PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
- Tujuan umum
- Tujuan khusus
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Palsi Serebral
- Definisi
- Epidemiologi
- Etiologi dan Faktor Risiko
- patofisiologi
- Manifestasi Klinik
- Tatalaksana
- Status gizi pada pasien palsi serebral
Cerebral palsy adalah sekelompok gangguan permanen pada gerakan dan postur tubuh yang menyebabkan keterbatasan aktivitas berhubungan dengan gangguan non-progresif yang terjadi pada janin atau bayi yang sedang berkembang. Cerebral palsy adalah suatu kondisi neurologis yang disebabkan oleh kerusakan yang terjadi sebelum otak berkembang dengan baik. Cerebral palsy dapat disebabkan oleh kerusakan otak yang terjadi pada masa prenatal, perinatal, dan postnatal.7.
Beberapa anak dengan palsi serebral hemiplegik mengalami atrofi periventrikular, yang menunjukkan kelainan pada materi putih. Pada pasien Cerebral Palsy yang memiliki gejala quadriplegia, defisit motorik yang terjadi pada kaki mungkin sama atau lebih parah dibandingkan pada tangan. Perawatan anak dengan Cerebral Palsy merupakan proses jangka panjang yang bertujuan untuk menjamin kualitas hidup terbaik bagi anak dan keluarganya.
Asupan kalori pada anak penderita Cerebral Palsy lebih rendah dibandingkan pada anak disekitarnya pada usia yang sama. Anak-anak dengan Cerebral Palsy menunjukkan masalah makan akibat efek pada struktur anatomi dan fungsional yang terlibat dalam fungsi makan.
Stunting
- Definisi
- Epidemiologi
- Faktor Risiko
- Patofisiologi
- Manifestasi Klinis
Berdasarkan Tabel 4.4 di atas, hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala pada anak penderita Cerebral Palsy terbanyak berada pada kategori tidak mengalami gejala plegia yaitu sebanyak 14 orang (46,7%). Berdasarkan hasil food recall pada Tabel 4.6, asupan kalori tertinggi pada pasien Cerebral Palsy berada pada kategori paling sedikit yaitu sebanyak 24 orang (80,0%). Berdasarkan hasil food return pada Tabel 4.6, asupan protein tertinggi pada pasien Cerebral Palsy berada pada kategori paling sedikit yaitu sebanyak 20 orang (66,7%).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui status gizi pasien Cerebral Palsy berada pada kategori sangat pendek sebanyak 12 orang (40,0%). Gangguan gizi yang rendah pada anak penderita Cerebral Palsy dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan tinggi badan yang dapat menyebabkan terjadinya stunting pada anak tersebut. Penelitian ini sejalan dengan penelitian di Columbia, Amerika Selatan di mana jalur pemberian makan pada anak penderita Cerebral Palsy sebagian besar adalah oral.
Permasalahan gizi pada anak Cerebral Palsy yang menjalani rawat jalan di RS Haxhi Medan terutama adalah gizi buruk, gizi buruk dan kehamilan. Asupan energi dan protein pada anak penderita Cerebral Palsy yang berobat jalan di RS Haji Medan sebagian besar berada pada kategori kekurangan. Saya sedang melakukan penelitian dengan judul “Gangguan Makan dan Tinggi Badan/Umur pada Anak Cerebral Palsy di RS HAJI Medan”.
Berdasarkan uraian di atas maka tujuan penelitian ini adalah menganalisis status gizi dan tinggi badan/usia anak penderita Cerebral Palsy di RS HAJI MEDAN. Kebutuhan energi anak penderita Cerebral Palsy berbeda dengan anak sehat, bergantung pada jenis Cerebral Palsynya. HASIL DAN PEMBAHASAN Sampel penelitian ini diambil dari rekam medis dan food recall pasien Cerebral Palsy di RS Haji Medan.
Gangguan motorik pada anak penderita Cerebral Palsy sering dikaitkan dengan gangguan kepekaan, persepsi, kognisi, komunikasi dan. Status gizi anak Cerebral Palsy adalah 56,6% menderita gizi buruk (kurang atau lemah), dan 56,6% menderita stunting. Recall gizi pada anak Cerebral Palsy banyak yang masuk dalam kategori kekurangan, yaitu asupan kalori sebesar 80,0% dan asupan protein sebesar 66,7%.
Kerangka Teori
Kerangka Konsep
METODE PENELITIAN
Definisi Operasional
Jenis Penelitian
Berdasarkan tabel 4.1 diketahui usia penderita Cerebral Palsy Anak terbanyak adalah 1-<5 tahun yaitu sebanyak 19 orang (63,3%). Berdasarkan tabel 4.2 diketahui lingkar kepala penderita Cerebral Palsy tertinggi pada kategori Mikrosefali yaitu sebanyak 18 orang (60,0%). Dimana penelitian di Bosnia dan Herzegovina juga menunjukkan bahwa 63% anak penderita Cerebral Palsy mengalami kekurangan gizi.
Anak-anak dengan Cerebral Palsy mungkin mengalami pertumbuhan yang buruk seiring dengan meningkatnya gejala yang dialami oleh anak-anak dengan Cerebral Palsy. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien Cerebral Palsy lebih banyak diberikan makanan secara oral dibandingkan enteral. Bagi anak penderita Cerebral Palsy sebaiknya diberikan makanan secara enteral yaitu NGT (nasogastric tube) agar asupan kalori dan proteinnya tercukupi.
Dukungan pendidikan dari tenaga kesehatan juga mempengaruhi pengetahuan pengasuh tentang cara memenuhi asupan gizi dan cara pemberian makanan pada anak penderita Cerebral Palsy. Hasil gejala klinis pada anak Cerebral Palsy sebanyak 14 orang (46,7%) tanpa gejala plegia, 12 orang (40%) dengan Cerebral Palsy Quadriplegia, dan 4 orang (13,3%) dengan Cerebral Palsy Diplegia. Gangguan motorik pada anak Cerebral Palsy seringkali disertai dengan gangguan sensasi, persepsi, kognisi, komunikasi dan perilaku, epilepsi, dan gangguan muskuloskeletal sekunder.
Setelah mempelajari dan mendapatkan penjelasan sejelas-jelasnya mengenai penelitian yang bertajuk “GANGGUAN MAKAN DAN TINGGI/UMUR PADA ANAK PENYEDIA CEREBRAL PALSY DI RS Haji. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kohort prospektif dan menggunakan 30 pasien Cerebral Palsy dilihat dari rekam medis dan penarikan makanan. Hasil: Didapatkan hasil gambaran asupan energi dan protein serta status gizi anak Cerebral Palsy paling sering sangat singkat yaitu sebanyak 12 orang.
Hasil yang paling banyak diingat pada anak Cerebral Palsy adalah pada kategori asupan kalori kurang sebanyak 24 orang dan kategori asupan protein kurang sebanyak 20 orang. Cerebral palsy merupakan kelainan motorik akibat kerusakan otak non-progresif yang terjadi pada masa tumbuh kembang anak. Anak dengan Cerebral Palsy akan menunjukkan masalah makan yang berkaitan dengan struktur anatomi dan fungsional yang terlihat pada fungsi makannya.
Waktu dan Tempat Penelitian
- Tempat penelitian
- Waktu penelitian
Populasi dan sampel Penelitian
- Populasi
- Sampel
Sampel penelitian ini adalah pasien yang mengalami gangguan motorik dengan diagnosis Cerebral Palsy pada tahun 2020 hingga 2021, yang pengambilan sampelnya menggunakan metode total sampling. Berdasarkan Tabel 4.3, status gizi anak penderita Cerebral Palsy sebagian besar berada pada kategori WHO TB/U sangat pendek sebanyak 12 orang (40,0%), kategori BB/TB WHO dengan gizi buruk sebanyak 10 orang (33,3%) dan kategori gizi sedang menurut CDC. , 7 orang (23,3%). Penelitian lain di Columbia menemukan bahwa Cerebral Palsy seringkali menunjukkan anak mengalami gangguan pertumbuhan dan status gizi di bawah nilai normal.
Pada penelitian ini juga diteliti hasil food recall pada pasien Cerebral Palsy yaitu asupan kalori tertinggi pada kategori kurang sebanyak 24 orang (80,0%), untuk asupan protein kategori tertinggi juga pada kategori kurang. yaitu 20 orang (66,7%). Program edukasi kepada orang tua juga dapat dilaksanakan agar pengemudi penderita Cerebral Palsy dapat lebih baik. Latar Belakang: Cerebral palsy merupakan kelainan motorik akibat kerusakan otak non-progresif yang terjadi pada masa tumbuh kembang anak.
Kriteria Inklusi dan Eksklusi
- Kriteria inklusi
- Kritria ekslusi
Jumlah Sampel
Cara Pengumpulan Data
Berdasarkan sosiodemografi jenis kelamin, laki-laki lebih banyak terkena Cerebral Palsy sebanyak 16 orang (53,3%), disusul perempuan sebanyak 14 orang (46,7%). Cerebral palsy merupakan suatu sindrom gangguan motorik non progresif akibat kelainan perkembangan otak yang muncul pada 2 tahun pertama perkembangannya.
Pengolaan Data dan Analisis
- Pengolaan data
- Analisis
Alur Penelitan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Berdasarkan Tabel 4.5, hasil berdasarkan pemberian makan pasien Cerebral Palsy sebagian besar diberikan secara oral yaitu sebanyak 28 orang (93,3%).
Pembahasan
Gangguan gizi pada anak Cerebral Palsy dapat bermanifestasi sebagai gizi buruk. 18,19 Penyebab gangguan tumbuh kembang dan gizi buruk pada anak Cerebral Palsy terutama disebabkan karena anak Cerebral Palsy mempunyai kelainan motorik yang tercermin dari gangguan makan. gangguan pengunyahan dan gizi buruk dapat menyebabkan menelan, reflek menjadi hiperaktif dan ketidakmampuan mengontrol makan, kelemahan dalam mengontrol otot-otot tenggorokan, mulut dan lidah, hal-hal inilah yang dapat menimbulkan gangguan yang dapat menyebabkan gangguan makan yang serius pada anak penderita Cerebral Palsy 22 Disfungsi oromotor (OMD) dapat menyerang hingga 90% pasien Cerebral Palsy dan merupakan faktor utama malnutrisi pada anak dengan gangguan perkembangan saraf.3 Kurangnya kemampuan menghisap, gangguan menelan, peningkatan refleks faring, sialorrhea akibat penutupan mulut yang tidak adekuat, dan berkurangnya pengunyahan kemampuan pemberian makanan oral sulit.3.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
Survei Nasional Kesehatan Anak (NSCH) 2011-2013 dan Survei Wawancara Kesehatan Nasional (NHIS) menentukan prevalensi Cerebral Palsy melalui laporan orang tua pada anak usia 2-17 tahun. Manfaat dari hasil penelitian ini adalah dapat dijadikan referensi literatur di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait Cerebral Palsy. Prevalensi Cerebral Palsy di seluruh dunia adalah 2,1 per 1000 kelahiran hidup dengan peningkatan sebesar 1,4 per 1000 kelahiran hidup yang diamati di Australia.
Anak Cerebral Palsy dengan gangguan pada pusat motorik atau jaringan ikat, akibat dari gangguan pada pusat motorik tersebut, banyak bagian tubuh yang disentuh oleh otot-otot motoriknya, salah satunya adalah otot-otot wajah yang digunakan untuk makan, minum dan untuk beraktivitas. angsa. 21.