--rr--
Tri Hidayati, Aspek Hukurn Percaingan Usaha dalafi per\turun prcsidefi fio. 54 tohun 2070
ASPEKHUKUM PERSAINGAN USAHA DALAM PERATURAN PRESIDEN NOMOR
54TAHUN
2O1OTri Hidayati
Tenaga Pengajar STAIN Palangka Raya lurusan Syariah
ABSTRAK
Kompetisi bisnis adalah salah satu elemen penting dalam perekonomtan nasional dalam rangka mendorong krestioitas, inooasi, produkti)itas dan {ektiaitas pelaku usaha. l)ndang- Undang Nomor 5/L999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan llsaha Tidak Sehat
ditlirikan dalam rangka untuk meflgatur dalam rangka menciptakan persaingan yang sehat dan anti-monopoli dalam bisnis. Tujuan
ini
perlu didukung oleh sinergi antata seTnua komponen hukum bisnis yang berkaitan dmgan itu yang merupakan salah satu Peraturan Presiden Nomor 5412010 tentang Pengadaan Barang I lasa (Perpres 54/2070). Perpres 54/20L0 mencakup aspekhukum persaingan usaha yang terdiri d.ari: prinsip-prinsip ttansparan, keterbukaan dan kompetitif. Ketiga prinsip ditransformasi dan diterapkan di beberapa butir artikel tentang proses pangadaan dan pemantauan di Perpres 54/2010 untuk menciptakan p*saingan yang adil.
Kata Kunci : Kompetisi bisnis, Prinsip Hukum
ABSTRACT
The Competition of business [s one of the inportant elements in the national economy in order to foster crestioity, innouatiotl, productipity and elfectitseness of business actors. The Act No. 5/1.999 about Prohibition of Monopolistic Practices and. Unfair Business Competition was established in otder to set in order to create fair competition and anti-monopoly in business. These goals need to be supported by the synergy betueen all the components of business law relating to
it
which is one of Presidential Regulation No. 54/ 2010 about the Procurerflent of Goods
/
Serttices (Perpres 5412010). Perpres 54/2010 includes the legal aspects of business competition consists of:pinciples of transparent, openship and competitioe. Thirdly of principles are transformed and applied in some grains article o.baout the procourment process and monitoring in Perpres 54t2010 to create
fai
competition.Key wotd: The Competition of btsiness, principle ol law
,
112
Jumal El - Mashlahah, vol. 2 No. 2, D6embet 2012
PENDAHULUAN A, Latar Belakang
Pembangunan
Nasional
yang dilaksanakan saat ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuranrakyat
Indonesia secaraadil dan merata, serta mengembangkan
kehidupan masyarakat
danpenyelenggaraan negara yang maju dan demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Salah satu bidang yang menjadi tumpuan pembangunan nasional adalah pembangunan
hukum dan
ekonomi,dimana keduanya harus
berjalan harmonis dan saling mengisi satu sama lain. Pembangunan ekonomi tidak akan berjalan denganbaik
manakala tidakmemiliki koridor
berupahukum
dan kebijakan yang jelasuntuk
menuntun dan mengarahkan kepada sistem yangdiinginkan sehingga
mampumevr'ujudkan
tujuan nasional
yakni kesejahteraan bangsa dan negara.Seiring
denganEra
Reformasi, telah terradi perubahan yang mendasardalam bidang hukum ekonomi
dan bisnis, yang ditandai antara lain denganIahirnya
Undang-UndangNomor
5Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Undang-undang seperti ini sudah seiak lama dinantikan oleh pelaku usaha dalam rangka menciptakan
iklim
usahayang
sehatdan
bebasdari
praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme. Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999telah
diatur
sejumlah larangan praktikmonopoli
dan/atau persaingan usahayang tidak sehat lainnya,
dengan harapandapat
memberikan jaminan kepastianhukum dan
perlindungan yang sama kepada setiap pelaku usaha atau sekelompok pelaku usaha dalamusaha dapat bersaing secara wajar dan sehat, serta tidak merugikan masyarakat banyak dalam berusaha, sehingga pada
gilirannya
penguasaanpasar
yan8terjadi timbul
secarakompetitif.
Di sampingitu
dalam rangka menyosongera
perdagangan bebas,kita
dituntutuntuk menviapkan
danmengharmonisasikan
rambu-rarnbuhukum yang mengatur
hubungan ekonomi dan bisnis antarbangsa seperti yang sudah disepakati dalam Final Act Uruguay Round sebagaibagian
dari pembentukan World Trade Organizatbn (WTO). Kelahirannya jugatidak
lepasdari
pelaksanaan Letterof
Intentyanr
telah dibuat antara Pemerintah Republik Indonesia
dan
hlernational MonetaryFard (lMF).
Dengan demikian du;ria internasionaljuga
mempunyai airdil dalam mewuiudkan lahirnya Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1999.rDitilik dari sisi
kehidupannasional jelas bahwa basis kultural (asas
kekeluargaan) dan
konstitusional (demokrasi ekonomi) bangsa Indonesia memang sama sekali menolak praktik- praktik monopolistik dalam kehidupanekonomi yang merugikan
rakyat.Apalagi dengan
dominannya kulturagama yang didominasi oleh umat Islam sebagai mayoritas penduduknya, maka dimensi
etika
Islam hendaknya turutserta
mewarnaipemikiran dan
polatingkah para pelaku usaha
agatberorientasi pada akhlak dan perilaku
usaha yang islami, salah
satunya menghindaridari
perilaku usaha yang monopilistik dan persaingan usaha yangcurang sebagaimana Altah
SWTberfirman dalam
Al
Qur'an Surah An Nisa ayat 29 yang berbunyi: "Hai orang- orang yaLLg beriman, janganlah kamu salingberusaha. Dengan adanya larangan
ini,
rRachmadi usman, PersainSan usdha Tidak sehol dipelaku usaha
itau sekerompok-peraku ill;l1ll..!,"l,Jl; pr.
clamedia pu'takg113
--
Tri Hidayati, Arpek Hukufi PeBaifigan Usqha dalqm peralurun pre\iden no. 54 tahun 2070
memakqn harta sessmamu dmgan jalan batil...".z
Arus globalisasi
menciptakanatmosfer yang kondusif
untuk persaingan yang menembus batas-batasnegara, yang
membutuhkanharmonisasi kebijakan yang
seringdinamakan "super
national ofregionalstandards".lUntuk
itulah,akhirnya harus ada campur
tangan negara (goaenonent regulation) untukmengembangkan dan
memeliharakondisi persaingan agar
berjalan seimbang dan berkeadilan.Pelaksanaan pembangunan perlu dilandasi dengan prinsip-prinsip dasar manajemen pembangunan, antara lain:
etika luhur,
kemanusiaan, keadilan, kemandiriaarypartisipatit
penegakanhukum dan
keterbukaan. Persainganusaha yang sehat
merupakan manifestasidari
prinsip-prinsip dasarmanajemen pembangunan
tersebut.Dimana persaingan usaha yang sehat
akan berpotensi
meningkatkanpertumbuhan ekonomi,
penurunan penganggurandengan
meningkatkanlapangan kerja, penurunan
angkakemiskinan, bahkan
peningkatan pendapatan perkapitayang
nantinya diharapkan mencapai hingga 4.500 dolar AS perorang pada 2014 dan terjaganyaz
Departemen ASamaRL Al
Qur'arl dafi Teriefinhnya, oakarta: CV. Indah Press,2002), hlm. 122.3 Globalisasi menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha. Globalisasi menuntut persaingan bebas yang menganut konsep
dekonsentrasi. Mau tidak mau perusahaan-
perusahaan
lokal
harus berdaya saing internasional. Daya saingini
bukan hanya menyangkut kemampuan bersaing memasok produk ke pasar intemasional tetapi iugi di dalam pasar dom€stik untuk menghadapipesaing dari luar neSeri. Didin S, Damanhuri.
SDM lndon$ia dalam Persaingan Clobal, httpr//www,rln.rharapan.co.id,6erita/0306/13/op i01,html. diakses tan8gal2l maret 2012
stabilitas ekonomi.r Persaingan yang
sehat dalam ekonomi pasar
bebasmemberikan empat
keuntungan.Pertama, percaingan akan memberikan harga yang kompetitif.
kdua,
ad,anya peningkatan kualitas hidup oleh karenainovasi yang
terus-menerus. I(eliga,mendorong dan
meningkatkan mobilitas masyarakat. Keempat, adanyaefisiensi baik efisiensi
prodtrktif maupun alokatif.5Salah satu upaya menggalakkan
mobilitas
pembangunanadalah
padasektor
pengadaanbarang dan
jasapemerintah. Dalam
pelaksanaanpembangunan
pemerintah membutuhkan mitra dari pihak swastamaupun masyarakat dalam
hal pengadaanbaran; dan jasa
yangdibutuhkan oleh pemerintah
dalam pelaksanaan pentbangunan terseirut.Untuk itu dibutuhkan perangkat hukum yang khusus mengatur
tata
cara dan prosedur pengadaanbaranfasa
yakni melalui Peraturan Presiden Nomor 54tahun 20'10 tentang
Pengadaan tsarang{asaPemerintah
(selanjutnyadisebut Perpres
5412010) sebagai pengganti Keputusan Presiden Nomor80 Tahun 2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Instansi Pemerintah.Perpres
541201-0 merupakanimplementasi beberapa
Undang-Undang antara lain salah
satunya adalah Undang-UndangNo. 5
Tahun"1999 tentang Larangan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha yangTidak
Sehat (selanjutnya disebut UUanti
monopoli)6.Kehadiran
Perpres{
http:/,/beritasore.com/2O10/04/19/presiden-10- arahan-pembangunan-ekonomi-nasional/, diakses tanggal2l maret 20125 tbid.
6Menurut Usman, Istilah UU and monopoli atau penyebutan nama ringkat untuk Undgng- Undant Nomo! 5 Trhun 1999 tentang Lalangrn Prakt€k Monopoli d6n Peleaingan Usaha Tldsk 114
Jurnal Et - Mashtahah, vol' 2 No. 2, Desember 2072
-
54/2010 dimaksudkan
untuk
mengatur pengguna barang/jasadan
penyediabaranfasa
agar sesuai dengan tu8as, fungsi, hak dan kewajiban serta Peranan masing-masingpihak dalam
Prosespengadaan baranf asa
Yang dibutuhkan Instansi Pemerintah. Selainitu
dengan peraturan khususini
parapelaku usaha yang akan
menjadipenyedia melalui Prosedur
Yangditetapkan daPat menjadi
aiangpersaingan antar Pelaku usaha tersebut.
Perpres 5412070
diharaPkanmenjadi
penyemPurnaatas
beberapa kebiiakan sebelumnyaterkait
perihalyang sama, disamping memiliki tuiuan utama yakni nrenciptakan keterbukaan, transparansi, akuntabilitas serta PrinsiP persaingan usaha
yang
sehat dalamproses pengadaan
barang/jasapemerintah yang dibiaYai
melaluiAPBN/APBD sehingga
diPerolehbarang/.jasa
yang terjangkau
danberkualitas serta
daPatdipertanggungiawabkan
baik dari
segifisik,
keuangan,maupun
manfaatnYa bagi kelancaran tugas Pemerintah dan pelayanan masyarakat.Mengingat Perpres
54/2010sebagai bagian dari
pelaksanaanketentuan Undang-Undang
AntiMonopoli, seyogyanYalah
segalaketentuan yang termuat dalam Perpres 54/2010 juga mengemban asas-asas dan aspek-aspek
hukum
persaingan usahaSehat
ini
memang tidak diatur dalam UU tersebut. Namun mengingal adanya teknik penncangan undang-undang penamaan sebuah undang-undang harus dirumuskan secara singkat, ielas, dan tegas, hanya menSgunakan I (satu) kata atau ftasa yang mencerminkan substansi pengaturan undanS_undang yant bersangkutan (tihat Pasal ,14 ayat (2) dan lampiran I UU Nomor 12 Tahun 2011 tentanS Pembentukan Peraturan Perundang_undan8an) sehingga UndanS-Undang Nomor 5 Tahun 1999disingkat meniadi
UU Anti
MonoPolisebagaimana digunakan oleh Negara lair Lihat Rachmadi Usman, OP.Cit, hlm. 32.
tersebut.
Hal ini merujuk
Pada asas perundang-undangandi
lndonesia yang menganut asas lex superior derogat lexinferior
bahwa Peraturanyang
lebih rendah tidak boleh bertentangan denganperaturan yang lebih tinggi
(asaskepatuhan
pada hirarkhi
PerundanS'undangan).7
Untuk itu
kajianini
akan mengeksplorasi tentang aspek hukumdan penerapan PrinsiP
Persainganusaha yang sehat dalam
PeraturanPresiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.
B. Kerangka Teoritik
1.
Pengertian Persaingan UsahaPengertian Persaingan
usahadapat diuraikan dalam dua kata masinS-
masing yakni "Persaingan"
dan"usaha". Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, persaingan
menunjukkan adanya dua pihak atau beberapa pihakyang saling bersaing,
berlomba,berkonkuren, dahulu mendahului, atau
atas
mengatasimeniadi
Pemenang,terunggul, dan dominan.
Persainganiuga diartikan sebagai
usahamemperlihatkan keunggulan masing-
masing yang dilakukan
olehperseoranSan
(perusahaan,
negara)pada bidang
perdagangan, Produksi, dan sebagainya. AdaPun kata "usaha"dimaknai sebagai suatu kegiatan yang mengerahkan tenaga fikiran atau badan, butuhkan proses
untuk
mencaPai suatu tujuan tertentu, yang lebih identik dengan dunia bisnis.sApabila digabungkan kedua kata
itu yakni:
persainganusaha,
daPat disimpulkan bahwa persaingan usaha 7R. Abdoel qamali, Pengantar Hukum lndonesia, oakarta:ff.
RaiaGrafindo Persada, 1999), hlm.s Depdiknas, Ktmus Besar Bahasa Indo,,es,la, Edisi Ketiga, 0aka a: Balai Pustaka, 2005), hlm' 978 dan 1254.
11s
---
Tri Hidayati, Aspek Hukun Pefiaingan Usoha dalam peralwan pre)idot ,to. 54 tohun 2070adalah suatu kompetisi antara
dua pihak atau lebih dalam suatu usaha atau bisnis tertentu yang dilakukan dengan cara-cara tertentupula untuk
menladi pemenang,terunggul dan
dominan(penguasa).
Pengertian persaingan usaha
ini
tidak secara jelas disebutkan dalam UUAnti Monoppli. Namun untuk
bisa memahamimakna
persaingan usaha dalam kontekshukum
yang mengacu pada UU Anti Monopoli tersebut, dapatdicermati pada Pasal 1
tentangKetentuan Umum nomor 6
yang menyatakan bahwa:"Persaingan
usaha tidak
sehatadalah persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang
dan
atau jasa yang dilakukan dengan cara tidakiuiur atau melawan hukum
ataumenghambat persaingan usaha".
Secara
tersirat dapat
diambil kesimpulan dari bunyi Pasal 1 nomor 6di aatas bahwa persaingan
usaha adalah persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaranbarant dan
ataujasa dengan
cara-caratertentu
baik secara sehat ataupun tidak sehat.misalnya dalam persaingan
tender dimana pelaku usaha tidak melakukan konspirasi usaha dengan panitia lelang untuk memenangkan tender.Persaingan yang
tidak
melawan hukum maksudnya adalah pelaku usahatidak
melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan misalnya pelaku usaha yang sebenamya tidak memenuhi syarat kualifikasi ternyata dapat masuk dalam kompetisi tender tersebut.Persaingan usaha yang sehat ,uga
ditandai
dengantidak
adanya upayauntuk
menghambat persaingan usaha,misalnya dengan perjanjian-perjanjian
yang dilakukan pelaku usaha
yang walaupun secara langsung pesaing laintidak mengalami kerugiary
namun perjanjian itu meniadikan pasar bersaing secara tidak kompetitif.rKehadiran UU
Anti
Monopoliini bertujuan untuk memelihara
pasarkompetitif dari
pengaruh kesepakatandan konspirasi yang
cenderung mengurangidan atau
menghilangkan persaingan. Kepedulian utama dari UUAnti Monopoli ini
adalah promoting competition dan memperkuat kedaulatan konsumen. Untuk itu diaturlah kegiatan dan perianjian yang dilarang dalam LIU Anti Monopoli sebagai berikut:2. Kriteria dan Urgensi
Persaingan Usaha yang SehatMeskipun UU Anti
Monopolitidak
menjelaskansecara
langsung bagaimanakiriteria
kriteria persaingan usahayang
sehat,setidaknya
dapatditarik unsur-unsur yang
terdapatdalam
rumusan pengertian persaingan usaha tidak sehat dalam Pasal 1 angka 5yang telah
disebutkandi
atas yakniperilaku
jujur, tidak
melawan hukum,atau tidak
menghambat persaingan usaha.Perilaku
juiur
dapat diamati dariperilaku para pelaku usaha dalam
e Mustafa Kamal Rokan, Hal<rm Percoingan usaha,bersaing dengan
pelaku usaha lain,
leo.tid::
Pnk^tikfyadi
lndoneiia' aauaEtal'
Raiawali Press, 2010), hlm.ll.
116
a. Kegiatan Monopoli, yang
diatur pada Pasal 1Z yakni:1). Pelaku usaha
dilarang
melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barangdan atau
iasayang dapat
mengakibatkanteriadinya praktek monopoli
dan atau persaingan usaha tidak sehat.2).
Pelaku usaha patut diduga
ataudianggap melakukan
penguasaan atas produksidan
atau pemasaranJumal El - Maehlahah, vol. 2 No. 2, Desember 2012
-
barang
dan
atau jasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila:a. barang dan atau jasa
yangbersangkutan belum
adasubstitusinya; atau
b.
mengakibatkan pelaku usaha laintidak dapat masuk ke
dalam persaingan usaha barang dan atau iasa yang sama; atauc. satu pelaku usaha atau
satukelompok pelaku
usahamenguasai lebih
dari
50% (lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.c.
Larangan Penguasaan Pasar yang diatur pada Pasal 19 bahwa Pelaku usaha dilarang melakukan satu ataubeberapa kegiatan, baik
sendiri maupun bersama pelaku usaha lain,yang dapat
mengakibatkanterjadinya praktek monopoli
dan atau persaingan usahatidak
eehat berupa:1)
menolakdan atau
menghalangipelaku usaha tertentu
untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan;2) atau mematikan
usahapesaingnya di pasar bersangkutan sehingga
dapat
mengakibatkan teriadinya praktek monopoli danatau persain8an usaha
tidak sehat.d. Larangan
melakukan kecurangan dalam menetapkan biaya produksidan biaya lainnya yang
menjadi bagian dari komponen harga baratrgdan atau iasa yang
dapatmengakibatkan
teriadinya persaingan usaha tidak sehat (Pasal 27\.e. Persekongkolan
Pelaku usaha
dilarangbersekongkol dengan pihak lain untuk
mengatur dan atau
menentukanpemenang tender sehingga
dapat mengakibatkantedadinya
persaingan usaha tidak sehat (Pasal 21). Selanjutnya Pasal23
menentukanpelaku
usahadilarang
bersekongkol dengan pihaklain untuk
mendapatkan informasikegiatan usaha pesaingnya
yangdiklasifikasikan sebagai
rahasiaperusahaan sehingga
dapatmengakibatkan
terjadinya
persaingan usahatidak
sehat. Terakhir Pasal 24menentukan bahwa pelaku
usahadilarang
bersekongkol dengan pihaklain untuk
menghambat produksi dan atau pemasaran barang dan atau iasapelaku usaha pesaingnya
dengan maksud agar barang dan atau iasa yangditawarkan atau dipasok di
pasarbersangkutan menjadi berkurang baik dari jumlah, kualitas, maupun ketepatan waktu yang dipersyaratkan.
b.
Larangan Monopsoniyang
diaturdalam Pasal 18, yakni:
1) Pelaku usaha dilarang menguasai
penerimaan pasokan
ataumenjadi pembeli tunggal
atasbarang dan atau iasa dalam pasar
bersangkutan yang
dapatmengakibatkan
te{adinyapraktek monopoli dan
ataupersaingan usaha tidak sehat.
2)
Pelaku usaha patut diduga atau dianggap menguasai penerimaan pasokanatau menjadi
pembelitunggal
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebihdari
507.(lima puluh persen) pangsa pasar
satu ienis barang atau
jasatertentu,
117
Tri Hidayati, Aspek Hukufi Persaifigan Usaha dalafi P.ratutun prcsiden no. 54 tahtn 2070
3.
PengertianPengadaanBarang/JasaPengadaan baranf
asapemerintah
yang
selanjutnya disebut pengadaan barang/iasa menurut Pasal 1ayat (1) Peraturan Presiden RI Nomor 54
Tahun 2010 tentang
PengadaanBarang/Jasa Pemerintah adalah kegiatan
untuk
memperoleh barang/jasa oleh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/institusi lainnya yang prosesnyadimulai dari
perencanaankebutuhan sampai
diselesaikannyaseluruh kegiatan untuk
memperoleh barang/jasa. Dalam proses pengadaantersebut menggunakan
anggaran pendapatan dan Belanja Negara (APBN)dan/atau Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (Pasal 1 ayat (2)).r0Berdasarkan ketentuan
di
atasdapat
disimpulkan bahwa pengadaanbarang/jasa pemerintah
merupakansuatu kegiatan untuk
memperoleh barang/jasa dengan proses dan proseduryang telah ditentukan
berdasarkanperaturan
perundang-undangankhususnya Peraturan Presiden
RINomor 54 Tahun 2010
dengan menggunakan anggaran APBN dan/atau APBD.Pengertian barang sesuai Pasal 1
angka 14 adalah setiap benda
baikberwuiud maupun tidak
berwujud, bergerak maupun tidak bergerak, yangdapat diperdagangkan,
dipakai, dipergunakan atau dimanfaatkan oleh PenggunaBarang
(Pejabat Pembuat Komitmen). Sedangkan pengertian jasa dalam Perpres 54/2010 tersebut meliputi jasa konsultasi dan jasa lainnya. Jasakonsultasi adalah jasa
layananprofesional yang
membutuhkankeahlian tertentu
diberbagai bidang keilmuan yang mengutamakan adanyaolah pikir
(brainware). Jasa lainnyar0
Anggota IJ(API, Pengldoan Balaflguasa Pemeinlah, Perclurqn Pre1iden N No ot 54 Tahun 2010, (Bandung: Fokus Media, 2010), hlm.2.adalah jasa yang
membutuhkankemampuan tertentu
yang mengutamakan keterampilan (skillware)dalam
suatu sistemtata
kelola yangtelah dikenal luas
di
dunia usaha untuk menyelesaikansuatu
pekeriaan atausegala pekerjaan dan/atau penyediaan jasa selain Jasa Konsultansi, pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi
dan
pengadaanBarang.
C.
Aspek Hukum
Persaingan Usahadalam
PerpresNomor 54
Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang danJasa Pemerintah
Pemberlakuan
Perpres
54/2010bertujuan
untuk
mengatur pengguna barang/jasadan
penyedia barang/jasa sesuai dengan tugns, fungsi,hak
can kewajiban serta peranan masing-masi rg pihak dalam proses pengadaan barangljasa yang dibutuhkan
Instansi Pemerintah,dan
diharapkan instansipemerintah
memperoleh baranfasa dengan kualitas dan harga yang dapat dipertanggung.iawabkan, dalam waktudan tempat tertentu
secara efektitefisien, terbuka dan
bersaing,transparan, adil/tidak diskriminatif dan akuntabel.
Perpres
54 Tahun 2010
telahmenSatur dengan tegas dan
jelasmengenai prosedur
pengadaanbarang/jasa termasuk pembinaan dan pengatvasannya,
oleh sebab
itupemerintah diharapkan
selalumemperbaiki petunjuk teknis yang tidak
selaras dan bertentangan
sertamenimbulkan interpretasi yang berbeda
bahkan merupakan sumber
konflikpelaku dunia
usaha sehingga dapatmenumbuhkan pengusaha
nasionalyang lebih
tangguhdan kuat
dalam persaingan. Untukitu
peranan asosiasidunia usaha yang telah mengenal dan
mengerti tentang hal ini
perludioptimalkan selaras dengan keinginan
118
Jumal El - Maehlaheh, Vol. 2 No. 2, Desembet 2072
-
pemerintah
untuk
memberikan Peran yang lebih luas kepada sektor swasta, terutama asosiasi, usaha kecil menengah dan koperasi guna berpartisiPasi secaraaktif dan
bertanggungiawab
dalampembangunan.
Terkait dengan Peran
swastadalam sektor usaha yang
bergerakdalam bidang usaha baik
kecilmenengah
mauPun besar
terhadaPpengadaan barang/jasa
pemerintah,tentu tidak bisa
dipisahkan dengan adanya persaingan usaha.Untuk
itupemerintah telah
memberlakukan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek MonoPoli danPersaingan Usaha Tidak
Sehat.Sejauhmana
efektif
atau tidaknya UUMonopoli ini akan
tergantung Padabeberapa faktor lain:
Pertama, kemampuan undanS-undang itu sendiridalam
memberikan sejumlah rambu-rambu
sebagai Pengaturannya; Patutdinilai
apakah rambu-rambu tersebutrealistis untuk saat ini
untukmenciptakan reformasi dalam hukum bisnis. Kedua, tergantung pada struktur hukum bisnis yang berlaku di Indonesia
pada saat ini. Usaha
untukmempaduserasikan undang-undang ini dengan berbagai undang-undang yang mengatur persoalan
bisnis di
negarakita
.perlu dilakukan dan memerlukanwaktu.
Dengankata lain,
berlakunya Undang-Undang Nomor5
Tahun 1999ini
masih harus ditindaklaniuti dengan usaha reformasihukum bisnis
Pada umumnya.llfr
Dikutib dari Abdurrahmao 2M1 "BeberapaAsp.k Hukurf, *kilar LatunSan Praktik Monopoli
dafi Persainga Usaho Tidak Sehat (Tiniauan
Terhadap ltndang-Undang Nonot 5 Tahun 1999)-, Makalah disamPaikan Pada Acara Diskusi Periodik Tenaga PenSaiar Fakultas Hukum
UNLAM. Banjarmasinr Fakultas Hukum
UNLAM, hal:
3,
dalam Rachmadi Usma[Selain
itu
daPat terlaksana atautidaknya Undang-Undang
AntiMonopoli akan tergantung pada political
will
dan political commitment pemerintahuntuk
melaksanakannYa;harus
adakemauan kuat, bukan
kemauansetengah
hati.
Karenaitu,
Pemerintahdituntut untuk
melakukan Penataankelembagaan yang
memungkinkandilaksanakannya
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 dan menYiaPkanpersonel yang andal
sebagaipendukungnya. Tidak boleh dilupakan bahwa pengaruh budaYa bisnis masa
lalu masih cukuP kental
dalamkehidupan sekarang yang tidak mudah dihapus dalam waktu singkat. Untuk itu diperlukan kaiian yang mendalam dan komprehensif bukan hanya pada materi Undang-Undang Nomor
5
Tahun 1999saja tetapi i.rgu terhadaP
semuakomponen hukum bisnis
Yang berhubungan denganitu
dimana salah satunya adalah PerPres 54/2010'Sinergitas Pengaturan
antara Undang-UndangAnti MonoPoli
dan Perpres 54/2010 dalam konteks hukum persaingan usaha dapat dianalisa dalambeberapa asPekl2 hukum
Yang mendasari terakomodiratau
tidaknyakonsep persaingan usaha
Yangdiamanatkan
dalam
Undang-UndangAnti Monopoli
tersebut. Keseluruhan aspekhukum dimaksud tentu
tidak lepas dari filosofi dibentuknya Perpres 54/2010 maupun Undang-UndangAnti Monopoli yang meniadi salah
satuinduknya. Tuiuan dibentuknya Perpres
54l2o1o dapat dilihat
dalamPenjelasannya sebagai berikut:
12 Aspek diartikan s€bagai tanda, sudut
pandangan,
yaloi
Pemunculan ataup€nginterpretasian Sagasan, masalah, situasi,
dan sebagainya s€bagai P€rtimbangan yang dilihat dari sudut Pandang tertentu DePdiknas,
Op.Cit.
hlm.x
OP Cit hlm T2'119
-Ea
Tri Hidaya0 Aipek Hukun Persaifigofi lJssha dalafi Wtuturun ptesiden fio. 54 tahu 2010
"Pengaturan mengenai tata cara
Pengadaan Barang{asa
Pemerintahdalam Peraturan Presiden
ini diharapkan dapat meningkatkaniklim
investasi yang kondusif, efisiensi belanja negara,
dan
percepatan pelaksanaanAPBN/
APBD. Selainitu,
PengadaanBarang{asa Pemerintah
yang berpedomanpada
Peraturan Presidenini ditu.jukan untuk
meningkatkan keberpihakan terhadap industri nasionaldan
usahakecil,
serta menumbuhkanindustri kreatif, inovasi,
dankemandirian bangsa
dengan mengutamakan penggunaan industristrategis dalam negeri.
Selaniutnya,ketentuan Pengadaan
Barang{asaPemerintah dalam Peraturan Presiden
ini diarahkan untuk
meningkatkan ownership Pemerintah Daerah terhadap proyek/ kegiatan yang pelaksanaannya dilakukan melalui skema pembiayaanbersama (cofinancing)
antaraPemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah".r3Berdasarkan Penielasan tersebut setidaknya
ada
beberapapoin
yangdapat ditarik sebagai
tu.iuan dibentuknya Perpres 54/2010 antara lain:1.
Meningkatkaniklim
investasi yang kondusif;2.
Efisiensi belania negara;3. Percepatan pelaksanaan
APBN/APBD
4. Meningkatkan
keberpihakan terhadap industri nasional dan usaha kecil;5. Menumbuhkan industri
kreatif,inovasi, dan
kemandirian bangsa dengan mengutamakan penggunaan industri strategis dalam negeri;6.
Meningkatkan ownefship Pemerintah Daerah terhadapproyek/
kegiatanyang
pelaksanaannya dilakukan melalui skema pembiayaan bersamarr AnSSota [(APL Op.Cil. hlm. 141
(afinancing) antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Untuk meningkatkan iklim investasi yang kondusif
denganmembuka peluang besar
kepadaindustri kecil dan
menengah untuk ambil bagian dalam pengadaan barangdan jasa
pemerintahtenhlnya
akandiiringi dengan lahirnya
persaingan usaha baik antar pengusahakecil
danmenengah tersebut, maupun
antar pengusaha kecil dan menengah dengan pengusahabesar. Dengan
demikianpara
pengusahaatau
penyedia akan berusaha meningkatkan kreatifitas daninovasi dalam
menciptakanindustr!
industri
bermutu dengan kemandirian yang tangguh guna dapat bersaing satu sama lain.Implikasi adanya
persaingan usaha tersebut akan sangat berpengaruhpada
pertumbuhan ekonomi nasional sebagaimanahal ini
menjadiruh
dariUU Nomor 5 Tahun 1999
tentangLarang Praktek Monopoli
dan Persaingan UsahaTidak
Sehat. Darikonsiderans menimbang
Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1999ini
dapat diketahui falsafah yang melatardepani kelahirannyadan
sekaligus memuat dasar pikiran perlunya disusun undang-undang
tersebut. Setidaknya memuat tiga hal, yaitu:1. Bahwa pembangunan
bidangekonomi harus
diarahkan kepadaterwuiudnya
kesejahteraan rakyat berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945;2. Bahwa dernokrasi dalam
bidangekonomi menghendaki
adanya kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk b€rpartisipasidi
dalam proses produksi
dan pemasaranbarang
dany'atau jasa,dalam iklim usaha yang
sehat,efektif, dan efisien, sehingga dapat
120
-
Jurnal El - Mashlahah, Vot. 2 No. 2, Desemb€r 2012
-
mendorong pertumbuhan ekonomi dan bekerjanya ekonomi pasar yang wajar;
3.
Bahwa setiap orang yang berusaha di Indonesia harus berada dalam situasi Persainganyang
sehatdan
wajar,sehingga tidak menimbulkan adanya pemusatan kekuatan ekonomi pada pelaku usaha tertentu, dengan tidak 'terlepas dari kesepakatan yang telah dilaksanakan oleh Negara Republik
lndonesia terhadap
perjanjian- perjanlian internasional.Sementara
itu
Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor5
Tahun 1999 iuga menyatakan antara lain:"Memperhatikan situasi
dan kondisi tersebutdi
atas, menuntut kita untuk mencermati dan menata kernbali kegiatan usahadi
Indonesia, agar dunia usaha dapat tumbuh serta berkembangsecara sehat dan benar,
sehingga terciptaiklim
persaingan usaha yangsehat serta terhindarnya
pemusatan kekuatanekonomi pada
Peroranganatau kelompok tertentu, antara
laindalam bentuk praktik monopoli
dan persainganusaha tidak sehat
yangmerugikan masyarakat,
yang bertentangan dengan cita-cita keadilan sosial. Oleh karenaitu, perlu
disusunundang-undang tentang
larangan praktik monopoli dan persaingan usahatidak
sehat yang dimaksudkan untukmenegakkan aturan hukum
danmemberikan perlindungan yang sama
bagi setiap pelaku usaha di
dalamupaya
untuk
menciptakan persa ingan usaha yang sehat. Undang-undang ini memberikan raminan kepastian hukumuntuk lebih mendorong
percePatan pembangunan ekonomidalam
upayameningkatkan
kesejahteraan umum,serta sebagai implementasi
dari semangatdan jiwa
Undang-Undang Dasar 1945".Kebijakan umum
Pengadaan Barang{asa Pemerintah iuga disebutkan dalam Penjelasan Perpres 5412010 yaknibertujuan untuk
mensinergikanketentuan Pengadaan
Barang/Jasadengan kebiiakan-kebijakan
di
sektorIainnya.
LangkahJangkah kebiiakan yang akan ditempuh Pemerintah dalam PengadaanBarangfasa
sebagaimanadiatur dalam Perpres
54/2010 ini, meliputi:1.
Peningkatan penggunaan produksi Barang/Jasadalam negeri
yangsasarannya untuk
memperluas kesempatan kerja dan basis industridalam negeri dalam
rangka meningkatkan ketahanan ekonomi dan daya saing nasional;2.
Kemandirianindustri
pertahanan, industri alat utama sistem seniata(Alutsista) dan industri
alat material khusus (Almatsus) dalam negeri;3.
Keningkatanperan serta
Usaha Mikro, Usaha Kecil, koperasi kecildan
kelompok masyarakat dalam Pengadaan Barang/Jasa;4. Perhatian terhadap
aspekpemanfaatan sumber
daya
alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup secaraarif untuk
menjaminterlaksananya
pembangunan berkelanjutan;5.
Peningkatanpenggunaanteknologi informasi dan transaksi elektronik;6.
Penyederhanaanketentuan
dantata cara untuk
mempercepatproses pengambilan
kePutusan dalam Pengadaan B arangllasa;7. Peningkatan
profesionalisme, kemandirian, dan tanggung jawabpara pihak yang terlibat
dalam perencanaan dan proses Pengadaan Barang[asa;8.
Peningkatan penerimaan negara melalui sektor perpajakan;121
T.i Hidayati, Aspek Hukum Pefiaihgan Usaha dalon pefituran pteiiden fio. 54 tahun 2O7O
9.
Penumbuhkembangan peran usaha nasional;10. Penumbuhkembangan
industrikreatif
inovatif, budaya dan hasilpenelitian laboratorium
atau institusi pendidikan dalam negeri;11, Memanfaatkan
sarana/prasaranapenelitian dan
pengembangan dalam negeri;12. Pelaksanaan
PengadaanBarang/fasa
di dalam
wilayahNegara Kesatuan
Republik Indonesia,termasuk di
KantorPerwakilan Republik
Indonesia;dan
13. Pengumuman secara
terbukarencana dan
pelaksanaan Pengadaan Barang{asadi
masing- masingkementerian/Lembaga/Satuan Kerja
Pemerintah
Daerah/lnstitusi lainnya kepada masyarakat luas.Agar tujuan
pembentukan Peraturan pengadaan barang jasa di atas dapat diejawantahkan secara baik, makadibutuhkan nilainilai dasar
yangmenjiwai keseluruhan
butir-butir ketentuan yang tersebar dalam Perpres 54/2010 ini. Nilai dasar ini dapat disebutpula
sebagai azas-azasatau
prinsip-prinsip
dalam pengadaan barang danjasa pemerintah. Hal ini
dapatditemukan pada Pasal 5 Perpres 5412010
yang
menegaskanbahwa
pengadaanBarang/Jasa menerapkan
prinsip-prinsip: a. efisien; b. efektif;
c.transparan;
d.
terbuka;e.
bersaing; f.adil/tidak diskriminatif; dan
g.akuntabel.
Diantara semua azas atau prinsip-
prinsip
pengadaanbarang dan
jasapemerintah, maka
prinsip
transparan, terbuka dan bersaing dapat dikatakanmenjadi ruh utarn^ (starting
point)terwujudnya
persainganusaha
yang sehat. Ketiga hal itulah yang merupakanaspek-aspek hukum persaingan usaha
yang diharapkan menjelma
dandiaplikasikan dalam tiap
butir-butirPasal yang ada dalam peraturan ih.l.
Prinsip
transparansi menuntut pihakK/L/D/|
terutamaUnit
Layanan Pengadaan(ULP) ataupun
panitia melakukan publikasi secaraluas
danjelas kepada masyarakat
umum terutama Penyedia Barang{asa yang berminat, dimanahal ini
ditekankanpada
pengadaanyang
menggunakanmetode
PelelanganUmum,
Seleksi Umum, Pelelangan Sederhana, Seleksi Sederhana,dan
Pemilihan Sederhana.Media publikasi yang ditekankan dalam Perpres 5412010
ini adalah
melalui media elektronik berbasis dunia maya melalui Unit Layanan Pengadaan SecaraElektronik (LPSE) sebagai
Portal Pengadaan Nasional dengancara
E- Tendering.ta Media publikasilain
yangmeniadi alternatif dalam
pengadaanbarang dan jasa adalah
papan pengumuman resmiuntuk
masyarakat danjika
dipandang perlu, ULP dapat menambah media pengumuman antara lain dengan media cetak, radio, televisi dan mengundang Penyedia Barang{asa yang dianggap mampu (Pasal 36 ayat (3) dan Penjelasannya).Dengan adanya
tranparansi, semua masyarakatdan
pelaku usahaatau para
Penyedia Barangfiasa yang memenuhi persyaratan/kriteria tertentu berdasarkan ketentuandan
proseduryang jelas secara terbuka
dapat mengikuti dan tentunya bersaing secarafair dengan
memberikan penawarandan kualitas
barangatau jasa
yang122
r. Menurut Pasal l ayat (39) Perpres 542010 bahwa E-Tende nB adalah l^ta cara pemilihan Penyedia Baran&4asa yang dilakukan secara terbuka dan dapat diikuti oleh semua Penyedia Barangllasa yang terdaftar pada sistem pengadaan s€cara elektronik dengan cara menyampaikan 1 (satu)
kali
penawaran dalam waktu yang telah ditentukan.Jurnal El - Mashlahah, Vol.2 No.2, Desember 2012
k
kompetitif tanpa adanya intervensi baik dari pihak ULP, KPA atau PPK, maupun
dari
salahsatu
penyedia baranfasa dengani'tikad yang
mengarah pada monopoli.Selaniutnya penerapan prinsip-
prinsip
persaingan usahayang
sehat dalam Perpres 54/2010 dimaksud dapatdiamati dari proses
pengadaan, pembuatankontrak dan
pengawasan sebagaimana uraian di bawah ini.1,
Proses Pengadaan, usaha kecil
menengah dankoperasi Penerapan prinsip persaingan usaha yang sehat akan diawali dengan menganalisa proses pengadaan yang
dalam hal ini dibatasi hanya
padapengadaan baranfasa
melaluipenyedia dan tidak
termasuk pengadaan melalui swakelola.r5l3 Mengingat bahwa swakelola adalah Pengadaan Barang/)asa dimana pekerjaannya direncanakan,
dike4akan darvatau diawasi sendiri oleh
K/LDll sebagai penanggung jawab anggaran, instansi pemerintah lain dan/atau kelompok masyarakat (Pasal 1 ayal (20) io. Pasal26 Perpres 542010), dimana hanya terbatas pada objek pengadaan sebagaimana disebutkan dalam Pasal26 ayat (2) Perpres 54/2010 seba8ai berikut:
a.peke4aan yang bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan dan/atau
memanfaatkan kemampuan teknis sumber daya manusia serta s€suai dengan tugas pokok K/UDA;b.peke4aan yang operasi dan pemeliharaannya memerlukan partisipasi langsung masyarakat setempat;
c.peke4aan yang dilihat dari segi besarar! si(at, lokasi atau pembiayaannya tidak diminati oleh Penyedia Baran&{Jasai
d.pekerjaan yang secara rinci/detail tidak dapat dihitung/ ditentukan terlebih dahulu, sehingga apabila dilaksanakan oleh Penyedia Barant0asa akan menimbulkan ketidakpastan dan risiko yang besar;
e. penyelenggaraan diklaL kursus, penataran, seminar, lokakarya atau penflluhan;
i
pekerjaan untuk proyek percontohan (pilot project) dan survei yang bersifat khusus untuk pengembantan teknologi/metode ke4a yangbelum dapat dilaksanakan oleh Penyedia
Baran&0asa;
Perpres
54 Tahun 2010
telahmengatur dengan tegas dan
jelasmengenai prosedur
pengadaanbaranfasa
termasuk pembinaan danpengawasannya, oleh sebab
itupemerintah diharapkan
selalu memperbaiki petunjuk teknis yang tidakselaras dan bertentangan
serta menimbulkan interpretasi yang berbedabahkan merupakan sumber
konflikpelaku dunia
usaha sehingga dapatmenumbuhkan pengusaha
nasionalyang lebih
tangguhdan kuat
dalam persaingan. Untukitu
peranan asosiasidunia usaha yang telah mengenal dan
mengerti tentang hal ini
perlu dioptimalkan selaras dengan keinginan pemerintahuntuk
memberikan peran yang lebih luas kepada sektor swasta,terutama
asosiasiguna berpartisipasi secaraaktif dan
bertanggung jawab dalam pembangunan.Proses Pengadaan
meliputiPerencanaan dan
Pelaksanaannya.Perencanaan pengadaan
diatur
dalam Pasal 22, Pasal 23, Pasal24, dan Pasal 25yang dilakukan oleh
PenggunaAnggaran
(PA)
atau Kuasa PenggunaAnggaran (KPA) dengan
membuat Rencana Umum Pengadaan Barang{asameliputi: a.
kegiatandan
anggaran PengadaanBarangfasa yang
akan dibiayai olehK/L/D[
sendiri; dan/ataub.
kegiatandan
anggaran PengadaanBarang/Jasa yang akan
dibiayaig.pekerjaan survei, pemrosesan data, perumusan
kebiiakan pemerintab
penguiian di laboEtoriumdan
pengembanSan sistem tertenfu;h.pekerjaan yang bersifat rahasia bagi I(L/DA
yang bersangkulan;
i. peke4aan Industri Kreatit inovatif dan budaya dalarn negeri;
I. penelilian dan pengembangan dalam negeri;
dan/atau
k.pekeiaan pengembangan industri pertahanan, industri alutsista dan industri almatsus dalam negeri.
723
Tri Hidayati, Aspek Hukufi Persdifigafi Usaha dalafi peraturai WesideL no, 54 tahufi 2O1O
berdasarkan ker.ja sama antar KA,IDII
secara pembiayaan bersama
(co- financing), sepanjang diperlukan (lihat Pasal 22). Menurut Pasal 22 ayat (3), Rencana Umum Pengadaan Barangfasadimaksud meliputi
kegiatan-kegiatan sebagai berikut:a. Mengindentifikasi
kebutuhanBarang/Jasa yang
diperlukanKLIDII;
b.
Menyusun dan menetapkan rencana penganggaranuntuk
PengadaanBarang/Jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (2);
c.
Menetapkan kebijakan umum tentang:1) pemaketan pekerjaan;
2)
cara Pengadaan Barang{asa; dan3) pengorganisasian
Pengadaan Barang/Jasa;d.
Menyusun Kerangka Acuan Kerja (KAK).Selanjutnya PA/KPA melakukan
penyusunan Rencana
Umum Pengadaan Barang{asapada
K/LlD/l untuk Tahun Anggaran berikutnya atauTahun
Anggaranyang akan
datan&harus diselesaikan pada
TahunAnggaran yang berjalan.
Dalampenyusunan Rencana
Umum Pengadaantersebut, tugas
PA/KPA sebagaimana Pasal 24 adalah melakukanpemaketan Barang{asa.
Pemaketandilakukan dengan
menetapkan sebanyak-banyaknya paket usaha untuk UsahaMikro dan
UsahaKecil
sertakoperasi kecil tanpa
mengabaikanprinsip efisiensi, persaingan
sehat,kesatuan sistem dan
kualitas kemampuan teknis.Untuk itu
dalam melakukan pemaketan Barang{asa, PAdilarang melakukan hal-hal
sebagai berikut:a. Menyatukan atau
memusatkanbeberapa kegiatan yang tersebar di
beberapa lokasi/daerah
yangmenurut sifat pekerjaan dan tingkat efisiensinya seharusnya dilakukan
di beberapa lokasi/daerah
masing- masing;b. Menyatukan beberapa
paket pengadaan yang menurut sifat danjenis
pekeqaannya bisa dipisahkandan/atau besaran
nilainya seharusnyadilakukan oleh
Usaha Mikro dan Usaha Kecil serta koperasi kecil;c. Memecah
Pengadaan Barang{asamenjadi
beberapapaket
denganmaksud menghindari
pelelangan (juncto Pasal 39 ayar(q
dan Pasal 45 ayat (3)); dan/ataud. Menentukan kriteria,
persyaratanatau prosedur pengadaan
yangdiskriminatif dan/atau
dengan pertimbangan yang tidak obyektif.Setelah Rencana
UmumPengadaan tersusun,
PAmengumumkan Rencana
Umum PengadaanBaranglasa di
masing-masing
I(L/D/I
secara terbuka kepada masyarakat luas setelah rencana kerjadan
anggaranI(L/D[ disetujui
olehDPrVDPRD. Pengumuman
tersebutpaling kurang berisi: a. nama
dan alamat Pengguna Anggaranib.
paket pekerjaan yang akan dilaksanakan; c,lokasi
pekerjaan;dan d.
perkiraanbesaran biaya. Pengumuman dilakukan dalam website
K/L/D/I
masing-masing dan papan pengumuman resmi untuk masyarakatserta Portal
Pengadaan Nasional melalui LPSE. Pengumumanini dilajutkan dengan
pengumumanoleh masing KlLlDll
dengan mengumumkan rencana pelaksanaanPengadaan Barang{asa
yang Kontraknyaakan
dilaksanakan pada Tahun Anggaran berikutnya/yang akan datang (Pasal 25). Dengan pengumuman yang terbuka dan transparan seiak dini, maka para penyedia barang{asa dapat 124Jurnal El - Mashlahah, Vol. 2 No. 2, D$ember 2m2
- melakukan
persiapan-persiapan adminiskasi dan teknis terkait dengankualifikasi dan kuantitas
jenisbarang/jasa yang akan diadakan.
Adapun
mengenai pelaksanaan pengadaanbaranfasa san8at
terkaitdengan jenis Pemilihan
Penyedia Barang{asa.Momentum yang
tePat untuk peluang adanya persaingan usaha yang sehat adalahmelalui
PelelanganUmum, Seleksi Umum,
Pelelangan Sederhana,Seleksi Sederhana
danPemilihan
Sederhana. Sebab kelima metode pemilihan penyedia baranfasaini
dalam prosedurnya akan melibatkanatau berhubungan dengan
semuapenyedia sesuai
spesifikasi pekerjaannya.Perpres 54/2010 mengatur adanya
keterbukaan dan tranParansi
yang tujuan akhirnya agar tercipta persaingan usaha secara alamiah dan sehat. PrinsiP transparansi menuntutpihak
X7LID/Iterutama Unit Layanan
Pengadaan(ULP) ataupun panitia
melakukan publikasi secara luas dan jelas kepada masyarakatumum
terutama Penyedia Barang{asa yang berminat, dimana halini
ditekankan pada pengadaan yangmenggunakan metode
PelelanganUmum, Seleksi Umum,
Pelelangan Sederhana,Seleksi
Sederhana, dan Pemilihan Sederhana. Media publikasi yang ditekankan dalam Perpres 54/2010ini adalah melalui media
elektronikberbasis
dunia maya melalui
Unit Layanan Pengadaan Secara Elektronik(LPSE) sebagai Portal
PengadaanNasional dengan cara
E-Tetdering.Media publikasi lain yang
menjadialternatif dalam pengadaan barang dan jasa adalah papan pengumuman resmi
untuk
masyarakat daniika
dipandangperlu, ULP dapat
menambah media pengumuman antara lain dengan media cetak, radio, televisi dan mengundang Penyedia Barang{asayang
dianggapmampu (Pasal 36 ayat (3)
dan Penielasannya).Dengan adanya
tranparansi, semua masyarakatdan
pelaku usaha ataupara
Penyedia Barang{asa yang memenuhi persyaratan/kriteria tertentu berdasarkan ketenhrandan
proseduryang jelas secara terbuka
dapatmengikuti dan tentunya bersaing secara
fair
dengan memberikan penawarandan kualitas
barangatau jasa
yang kompetitif tanpa adanya intervensi baik dari pihak ULP, KPA atau PPK, maupundari
salahsatu
penyedia baranfasa dengani'tikad yang
mengarah pada monopoli.Terkait dengan hal di
atas,Perpres 54/2010 menegaskan kualifikasi
dan
persyaratanyang harus dimiliki
dan dilakukan para pihak
dalam pengadaan yang diantaranya terdiri dariPejabat Pembuat Komitmen
(PPK), UlP/Panitia Pengadaan, dan Penyedia Barangfasa. Pada Pasal6
disebutkan tentang etika parapihak
yang terkaitdalam pelaksanaan
pengadaanbarang,/jasa antara lain:16
a.
Melaksanakantugas
secara tertib, disertai rasa tanggung lawab untuk mencapai sasaran, kelancaran danketepatan tercapainya
tujuan Pengadaan Barangflasa;b. Bekerja secara profesional
dan mandiri, serta meniaga kerahasiaanDokumen
Pengadaan Barang{asayang menurut sifatnya
harusdirahasiakan untuk
mencegahteriadinya penyimpangan
dalam Pengadaan Barangflasa;c. Tidak saling
mempengaruhi baik langsungmaupun tidak
langsung yang berakibat terjadinya persaingan tidak sehat;16 Anggota IKAPI, Op.Cif. hlm. 9
125
-
Tri Hidayati, Aspek Hukum Pe$aifigon Usaha dalam peralwan ptdidefi no. 54 tahun 2070
d.
Menerimadan
bertanggung jawabatas segala keputusan
yangditetapkan sesuai
dengankesepakatan terh.llis para pihak;
e. Menghindari dan
mencegahterjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang terkait, baik secara
langsung
maupun tidak
langsungdalam proses
PengadaanBarangflasa;
f. Menghindari dan
mencegahterjadinya pemborosan
dan kebocoran keuangan negara dalam Pengadaan Barangflasa;g. Menghindari dan
mencegahpenyalahgunaan
wewenang dan/atau kolusi dengan tuiuan untuk keuntungan pribadi, golongan atau pihak lain yang secara langsung atautidak
langsung merugikan negara;dan
h.
Tidak menerima, tidak menawarkanatau tidak menianjikan
untukmemberi atau
menerima hadiah, imbalan, komisi, rabatdan
berupa apa saja dari atau kepada siapapunyang
diketahui ataupatut
didugaberkaitan dengan
Pengadaan Barang{asa.Nampak pada angka
3
Pasal di atas menegaskan agar para pihak tidaksaling
mempengaruhibaik
langsungmaupun tidak langsung yang berakibat
terjadinya persaingan tidak
sehat.Persaingan usaha tidak sehat mungkin saja terjadi apabila pihak pelaksana baik PPK dan/atau
UlP/Panitia
Pengadaantelah
melakukan per.janjian terlarang dengan salah satu Penyedia misalnya karenaada
hubungan keluarga atau kekerabatan, dengan cara merekayasa proses pengadaan dimana salah satumodusnya yakni
Penyediamengkondisikan
para penyedia
lainagar pada akhirnya hasil
kualifikasi memenangkan penyedia tersebut.Untuk menghindari hal itu terjadi maka para pihak harus memperhatikan
dan melaksanakan dengan
rasatanggung jawab ketentuan
huruf
e danh
Pasal6 di
atas. Dalam Penjelasanhuruf e
disebutkan bahwa pelaranganadanya pertentangan
kepentingan dimaksudkan untuk menjamin perilakukonsisten dari para pihak
dalammelaksanakan tugas, fungsi
dan perannya. Oleh karenaitu,
para pihaktidak
boleh memiliki/melakukan peran ganda atau terafiliasi.Konsistensi terhadap
prinsip persaingan usaha yang sehat dapat puladilihat pada
pengumuman pemilihan penyedia barangljasa, hingga penetapandan pengumuman
pemenang (khususnya yang menggunakan sistem PelelanganUmum, Seleksi
Umum,Pelelangan Sederhana,
SeleksiSederhana,
dan
Pemilihan Sederhana,yang
secara keseluruhan diumumkan secara terbuka dan luas melalui websiteK/L/D/I; papan
pengumuman resmiuntuk masyaraka| dan
PortalPengadaan
Nasional melalui
LPSE(Pasal 73 ayat (3) dan (4)). Salah satu programnya adalah e-tendering, dimana pelaksanaan pengadaan secara online
ini diharapkan dapat
memperkecil bahkan mencegah kemungkinan adanyakongkalikong ataupun
permainan kepentinSan antara parapihak
dalampengadaan tersebut,
sehinggamengakibatkan
terjadinya
persaingan usaha yang tidak sehat.Hal ini
senadadengan tuiuan pengadaan
secara elektronik yang disebutkan dalam Pasal 107 sebagai berikut:a.
Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas;b.
Meningkatkan akses pasar dan persaingan usaha yang sehat;c.
Memperbaiki tingkat efisiensi proses Pengadaan;126