mengajukan sertifikasi ISPO baik perorangan atau kelompok. Akan tetapi pada Prinsip 2 mengenai penerapan praktik perkebunan yang baik, petani wajib menunjukan dokumen atau keanggotaan sebagai syarat sertifikasi.

c. Membantu petani menggunakan benih yang tidak illegal seperti benih mariles yang marak digunakan petani kelapa sawit pada tahun 1990-2000 an agar dapat disertifikasi ISPO. Pemerintah juga dapat membantu secara berkala dengan pemberian benih bersertifikasi melalui program peremajaan kebun yang dikelola oleh Kementan dan BPDPKS

d. Perlu adanya pemberian Insentif bagi perusahaan yang bermitra dengan petani swadaya yang dikelola oleh Kementan dan juga BPDPKS. Mekanisme insentif ini juga dapat diambil dari Dana Perkebunan Kelapa Sawit untuk perusahaan yang ingin bermitra dengan petani swadaya kepada harga penetapan provinsi (HPP).

Mekanisme keterlacakan ISPO baru akan dimulai pada tahun 2025 maka ada waktu untuk penyelarasan terkait mekanisme keterlacakan yang kini berfokus pada rantai pasok antara perkebunan sumber tandon buah segar (TBS) dan perusahaan kelapa sawit (PKS). sedangkan RSPO menggunakan sistem PalmTrace RSPO yang dimulai dari PKS. Maka pemerintah harus membuat skema keterlacakan menggunakan platform seperti RSPO

Pemerintah juga perlu berinvestasi pada industri ini secara berkala dengan berkomitmen memfasilitasi akses terbuka terhadap data konsensi kelapa sawit. Yakni untuk memastikan tak ada lagi NKT dan lahan gambut yang ditanami kelapa sawit, Pemerintah juga membuat kemitraan pemerintah swasta anata RSPO, Kementan dan sistem pemantauan pihak ketiga seperti Global Forest Watch. Yang terakhir BPDPKS perlu mereformasi caranya mengelola dana yang dihimpun dari pungutan ekspor CPO dan mengalokasikan anggaran untuk memberi bantuan finansial kepada program keberlanjutan yang dilaksanakan oleh petani swadaya.

(13)

KESIMPULAN

Pembangunan bisnis kelapa sawit yang berkelanjutan di Indonesia telah dimulai sejak tahun 2011 melalui ISPO dengan peraturan yang terus mengalami perubahan hingga pada tahun 2020 dikeluarkan Perpres 44/2020 dan Permentan 38/2020. Meskipun telah mengatur sertifikasi melalui ISPO, nyatanya deforestasi tetap terjadi. Hal tersebut terjadi karena dalam hal prinsip lingkungan ISPO sendiri masih memiliki kelemahan dibandingkan RSPO, kelemahan tersebut dapat dilihat pada penilaian Kawasan NKT dan penanaman pada lahan gambut. Sementara itu, dengan diundangkannya UU Cipta Kerja juga berpotensi memperparah terjadinya deforestasi dan memperlemah prinsip serta tujuan ISPO itu sendiri yang akan berujung pada potensi kerugian dengan diundangkannya EUDR.

Guna mewujudkan Pembangunan ekonomi berkelanjutan, penulis akan merekomendasikan kebijakan-kebijakan berikut;

Pertama, perlu adanya harmonisasi ketentuan sertifikasi ISPO melalui reformulasi standar dan prinsip terhadap ketentuan sertifikasi RSPO sebagai langkah preventif atau pencegahan deforestasi dan keanekaragaman hayati, yakni ISPO harus meniru RSPO dengan menggunakan standar prinsip NDPE. Kedua, perlu adanya revisi Pasal 110A dan 110B UU Cipta kerja  dengan memberikan sanksi administratif yang lebih tegas kepada pelaku usaha kelapa sawit yang melanggar syarat dalam peraturan perundang-undangan. Ketiga, pemerintah perlu mendongkrak sertifikasi ISPO, dengan menjadikan ketentuan RSPO sebagai acuan, seperti beberapa ketentuan di dalam RSPO yang memudahkan petani untuk mendapatkan sertifikasi. sehingga mendorong pertanian kelapa sawit yang berkelanjutan.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Databoks: Pusat Data Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Retrieved March 20, 2024, from https://databoks.katadata.co.id/

HCV Network | We protect people and nature. Retrieved March 28, 2024, from https://www.hcvnetwork.org/

Airlangga sebut kerugian implementasi EUDR capai 7 miliar dolar AS.

(2023, Jule). Retrieved March 20, 2024, from https://m.antaranews.com/amp/berita/3633180/airlangga-sebut- kerugian-implementasi-eudr-capai-7-miliar-dolar-as

Artika Pertasari. (2022). KEBIJAKAN MORATORIUM LAHAN GAMBUT BERKELANJUTAN DI INDONESIA. PISIP| QUO VADIS RESTORASI GAMBUT DI INDONESIA; Tantangan & Peluang Menuju Ekosistem

(15)

Gambut Berkelanjutan, Vol. 2 No. 1, 164.

https://fisip.prosiding.unri.ac.id/index.php/pisip/issue/view/2/2 Bagaskara. (2023, January 18). Mengenal Apa Itu RSPO dan Mengapa

RSPO Penting? Mutu International. Retrieved April 1, 2024, from https://mutucertification.com/mengenal-apa-itu-rspo/

BAPPENAS. (2018, November 10). Menteri Bambang Brodjonegoro: PDB Indonesia Terbesar Kelima Dunia di Tahun 2045 | Kementerian PPN.

Bappenas. Retrieved April 1, 2024, from

https://www.bappenas.go.id/id/berita/menteri-bambang-

brodjonegoro-pdb-indonesia-terbesar-kelima-dunia-di-tahun-2045 BPS: Ekspor Pertanian Januari 2024 Naik Pada Saat Sektor Lainnya Turun

. (2024, February 15). PSP Pertanian. Retrieved March 18, 2024, from https://psp.pertanian.go.id/berita/bps-ekspor-pertanian-januari- 2024-naik-pada-saat-sektor-lainnya-turun

Direktorat Jenderal Perkebunan. (2022, November 4). Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan » SERTIFIKASI ISPO, BENTUK PENGUATAN DAN PENINGKATAN KEBERTERIMAAN PRODUK KELAPA SAWIT INDONESIA SECARA GLOBAL. Direktorat Jenderal

Perkebunan. Retrieved April 1, 2024, from

https://ditjenbun.pertanian.go.id/sertifikasi-ispo-bentuk-penguatan- dan-peningkatan-keberterimaan-produk-kelapa-sawit-indonesia- secara-global/

DIrektorat Jenderal Prasana & Sarana Pertanian. (2024, February 15).

BPS: Ekspor Pertanian Januari 2024 Naik Pada Saat Sektor Lainnya Turun. PSP Pertanian. Retrieved April 1, 2024, from

(16)

https://psp.pertanian.go.id/berita/bps-ekspor-pertanian-januari- 2024-naik-pada-saat-sektor-lainnya-turun

Ernah, Wulandari, E., & Sudarjat. (2021, Februari). Pengenalan Standar Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan. Jurnal Abdidas, 2, 92-97.

https://doi.org/10.31004/abdidas.v2i1.218

Greeners. (2018, June 8). Sertifikasi ISPO dan RSPO untuk Industri Sawit Berkelanjutan. Greeners.Co. Retrieved April 1, 2024, from https://www.greeners.co/berita/sertifikasi-ispo-dan-rspo-untuk- industri-sawit-berkelanjutan/

Human Right Watch. (2021, June 3). “Mengapa Tanah Kami?”: Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia Membahayakan Lahan Gambut dan Penghidupan Masyarakat | HRW. Human Rights Watch.

Retrieved April 1, 2024, from

https://www.hrw.org/id/report/2021/06/03/378784

Hutabarat, S. (2022). ISPO dan Keberlanjutan Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia. Indonesian Journal of Agricultural Economics (IJAE), Volume 13, Nomor 2(ISPO dan Keberlanjutan Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia), 131. ISSN 2087 - 409X | E-ISSN 2775- 6106 Indonesian Sustainable Palm Oil. (n.d.). Comparison of the ISPO, MSPO

and RSPO Standards. Economics Climate Environment.

ISPO dan EUDR: Sebuah Perspektif Indonesia – Kantor Berita Sawit.

(n.d.). Kantor Berita Sawit. Retrieved March 18, 2024, from https://sawitindonesia.com/ispo-dan-eudr-sebuah-perspektif-

indonesia/

Jurnal Kelapa Sawit Dan Devisa Ekspor (2023). (2023, February 27).

PASPI. Retrieved March 11, 2024, from https://palmoilina.asia/jurnal-

(17)

kelapa-sawit/sawit-dan-devisa-ekspor/

Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan » SERTIFIKASI ISPO, BENTUK PENGUATAN DAN PENINGKATAN KEBERTERIMAAN PRODUK KELAPA SAWIT INDONESIA SECARA GLOBAL. (2022, November 4). Direktorat Jenderal Perkebunan. Retrieved March 12, 2024, from https://ditjenbun.pertanian.go.id/sertifikasi-ispo-bentuk- penguatan-dan-peningkatan-keberterimaan-produk-kelapa-sawit- indonesia-secara-global/

Kementerian Pertanian Republik Indonesia Sekretariat Komisi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). (n.d.). Studi Bersama Persamaan dan Perbedaan Sistem Sertifikasi ISPO dan RSPO. United Nations Development Programme. Retrieved March 13, 2024, from https://www.undp.org/sites/g/files/zskgke326/files/migration/id/cd79 aa500737c628d9f031e1a451d0c72bd17e062d14b19800b3dacdeb e5e56f.pdf

Majalah Sawit Indonesia. (2024, Januari). ISPO dan EUDR: Sebuah Perspektif Indonesia – Kantor Berita Sawit. Kantor Berita Sawit.

Retrieved April 1, 2024, from https://sawitindonesia.com/ispo-dan- eudr-sebuah-perspektif-indonesia/

Manggara, T. S., & Magriasti, L. (2024). EKSPANSI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT POLITIK EKOLOGI. Jurnal Hukum Islam dan Humaniora, 3(1), 23-28. https://doi.org/10.58578/ahkam.v3i1.2454

Mardela, H. A., Apriza, K. N., Naufal, M. R., & Almira, S. I. (n.d.). ANALISIS DILEMA PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA REGULASI PEMUTIHAN LAHAN SAWIT DALAM UNDANG-UNDANG CIPTA KERJA. Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora, 1(2), 155-163.

(18)

Menteri Bambang Brodjonegoro: PDB Indonesia Terbesar Kelima Dunia di Tahun 2045 | Kementerian PPN. (2018, November 10). Bappenas.

Retrieved March 18, 2024, from

https://bappenas.go.id/id/berita/menteri-bambang-brodjonegoro- pdb-indonesia-terbesar-kelima-dunia-di-tahun-2045

Menteri LHK: Kebun Sawit Ilegal Rugikan Negara Rp 44 Triliun. (n.d.).

News Republika.

https://news.republika.co.id/berita/r9htzm330/menteri-lhk-kebun- sawit-ilegal-rugikan-negara-rp-44-triliun#google_vignette

Oktavianto, P. (2024, February 20). Deforestasi Akibat Kelapa Sawit Kembali Naik. Forest Digest. Retrieved April 1, 2024, from https://www.forestdigest.com/detail/2519/deforestasi-perkebunan- sawit

Outbackball. (2024, Januari 10). Eropa Jegal Sawit, Pemerintah RI Siap

“Protes” 5 Perkara Ini. Wikipedia. Retrieved April 1, 2024, from https://outbackball.com/2024/01/10/eropa-jegal-sawit-pemerintah- ri-siap-protes-5-perkara-ini/

Pratiwi, F. (n.d.). Airlangga: Kerugian Implementasi EUDR Capai 7 Miliar Dolar AS. Wikipedia. Retrieved April 1, 2024, from https://ekonomi.republika.co.id/berita/rxq7zu457/airlangga-

kerugian-implementasi-eudr-capai-7-miliar-dolar-as

Ramadhan, B. (2022, Maret 29). Menteri LHK: Kebun Sawit Ilegal Rugikan Negara Rp 44 Triliun. Wikipedia. Retrieved April 1, 2024, from https://news.republika.co.id/berita/r9htzm330/menteri-lhk- kebun-sawit-ilegal-rugikan-negara-rp-44-triliun

(19)

Roundtable on Sustainable Palm Oil. (n.d.). PRINCIPLES AND CRITERIA FOR SUSTAINABLE PALM OIL PRODUCTION 2018. Indonesia National Interpretation RSPO Principles & Criteria 2018.

Sipayung, T. (2024, March 15). Kebijakan EUDR / Deforestation Free (2024). PASPI. Retrieved April 1, 2024, from https://palmoilina.asia/sawit-hub/kebijakan-eudr/

Smart Agribusiness and Food. (2016, October 14). Sertifikasi ISPO dan Keuntungannya bagi Petani Kelapa Sawit - PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. PT SMART Tbk. Retrieved April 1, 2024, from https://www.smart-tbk.com/sertifikasi-ispo-dan- keuntungannya-bagi-petani-kelapa-sawit/

Sylvia, N., Rinaldi, W., Muslim, A., Husin, H., & Yunardi. (n.d.). Challenges and possibilities of implementing sustainable palm oil industry in Indonesia. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 969.

World Bank. (2023, April). Commodity Markets Outlook. A World Bank Report.

https://openknowledge.worldbank.org/server/api/core/bitstreams/68 64d537-d407-4cab-8ef1-868dbf7e07e2/content

Wulandari, A., & Nasution, M. A. (2021). COMPARISON OF ROUNDTABLE ON SUSTAINABLE PALM OIL (RSPO), INDONESIAN SUSTAINABLE PALM OIL (ISPO), AND MALAYSIAN SUSTAINABLE PALM OIL(MSPO).

Jurnal Penelitian Kelapa Sawit, 29(1), 35-48. Retrieved 2024, from https://doi.org/10.22302/iopri.jur.jpks.v29i1.129

Wulandari, E., & Kusuma, A. F. (2023). Indonesia’s Palm Oil: Never- ending Dilemmas and Solutions. Jurnal Pengembangan SDM dan

(20)

Kebijakan Publik, 4(2), 57-68.

https://doi.org/10.62099/khapro.v4i2.70

Referensi

Dokumen terkait

Perusahaan perkebunan sawit yang telah mendapatkan penilaian Kelas I, Kelas II atau Kelas III sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 07/Permentan/OT.140/2/2009 tentang

940/kpts/OT.210/10/97 tentang Pedoman Kemitraan Usaha Pertanian dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26/Permentan/OT.140/2/2007 tentang Pedoman Perizinan Usaha

Perusahaan perkebunan sawit yang telah mendapatkan penilaian Kelas I, Kelas II atau Kelas III sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 07/Permentan/OT.140/2/2009 tentang

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 61/Permentan/OT.140/10/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian, Sekretariat Jenderal

Biro Hukum dan Informasi Publik berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 61/Permentan/OT.140/10/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian. Mempunyai

Pengawalan dan Pendampingan untuk UPSUS Padi, Jagung dan Kedelai berpedoman pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 03/Permentan/OT.140/02/2015 tentang Pedoman Upaya Khusus

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 20 tahun 2019 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Menteri Pertanian Nomor 94/Permentan OT.140/12/2011 tentang Tempat

alai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 27/Permentan/OT.140/3/2013, tanggal 11 Maret 2013, mempunyai tugas