Arus Kas Bebas, Keputusan Pendanaan, Insider ownership, dan Kebijakan Dividen
Annisa Barokatuh Rahman [email protected]
Program Studi Akuntansi S1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Indonesia
Putri Nurmala [email protected]
Program Studi Akuntansi S1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Indonesia
Abstract
This study endeavors to examine the impact of free cash flow, funding decisions, and insider ownership on dividend policy, focusing on companies in the cyclical consumer sector listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the period 2017-2021. The research adopts a quantitative approach employing purposive sampling techniques. Secondary data from annual financial reports, available on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the specified period, forms the basis of the analysis. Six companies are selected as samples for a five-year research period, resulting in 30 observations. The data is processed using panel data regression analysis to test the hypotheses. The findings from the t-statistic tests (partial tests) reveal the following:
Firstly, free cash flow, when considered independently, exerts a positive and significant influence on dividend policy. Secondly, funding decisions, when analyzed in isolation, demonstrate a negative and significant impact on dividend policy. Lastly, insider ownership, when examined partially, exhibits a positive and significant association with dividend policy.
Keywords: free cash flow; funding decisions; insider ownership; dividend policy
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak dari free cash flow, keputusan pendanaan, dan kepemilikan oleh pihak internal terhadap kebijakan dividen, dengan fokus pada perusahaan sektor konsumsi siklikal yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2017-2021. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Data yang digunakan adalah data sekunder yang terdapat dalam laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2017- 2021. Enam perusahaan dipilih sebagai sampel penelitian untuk periode lima tahun, menghasilkan 30 observasi. Pengolahan data dilakukan menggunakan analisis regresi data panel untuk menguji hipotesis. Hasil uji statistik t (uji parsial) dalam penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, secara parsial, free cash flow memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Kedua, secara parsial, keputusan pendanaan memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Ketiga, secara parsial, kepemilikan oleh pihak internal memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen.
Kata kunci: free cash flow; keputusan pendanaan; insider ownership; kebijakan dividen
PENDAHULUAN
Kebijakan dividen, sebagai keputusan strategis, memberikan sinyal tentang kondisi dan prospek perusahaan (Tjhoa, 2020). Selain menjadi penentu investasi bagi para investor, dividen juga menjadi kriteria dalam pengambilan keputusan investasi. Inti dari kebijakan dividen adalah alokasi laba yang optimal, baik dalam bentuk pembagian dividen atau penahanan untuk reinvestasi (Fitri & Purnamasari, 2018). Kebijakan ini melibatkan dua pihak dengan kepentingan yang seringkali bertentangan, yaitu perusahaan yang ingin menahan laba dan investor yang menginginkan dividen (Prihatini et al., 2018). Dividen, sebagai hasil keuntungan periodik, menjadi distribusi kepada pemegang saham (Burhanudin et al., 2019). Investor umumnya menginginkan pembagian dividen yang konsisten untuk meningkatkan kepercayaan dan mengurangi ketidakpastian (Lestari, 2017). Sementara perusahaan, dengan tujuan pertumbuhan berkelanjutan, berupaya menciptakan keseimbangan antara pembagian dividen dan reinvestasi untuk memaksimalkan nilai saham (Umbung et al., 2021). Pertemuan RUPS membahas besaran dividen, waktu pembagian, dan kesepakatan pemegang saham, di mana besaran dividen bergantung pada kebijakan dividen perusahaan dan memerlukan pertimbangan manajemen terhadap faktor-faktor seperti arus kas bebas, keputusan pendanaan, dan kepemilikan manajerial (Yani & Dana, 2017). Penting untuk mempertimbangkan konsekuensi dan membuat keputusan cerdas agar kebijakan dividen menciptakan citra positif dan memberikan pemahaman mendalam tentang kesehatan keuangan perusahaan.
Pada tahun 2020, seluruh sektor perekonomian, termasuk sektor consumer cyclical, mengalami ketidakstabilan. Consumer cyclical, yang mencakup barang konsumen non-primer, merupakan industri yang sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi karena memproduksi dan mendistribusikan produk dan jasa. Ketidakstabilan ini dipicu oleh dampak pandemi COVID- 19 di Indonesia. Pada tanggal 13 Juli 2020, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2020) nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 dikeluarkan, mengenai pedoman pencegahan dan pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), yang diakui oleh WHO sebagai pandemi global dan dinyatakan sebagai jenis penyakit yang menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat dan bencana non-alam. Dampaknya signifikan, menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Seluruh negara menerapkan kebijakan social distancing dan lockdown untuk meminimalisir penyebaran virus corona, mengakibatkan perlambatan ekonomi global.
Hampir semua sektor mengalami penurunan ekonomi akibat pandemi, termasuk sektor consumer cyclical yang mengalami pertumbuhan yang tidak stabil. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2020), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 5,32 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yang berpotensi menyebabkan deflasi atau penurunan ekonomi yang signifikan. Perubahan ini dipengaruhi oleh pandemi COVID-19, menyebabkan penurunan kinerja perusahaan, menurunnya harga saham, dan memengaruhi kebijakan dividen perusahaan (Ramadhania et al., 2020). Dalam situasi ini, posisi keuangan perusahaan dipengaruhi dari segi laba, dan perusahaan dihadapkan pada pilihan antara pembagian atau penahanan dividen.
Faktor yang memengaruhi kebijakan dividen pertama adalah arus kas bebas (free cash flow). Arus kas bebas lebih mencerminkan ketersediaan kas, karena perhitungan free cash flow disesuaikan dengan pengeluaran modal bersih dan pembayaran dividen (Rachmah, 2019). Free cash flow merupakan indikator yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mengembalikan keuntungan kepada pemegang saham melalui pengurangan utang, peningkatan dividen, atau pembelian saham kembali (Hantono et al., 2019). Hariyati dan Dwijaya (2020) menyatakan bahwa free cash flow berpengaruh terhadap kebijakan dividen, terutama ketika free cash flow tinggi, yang cenderung mendorong manajemen untuk menambah investasi guna memacu pertumbuhan dan nilai perusahaan. Menurut Lestari (2017), free cash flow memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen, menunjukkan bahwa ketersediaan
kas bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. Namun, pandangan Pembayun dan Subarjo (2018) berbeda, mereka berpendapat bahwa free cash flow tidak memengaruhi kebijakan dividen karena kelebihan kas lebih disukai oleh pemegang saham dalam bentuk dividen untuk maksimalisasi kekayaan pemegang saham.
Faktor yang kedua yang memiliki dampak pada kebijakan dividen adalah keputusan pendanaan. Keputusan pendanaan memegang peran penting dalam perusahaan karena berhubungan dengan perolehan sumber dana untuk operasional dan investasi (Putri et al., 2018). Sumber dana perusahaan dapat berasal dari internal maupun eksternal, dengan laba ditahan sebagai sumber internal dan penerbitan utang atau saham sebagai sumber eksternal (Bahrun & Firmansyah, 2020). Suci dan Andayani (2016) menunjukkan bahwa kebijakan pendanaan, diukur dengan Debt to equity ratio (DER), memiliki pengaruh positif terhadap kebijakan dividen. Sebaliknya, Putri et al. (2018) mencatat bahwa keputusan pendanaan memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Kebijakan dividen dan pengambilan keputusan pendanaan dianggap sebagai entitas yang saling terkait yang tidak dapat dipisahkan (Amin et al., 2022).
Faktor ketiga yang memiliki dampak pada kebijakan dividen adalah kepemilikan manajerial (insider ownership). Menurut ketentuan pasal 95 UU RI No. 8 Tahun 1995, insider ownership merujuk kepada direksi, komisaris, dan individu yang berpotensi memperoleh informasi dari internal perusahaan (Hariyati & Dwijaya, 2020). Keberadaan insider ownership dapat mendorong manajer untuk bergerak sejalan dengan keinginan pemegang saham dengan meningkatkan kinerja dan tanggung jawab dalam mencapai keberhasilan pemegang saham (Lili Salfina, 2019). Perusahaan yang memiliki tingkat insider ownership yang tinggi cenderung membawa dampak pada pembayaran dividen yang rendah, sementara tingkat insider ownership yang rendah dapat berkontribusi pada pembayaran dividen yang tinggi. Ini disebabkan oleh kecenderungan manajemen untuk menggunakan dividen sebagai bagian dari perolehan laba ditahan untuk kebutuhan operasional perusahaan (Kurnia & Dillak, 2021).
Meskipun demikian, pandangan Lailiyah dan Abadi (2021) menyatakan bahwa insider ownership tidak memiliki pengaruh terhadap keputusan dividen, terutama karena persentase kepemilikan oleh pihak internal perusahaan relatif kecil. Namun, menurut Prihatini dan Susanti (2018), kepemilikan manajerial yang diwakili oleh Insider ownership dapat memberikan dampak positif dan signifikan pada kebijakan dividen, di mana besarnya kepemilikan manajerial dapat meningkatkan kebijakan dividen perusahaan. Dengan keterlibatan manajer sebagai investor, tingkat kepemilikan manajerial yang tinggi akan mendukung adopsi kebijakan dividen yang lebih tinggi dalam perusahaan.
Dengan merujuk pada situasi di atas, terjadi ketidakstabilan pertumbuhan ekonomi selama masa pandemi COVID-19 yang berdampak pada distribusi dividen, dan terdapat perbedaan hasil penelitian sebelumnya terkait faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen seperti free cash flow, keputusan pendanaan, dan insider ownership yang dapat memiliki nilai positif maupun negatif terhadap distribusi dividen. Mengamati kondisi tersebut, peneliti merasa tertarik untuk menjalankan studi yang berkaitan dengan kebijakan dividen. Fokus penelitian ini akan membahas dampak dari free cash flow, keputusan pendanaan, dan insider ownership terhadap kebijakan dividen.
LANDASAN TEORI
Teori keagenan
Menurut Jensen dan Meckling (1976), teori keagenan merujuk pada hubungan antara prinsipal (pemegang saham) dan agen (manajer). Dalam konteks ini, hubungan keagenan dijelaskan sebagai suatu perjanjian di mana satu atau lebih individu (prinsipal) menunjuk
individu lain (agen) untuk memberikan layanan atas nama prinsipal, memberikan wewenang kepada agen untuk membuat keputusan terbaik atas nama prinsipal. Tujuan utama teori keagenan adalah untuk mengklarifikasi bagaimana pihak-pihak dalam perjanjian dapat merancang kontrak dengan tujuan utama untuk meminimalkan biaya, terutama sebagai respons terhadap adanya informasi yang tidak simetris dan kondisi ketidakpastian (Adiwibowo et al., 2020). Sebagai agen, manajer memiliki akses lebih banyak informasi mengenai peluang, risiko, dan operasi perusahaan karena terlibat langsung dalam setiap aktivitasnya. Manajer diharapkan dapat menghasilkan keuntungan yang nantinya dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen, sambil mempertimbangkan keputusan investasi dan pendanaan yang optimal untuk perusahaan (Wulandari et al., 2020). Teori Keagenan free cash flow mengindikasikan bahwa konflik kepentingan antara pihak insider (manajer dan pemegang saham pengendali) dengan pihak outsider (pemegang saham minoritas dan kreditor) terkait dengan free cash flow perusahaan dapat menyebabkan manajer atau pemegang saham pengendali terlibat dalam perilaku moral hazard, seperti melakukan overinvestment dengan memanfaatkan free cash flow perusahaan (Jensen, 1986). Teori keagenan mengajukan bahwa keputusan pendanaan dapat menjadi pemicu konflik keagenan antara manajer dan pemegang saham. Namun, keputusan pendanaan, khususnya melalui utang, bisa menjadi alternatif untuk mengurangi biaya keagenan karena utang dapat mengurangi kelebihan kas perusahaan, mengurangi peluang pemborosan oleh manajer (Jensen & Meckling, 1976). Agen yang memiliki saham dalam perusahaan, dikenal sebagai insider ownership, dapat menghadapi konflik kepentingan karena peran gandanya sebagai pengelola dan pemilik (Hariyati & Dwijaya, 2020).
Pengembangan hipotesis
Menurut Lestari (2017), ketika sebuah perusahaan memiliki arus kas yang berlebihan, alternatif yang lebih baik adalah mendistribusikannya sebagai dividen kepada para pemegang saham. Arus kas bebas (free cash flow) merupakan salah satu parameter untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan pengembalian kepada pemegang saham, baik melalui pengurangan utang, peningkatan dividen, atau pembelian saham kembali. Kenaikan dalam pembagian dividen dianggap sebagai indikator positif terkait pertumbuhan perusahaan di masa depan, karena peningkatan dividen diartikan sebagai tanda keuntungan (Suci &
Andayani, 2016). Free cash flow memiliki dampak langsung terhadap kebijakan dividen, di mana tingginya free cash flow mendorong manajemen untuk melakukan investasi tambahan guna merangsang pertumbuhan dan meningkatkan nilai perusahaan (Hariyati & Dwijaya, 2020). Pengaruh positif ini menggambarkan bahwa ketersediaan free cash flow dalam jumlah yang besar dapat menghasilkan peningkatan dalam pembagian dividen kepada pemilik saham (Deviyanti & Riyanto, 2021).
H1 : Free cash flow berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen.
Keputusan Pendanaan yang signifikan mencerminkan adanya tingkat utang yang besar, di mana utang ini dapat diartikan sebagai sumber modal yang diterapkan dalam operasional perusahaan untuk meraih laba dan sekaligus meningkatkan nilai perusahaan. Kebijakan pendanaan yang bersumber dari utang diarahkan untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan (Putri et al., 2018). Jika perusahaan memperoleh dana melalui utang, maka rasio utang terhadap ekuitas akan meningkat, yang pada gilirannya dapat meningkatkan tingkat risiko. Beberapa investor meyakini bahwa semakin tinggi risiko perusahaan, semakin besar pula potensi profitabilitas yang diharapkan sebagai imbalan atas risiko tersebut; oleh karena itu, kebijakan pendanaan memiliki dampak positif terhadap kebijakan dividen (Suci &
Andayani, 2016). Sebuah perusahaan dengan tingkat utang yang tinggi cenderung mengorbankan pembagian dividen demi melakukan investasi menggunakan sumber daya
internal yang dimiliki (Lajar & Marsudi, 2021).
H2: Keputusan pendanaan berpengaruh terhadap kebijakan dividen.
Jensen dan Meckling (1976) menyarankan berbagai mekanisme untuk meredakan konflik keagenan, salah satunya adalah dengan meningkatkan kepemilikan insider (insider ownership) untuk menyelaraskan kepentingan antara pemilik dan manajer. Semakin besar jumlah saham yang dimiliki oleh manajer melalui kepemilikan manajerial, semakin besar motivasi bagi manajemen untuk meningkatkan kinerja, merasa memiliki tanggung jawab, dan berperan aktif dalam pengambilan keputusan perusahaan. Kepemilikan saham oleh manajer, dikenal sebagai insider ownership, dapat mengurangi biaya agensi dan meminimalkan biaya pengawasan.
Keberadaan saham yang dimiliki oleh manajemen memungkinkan mereka memiliki informasi yang lebih komprehensif tentang perusahaan (Muniifah, 2021). Tingkat insider ownership yang tinggi dapat mendorong manajemen untuk menahan pembagian dividen, fokus pada peningkatan keuntungan pribadi seperti gaji dan bonus manajemen. Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat kepemilikan insider atau semakin rendah kepemilikan oleh pihak luar, semakin kecil kemungkinan munculnya masalah keagenan (Hariyati & Dwijaya, 2020). Menurut Prihatini dan Susanti (2018), kepemilikan manajerial (insider ownership) memiliki dampak positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen, di mana besarnya kepemilikan manajerial akan meningkatkan kebijakan dividen dalam suatu perusahaan. Keterlibatan manajer sebagai investor menyebabkan keinginan untuk mendapatkan dividen yang tinggi, dan semakin besar kepemilikan manajerial, semakin tinggi kecenderungan untuk meningkatkan kebijakan dividen perusahaan.
H3: Insider ownership berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat kuantitatif, yang berfokus pada pengukuran dan analisis hubungan sebab-akibat antara berbagai variabel, dengan penekanan pada penggunaan angka. Pendekatan kuantitatif memandang penelitian dalam kerangka bebas nilai, dan memerlukan pemakaian data berbentuk angka, mulai dari pengumpulan hingga interpretasi dan penyajian hasil. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk gambar, tabel, grafik, atau representasi visual lainnya, bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pembaca dan mempermudah penyaluran informasi (Hardani et al., 2020). Terdapat daftar operasional variabel yang digunakan dalam penelitian ini terlampir pada bagian berikut:
Tabel 1. Definisi variabel operasional
No Nama
variabel
Indikator Pengukuran Skala
1 Kebijakan dividen (Y)
Kebijakan dividen diukur menggunakan Dividend payout ratio (DPR).
DPR =DPS 𝐸𝑃𝑆
DPR: Dividend payout ratio, DPS: Dividend per share, EPS: Earnings per share.
(Putri et al., 2018)
Rasio
Sumber: Data diolah, 2023
Populasi merujuk pada totalitas objek atau subjek yang berada dalam suatu wilayah tertentu dan memenuhi persyaratan yang terkait dengan suatu isu penelitian, atau keseluruhan unit atau individu yang menjadi fokus penelitian (Hamid et al., 2020). Populasi dalam penelitian ini mencakup perusahaan sektor consumer cyclical yang terdaftar di bursa efek Indonesia (BEI) selama periode 2017-2021. Sampel, di sisi lain, adalah sekelompok atau bagian dari populasi yang dipilih menggunakan prosedur tertentu untuk mewakili keseluruhan populasi (Hamid et al., 2020). Pengambilan sampel dilakukan melalui metode purposive sampling, yaitu pendekatan dalam penarikan sampel selama periode penelitian dengan memilih subjek berdasarkan kriteria-kriteria spesifik yang ditetapkan oleh peneliti, sebagaimana dijelaskan oleh Priadana dan Sunarsi (2021). Objek penelitian ini mencakup perusahaan sektor consumer cyclical yang terdaftar di bursa efek Indonesia selama tahun 2017-2021. Enam kriteria pemilihan sampel yang diinvestigasi melibatkan: (1) Status terdaftar perusahaan sektor consumer cyclical di Bursa Efek Indonesia pada 31 Desember 2021. (2) Keterdaftaran perusahaan sektor consumer cyclical selama periode penelitian 2017-2021. (3) Kriteria perusahaan consumer cyclical yang tidak mendistribusikan dividen secara berkesinambungan selama periode 2017-2021. (4) Penggunaan mata uang selain Rupiah (IDR) oleh perusahaan consumer cyclical. (5) Keterbatasan data lengkap mengenai variabel saham kepemilikan manajerial pada perusahaan consumer cyclical. (6) Kerugian yang dialami perusahaan consumer cyclical selama periode penelitian.
2 Free cash flow (X1)
Kas yang tersedia untuk perusahaan setelah dikurangi biaya
operasional dan belanja modal.
FCF =𝐹𝐶𝐹𝑂 − (𝑁𝐶𝐸 + 𝐶𝑊𝐶) 𝑇𝐴
FCF: Free cash flow,
FCFO: Cash flow from operations, NCE: Net capital expenditure, CWC: Changes in working capital, TA: Total asset.
(Suci & Andayani, 2016)
Rasio
3 Keputusan pendanaan (X2)
Keputusan pendanaan dihitung menggunakan Debt to equity ratio (DER), rasio ini menunjukan
perbandingan antara pembiayaan dan melalui utang dan ekuitas.
DER = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑒𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠 (Oktavia & Nugraha, 2020)
Rasio
4 Insider ownership (X3)
Insider ownership (IO) diukur menggunakan proporsi kepemilikan manajerial.
IO =𝐽𝑆𝑀 𝐽𝑆𝐵 IO: Insider ownership,
JSM: Jumlah saham yang dimiliki manajemen,
JSB: Jumlah saham yang beredar (Hariyati & Dwijaya, 2020)
Rasio
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel 2 Hasil uji statistik deskriptif
Item Kebijkan
dividen
Free cash flow
Keputusan pendanaan
Insider ownership
Rata-rata -0,750 -0,219 0,699 0,027
Median -0,574 -0,198 0,349 0,015
Maksimum 1,449 -0,044 2,754 0,079
Minimum -2,520 -0,431 0,101 0,000
Deviasi standar 0,859 0,114 0,817 0,030
Observasi 30 30 30 30
Sumber: Hasil output Eviews
Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif pada Tabel 2 di atas, terdapat 30 observasi yang digunakan dalam penelitian ini. Pada variabel kebijakan dividen, yang diukur dengan dividen payout ratio (DPR), terlihat bahwa nilai terendah (minimum) kebijakan dividen adalah -2,520, tercatat pada PT. Multi Indocitra Tbk, sementara nilai tertinggi (maksimum) kebijakan dividen mencapai 1,449, dimiliki oleh PT. Mitra Pinasthika Mustika Tbk. Nilai median (nilai tengah) dari kebijakan dividen adalah -0,574, dengan nilai rata-rata (rata-rata) sebesar -0,750.
Standar deviasi pada variabel kebijakan dividen adalah 0,859.
Untuk variabel independen free cash flow (FCF), nilai terendah (minimum) tercatat sebesar –0,431, dimiliki oleh PT. Selamat Sempurna Tbk, sementara nilai tertinggi (maksimum) free cash flow adalah -0,044, dimiliki oleh PT. Mitra Pinasthika Mustika Tbk. Nilai median free cash flow adalah -0,198, dengan nilai rata-rata (rata-rata) sebesar -0,219. Standar deviasi pada variabel free cash flow adalah 0,114.
Analisis statistik deskriptif untuk keputusan pendanaan, yang diukur dengan debt to equity ratio (DER), menunjukkan bahwa nilai terendah (minimum) keputusan pendanaan adalah 0,101, dimiliki oleh PT Indospring Tbk, sementara nilai tertinggi (maksimum) keputusan pendanaan adalah 2,754, dimiliki oleh PT. Catur Sentosa Adiprana Tbk. Nilai median keputusan pendanaan adalah 0,349, dengan nilai rata-rata (rata-rata) sebesar 0,699. Deviasi standar pada variabel keputusan pendanaan adalah 0,817.
Variabel independen Insider ownership (IO) memiliki nilai terendah (minimum) sebesar 0.000, tercatat pada PT. Ace Hardware Indonesia Tbk, sedangkan nilai tertinggi (maksimum) insider ownership adalah 0,079, dimiliki oleh PT. Selamat Sempurna Tbk. Nilai median insider ownership adalah 0,015, dengan nilai rata-rata (rata-rata) insider ownership sebesar 0,027.
Standar deviasi pada variabel insider ownership adalah 0,030.
Tabel 3. Hasil regresi data panel common effect model
Variabel Coefficient Std. error t-statistic p-value
Y Kebijakan dividen 0,476 0,345 1.377 0,180
X1 Free cash flow (FCF) 4.427 1.207 3.665 0,001 X2 Keputusan pendanaan -0,871 0,178 -4.874 0,000 X3 Insider ownership (IO) 13.166 4.253 3.095 0,004
Sumber: Hasil output Eviews
Dalam pemilihan model data panel untuk penelitian ini, dipilihlah model common effect.
Hasil regresi data panel menggunakan pendekatan common effect model (CEM) menghasilkan
persamaan regresi berikut: Kebijakan dividen = 0,476 + 4.427 (free cash flow) – 0,871 (keputusan pendanaan) + 13.166 (insider ownership).
Tabel 4 Hasil uji F (Goodness of fit)
Item 1 Nilai 1 Item 2 Nilai 2
F-statistic 8,949 Sum squared resid 10,536
Prob (F-statistic) 0,000 Durbin-Watson stat 1,897 Sumber: Hasil output Eviews
Tabel 5 Hasil uji t - statistik (Uji parsial)
Variable Coefficient Std. error t-statistic p-value
C Konstanta 0,476 0,345 1,377 0,180
X1 Free cash flow (FCF) 4,427 1,207 3,665 0,001 X2 Keputusan pendanaan -0,871 0,178 -4,874 0,000 X3 Insider ownership (IO) 13,166 4,253 3,095 0,004
Sumber: Hasil output Eviews
Berdasarkan hasil uji F (goodness of fit) pada Tabel 4, diperoleh derajat bebas 1 (deg_freedom1) sebesar 3, dihitung dengan rumus jumlah variabel (k) – 1 = 4 - 1 = 3. Derajat bebas 2 (deg_freedom2) adalah 26, dihitung dengan rumus jumlah sampel (n) - jumlah variabel (k) = 30 – 4 = 26. Hasil F tabel sebesar 2,98. Dengan nilai F hitung sebesar 8,949, yang lebih besar dari nilai F tabel (8,949 > 2,98), dan nilai probabilitiy (F-statistic) sebesar 0,000, yang lebih kecil dari taraf signifikasi α = 0,05 (0,000 < α = 0,05), hasil uji F (goodness of fit) menunjukkan bahwa free cash flow, keputusan pendanaan, dan insider ownership terhadap kebijakan dividen memenuhi kriteria fit.
Pada Tabel 5, hipotesis pertama (H1) menunjukkan hasil uji t - statistik pada variabel X1, yaitu free cash flow (FCF) sebesar 3,665. Dengan t tabel α = 0,05, dan derajat bebas (degree of freedom) sebesar 26, diperoleh nilai t tabel sebesar 2,055. Dengan t hitung = 3,665 (lebih besar dari t tabel 2,055) dan nilai p-value = 0,001 (lebih kecil dari α = 0,05), H0 ditolak dan Ha
diterima. Kesimpulannya, variabel free cash flow secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen yang diproksikan dengan dividend payout ratio (DPR).
Hipotesis kedua (H2) pada tabel 5 menunjukkan hasil uji t - statistik pada variabel X2, yaitu keputusan pendanaan dengan proksi debt to equity ratio (DER) sebesar -4,874. Dengan t tabel α = 0,05, dan derajat bebas (degree of freedom) sebesar 26, diperoleh nilai t tabel sebesar 2,055.
Dengan t hitung = -4,874 (lebih besar dari t tabel -2,055) dan nilai p-value = 0,000 (lebih kecil dari α = 0,05), H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya, variabel keputusan pendanaan secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen yang diukur dengan dividend payout ratio (DPR).
Hipotesis Ketiga (H3) pada Tabel 5 menunjukkan hasil uji t - statistik pada variabel X3, yaitu insider ownership (IO) sebesar 3,095. Dengan t tabel α = 0,05, dan derajat bebas (degree of freedom) sebesar 26, diperoleh nilai t tabel sebesar 2,055. Dengan t hitung = 3,095 (lebih besar dari t tabel 2,055) dan nilai p-value = 0,004 (lebih kecil dari α = 0,05), H0 ditolak dan Ha
diterima. Kesimpulannya, variabel insider ownership (IO) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen yang diukur dengan dividend payout ratio (DPR).
Pembahasan
Pengaruh free cash flow terhadap kebijakan dividen
Berdasarkan analisis uji t-statistik (uji parsial) terhadap variabel free cash flow (FCF), diperoleh hasil dengan t-hitung sebesar 3.665, yang lebih besar daripada t-tabel sebesar
2.055, dan nilai p-value kurang dari α = 0,05 (0,001 < 0,05). Oleh karena itu, H0 ditolak dan Ha diterima, menandakan bahwa variabel free cash flow secara parsial memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen yang diukur dengan dividend payout ratio (DPR). Keberadaan free cash flow yang bernilai positif mencerminkan adanya sisa kas yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk membayar dividen tunai kepada para investor.
Sementara peningkatan free cash flow setiap tahunnya dapat memperkuat kesehatan dan kinerja perusahaan, memberikan manfaat bagi pemilik modal dan manajemen (Deviyanti
& Riyanto, 2021).
Tingginya free cash flow menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mendistribusikan dividen setelah melakukan investasi dalam aset tetap, pengembangan produk, dan modal kerja yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bisnis. Perusahaan besar seringkali mengadopsi kebijakan membayar dividen yang tinggi untuk menjaga reputasinya di mata investor (Meiliyawati & Rusliati, 2020). Temuan penelitian ini sejalan dengan hasil studi Tjhoa (2020), Suhartono (2021), Widiantari (2021), Deviyanti & Riyanto (2021), Hariyati &
Dwijaya (2020), Lestari (2017), Hantono et al. (2019), yang menunjukkan bahwa free cash flow berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Namun, temuan ini tidak konsisten dengan hasil penelitian Davin & Bangun (2021), Pembayun & Subarjo (2018), Diana dan Hutasoit (2017), Kevin et al. (2019), di mana free cash flow memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kebijakan dividen.
Pengaruh keputusan pendanaan terhadap kebijakan dividen
Berdasarkan hasil uji t-statistik (uji parsial) pada variabel keputusan pendanaan yang diukur dengan debt to equity ratio (DER), ditemukan bahwa t-hitung sebesar -4,874, yang melebihi nilai t-tabel sebesar 2,055, dan nilai p-value lebih kecil dari α = 0,05 (0,000 <
0,05). Oleh karena itu, H0 ditolak dan Ha diterima, menunjukkan bahwa variabel keputusan pendanaan secara parsial memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Koefisien t-statistik yang negatif menunjukkan bahwa dengan meningkatnya kebijakan utang, perusahaan cenderung mengurangi pembagian dividen kepada investor.
Tingginya tingkat utang dapat memengaruhi laba bersih, dengan perusahaan lebih memilih membayar utang daripada dividen. Konsep teori keagenan menyarankan bahwa struktur keuangan harus diatur dengan baik untuk mengurangi potensi konflik kepentingan dalam perusahaan.
Temuan ini sejalan dengan penelitian Deviyanti & Riyanto (2021) dan Putri et al.
(2018), yang mengindikasikan bahwa keputusan pendanaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Namun, temuan ini tidak sejalan dengan penelit ian Suci & Andayani (2016), yang menyatakan bahwa kebijakan pendanaan yang diukur dengan debt to equity ratio (DER) berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen.
Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh konteks dan kondisi perusahaan yang berbeda dalam penelitian yang berbeda.
Situasinya menunjukkan bahwa kebijakan pendanaan yang lebih tinggi berkontribusi pada peningkatan kebijakan dividen, karena perusahaan memerlukan sumber pembiayaan tambahan setelah krisis. Kebijakan ini menarik investor untuk berinvestasi, meningkatkan sumber pembiayaan operasional, dan memberikan sinyal kepada masyarakat bahwa perusahaan telah pulih dari krisis, diharapkan dapat memberikan dividen yang substansial dari hasil perkembangan perusahaan.
Pengaruh insider ownership terhadap kebijakan dividen
Berdasarkan hasil uji t-statistik (uji parsial) pada variabel Insider ownership (IO), ditemukan bahwa t-hitung sebesar 3,395, melebihi nilai t-tabel sebesar 2,055, dan nilai p-value lebih kecil dari α = 0,05 (0,004 < 0,05). Dengan demikian, H0 ditolak dan Ha diterima,
menunjukkan bahwa variabel insider ownership (IO) secara parsial memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Tingginya tingkat kepemilikan oleh pihak internal mengindikasikan adanya biaya agensi yang tinggi, mencerminkan konflik keagenan antara pemegang saham mayoritas dan minoritas. Konflik ini mendorong perusahaan untuk membayar dividen yang lebih tinggi.
Pandangan ini sejalan dengan hasil penelitian Meiliyawati & Rusliati (2020) dan Prihatini et al. (2018), yang menunjukkan bahwa insider ownership secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Temuan ini juga konsisten dengan penelitian Muniifah (2021), yang menyimpulkan bahwa tingginya insider ownership tidak mencerminkan kecilnya masalah keagenan, terutama dalam konteks kepemilikan yang terkonsentrasi dan keluarga di Indonesia. Namun, temuan ini berbeda dengan penelitian Hariyati & Dwijaya (2020), yang menunjukkan bahwa insider ownership tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Mungkin perbedaan ini disebabkan oleh kurangnya pemisahan yang jelas antara pemilik dan pengelola perusahaan dalam konteks penelitian tersebut.
KESIMPULAN
Temuan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa free cash flow dan insider ownership secara individual berkontribusi positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen di perusahaan sektor consumer cyclical yang terdaftar di bursa efek Indonesia (BEI) pada periode 2017-2021.
Sebaliknya, keputusan pendanaan memberikan dampak negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen dalam konteks perusahaan sektor consumer cyclical yang sama. Meskipun penelitian ini memberikan wawasan yang berharga, beberapa keterbatasan perlu diakui.
Penelitian ini terbatas pada sektor consumer cyclical saja, sehingga generalisasi temuan untuk keseluruhan perusahaan di BEI perlu dilakukan dengan hati-hati. Pengamatan selama lima tahun (2017-2021) mungkin tidak mencukupi untuk memberikan gambaran waktu yang cukup panjang terkait pelaporan keuangan dan kebijakan dividen dalam jangka panjang. Adanya perusahaan yang tidak menyampaikan laporan keuangan secara menyeluruh dan beberapa yang tidak membayar dividen turut mengurangi jumlah sampel. Dengan mempertimbangkan keterbatasan tersebut, peneliti merekomendasikan agar penelitian selanjutnya memasukkan variabel independen tambahan selain free cash flow, keputusan pendanaan, dan insider ownership. Variabel tambahan ini dapat memberikan pandangan lebih lengkap terhadap faktor- faktor yang memengaruhi kebijakan dividen. Bagi investor, disarankan untuk mengadopsi pendekatan yang lebih holistik dalam pengambilan keputusan investasi, yang melibatkan evaluasi lebih dari sekadar pembayaran dividen. Perusahaan juga diajak untuk mempertimbangkan dengan cermat prinsip dan keberlangsungan finansial dalam merumuskan kebijakan dividen mereka, mengingat dampaknya pada masa depan perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Adiwibowo, A. S., Larasati, O., & Nurmala, P. (2020). Pengaruh free cash flow dan investment opportunity set terhadap kebijakan dividen. Jurnal Risat Keuangan dan Akuntansi, 7(2), 29–43.
Amin, M. A. N., Amirah, A., & Faizal, A. F. (2022). Pengaruh ukuran perusahaan, kebijakan dividen, struktur modal, leverage, dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada sektor perindustrian yang terdaftar di BEI tahun 2017-2021. Jurnal Ekonomi Bisnis, Manajemen dan Akuntansi (JEBMA), 2(3), 324–334.
Badan Pusat Statistik. (2020). Badan pusat statistik pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan
II-2020. 1–12.
Burhanudin, B., Hidayati, S. A., & Tohri, M. Z. (2019). Pengaruh aliran kas bebas dan set kesempatan investasi terhadap nilai perusahaan dengan kebijakan dividen sebagai variabel moderasi. Jurnal Riset Manajemen, 19(1), 33–48.
Davin, & Bangun, N. (2021). Pengaruh leverage, gender diversity, and free cash flow terhadap kebijakan dividen. Jurnal Ekonomi, 26(11), 518–540.
Deviyanti, D. R., & Riyanto, M. D. (2021). Pengaruh free cash flow , collateralizable asset dan kebijakan utang terhadap kebijakan dividen. Jurnal Manajemen, 13(4), 804–813.
Diana, N., & Hutasoit, H. (2017). Pengaruh free cash flow dan kepemilikan institusional terhadap kebijakan dividen dengan profitabilitas sebagai variabel moderating. Jurnal Akuntansi Manajerial, 2(2), 77–89.
Fitri, I. K., & Purnamasari, I. (2018). Pengaruh kebijakan dividen terhadap harga saham (studi pada perusahaan pertambangan di bursa efek Indonesia 2008-2012). Organum: Jurnal Saintifik Manajemen dan Akuntansi, 1(1), 8–14.
Hamdan, & Asyik, N. F. (2020). Pengaruh free cash flow, leverage dan profitabilitas. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi, 5, 1010–1017.
Hamid, R. S., Bachri, S., Salju, & Ikbal, M. (2020). Panduan praktis ekonometrika: Konsep dasar dan penerapan menggunakan Eviews 10.
Hantono, H., Sari, I. R., Felicya, Hartono, A., & Daeli, M. (2019). Pengaruh return on assets, free cash flow, debt to equity ratio, pertumbuhan penjualan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan property and real estate yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2014-2016. Owner, 3(2), 143-159.
Hardani, Auliya, N. H., Andriani, H., Fardani, R. A., Ustiawaty, J., Utami, E. F., Sukmana, D.
J., & Istiqomah, R. R. (2020). Buku metode penelitian kualitatif & kuantitatif (Nomor March).
Hariyati, & Dwijaya, R. (2020). Pengaruh insider ownership, free cash flow, collaterizable assets, dan firm growth terhadap kebijakan dividen. AKUNESA : Jurnal Akuntansi Unesa, 9(1), 1–11.
Jensen, M., & Meckling, W. (1976). Theory of the firm: managerial behavior, agency costs, and ownership structure. The economic nature of the firm: A reader, Third Edition, 283–303.
Jensen, Michael C. (1986). Agency costs of free cash flow, corporate finance, and takeovers agency costs of free cash flow, corporate finance , and takeovers. American Economic Review, 76(2), 323–329.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor HK.01.07/MenKes/413/2020 tentang pedoman pencegahan dan pengendalian corona virus disease 2019 (COVID-19). MenKes/413/2020, 2019, 207.
Kevin, Nerlia, Sinaga, A. N., Tiffanny, T. F., & Guci, S. T. (2019). Free cash flow, leverage, net profit margin dan pertumbuhan perusahaan terhadap daividen payout ratio perusahaan properety real and estate yang terdaftar di bursa efek Indonesia.
Carbohydrate Polymers, 6(1), 363–370.
Lailiyah, E. H., & Abadi, M. D. (2021). Agency cost dan kebijakan dividen (Studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia). Jurnal Akuntansi dan Bisnis: Jurnal Program Studi Akuntansi, 7(1), 33–41.
Lajar, S. N. I., & Marsudi, A. S. (2021). Dampak kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, likuiditas, profitabilitas dan kebijakan utang terhadap kebijakan dividen di industri pertambangan Indonesia. Balance: Jurnal Akuntansi, Auditing dan Keuangan, 18(2), 148–162.
Lestari, W. J. (2017). Pengaruh struktur modal, struktur kepemilikan dan free cash flow
terhadap kebijakan inisiasi dividen. Jurnal Ekonomi Bisnis, 7(2), 192–204.
Meiliyawati, Y., & Rusliati, E. (2020). Insider ownership, free cash flow dan pertumbuhan terhadap dividend payout ratio. Jurnal Riset Akuntansi Kontemporer, 12(1), 7–14.
Muniifah, S. (2021). Pengaruh institutional ownership, dispersion of wnership, insider ownership dan firm size terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia. Jurnal Manajemen Stratejik dan Simulasi Bisnis (JIMASSBI), 2(2), 22–39.
Oktavia, D., & Nugraha, N. M. (2020). pengaruh keputusan investasi, keputusan pendanaan, dan kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan konsumsi yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2016-2018. Jurnal Computech dan Bisnis, 15(1), 1–9.
Pembayun, D. S., & Subarjo, S. (2018). Pengaruh struktur kepemilikan, free cash flow terhadap kebijakan dividen pada perusahaan asuransi yang terdaftar di BEI tahun 2013-2017.
Jurnal Ekonomi Akuntansi dan Manajemen, 17(2), 94.
Priadana, S., & Sunarsi, D. (2021). Metode penelitian kuantitatif.
Prihatini, P., Rahmiat, & Susanti, D. (2018). Pengaruh profitabilitas, investment opportunity set, dan kepemilikan manajerial terhadap kebijakan dividen (studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia tahun 2013- 2016). Jurnal Ecogen, 1(2), 298.
Putri, Isnurhadi, & Yuliani. (2018). Pengaruh keputusan pendanaan dan keputusan investasi terhadap nilai perusahaan dengan kebiijakan dividen sebagai variabel intervening pada sektor manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia. Media Trend, 13(2), 199–218.
Rachmah, O. (2019). Pengaruh laba bersih, arus kas operasi, free cash flow terhadap kebijakan dividen. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi, 8(1), 1–17.
Ramadhania, D., Almira, N. A., Salsabilla, T., & Sagala, T. R. K. (2020). Pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan saat pandemi COVID-19 Pada PT PP Properti Tbk.
Jurnal Kompetitif Bisnis, 1(1), 25–35.
Suci, R. I. W., & Andayani. (2016). Pengaruh arus kas bebas, kebijakan pendanaan, collateral assets terhadap kebijakan dividen. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi, 5(2), 1–17.
Suhartono, Daulay, Y., & Setyowati, T. (2021). Pengaruh free cash flow dan investment opportunity set terhadap kebijakan dividen pada industri plastik dan kemasan di indonesia yang terdaftar di bursa efek Indonesia tahun 2013-2017. Jurnal Manajemen, 13(2), 305–314.
Tjhoa, E. (2020). Pengaruh free cash flow, pertumbuhan perusahaan, retrun on assets, cash ratio, debt to equity ratio dan firm size terhadap kebijakan dividen (studi empiris pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2015. Ultimaccounting : Jurnal Ilmu Akuntansi, 12(1), 44–67.
Umbung, M. H., Ndoen, W. M., & Amtiran, P. Y. (2021). Pengaruh kebijakan dividen dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan. Jurnal Akuntansi, 10(2), 211–225.
Wulandari, S., Ambarita, N. P., & Wahyuni Darsono, M. D. P. (2020). Pengaruh free cash flow, kepemilikan institusional, profitabilitas dan leverage tehadap kebijakan dividen tunai pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di bursa efek Indonesia.
Akuisisi: Jurnal Akuntansi, 15(2), 26–34.
Yani, M. W. P., & Dana, I. M. (2017). Determinasi kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur di bursa efek Indonesia. E-Jurnal Manajemen Universitas Udayana Bali, 6(4), 1761–1788.