BAB 3 TINJAUN KASUS
Hasil pengolahan data yang berasal dari wawancara dan observasi pada lansia di Tama Bodhi Asri didapatakan hasil yang akan di tampiilkan pada tabel distribusi frekuensi dibawah ini .
3.1 Data Umum 1. Usia
Diagram 3.1 Data karekteristik Usia Lansia
Berdasarkan diagram diatas, didapatkan karekteristik usia lanjut di Taman Bodhi Asri dengan lansia Demensia dapat dilihat bahwa menunjukkan usia 60-69 tahun sebanyak 4 orang (36%), 70-79 tahun sebanyak 5 orang (64%) 2. Jenis Kelamin
Diagram 3.2 Data karekteristik Jenis Kelamin Lansia
11%
89%
Laki-laki Perempuan 44%
56% 60-69 tahun
70-79 tahun
Berdasarakan diagram diatas didapatkan karekteristik responden lanjut di Taman Bodhi Asri jenis kelamin mayoritas perempuan sebanyak 8 orang (89%) sedangkan laki-laki sebanyak 1 orang (11%)
3. Agama
Diagram 3.3 Karekteristik Agama Lansia
Berdasarkan diagram diatas didapatkan karekteristik responden lanjut di Taman Bodhi Asri agama mayoritas Budha sebanyak 9 orang (100%).
4. Riwayat Penyakit
Diagram 3.4 Data Riwayat Penyyakit
100%
Budha
Berdasarkan diagram diatas terdapat data riwayat penyakit di Taman Bodhi Asri pada penderita demensia sebanyak 27%, osteoporosis sebanyak 20 %, hipertensi sebanyak 30%, stroke sebanyak 15%, diabetes melitus sebanyak 8%
5. Riwayat Hipertensi
Diagram 3.5 Data Riwayat Stroke
Berdasarkan diagram diatas didapatkan data riwayat Hipertensi yang mengalami Hipertensi sudah 3 tahun sebanyak 4 orang (69%), Hipertensi 4 tahun sebanyak 3 orang (18%), Hipertensi 5 tahun sebanyak 2 orang (14%), 3.2 Data Pengkajian
1. Katz Indeks
Diagram 3.6 Pengkajian Katz Indeks
27%
8% 30%
15%
20%
Demensia hipertensi Diabetes Melitus Stroke Osteoporosi
44%
33%
22%
3 tahun 4 tahun 5 tahun
Berdasarkan diagram di atas, didapatkan kemandirian lansia dengan Demensia yang ada di Taman Bodhi Asri menunjukkan kemandirian dalam hal makan, kontinensia, berpindah, ke kamar kecil, berpakaian, dan mandi (A) sebanyak 33%. Lansia dengan kemandirian dalam semua aktivitas sehari-hari kecuali satu fungsi tambahan (B) sebanyak 45%. Lansia dengan kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari kecuali mandi, berpakaian, berpindah, dan satu fungsi tambahan (E) sebanyak 22%
2. Barthel Indeks
Diagram 3.7 Data Pengkajian Barthel Indeks
Berdasarkan diagram di atas, didapatkan karakteristik pengkajian Barthel Indeks pada lansia dengan Demensia di Taman Bodhi Asri menunjukkan Lansia mandiri sebanyak 3 orang (33%), Lansia dengan ketergantungan Ringan sebanyak 4 orang (45%), Lansia dengan ketergantuan sedang sebanyak 2 orang (22%)
33%
44%
22%
A B E
33%
44%
22%
Mandiri Ketergantungan ringan Ketergantungan sedang
3. SPMSQ
Diagram 3.8 Pengkajian SPMQ
Berdasarakna diagram diatas didapatkan Kerusakan Intelektual Berat: 2 orang (22%),Kerusakan Intelektual Sedang: 3 orang (34%) Kerusakan Intelektual Ringan: 2 orang (22%) dan normal 2 orang (22%)
4. MMSE
Diagram 3.9 Pengkajian MMSE
22%
22% 33%
22%
Kerusakan Intelektual Berat Kerusakan Intelektual Sedang Kerusakan Intelektual Ringan normal
Berdasarkan diagram di atas, didapatkan karakteristik pengkajian MMSE pada Lansia yang mengalami Demensia di Taman Bodhi Asri. Dapat dilihat bahwa mayoritas mengalami Gangguan Kognitif Sedang sebanyak 4 orang (70%), Gangguan Kognitif Ringan sebanyak 3 orang (18%) dan Gangguan Kognitif Berat 2 orang (12%)
5.MoCA-Ina
Diagram 3.10 Pengkajian MoCA-Ina
48%
36%
17%
gangguan kognitif sedang gangguan kognitif ringan gangguan kognitif berat
Berdasarkan diagram di atas, didapatkan karakteristik pengkajian MoCA-Ina pada Lansia yang mengalami Demensia di Taman Bodhi Asri. Dapat dilihat bahwa mayoritas mengalami Gangguan Kognitif Sedang sebanyak 4 orang (47%), Gangguan Kognitif Ringan sebanyak 3 orang (18%) dan Gangguan Kognitif Berat 2 orang (12%).
71%
12%
18%
Gangguan Kognitif Sedang Gangguan Kognitif Berat gangguan Kognitif Ringan
6.Inventaris Depresi Back
Diagram 3.10 Pengkajian Inventaris Depresi Back
38%
13%
50%
normal Depresi Ringan Depresi Sedang
Berdasarkan diagram di atas, didapatkan karakteristik Pengkajian Inventaris Depresi Back pada lansia dengan Stroke di Taman Bodhi Asri menunjukkan Lansia normal 6 orang (50%), Depresi sedang sebanyak 1 orang (13%), Depresi ringan 2 orang (37%) 3.3 Analisa Data
Data Penunjang Masalah Kemungkinan Penyebab
DS: Lansia sering lupa dengan aktivitas sehari- hari
DO : Lansia mengalami gangguan kognitif sedang hingga berat (MMSE &
MoCA-Ina)
Gangguan Memori Penurunan fungsi kognitif akibat demensia
Ds: Lansia sering merasa sedih dan kehilangan minat terhadap lingkungan sekitar
DO: Lansia mengalami depresi ringan hingga sedang (Inventaris Depresi
Risiko Isolasi Sosial Kurangnya dukungan sosial dan perubahan peran dalam keluarga
Beck)
DS : Lansia mengeluh sering lupa minum obat DO: Lansia dengan riwayat penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes melitus
Ketidakefektifan
Manajemen Regimen Terapi
Gangguan kognitif yang menyebabkan kesulitan
dalam mengingat
pengobatan
3.4 Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan Memori b.d Penurunan fungsi kognitif akibat demensia
2. Risiko Isolasi Sosial b.d Kurangnya dukungan sosial dan perubahan peran dalam keluarga
3. Ketidakefektifan Manajemen Regimen Terapi b.d Gangguan kognitif yang menyebabkan kesulitan dalam mengingat pengobatan
3.5 Intervensi Keperawatan No Diagnosa
Keperawatan
SLKI SIKI
1 Gangguan Memori b.d Penurunan fungsi kognitif akibat demensia
Fungsi kognitif meningkat,
orientasi terhadap lingkungan
membaik, daya ingat membaik
- Stimulasi
Kognitif (melatih ingatan dengan pengenalan
benda/foto keluarga)
- Terapi
Reminisensi
(mengingat
kembali peristiwa
masa lalu)
- Pemberian
orientasi realitas (mengingatkan pasien tentang waktu, tempat, dan orang di sekitar) 2. Risiko Isolasi
Sosial b.d
Kurangnya
dukungan sosial dan perubahan
peran dalam
keluarga
Klien menunjukkan interaksi sosial yang lebih baik, adanya partisipasi dalam aktivitas kelompok
- Fasilitasi interaksi sosial (mengajak
lansia untuk
berpartisipasi dalam aktivitas sosial)
- Terapi kelompok (melibatkan lansia dalam kelompok diskusi)
- Memberikan
dukungan
emosional dan memfasilitasi komunikasi dengan keluarga
3 Ketidakefektifan Manajemen
Regimen Terapi
Klien mampu
mengingat jadwal dan cara minum
- Edukasi tentang pentingnya
kepatuhan terapi
b.d Gangguan kognitif yang menyebabkan kesulitan dalam mengingat
pengobatan
obat dengan lebih baik, kepatuhan terhadap
pengobatan meningkat
obat
- Penggunaan alat bantu pengingat seperti kotak obat berlabel
- Monitoring
jadwal dan
kepatuhan
konsumsi obat dengan bantuan caregiver atau perawat
3.5 Implementasi Keperawatan dan Evaluasi Keperawatan
No Hari/tanggal Dx Implementasi Evaluasi 1 Kamis,13
Maret 2025
Gangguan Memori b.d Penurunan fungsi kognitif akibat demensia
- Memberikan
orientasi realitas dengan
mengenalkan kembali waktu, tempat, dan orang di sekitar pasien.
- Melatih pasien mengingat nama anggota keluarga menggunakan foto.
- Melakukan terapi
S (Subjektif): Pasien
merasa bingung
dengan lingkungan sekitar tetapi tertarik melihat foto keluarga.
O (Objektif): Pasien mulai mengenali beberapa wajah dalam foto tetapi masih sulit
menyebut nama.
A (Assessment):
Gangguan memori
reminiscence (mengingat
kembali peristiwa masa lalu yang menyenangkan).
masih ada tetapi ada sedikit peningkatan dalam orientasi terhadap keluarga.
P (Plan): Lanjutkan stimulasi kognitif dan pemberian orientasi realitas.
Risiko Isolasi
Sosial b.d
Kurangnya dukungan sosial dan perubahan peran dalam keluarga
- Mengajak pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas kelompok ringan seperti senam bersama.
- Memfasilitasi komunikasi dengan anggota keluarga melalui video call atau kunjungan.
- Memberikan
dukungan
emosional dengan mendengarkan keluhan pasien.
S: Pasien merasa tidak nyaman di lingkungan kelompok, tetapi mau berbicara dengan perawat.
O: Pasien tampak cemas saat berada dalam kelompok tetapi lebih tenang saat berbicara satu lawan satu.
A: Pasien
membutuhkan
pendekatan bertahap dalam berinteraksi dengan orang lain.
P: Lanjutkan terapi sosial secara individual sebelum masuk ke kelompok.
Ketidakefektifan Manajemen Regimen Terapi b.d Gangguan kognitif yang menyebabkan kesulitan dalam mengingat pengobatan
- Memberikan
edukasi kepada
pasien dan
caregiver tentang pentingnya
kepatuhan dalam
minum obat.
- Memperkenalkan penggunaan kotak obat berlabel untuk membantu
mengingat jadwal
minum obat.
- Mengingatkan
pasien untuk
minum obat dengan alarm atau sinyal visual.
S: Pasien mengatakan sering lupa waktu
minum obat.
O: Pasien tidak bisa menyebutkan jadwal obatnya dengan benar.
A: Pemahaman pasien masih kurang, tetapi tertarik dengan ide kotak obat berlabel.
P: Lanjutkan edukasi dengan simulasi penggunaan kotak obat.
2. Jumat,14 Maret 2025
Gangguan Memori b.d Penurunan fungsi kognitif akibat demensia
- Mengajak pasien bermain permainan sederhana yang merangsang daya ingat, seperti mencocokkan gambar.
- Mengulang
informasi penting secara berkala,
S: Pasien lebih kooperatif saat diajak bermain tetapi masih kesulitan mengingat
jadwal makan.
O: Pasien dapat mengingat beberapa jadwal sederhana tetapi masih sering lupa.
misalnya jadwal makan dan aktivitas sehari-hari.
- Mendorong
pasien untuk
mengulang nama anggota keluarga setiap sesi terapi.
A: Memori jangka
pendek masih
terganggu, tetapi ada respons positif terhadap latihan.
P: Terapkan penguatan positif dan tambahkan latihan kognitif dengan media audio-visual.
Risiko Isolasi
Sosial b.d
Kurangnya dukungan sosial dan perubahan peran dalam keluarga
Mendorong pasien untuk berbicara
dengan teman
sebayanya dalam kelompok kecil.
- Menggunakan aktivitas berbasis
minat pasien
(misalnya, bercerita tentang hobi masa lalu).
- Memberikan
reinforcement positif setiap kali pasien
berpartisipasi dalam interaksi sosial.
S: Pasien lebih nyaman berbicara dengan satu teman tetapi masih ragu untuk berinteraksi dalam kelompok.
O: Pasien mulai
tersenyum dan
menunjukkan
ketertarikan terhadap percakapan.
A: Ada peningkatan dalam interaksi sosial
meskipun masih
terbatas.
P: Lanjutkan interaksi sosial dalam kelompok
kecil sebelum
memperluas ke
kelompok yang lebih besar.
Ketidakefektifan Manajemen Regimen Terapi b.d Gangguan kognitif yang menyebabkan kesulitan dalam mengingat pengobatan
- Menggunakan kombinasi alarm suara dan label
warna untuk
memudahkan pasien mengingat waktu minum obat.
- Mengevaluasi kepatuhan pasien dengan mencatat jumlah obat yang dikonsumsi.
- Memberikan
reinforcement positif jika pasien berhasil mengikuti jadwal obat dengan baik.
S: Pasien merasa lebih percaya diri dalam mengingat jadwal obat.
O: Pasien bisa menyebutkan waktu minum obat dengan
lebih baik.
A: Kepatuhan terhadap pengobatan meningkat, meskipun masih perlu pemantauan caregiver.
P: Lanjutkan
intervensi dengan pemantauan berkala oleh caregiver.
3 Sabtu 15 Maret 2025
Gangguan Memori b.d Penurunan fungsi kognitif akibat demensia
- Menggunakan
papan jadwal
harian untuk
membantu pasien mengingat aktivitas sehari-hari.
- Mengajak pasien berbicara tentang
S: Pasien merasa terbantu dengan papan jadwal tetapi masih meminta bantuan untuk mengingat tugasnya.
O: Pasien
menunjukkan sedikit
peristiwa masa lalu yang berkesan.
- Menggunakan teknik pengulangan
kata dalam
komunikasi sehari- hari.
peningkatan dalam mengingat aktivitas sehari-hari.
A: Fungsi kognitif mulai meningkat meskipun masih ada kesulitan dalam
memori jangka
pendek.
P: Lanjutkan
intervensi dengan meningkatkan
intensitas latihan memori.
Risiko Isolasi
Sosial b.d
Kurangnya dukungan sosial dan perubahan peran dalam keluarga
- Mengajak pasien berpartisipasi dalam permainan kelompok
sederhana.
- Memberikan
dukungan verbal setiap kali pasien mencoba
berkomunikasi dengan orang lain.
- Memastikan
keluarga memberikan
S: Pasien merasa lebih nyaman berbicara dengan orang lain dalam kelompok kecil.
O: Pasien dapat mengikuti permainan kelompok dan tampak
lebih rileks.
A: Interaksi sosial
pasien mulai
meningkat, tetapi masih membutuhkan bimbingan.
P: Lanjutkan program
perhatian lebih, misalnya dengan jadwal kunjungan rutin.
interaksi sosial dan perkuat keterlibatan keluarga.
Ketidakefektifan Manajemen Regimen Terapi b.d Gangguan kognitif yang menyebabkan kesulitan dalam mengingat pengobatan
- Menggunakan kombinasi alarm suara dan label
warna untuk
memudahkan pasien mengingat waktu minum obat.
- Mengevaluasi kepatuhan pasien dengan mencatat jumlah obat yang dikonsumsi.
- Memberikan
reinforcement positif jika pasien berhasil mengikuti jadwal obat dengan baik.
S: Pasien merasa lebih percaya diri dalam mengingat jadwal obat.
O: Pasien bisa menyebutkan waktu minum obat dengan
lebih baik.
A: Kepatuhan terhadap pengobatan meningkat, meskipun masih perlu pemantauan caregiver.
P: Lanjutkan
intervensi dengan pemantauan berkala oleh caregiver.
BAB 4 PEMBAHASAN
Pada bab ini, penulis membahas proses keperawatan yang dilakukan pada lansia dengan diagnosa Demensia di Wisma Taman Bodhi Asri. Proses keperawatan merupakan pendekatan sistematis dalam menyelesaikan permasalahan yang dialami pasien. Fokus utama dari proses ini adalah kebutuhan serta permasalahan yang dialami klien dalam upaya mencapai pemulihan yang optimal.
Pembahasan ini mencakup seluruh tahapan proses keperawatan, mulai dari pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan asuhan keperawatan, implementasi, hingga evaluasi keperawatan. Data yang digunakan diperoleh melalui wawancara serta observasi langsung terhadap pasien dan lingkungan sekitarnya.
4.1 Pengkajian
Demensia merupakan gangguan neurokognitif yang ditandai dengan penurunan fungsi kognitif, memori, bahasa, dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Secara teoritis, pengkajian pada lansia dengan demensia mencakup aspek kognitif, fungsional, psikososial, dan riwayat kesehatan. Pengkajian kognitif dapat dilakukan dengan instrumen seperti Mini-Mental State Examination (MMSE) dan Montreal Cognitive Assessment (MoCA-Ina) yang menilai orientasi, atensi, daya ingat, serta kemampuan visuospasial. Sementara
itu, status fungsional dapat dinilai menggunakan Katz Index of Independence in Activities of Daily Living (ADL) dan Barthel Index yang mengukur tingkat kemandirian lansia dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain itu, aspek psikososial juga penting untuk dinilai karena lansia dengan demensia sering mengalami isolasi sosial, depresi, dan perubahan suasana hati yang dapat memperburuk kondisi mereka (Sadock, 2021).
Berdasarkan pengkajian yang dilakukan pada lansia dengan demensia di Taman Bodhi Asri, ditemukan bahwa sebagian besar lansia mengalami gangguan kognitif dengan mayoritas berada pada kategori gangguan kognitif sedang hingga berat berdasarkan MMSE dan MoCA-Ina. Lansia dengan demensia di panti ini juga menunjukkan ketergantungan yang cukup tinggi dalam aktivitas sehari-hari, sebagaimana terlihat dalam hasil pengukuran Katz Indeks dan Barthel Indeks yang menunjukkan sebagian besar lansia memiliki ketergantungan ringan hingga sedang. Selain itu, ditemukan pula bahwa beberapa lansia mengalami depresi ringan hingga sedang berdasarkan Inventaris Depresi Beck, yang berkorelasi dengan risiko isolasi sosial akibat kurangnya dukungan sosial dan perubahan peran dalam keluarga. Selain gangguan kognitif dan depresi, masalah kepatuhan terhadap pengobatan juga menjadi perhatian. Sejumlah lansia mengeluh sering lupa untuk minum obat, yang sejalan dengan hasil pengkajian bahwa adanya gangguan memori menghambat manajemen regimen terapi. Data tersebut mendukung teori bahwa lansia dengan demensia sering kali mengalami kombinasi antara gangguan kognitif, defisit perawatan diri, serta risiko isolasi sosial yang dapat berdampak pada kualitas hidup mereka (WHO, 2020).
Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan holistik dalam asuhan keperawatan sangat diperlukan bagi lansia dengan demensia, dengan fokus pada stimulasi kognitif, dukungan psikososial, serta edukasi dalam manajemen pengobatan.
Pemberian orientasi realitas dan terapi reminiscence terbukti membantu meningkatkan daya ingat dan fungsi kognitif pasien. Intervensi sosial seperti terapi kelompok juga penting untuk mencegah isolasi sosial dan meningkatkan interaksi dengan lingkungan. Selain itu, penggunaan alat bantu seperti kotak obat berlabel dan alarm pengingat dapat membantu meningkatkan kepatuhan lansia terhadap terapi obat. Dengan pendekatan yang komprehensif, diharapkan lansia dengan demensia dapat mempertahankan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari serta meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan (Burns et al., 2019).
4.2 Diagnosa Keperawatan
Gangguan memori merupakan salah satu dampak utama dari demensia yang dapat mempengaruhi kualitas hidup lansia. Secara teoritis, demensia menyebabkan penurunan fungsi kognitif yang mengakibatkan kesulitan dalam
mengingat, mengenali orang, atau memahami lingkungan sekitarnya (Potter &
Perry, 2019). Kondisi ini disebabkan oleh degenerasi neuron di otak, terutama pada area hippocampus yang berperan dalam penyimpanan memori. Dalam kasus yang dihadapi di Taman Bodhi Asri, pasien dengan gangguan memori menunjukkan kesulitan dalam mengenali anggota keluarga dan mengalami penurunan orientasi terhadap waktu serta tempat. Implementasi keperawatan yang dilakukan, seperti pemberian orientasi realitas dan terapi reminiscence, bertujuan untuk membantu pasien mempertahankan fungsi kognitifnya selama mungkin. Berdasarkan evaluasi, pasien menunjukkan sedikit peningkatan dalam mengingat wajah anggota keluarga setelah diberikan stimulasi kognitif secara berulang.
Risiko isolasi sosial merupakan masalah yang sering ditemukan pada lansia dengan demensia akibat berkurangnya interaksi sosial dan dukungan keluarga.
Secara teoritis, isolasi sosial dapat menyebabkan dampak negatif seperti peningkatan risiko depresi, kecemasan, dan bahkan mempercepat penurunan fungsi kognitif (Smeltzer et al., 2020). Lansia yang mengalami demensia cenderung menarik diri dari lingkungan sosial karena kesulitan dalam memahami percakapan atau mengenali orang di sekitarnya. Dalam kasus yang ditemukan, pasien di Taman Bodhi Asri menunjukkan kecenderungan untuk menghindari interaksi sosial dan lebih nyaman berbicara hanya dengan tenaga kesehatan.
Intervensi yang dilakukan meliputi terapi kelompok dan fasilitasi komunikasi dengan anggota keluarga melalui video call. Setelah tiga hari implementasi, pasien mulai menunjukkan peningkatan dalam interaksi sosial meskipun masih membutuhkan bimbingan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Ketidakefektifan manajemen regimen terapi menjadi masalah yang signifikan pada lansia dengan demensia karena mereka sering lupa mengonsumsi obat sesuai jadwal. Secara teoritis, penurunan fungsi eksekutif akibat demensia dapat menghambat pasien dalam mengingat jadwal dan dosis obat yang harus dikonsumsi (Black & Hawks, 2021). Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat meningkatkan risiko komplikasi dari penyakit penyerta seperti hipertensi atau diabetes. Dalam kasus di Taman Bodhi Asri, pasien mengalami kesulitan dalam mengingat jadwal minum obat, yang dapat berdampak pada ketidakstabilan kondisi kesehatan mereka. Untuk mengatasi masalah ini, intervensi keperawatan dilakukan dengan memperkenalkan kotak obat berlabel dan alarm pengingat. Evaluasi menunjukkan bahwa pasien mulai menunjukkan kepatuhan yang lebih baik terhadap jadwal pengobatan, meskipun masih membutuhkan bantuan dari caregiver untuk memastikan keteraturan konsumsi obat.
Berdasarkan hasil implementasi keperawatan pada ketiga diagnosa ini, dapat disimpulkan bahwa lansia dengan demensia membutuhkan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan. Intervensi yang dilakukan harus melibatkan stimulasi kognitif, dukungan sosial, serta bantuan dalam manajemen terapi agar pasien tetap dapat mempertahankan kualitas hidupnya dengan optimal.
4.3 Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan pada pasien lansia dengan demensia bertujuan untuk meningkatkan fungsi kognitif, mencegah isolasi sosial, serta memastikan kepatuhan terhadap terapi pengobatan. Secara teoritis, intervensi keperawatan dalam menangani gangguan memori mencakup stimulasi kognitif yang berfokus pada pemberian orientasi realitas dan terapi reminiscence. Pemberian orientasi realitas membantu pasien untuk mengenali lingkungan, waktu, dan orang-orang di sekitarnya, yang terbukti dapat memperlambat progresivitas demensia (Potter
& Perry, 2019). Selain itu, terapi reminiscence atau mengenang pengalaman masa lalu dapat meningkatkan daya ingat pasien dan memberikan rasa nyaman secara emosional. Dalam kasus pasien di Taman Bodhi Asri, dilakukan pemberian orientasi secara berkala serta penggunaan foto keluarga untuk membantu pasien mengingat orang-orang terdekat. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pasien mengalami sedikit peningkatan dalam mengenali wajah keluarga dan mulai mengingat beberapa informasi dasar, meskipun masih memerlukan pengulangan secara rutin.
Isolasi sosial merupakan salah satu permasalahan yang sering ditemukan pada lansia dengan demensia akibat keterbatasan kognitif yang membuat mereka sulit berinteraksi dengan lingkungan. Secara teoritis, pendekatan yang dapat dilakukan meliputi fasilitasi interaksi sosial dan terapi kelompok, di mana pasien didorong untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang melibatkan komunikasi dan kerja sama (Smeltzer et al., 2020). Kegiatan seperti senam lansia, diskusi kelompok, dan kunjungan keluarga dapat meningkatkan rasa percaya diri pasien dalam bersosialisasi serta mencegah depresi yang sering menyertai isolasi sosial. Dalam kasus di Taman Bodhi Asri, intervensi dilakukan dengan mendorong pasien untuk berbicara dengan teman sebayanya dalam kelompok kecil serta memfasilitasi komunikasi dengan keluarga melalui video call. Setelah tiga hari implementasi, pasien mulai menunjukkan minat dalam interaksi sosial dan mulai terlibat dalam aktivitas kelompok, meskipun masih membutuhkan dorongan dari tenaga kesehatan.
Ketidakefektifan manajemen regimen terapi pada lansia dengan demensia menjadi tantangan tersendiri karena penurunan daya ingat dapat menyebabkan pasien lupa untuk mengonsumsi obat sesuai jadwal. Secara teoritis, penggunaan alat bantu seperti kotak obat berlabel dan alarm pengingat dapat meningkatkan
kepatuhan pasien terhadap terapi obat (Black & Hawks, 2021). Selain itu, peran caregiver dalam mengingatkan serta mendampingi pasien dalam menjalankan regimen terapi sangat penting untuk memastikan efektivitas pengobatan. Dalam kasus di Taman Bodhi Asri, dilakukan edukasi kepada pasien dan caregiver tentang pentingnya kepatuhan terapi obat serta diperkenalkan penggunaan kotak obat berlabel untuk membantu pasien mengingat jadwal konsumsi obat. Evaluasi menunjukkan bahwa pasien mulai memahami pentingnya minum obat secara teratur dan lebih mudah mengingat jadwal pengobatan dengan bantuan kotak obat dan alarm, meskipun tetap membutuhkan pemantauan dari caregiver untuk memastikan keteraturan terapi.
Berdasarkan hasil intervensi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pendekatan yang bersifat holistik dengan melibatkan stimulasi kognitif, dukungan sosial, serta alat bantu pengingat dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dengan demensia. Implementasi intervensi keperawatan yang konsisten dan berbasis bukti dapat membantu pasien dalam mempertahankan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari serta mencegah komplikasi lebih lanjut.
4.4 Implementasi Keperawatan dan Evaluasi Keperawatan
Intervensi keperawatan pada pasien lansia dengan demensia bertujuan untuk meningkatkan fungsi kognitif, mencegah isolasi sosial, serta memastikan kepatuhan terhadap terapi pengobatan. Secara teoritis, intervensi keperawatan dalam menangani gangguan memori mencakup stimulasi kognitif yang berfokus pada pemberian orientasi realitas dan terapi reminiscence. Pemberian orientasi realitas membantu pasien untuk mengenali lingkungan, waktu, dan orang-orang di sekitarnya, yang terbukti dapat memperlambat progresivitas demensia (Potter
& Perry, 2019). Selain itu, terapi reminiscence atau mengenang pengalaman masa lalu dapat meningkatkan daya ingat pasien dan memberikan rasa nyaman secara emosional. Dalam kasus pasien di Taman Bodhi Asri, dilakukan pemberian orientasi secara berkala serta penggunaan foto keluarga untuk membantu pasien mengingat orang-orang terdekat. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pasien mengalami sedikit peningkatan dalam mengenali wajah keluarga dan mulai mengingat beberapa informasi dasar, meskipun masih memerlukan pengulangan secara rutin.
Isolasi sosial merupakan salah satu permasalahan yang sering ditemukan pada lansia dengan demensia akibat keterbatasan kognitif yang membuat mereka sulit berinteraksi dengan lingkungan. Secara teoritis, pendekatan yang dapat dilakukan meliputi fasilitasi interaksi sosial dan terapi kelompok, di mana pasien didorong untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang melibatkan komunikasi dan kerja sama (Smeltzer et al., 2020). Kegiatan seperti senam lansia, diskusi kelompok, dan kunjungan keluarga dapat meningkatkan rasa percaya diri pasien dalam
bersosialisasi serta mencegah depresi yang sering menyertai isolasi sosial. Dalam kasus di Taman Bodhi Asri, intervensi dilakukan dengan mendorong pasien untuk berbicara dengan teman sebayanya dalam kelompok kecil serta memfasilitasi komunikasi dengan keluarga melalui video call. Setelah tiga hari implementasi, pasien mulai menunjukkan minat dalam interaksi sosial dan mulai terlibat dalam aktivitas kelompok, meskipun masih membutuhkan dorongan dari tenaga kesehatan.
Ketidakefektifan manajemen regimen terapi pada lansia dengan demensia menjadi tantangan tersendiri karena penurunan daya ingat dapat menyebabkan pasien lupa untuk mengonsumsi obat sesuai jadwal. Secara teoritis, penggunaan alat bantu seperti kotak obat berlabel dan alarm pengingat dapat meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi obat (Black & Hawks, 2021). Selain itu, peran caregiver dalam mengingatkan serta mendampingi pasien dalam menjalankan regimen terapi sangat penting untuk memastikan efektivitas pengobatan. Dalam kasus di Taman Bodhi Asri, dilakukan edukasi kepada pasien dan caregiver tentang pentingnya kepatuhan terapi obat serta diperkenalkan penggunaan kotak obat berlabel untuk membantu pasien mengingat jadwal konsumsi obat. Evaluasi menunjukkan bahwa pasien mulai memahami pentingnya minum obat secara teratur dan lebih mudah mengingat jadwal pengobatan dengan bantuan kotak obat dan alarm, meskipun tetap membutuhkan pemantauan dari caregiver untuk memastikan keteraturan terapi.
Berdasarkan hasil intervensi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pendekatan yang bersifat holistik dengan melibatkan stimulasi kognitif, dukungan sosial, serta alat bantu pengingat dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dengan demensia. Implementasi intervensi keperawatan yang konsisten dan berbasis bukti dapat membantu pasien dalam mempertahankan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari serta mencegah komplikasi lebih lanjut.
DAFTAR PUSTKA
Black, J. M., & Hawks, J. H. (2021). Medical-Surgical Nursing: Clinical Management for Positive Outcomes. Elsevier.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2019). Fundamentals of Nursing. Elsevier.
Smeltzer, S. C., Bare, B. G., Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2020). Brunner &
Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. Lippincott Williams &
Wilkins.
Sadock, B. J., & Sadock, V. A. (2021). Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. Wolters Kluwer.
Burns, A., & Iliffe, S. (2019). Dementia. BMJ Publishing Group.
World Health Organization (WHO). (2020). Dementia: A Public Health Priority.
Geneva: WHO Press.
Alzheimer’s Association. (2021). 2021 Alzheimer's Disease Facts and Figures.
Retrieved from www.alz.org
Ministry of Health, Indonesia. (2020). Pedoman Pencegahan dan Penanganan Demensia. Retrieved from www.kemkes.go.id