• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ancaman bagi Bumi dan Manusia

N/A
N/A
Khairunnisa Khairunnisa

Academic year: 2024

Membagikan "Ancaman bagi Bumi dan Manusia"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

KOMPAS.com - Perubahan iklim merupakan perubahan kondisi lingkungan bumi secara global jangka panjang yang signifikan pada suhu dan pola cuaca. Dampak perubahan iklim yang dapat dilihat secara nyata adalah suhu bumi yang semakin meningkat. Dalam beberapa waktu terakhir, wilayah Indonesia mengalami cuaca panas walau sudah memasuki bulan Oktober yang seharusnya musim hujan. Salah satu riset terakhir yang dilakukan sejumlah peneliti dari Penn State University, Amerika Serikat, mengungkap potensi perubahan iklim membuat beberapa bagian di bumi dapat benar-benar panas untuk dihuni manusia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perubahan Iklim Berpotensi Bikin Bumi Terlalu Panas untuk Manusia"

KOMPAS.com - Dampak perubahan iklim kian nyata dan mulai mengganggu keseimbangan ekosistem bumi. Laporan terbaru mengungkapkan, perubahan iklim mulai mengancam kelestarian tumbuhan dan lumut. Dikutip dari Earth, Senin (16/10/2023), dampak perubahan iklim saat ini menyebabkan lebih dari 700 spesies tanaman dan lumut menghadapi risiko punah.

Dampak perubahan iklim pada tanaman dan lumut Sejumlah spesies tanaman dan lumut yang terdaftar sebagai spesies terancam punah di bawah Undang-undang Spesies Terancam

(Endangered Species Act) sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, Pohon Hutan Hujan Tropis Gagal Berfotosintesis Tak hanya itu, dampak perubahan iklim juga semakin mengancam spesies lain yang sebelumnya telah dalam kondisi rentan karena jumlah atau populasinya yang semakin langka. Sebagian besar organisme yang diakui di bawah Undang-undang Spesies Terancam adalah tanaman dan lumut. Sayangnya, evaluasi sistematis mengenai risiko yang dihadapi oleh tanaman dan lumut akibat perubahan iklim belum dilakukan secara menyeluruh selama lebih dari satu dekade. Untuk menyelidiki lebih lanjut, tim peneliti yang dipimpin oleh Wrobleski memanfaatkan metode yang sebelumnya digunakan untuk mengevaluasi ancaman perubahan iklim terhadap hewan liar. Pendekatan baru ini memungkinkan para peneliti untuk menilai sejauh mana tanaman dan lumut yang terdaftar rentan terhadap perubahan iklim. Mereka berusaha mencari tahu apakah perubahan iklim secara resmi diakui sebagai ancaman bagi setiap spesies. Hasil analisis tersebut menegaskan, dampak perubahan iklim, sangat memengaruhi kelangsungan hidup semua spesies tanaman dan lumut yang terdaftar sebagai spesies rentan. Strategi melindungi tanaman dan lumut Dilansir dari Science Daily, Senin (16/10/2023), kendati perubahan iklim telah diyakini sebagai ancaman bagi spesies-spesies ini, namun tampaknya masih terdapat kekurangan dalam upaya perlindungan dan ini harus segera diperbaiki. Para peneliti mendesak perlunya tindakan proaktif yang harus segera dilakukan untuk menjamin kelangsungan hidup dan pemulihan banyak spesies ini. Hasil

penelitian ini seharusnya menjadi panduan dalam perencanaan konservasi tanaman dan lumut yang terancam punah serta membantu merumuskan rekomendasi untuk pemulihan spesies di masa depan. Para peneliti mengevaluasi rencana konservasi untuk spesies tanaman dan lumut yang terancam punah di bawah Undang-undang Spesies Terancam. Mereka menemukan, rencana konservasi tersebut tidak dapat mengatasi atau melindungi spesies tersebut dari dampak

perubahan iklim.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ruandha Agung Sugardiman, menyerukan agar semua pihak bekerja sama melawan ancaman perubahan iklim yang semakin nyata. Hal ini untuk mendorong

(2)

terwujudnya tujuan Perjanjian Iklim Paris 2015 yakni pembatasan kenaikan suhu global di rentang 1,5 - 2 derajat Celcius.

“Perubahan cuaca, kenaikan permukaan air laut, dan fenomena cuaca semakin ekstrem seiring dengan bertambahnya produksi emisi gas rumah kaca, menjadi bukti nyata dari adanya

perubahan iklim,“ tutur Ruandha dalam konferensi internasional yang diselenggarakan Jejaring Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan (APIK) Indonesia, Selasa (29/09).

Ruandha menjelaskan, krisis aktual saat ini mempersulit negara-negara di dunia khususnya negara miskin dan negara berkembang untuk melawan ancaman perubahan iklim. Akibatnya, kondisi perekonomian global mengalami pelemahan hingga 20 persen.

Perubahan iklim dan pandemi COVID-19 memiliki persamaan bahwa kerusakan parah dapat diatasi jika masyarakat berkomitmen untuk mengambil tindakan tegas dan dini dalam

menghadapi ancaman yang bersifat tak kasat mata,“ jelasnya.

Ruandha menegaskan, jika ancaman ini tidak segera diatasi akan berdampak kepada ketersediaan dan keamanan pasokan pangan serta kesehatan penduduk dunia. Ia pun menyampaikan

pentingnya kerja sama internasional dalam melawan ancaman perubahan iklim.

“Perubahan iklim memerlukan solusi yang dikoordinasikan di tingkat internasional,“ papar Ruandha.

Pengembangan ekonomi rendah karbon

Lebih lanjut, Ruandha mengatakan Indonesia sebagai salah satu negara yang ikut meratifikasi Perjanjian Paris telah merancang target pengurangan emisi karbon (NDC) sebesar 29 persen dengan upaya sendiri dan 41 persen dengan kerja sama internasional hingga tahun 2030.

Selain itu Indonesia juga telah menyerahkan dokumen strategi jangka panjang (LTS-LCCR) dalam menekan produksi emisi gas rumah kaca kepada sekretariat Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC).

“Prinsip utamanya untuk menyongsong ekonomi rendah karbon dan ketahanan iklim, seraya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menyesuaikan kondisi sosial politik nasional,“ ujar Dirjen PPIK-KLHK itu.

Hanna Stepani: Belajar Ilmu Iklim ke Glasgow dan Lahti

Belajar Ilmu Iklim ke Glasgow dan Lahti

(3)

Foto: Hanna Meiria

Di antara sekian banyak program beasiswa yang dicoba

Erasmus join master degree program memberi beasiswa penuh selama dua tahun untuk Hanna dan 14 kandidat lain untuk studi urban climate and sustainability. Mahasiswa akan belajar di tiga negara berbeda, Skotlandia, Finlandia, dan Spanyol dan mendapat gelar dari tiga universitas berbeda. "Aplikasinya cukup simpel dibanding beasiswa-beasiswa yang pernah saya coba sebelumnya," katanya.

(4)

Foto: Hanna Meiria

Program studi yang unik

Mahasiswanya berasal dari berbagai negara, juga dosennya. Kampusnya pun tidak di satu negara tapi tiga, Inggris-Finlandia-Spanyol. Sangat multikultur. Ruang lingkup pelajarannya sangat luas.

Dari manajemen, perencanaan, dan sains untuk kota yang berkelanjutan. Selain itu ada

perubahan iklim dan manajemen karbon pada lingkungan perkotaan, energi terbarukan, hingga akustik perkotaan.

Foto: Hanna Meiria

Tinggal di kota terhijau di Eropa

Meski dingin menusuk kulit di musim dingin dan waktu gelap yang membuat depresi. Finlandia sangatlah ramah dan suportif terhadap mahasiswa, keluarga, bahkan lingkungan. Lahti salah kota di Finlandia, bahkan memberikan hadiah Euro “virtual” yang dapat ditukarkan tiket bus dan tiket kolam renang gratis, bahkan makanan atau minuman gratis bagi warganya yang rajin melacak emisi karbon harian mereka.

Foto: Hanna Meiria

Penurunan emisi gas rumah kaca

Inggris termasuk yang paling ambisius dalam memasang target menjadi karbon netral di 2050.

Skotlandia lebih ambisius lagi dengan target penurunan emisi gas rumah kaca menjadi net zero

(5)

di tahun 2045. Glasgow sangat ambisius dalam target karbon netralnya hingga 2037.Glasgow rencananya akan menjadi tuan rumah COP26 tahun ini, jika wabah Covid-19 tak melanda.

Foto: Hanna Meiria

Untuk dibawa pulang

Ilmu dan pengalaman seputar iklim perkotaan, sangat penting dan signifikan untuk diterapkan di Indonesia terutama di ibu kota, Jakarta. Salah satu penelitian Hanna adalah mitigasi Urban Heat Island, dengan optimalisasi indeks hijau. Ilmu dari master studinya ini berguna untuk

mengembangan Ruang Terbuka Hijau Jakarta kelak. (Ed: rap/) Penulis: Sorta Caroline

Foto: Hanna Meiria

5 foto 1 | 55 foto

Peran penting negara-negara berkembang

Peneliti dari Jejaring Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan (APIK) Indonesia, Dedy Hadriyanto, mengatakan senada dengan Ruandha, bahwa perubahan iklim menjadi masalah serius negara- negara berkembang saat ini. Hal ini semakin diperparah dengan adanya pandemi COVID-19.

“Mitigasi dan adaptasi diperlukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan ketahanan (dampak perubahan iklim),“ ujar Deddy.

Meski negara-negara berkembang berkontribusi besar dalam menyumbang emisi karbon, Deddy menilai negara-negara berkembang pulalah yang mempunyai potensi besar dalam melawan ancaman perubahan iklim.

“Negara-negara berkembang harus mempunyai langkah-langkah mitigasi dan adaptasi dengan atau tanpa bantuan negara-negara maju demi masa depan yang bekelanjutan,“ tutur akademisi Universitas Mulawarman ini.

“Solusi mitigasi dan adaptasi harus mempertimbangkan konteks lokal, antara lain aspek sosial, ekonomi, dan ekologi,“ Deddy menambahkan.

Anggaran karbon menipis

Namun, laporanAnalisis Kebijakan Iklim Indonesia yang dirilis WALHI pada Senin (28/09) menyebutkan, Indonesia tampaknya sulit untuk mencapai target Perjanjian Paris.

(6)

Berdasarkan anggaran karbon global yang ada – jumlah emisi gas rumah kaca yang masih dapat dikeluarkan, agar kita masih bisa menahan tingkat pemanasan global di bawah kisaran suhu tertentu – sudah semakin menipis.

Proyeksi emisi Indonesia berdasarkan skenario LCDI (Low Cabon Development Index) Moderate dan LCDI High pun akan “menghabiskan 12-15 persen total anggaran karbon dunia pada tahun 2045.” Dari dua skenario tersebut, Indonesia diprediksi akan menghabiskan sisa anggaran karbonnya pada tahun 2027.

Selain itu, Indonesia juga dinilai belum mempunyai target puncak emisi. Peningkatan suhu gobal pun diprediksi dapat naik mencapai 4 derajat Celcius.

“Emisi Indonesia hanya akan turun hingga tahun 2030 dan akan terus meningkat secara signifikan hingga tahun 2045 (LCDI Moderate dan LCDI High),” kata laporan tersebut.

WALHI pun merekomendasikan perlunya target NDC yang lebih ambisius. “Indonesia harus segera meningkatkan dan menyampaikan target NDC baru yang jauh lebih ambisius, yang merefleksikan situasi sains terkini,“ kata laporan analisis kebijakan iklim tersebut.

Berdasarkan data Statista tahun 2017, Cina menjadi negara penyumbang emisi karbon terbesar di dunia sebesar 28,21 persen. Disusul Amerika Serikat dengan 15,99 peren, dan India dengan 6,24 persen.

rap/as (dari berbagai sumber)

Referensi

Dokumen terkait

Unsur-unsur iklim sama dengan unsur cuaca, yaitu penyinaran dan suhu, angin, awan, kelembapan udara, dan curah hujan.. Penyinaran

Sumber: Holcim Sustainable Construction.. Dari semua kondisi di bumi tersebut suhu permukaan bumi meningkat dan menimbulkan efek yang signifikan yaitu perubahan iklim yang

Perubahan iklim global menimbulkan masalah yang menyebabkan perubahan iklim yang tidak menentu. Termasuk di sektor pertanian, yang mengubah pola musim kemarau dan musim hujan. Maka

pH sangat rendah akan menyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam berat yang bersifat toksik semakin tinggi yang tentunya akan mengancam kelangsungan hidup organisme akuatik, dan

skala global dan regional yang menyebabkan terjadinya keragaman cuaca dan iklim wilayah Indonesia !.. c o m Interaksi dari skala global dan regional akan mengakibatkan adanya

Tenaga eksogen ini menyebabkan terjadinya pelapukan, erosi, gerak massa batuan, dan sedimentasi yang bersifat merusak bentuk permukaan bumi Bumi tempat segenap makhluk hidup

Pemanasan global yang mengancam kelangsungan keamanan lingkungan dan hidup manusia telah mendorong kelompok-kelompok yang terlibat dalam masalah ini-yang dalam konsep sekuritisasi lebih

RISALAH KESIHATAN UKKP FEBRUARI 2010 Pemanasan global Pemanasan global berkaitan dengan peningkatan suhu dunia .Suhu bumi telah meningkat dua darjah dan kadarnya berbeza mengikut